Terinspirasi dari Voyeur by Nelliel-Ni dan Liberated by Shante Diamond.
(Both were KibaIno stories XD)
.
Disclaimer : I only own the story
.
Love and Hatred
.
Warning! : Mainstream Idea
.
.
.
Chapter 10
Osaka
Mansion Hyuuga
Gemuruh air hujan disertai dengan sambaran halilintar saling menyahut. Memberikan rona tersendiri bagi malam yang seharusnya menjadi malam yang hangat. Sedikit memberikan kesan gelita saat aliran listrik di kompleks mansion terputus. Dan bukannya Hyuuga tidak memiliki cukup uang untuk membeli sebuah generator set mengingat klan tersebut memiliki aset kekayaan yang mampu menghidupi keturunannya hingga generasi ke tujuh. Tetapi sesuatu yang berhubungan dengan tradisionalitas yang menjadi salah satu dalih bagaimana penghuni mansion itu lebih memilih penerangan lentera sebagai ganti.
Jika dikaitkan dengan global warming semua kejadian yang berkaitan dengan perubahan cuaca mendadak ini cukup memiliki alasan. Bagaimana manusia berlomba-lomba untuk mempermudah hidupnya dengan cara membobol lapisan pelindung bumi. Sekilas tidak ada korelasi tepat antara keduanya. Tapi jika kita sisipkan sebuah kalimat tentang penggunaan alat-alat canggih yang menghasilkan produk samping berupa freon, maka jalinan erat kedua hukum sebab akibat itu akan jelas terlihat.
Mari sejenak kita pusatkan perhatian pada sebuah ruangan yang terletak di lantai dua dalam rumah utama.
Tempat keberadaan seorang wanita yang sedang duduk menghadap sebuah meja. Lembar demi lembar kertas tersebar begitu saja di atasnya. Beberapa bahkan nyaris menghilangkan eksistensi selapis tatami dari pandangan mata. Cahaya remang dari sebuah lampu kuno tidak menyurutkan kilatan pada bulatan amethyst itu.
Tubuh mungil sang wanita hanya dibalut sebuah handuk kimono berwarna ungu pudar, kepalanya tertutup penuh oleh material senada. Gerakan tangan menginisiasi sebuah pensil untuk meliuk-liuk dengan lihainya, mengubah sebuah goresan menjadi rajah yang sarat akan elegansi. Kening yang berkerut disertai garis datar yang tercipta oleh otot bibir seolah melengkapi ekspresi serius sang wanita.
Hyuuga Hinata.
Meski telah meninggalkan dunia lamanya di kancah mode dunia, bukan berarti profesionalitasnya mendadak lenyap. Meski hanya sebuah butik kecil yang menjadi naungannya, bukan berarti Hinata menjadi tega dengan menyajikan produk-produk amatir. Wanita itu terlalu sombong untuk tunduk pada sebuah kepuasan. Terlalu angkuh untuk menyerah pada sebuah pencapaian.
TOK... TOK...
Irama ketukan ringan menyentuh penginderaannya. Keengganan untuk mengalihkan atensinya menjadi sedikit terganggu, saat ketukan itu menjadi semakin intens. Dan keras tentu saja. Mencebik pelan, Hinata memusatkan pandangan pada pintu masuk.
"Masuklah!"
Singkat dan padat. Cukup menjadi sebuah lampu hijau bagi siapapun di luar sana untuk membuka pintu.
Krieeettt
"Hinata."
Dan wanita muda yang baru saja mengumpat dalam hati itu kini terlonjak. Saking cepat dirinya berdiri hingga membuat lututnya tanpa sengaja menghantam kaki meja.
"Auch..."
"Kau baik-baik saja?"
Parau dan berwibawa adalah dua kata yang cukup untuk mensinyalir usia dari pria itu dari suaranya. Tubuhnya kekar murni sebagai impak latihan bela diri yang selalu dijalani. Rambut panjang dan mengkilat yang merupakan sebentuk stigma dari darah bangsawan yang dimiliki klannya.
"Iya Tou-sama. Ada perlu apa Tou-sama menemui Hinata?"
Pria paruh baya dalam balutan lembar kimono itu memilih berseiza tepat di hadapan meja sang anak. Pendaran manik opalnya berkeliaran, mengamati setiap entitas yang memenuhi ruangan ini. Gurat lambang kedewasaan terpahat begitu jelas oleh kontur wajahnya.
Hiashi berdehem pelan. Kedua tangan dilipatnya di depan dada. Sejenak mata tua itu menatap lurus mata hasil warisan genetikanya. Menerka-nerka tentang suatu permasalahan yang terselip di balik manik yang berkilat redup.
"Apakah ada sesuatu yang ingin kau ceritakan kepada Ayah?"
Ekspresi bingung seketika tampak di wajah Hinata. Kening yang berkerut ditemani oleh pendar keheranan menyepuh begitu saja wajah ayunya.
"A-Apa maksud Tou-sama? Bukankah Tou-sama yang ada perlu dengan Hinata?"
Hidup bertahun-tahun di negara barat sama sekali tidak menghilangkan etika dan kesopanan yang telah mendarah daging dalam dirinya. Terlebih dia adalah seorang puteri sulung kepala Klan.
Wanita itu menatap lurus pada sosok yang begitu dihormatinya yang kini justru memejamkan mata. Seolah hendak melenyapkan penat yang mengusik alam fikirnya. Bukan suatu hal yang janggal mengingat Hyuuga Hiashi adalah seorang pemimpin Klan sekaligus pemimpin perusahaan. Tetapi sepertinya untuk saat ini begitu berbeda.
"Ayah mendengar cerita Neji tentang kejadian kemarin."
Dorongan nafas mendadak begitu menyesakkan dada. Udara seolah tercekat di saluran pernafasan bernama tenggorokan. Terkesiap dengan gegau menyelimuti, Hinata sedikit meracaukan umpatan dalam hati, atas ke-terlalu-kakuan sang Kakak.
'Dasar tukang mengadu.'
Jenak demi jenak waktu bergulir membiarkan keduanya tenggelam dalam keadaan hening. Hiashi dengan tatapan tajamnya-meski tidak mengintimidasi-kepada sang puteri, dan Hinata dengan tatapan memelasnya pada lapisan tatami.
TIK... TOK... TIK... TOK...
Bukan bermaksud mendramatisir tapi detakan jarum jam kuno yang menggantung di dinding seolah bagai melodi pengantar kesunyian. Menjadi penengah bagi kecanggungan yang menyelimuti mereka berdua.
"Ayah hanya mendengar dari Neji, bahwa dia mulai membenarkan cerita Sasuke beberapa hari yang lalu."
Hinata terdiam.
Merangkai berbagai terma kasar untuk membentuk sebuah kalimat rutukan. Lalu ingin sekali Hinata melemparkannya kepada dua kakak yang mendadak berlaku layaknya pengkhianat. Neji dan Sasuke.
"Kau tidak mau mengatakan sesuatu?"
Hinata menggeleng. Bibirnya berucap pelan, nyaris tak tertangkap oleh telinga tua Hiashi.
"Hinata tidak tahu apapun tentang laki-laki itu, Tou-sama."
Hanya tarikan nafas dan hembusan yang cukup berat yang didengar Hinata. Tak sedetikpun wanita itu memiliki keberanian untuk menatap langsung pada sang Ayah. Bukannya takut akan kemarahan yang akan dia terima, melainkan sebuah hukum tak kasat mata yang mengikat dirinya. Selintas saja mata opalnya bersirobok dengan mata sang Ayah, detik itu pula rentetan kata dan cerita akan mengalir tanpa sadar.
"Hinata tidak tahu tentang laki-laki itu?"
Anggukan dan gerakan di pangkal leher Hiashi terima sebagai jawaban.
"Berapa GPA yang Hinata dapatkan saat kuliah dulu?"
Huh?
Pertanyaan macam apa itu? Dan saking konyolnya pertanyaan itu menurut Hinata, nyaris membuat dirinya mendongakkan kepala. Untung saja insting segera mengambil alih kendali, menunduk kembali saat baru setengah jalan.
"3.56 dari skala 4.00."
"Dan Hinata tidak bisa mengenali laki-laki itu? Bahkan ketika semua ciri fisik Boruto menempel padanya?"
Glekh
"Atau Hinata sudah mulai bisa membohongi Ayah?"
Terdiam seribu bahasa. Terhanyut dalam jebakan yang dia ciptakan sendiri. Hinata berusaha untuk menutupi gemetar tangannya dengan melakukan gerakan pelan. Saling mengaitkan jemari lentiknya dan meremas pelan. Kegugupan begitu kentara menjadi rona yang menghiasi wajahnya dibarengi dengan deretan gigi yang menggigit kecil bibir bawahnya.
Kemudian sebuah tepukan pelan menyadarkan wanita itu atas eksistensi sang Ayah yang sejenak dia abaikan. Kepala indigonya menengadah, menatap pada bulatan amethyst yang tampak lebih berumur dari pada biasanya.
"Ayah percaya Hinata mampu menyelesaikan masalah dengan baik. Ayah tidak akan mencampuri urusan Hinata dengan laki-laki itu."
Senyuman tawar yang terasa samar mematri sebuah lengkungan semu pada bibir tegas seorang Hiashi. Pria paruh baya itu bangkit berdiri dan melangkah meninggalkan puteri sulungnya. Namun, sebaris kalimat terucap olehnya tepat saat Hiashi berada di ambang pintu.
"Tapi Ayah harap Hinata mengerti, Hyuuga tidak akan pernah menerima hubungan dalam bentuk apapun dengan Namikaze."
Kaki-kaki kekar itu berjalan tegas, meninggalkan sang puteri yang tetap bertahan dalam keberdiaman. Meski pada awalnya Hinata memang menolak keberadaan laki-laki itu kembali dalam kehidupannya. Namun entah mengapa seolah ada getaran menyesakkan di dalam dadanya saat mendengar ucapan sang Ayah.
Wanita itu terpaku pada kesenyapan selama beberapa lama. Lalu terhempas begitu saja pada sebuah kenyataan yang menyadarkannya. Bukankah sudah sepatutnya Hinata mendukung apa yang dilontarkan oleh sang Ayah? Karena dirinya memang memiliki rasa benci teramat dalam pada laki-laki itu? Lantas musabab apa yang mampu menciptakan sebuah keraguan pada batinnya?
Menggelengkan kepala yang terbungkus handuk itu kuat-kuat, Hinata berbalik menenggelamkan diri pada tumpukan kertas yang bertebaran.
.
.
.
Jika seekor ayam jantan berkokok di pagi hari itu hal yang terlalu lazim. Entah memang ada sebuah filosofi yang melandasi atau semata hanya keisengan makhluk unggas tersebut. Tetapi saat ini yang terjadi sungguh di luar kewajaran.
Seorang Namikaze Naruto, seorang player kelas kakap, yang notabene memiliki kebiasaan tidur larut malam dan bangun larut siang, telah berdiri dengan gagahnya di depan konter dapur. Menghadap sebuah kompor dengan teflon yang bertengger di atasnya. Hanya memakai celana jeans hitam di bagian bawah dan lapisan apron jingga yang gagal menutup punggung lebarnya. Bahunya begitu bidang, bergerak selaras dengan dinamika tangannya yang menggenggam spatula.
Telur dadar dan sosis panggang. Sesimpel itu asupan yang menjadi pengganjal perutnya pagi ini. Jangan lupakan segelas air putih yang tidak pernah lupa menemani, kapanpun pria itu terbangun dari tidur.
Katakan Naruto orang yang tidak memiliki sopan santun, atau sebab gaya hidup pria itu telah berkiblat pada budaya barat, pria itu melahap habis makanan yang bahkan belum sempat menyentuh permukaan piring. Saat gigi dan lidahnya berkoordinasi memproses makanan, kedua tangannya justru disibukkan dengan kaitan tali apron. Melepas dan membuangnya asal.
Sejenak kemudian, Naruto menyambar kemeja putih yang tergeletak di atas sofa dan berjalan menuju motor sport yang terparkir di halaman depan. Senyuman lima jari yang selalu menjadi kebanggaan bertengger dengan manis menghiasi raut wajahnya yang berbinar-binar. Sapuan angin yang membuai lembut tengkuknya, seakan menjadi pemicu bagi dirinya untuk memulai perjuangannya hari ini. Jemari kekar itu menarik gas, menuai deru mesin yang berteriak memecahkan keheningan pagi. Sungguh Naruto tidak peduli. Satu yang menyesaki relung pikirnya saat ini hanyalah tentang bagaimana pria itu mampu membuat dirinya menaklukkan Hinata.
.
Ding!
"Selamat datang di Rabenda Boutique."
Sapaan khas yang ramah menyambangi telinganya. Naruto menyemai senyum terbaik yang biasa digunakan untuk menggaet perhatian wanita. Menciptakan sepuhan rona merah dan senyum kikuk pada wajah sang pelayan.
'Ups... Kebiasaan lamaku kenapa harus muncul lagi?'
Ya. Jadi pria bermata biru itu telah membuat sebuah keputusan yang cukup menggemparkan jagad persilatan (sebut saja Karin, yang saat pengumuman takhlik itu, sempat terdiam cukup lama dengan posisi mulut yang menganga). Bahwa dirinya akan menanggalkan segala atribut player yang melekat padanya. Tentu saja merupakan hasil pertimbangan dari seluruh aspek yang berkaitan dengan impiannya untuk merajut tapak rumah tangga bersama Hyuuga Hinata.
Pria itu tersenyum lebar saat jaringan-jaringan dalam kepalanya memperlihatkan imaginasinya. Atau bolehkah disebut sebagai delusi? Karena nyaris membuatnya tidak bisa membedakan antara khayalan dengan kenyataan.
"Ano... Tuan..."
Tergelagap dan sedikit lonjakan pada tubuhnya, menandakan pria itu cukup terkejut dengan sapaan mendayu yang diberikan oleh pelayan.
"A-Ah... maafkan aku. Sepertinya aku terlalu banyak melamun."
"Hihihihi... Tidak apa-apa, Tuan."
Semburat jingga menguar di kedua belah pipi sang pelayan, ditambah pose imut yang terpeta karena kedua tangannya menutup anggun mulut kecilnya. Seandainya saja pria yang ada di hadapannya ini belum menelurkan sebuah dekrit abadi dalam hidupnya, mungkin wanita pelayan itu sudah tertarik dan tergeletak acak-acakan dalam kamar hotel.
Beribu sayang, karena reaksi yang diberikan oleh sang cassanova hanya sebaris senyum lebar, diiringi dengan gerakan tangan yang menggaruk sisi belakang kepala.
"Apakah Tuan sedang mencari pakaian untuk Tuan sendiri? Atau untuk... Mmmm... Kekasih Tuan?"
Mungkin gendang telinga Naruto yang gagal menangkap getaran pada kalimat terakhir, atau memang wanita pelayan itu mengatakannya dengan nada getir? Seolah tidak terima jika Naruto sudah memiliki kekasih?
"Hahahaha... Kau bisa saja, Nona. Tetapi sayang sekali sebenarnya aku ini belum memiliki kekasih."
'Beruntung sekali.' Batin wanita dengan nametag Hotaru menggantung di saku bajunya.
"Aah.. Kalau begitu, Tuan mau membeli baju untuk Tuan sendiri? Atau Ibu Tuan?"
Naruto menggeleng pelan. Pada bibirnya tertuai seulas senyuman lembut, saat iris azure itu berpendar. Merotasikan pandangan ke setiap sudut ruang butik. Tidak terlalu luas, hanya sekitar 6x5 meter persegi. Representasi kehadiran seluruh warna dasar dalam keadaan maksimum dengan proporsi yang sama besar, terlihat begitu kentara. Dominansi warna putih yang meraja lela. Dinding dengan motif bunga lavender di bagian dasar, serta bertangkai-tangkai kusuma violet itu terpasang dengan indah. Jangan lupakan pula udara yang menguar diisi dengan aroma senada. Cukup untuk menyimpulkan sebuah karakter dari sang pemilik.
Hanya ada beberapa baju yang dipajang rapi. Dengan desain yang mengedepankan simplicity dan elegansi. Naruto manggut-manggut. Seolah menyatakan persetujuan atas komentar beberapa kenalannya di bidang fotografi dan desain.
'Karya seorang Hyuuga Hinata adalah karya yang mengagumkan. Sisi kesahajaan tetap ditebarkan dalam sebuah keanggunan. Maka dari itu, sebagian besar model maupun aktris lebih memilih desain hasil karyanya.'
"Aku hanya ingin menemui seseorang yang kukenal."
Tidak ingin membuat pelayan itu menunggu lebih lama, Naruto mengungkapkan sebuah kilah tujuan kedatangannya ke tempat ini. Pelayan itu menatap bingung. Kedua alisnya bertaut semakin dekat.
"Siapa, Tuan?"
"Hyuuga Hinata."
"Aaa... Tuan ingin bertemu dengan Nyonya Hinata?"
Naruto memberikan anggukan pelannya. Manik safirnya menatap penuh harap pada sang pelayan, meminta kesediaannya untuk menghubungkan dirinya dengan wanita itu.
"Tapi Nyonya sedang sibuk di atas. Saya tidak berani mengganggunya."
Seketika sepuh kebahagiaan di matanya memudar, tergantikan oleh gurat kecewa yang tampak. Rupanya benar apa yang dikatakan oleh informannya, bahwa Hinata adalah sosok yang dingin atau bisa dibilang kejam?
"Katakan saja, Namikaze Naruto ingin bertemu dengannya dan-"
Naruto menghela nafas pelan.
"-jika dia menolak, katakan padanya bahwa aku punya kemampuan untuk mengumpulkan awak media dan menyebarkan berita yang tentunya tidak ingin dia dengar."
Pelayan itu membelalakkan matanya begitu lebar. Bukan pasal runtutan kalimat yang baru saja tertangkap gendang telinganya, melainkan karena raut wajah sang pria yang seolah menyembunyikan siasat licik nan keji.
"Ba-baik."
.
Jeda berjalan cukup lama. Ritme jarum jam yang berdetik menemaninya dalam lengang. Netra biru laut itu terpaku pada sesuatu yang disebut keayuan. Vignette seorang wanita yang terduduk elok di atas sebuah kursi. Helai demi helai indigo yang melambai, seolah tertiup sapuan angin yang memabukkan. Membingkai penuh wajah putih yang tengah memendarkan senyuman bak bidadari. Mata amethyst yang bulat, terpenjara di dalam kelopak berbulu lebat. Sungguh suatu perwujudan luar biasa seorang laksmi.
Bukan.
Wanita itu bukan Hinata yang dia cari. Hanya seorang yang kebetulan memiliki hampir setiap ciri fisiknya. Karena Hinata-nya adalah wanita tsundere yang bisa berubah menjadi kejam-katanya. Sebuah kontradiksi yang tidak membutuhkan penyangkalan jika dibandingkan dengan tatapan lembut wanita dalam pigura ini.
"Tuan, Nyonya Hinata mempersilakan Anda untuk menemuinya di ruang kerja."
Sudut bibirnya terurai begitu lepas. Mencipta lengkungan setengah lingkaran yang sudutnya diperlebar. Entah mengapa saat ini terasa ada angin segar yang berhembus menerbangkan dirinya ke awan. Yah, itu hanya lamunannya semata.
Yang jelas garit penuh keakuan terpampang nyata di wajahnya. Disertai seringai lebar layaknya seorang jenderal perang yang berhasil menaklukkan musuh. Langkahnya begitu tegak. Petak demi petak undakan yang terbuat dari marmer putih Naruto daki.
Saat memegang handle pintu, dengan lukisan bunga lavender di atasnya, tangan kekar itu gemetar. Mengantar rambatan vibrasi sehingga menimbulkan efek yang sama pada kenop pintu. Terlalu keras hingga Naruto terpaksa menggunakan tangan kiri untuk membantu menenangkan tangan kanan.
Mata biru itu memejam sedangkan hidungnya sibuk menyedot pasokan oksigen dengan perlahan. Lalu dihembuskan dengan debit yang sama besar melalui rongga mulut.
Putar.
Cklekkkk!
"Hai Hina-"
Bugh!
De javu untuk yang kesekian kalinya. Tubuh Naruto terhempas nyaris mengenai sudut meja. Untung saja pria itu cukup sigap menghindarinya, jika tidak bisa dipastikan kepalanya akan tertusuk sudut meja yang cukup runcing.
"Nii-san!"
Yang tertangkap pendengarannya saat ini hanyalah derap ringan stiletto di atas lantai. Penat yang begitu dahsyat membawa efek pada pandangannya yang memburam. Berkali-kali pria itu mengerjabkan pembungkus netra birunya. Hingga sentuhan lembut menghampiri bahunya yang melemas.
"Apa yang Nii-san lakukan?" teriak Hinata. Sungguh wanita itu tidak habis pikir. Dia hanya meminta kakak sepupunya itu untuk menemani, saat Naruto menemuinya di ruangan ini. Tentu saja tanpa memberitahu siapa sebenarnya jati diri Naruto. Berharap pria kuning itu akan sedikit risih dengan kehadiran Itachi karena bagaimanapun juga Hinata tidak mau sampai terjatuh dalam jeratan ancaman yang dilontarkan Namikaze muda.
Aktualita yang berseberangan dengan ekspektasinya. Karena Itachi, kakak yang dia kenal cukup bijaksana, kini justru melakukan perbuatan yang sama memalukannya dengan Sasuke dan Neji.
"Menjauh darinya, Hinata!"
Hinata menggeleng pelan. Amethystnya menatap nyalang pada onyx sang kakak. Diraihnya tangan kiri Naruto dan dirangkulkan pada bahu mungilnya. Hinata berjalan menuntun Naruto untuk duduk di sofa. Memang tidak ada luka yang terlihat, tetapi kekuatan tubuh Naruto yang seakan lenyap membuatnya terpaksa melakukan itu.
Biasa?
Munafik jika Hinata mengatakan iya. Karena faktanya jantung Hinata selalu berpacu begitu laju, saat entitas bernama Naruto berada pada jarak pandangnya.
"Duduklah."
"Apa yang kau lakukan, Hinata? Dia itu pria brengsek yang sudah menghancurkan hidupmu dan Sasu-"
"Cukup, Nii-san. Dia hanya konsumen yang ingin memakai jasa desainku. Aku tidak mengenalnya."
"Hina-"
"Kumohon, pergilah, Nii-san."
Gemeletak deretan gigi yang saling beradu terdengar cukup nyaring di ruangan yang mendadak sepi. Dilanjutkan oleh ketapan langkah kaki sepatu fantofel.
Hinata menggelengkan kepalanya pelan, kemudian berjalan meninggalkan Naruto dan menghempaskan tubuh mungilnya di atas kursi kerjanya.
"Jadi ada perlu apa kau datang ke sini?"
"Aku hanya ingin bertemu denganmu. Apa itu salah?"
Dahi Hinata berkernyit, tetapi mata opal itu masih terfokus pada laptop di hadapannya.
"Kita tidak ada urusan apapun, Tuan."
"Oh ayolah Hinata..."
"Hyuuga. Tolong panggil aku dengan nama keluarga."
"Kalau aku menolak?"
Nah! Satu pernyataan yang cukup tokcer untuk membuat Hyuuga Hinata mendongak. Netra seindah rembulan itu melayangkan tatapan tajam pada netra safirnya. Seolah menuntut pertanggungjawaban atas sebaris kalimat yang baru saja dia lontarkan.
"Aku tidak memberikan izin kepadamu untuk memanggilku dengan nama kecil. Dan kau menolak? Apa kau merasa punya hak untuk melakukan hal konyol itu?"
Kenyir dalam hati memerintahkan pria itu untuk berdiri, namun sayang urat dan sarafnya enggan untuk menuruti.
"Apa kita tidak bisa membicarakan ini dengan baik?"
"Maaf Tuan, tetapi apa kau tidak melihat kalau aku sedang sangat sibuk? Kau telah membuang waktu yang seharusnya bisa menghasilkan uang untukku."
Hinata tidak peduli lagi jika dirinya dianggap materialistis. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah upaya agar pria pirang itu pergi dari hadapannya.
"Akan kutunggu hingga kau selesai, Hinata."
Wanita itu merotasikan bola matanya saat merasa kesal atas jawaban yang sama sekali di luar prediksi. Lalu sejenak terdiam, terlarut dalam sebuah ilusi pertarungan, antara mengiyakan atau menyanggah. Sebelum akhirnya dia mengendikkan bahu seolah tak peduli.
"Terserah kau saja, Tuan."
.
.
TBC
.
.
.
Holla Minna-san, terimakasih atas kesediaannya menunggu dan terimakasih juga sudah memaklumi kealpaan Nai kemarin. Aaa jadi ada beberapa review yang masuk, ada yang suka dengan gaya penceritaan Nai yang baru, ada pula yang lebih memilih yang lama. Nai ambil jalan tengah ya, berusaha menyeimbangkan porsi keduanya. Jadi Nai putuskan untuk mengikuti ketikan tangan Nai saja XD
Untuk masalah deskripsi terlalu panjang, sepertinya memang begitu. Mungkin yang sudah membaca cerita Nai yang sebelum-belumnya akan tahu bahwa itu menjadi salah satu point pokok Nai. Apalagi untuk deskripsi yang berhubungan dengan ilmiah. Entah mengapa rasanya sulit ditinggalkan XD
Lalu Nai juga mengakui jika pada cerita ini porsi percakapannya tidak terlalu banyak.
Baiklah. Sebisa mungkin Nai akan tampung dan mencoba menerapkannya. Terimakasih atas kritik dan sarannya. Nai sangat senang karena ada yang memperhatikan dan memberikan usulan demi peningkatan kualitas tulisan.
Terimakasih ^^
