.
Seokjin terbangun oleh guncangan pelan di bahunya. Beberapa saat berkedip dan mengumpulkan nyawa, ia menyadari bahwa salah satu crew pesawat lah yang melakukan itu. Berniat memberitahu tentang pesawat yang akan mendarat sebentar lagi. Lalu Seokjin mengenakan sabuk pengamannya seperti yang diminta.
Pulang ya? Tanpa sadar bibirnya mengukir senyum saat pertanyaan itu ia ajukan untuk dirinya sendiri. Atmosfir negara kelahirannya sudah kental terasa. Seokjin jadi semakin tidak sabar keluar dari pesawat dan menghirup udara segar Seoul setelah lebih dari lima tahun ia tinggalkan.
"Seandainya kau dapat bertahan, mommy jamin kau akan lebih menyukai Seoul di banding New York, baby."
Kenyataannya, tak ada satu pun eksistensi yang pantas menyandang gelar objek dalam ucapan Seokjin barusan. Ia memesan kelas VIP dan khusus meminta agar tak ada orang lain yang duduk di sampingnya. Jadi ia bisa benar-benar menikmati perjalanan seorang diri. Lagipula yang barusan lebih cocok di sebut gumaman asal darinya, otomatis beriringan dengan tangan-tangannya yang melingkari perutnya. Seolah melindungi sesuatu yang pernah bernafas disana.
Dan ia menangis lagi. Menyumpah serapahi dunia yang membuatnya merasakan kehilangan terbesar. Hal yang paling ia inginkan sekarang adalah dunia yang ikut membuangnya bersama calon bayinya.
.
"Jinnie!"
Bagi Seokjin, definisi pulang itu sendiri adalah bisa kembali merasakan pelukan ibunya yang hangat. Ia sedikit berlari, menyeret kopernya saat sosok sang ibu terlihat di tengah keramaian bandara. Merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, siap menyambut kepulangannya bersama senyum khas yang menenangkan.
Tangisannya kembali pecah saat telah sempurna berada dalam dekapan erat sang ibu. Dulu, begitu angkuhnya Seokjin berkata pada ibunya melalui sambungan telepon, bahwa ia memutuskan tinggal bersama seseorang yang ia cintai di New York setelah lulus kuliah. Membangun impiannya tentang kehidupan happily ever after versi dokter muda yang baru menyelesaikan studinya.
"Ma, maaf. Maafkan aku." Permintaan maaf yang terus menerus ia bisikan dalam sela-sela isakan.
"Sudah, berhenti meminta maaf. Lupakan masa lalu dan mulai lagi dengan lebih baik." Balasan lembut dari sang ibu.
Andai melakukan sesuatu sama mudahnya ketika mengatakannya, Seokjin mungkin akan tanpa beban tersenyum lagi. Tapi kenyataan justru sebaliknya, jadi Seokjin melanjutkan tangisnya. Tak peduli pada keramaian bandara disana.
Sebagai seorang ibu, melihat anaknya hancur tapi tidak bisa melakukan apa-apa adalah satu kehancuran sendiri untuknya. Nyonya Kim merasakannya saat ini. Beberapa hari lalu Seokjin meneleponnya, mengabari bahwa ia akan segera pulang ke Seoul. Kebahagiaan tentu menjadi rasa utamanya. Namun saat ia menanyakan apa suami Seokjin akan ikut, hanya ada diam dan isak tangis yang perlahan terdengar. Lalu Seokjin mulai menceritakan semua hal tentang pernikahannya yang ia sembunyikan selama ini. Tentang rasa kehilangan akan makhluk mungil yang bahkan tak sempat ia beri nama.
"Izinkan aku bekerja di rumah sakitmu, ma."
"Tentu, sayang. Mama janji semua hal buruk ini hanya akan membantumu menemukan yang terbaik dalam hidupmu."
Bahkan kini Seokjin tak lagi percaya bahwa yang terbaik itu benar-benar ada.
BTS' Fanfiction
.
.
.
Kim Namjoon | Kim Seokjin | Park Jimin | Min Yoongi | Jeon Jungkook | Kim Taehyung | Jung Hoseok
.
.
.
Sometimes home isn't about four walls and roof. It is two eyes and a heartbeat. -Unknown
.
.
.
.
.
Malam ini mungkin Yoongi dikutuk agar tidak bisa tidur. Mungkin Tuhan marah karena hari ini ia menggantungkan pertanyaan dari dua orang sekaligus. Berperan menjadi si bodoh yang tak tahu apa-apa. Sebenarnya Yoongi bukan si bodoh, hanya pengecut sialan yang takut pada realita. Memilih tetap bersembunyi di dalam zona amannya sembari memeluk erat Jungkook untuk dirinya sendiri.
Ia melirik jam di kamarnya yang sudah menunjukkan lewat tengah malam. Nyaris jam dua pagi dan Yoongi sama sekali belum memejamkan mata sedetikpun. Hanya berbaring dengan pandangan lurus ke langit-langit kamarnya yang monoton. Berpikir bahwa seharusnya ia menghiasinya dengan bintang-bintang seperti di kamar Jungkook. Yoongi tahu tubuhnya sudah berontak minta tidur, tapi otaknya menolak hal itu. Masih larut berpikir akan dua pertanyaan yang ia abaikan begitu saja.
'Jika kalian menikah nanti, apa kau akan membawa Jungkookie bersamamu?'
'Ayo menikah, hyung!'
Yoongi bisa gila. Mungkin dua orang itu telah bersekutu untuk membuat Yoongi gila hari ini.
Sore tadi, Yoongi hanya mengecup sekilas bibir Jimin sebagai balasan. Entah apa artinya Yoongi sendiri juga tidak tahu. Yang pasti Yoongi tidak ingin Jimin menginterpretasikannya dalam hal negatif. Demi Tuhan, Yoongi sama sekali tidak marah, justru saat itu hatinya sedang lega luar biasa karena akhirnya bisa mengungkapkan perasaannya secara verbal, hal yang telah Jimin nantikan sejak awal hubungan mereka. Tapi konsep pernikahan sendiri masih terasa meragukan bagi Yoongi.
Ia tidak menyalahkan Namjoon, biar bagaimanapun Yoongi juga terlibat dalam proses kegagalan itu. Jika ia bisa bersabar sedikit lagi, mungkin Namjoon akan berubah. Bahkan Namjoon yang saat ini sudah jauh lebih baik. Ah, Yoongi benar-benar sudah gila. Mengapa sekarang ia jadi terdengar menyesali perceraiannya di saat Jimin maju bersama sebuah lamaran? Sialan sekali Min Yoongi ini.
Getaran ponsel yang ia letakkan di atas bantal di sampingnya bagai satu alarm yang menyadarkan lamunan Yoongi. Ia meraihnya, dan melihat nama 'Jiminie' tercantum di layar. Tanpa ragu ia menjawabnya.
"Sudah kuduga kau belum tidur, hyung."
"Aku terbangun karena telepon darimu."
Ck, bahkan ia langsung mengangkatnya di dua detik pertama. Caranya berbohong memang buruk sekali.
"Oke. Maaf karena membangunkamu, tuan putri."
"Sialan."
Yoongi menyamankan posisi berbaringnya bersama ponsel yang masih menempel di telinga. Aneh, tiba-tiba ia jadi mengantuk setelah sedikit adu argumen dengan Jimin.
"Jiminie"
"Hmm?"
"Soal sore tadi.."
"Jangan dipikirkan, hyung. Jika ucapanku sore tadi menganggu pikiranmu, tolong jangan dipikirkan. Aku punya waktu selamanya untuk menunggumu."
Saat ini Yoongi sibuk berpikir tentang hal mulia apa yang pernah ia lakukan di kehidupan sebelumnya hingga di masa sekarang mendapat hadiah sosok seperti Park Jimin yang kelewat sabar. Yang bahkan Yoongi tidak bisa mendapat gambaran soal kemarahannya sampai sore tadi.
"Aku tetap akan memikirkannya, bodoh! Dan ya, kau benar, aku butuh waktu."
Dari semua hal yang ada, waktu adalah hal yang paling Yoongi butuhkan saat ini. Ia tahu dua tahun merupakan waktu yang cukup lama untuk ia bisa mulai membuka kembali hatinya. Jimin memang sudah membuatnya terbuka, memperlihatkan segala bekas luka yang pernah ia miliki. Sedikit lagi waktu dan sebuah moment yang tepat, Yoongi janji akan memberikan seluruh hatinya.
"Tenang saja, kau satu-satunya kemungkinan yang ada." Yoongi suka sekali memutar-mutar kalimatnya. Menyembunyikan rasa manis aslinya dalam teka-teki. "Aku sudah bilang bahwa aku mencintaimu. Kau dan Jungkookie."
Tak ada yang lebih menyenangkan bagi Jimin selain Yoongi yang menyamaratakannya dengan Jungkook. Bahkan semut saja akan tahu betapa berharganya Jungkook dalam hidup pria mungil tersebut.
"Tidurlah, hyung." Suara Jimin yang bergetar jadi sedikit menjengkelkan bagi Yoongi.
"Setelah semua pengakuan manisku malam ini, reaksimu adalah menyuruhku tidur, Park Jimin?!"
Jimin di seberang sana tertawa. Tapi tetap terdengar satu dua isakan yang menyela di antaranya. "Kau menangis?" Membuat Yoongi tanpa sadar melembutkan suaranya, nyaris berbisik tidak percaya. Apa Yoongi telah mengatakan hal yang salah?
"Terimakasih telah menjadikanku satu-satunya kemungkinan itu." Jeda yang ada karena Jimin menarik nafasnya panjang. Mencoba menenangkan diri sebelum kembali dengan bisikan yang berhasil menularkan airmatanya. "Sial, Yoongi. Kau benar-benar membuatku jatuh cinta."
Dua puluh enam huruf dan miliaran kata yang ada masih belum mampu Yoongi rangkai untuk menjadi sebuah balasan yang dapat mewakili perasaannya saat ini. Jimin berhasil memperumit hal paling sederhana sekalipun di hidupnya.
"Tidurlah, besok pagi aku akan menjemputmu dan Jungkook. Selamat malam, hyung."
"Malam, Jiminie."
Dengan satu kalimat sebagai penutup, Yoongi memutus sambungan teleponnya. Yakin sekian ratus persen tak ada lagi kesalahpahaman di antara mereka karena jika ada orang yang paling mengerti perasaannya sekarang itu adalah Jimin.
Rasa kantuk sudah menyapa Yoongi, diliriknya lagi angka pada jam di kamarnya, lebih dari setengah jam ia dan Jimin saling bicara tadi. Yoongi merasa isi kepalanya jauh lebih ringan, meski masih tersisa Namjoon dan pertanyaannya.
"Appa?"
Baru saja memejamkan mata, Yoongi melenguh saat sebuah panggilan yang familiar mengintrupsi sisa malamnya. Ia sedikit mengangkat kepala terlanjur nyaman dengan posisi tidurnya, melihat ke arah pintu yang setengah terbuka, dari sana sosok mungil Jungkook terlihat sedikit samar karena pengaruh silaunya lampu lorong di depan kamar.
Meninggalkan posisi terlanjur nyamannya, Yoongi bergerak cepat turun dari ranjang. Lalu melangkah menghampiri si bocah kelinci yang anehnya hanya berdiri diam di sela pintu yang terbuka. Piyama merah bermotif kepala Iron Man yang ia kenakan suduh kusut bahkan bagian depannya sedikit naik dan memperlihatkan sedikit pusarnya, dalam dekapannya ada Bun Bun boneka kelinci putih hadiah ulang tahun pertamanya dari Yoongi dan Namjoon. Siapapun yang melihatnya pasti ingin menggigit pipi bulat sang anak saking gemasnya.
"Ada apa, baby? Mimpi buruk, hmm?"
Yoongi berlutut di hadapannya, otomatis membawa tubuh mungil itu ke dalam pelukan. Jungkook tidak terlihat ketakutan ataupun menangis seperti saat ia mengalami mimpi buruk, ia justru terlihat tenang dengan mata sayu yang siap tertutup lagi kapanpun.
"Tidak mimpi buruk, Kookie hanya ingin tidur dengan appa."
Dekapan dari Yoongi mengerat, membawa tubuh Jungkook semakin menempel padanya hingga ia bisa memberi ciuman bertubi-tubi di wajah si bocah kelinci yang hanya pasrah mendapat serangan manis tersebut sebagai persetujuan. Yoongi tak mengatakan apapun lagi, ia langsung menggendong Jungkook dan kembali menuju ranjangnya. Merasa harus segera menidurkan kembali sang anak karena kondisi tubuhnya sendiri yang sudah protes minta istirahat.
Setelah memastikan Jungkook berbaring nyaman, Yoongi mengambil tempatnya di sisi lain ranjang. Mencari kehangatan tambahan dengan mendekap tubuh mungil yang juga menginginkan rasa hangat yang sama. Yoongi nyaris meneteskan air mata dalam senyumnya. Jungkook sudah tidur di kamarnya sendiri sejak umur dua tahun, saat itu Namjoon bilang untuk melatih keberaniannya, penolakan datang dari Yoongi karena masih belum ingin tidur terpisah dengan bocah kelincinya. Tapi disana Yoongi belajar, biar bagaimanapun Jungkook akan terus tumbuh dewasa, ia tidak bisa memaksakan Jungkook tetap di sisinya selamanya.
Hell, kini ia bahkan berharap Baby Kookie nya tidak akan pernah dewasa. Orangtua macam apa Yoongi ini.
"Appa?"
Panggilan yang sama menyadarkannya lagi. Yoongi memfokuskan pandangan pada mata bulat yang menatap tepat di hadapannya. Ck, Kim Namjoon ada disana. Mata mereka benar-benar serupa. "Yes, bunny."
"Kapan daddy akan kembali kesini bersama kita?"
Bagi Yoongi, poros dunia bagai berhenti berputar saat ini. Seperti semesta memberinya kesempatan untuk berpikir baik-baik jawaban apa yang pantas ia berikan. Jungkooknya berusia enam tahun, dua tahun ini ia masih belum memahami apa yang kedua orangtuanya telah putuskan karena baik Yoongi atau Namjoon tak ada yang pernah berusaha menjelaskan.
Yoongi menangis, tingkat kesulitan pertanyaan-pertanyaan yang ia terima hari ini semakin mematikan. Dan Jungkook sebagai penutup menguras habis udara dalam paru-parunya. Brengsek sekali, dua tahun, dan ia membiarkan anaknya berharap semua akan kembali utuh seperti sedia kala. Tuhan, kalau bisa Yoongi tidak pernah ingin di lahirkan jika nantinya ia hanya akan menyakiti anaknya seperti ini.
"Appa, kenapa? Kookie nakal ya?" Isakan Jungkook mulai terdengar, menyatu bersama milik Yoongi dalam remangnya keheningan kamar. Memeluk erat Bun Bun dan menyembunyikan wajahnya pada dada sang appa. Terlalu takut melihat Yoongi yang ia kira akan marah.
"Tidak. Kookie tidak pernah nakal karena itu appa sangaaaaatttt menyayangi Kookie." Sekuat tenaga Yoongi menenangkan diri. Memaksa matanya berhenti memproduksi air lebih banyak lagi. Ia tahu, menangis bukanlah hal yang dibutuhkan anaknya saat ini.
"Appa sayang Kookie?"
"Tentu, bunny."
"Hehe Kookie juga sayang appa dan daddy."
Yoongi dibuat tidak percaya saat dengkuran halus Jungkook mulai mendominasi setelah ia menyelesaikan kalimatnya. Hingga saat Yoongi memastikan sendiri kelopak mata bocah kelincinya yang menutup damai. Bulu-bulu matanya yang panjang menempel di bagian pipinya yang masih basah karena tangisan tadi.
Pada akhirnya Yoongi dapat menemukan kembali ritme normal nafasnya, tidak lagi mempedulikan tangisan yang tetap berlanjut. Merasa lega memiliki waktu lebih untuk menyiapkan jawaban untuk pertanyaan Jungkook yang menyedihkan.
Malam ini diam-diam si kecil justru memahami lagi satu hal baru, bahwa jangan pernah menanyakan lagi kapan daddy akan kembali tinggal bersama mereka sebab yang ia tahu, appa akan merasa sedih saat memikirkan jawabannya.
.
.
.
Namjoon berhenti memencet random remote tv di tangannya, berakhir pada tayangan drama pagi yang pastinya membosankan. Lagipula sejak awal ia tidak berniat menonton tv. Namjoon hanya bosan, sangat. Mood paginya semakin memburuk saat tadi membaca pesan dari Yoongi bahwa kemungkinan besar ia tidak bisa berkunjung karena proses rekaman album baru artisnya akan dimulai hari ini, hal yang sama tentu berlaku untuk Hoseok. Jimin juga begitu, latihan rutinnya tidak bisa ditinggalkan menjelang comeback si artis yang semakin dekat. Satu-satunya harapan ada di orangtua Yoongi, tempat Jungkook dititipkan sementara, tapi mantan ibu mertuanya tentu punya kesibukan sendiri jadi Namjoon tidak mau memaksanya datang bersama Jungkook. Orangtua Namjoon langsung kembali ke Ilsan kemarin, sama sekali tidak masuk daftar orang yang akan Namjoon paksa menemaninya.
Ck, Namjoon pasrah saja jika hari ini ia sekarat karena bosan.
"Selamat pagi, Namjoon-ssi."
Sarapannya datang. Seorang perawat mendorong troli dengan nampan berisi menu makanannya, di susul Dokter Ahn yang tadi menyapa penuh keramahan. Namjoon balas tersenyum seramah yang ia bisa meski mood jeleknya tetap saja terlihat jelas.
"Bagaimana keadaan Anda?" Tanyanya masih ramah. Sementara perawat meletakkan nampan di atas meja nakas bersama tabung-tabung kecil berisi kapsul beraneka warna yang tentu harus Namjoon habiskan. Serta satu gelas besar jus tomat disana berhasil mengingatkan Namjoon pada seseorang.
"Lebih baik." Jawaban asal dari Namjoon. Dokter Shin dibuat tertawa kecil. Jelas dapat merasakan kejengkelan pasiennya yang satu ini.
Ia mengecek sesuatu di kantung infus Namjoon dan meminta sang perawat menyuntikan vitamin tambahan disana. Lalu beralih pada pergelangan tangan, menghitung denyut nadi per menit pasiennya. Selanjutnya meminta sang pasien membuka mulut untuk ia lihat dalamnya menggunakan senter kecil.
"Hmm.. Kurasa tidak. Justru semakin memburuk. Anda sedikit demam."
Oh astaga, jika itu Jungkook mungkin demam akan terdengar buruk. Tapi bagi orang dewasa seperti Namjoon ucapan Dokter Ahn ini jadi berlebihan sekali. Namjoon dibuat semakin merengut. Tidak bisakah panggilkan dokter lain yang dapat merubah mood-nya? Seokjin misalnya.
"Demam bisa jadi sangat serius bagi seseorang yang sedang mengalami malnutrition seperti Anda. Beberapa nutrisi harusnya membentuk antibodi terhadap virus demam itu, tapi bahkan tubuh Anda nyaris kehabisan hal tersebut."
Namjoon benci diceramahi. Tapi ia mengakui kebenaran diagnosa sang dokter. Seharian kemarin kepalanya berat sekali, seluruh tubuhnya terasa seperti ditusuk ribuan jarum.
"Apa Anda tidak beristirahat dengan baik selama tiga hari disini? Ada gangguan insomnia?"
Dalam hati Namjoon tertawa. Terlalu banyak hal yang harus ia pikirkan bahkan saat tidur sekalipun. "Ya, dan bertambah buruk akhir-akhir ini." Jawaban jujurnya menegaskan bahwa ia memang butuh bantuan. "Bisakah saya meminta obat tidur, dok?"
Sadar akan pentingnya tidur yang baik bagi proses penyembuhannya, demi Tuhan Namjoon hanya ingin segera keluar dari rumah sakit. Menjalani kehidupannya seperti biasa dan tentu kencan pertamanya dengan Seokjin yang sangat ia nantikan.
"Baiklah, saya akan memberikan dosis yang paling rendah dulu nanti malam. Minum obatnya dan cobalah istirahat sebanyak yang Anda bisa." Ia lanjut menjelaskan pada perawat yang menemaninya tentang dosis obat tidur yang di butuhkan Namjoon saat ini. "Saya permisi, Namjoon-ssi."
Namjoon mengucapkan terimakasihnya. Sang dokter telah keluar ruangan, menyisakan perawatnya yang sedang merapikan perlengkapan sehabis menyuntik tadi. Tiga hari berada di rumah sakit menjadikan Namjoon sedikit banyak mengenal para staff disini, mulai dari paman cleaning service yang super ramah, dokter Ahn, resepsionis genit di depan, perawat Lee, dan pasien-pasien yang kamarnya bersebelahan. Jadi ia sudah tidak canggung saat ingin menayakan hal-hal di luar konteks kesehatannya pada perawat Lee. Kim Seokjin, misalnya. Dan Taehyung.
"Bagaimana keadaan Taehyung?" Tanyanya, berusaha terdengar tidak terlalu penasaran dan hanya sekedar basa-basi. Ia bahkan mengganti saluran tv dengan remote di tangannya untuk mendukung kepura-puraannya.
Semalam saat berjalan-jalan sebentar keluar kamar, Namjoon mendengar orang-orang membicarakan kasus Taehyung. Ia tebak perawat Lee juga pasti tahu mengenai hal ini.
Perawat Lee sendiri tampak terkejut dengan pertanyaan yang di ajukan, setelahnya kesedihan mendominasi auranya. "Taehyungie di pindahkan ke tempat lain untuk pengobatan."
"Anda tidak bercanda kan?! Di pindahkan kemana?!" Respon dari Namjoon lebih mengejutkan lagi, tanpa sadar suaranya meninggi seiring dengan emosi yang meningkat. Entah apa yang membuat dirinya semarah ini, Namjoon juga tidak tahu. Ia bahkan bukan siapa-siapanya Taehyung hingga berhak menerima kabar ini lebih awal atau bahkan terlibat dengan keputusan yang di ambil rumah sakit.
"Saya kurang tahu, pemindahannya di lakukan secara tertutup dan tersembunyi dari pihak lain."
Bagus, penjelasan selanjutnya tak menambah baik emosi Namjoon. Ia ingin berteriak bersama pertanyaan tentang apa alasan pihak rumah sakit melakukan ini pada Taehyung? Dari apa yang Namjoon curi dengar semalam, mereka berkata bahwa tindakan Taehyung sudah keterlaluan dan ia lebih membutuhkan perawatan kejiwaan.
Bullshit sekali, bahkan Namjoon yang selalu merasa gagal menjadi orangtua tahu apa yang dibutuhkan bocah itu adalah orang-orang yang menyayanginya. "Dimana Dokter Kim?"
Satu nama lain yang langsung terpikirkan olehnya, Seokjin pasti yang paling merasa hancur dengan berita sialan seperti ini.
"Ah, Dokter Kim kemarin mengajukan cuti selama dua minggu."
Memang kesalahan Namjoon di masa lalu sepertinya tidak bisa di maafkan, dan beginilah cara dunia menghukumnya melalui Kim Seokjin yang kini terlihat semakin jauh untuk di raih.
Namjoon berpikir, mungkin ia tak berhak bahagia sebelum Yoongi dan Jungkook merasakan hal itu. Dan kepergian Seokjin yang tanpa kabar semakin membuat hipotesanya sendiri benar.
.
.
.
.
.
Lima hari selanjutnya terlewati sangat normal. Namjoon bertransformasi sebagai pasien yang baik. Tidur cukup, minum obat tepat waktu, menghabiskan setiap menu makannya, bahkan sesekali mengikuti senam pagi di taman rumah sakit (yang bahkan tak akan pernah ia lakukan saat sehat) bersama pasien lain. Dokter Ahn tentu beranggapan bahwa kondisi Namjoon lebih baik karena tingkahnya beberapa hari belakangan. Hasilnya? Ia di izinkan pulang akhir minggu ini.
Bagi Min Yoongi dan Park Jimin yang telah mengenal sang produser luar dalam, justru kondisi itu sangat mengkhawatirkan. Namjoon tetap berusaha tersenyum, bercanda, serta bermain seperti biasa dengan Jungkook ketika berkunjung. Tapi bahkan si bocah kelinci pun sadar ada yang berbeda dari daddy-nya. Ia tak pernah berlama-lama dalam gendongan Namjoon atau berbaring bersama di atas ranjang. Jungkook akan mengulurkan tangannya pada Yoongi ketika baru beberapa menit bersama Namjoon. Dan menolak kembali lagi pada daddy-nya hari itu, esoknya juga tetap sama. Perlakuan Jungkook pada sang daddy yang seperti remaja belasan baru patah hati.
"Appa~"
Yoongi mendengus lagi, masa bodo dengan caranya bernafas yang cukup boros selama udara masih gratis. Ia meraih Jungkook di atas ranjang sana, mengulurkan kedua tangannya, kilatan basah bola matanya terlihat cukup jelas. Teriakan antusiasnya sepuluh menit lalu saat mereka memasuki kamar Namjoon hilang tertelan bumi. Atau aura kelam Namjoon yang menenggelamkannya.
"Kenapa, sayang? Bukannya tadi Kookie bilang kangen daddy?" Tak ada jawaban dari Jungkook. Mood buruk Namjoon sepenuhnya tertular pada bocah enam tahun itu. Kini ia hanya menyembunyikan wajahnya pada leher Yoongi sambil merengek kecil.
Sementara sang pelaku perusak keceriaan Jungkook hanya menatap diam dari ranjang sana. Ia sadar kesalahannya, sekeras apapun usahanya untuk tersenyum dan bermain senormal mungkin, Jungkook nyatanya lebih pintar. Atau Namjoon saja yang otaknya semakin bodoh akhir-akhir ini.
"Kookie, maafkan daddy." Bisiknya. Entah terdengar atau tidak, tapi dari tatapan Yoongi ia bisa menebak kalau suaranya cukup keras untuk di dengar pasangan 'ibu' dan anak itu.
"Tiba-tiba aku ingin es krim.." satu lagi orang yang memutuskan bersuara. Jimin berusaha menyelamatkan situasi tak mengenakan dalam ruangan. "Kookie mau ikut? Membeli es krim?"
Respon positif langsung ia terima dari Jungkook, bocah yang masih mengenakan seragam sekolah itu mengangkat wajahnya dari tempat persembunyian. Menatap antusias Jimin yang nyengir lebar. Seratus delapan puluh derajat berbeda dengan milik Namjoon tadi.
"Mau mau Jiminie!"
Selanjutnya tubuh Jungkook sudah berpindah, kedua tangannya mendekap nyaman leher Jimin. Masih menolak menatap daddy dan bahkan appa-nya. Ia sibuk memainkan rambut belakang Jimin.
"Bicaralah dengannya, hyung." Setelah mengusak lembut rambut hitam Yoongi, Jimin bersama Jungkook mulai melangkah keluar ruangan.
Saat pintu telah kembali tertutup sempurna, Yoongi mengalihkan seratus persen perhatiannya pada Kim sialan Namjoon. Menyiapkan segala umpatan yang sudah sampai di ujung bibir.
"Aku baik-baik saja, sungguh." Namun ucapan dari Namjoon membuatnya di paksa menelan kembali apa yang ingin ia suarakan. Mata Namjoon terlihat lelah meski waktu tidurnya teratur baik akhir-akhir ini.
"Kau nyaris membentak Jungkook tadi."
Yoongi mencoba mengingatkan, meski Namjoon jelas-jelas mengingatnya. Sejak hari dimana Taehyung dan Seokjin menghilang, Jungkook yang datang berkunjung selalu menanyakan mereka dengan gaya polos khas bocah. Di awal Namjoon masih punya jawaban untuk menghindar, mengatakan Dokter Kim sedang sibuk dan Taehyung sedang diobati dokternya sehingga tidak boleh bermain. Tapi Jungkook terus menerus menanyakan hal yang sama lima hari ini. Namjoon pada dasarnya benci berbohong, apalagi pada Jungkook yang kepolosannya setara malaikat. Hari ini ia nyaris meledak selain karena pertanyaan rutin Jungkook, juga sesuatu bernama rindu dalam dadanya terus membesar. Jadi menyesakan hanya karena mendengar nama Dokter Kim terus disebut.
"Maaf. Aku yang salah."
Yoongi tidak bodoh, ia tahu hal apa yang membuat Namjoon seperti sosok hidup tak bernyawa. Kim Seokjin yang tidak terlihat lagi selama lima hari ini. "Ck sialan, kau benar-benar jatuh cinta lagi, Namjoon." Ucapnya bernada sarkatis.
Berniat menyindir yang lebih muda tapi tetap saja selentingan rasa sakit menghampiri. Apa maksudnya pun Yoongi tahu. Mungkin karena ia sadar jika hal itu memang benar, maka ikatannya dengan Namjoon akan terlepas sempurna. Meski tetap akan ada Jungkook disana sebagai penghubung.
"Ya, sialan. Dan ini jauh lebih sulit dibanding dulu aku memulainya denganmu." Namjoon menertawakan diri sendiri bersama segala kesedihan. Siapa bilang yang kedua akan lebih mudah? Jika dulu mengajak Yoongi dan mempertahankannya harus berdarah-darah, Seokjin ini bahkan nyaris menyita seluruh nafasnya hanya di permulaan.
.
Yoongi memutuskan untuk tidak tinggal lama hari ini. Mengingat Jungkook yang sedikit-sedikit merengek dan Namjoon yang sepertinya lebih butuh menyendiri dibanding di temani. Satu-satunya cara menghilangkan kebosanan disini adalah dengan berkeliling rumah sakit. Walaupun ini baru Namjoon lakukan lagi setelah lima hari menjadi pasien penurut kesayangan Dokter Ahn. Beberapa perawat menyapanya ketika bertemu, baik yang memang Namjoon kenal atau hanya sok kenal. Popularitas Namjoon di rumah sakit meningkat sejak insiden ia dan Seokjin beberapa hari lalu.
"Selamat sore, Namjoon-ssi."
Ia menoleh ke arah sapaan kelewat manis dari resepsionis, disinilah ia baru menyadari langkah asalnya telah membawanya ke lobby utama rumah sakit. Senyum seadanya Namjoon jadikan balasan. Suasana sore disana cukup ramai, pasien rawat jalan maupun rawat inap berkursi roda masih wara-wiri. Namjoon berdecak kecil merasa tidak nyaman dalam keramaian.
"Apa ada yang bisa kami bantu?" Penawaran basa basi yang sebenarnya sedikit menggelikan mengingat nada genit yang di gunakan.
Namjoon tetap mempertahankan senyumnya yang semakin lama terlihat semakin canggung. Tapi tiba-tiba ia sadar kalau ada satu hal yang sangat ingin ia tanyakan pada siapapun ia tidak peduli. Mengambil langkahnya perlahan bersama tiang infus yang mungkin hari ini terakhir kali ia bawa-bawa, mendekat ke arah meja resepsionis dimana seorang perawat muda tersenyum ramah padanya.
Interaksi yang berusaha diciptakan sang perawat muda dengan Namjoon nyatanya menarik perhatian beberapa orang disana. Termasuk seorang dokter senior yang tengah bicara kepada anggota keluarga salah satu pasiennya.
"Apa sama sekali tidak ada kabar mengenai Dokter Kim?"
Tentu sang perawat terkejut, pertanyaan yang Namjoon ajukan melenceng jauh dari perkiraannya. Sekaligus ia menerima kepastian soal desas desus kedekatan pasien tampan ini dan Dokter favorit semua penghuni rumah sakit.
"Oh itu.. maaf tapi Dokter Kim sama sekali tidak terlihat di rumah sakit setelah hari pengajuan cutinya."
"Apa ada nomor yang bisa dihubungi? Atau alamat rumahnya?"
Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya adalah bentuk rasa frustasi Namjoon yang akut. Sama sekali tidak peduli tentang suatu norma yang ia langgar. Seokjin membuatnya kritis karena parahnya rasa rindu.
Keterkejutan sang perawat naik level, ia gelagapan menjawab "K..kami tentu mempunyai semua data dokter disini tapi hal-hal tersebut tidak bisa kami publiskasikan sembarangan. Jadi maaf, Namjoon-ssi, kami tidak bisa memberitahu Anda."
Namjoon cukup tahu diri, ia tak punya hak apapun untuk marah pada situasi. Atau untuk sekedar memaksa sang perawat yang bertugas sebagai resepsionis ini agar memberikan apa yang ia mau. Hanya terkadang Namjoon sedikit melupakan fakta dimana ia baru beberapa hari mengenal Seokjin secara nyata.
Setelah itu, Namjoon memberikan senyum terimakasihnya serta permintaan maaf karena telah sedikit membuat keributan. Ia membawa lagi langkah kakinya tanpa kesadaran penuh, mendorong asal tiang gantung infusnya bersamanya. Lalu memilih duduk sebentar di salah satu deretan kursi tunggu di lobby utama yang sangat luas. Dalam usahanya menyatu bersama keramaian, Namjoon dibuat berpikir ulang tentang perasaannya. Tentang Seokjin yang datang bagai sebuah karma menyakitkan untuk masa lalunya. Mungkin Kim Seokjin adalah malaikat yang diutus menghukumnya.
"Ini, minumlah. Kau sepertinya kelelahan."
Lamunan Namjoon terpecah oleh suara lembut seorang wanita. Ia mendongakan kepala berniat melihat sosok yang kini berdiri di hadapannya dengan mengulurkan sebotol air mineral pada Namjoon. Ia mengenakan jas putih yang membuat Namjoon beranggapan bahwa ia seorang dokter, ditambah stetoskop terselip dalam sakunya. Rambut hitam berpotongan pendek tampak sangat pas pada wajahnya yang menua alami. Cantik dan berkharisma layaknya seorang ibu. Beberapa detik Namjoon hanya berkedip-kedip memandangnya, lalu segera sadar dan menerima botol air mineral yang diberikan.
"Terimakasih banyak, tapi saya baik-baik saja." Jawabnya sopan. Sedikit berbohong di bagian baik-baik saja-nya. Namjoon memang kelelahan, bukan fisik melainkan pikirannya.
"Benarkah? Kupikir mencari seseorang itu sangat melelahkan. Boleh aku duduk di sampingmu?"
Namjoon tersedak air mineral yang tengah ia tenggak. Lalu menganggukan kepala sebagai bentuk persetujuan. "Silahkan saja."
Sang dokter lalu mendudukan diri di sampingnya, sementara Namjoon lanjut meminum air mineralnya dengan canggung. Baru sadar kalau ia benar-benar kehausan mengingat hampir lima belas menit berkeliling. Beberapa menit tanpa interaksi, Namjoon menyadari ia sedang di perhatikan dan hal itu menambah kecanggungan yang ada.
"Jadi.. aku harap kau belum menyerah."
Namjoon menoleh lagi kali ini, memperhatikan sang dokter senior yang sedang mengeluarkan buku catatan dari sakunya, menulis disana, dan menyobek kertasnya untuk di berikan pada Namjoon yang hanya termangu tak mengerti. Sejenak fokusnya terpaku pada senyum dokter paruh baya di sampingnya. Membangkitkan memori kecil menuju seseorang yang perlahan namun pasti melangkah masuk ke hatinya, lalu enggan keluar lagi.
"Nomor ponsel dan alamat rumah yang kau cari. Selamat berjuang!"
.
.
.
.
.
.
.
.
What's on next
"Apa kau benar-benar yakin dengan perasaanmu, Namjoon?"
"Hyung, menurutmu apa artinya rasa sakitku selama kau menghilang tanpa kabar?!"
.
"Kita tidak akan membawa Jungkook, hyung."
"Brengsek, Park Jimin."
.
"Ya, mommy hehe"
"Kau memanggilku apa, Kook?!"
"Mommy. Appa seperti Dokter Kim yang sekarang di panggil mommy oleh Taetae hyung."
.
.
.
.
.
Continue
.
.
.
.
.
Tentang judul chapter kemarin 'hidden monster' itu adalah kiasan. Bukan berarti ada orang jahat di antara tokoh-tokoh disini. Melainkan, setiap tokoh mempunyai sosok 'monster' tersembunyi dalam dirinya masing-masing.
Jujur aku kekurangan bahan bacaan akhir-akhir ini, hal itu membuatku merasa kalau kosakata di chapter ini hanya berputar disitu-situ saja, aku gila sendiri setiap harus membaca ulang. Aku minta maaf karena menurutku ini chapter tergagal untuk Second. Terimakasih banyak untuk yang sudah mau menunggu meski mungkin akan kecewa setelah membacanya, aku berusaha keras memperbaikinya di chapter depan yang semoga saja akan lebih cepat selesai.
Dan buat Bangtan, selamat untuk Daesang-nya! Buat Army, selamat menikmati hasil kerja kerasnya. Don't mind about haters, they never deserve anything in this world! Let's just be happy with Bangtan and their Daesang ^^
