That Butler, is the Maid Servant
Sori ya lama updatenya! Sebagai gantinya gue udah bikin chapter yang sedikit lebih panjang dari biasanya.
Enjoy the reading!
Disclaimer:
Maid-sama dan Kuroshitsuji bukanlah punya saya tapi punya Hiro Fujiwara sensei dan Yana Toboso sensei.
Tuba mirum spargens sonum
per sepulcra regionum,
coget omnes ante thronum
The trumpet will send its wondrous sound
throughout earth's sepulchers
and gather all before the throne
(Mozart's Requiem, Sequence kedua, larik pertama)
Part 11: The Last Requiem ~ Dos
Misaki terbelalak menatap pemuda yang tersenyum dihadapannya. Senyum yang sama...seperti dulu...
Seolah-olah dia tidak pernah pergi...
Tubuhnya menjadi kaku, wajahnya memucat seputih kertas seolah dia sedang melihat hantu. Hantu dari masa lalu. Kenapa dia ada disini? batin Misaki sambil berjalan mundur selangkah.
Usui menyadari reaksi Misaki itu dan hatinya terasa hancur melihatnya. Sebegitu dalamkah luka hatinya? pikir Usui dengan hati yang penuh penyesalan namun diluar dia memaksakan diri memasang senyum santainya yang biasa. Bukan saatnya bersikap sentimental saat ini…
Hazuki menyadari tensi disekitarnya terasa agak aneh dan berbisik pada Misaki, "Siapa orang ini?"
Misaki tersentak kaget seolah baru sadar kalau Hazuki masih ada disana dan dengan susah payah berhasil mengalihkan pandangan dari Usui. "Dia…dia temanku," Misaki balas berbisik dengan suara yang bergetar. Hazuki mengerutkan dahi, tidak percaya sepenuhnya dengan jawaban Misaki barusan. Kalau benar hanya teman, kenapa dia jadi bersikap aneh begini? pikir Hazuki sambil bergantian menatap Misaki dan Usui.
Angin kencang bertiup entah darimana sementara tiga orang di tengah Shibuya berdiri mematung, memandang satusama lain.
Tap tap tap!
Suara langkah tiga pasang kaki terdengar di lorong mansion berlantai 30 itu. Misaki berjalan di depan sementara Usui dan Hazuki berjalan tepat di belakangnya. Misaki berjalan dengan cepat seperti sedang diikuti setan sementara dua orang pria di belakangnya berjalan dengan santai. Mereka berjalan dalam diam.
Kenapa Usui sampai bisa ikut ke apartemen Misaki?
Satu jam yang lalu…
"Wah, kalian berdua sedang kencan ya? Apa aku menganggu?"
Mendengar kata-kata Usui barusan, Misaki melupakan rasa takutnya dan langsung merasa marah seketika. "Enak saja! Siapa yang mau kencan dengan orang seperti dia?" dia dan Hazuki berseru bersamaan sambil menunjuk satu sama lain. Mereka berdua saling melirik penuh kemarahan sampai-sampai seolah dari mata mereka keluar percikan api.
Usui tertawa melihatnya. "Begitu ya? Kupikir kaichou sedang selingkuh dari tunanganmu yang tampan itu."
Misaki menatapnya dengan tatapan kaget. O…oh ya, menurut skenario, Sebastian adalah tunanganku, pikir Misaki linglung. Terkadang dia melupakan hal itu. Tadinya dia bingung kenapa Usui bilang dia sedang selingkuh. Sejenak dia pikir kata selingkuh itu merujuk pada hal lain. Tapi dia tadi bilang tunanganmu yang tampan itu, berarti Sebastian, bukannya dirinya sendiri...
Hazuki yang sudah tahu soal skenario Misaki - adalah - tunangan - Sebastian itu menyeringai mendengar pernyataan yang mirip tuduhan itu. Selingkuh? Aku tidak bisa membayangkan ada pria yang mau selingkuh dengan gadis cerewet seperti Misaki, pikirnya sambil melirik Misaki dengan senyum mengejek. Misaki melotot membalas tatapannya yang kurang ajar itu.
"Kaichou?"
Misaki kembali tersentak dan menatapnya. "A, apa?" tanyanya terbata dengan perasaan antara kaget dan waspada. Dia kurang percaya Usui ada disini karena kebetulan. Walaupun betul pertemuan mereka hanya kebetulan, dia pasti punya niat lain menyapanya saat ini. Kenapa dia menyapaku?
"Apa kau tidak ingin memperkenalkan kenalan barumu ini padaku?"
...
Hening.
'Hah? Buat apa?' adalah frasa pertama yang terbentuk di benak Misaki saat mendengar permintaan yang tak terduga itu. Sepertinya tanpa sadar dia menyuarakan pikirannya itu karena selanjutnya Usui berkata, "Bukankah aku, 'teman' ketua?" tanyanya dengan nada jahil seperti biasa tapi Misaki merasa sekilas melihat kilatan sedih dimatanya saat mengucapkan kata 'teman' (apa dia mendengar apa yang aku bisikkan pada Hazuki tadi?). Gadis itu menggelengkan kepala dan memutuskan hal itu cuma perasaannya saja dan bertanya balik, "Terus?"
Diam-diam Usui terluka mendengar tanggapannya. Dia tidak menyangkalnya, batin pemuda berambut madu itu tapi dia terus saja memasang senyum palsu di wajahnya. "Jadi aku juga ingin mengenal kenalan ketua yang lain," jawabnya sambil terus tersenyum. Misaki menatap Usui, mencoba membaca apa pemuda ini punya maksud tersembunyi di balik senyumannya tapi dia tidak bisa menemukannya. Lalu dia melirik Hazuki yang balas meliriknya dan mengangguk.
Misaki berdeham sejenak sebelum akhirnya berkata, "Perkenalkan, dia adalah Wakamatsu Hazuki. Dia ini...eng...sepupu! Sepupu jauhku!" ujar Misaki spontan.
"Sepupu?"
"Iya, dia sepupuku! Iya kan' Hazuki?" tanyanya sambil diam-diam menendang tulang kering Hazuki, membuat pemuda bermata bau-abu kebiruan itu meringis menahan jeritan sakit. "Ap...?" dia nyaris saja berteriak marah tapi Misaki keburu membungkamnya dengan tatapannya. "A...ah, iya. Aku sepupu jauh Misaki," jawab Hazuki sambil pura-pura tersenyum.
"Sepupu? Aku baru tahu ketua punya sepupu."
Glek! "Ma, makanya kubilang, dia ini sepupu jauhku!" ujar Misaki sambil memalingkan wajahnya. Dia sadar kalau dia adalah pembohong yang payah dan semua orang bisa tahu kalau dia berbohong kalau menatap matanya makanya dia mengalihkan matanya dari tatapan Usui. Dia tidak sadar kalau mengalihkan pandangan seperti itu sama saja dengan mengakui kalau dia sedang berbohong tapi Usui memutuskan untuk tidak mengatakan hal ini dan mengangguk-anggukkan kepala. "Begitu ya? Sepupu..." gumamnya pelan sambil bergantian menatap Hazuki dan Misaki.
Di tengah kesunyian yang (lagi-lagi) menyelimuti mereka bertiga, tiba-tiba saja ponsel Misaki berdering. Gadis itu merogoh tas tangannya untuk mengambil ponselnya dan buru-buru mengangkatnya saat melihat caller-id yang terpampang di layar ponsel: Sebastian. Dia berjalan menjauh sedikit untuk menerima telepon itu namun tidak cukup jauh dari jarak dengar Hazuki dan Usui.
"Halo? Ada apa Sebastian? Iya, aku dan Hazuki sebentar lagi pulang. Menu makan siang hari ini? Terserah sajalah, kau kan' tahu kesukaanku. Kroket keju? Ya, baiklah. Hazuki? Tunggu sebentar," lalu Misaki menjauhkan ponselnya sebentar dan berteriak pada Hazuki, "Hazuki! Sebastian tanya kau mau makan apa siang ini!"
"Aku mau kidney pie, quiche bayam, dan hamburg steak!" jawab Hazuki segera. Misaki terbengong sejenak mendengar permintaan banyak maunya itu lalu memutar bola matanya dan kembali menempelkan ponsel ditelinga. "Kau sudah dengar apa maunya. Oh ya, aku mau sorbet stroberi buat dessertnya. Hazuki? Hhh..." sekali lagi dia menjauhkan ponselnya dan berteriak pada si pemuda bermata abu-abu kebiruan. "Hazuki, kau mau dessert apa?"
Hazuki berpikir sejenak sebelum menjawab, "Aku mau sorbet nanas," putusnya setelah menimbang-nimbang. "Dia juga sorbet tapi nanas. Minum? Ah, terserah kau deh! Yang penting enak! Jangan banyak tanya deh! Iya, iya. Mungkin satu jam lagi kami sampai. Baiklah." Dan Misaki menutup flap telepon genggamnya lalu kembali berjalan menuju ke samping Hazuki. "Maaf Usui, kami harus segera pulang," pamit Misaki tanpa memandang secara langsung kearah pemuda itu karena (pura-pura) sibuk memasukkan ponselnya kembali kedalam tas lalu mulai berjalan pergi. Hazuki menoleh kearah Usui dan mengangguk singkat sebelum berjalan menyusul Misaki.
Tiba-tiba saja...
Gruuk ~~
!
Misaki tertegak mendengar suara mencurigakan itu dan menoleh ke kiri dan kanan untuk mencari sumbernya. Suara itu seperti suara...
Gruuk ~~
Suara itu berasal tepat dari belakangnya. Misaki menoleh ke belakang dengan perasaan tak enak dan ternyata dugaannya benar.
Ternyata suara itu adalah suara perut Usui. Pemuda itu menatap Misaki dengan tatapannya yang bagaikan anak anjing yang terbuang sementara perutnya terus saja berbunyi dengan suara yang memalukan itu.
Misaki kembali berbalik memunggungi Usui, berusaha mengabaikan suara-suara perut keroncongan dan tatapan Usui yang menghujam punggungnya tapi...
Aaahh! jerit Misaki dalam hati sambil memaki dirinya sendiri akan hal yang sudah pasti dia lakukan, mau atau tidak, kalau Usui sudah melaksanakan serangan itu.
Flashback selesai.
Misaki berjalan – atau lebih tepatnya lagi bederap – menaiki tangga. Mereka bertiga terpaksa naik tangga karena lift apartemen sedang rusak. Misaki tidak akan merasa sekesal ini kalau kamarnya tidak terletak dilantai 21.
'Berapa lama lagi aku harus terus menaiki tangga-tangga sialan ini !' rutuknya. Bukannya dia merasa lelah (ingat, kekuatan dan ketahanan tubuh Misaki lebih dari manusia biasa) tapi dia sudah muak melihat anak tangga. Mereka telah mendaki sekitar 15 lantai dan anak-anak tangga itu rasaanya tidak ada ujungnya. Itulah yang membuat Misaki bad mood.
Dua orang dibelakangnya sama sekali tidak kesulitan mengikutinya secara kaki mereka berdua lebih panjang dan ketahanan tubuh mereka juga baik. Sesekali Hazuki melirik Usui, masih merasa penasaran dengan hubungan antara Misaki dengan pria bermata hijau itu.
"Usui Takumi...benar itu namamu kan'?"
Usui menoleh kearah Hazuki sambil terus mendaki anak-anak tangga. Misaki yang isi kepalanya dipenuhi rasa kesal sama sekali tidak memperhatikan percakapan yang mulai terjadi dibelakangya.
"Benar, Hazuki-san," ujar Usui sambil tersentum ringan pada pemuda yang katanya saudara jauh Misaki itu.
"Boleh aku menanyakan sesuatu?"
"Tanyakan saja."
"Sebenarnya apa hubunganmu dengan Misaki?"
Langkah Usui sempat terhenti beberapa detik sebelum dia berhasil menguasai diri dan kembali berjalan. Kali ini mereka bertiga berjalan menyusuri sebuah lorong di lantai 17 menuju anak-anak tangga berikutnya di sisi lain lantai itu.
"Kami adalah teman. Teman baik. Dulunya," jawab usui sambil berusaha menyembunyikan kepahitan dalam suaranya saat mengatakan dulu. Hazuki mengangkat alisnya. "Dulu? Lalu sekarang?"
Lagi-lagi Usui terdiam sembelum memaksakan diri menjawab dengan nada agak datar. "Hanya teman. Lebih tepat disebut kenalan, sebenarnya." Sinar matanya agak meredup saat mengatakan hal itu dan dia mengepalkan kedua telapak tangan untuk menjaga ketenangannya. Kenalan, ya. Saat ini kami hanyalah kenalan, bukan teman. Bukan pula teman baik, apalagi...
Usui menggelengkan kepala untuk megusir pikiran-pikiran menyakitkan itu dari kepalanya. Fokus, Takumi! Kau punya misi! Bukan saatnya merasa sentimental! lagi-lagi dia mengingatkan dirinya sendiri. Namun dia tak dapat menahan diri untuk tidak menatap sosok belakang Misaki dengan tatapan lembut penuh kerinduan.
Aku cinta padamu, kaichou.
Hazuki memperhatikan semuanya dan akhirnya paham kira-kira situasinya seperti apa. Walau begitu masih banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikirannya tapi dia cukup paham kalau dia bertanya lebih jauh, dia akan melewati batas. Dalam hati Hazuki mencatat kalau dia harus menayakan semuanya pada Misaki dan Sebastian sesegera mungkin.
Setelah lima menit yang terasa sangat panjang, mereka bertiga sampai di lantai 20. "Satu lantai lagi..." gumam Misaki yang mulai kehabisan napas (walaupun staminanya kuat, tapi ini lantai 20 lho! wajar kan'! ). Begitu menginjakkan kaki ke anak tangga pertama tiba-tiba dia menyadari satu hal.
Sebastian tidak tahu kalau Usui datang sekarang.
Misaki mulai panik. Dia lupa sama sekali memberi tahu hal ini pada Sebastian karena sibuk memaki kebodohan dirinya sendiri di sepanjang perjalanan pulang. Kalau Sebastian menyambut dan memperlakukan mereka (Misaki dan Hazuki) seperti biasa...
Bisa gawat!
"Kaichou, ada apa?"
Lamunan Misaki buyar seketika. "A...ah, tidak ada apa-apa," dustanya sambil berjalan menaiki tangga perlahan-lahan. Bagaimana ini? Bagaimanaaaa?
Seketika muncul sebuah ide dalam benaknya. Pura-pura mengacak-acak poni, diam-diam Misaki membuka 'tanda'nya dan berbisik pelan.
"Usui disini. Jangan bertingkah aneh-aneh."
Sriing! Tanda itu berpendar pelan sejenak (Misaki merasakan tanda itu sedikit panas di pelips kanannya) dan langsung redup. Misaki mendesah lega. Itu tandanya Sebastian mendengar perintahnya.
Akhirnya mereka bertiga tiba di depan pintu kamar bernomor 2105. Misaki memencet bel satu kali dan menunggu. Usui dan Hazuki berjalan ke sisinya.
"Siapa?" terdengar suara seorang pria dari dalam. Suara Sebastian.
"Ini aku," jawab Misaki.
"Oh, Misaki. Tunggu sebentar." sahut Sebastian.
Beberapa detik kemudian pintu kamar terbuka dan tampak Sebastian menyambut mereka semua dengan senyum. Pria itu merengkuh Misaki dalam pelukannya dan berkata, "Selamat datang." dengan suara lembut.
Misaki tersenyum sambil berpikir, 'Akting yang bagus' dan balas memeluk Sebastian.
Hazuki memutar bola matanya.
Usui terbelalak.
Dua orang itu berpelukan cukup lama sebelum akhirnya saling melepaskan pelukan masing-masing. Sebastian mengecup sekilas pipi Misaki sebelum mengalihkan perhatiannya pada Hazuki. "Selamat datang, Hazuki," ujarnya sambil terseyum ringan. "Aku pulang ~ " sahutnya malas-malasan sambil berjalan masuk kamar melewati Sebastian. "Aku lapar!" seruannya sayup –sayup terdengar dari depan pintu. Sepertinya dia sudah ke dapur duluan.
Tinggalah Misaki, Sebastian, dan Usui yang berdiri di depan pintu kamar. Sebastian menikmati suasana hening yang menyesakkan disekitar mereka sebelum tersenyum dan berkata pada Usui, "Usui Takumi kan'? Senang bertemu denganmu lagi," ujarnya ramah. "Darimana kau tahu nama lengkapku?" tanya Usui sambil menyipitkan mata curiga. Seingatnya saat mereka bertemu di Maid Latte dulu mereka tidak saling mengenalkan diri dan orang-orang kafe hanya memanggilnya 'Usui'. Darimana orang ini tahu nama lengkapku?
"Misaki yang memberitahuku."
"Benarkah?" tanya Usui dengan nada skeptis. Dia tahu Misaki trauma berat padanya dan gadis itu tidak mungkin mau menjelaskan tentang dirinya. Bahkan menurutnya kemungkinan besar Misaki akan menghindari pembicaraan apapun yang berhubungan dengan Usui Takumi.
Pemuda ini mengenal nona Misaki dengan baik, pikir Sebastian setelah membaca pikiran Usui. Tapi bukan Sebastian namanya kalau mengatasi hal begini saja tidak bisa.
"Setelah pulang dari kafe, aku menanyakan pada Misaki siapa yang baru saja bertanding membuat kue denganku. Dia bilang namanya Usui Takumi. Benar begitu kan', Misaki?" tanya Sebastian sambil tersenyum pada Misaki. "I, iya. Memang begitu," ujar Misaki tanpa menatap Sebastian maupun Usui, takut ketahuan berbohong. Usui tidak percaya alasan ini saat melihat reaksi Misaki tapi karena alasan itu masuk akal dia tidak bisa membantahnya.
"Oh." Hanya itu reaksi yang bisa Usui berikan. "Silahkan masuk, kalau begitu." Sebastian mempersilahkan mereka dengan sopan. Misaki masuk duluan diikuti Usui dan Sebastian berjalan terakhir setelah menutup pintu. "Karena sekarang sudah jam makan siang, bagaimana kalau Usui-san ikut makan siang bersama kami?" Sebastian menawarkan. Usui mengangguk menaggapi tawarannya. Mereka bertiga berjalan menuju ruangan yang terletak di dekat ruang tamu. Ruangan itu tidak terlalu luas. Sebuah meja kayu berukiran persegi panjang diletakkan di tengah-tengah ruangan dan lima buah kursi berukiran sama mengelilingi meja tersebut, dua diantaranya menjorok kedalam meja. "Aku tidak tahu Usui-san akan datang makanya maaf kalau aku tidak bisa menyambutmu dengan baik," ujar Sebastian sebelum beranjak ke dapur untuk mengambil alat-alat makan tambahan untuk Usui, meninggalkan Usui dan Misaki berdua saja di ruangan tersebut.
"Baru kali ini kita bisa bicara berdua saja ya, kaichou?"
"..."
"Apa...semuanya baik-baik saja?"
Misaki terus saja menundukkan kepala. "Ibu dan Suzuna sehat. Mulai tahun ajaran baru besok Hinata akan masuk Universitas T jurusan agrikultura setelah kembali dari desanya."
"Hah? Memangnya kenapa dia kembali ke desanya?"
"Kakeknya meninggal setahun lalu jadi dia harus mengurus neneknya. Neneknya baru saja meninggal jadi dia memutuskan untuk menitipkan ladangnya pada tetangga untuk sementara dan kuliah agar bisa mengurus ladang peninggalan kakeknya itu dengan baik."
"Oh. Ternyata Sanshita berusaha dengan keras ya."
"Namanya bukan Sanshita!" Misaki otomatis meralat kata-kata Usui barusan dan tanpa sengaja menatap kedua mata pemuda itu. Dia langsung menundukkan kepla lagi dan berkata dengan suara lirih, "Hinata...namanya," gumamnya dengan suara pelan.
Suasana hening lagi.
"Kaichou, maafkan aku."
Misaki tersentak mendengar kata-kata itu. Dia mengangkat wajahnya, menatap mata Usui lurus-lurus dan melihat kesungguhan, kesedihan, dan luka yang tersirat dalam bola mata pemuda yang sampai saat ini masih sangat dia cintai itu. Dada Misaki terasa sesak.
Tatapan itu persis sama dengan tatapannya saat meninggalkan Misaki 3 tahun lalu.
Misaki mengalihkan pandangannya kesamping, berusaha mengabaikan luka lama yang mulai membayang lagi di dadanya. "Bu, buat apa kau minta maaf padaku?" tanya Misaki dengan suara bergetar. Usui menyadari bahwa selain suaranya, seluruh tubuh Misaki juga bergetar. Seolah gadis itu sedang bersiap menerima hantaman mental yang keras.
Tidak ada yang paling ingin Usui Takumi lakukan saat ini selain menyiksa dirinya sendiri sekejam mungkin karena telah membuat satu-satunya gadis yang dicintainya seperti itu.
"Karena aku lemah. Karena aku tidak punya kekuatan untuk mempertahankanmu. Karena aku tidak punya keberanian untuk menghadapi takdirku bersamamu."
Misaki mengangkat wajahnya lagi dan menatap Usui dengan tajam walaupun seluruh tubuhnya masih gemetar. "Kau tidak usah minta maaf. Walau kau tidak bilang, aku tahu kau melakukan semuanya demi aku. Dan wajar saja kalau ada kalanya kau lemah, tidak punya kekuatan, dan tidak punya keberanian. Toh kau cuma manusia." Misaki mengucapkan dua kata terakhir dengan getir.
Saat itulah suasana sedang genting itulah Sebastian keluar dari dapur dan membawa sebuah piring, sebuah cangkir, sendok-garpu, dan selembar serbet lalu meletakkannya di atas meja tepat di depan Usui. Hazuki menyusul sambil makan puding ukuran cup kecil dan duduk disalah satu kursi. "Maaf lama menunggu. Letak alat-alat makn ini agak tinggi jadi butuh waktu mengambilnya," ujar Sebastian sambil merenggut cup puding Hazuki.
"Hei!"
"Kalau kebanyakan ngemil sebelum makan, nanti makananmu tidak habis," Sebastian berkata dengan tegas. Hazuki merenggut dan berdecak kesal. Misaki menyeringai pada Hazuki dan Hazuki melotot kepadanya.
'1 – 1', pikir Misaki.
"Kalau begitu, ayo kita mulai makan," ujar Misaki sambil mengambil sendok-garpunya. Semua orang disana mengikutinya dan makan siang dimulai.
Walaupun kesal, tapi masakan Sebastian adalah masakan terlezat yang pernah dimakan Usui. Bahkan lebih enak dibandingkan masakan para koki keluarga Walker. Hal ini membuat Usui merasa kalah dari pria berambut hitam itu. Padahal selama ini dia belum pernah kalah oleh siapapun.
Dia sedang duduk di ruang tamu setelah makan saat mendengar suara sayup-sayup dari ruangan didekatnya. Diam-diam dia berjalan ke depan pintu ruangan yang sedikit terbuka itu dan menguping.
"…begitu ceritanya."
Hazuki melipat kedua lengannya di depan dada dan memasang ekspresi serius. "Begitu ya? Aku tidak menyangka. Kelihatannya dia orang yang baik." komentarnya.
"Dia bukan orang yang jahat!" Misaki membantah kata-kata Hazuki.
"Tapi terus terang saja meninggalkan orang yang dicintai begitu saja, setelah tahu apa yang telah dan akan terjadi pada orang itu, adalah sesuatu yang tidak bisa dikatakan baik," Hazuki mempertahankan pendapatnya. Usui langsung paham kalau mereka sedang membicarakan dirinya. Dia semakin merapat ke pintu untuk mendengarkan lebih jelas.
Misaki tidak bisa membantah pendapat itu. Terkadang dia sendiri juga berpikir kalau Usui itu kejam walaupun dia tahu apa alasannya tapi tetap saja…
"Lalu apa yang ingin kau bicarakan pada kami, Sebastian?"
Usui baru menyadari kalau Sebastian juga ada dalam ruangan itu. Mungkin karena sejak tadi pria itu tidak bersuara sama sekali.
"Salah satu dewa kematian mengontak saya tadi."
Misaki dan Hazuki tersentak kaget mendengar hal itu. Usui semakin merapatkan telinganya sedekat mungkin ke pintu "Dia menghubungi saya melalui kompas dewa kematian. Apa anda masih ingat dewa kematian yang bernama William, tuan muda?" Sebastian bertanya pada Hazuki. Pemuda berambut abu-abu kebiruan itu mengangguk. "Dewa kematian yang mirip pegawai kantoran itu kan'?" tebaknya. Sebastian mengangguk. "Dia memberitahu saya kalau dewa kematian yang merupakan pemilik asli kompas ini," Sebastian mengeluarkan sebuah bandul kuningan bulat telur dengan ornamen-ornamen pahatan huruf-huruf rune kuno dari saku celananya, "lagi-lagi melanggar peraturan dan berpihak pada manusia."
"Dewa kematian banci yang kau bilang itu maksudmu? Yang bernama Grell?"
"Grell?" Hazuki merinding begitu mengingat dewa kematian vulgar serba merah itu. "Iya, dia. Dewa kematian itu kali ini sedang bersama kelauraga anjing penjaga ratu yang baru."
Hazuki tertegun mendengar informasi adanya keluarga anjing penjaga ratu yang baru. "Setelah kematian anda sebagai Ciel Phantomhive, kerajaan menunjuk sebuah keluarga bangsawan sebagai anjing penjaga ratu yang baru. Kepala keluarga itu tadinya mantan OHMSS (On Her Majesty Secret Service) secara turun menurun, sama halnya dengan kepala keluarga Phantomhive yang menjadi anjing penjaga ratu secara turun temurun."
Hazuki teringat suatu kejadian saat dia masih menjadi Ciel Phantomhive. Waktu itu umurnya 5 tahun. Dia terbangun ditengah malam karena ingin buang air kecil dan saat melewati kamar kerja ayahnya, dia mendengar sebuah percakapan.
"Lagi-lagi pekerjaan menyusahkan," keluh Dietrich, kepala kepolisian Yard saat itu yang juga merupakan teman baik ayahnya, Vincent Phantomhive. Vincent hanya tersenyum mendengarnya. "Karena itu aku meminta bantuanmu. Hanya kau yang bisa membantuku dalam hal ini. Soalnya tidak mungkin orang 'dunia belakang' bisa menjamah 'dunia depan' sejauh itu," ujarnya sambil tersenyum. Dietrich menggaruk-garuk kepalanya dengan kesal. "Baiklah, baiklah! Tapi aku tidak berani jamin aku bisa membantu sejauh itu. Kalau terdesak terpaksa kita harus minta bantuan OHMSS. Bagaimana?"
"Hm, begitu ya? Sebenarnya aku tidak terlalu suka berurusan dengan mereka. Aku tidak terlalu menyukai kepala keluarga…"
"Walker."
Deg! Jantung Misaki berdegup kencang mendengar nama itu. Rasanya begitu familiar dan tidak mungkin terlupakan. Nama itu…
"Grell datang menemui kepala keluarga Walker yang sekarang dan memberitahunya soal buku harian tuan muda di reruntuhan Phantomhive manor dan juga tentang tuan muda yang bereinkarnasi di jaman sekarang. Dia mengatakan kalau keluarga mereka akan mendapat lebih banyak kejayaan kalau berhasil memanggil iblis sesuai petunjuk buku harian itu atau menemukan reinkarnasi Ciel Phantomhive sendiri. Karena tidak mungkin menemukan tuan muda yang sudah bereinkarnasi tanpa kompas dewa kematian, mereka memilih untuk mengusahakan cara pertama yaitu menemukan buku harian. Suruhan keluarga mereka datang ke reruntuhan untuk mencari buku itu tapi terlambat sebab profesor Suginuma sudah mengambilnya sehari sebelumnya."
"Dengan kekuasaan mereka, keluarga itu berhasil tahu kalau profesor Suginuma adalah orang yang mengambil buku tersebut tapi karena profesor itu cukup punya nama, tidak semudah itu atau memaksanya menyerahkan buku harian itu atau hanya sekedar menemuinya tanpa alasan jelas. Karena itu sang kepala keluarga mengutus pewarisnya ke Jepang untuk berdiplomasi dengan sang profesor demi mendapatkan buku harian berisi instruksi pemanggilan iblis itu. Benar begitu kan', tuan Usui Takumi, ah…maksud saya Walker Takumi yang sedang berdiri didepan pintu?" tanyanya sambil menoleh ke arah pintu.
Misaki dan Hazuki serentak ikut menoleh ke arah pintu. Usui yang sadar percuma pura-pura tidak berada disana membuka pintu yang sudah terbuka sedikit itu lebar-lebar dan menatap ketiga orang yang sedang menatapnya denga tatapan tajam bergantian dan berhenti saat pandangannya tertuju pada Sebastian.
"Jadi benar dugaanku. Kau adalah iblis."
Mata merah Sebastian berkilat dan senyum ramahnya berganti dengan seringai yang memamerkan taring iblisnya.
...
…coget omnes ante thronum.
…and gather all before the throne (…dan mengumpulkan semua orang di depan singgasana).
Bersambung
Author's note: Maaf baru update sekarang! Dua minggu ini bener-bener hectic! PKL dan tugas-tugas menyita otak , tenaga, dan waktu gue.
Btw ada yang merasa aneh ga denger nama Walker Takumi? Gue juga ngerasa itu aneh tapi gue gak tau nama Inggris Usui itu apa ato dia punya nama Inggris apa nggak.
Chapter selanjutnya diusahain seperti biasa, seminggu sekali. Please RnR!
