You and I
EXO Fanfiction
Pairing: ChanKai
Cast: Chanyeol, Kai (Jongin), Chen, and others
Rating: T-M
Warning: YAOI, M-preg
Halo semua ini bab sebelas, selamat membaca semoga bisa menemani malam Minggu kalian hehehe maaf atas segala kesalahan saya memang kurang teliti soal ejaan dan penyebutan dalam bahasa Korea, ada yang mau jadi Beta reader saya? (Author terlalu berharap)
Previous
Berikutnya Taemin duduk di pangkuan Jongin, memeluk, menenggelamkan wajahnya pada perpotongan bahu dan leher Jongin. "Kenapa Taemin?" Jongin bertanya dengan nada lembut sambil mengusap pelan punggung Taemin.
"Taemin mimpi buruk Ibu terjatuh di kegelapan, lalu hilang, Taemin memanggil-manggil nama Ibu tapi Ibu tidak menjawab."
"Aku?" Jongin masih belum paham yang dimaksud Ibu oleh Taemin itu dirinya atau Kai.
"Tidak tahu, wajah kalian sama." Taemin melonggarkan pelukannya pada Jongin, menarik tubuhnya, keduanya bertatapan, kedua mata Taemin mulai sembab. "Jongin jangan pergi seperti Ibu."
"Aku tidak akan pergi."
"Janji?" Taemin mengangkat kelingking kanan mungilnya ke hadapan Jongin.
"Ya." Jongin menjawab singkat ia tautkan kelingking kanannya pada Taemin. Taemin tersenyum lebar, kemudian ia mencium kedua pipi Jongin membuat Jongin tertawa melihat tingkah manja Taemin.
BAB SEBELAS
"Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?" Jongin bertanya sambil menatap kedua mata Taemin yang tampak sembab, Taemin sendiri masih duduk di atas pangkuan Jongin.
"Tidak tahu," Taemin menggumam pelan.
"Tadi Taemin ingin main kan? Ah! Mendengar cerita atau semacamnya."
"Tidak, Taemin tidak ingin lagi." Taemin mendaratkan kepalanya pada bahu kanan Jongin. Jongin merasa ada sesuatu yang mengganggu Taemin.
"Taemin ingin bercerita sesuatu?"
"Taemin—Taemin tidak terlalu ingat Ibu seperti apa, karena saat itu Taemin masih kecil."
"Empat tahun kan?" Jongin merasakan kepala Taemin bergerak, menggangguk di pundaknya.
"Hanya sedikit yang Taemin ingat, Ibu selalu tersenyum, membacakan dongeng sebelum tidur, membuat Kimbap dan susu cokelat setiap hari untukku."
"Taemin sangat sayang dengan Ibu Taemin."
"Ya, tapi Ibu sering bertengkar dengan Nenek, lalu Nenek akan bertengkar dengan Ayah, karena Ayah tidak suka jika Nenek memarahi Ibu." Taemin tak melanjutkan kalimatnya, Jongin mendengar suara tangis, hal itu membuatnya terkejut.
"Hai, Sayang, ada apa?" Jongin bertanya dengan lembut sambil mengusap pelan punggung Taemin.
"Taemin benci jika Nenek dan Ayah mulai berteriak."
"Tapi Ayah tidak melakukannya sekarang kan?"
"Karena ada Ibu Jongin, setelah Ibu meninggal, Ayah tidak pernah pulang atau pulang pagi, Ayah tidak peduli pada Taemin. Taemin harus jadi anak baik dan mendapat nilai bagus hanya itu yang Ayah pedulikan."
Jongin mengusap punggung Taemin pelan, ia masih cukup terkejut dengan semua ucapan Taemin. "Kita lupakan semua itu mulai hari ini!" Jongin memekik ceria. "Semua akan baik-baik saja mulai hari ini."
"Benarkah?"
"Ya, semuanya akan baik-baik saja."
"Taemin mau main PSP."
"Sepertinya itu tidak diperbolehkan?"
"Kenapa?" Taemin mulai merajuk melipat kedua tangannya di depan dada dengan pipi yang sedikit menggembung.
"Bagaimana jika kita melakukan hal lain? Menggambar, mewarnai, atau semacamnya yang lebih berguna, agar Taemin tidak kena omel si telinga lebar."
"Telinga lebar?" Taemin melempar tatapan bingung, Jongin tersenyum ia mencondongkan tubuhnya mendekati Taemin, berbisik pada telinga kanan anak delapan tahun yang berada di dalam pangkuannya itu.
"Chanyeol, ayahmu." Bisik Jongin.
Taemin tertawa keras mendengar bisikan itu, Jongin juga ikut tertawa kemudian memeluk Taemin dengan erat. "Taemin sayang Jongin." Ucap Taemin dengan nada polos khas anak-anaknya.
Jongin hanya tersenyum tipis sambil mengusap punggung Taemin, mungkin karena kehamilannya Jongin merasa ingin melindungi Taemin, memastikan bahwa dia baik-baik saja, dan mungkin seperti inilah perasaan orangtua di seluruh dunia. Memastikan anak-anak mereka bahagia dan aman. Taemin lalu turun dari pangkuan Jongin dan berlari menghampiri meja belajarnya, ia tarik laci teratas meja belajarnya dan mengeluarkan PSP. "Taemin mau main!" Jongin hanya tertawa melihat rajukan Taemin.
"Baiklah, hanya satu jam. Aku akan menyetel alarm." Taemin mengangguk patuh, ia mengambil barang lain dari dalam laci yang ternyata sebuah ponsel pintar. Ia serahkan ponsel itu pada Jongin.
"Atur waktunya, satu jam kan?" Jongin mengangguk, Taemin langsung duduk, di atas lantai kamar yang berlapis karpet cokelat muda dengan punggung menyandar pada kaki ranjang tempat tidur.
Jongin membuka kunci layar ponsel Taemin, ponsel tidak dikunci menggunakan pola yang rumit cukup menggeser ke kanan gambar kunci. Setelah layar aktif Jongin langsung mencari menu jam untuk menyetel alarm. "Sudah, satu jam Taemin jangan lebih."
"Jangan pergi tetap di sini."
"Hmmm." Gumam Jongin menyetujui permintaan Taemin, ia edarkan pandangannya menyapu seluruh ruang kamar Taemin, tidak ada kamera pengawas, Chanyeol pernah bilang jika ruangan pribadi tidak terpasang kamera pengawas. Jongin tidak ingin mengambil resiko sekecil apapun. "Taemin aku ke kamar mandi sebentar ya."
"Ya." Taemin menjawab singkat, sibuk dengan PSPnya. Jongin membawa ponsel Taemin ke dalam kamar mandi tanpa Taemin sadari. Jongin menutup dan mengunci pintu kamar mandi, ponsel Taemin sudah terhubung dengan internet.
Jongin menelan ludahnya kasar, dapat ia rasakan jantungnya berdetak semakin cepat. Mengabaikan tangannya yang sedikit gemetar dan dan debaran jantungnya yang lebih cepat, Jongin mengetikan kata kunci pada pencarian. Hanya satu detik seluruh berita yang ingin ia ketahui tentang Kai muncul, tapi tak banyak yang bisa diketahui hanya ada dua situs berita yang memuat berita tentang kematian Kai, satu tidak lengkap, dan satu situs tidak dapat dibaca entah karena apa.
Jongin mengetuk-ngetuk permukaan bibirnya dengan telunjuk kanan, berikutnya ia putuskan untuk keluar dari kamar mandi setelah menyiram kloset sebagai alibi. Taemin masih sibuk dengan permainannya, Jongin mengambil kertas kecil warna-warni yang biasa dipakai untuk Origami, Jongin menuliskan alamat situs yang tidak bisa dibuka tersebut menggunakan pensil warna Taemin.
"Sedang apa?"
"Hanya bosan menunggumu." Jawab Jongin santai, meski tadi ia sempat terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba dari Taemin. Jongin menarik kursi belajar Taemin, duduk di sana kemudian mulai melipat kertas yang tadi sudah ia tulisi dengan alamat situs menjadi Burung Bangau. Satu menit untuk membuat Burung Bangau, berikutnya Jongin menutup halaman web, menghapus data jelajah, dan keluar dari mesin pencari.
Jongin memegangi Burung Bangau merah di tangannya, mengamati dengan seksama. Situs tidak terbaca, alamat web rusak, isi dihapus, diblokir, atau hal lain yang membuat Jongin semakin curiga jika kematian Kai memang ada sesuatu di belakangnya. "Ah!" Jongin berteriak karena terkejut dengan getaran ponsel yang ada di atas meja belajar Taemin. Taemin sendiri juga berteriak kaget. "Sudah selesai Taemin."
"Lima menit lagi."
"Tidak Sayang, sudah selesai." Jongin mengulurkan tangan kanannya pada Taemin. Taemin tampak kesal namun ia tetap menyerahkan PSPnya pada Jongin. Jongin mematikan PSP warna putih milik Taemin dan memasukkannya kembali ke dalam laci.
"Itu apa?"
"Apa?"
"Itu." Taemin berdiri mendekati Jongin dan menunjuk Burung Bangau kertas di tangan Jongin.
"Burung Bangau, mau mencoba membuatnya?" Taemin mengangguk antusias, Jongin merasa lega Taemin tak lagi merasa kesal. Bocah delapan tahun itu kembali duduk di atas pangkuan Jongin memegangi Burung Bangau merah yang sudah jadi. "Ikuti caranya." Jongin menarik dua lembar kertas Origami dari dalam plastik pembungkus.
"Taemin mau yang merah." Jongin menurut, ia menarik kembali kertas dengan warna yang diinginkan Taemin dan menyingkirkan kertas warna biru yang tadi diambilnya. "Ayo mulai."
"Baiklah, pertama kita lipat jadi dua."
"Seperti ini?"
"Ya, seperti itu, sekarang buka kertasnya, kita lipat jadi dua lagi tapi di sisi lain."
"Begini?"
"Ya. Buka kertasnya lagi, nah, di sini ada dua garis yang saling memotong, sekarang kita lipat setiap ujungnya secara bergantian." Taemin mengikuti dengan baik, bibirnya sedikit mengerucut menunjukkan keseriusannya. "Sudah selesai?"
"Sudah."
"Sekarang kita pertemukan setiap ujung segitiga di tengah." Kali ini Taemin tidak mengikuti karena merasa kesulitan, Jongin tersenyum tipis dan melanjutkan acara melipatnya sambil menerangkan pada Taemin. "Nah, sekarang tarik salah satu ujungnya ke bawah agar membentuk kepala burung, tarik kedua sayapnya agar badan burungnya tegap dan bisa berdiri."
"Susah." Keluh Taemin sambil melempar kertas Origami yang sudah kusut ke arah Jongin. "Taemin simpan yang ini saja!"
"Ah jangan!" Pekik Jongin sambil merebut Burung Bangau yang berisi alamat situs terblokir. Taemin melempar tatapan bingung.
"Jongin hanya ingin menyimpannya, kita buat Burung Bangau merah yang lain."
Taemin terlihat tidak suka. "Buatkan empat Burung Bangau."
"Baiklah." Jongin menyisihkan Burung Bangau yang tadi diincar Taemin menjauh, diapun mulai melipat empat Burung Bangau dengan kertas Origami merah. "Taemin, apa kau tahu ada legenda di balik Burung Bangau kertas ini?"
"Legenda seperti apa?"
"Seribu Bangau Kertas, Senbazuru , jika kita membuat seribu Bangau maka satu permohonan akan dikabulkan."
"Ah benarkah?!"
"Ya."
"Itu nyata?"
Jongin tertawa mendengar pertanyaan polos Taemin. "Aku juga tidak tahu, itu hanya legenda sama seperti keberadaan Naga ada yang percaya ada yang tidak."
"Apa Ibu Jongin percaya dengan legenda itu?"
"Hmmm—tidak, aku tidak percaya." Jawab Jongin kemudian diiringi oleh tawa hambar.
"Mungkin permohonan yang dikabulkan adalah permohonan yang tulus, Taemin ingin mencobanya."
"Mencoba membuat seribu burung?" Jongin melempar tatapan tak percaya. Taemin mengangguk mantap. "Tapi Taemin saja tidak bisa membuat satu burung."
"Taemin akan mencobanya lagi!" Jongin hanya mengerutkan dahinya, sedikit bingung dengan perubahan sikap Taemin yang tiba-tiba berubah semangat.
"Apa yang Taemin inginkan?"
"Itu rahasia, akan Taemin katakan setelah burungnya genap seribu."
"Ahhh…, baiklah, sekarang kita mulai dari awal, ambil kertasnya." Taemin mengangguk, ia menarik kertas Origami dan turun dari pangkuan Jongin agar dia bisa melihat setiap gerakan tangan Jongin dalam melipat kertas dengan lebih jelas.
Sepuluh menit kemudian, Taemin berteriak bahagia. "Selesai!" Taemin nampak bahagia berhasil membuat Burung Bangau kertasnya yang pertama.
"Kau hebat sekali Taemin." Puji Jongin sambil mengusap lembut puncak kepala Taemin.
Taemin meletakan Burung Bangau pertamanya ke atas meja belajar, mengamatinya dengan bangga kemudian dia raih plastik berisi kertas Origami dan mulai menghitung sisa kertas di dalam plastik. "Ini kurang, sangat kurang."
"Ingin membeli kertas yang lain?"
"Ya, kalau bisa yang ada motifnya jangan hanya polos."
"Ah! Aku melihat yang seperti itu di toko buku."
"Ayo kesana!" Taemin menarik pergelangan tangan Jongin sambil melompat-lompat kegirangan.
"Besok saja bagaimana? Aku sangat lelah."
"Tidak mau, Taemin mau sekarang."
Jongin terdiam, menimbang-nimbang permintaan Taemin. "Baiklah, tapi kita tanyakan dulu pada Ayahmu dulu." Taemin mengangguk antusias. "Jika Ayahmu menolak kita akan pergi besok pagi." Taemin kembali mengangguk.
"Ayo kita temui Ayah sekarang!" Jongin berdiri dari kursinya, Burung Bangau dengan tulisan alamat situs di dalamnya itu ia lesakkan ke dalam saku belakang celana jins longgar yang ia kenakan.
.
.
.
Chanyeol sudah bangun namun ia masih malas untuk turun dari tempat tidur. BRAK! Chanyeol cukup terkejut dengan suara bantingan pintu yang keras itu, ia langsung mendudukkan dirinya dan Taemin menerjang tubuhnya. "Ayah!"
"Hei, sepertinya kau bahagia?" Taemin mengangguk dengan semangat, ia kini duduk di pangkuan Chanyeol. Jongin sendiri memilih untuk berdiri di dekat pintu kamar. "Mau membaginya dengan Ayah?"
"Tadi Taemin main PSP."
"PSP?" Chanyeol langsung melirik tajam ke arah Jongin sementara yang dilirik langsung memalingkan wajahnya sambil bersiul-siul pelan.
"Ya, PSP, hanya sebentar Ayah hanya satu jam lalu Ibu Jongin mengajari Taemin membuat Burung Bangau kertas, Ibu Jongin bilang jika Taemin melipat seribu burung maka satu permintaan Taemin akan dikabulkan."
"Taemin ingin mencobanya?"
"Ya Ayah!"
"Ah baiklah kalau begitu coba saja asal jangan lupa belajar ya?" Taemin mengangguk pelan, Chanyeol tersenyum bahagia kemudian mencium pipi kanan Taemin.
"Tapi Ayah, kertas lipat yang Taemin miliki sekarang belum genap seribu lembar. Taemin ingin membeli kertas yang lain, boleh kan Ayah?"
"Tentu, pergilah dengan paman Lay atau kakek Han."
"Taemin mau ditemani Ibu Jongin."
"Ibu Jongin belum sembuh benar…," Chanyeol tak melanjutkan kalimatnya, tidak tega melihat ekspresi memelas di wajah Taemin.
"Aku sudah tidak apa-apa, toko bukunya juga tidak jauh dari rumah." Jongin membuka suaranya, ia melihat tatapan tidak setuju dari Chanyeol namun bukan Jongin namanya jika dia tidak melawan.
"Ayah…," rengek Taemin.
"Baiklah, tapi Ayah akan pergi dengan kalian."
"Yes!" Taemin memekik antusias kemudian melompat turun dari ranjang tempat tidur dan berlari keluar kamar dengan cepat. "Taemin akan ganti baju dulu!" Teriak Taemin dengan keras.
"Jongin." Panggilan Chanyeol menghentikan langkah kaki Jongin yang berniat untuk pergi. "Kau yakin baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja. Aku mau makan dulu."
"Kau lapar lagi?!" Chanyeol bertanya dengan nada menggoda, Jongin hanya mengerutkan keningnya tak menjawab dan langsung melengos pergi.
"Apa aku salah?" Tanya Chanyeol pada dirinya sendiri sambil menggaruk tengkuknya bingung.
.
.
.
"Halo Lay hyung." Jongin menyapa dengan ramah, Lay sedang duduk di meja makan dengan secangkir kopi dan majalah bisnis di hadapannya.
"Halo Jongin." Lay menghentikan sejenak kegiatan membacanya, membalas sapaan Jongin diiringi senyum manisnya. "Apa kau lapar?"
"Ya."
"Makananmu ada di konter tertutup tudung saji."
"Terimakasih Hyung." Jongin bergegas menghampiri konter dan membuka tudung saji berwarna emas dengan renda putih pada pinggirannya. Di atas piring tersaji roti lapis dengan potongan daging, yang terlihat seperti daging ikan.
"Staf rumah tangga mengatakan jika itu daging ikan Salmon yang digoreng dengan minyak Zaitun lalu sayurannya sudah dicelup pada air mendidih bukan sayuran mentah kecuali mentimunnya." Jongin mengambil piring berisi roti lapis dan meletakannya ke atas meja makan. Ia mengambil setangkup roti lapis menyisakan tiga roti lapis lain di atas piring oval lebar itu.
"Hyung mau?"
"Aku sudah makan tadi."
"Hmmm." Jongin menggumam dan mulai menikmati roti lapis yang terasa sangat lezat di dalam mulutnya.
"Taemin terlihat sangat bahagia, apa kau melakukan sesuatu padanya?"
"Aku mengijinkannya memainkan PSP lalu aku mengajarinya membuat Burung Bangau kertas."
"Pantas saja Taemin sangat bahagia, pada dasarnya anak itu suka bermain." Jongin hanya tersenyum menanggapi kalimat Lay.
"Aku sudah selesai!" Lay dan Jongin langsung menoleh ke arah sumber suara, Taemin sudah siap dengan jaket tebal biru mudanya terlihat sangat imut dia berlari menghampiri meja makan dan mendudukkan dirinya dengan antusias. "Taemin mau." Jongin mengangguk dan mendorong piring berisi roti lapis ke hadapan Taemin. Taemin menggigit besar roti lapisnya, mengunyahnya membuat kedua pipinya menggembung mengingatkan Jongin pada pipi Hamster.
"Kalian masih makan?" Jongin menoleh, melihat Chanyeol yang nampak segar dengan sweter abu-abu.
"Kau baru mandi?" Jongin bertanya pada Chanyeol.
"Ya, untuk menghilangkan rasa kantuk." Balas Chanyeol sambil melangkah ke arah meja makan. "Apa itu enak?" Chanyeol menunjuk roti lapis di atas piring.
"Enak." Balas Taemin, setelah mendengar jawaban dari putranya Chanyeol langsung menyambar roti lapis yang tersisa dan mulai memakannya. Jongin berdiri dari duduknya untuk mengambil air mineral, diambilnya tiga botol air mineral, dua berukuran sedang dan satu berukuran kecil.
"Terimakasih." Ucap Chanyeol menerima botol air mineral yang Jongin sodorkan. Jongin membuka tutup botol air mineral dalam botol kecil, kemudian meletakkannya di sampingTaemin.
"Terimakasih Ibu Jongin." Ucap Taemin dengan mulut yang masih cuku penuh.
"Taemin, kunyah makananmu dengan benar, Taemin jangan sampai tersedak." Nasihat Jongin, tak menyadari jika Chanyeol melempar tatapan haru padanya, teringat akan Kai, Kai selalu menasihati dirinya seperti itu ketika dirinya makan terburu-buru karena harus masuk kerja pagi. "Sudah selesai?" Perhatian Jongin beralih pada Chanyeol.
"Ya! Ya." Chanyeol membalas dengan canggung.
"Bersihkan mulutmu dengan tisu." Chanyeol hanya mengangguk dan melakukan perintah Jongin.
"Taemin selesai! Ayo berangkat sekarang!" Taemin memekik bahagia, ia melompat turun dari kursi dan menarik tangan kiri Chanyeol.
"Biar staf rumah tangga yang membersihkannya." Ucap Chanyeol ketika melihat Jongin hendak mengangkat piring tempat roti lapis di letakkan tadi.
"Baiklah." Balas Jongin, ia menurut karena Taemin terlihat akan berteriak jika mereka tak segera pergi ke toko buku.
Jongin duduk di kursi penumpang belakang, menemani Taemin karena rengekan Taemin tentu saja, dan Chanyeol tidak bisa mencegah keinginan putranya tidak baik juga bertengkar dengan anak sendiri. Lima menit kemudian mereka sampai di depan toko buku, sebenarnya Jongin lebih suka berjalan kaki tapi kondisi tubuhnya sedang menurun sekarang.
"Ayo! Ayo!" Taemin benar-benar bersemangat, ia melangkah keluar dari mobil disusul dengan Jongin dan Chanyeol yang paling terakhir. Chanyeol berdiri menjajari Jongin.
"Kau yakin baik-baik saja?"
"Ya, aku baik-baik saja."
"Taemin kita hanya akan membeli kertas lipat saja, Ibu Jongin sedang lelah." Meski tampak kecewa akhirnya Taemin mengangguk pelan.
"Lain kali kita main berdua." Janji Jongin, Taemin tersenyum lebar, bahagia mendengar janji itu.
"Jongin…," desis Chanyeol.
"Kenapa? Kau sudah mengijinkannya." Balas Jongin santai, ia langsung menggandeng tangan kanan Taemin dan keduanya melangkah bersama memasuki toko buku.
Jongin bersyukur Taemin tak banyak bertingkah, bukan karena tubuhnya lemas lagi, tapi Jongin cepat-cepat ingin menjalankan rencananya, selain itu dia juga sedikit terbebani dengan kemungkinan buruk seandainya orang yang ingin dihubunginya nanti sudah mengganti nomor ponsel atau alamat emailnya.
"Taemin mau yang ini."
"Ah!" Jongin tersentak mendengar suara Taemin, padahal Taemin tidak berteriak atau semacamnya. "Kau mau yang ini?" Jongin memegang satu bungkus kertas lipat berwarna-warni dengan motif tanaman sulur pada permukaannya. "Baiklah kita beli ini, Taemin mau berapa?"
"Taemin mau yang ini." Jongin mengerutkan kening, ia melihat kertas lipat dengan berbagai warna dan motif nampak cantik dikemas dalam kotak berbahan karton cantik berhiaskan pita dan renda putih.
"Baiklah, kita ambil yang ini." Jongin mengangkat kotak itu dan membawanya ke kasir, Chanyeol sedang berada di bagian rak buku tentang bisnis dan sejenisnya. Jongin hanya mendesis malas. "Kita bayar ini dan tunggu ayahmu di luar." Taemin hanya mengangguk patuh.
Melihat Jongin dan Taemin berdiri di depan kasir, cepat-cepat Chanyeol mengakhiri petualangannya mencari buku. Dia sudah membawa dua buku tapi masih ada buku lain yang sebenarnya diinginkannya, tapi Chanyeol tak mau mengambil resiko Jongin dan Taemin mengamuk.
"Kalian selesai?" Chanyeol bertanya setelah mendekati Jongin yang sedang mengantre."
"Ya."
"Titip ini." Ucap Chanyeol sambil menyerahkan dua buku yang dia pilih tadi. "Aku tunggu di mobil."
"Hmm." Jongin menggumam. "Tidak, aku saja yang membayarnya." Ucap Jongin saat dilihatnya Chanyeol hendak mengambil dompet.
"Baiklah kalau begitu, terimakasih banyak."
"Sama-sama." Balas Jongin sambil tersenyum. Chanyeol melangkah keluar dari toko buku dengan perasaan asing memenuhi dadanya, ini pertama kali dalam sejarah hidupnya ketika menjalin hubungan dengan seseorang, dimana seseorang itu membayarkan sesuatu untuk dirinya.
Taemin menggandeng tangan kiri Jongin tapi kedua matanya mulai mencari-cari sesuatu yang mungkin membuatnya tertarik, semuanya nampak tertarik di mata Taemin. "Ibu."
"Ya?"
"Saat jalan-jalan bersama nanti, kita pergi ke sini lagi ya." Pinta Taemin.
"Tentu." Balas Jongin dengan diiringi oleh sebuah senyuman.
Setelah membayar, keduanya melangkah bersama meninggalkan toko buku, sama seperti saat berangkat Jongin duduk di kursi penumpang belakang menemani Taemin. Taemin sendiri sudah membuka kotak berisi paket kertas lipat, mengambil satu bungkus kertas lipat, membukanya, menarik satu lembar kertas dan mulai melipat dengan serius.
"Kau sudah hapal cara melipatnya?"
"Ya." Taemin menjawab singkat, menunjukkan keseriusannya.
"Aku ingin pulang ke rumah orangtuaku, aku merindukan mereka dan kakakku."
"Bagaimana jika lain kali saja Jongin, kau harus banyak istirahat."
"Ayolah, aku baik-baik saja Chanyeol jangan paranoid, lagipula kita pergi dengan mobil bukan jalan kaki. Tidak akan terjadi apa-apa padaku." Jongin menjelaskan panjang lebar, namun Chanyeol masih terlihat jelas tidak setuju. "Taemin," bisik Jongin sambil menyentuh pelan lutut kanan Taemin.
"Ah!" Taemin tersentak. "Taemin juga ingin pergi ke sana!" Chanyeol mendesis jika seperti ini dia mana sanggup menolak dua tatapan penuh permohonan.
"Hah, baiklah kita pergi ke sana."
"Yes!" Jongin dan Taemin berteriak kompak, Chanyeol mengeluarkan desisan keduanya.
Chanyeol menyalakan mesin mobil, menarik rem tangan, dan mobilpun perlahan mulai bergerak meninggalkan tempat parkir toko buku. Jongin menoleh ke arah kiri melihat gedung rumah sakit tempat Sehun bekerja, baiklah, dia sudah membulatkan tekad untuk membantu Sehun mencari kebenaran kematian Kai.
Sepuluh menit kemudian, keluarga kecil itu tiba. Jongin membuka pintu mobil dengan senyum lebar yang mengembang di wajahnya, ia akui akhir-akhir ini hampir tidak memikirkan keluarganya dan sekarang setelah dirinya berada di depan toko bunga milik keluarganya ia sadar betapa dirinya sangat merindukan tempat ini, merindukan ayah, ibu dan kakaknya.
"Jongin!"
"Ah! Ayah!" Jongin berteriak girang dan langsung memeluk ayahnya yang tadi sedang sibuk memindahkan ember-ember plastik berisi air dan bunga segar.
"Kau lama sekali tidak pulang?"
"Maaf Ayah aku sedang sibuk aku mulai mengajar dan akhir-akhir ini kesehatanku menurun."
"Benarkah?!" Jongin mengangguk kemudian menarik tangan kanan Taemin untuk mendekat. "Ayah, dia Taemin, putra Chanyeol dan—Kai."
"Taemin," Tuan Kim mengamati wajah Taemin dengan seksama. "Kau mirip sekali dengan Jongin waktu kecil! Tapi kulitmu lebih putih."
"Ayah…," keluh Jongin tidak suka saat keluarganya mulai mengangkat topik tentang warna kulit. "Apa?!" Desis Jongin saat dilihatnya Chanyeol juga ikut tersenyum.
"Aku tidak tersenyum karena itu," dusta Chanyeol sambil menggelengkan kepalanya.
"Ayo masuk, masuk, Ibu dan kakakmu pasti senang melihat kedatanganmu Jongin. Kedatangan Chanyeol dan Taemin juga." Ucap Tuan Kim yang kini sudah menggandeng tangan kanan Taemin, Taemin tersenyum senang.
"Jongin!" Nyonya Kim memekik heboh kemudian memeluk putranya dengan erat, Jongin hanya tersenyum simpul sambil membalas pelukan sang ibu. "Ibu merindukanmu."
"Aku juga, maaf jarang pulang."
"Hah kau ini, Ibu pikir kau sudah melupakan keluargamu."
"Aku tidak mungkin melakukannya!" Jongin memekik dramatis dan ibunya hanya tertawa dengan nada mencibir. "Ibu tidak percaya?" Keluh Jongin lumayan kesal diejek di depan Chanyeol.
"Ayo ke ruang keluarga dan kita mengobrol di sana." Ajak nyonya Kim dengan ramah kepada semua orang. "Taemin kau mirip sekali dengan Jongin, mau Nenek gendong?" Nyonya Kim membuka kedua tangannya lebar-lebar, Taemin dengan senang hati mendekat.
"Tidak usah Ibu, Taemin berat." Cegah Chanyeol. Taemin menggembungkan pipinya pertanda protes. Chanyeol dengan sigap mengangkat tubuh Taemin sebelum anak itu semakin marah.
Sesampainya di ruang keluarga yang menyatu dengan meja makan dan dapur, semua orang justru memilih meja makan untuk duduk dan mengobrol. "Taemin suka Kimbap kan?" Tanya nyonya Kim yang masih ingat dengan makanan kesukaan Taemin, tentu saja Taemin tak menolak tawaran itu. "Baiklah, Nenek akan membuatkan Kimbap untukmu."
"Taemin, lepas jaketmu." Kali ini giliran tuan Kim yang berbicara dan membantu melepas jaket Taemin.
"Ibu, kiriman Tulip merahnya…, oh Jongin! Kau pulang?! Akhirnya kau pulang!" Chen berteriak heboh, Jongin langsung mengerucutkan bibirnya.
"Akhirnya pulang, memangnya aku pergi kemana…," Jongin menggerutu pelan.
"Hei, apa kau tidak mau memberi pelukan pada kakakmu yang tampan ini?!"
Jongin ingin mencibiri Chen, namun dia teringat akan rencananya untuk membantu Sehun. Jongin langsung berdiri dari kursinya dan menghampiri Chen, memberinya pelukan erat. "Kakak! Aku sangat merindukanmu kakakku yang tampan!" Dan sekarang giliran Chen yang bingung dengan sikap Jongin. Jongin melonggarkan pelukannya menatap lekat-lekat kedua mata Chen mengisyaratkan sesuatu pada Chen. "Aku merindukanmu kakaku, sayang."
"Ah, hahaha!" Chen tertawa canggung. "Tidak biasanya kau seperti ini, tapi baiklah mari melepas rindu di kamarku."
"Tentu!" Jongin memekik antusias.
"Taemin mau ikut." Taemin sudah melompat turun dari kursinya.
"Tidak Taemin di sini saja, Nenek membuat Kimbap yang enak, lagipula mereka pasti membicarakan sesuatu yang tidak penting."
"Hanya sebentar saja Taemin." Jongin mendukung rayuan ibunya untuk membujuk Taemin agar tetap tinggal di meja makan. Ibunya hanya sangat menyukai anak kecil itu saja alasan ibunya mencegah kepergian Taemin.
"Chanyeol aku pinjam Jongin sebentar ya?"
"Iya." Chanyeol membalas diiringi senyuman lebar di wajahnya, dia merasa senang berada di rumah Jongin karena seperti inilah seharusnya sebuah keluarga terasa.
"Terimakasih banyak Chanyeol, Taemin." Ucap Chen kemudian menarik pergelangan tangan kanan Jongin meninggalkan semua orang menuju kamarnya. Keduanya menaiki anak tangga dengan perlahan, sesekali Chen menoleh ke belakang untuk memastikan Jongin baik-baik saja, tidak terpeleset atau semacamnya. Dia cukup tahu jika adiknya sedang berbadan dua, terlihat dari pipinya yang lebih gemuk, dan perutnya yang tak sedatar dulu saat mereka berpelukan tadi.
Chen menutup dan mengunci pintu kamarnya. "Kau ingin membicarakan kehamilanmu?"
"Ah!" Jongin tersentak. "Hyung sudah tahu?"
"Hmm, tentu saja aku sudah tahu saat kita berpelukan tadi." Chen tersenyum kemudian berjalan mendekati Jongin dan mengusap pelan perut Jongin. Jongin tersenyum lembut ia letakkan tangan kirinya pada punggung tangan kanan Chen yang masih mengelus perutnya.
"Bukan itu, aku ingin meminta bantuan padamu Hyung."
"Bantuan apa?"
"Boleh aku meminjam ponsel dan komputermu Hyung?"
"Hanya itu?!" Tentu saja Chen terkejut, kenapa meminta pinjam barang-barang seperti itu harus menghilang dari pandangan semua orang. "Jongin, kau tidak sedang merencanakan sesuatu kan?"
"Sudahlah Hyung, aku tidak bisa lama-lama nanti Chanyeol dan Taemin akan bertanya macam-macam." Melihat kecemasan pada wajah sang adik, Chen luluh, ia serahkan ponselnya pada Jongin. "Terimakasih Hyung, untuk panggilan internasional ya? Aku ganti biayanya." Chen belum sempat menanggapi, Jongin sudah berbalik memunggunginya dan mulai serius.
Setelah mengetik kode Negara, Jongin langsung menekan nomor ponsel sahabatnya dulu saat berkuliah di Amerika yang ia ingat jelas, kali ini Jongin bersyukur punya otak cukup jenius, sambil berharap semoga sahabat yang sudah cukup lama tak berhubungan dengannya itu belum mengganti nomor ponselnya.
"Hello."
"Ah, Marcus, it's me, Jongin, Kim Jongin."
"Jongin! It's been a long days, i'm so happy to hear your voice again."
"Yeah, I need your help….,"
Chen mengerutkan keningnya, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres saat Jongin mulai berbicara dalam bahasa asing. "Thank you Marcus." Jongin mengakhiri panggilan teleponnya dan menyerahkan ponsel di tangannya kepada sang pemilik.
"Jong…"
"Aku pinjam komputermu Hyung." Belum sempat Chen meneruskan kalimatnya saat Jongin memotong kalimatnya, Chen hanya bisa mengangguk pelan.
Jongin langsung menarik kursi kayu, duduk, menyalakan komputer milik Chen, jari-jarinya bergerak-gerak gelisah, sesekali juga ia menggigiti bibir bawahnya. Setelah komputer aktif dan langsung tersambung pada internet Jongin langsung membuka emailnya, mengambil Burung Bangau di dalam saku celananya, mengetikan alamat situs yang tak terbaca tadi dan mengirimkannya pada alamat email Marcus. Setelah yakin emailnya terkirim, Jongin langsung keluar kemudian menghapus data penjelajahan.
"Jongin aku semakin curiga dengan sikapmu."
"Tidak ada apa-apa Hyung, aku hanya mencoba menghubungi teman-teman lamaku di Amerika, siapa tahu mereka memiliki berita tentang lowongan pekerjaan yang menjajikan di sana."
Chen melempar tatapan penuh kecurigaan. "Kau pikir aku percaya dengan semua yang kau ucapkan, dan aku yakin Chanyeol tak akan mengijinkanmu pergi jauh."
Jongin menggigit pelan bibir bawahnya, menimbang-nimbang apakah Chen harus diberitahu. "Maaf Hyung, tapi aku tidak bisa memberitahukan hal ini pada Hyung." Tidak, siapapun tidak boleh mengetahui rencananya.
"Jongin."
"Ya?"
"Hentikan kebiasaanmu bermain api, jangan terlalu memikirkan orang lain sesekali kau boleh bersikap egois." Jongin hanya tersenyum mendengar kalimat yang dipenuhi dengan kecemasan dari sang kakak.
"Sebaiknya kita keluar, Kimbapnya mungkin sudah siap dan aku tidak mau ditanya macam-macam oleh Taemin dan Chanyeol." Chen mengangguk pelan, Jongin membuka kunci pintu, membuka pintu dan melangkah keluar.
Chen melihat riwayat panggilan pada ponselnya, sial, Jongin sudah menghapusnya. "Kau benar-benar anak yang cerdas Kim Jongin." Chen menggumam pelan.
TBC
Terimakasih atas kesediaan para pembaca sekalian untuk meluangkan waktu membaca cerita aneh saya, semoga terhibur, dan terimakasih untuk: nandaXLSK9094, M2M, geash, wijayanti628, , chotaein816, Park Jitta, yuvikimm97, hunexohan, Adinka K.P, steffifebri, jjong86, Puji Haruharu, Kamong Jjong, BabyWolf Jonginnie'Kim, winter park chancan, laxyovrds, LoveHyunFamily, sayakanoicinoe, Wiwtdyas1, , yayasuke, atas review, masukan, dan kritikannya, kedepan saya akan berusaha menulis lebih baik lagi.
