Fanfiction dot NET

Naruto kepunyaan Om Kishi


"Copyright"

2014 Awal, Hinata 19 tahun

"Aku kagum pada kegigihanmu. Aku jadi malu karena dulu sempat mengajakmu untuk keluar dari FFn. Ini tak akan menghentikan langkahmu 'kan?"

"Tentu tidak. Kesabaranku memang sudah memuncak, tapi belum mencapai batas tertingginya. Aku masih semangat! Hehe."

"That's my girl!"

Senyum Hinata makin lebar. Meskipun Naruto tak lagi membantunya mengubah FNI, tapi setidaknya sekarang Naruto mendukungnya. Obrolan tengah malam mereka terus berlanjut dengan topik yang silih berganti seolah tak ada yang ingin mengakhiri.

Sementara itu di ruang tengah…

Neji menatap layar laptop-nya tak percaya. Layar yang ada di hadapannya memang layar laptop miliknya, tapi isinya adalah tampilan PC Hinata. Neji me-remote PC Hinata yang ada di kamar via wifi rumah. Ia mengambil alih kontrol PC tersebut secara penuh tanpa sepengetahuan Hinata yang sedang asyik bertelepon ria.

Bukannya Neji tak menghargai privasi Hinata, hanya saja ia sudah mendapatkan izin ayahnya.

"Tolong kau cari tahu apa yang dilakukan adikmu itu di komputernya. Dia menghabiskan hampir sepertiga harinya di hadapan komputer. Aku sudah tua, tak mengerti komputer, juga tak mengerti apa yang sebenarnya Hinata kerjakan di sana. Yang jelas IPK-nya semester ini jeblok. Ini tak bisa dibiarkan."

Kata-kata ayahnya sejam lalu masih diingat kuat oleh Neji. Ada yang salah dengan adiknya. Dan kini hal itu terbukti. Hinata menghabiskan sepertiga harinya di sebuah website bernama fanfiction dot net.

Neji tak akan sebegitu kagetnya kalau website itu berisi konten yang berisi materi kuliah. Namun saat pertama kali membukanya saja Neji sudah disuguhi berbagai daftar cerita yang menurutnya tak lazim. Vulgar, incest, dan gay. Jumlahnya sebenarnya sedikit di halaman depan, siapa yang sangka saat Neji membuka halaman-halaman selanjutnya cerita-cerita seperti itu makin banyak.

Sebagai seorang kakak, Neji tentu merasa kecewa pada adik yang sangat disayanginya itu. Bagaimana bisa Hinata mengakses website seperti itu? Setahunya Hinata anak yang polos. Neji lebih merasa kecewa pada dirinya sendiri karena tak bisa memantau perkembangan adiknya. Ternyata sebulan sekali pulang ke Bandung saja tak cukup. Masa iya ia harus setiap minggu pulang untuk terus memantau adiknya?

Ditutupnya laptop miliknya. Lalu Neji membaringkan dirinya di sofa. Diusapnya keningnya beberapa kali. Ini beban moral yang sangat berat untuk diemban sebagai seorang kakak. Secara tak langsung Neji ikut bertanggung jawab pada hal ini. Seandainya ia tak memperkenalkan anime pada Hinata bertahun-tahun yang lalu. Mungkin tak akan jadi seperti ini.

'Aku perlu waktu berpikir,' batin Neji.


Minggu berganti minggu, Hinata tak pernah tahu kalau Neji sudah tahu ia sering ke FFn.

Hinata melanjutkan aktifitasnya di FFn seperti biasa. Dari tahun lalu Hinata sudah berhenti membuat fiksi dan fokus jadi concriter. Namun bukan berarti jiwanya sebagai penulis sepenuhnya hilang. Ada hal yang mengusik jiwa penulis Hinata awal tahun 2014, yaitu disclaimer.

Naruto © Kishimoto, Naruto kepunyaan Om Kishi, dan lain-lain.

Bukan, bukan disclaimer yang seperti itu. Rasanya yang seperti itu sudah dipatuhi oleh kebanyakan penulis fiksi di FFn sehingga tak perlu di bahas di sini. Hanya penulis fiksi yang belum tahu aturan – atau yang tak tahu malu – saja yang tidak memakai disclaimer di fiksi yang ditulisnya. Karena pada dasarnya kita hanya meminjam karakter atau ide cerita si penulis asli.

Disclaimer yang dimaksud Hinata kali ini adalah yang sifatnya umum dan cakupannya lebih luas lagi, mencakup ke luar FFn. Mungkin lebih tepat jika dikatakan sebagai copyright atau hak cipta.

Semua berawal ketika seorang yang mengaku sebagai admin fanpage FB (selanjutnya akan disebut admin) memberikan PM di FFn kepada Hinata. Di sela-sela memberikan concrit pada fiksi rate MA berselimutkan M, Hinata menyempatkan diri untuk membukanya. Isinya sebagai berikut.

"Selamat siang, senpai. Cerita ini sangat bagus. Apa boleh aku copas (copy-paste) cerita ini ke fanpage-ku di FB?" tanya admin tersebut.

Yang pertama dirasakan Hinata saat itu adalah marah.

'Aku menulis fiksi ini berbulan-bulan, sedangkan kau meng-copas-nya dalam waktu semenit bahkan kurang. Apa kau tidak tahu susahnya menulis fiksi ini?' pikir Hinata.

Hinata tidak bohong tentang itu. Pengalaman jadi penulis masih segar di ingatannya. Penulis kadang sampai begadang demi menyelesaikan fiksinya tepat waktu. Biasanya kasus seperti ini dialami oleh penulis yang menentukan jadwal update (Hinata salah satunya). Biasanya update fiksi dilakukan seminggu atau 2 minggu sekali.

Hinata tak langsung membalas PM tersebut. Rasanya tak enak juga kalau langsung membentak. Hinata masih penasaran apa fiksi FFn memang banyak bertebaran di luar FFn. Diketikannya sekalimat dari fiksinya ke mesin pencari, lalu tekan enter.

Ternyata oh ternyata…

Buanyaaakk…

Kebanyakan ada di fanpage FB dan blog pribadi. Dari keterangan yang Hinata dapatkan, si admin berdalih kalau itu untuk mempermudah pembaca yang mengakses dari HP.

"Aku copas biar gampang dibuka di HP."

"Provider-mu memblok FFn?" tanya Hinata penasaran. Seingatnya ada banyak provider yang sudah bisa membuka kembali FFn di tahun 2014. Ditambah lagi ada internet browser versi HP yang bisa mengatasi pemblokiran itu.

"Tidak, biar enak saja bacanya kalau di FB."

'Lucu,' pikir Hinata.

FFn juga punya versi mobile. Bahkan dilengkapi fungsi pencahayaan dan pengaturan font. Tak perlu di-copas ke FB atau blog jika tujuannya hanya agar enak dibaca. Asal tahu saja, sejak 2-3 tahun ke belakang FFn sudah menjaga copyright dengan menonaktifkan fungsi blok dan copas di halaman fiksi. Tujuannya tidak lain agar fiksi dari FFn tidak di-copas ke luar. Meskipun kini bisa pengunjung akali dengan berbagai cara. Namun setidaknya itu menyulitkan 'peng-copas awam'. Itu juga memperlihatkan kalau FFn pun menghargai kerja keras penulis agar karya mereka tak di-copas sembarangan.

Jadi apa sebenarnya tujuan meng-copas fiksi ke FB dan blog?

Mungkin sekedar ingin dikoleksi.

Mungkin ingin page-nya di-like banyak orang.

Mungkin juga ingin cari perhatian… ups.

Fiksi-fiksi yang jadi korban copas ke fanpage biasanya fiksi lama keluaran 2012 ke bawah. Saat itu FFn belum menonaktifkan fungsi blok dan copas. Seiring dengan makin kreatifnya pengunjung, fiksi-fiksi keluaran baru pun kini bisa di-copas dengan trik tertentu. Bahkan ada aplikasi yang dikhususkan untuk men-download fiksi FFn. Miris.

"Yeee, aku berhasil copas!" tulis salah seorang reviewer.

Kalian tak akan bisa bayangkan seberapa kesalnya Hinata saat membaca review seperti itu.

Namun Hinata mati-matian menahan kemarahannya. Itulah alasannya ia tak membalas PM-PM atau review-review dengan nada-nada seperti demikian. Daripada Hinata terpancing emosi, lebih baik Hinata acuhkan saja. Meskipun tetap saja dalam hati kecil Hinata, ia merasa sedih. Karya terbaiknya seenaknya disebarkan begitu. Mending kalau nantinya yang diberi apresiasi itu Hinata. Seperti halnya favs atau beberapa kalimat pujian di review FFn. Kalau di luar sana, yang nanti dipuji adalah admin yang memposting. Bukannya gila pujian, tapi setidaknya Hinata ingin dihargai.

Hinata tak punya siapa-siapa lagi yang bisa diajak untuk berdiskusi masalah FFn. Siapa lagi kalau bukan…

The one and only, her beloved boyfriend, Uzumaki Naruto.

Masalahnya, teman sesama penulis seangkatannya yang ia kenal sudah keluar/hiatus semua. Seperti biasa, Naruto tak pernah lelah untuk mendengar setiap keluh kesah Hinata. Hebatnya lagi, Naruto selalu memberikan nasihat yang bijaksana. Meskipun tak jarang pendapatnya itu bertentangan dengan pendapat Hinata.

Setelah Hinata curhat panjang lebar di telepon, Naruto berpikir sejenak. Kemudian ia mempertegas lagi pernyataan Hinata. "Admin menulis atau copas fiksi hanya semenit? Dan kamu?" tanya Naruto.

"Sudah kubilang aku menulis sampai berbulan-bulan! Terutama multichapter," tegas Hinata.

"Baiklah. Sekarang kita bandingkan. Kalau admin semenit, kamu berbulan-bulan, lalu apa kamu tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan Masashi Kishimoto untuk menulis?"

"…" Hinata bagaikan kehilangan kata-katanya. Ia lupa kalau penulis asli Naruto tersebut menghabiskan waktunya menulis ide cerita jauh lebih lama dari dirinya, jauh lebih lama juga dari admin.

Naruto tahu sambungan telepon belum terputus dan Hinata masih ada di sana. Suara napasnya masih terdengar. "Berapa lama?" tanya Naruto lagi.

"Betahun-tahun," jawab Hinata pelan. Ia memeluk – lebih tepatnya mencekik – boneka rubah orange pemberian Naruto sambil berguling-guling di kasur, menahan malu. Sayangnya Naruto tak melihat itu.

"Nah itu kamu tahu. Jadi kamu harus berusaha mengikhlaskan fiksimu di-copy orang. Karena pada dasarnya kamu hanya meminjam karakter dan atau ide cerita milik Masashi Kishimoto. Itulah alasannya dalam peraturan FFn diwajibkan memakai disclaimer. Semua penulis FFn hanya meminjam karya dari penulis asli."

Hinata kembali duduk di kasurnya. "Tapi apa kamu tak marah karyamu di-copas sembarangan? Aku juga menemukan banyak fiksimu di FB."

Tanpa ragu Naruto langsung menjawab, "Aku tidak marah. Dari dulu, aku selalu menganggap diriku ini peniru Kishimoto, jadi jika ada yang meniruku maka secara tidak langsung dia sebenarnya meniru Kishimoto, bukan meniruku."

"Baik, itu karakter. Sekarang bagaimana kalau idemu yang dicuri penulis lain? Aku sudah merasakan. Susah lho mencari ide yang tidak pasaran seperti fiksimu. Puluhan penulis kini menulis ide time travel-mu, ide crack pair-mu, dan ide tak terduga lainnya."

Hinata bisa mendengar tawa kecil Naruto.

"Jangan berlebihan, Hime. Ide itu bisa dicari. Jujur, aku tak pernah punya ide original. Tema time travel sudah banyak di FNE dari bertahun-tahun yang lalu. Aku hanya mengadaptasinya ke FNI. Begitu juga dengan ideku yang lainnya. Jika kamu perhatikan lebih detil, aku sebenarnya hanya mengkombinasikan berbagai ide jadi satu, modif sana, modif sini, jadi kelihatan beda dari yang lain. Karena itulah aku tak berbakat jadi penulis. Kamu mengerti, Hinata?"

"Hn," gumam Hinata.

Naruto tahu Hinata belum benar-benar rela fiksinya di-copas.

"Yakinkan dirimu, dari sekian banyak yang membaca fiksimu di luar FFn, pasti akan ada yang mencari sumber asli fiksi tersebut dan mereka akan sampai pada fiksimu di FFn. Yakinkan juga dirimu, sebanyak apapun fiksimu di-copas, seberapa kalipun idemu diambil, diadaptasi, dimodifikasi, dicuri, kamu akan punya kepuasan tersendiri. Karena dilihat dari tanggal terbitnya, karyamu tetap akan jadi yang pertama baik di FFn maupun di FB dan blog."

Perlahan Hinata tersenyum. "Ah benar juga. Jika penulis selalu berusaha menyajikan tema yang beda, maka dia akan selalu jadi trend setter."

"Ya, itulah maksudku. Itulah keuntungannya membuat cerita yang tidak pasaran dibanding meniru yang sudah ada."

"Baiklah aku mengerti sekarang. Jadi apa saranmu untuk membalas PM admin?"

"Contohlah Masashi Kishimoto. Komiknya di-scan oleh ratusan bahkan ribuan website. Anime-nya dibajak oleh ratusan fansub. Aku yakin tak semua website itu membayar royalty. Kalau mau, Kishimoto bisa menuntut, tapi ternyata tidak. Waktunya terlalu berharga untuk itu. Kamu pun lakukanlah hal yang sama. Jika ada yang ingin meng-copas, izinkan saja. Setidaknya ia mau berbaik hati meminta izin dulu. Kalau kamu masih keberatan, ajukan sejumlah syarat."

"Syarat apa?"

"Tegaskan kepada admin agar jangan menghilangkan 2 disclaimer. Disclaimer ke Kishimoto dan disclaimer kepadamu sebagai penulis fiksi. Lalu mintalah ia menyertakan link ke karya asli di FFn. Selanjutnya, pastikan admin tak menjual fiksimu jadi cerpen atau novel karena semua fiksi FFn dilarang dikomersilkan. Dengan begitu akan ada sisi positif yang bisa diambil. Pertama trafik ke FFn akan naik sehingga akan ikut membantu FFn, kedua fiksimu akan terkenal karena tersebar di luar sana."

"Okay!" ujar Hinata sambil tersenyum. Prinsip Naruto tadi juga bisa diberlakukan jika ada yang meminta izin memakai ide fiksinya. Asal menyertakan 2 disclaimer maka tak masalah. Tiba-tiba senyum Hinata lenyap. "Maaf selalu merepotkanmu dengan masalah FFn. Aku selalu merasa kekanakan di hadapanmu."

"Eh? T-tidak apa-apa. Sungguh," jelas Naruto panik mendengar perubahan ekspresi Hinata yang drastis. "Dengar Hime, kamu sudah saaangat berubah dari 4 tahun yang lalu. Dari yang sangat fanatik pada pair NH sampai sekarang jadi penggemar yang wajar."

"Aaahhh…. jangan bahas itu. Aku malu," kata Hinata tersipu.

"Hehehe. Santai saja, ok? Kedewasaan adalah proses yang terus berkelanjutan. Jadi tak ada ukurannya. Bisa jadi akupun akan dipandang kekanakan oleh kakakmu."

Hinata mengangguk setuju.

"Ngomong-ngomong kakakmu, aku jadi ingin bertemu dengannya. Rasanya aku kurang bertanggung jawab jika aku memacari adiknya hampir 2 tahun tapi aku belum pernah bertemu dengannya."

"Umm, benar juga sih. Hehe." Sebenarnya Hinata sudah lama memikirkan hal ini. Ia tak mungkin selamanya menyembunyikan hubungannya dengan Naruto dari Neji. Jika jujur pun Hinata yakin Neji tak akan keberatan karena sekarang Hinata bukan anak kecil lagi. Mereka pun jadi tak harus kucing-kucingan seperti sekarang.

"Aku akan mengabarimu jika kakak pulang. Nanti kukenalkan pada kakak dan ayah."

Naruto menghela napas. "Akhirnya."


Tanpa Hinata duga, minggu depannya Neji pulang. Padahal biasanya pulang sebulan sekali, atau paling sering 2 minggu sekali karena sudah semakin sibuk. Maka Hinata memberitahu Naruto untuk datang ke rumahnya di hari Minggu siang. Sementara Minggu paginya Hinata dan Neji melakukan rutinitas mereka, jogging.

"Tumben kakak pulang minggu ini," kata Hinata saat mereka beristirahat di kursi taman.

"Kau tak senang aku pulang?" tanya Neji.

Hinata menangkap aura yang agak dingin dari kakaknya. "Bukan begitu, hanya saja-"

"Aku ingin lebih banyak menghabiskan waktu denganmu," potong Neji datar.

Sikap dingin Neji semakin terasa. Hinata jadi tak berani memulai pembicaraan. Hinata mengira Neji sedang ada masalah di kantornya. Akhirnya mereka tak bicara hingga jogging selesai dan kembali pulang ke rumah. Hinata sebenarnya ingin membatalkan rencana memperkenalkan Naruto kepada keluarganya, namun sudah terlanjur. Pasti sekarang Naruto sudah di perjalanan ke rumah Hinata.

Untuk menenangkan dirinya, Hinata segera mandi dan jalan-jalan ke FFn.

Siang itu Hinata membalas PM admin dan PM-PM lain yang meminta izin copas fiksi, maupun izin untuk mengadaptasi idenya.

Yang meminta izin copas, Hinata menjawab, "Silahkan di-copas, Min. Tapi saya akan sangat senang jika artikelnya menyertakan link ke fiksi dan halaman profile penulis di FFn. Dengan begitu pembaca bisa tahu sumber aslinya. Pastikan juga ceritanya tidak diperjualbelikan dalam bentuk cerpen dan novel."

Yang meminta izin mengadaptasi ide, Hinata menjawab, "Silahkan. Asal jangan sama persis. Kreasikan lagi sesuai kemauan kamu. Jangan lupa disclaimer ke Masashi Kishimoto (dan ke fiksiku kalau dirasa perlu)."

Jawaban Hinata disambut oleh balasan senang keduanya. Mereka membalas dengan cepat. Mungkin memang sudah menanti-nanti jawaban Hinata sejak lama.

Hinata tersenyum simpul. Selanjutnya ada satu fiksi rate M yang ingin Hinata beri concrit. Namun saat kursor diarahkan ke kolom review, kursor mouse Hinata tiba-tiba bergerak sendiri. Hinata tidak percaya hantu, jadi pasti ada penjelasan logis kenapa kursor-nya bisa bergerak sendiri.

Pertanyaan Hinata terjawab saat kursor itu membuka notes, lalu menuliskan sesuatu, hingga membuat jantung Hinata terasa terhenti saat membaca apa yang tertulis di notes.

'Aku sudah cukup bersabar selama sebulan ini.

Kupikir kau tak akan lagi mengakses website porno ini.

Cepat keluar dari kamar.

Ada pelajaran yang harus kusampaikan padamu.

Neji'

Hinata menelan ludahnya. "Oh sial…"

Bersambung…


Ini 2 chapter terakhir. Itu berarti chapter depan chapter terakhir. Pembaca yang baik meninggalkan review :)

Jawab review:

Dark Namikaze Ryu: Setuju, seandainya penulis lemon ga ada, maka ga akan ada pembaca lemon.

Lsamudraputra: salam kenal. Sejak dulu FNI itu dianggap sekolah dasar bagi penulis. Karena mayoritas pembaca di sini muda2. Satu smart reader lebih bermakna daripada 10 review biasa. Cek PM.

Yui Kazu: Gomen, romance-nya emang sengaja ga terlalu menonjol.

Tsumehaza-Arief: Diakalin. Beneran pada kreatif nih pengunjung FFn.

nanaleo099: bagus itu relatif.

silent reader tobat: Cek PM. Ikanatsu: Saya prihatin lihat fandom DXD. Siapa yang mulai sih?

Orang tak dikenal: tamat 2014. Hinata = yami = saya.

Dragon hiperaktif: T Semi M ga melanggar asal adegan seks/kekerasannya implisit, tidak detail.

Guchan: pemerintah lagi gencar blokir2an.

AN Narra: Salam kenal. Kalau bisa pelanggarannya dikurangi ya.

Uchiha no aiko: salam kenal. Saya harap semua penulis FNI seperti Anda, mau nerima concrit.

Soputan: lemon kecil-kecilan, mungkin maksudnya implisit.

Blue Temple of The King: kalau kencing belum lurus jangan nulis lemon.

Rama Dewanagari, Aqua Titania, Uzumaki 21: sama-sama. Terima kasih review-nya.

Cicikun: Maksudnya fokus 1 pair?

Jinsei Megami: Kalo saya harus terus-terusan pake proxy nih buat akses FFn. Makasih koreksinya. Saya patokan kalimat seru itu dari intonasi aja, hehe. Padahal ajakan juga termasuk ya.

Namikaze Renton Kumagawa: Sama-sama. Wah, kalau urusan fiksi & penulis itu masalah selera.

Ren Kazune: Warnet itu pake Telk*m Speedy, salah satu provider yg memblok FFn. Coba pake DNS/proxy. Cari caranya di Google.

Li Chylee: Wow. Salut! Berani menghapus fiksi milik sendiri. Tapi dijamin lebih tenang. Beban moral menulis rate MA itu gede, soalnya secara ga langsung ikut berperan dalam membentuk pola pikir pembaca yang mayoritas masih muda. Kayaknya emg ganti genre nih.

Sasshi Ken: Ada rape pun ga masalah. Asal balik lagi ke aturan, jangan terlalu detail dan eksplisit. Perubahan rate T ke lemon di tengah cerita adalah suatu kesalahan. Sama artinya dengan memberi anak usia T (13) pilihan: berhenti baca atau lanjut baca konten MA (18). Saya yakin banyak yg lanjut kalau dari awal ceritanya menarik.

Uzumaki Nawawi: Karena lemon di IFAtidak sekedar karya 'rate M', karya nista dengan fantasi seksual belaka, begitu katanya. Isinya tidak vulgar.

Doremi: Atas berbagai pertimbangan akun asli saya ga dipublikasikan :)

Ge zathur lawliet: pemerintah kita kelewat parno. Bukan yg porno aja diblok, yg echi pun sama.

Bunshin Anugerah ET: Sayang, ga bisa lihat fiksinya jadi ga bisa nilai. Tapi yg jelas sikap kamu ng-flame adalah salah. Itu memperlihatkan kalo kamu fanatik pada pair tertentu. Mirip Hinata dulu. Sebisa mungkin gunakan bahasa yang halus.

ShamReal13: Karena ga tau aturan atau pengen dibilang keren.

.

.

.

Konjiki no Yami