Katanya, hidup itu pakai logika ya? Katanya sih, begitu. Ada yang percaya dengan hal-hal di luar nalar saja, pasti sudah dicibir 'aneh'. Kata mama 'mereka tidak akan percaya, jika belum menyaksikan sendiri'. Lalu, bagaimana caranya menunjukan, jika mereka saja tidak percaya dengan hal mistis.

Oh, jangan munafik!

Kalau masih berpikir, hal-hal supernatural itu omong-kosong. Seharusnya, kau periksakan saja dirimu itu ke psikolog. Jaman sekarang tidak percaya hal mistis? Hello, ingat firman tuhan!

Tuhan tidak menciptakan manusia saja di dunia ini. Kalau kau merendahkan hal gaib, kau juga merendahkan tuhan. Please, jangan membuat orang lain tertawa. Pagi ini, sepertinya Naruto masih sibuk mencari sesuatu yang dimaksud oleh Naruko. Entah apa itu. Tapi, tentu saja bukan Naruto, kalau tega tidak membantu sesama.

Jam segini saja, dia sudah berada di mansion Uchiha (tepatnya sih, dikamar Naruko). Bersama dengan sang kekasih tercinta, Uchiha Sasuke. Si manis ini sibuk sekali membongkar lemari buku milik Naruko. "firasat ku mengatakan, jika barang yang dimaksud Ruko-chan, tidak ada disini"ujar Naruto, memandangi kanvas kecil ditangannya.

"hn, lalu?"

Naruto terdiam, memasang pose berpikir. Ah, ini memang tidak semudah yang ia bayangkan. "aku tidak tahu, Teme"jawab Naruto. "memerlukan waktu yang banyak ya"gumam Sasuke. Si Uchiha muda ini tampak berpikir, apa yang harus mereka lakukan.

.

.

.

.

* Skip Time *

"dia menanyakan mu.. Kau tahu? Sepertinya, dia benar-benar ingin tahu tentang mu"Shikamaru menepuk pelan bahu Sasuke. kali ini, mereka berdua terlihat sedang berada di halaman belakang keluarga Nara. Dimana hamparan rumput hijau terbentang luas dan terlihat subur, kelihatan sekali jika para penjaga kebun begitu rajin dan telaten merawat tanah seluas 1 hektar itu.

"atau, dia merindukan mu"Neji menimpali. Sasuke mendengus kesal, mendengar candaan dari kedua sahabatnya. "kalian meminta ku kemari, hanya untuk membicarakan Asuma-sensei?"tanya Sasuke, dingin. "mungkin.. Tapi, ini juga soal keluarga mu"jawab Shikamaru. Neji menyendokan parfait rasa blueberry ke dalam mulutnya, sedangkan Sasuke masih terdiam dengan wajah pokerface andalannya.

"terlebih soal adik perempuan mu"ujar Shikamaru. Wajah sang Nara pun terlihat serius dari biasanya. "ini sedikit merepotkan, tapi... Mungkin dengan sedikit cerita dari Asuma-sensei, kau bisa mendapat Informasi tentang adik mu"Timpal Neji. Pemuda tak berpupil itu juga tampak lebih serius dari biasanya. "ku anjurkan pada mu, pergilah ke rumah Asuma-sensei.. "

"untuk apa?"tanya Sasuke, tak mengerti. "Asuma-sensei hanya berkata seperti itu.. Untuk kelanjutannya, ajak Naruto untuk pergi ke sana" Shikamaru memberikan secarik kertas berisi alamat ke tangan Sasuke.

"lebih cepat lebih baik"kata Shikamaru, gemas melihat Sasuke yang masih terpaku dalam diam.

.

.

.

* Mansion Uchiha *

Wanita berbalut dress berwarna putih dengan cardigan berwarna hitam, terkejut ketika melihat sosok pria yang benar-benar tidak ingin ia lihat saat ini. Uchiha Deidara, memundurkan tubuh indahnya, saat pria dewasa itu mendekati tubuhnya.

Tak dipedulikan lagi dengan vas bunga yang terjatuh ke lantai. Untunglah vas bunga itu tidak pecah, belum saja. Karena si pemilik sepatu pentofel itu belum menginjaknya.

Crackk..

Pria itu terus berjalan mendekati wanita yang kini tengah hamil muda itu. "m..mau a..apa, un"Deidara benar-benar ketakutan. Apalagi melihat seringaian di wajah pria seusia ayah mertuanya. "dimana para Uchiha? Pergi? Meninggalkan mu,, hm?"si pria malah balik bertanya.

"t..tuan M..Miroku, k..kumohon pergilah, un"pinta Deidara. "begitukah cara mu menyambut ayah mu? Oh, tidak.. Bahkan, Mika sudah mati 2 bulan yang lalu"

Sontak saja Deidara terbelalak mendengar perkataan mantan ayah tirinya. "mama"gumam Deidara. Air mata pun menganak sungai membasahi pipi gembil istri dari Uchiha Itachi itu. Tanpa disadari, Miroku sudah berada di hadapan Deidara. Dirangkumnya wajah Deidara.

"menikah tanpa sepengetahuan orang tua? Cih, dasar anak durhaka"cibir Miroku. Ia menahan tangan Deidara di atas kepala wanita yang kini resmi menyandang nama Uchiha dibelakang namanya.

' Itachi-kun, ku mohon tolong aku' batin Deidara. Deidara menutup matanya, ketika Miroku mendekatkan bibirnya ke arah bibir Deidara. ' tuhan, tidak lagi'

Bruggh

"tidak baik mengganggu istri orang lain, tua bangka"

"arggghh"

Deidara membuka matanya, dan mendapati dua kakak iparnya yang baru saja tiba bersama senior Uchiha yang tengah duduk di kursi roda, dengan wanita bersurai coklat yang bersedia mendorong kursi roda tersebut.

Bruuggh

Shizui memukul wajah Miroku, hingga si pria tua itu hampir tidak sadarkan diri. "itu untuk balasan karena kau mengunci kakek ku di kamar mandi"Ujar pemuda dengan bulu mata lentik itu.

Baru saja Obito hendak melayangkan pukulan ke wajah Miroku. Deidara pun menghalangi Obito dengan menjadikan tubuhnya sebagai tameng Miroku. Obito ber-decih pelan, melihat tingkah adik iparnya itu.

"jangan..Dei, mohon jangan Bito-nii"pinta Deidara.

"Dei-chan, kenapa kau melindungi laki-laki bejat ini?"tanya Obito. "hah, padahal aku sudah geram sekali ingin membunuhnya"sahut Shizui. Madara berdehem pelan, sehingga kedua cucu nya itu berjalan mendekati dirinya. "bahkan, Jii-chan saja geram melihatnya"

"kau benar Shizui-kun.. Tapi menghakimi orang lain, bukan seorang Uchiha"sahut Madara.

"hah, menyebalkan- Rin, ayo kita pergi dari sini"Obito menarik pergelangan tangan sang istri.

"Obito-nii... Eh, dasar!"Shizui sedikit kesal melihat Obito dan sang istri berjalan meninggalkan mereka semua. "pasti Jii-chan akan menyuruhku membantu si biadab ini berjalan"Shizui melirik Madara sejenak. "tidak juga.. Tapi, masa kau tega melihat Dei-chan yang sedang hamil itu memapah pak tua ini"Sahut Madara, seolah ia lupa jika ia juga sudah tua.

.

.

.

.

2 Hari Kemudian (Kediaman Uchiha)

Sejak kejadian 2 hari yang lalu. Para keluarga Uchiha (Itachi, Shizui, Obito, Madara, Sasuke, serta FugaMiko) pun kini terlihat tengah berkumpul di ruang keluarga. Mereka benar-benar syok begitu tahu, Deidara hampir saja di perkosa oleh seorang penyusup yang tak lain adalah Miroku, mantan ayah tiri Deidara.

Apalagi ketika mereka mendengar cerita Deidara tentang dirinya yang kabur dari Iwa saat itu. Deidara benar-benar takut jika sang ayah yang pernah hampir memperkosanya itu mengulangi perbuatannya. Maka tanpa sepengetahuan sang ibu, Deidara pergi ke Konoha.

Benar-benar bejad, begitulah yang ada dipikiran mereka. Tidakah seharusnya, Miroku malu mengingat jika Deidara adalah anak tirinya sendiri? Kini, akibat tingkah lakunya, Miroku pun mendekam di penjara, atas tuduhan penyusupan, penganiyaan(terhadap Madara), dan meracuni para maid dan butler dengan gas beracun.

Untunglah Obito dan Shizui segera datang. Itachi tidak tahu lagi, apa yang terjadi, jika keduanya tidak datang. Ia sekarang jadi lebih protektif demi keselamatan istri tercintanya dan calon buah hati yang tengah dikandung Deidara. Itachi pun bersumpah, akan menghabisi orang-orang yang mengancam keselamatan istrinya.

"sudah ditegaskan.. Sasuke lah yang akan menggantikan pekerjaan Itachi"Ujar Fugaku.

"Ji-chan, apa tidak berlebihan?"Tanya Obito. Merasa kasihan, kalau Sasuke yang meng-handle perusahaan secara keseluruhan.

"Kalau Obito-nii pasti sibuk mengajarkan? Begitupun Shizui-nii, Shizui-nii pasti sibuk dengan pasien"Sahut Sasuke. Sepertinya ia benar-benar pasrah akan kehendak fugaku.

"hah, lagi pula tousan ini belum punya cucu saja sudah terkena encok"cibir Itachi. Meskipun harus menjaga Deidara, Itachi pun juga sibuk dengan salah satu anak perusahaan keluarga mereka. Ya, meskipun tidak seberat Sasuke.

Fugaku memalingkan wajahnya, menghindari kontak mata dengan putra sulungnya itu. Memalukan, bahkan tousannya saja (Madara) masih sehat dan bugar saat seusianya.

"seperti tak tahu Tousan mu saja, Itachi-kun"Mikoto ikut menggoda sang suami.

Sasuke merasa bosan, ia pun beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan keluarganya tanpa berkata sepatah kata pun. "dia masih canggung"gumam Obito. "ya, sepertinya begitu"sahut Itachi. Mikoto terdiam, dalam hati ia memikirkan, jika ini adalah kesalahannya.

.

.

.

*Sasuke's room*

Tokk..Tokk..Tokk..

"masuk"seru Sasuke. Tak lama kemudian, pintu pun terbuka dan menyembul sosok sang ibu yang berdiri tepat di depan pintu.

"kaasan"ujar Sasuke. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur. Mikoto tersenyum dan mendudukan dirinya di pinggir tempat tidur putra nya. "Apa kau masih marah, nak?"Tanya Mikoto-mengusap pelan surai raven Sasuke.

Sasuke masih diam. Ia tak menyangka jika sang ibu akan bertanya hal ini kepadanya. "ternyata kau sangat marah ya"lirih Mikoto. Tangannya kini sudah tidak lagi mengusap rambut putranya. "aku tidak marah pada mu"Ujar Sasuke.

Hening..

Hingga..

"aku hanya menyesal.. Seperti yang pernah kau ajarkan pada ku.. menyesal setelah kehilangan.. Itu kan yang terakhir"lanjut putra bungsu Uchiha Fugaku itu.

"kau tahu Sasuke? Demi tuhan, aku selalu menyayangi semua anak ku.. Bahkan keponakan ku, Obito dan Shizui.. Aku sangat menyayangi kalian"Mikoto merangkum rahang tegas Sasuke.

"lalu kenapa Kaasan membenci ku?"Tanya Sasuke.

"kau masih berpikir aku membenci mu, Sasuke?Apa yang harus ku lakukan agar kau percaya? Kalau begitu, bencilah aku, jika itu membuat mu puas"

Sebagai seorang ibu, tentu saja tabu jika membenci darah dagingnya sendiri. Begitu pun, Mikoto. Jika, dengan membenci dirinya itu sudah cukup bagi Sasuke, Mikoto pun rela. Bahkan, jika Sasuke harus membenci dirinya selaku sang ibu selamanya pun, Mikoto benar-benar rela.

"aku tidak akan pernah membenci kaasan"Sasuke menatap tajam sang ibu. "tidak akan pernah"ulangnya. Mikoto tersenyum, direngkuhnya tubuh putranya yang kini sudah tumbuh lebih besar darinya.

.

.

.

#Sasunaru~Sasunaru~

.

.

"kita mau kemana sih, Teme?"tanya Naruto. Memang sejak Sasuke menarik tangannya dan membawanya ke dalam mobil sport miliknya. Naruto masih belum tahu, kemana Sasuke akan mengajaknya pergi. Seperti biasanya, Pagi-pagi sekali Sasuke masuk ke dalam kamar Naruto dan menunggu sang dobe mandi. Dan menyempatkan diri sarapan bersama keluarga Namikaze.

Karin Ba-chan pun juga tidak canggung lagi pada Sasuke. Bahkan, Karin ba-chan dan Tsunade Baa-chan meminta Sasuke untuk mengunjungi Naruto pagi-pagi, supaya Naruto bagun lebih awal dari biasanya.

"membawa mu ke pelaminan"Jawab Sasuke, asal. Gila, kuliah saja belum selesai, masa Sasuke mau membawanya ke pelaminan.

"tentu saja tidak, dobe-chan"Sasuke hampir saja tertawa terbahak-bahak melihat wajah manis Naruto yang terkejut itu. "huh, teme jelek!"Naruto mencubit pelan pipi tirus Sasuke. "sudah, lihat saja nanti"kata Sasuke. Mengelus pelan bekas cubitan Naruto yang memerah di pipinya. Uuhh, ini sakit, lho..

"tapi, traktir ramen, ya"Ujar Naruto. "tentu saja"sahut Sasuke. Ia pun mencubit pelan pipi Naruto dengan satu tangan yang masih setia mengemudikan mobil kesayangannya itu.

.

.

.

.

* Sarutobi Asuma's House *

Naruto hanya memperhatikan dua orang yang tengah larut dalam pembicaraan yang begitu serius. Seorang pria berusia 36 tahun yang Naruto tahu adalah mantan guru Sasuke saat di SMA dulu, itu begitu menyimak apa yang diceritakan Sasuke kepadanya.

"ini sulit dimengerti.. Tapi, kami percaya dengan apa yang kau katakan"Ujar Asuma. Sasuke mengangguk pelan.

"istri ku pun juga mengalami hal yang diluar nalar seperti Naruto-san"lanjutnya.

Asuma berbisik pelan pada wanita bersurai ikal. Kemudian wanita itu mengangguk dan beranjak pergi meninggalkan mereka ber-3.

"sebelumnya, maaf jika aku baru menyampaikannya sekarang"kata Asuma.

Istri dari Asuma itu pun juga sudah terlihat dengan sebuah map ditangannya. Naruto berusaha menerka-nerka apa yang ada di dalam map berwarna coklat itu. "tidak masalah, sensei"timpal Sasuke.

"eerr-maaf, itu apa ya?"tanya Naruto, penasaran. Kurenai tersenyum dan memberikan map tersebut ke tangan Naruto. "kau lebih berhak membukanya, Teme"bisik Naruto.

"itu berkas mantan murid ku.. Ku rasa itu ada sangkut pautnya dengan anda, Uchiha-san"Ujar Kurenai.

Sasuke memandang sejenak map tersebut. Pemuda itu pun beranjak dari duduknya diikuti oleh sang kekasih. "terimakasih atas informasinya, sensei"Sasuke membungku hormat. Asuma dan Kurenai mengangguk pelan. Setelah berpamitan, Sasuke dan Naruto pun segera pergi dari kediaman Asuma beserta istrinya.

"apa kau yakin?"Tanya Kurenai, setelah Naruto dan Sasuke pergi.

Asuma mengangguk pelan. "dia sudah dewasa, pastinya tahu apa yang harus ia lakukan"jawab Asuma.

.

.

.

Naruto memandangi Sasuke yang tengah sibuk mengemudi. Hanya untuk memastikan keadaan kekasihnya saat ini. Apa Sasuke baik-baik saja? Begitulah yang ia pikirkan. Wajah stoic Sasuke, bohong jika Naruto tidak bisa membaca wajah kekasih hatinya itu. Sasuke tampak kacau saat ini. Sesekali ia melirik sebuah map yang ia letakan di atas dashboard mobil kesayangannya itu.

"Suke"Naruto berharap jika Sasuke baik-baik saja. "aku baik-baik saja, dobe"dusta Sasuke-seolah tahu apa yang hendak ditanyakan oleh Naruto. Ceritanya Sasuke enggan membuat Dobenya itu merasa khawatir akan dirinya. "bohong"Naruto melempar pandangannya ke arah jendela. Bohong!

Naruto tahu kalau saat ini Sasuke sedang berbohong. Hey, ayolah!

Dibohongin itu adalah hal sangan dibenci oleh Naruto. Ia tak mau ada yang berbohong di depannya. Trauma, eh? Begitulah.. Naruto mungkin terlalu trauma akan masa lalunya. Dimana sang ayah mengatakan: "Tousan tidak akan pernah meninggalkan Naru-chan" itu akhirnya pergi dan meninggalkan rasa sakit di dada. Naruto hanya tidak ingin sendiri, kau tahu?

"Aku langsung pulang saja"Ujar Naruto. Sasuke mengangguk pelan. Mungkin Naruto lelah. Jujur saja, Sasuke juga lelah, apalagi pikirannya yang terus berpikir. Oh, jangan ditanyakan lagi seberapa rasa lelahnya itu. Yang ku tahu, itu sangat lelah..

.

.

30 Menit kemudian..

Sampailah mereka di depan pekarangan keluarga besar Namikaze. Sesampainya di rumah, Naruto berjalan keluar dari mobil Sasuke, tanpa say goodbye untuk Sasuke. Malas? Hm, begitulah..

"Naruto"

Naruto menoleh dan mendapati Sasuke mengulurkan tangannya, memberikan sebuah syal berwarna biru untuknya. "ambilah, akhir-akhir ini kau terasa lebih dingin.. Aku khawatir jika kau sakit"Sasuke berkata panjang lebar. Naruto membulatkan matanya.

Niatnya yang ingin meninggalkan Sasuke tanpa senyum pun dibatalkan. Ia kembali masuk ke dalam mobil Sasuke. Dipeluknya tubuh si bungsu Uchiha itu. Air mata haru menitik begitu saja, pertanda ia sangat bahagia dengan apa yang tuhan berikan kepadanya. "hiks"

"kau menangis?"Sasuke memberikan jarak diantara ia dan Naruto. Dipegangnya lembut bahu pemuda berparas ayu itu. Melihat duo Naru menangis? Hell, No! Itu adalah kelemahan para Uchiha, bukan? Bagai mentari yang melelehkan gletser-gletser di kutub selatan. Bagaikan tukang bakso yang menghangatkan tukang es keliling di tengah hujan.. Oh, lupakan perumpamaan yang terakhir-_-

"jangan tinggalkan aku, teme"isak Naruto. Ditenggelamkan wajah manisnya ke dada bidang Sasuke. "aku tidak akan meninggalkan mu, princess"Sasuke menenangkan Naruto. Pergi? Meninggalkan? Berpisah? Maksud ku, berpisah dari Naru-chan yang manis itu? NO! Sasuke bukan orang bodoh yang memilih pergi dibandingkan Stay bersama makhluk manis ciptaan tuhan ini.

"aku tahu kau tidak menangis karena ini.. Kau hanya takut jika Naruko tidak bisa kembali, kan? Tenang dobe, aku akan selalu membantu mu, bersama mu, mencintai mu dan menyayangi mu, selamanya"bet, kenapa Sasuke bisa berkata sepanjang itu? Mansion Namikaze itu tidak seramkan, ya?

He wondering why he can said like that. Wow, Heartwarming owners, they're so sweet!

"hehehe"Naruto tertawa. Wajah as sweet as a candy itu memerah akibat tawanya yang berlebihan. Ugh, bodoh.. Wajah inilah yang membuat Sasuke greget untuk memakannya sekarang juga. Sasuke benci manis? It's just gossip. Nyatanya, Sasuke sangat suka melihat wajah Naruto yang terlihat begitu manis dimatanya. "kau gila ya, teme?"Tanya Naruto. Sepertinya dia sudah berhasil mengendalikan dirinya.

Cupp..

Sasuke mengecup bibir pink alami milik Naruto. "gila karena mu" kata Sasuke, disela-sela ciumannya.

.

.

.

TBC

.

.

.

OMAKE..

Gadis kecil berlari menghampiri wanita muda bergaun putih panjang yang tampak begitu indah membalut tubuh sang wanita. Ia canitk, sungguh cantik, rambut merahnya yang tergerai melambai-lambai diterpa angin dengan latar taman bagi keduanya. Wanita pemakai tiara bunga-bunga indah yang melingkar di kepalanya, mengusap lembut surai pirang cerah gadis kecil yang kini sudah merebahkan dirinya dengan kepala berbantalkan paha wanita itu.

"Ba-chan, terimakasih sudah membantu Ruko"ucap gadis itu. Uzumaki Kushina, ibu dari Naruto mengangguk pelan, dan tetap mengusap lembut surai pirang milik Naruko. "aku tidak membantu mu.. Tapi dirimu lah yang melakukannya.. Keberanian mu, kebaikan hati mu, dan sikap optimis mu.. Kau anak yang hebat"Kushina tersenyum padanya. "tapi, bolehkan Naruko meminta satu permintaan lagi?"Tanya Naruko.

"tentu saja"Kushina menyanggupi. Naruko beranjak dari posisinya, hingga ia duduk disamping wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu pengganti dari Mikoto. "Bolehkah Naruko bertemu Kaasan yang sudah melahirkan Naruko? Sekali saja.. Naruko hanya ingin melihat Kaasan"pinta Naruko..

"itu sulit Naruko.. Tapi tenang saja.. Ba-chan bisa mengantarkan Ruko-chan ke masa 10 tahun yang lalu.. Dimana Ruko-chan dan Kaasannya Ruko-chan masih bersama"

Naruko mengangguk pelan. Tak apa, jika ia tak bisa menggapai bahkan memeluk sang ibu kandung. Bisa melihat nya saja itu bahkan sudah membuat hati Naruko bahagia, dan tidak akan pernah melupakan jasa sang ibu. Berkat dirinya, Naruko bisa bertemu Mikoto yang sangat menyayanginya, bertemu Fugaku, Itachi, Sasuke, dan juga para keluarga Uchiha yang lainnya.

'kaasan, tunggu Ruko ya.. Biar bagaimanapun, Ruko tidak pernah membenci Kaasan'

.

.

.

TBC

.

.

Wiiww.. Akhirnya bisa nerusin Fic ini.. Hehehe.. Bagaimana Minna-san? Misa minta maaf kalo masih kurang berkenan dihati para readers.. Misa dan Narurin juga sudah berusaha, namun mungkin ada sedikit kendala di sini. Update lama, karena waktu itu Narurin sibuk latihan vokal buat Natal kemarin. jadi, Misa yang ngelanjutin, makanya itu mungkin agak beda dari yang diharapkan Narurin. Oh, dan review yang waktu itu.. Terimakasih banyak ya atas review kalian..dan yang waktu itu protes prihal Narurin yang kurang ramah di FB.. Mohon maklum, Narurin memang seperti itu..bukannya dia sombong, tapi dia kurang bisa beramah tamah. Eh, jadi curhat.. Yasudah, segini aja deh..

See, you..

HAPPY NEW YEAR Readers..

.

.

.

RnR?