Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. Di larang mengcopy tanpa seijin author.

.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

Don't like Don't Read

.

.

[ Chapter 11 ]

.

.

.

[Normal Pov.]

Sakura sudah tertidur, masih memandangi wajah gadis itu, beberapa lebam cukup terlihat dan luka di wajahnya itu tertutupi plester, Sasuke cukup kesal, Sakura menyembunyikan masalah ini darinya, sebelum dia tertidur, Sasuke menuntut sebuah kebenaran dari Sakura, Sasuke sampai harus mengancamnya hingga mau berbicara, Sakura hanya menceritakan jika beberapa wanita mencoba menghajarnya, tapi dia pun tak tinggal diam dan membalas mereka, melirik tas yang selalu di bawa Sakura, cukup kotor, Sakura meminta maaf karena menggunakan tas ransel itu sebagai alat untuk membalas mereka.

Trinngg...~

1 pesan masuk.


:: Sai

Sakura apa kau ada waktu? Aku ingin minta maaf dengan baik padamu.


Sasuke membuka pesan itu dan membacanya, semakin kesal akan sikap pria ini pada Sakura, dia tidak mengerti jika Sai terus-terusan membuat Sakura dalam masalah, menggunakan kamera ponsel Sakura, memotret wajah gadis itu dan mengirimnya pada Sai. Beberapa detik kemudian, Sai menghubunginya.

"Sakura! Apa yang terjadi dengan wajahmu!"

"Masih sok perhatian padanya?"

"Sa-Sasuke? Dimana Sakura?"

"Tidak akan aku katakan. Aku harap kau sudah mulai sadar dan tidak perlu mengusik Sakura lagi, hari ini wajahnya terluka karena para fans gilamu, besok mungkin mereka akan membunuhnya beramai-ramai, aku ingatkan padamu, jika terjadi sesuatu yang buruk pada Sakura lagi, aku akan mencari para fans gila mu itu dan mematahkan kaki mereka atau kau bisa memilih, kau yang berkorban untuk mereka."

"Aku-"

Tuk!

Sasuke segera mematikan ponsel itu, kembali ponsel itu berdering, Sasuke mematikannya kembali dan memblokir nomer itu.

"Mulai detik ini, tidak akan ada yang berani macam-macam padamu." Ucap Sasuke.

Kembali menatap layar ponsel Sakura, hanya ada wallpaper bunga disana.

Cekrek!

"Kau harus berterima kasih padaku karena mendapat satu-satunya foto selfiku secara langsung melalui ponselmu." Ucap Sasuke, mengubah wallpaper ponsel Sakura menjadi fotonya dan menyimpan ponsel itu, dia pun harus bergegas istirahat.

.

.

Esok paginya.

Sakura terbangun, dia lupa jika sudah harus memulai pekerjaannya tepat jam 6 pagi, melirik ranjang di sebelahnya, pria itu masih tertidur pulas, lebam di wajahnya pun perlahan memudar, semalam Sasuke sudah memberinya obat anti-nyeri dan mengopresnya.

"Saat tidur saja wajahnya bak malaikat, saat dia terbangun dan berbicara, wajahnya seperti iblis yang selalu saja marah." Ucap Sakura pelan, hanya bisa mengejeknya saat sedang tertidur.

Dreet..dreet...dreet...

+097XXXXXX caliing...~

Sebuah nomer yang tak di kenalnya, beranjak dari ranjang, sekedar tak ingin berisik di kamar Sasuke, dia hanya tak ingin mengganggu tidur pria itu, berjalan ke arah dapur dan mengangkat ponselnya.

"Halo?"

"Sakura! Kau baik-baik saja?"

"Sai?"

"Ah, iya, ini aku, aku tak bisa menghubungimu semalam, katakan apa yang terjadi padamu?" Ucap Sai dan nada suaranya terdengar sangat khawatir.

"Ada apa ini? Apa Sai tahu kejadian kemarin." Pikir Sakura. melirik kamar Sasuke, mungkin saja Sasuke yang mengatakannya pada Sai.

"Te-tenanglah, aku baik-baik saja."

"Aku sungguh minta maaf."

"Tidak perlu, anggap saja ini hanya kecelakaan kecil."

"Aku akan menanggung ganti ruginya untukmu."

"Terima kasih, aku sungguh tak apa-apa, jadi tak perlu khawatir."

"Tetap saja aku merasa bersalah."

Terkejut, seseorang mengambil ponsel itu dari tangannya.

"Apa kau tak mendengar peringatanku? Jangan mengganggunya." Ucap Sasuke.

"Kembalikan ponselku!" Ucap Sakura, berusaha mengambil ponselnya, namun pria itu cukup tinggi, Sasuke pun menahan kepalanya agar tak sampai padanya.

"Sasuke, aku hanya ingin minta maaf dan bertanggung jawab."

"Tidak perlu, aku sudah bertanggung jawab."

Tuk!

Segera mematikan ponsel itu dan menatap kesal pada Sakura.

"Ini sudah jam 6 lewat, bekerja sekarang juga dan jangan menerima panggilan apapun jika itu dari Sai." Ucap Sasuke, kembali ke kamarnya.

"Kembalikan ponselku!"

"Aku menyitanya selama kau bekerja." Ucap Sasuke, tidak peduli.

"Dasar menyebalkan!" Teriak kesal Sakura, pagi harinya menjadi buruk, Sasuke bahkan menyita ponselnya.

Membersihkan apartemen itu dengan wajah kesal, hingga menyiapkan sarapan, wajah itu tak kunjung ceria.

"Berhenti berwajah seperti itu, kau terlihat semakin jelek." Tegur Sasuke.

"Aku tidak peduli! Ini bukan urusanmu!" Kesal Sakura.

"Jangan coba-coba memiliki hubungan dengan Sai, para fans gilanya akan memakanmu."

"Si-siapa yang memiliki hubungan?" Ucap Sakura, wajahnya pun merona.

"Kau menyukai orang yang salah."

"Jangan menuduhku yang tidak-tidak, kami hanya teman!"

"Jangan berbohong padaku."

Sakura terdiam, moodnya semakin buruk, hari ini Sasuke semakin menyebalkan baginya.

"Jika aku menyukainya, apa hakmu? Aku tidak perlu lapor padamu jika menyukai seseorang, setidaknya Sai lebih baik dan lebih ramah dari pada kau." Ucap Sakura.

Kembali terdiam, tatapan saat ini membuatnya cukup takut, Sasuke hanya menatapnya dengan tatapan hampa itu, apa dia mengucapkan sesuatu yang membuat Sasuke marah? Dia hanya mengikuti apa yang Sasuke ucapkan, Sakura pun kesal dengan segala tuduhan Sasuke.

"Apa gunanya memasang wajah topeng hanya untuk menarik perhatian orang-orang, maaf saja jika aku tak seperti pria bermuka tebal itu."

[ending normal pov.]

.

.

.

.

[Sakura pov.]

Hari ini, aku yakin dia sangat marah padaku, apalagi membandingkannya dengan Sai, Sasuke semakin rajin menyuruhku dan memarahiku, menatap diri di cermin toilet, meskipun marah-marah, dia tetap bersikeras mengganti plester di pipiku, karena lebam itu masih terlihat, aku harus menggunakan masker penutup mulut.

Kabuto pun khawatir akan keadaanku, dia menanyakan jika aku kurang sehat, aku bisa istirahat, tapi berbeda dengan Sasuke yang akan marah-marah jika tak melihatku di sekitarnya.

Setelah Sasuke mengembalikan ponsel milikku, aku baru sadar jika dia mengganti wallpaper ponselku dengan foto selfinya, dasar narsis! Tapi ada yang berbeda dari foto ini, dia tersenyum, senyum yang amat sangat jarang di perlihatkannya, berbeda dengan senyum yang di perlihatkannya saat pemotretan, disini terkesan lebih tulus, tidak peduli meskipun tulus bagaimana pun, dia tetap saja tukang marah-marah, hal lainnya lagi, nomer ponsel Sai menghilang, bahkan semua pesanku dengannya menghilang, aku yakin ini perbuatan Sasuke, dia menghapus segalanya, pantas saja kata Sai, dia tak bisa menghubungiku, mungkin saja Sasuke memblokirnya lalu menghapusnya, menyebalkan!

Dia sudah mengganggu benda privasiku, apa dia perlu mendapat balasannya, lagi pula dia menyimpan segala benda pribadinya di dalam tas ini, oh ya, tas ini adalah tas baru meskipun tetap tas ransel hitam, Sasuke membuang tas yang sudah cukup kotor itu karena ulahku, aku menggunakannya untuk melawan para wanita itu, padahal tas itu tak rusak sama sekali dan masih bagus.

Menatap ke arah Sasuke, dia sedang sibuk syuting sebuah iklan lagi, aku bisa leluasa membalasnya dengan menggunakan ponsel miliknya. Kabuto pun sibuk memperhatikan Sasuke, sayangnya, tindakan jahatku terhalangi dengan ponsel model terbaru Sasuke, ini menggunakan sidik jarinya, kembali menyimpan ponsel itu dalam tas dan menghela napas, kenapa saat niat jahatku tak bisa terlaksanakan, dan dia dengan mudah melakukan apapun pada ponselku.

Dreet..dreet..

Ibu calling..~

"Ha-halo, bu."

"Ibu dan ayah akan datang ke rumahmu, jam berapa kau akan pulang kerja?"

Aku tak percaya jika ibu akan datang berkunjung ke rumahku, kedua orang tuaku tinggal berbeda kota denganku, aku pun tak pernah mengatakan setiap masalah yang terjadi padaku di kota Konoha ini, termasuk pemecatan di kantorku beberapa kali, aku takut jika hanya membuat ibu dan ayah cemas, sekarang kenapa mereka datang?

"Aku tak tahu, biasanya akan malam jika sedang lembur." Ucapku, Sasuke tidak akan membiarkanku pulang jika dia tidak mengijinkanku.

"Baiklah, ibu dan ayah akan menunggumu saja."

Apaa!

Hari ini aku harus berbicara pada Sasuke jika aku tidak bisa menemaninya tidur, ibuku sangat galak.

Pukul 22:40

Jadwal Sasuke begitu padat hingga baru saja berakhir, Kabuto sudah mengantar kami, tapi aku tidak bisa berlama-lama, apalagi ayah dan ibu sudah menungguku.

"Sasuke, bisakah hari ini aku tak menginap di sini?" Ucapku, sejujurnya aku agak takut, apalagi hari ini dia masih marah padaku.

"Aku tak mau mendengar alasan apapun." Tegasnya.

"Hari ini ayah dan ibuku datang berkunjung, bisakah aku pulang?" Ucapku. Aku sempat melihat tatapan aneh dari sorot mata itu.

"Hubungi Kabuto untuk kembali ke apartemen, aku masih tidak bisa tidur sendirian." Ucapnya, dia membelakangiku, nada suaranya terdengar pelan, aku jadi merasa bersalah padanya.

"Baiklah."

"Dan pulanglah di antar oleh supir pribadiku."

"Ti-tidak perlu, aku akan naik taksi."

"Taksi tak menjamin keselamatanmu, pak Do akan menjaminnya dan aku tak perlu khawatir." Ucapnya.

Setelah penyerangan beberapa wanita itu, dia jadi semakin mengawasiku, saat dia menyuruhku pun, ada dua orang staf akan pergi bersamaku, mereka di beri perintahkan untuk menjagaku agar tak ada yang melukaiku kembali, selalu ada kebaikan di setiap sikap buruknya, aku benar-benar bingung akan sikapnya.

Saat di perjalanan, tiba-tiba pak Do, supir pribadi Sasuke ini menepih di sebuah restoran.

"Untuk apa kita ke sini?" Tanyaku, bingung.

"Tuan Sasuke memintaku untuk mengantar anda ke sebuah restoran sebelum pulang, dan gunakan kartu ini, katanya belilah makanan yang enak untuk kedua orang tua anda nona." Jelas pak Do padaku.

Aku tak percaya ini, Sasuke sampai repot menyampaikan pesan ini pada pak Do, padahal sejak tadi pagi dia terus marah padaku, aku tahu ini sudah sangat malam, dan kedua orang tua pasti sudah menunggu cukup lama di luar, turun dari mobil dan memesan beberapa makanan untuk di bungkus, restorannya pun terlihat mahal.

"Apa ini tidak apa-apa?" Ucapku, melihat nota harganya pun cukup fantastik, setelah kembali naik ke dalam mobil.

"Tidak masalah nona, ini perintah tuan Sasuke."

Ah, dia benar, jika perintah harus di laksanakan, supir pribadinya pun mengetahui bagaimana sikap tuannya.

.

.

TBC

.

.


update...!

.

.

See you next chap!