Pertama-tama LutfiyaR mau berterima kasih kepada yang sudah mau mereview, fav, dan follow. Terima kasih banyak, ya!
Semua ide mengenai ff ini akan saya terima selama LutfiyaR mampu mengubah ide itu menjadi kumpulan kata-kata yang membentuk cerita. Dan seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, cerita ini akan terus berlanjut sampai akhir. LutfiyaR ingin sekali bisa melihat akhir dari cerita ini, meskipun belum kepikiran sama sekali.
~o~o~o~
Disclaimer : I do not own Ao No Exorcist
~o~o~o~
Mudah sekali untuk lupa bahwa Okumura Rin sebenarnya adalah seorang wanita. Meski sudah pernah melihat buktinya (dan dihukum untuk itu), Bon masih menganggapnya sebagai laki-laki.
Rin sangat kuat dan hebat. Ditambah lagi, dia berpenampilan seperti laki-laki berandalan. Sulit membayangkannya sebagai wanita saat mereka berlatih bersama.
Namun, suatu hari Bon dipaksa untuk mengakui (untuk kedua kalinya) bahwa Okumura Rin memang seorang wanita.
~o~o~o~
"Bon? Apa yang kau lakukan disini?"
Bon tidak memberi respon. Pikirannya membeku karena pemandangan di depannya.
Rin sedang memakai apron putih dan ikat kepala dengan motif mawar biru. Tangannya yang memegang pisau terhenti di udara.
Dengan penampilan seperti itu dia terlihat jauh lebih imut.
"Hei, apa kau kesini untuk mencuri celana dalamku lagi?"
Api biru menutupi tubuh Rin dan aura feminimnya menghilang begitu saja, membuat Bon tersadar dari lamunannya.
"A-apa? Aku tidak mesum seperti Shima!"
"Jadi, apa yang kau lakukan disini?" tanya Rin sambil melanjutkan memasak. Dia masih terdengar curiga.
"Uh... Aku ingin memberikan tugas ini pada saudaramu. Dia sendiriku yang memintaku datang kesini dan menyerahkannya," Bon meletakkan lembaran kertas ke meja.
"Yukio sedang menjalankan sebuah misi. Kenapa kau tidak makan disini saja? Aku baru saja mencoba resep yang temanku baru berikan."
Rin meletakkan dua piring yang sudah ditempati nasi goreng buatannya ke atas meja. Aromanya yang harum menggelitik hidung Bon.
"Uh... Mungkin tidak apa-apa..."
Jadi, mereka berdua berakhir makan bersama di meja makan.
"Rin, ini..." Bon makan dengan lahap. "Ini benar-benar enak!"
Ini adalah nasi goreng paling enak yang pernah dia makan.
"Benarkah?" Rin tersenyum.
Si Anak Satan itu tersenyum. Dia tidak menyeringai atau menunjukkan cengiran bodohnya.
"Bon, wajahmu merah. Apa kau sakit?"
Bagi Bon, itu adalah makan siang terbaik. Dan bukan hanya karena makanannya saja.
"A-aku tidak apa-apa."
~o~o~o~
"Nii-san, bukannya kau memutuskan untuk membiarkan Ukobach yang mengambil alih dapur?" Yukio bertanya dengan mulut penuh nasi goreng.
Rin menjadi semakin sibuk dengan tugas akademi, jadi semua tugas memasak diserahkan pada Ukobach. Yukio ingat betapa sedihnya Rin karena tidak bisa memasak lagi bersama koki kecil mereka itu.
"Dia sedang cuti. Aku punya waktu luang jadi aku yang memasak sekarang," jawab kakaknya. "Jadi, bagaimana rasanya?"
"Makananmu enak seperti biasa."
Rin tertawa kecil. Mata Yukio terus memperhatikannya. Semakin lama kakaknya semakin mirip dengan ibu.
~o~o~o~
A/N : Terima kasih karena terus mendukung ff ini.
Jaa nee~!
