Untukmu, kakak tersayangku.

Hey, kakak sudah masuk sekolah beberapa hari yang lalu, kan? Bagaimana kabar kakak di ibukota? Jujur saja, aku merasa kesepian disini. Jadi aku harap, kakak bisa berkunjung sekali-kali kesini.

Oya, apa kakak sudah memiliki teman baru? Seperti apa orangnya? Ah, aku harap kakak juga melampirkan foto kakak di surat balasan berikutnya. Aku sangat menantinya, kak.

Salam hangat dari adikmu,

Rana.


Judul : Teman Baru

Author : Lily Kotegawa

Character : Miku Zatsune, Akaito Shion, Tieru Sukone, Rana

Genre : Friendship

Disclaimer : Vocaloid/Utauloid/Fanloid © their creator


Akaito menghela nafas. Surat dari adiknya baru saja ia baca. Ah, sejujurnya ia merasa kehidupannya semakin rumit. Kalian mau tahu kenapa? Itu karena―

"Shion, aku tidak mau tahu. Pokoknya kau harus mengumpulkan buku-buku ini ke ruang guru."

Akaito mendengus. Dalam hati ia bertanya-tanya, apa karena ia berasal dari sebuah desa nan jauh disana lantas ia didiskriminasi? Ah, rasanya Akaito ingin menjambak lelaki bersurai silver yang nyaris setiap hari menyuruhnya melakukan ini-itu.

Akaito mengangkat buku-buku itu. Namun nasib berkata lain karena Akaito sendiri tersandung tali sepatunya sendiri dan berakhir dengan jatuh secara tidak elit. Terdengar berbagai macam gelak tawa tertuju kearahnya.

"Kamu tidak apa-apa, Shion?"

Seorang gadis bersurai kehitaman menatapnya. Sejenak Akaito terpaku pada iris mata gadis itu―

"Crimson."

"Eh?"

―warnanya crimson, seperti dirinya.

Akaito mencoba merapikan buku-bukunya. Sesekali ia melirik gadis bersurai hitam itu. Sekilas Akaito merasa ada yang aneh dengan gadis itu. Wajar saja, ini pertama kalinya ada orang yang mau berbicara dengannya setelah satu sekolah tahu bahwa ia berasal dari desa terpencil. Sungguh keajaiban.

"Shion."

Bulu kuduk Akaito merinding. Takut-takut ia melirik kearah Teiru Sukone ―si pemilik surai silver yang paling sering menyuruhnya ini-itu.

"Aku harap kau cepat selesaikan tugasmu."

"Ah, iya. A-Aku akan segera melaksanakan tugasnya."

Dengan secepat kilat Akaito melesat. Walau sejujurnya ia merasa agak berat membawa 40 buku paket sendirian. Seandainya saja ada bidadari yang mau membantunya―

"Kamu mau aku bantu, Shion?"

Akaito menoleh. Iris crimson-nya bertabrakan dengan iris crimson lainnya. Semilir angin menebar kesejukkan berhembus kencang.

"Em ... makasih."

Gadis itu mengambil sepuluh buku paket. Kalau Akaito perhatikan baik-baik, gadis itu sedikit mirip dengan Teiru Sukone. Yang membedakan hanyalah wajahnya yang terlihat datar dan iris matanya yang berwarna sama sepertinya.

"Maaf, boleh aku bertanya sesuatu."

Gadis itu menoleh.

"Bertanya apa?"

"Mengapa kau membantuku? Maksudku, kau tahu sendiri kan kalau aku berasal dari desa terpencil dan ... keluargaku tidak se-kaya siswa-siswi lainnya."

Langkah kaki gadis itu terhenti sejenak. Kalau Akaito perhatikan baik-baik, mungkin saja gadis itu sedang berpikir sesuatu. Terlihat dari raut mukanya.

"Aku―"

Akaito menunggu kata-kata selanjutnya dari mulut gadis itu.

"―benci orang yang sok tahu."

Akaito menaikkan sebelah alisnya dengan disertai tatapan heran. Apa hubungannya dengan 'orang yang sok tahu'? Akaito tidak mengerti.

"Aku tahu kamu pasti bertanya-tanya mengapa aku mengatakan hal itu."

Akaito sweatdrop. Ia merasa merinding begitu mata gadis itu sedikit berkilat-kilat. Lagi pula, mengapa gadis itu seperti bisa membaca pikirannya dengan mudah?

"Kamu pasti bertanya-tanya mengapa aku bisa menebaknya."

Akaito kembali merinding disko.

"Tenang saja, semuanya terlihat jelas dari raut mukamu kok."

"Raut mukaku?"

"Yup! Raut mukamu mengatakan semua isi pikiranmu."

Mereka kini kembali berjalan beriringan menuju ruang guru yang jauh berada di ujung koridor.

"Lalu, apa maksudmu mengatakan kalau kau benci dengan orang seperti itu?"

Gadis bersurai hitam itu tersenyum.

"Karena mereka menilaimu dari statusmu. Padahal dibandingkan dengan mereka, derajatmu itu lebih tinggi di mataku."

"Kenapa begitu?"

"Karena kamu itu seorang pekerja keras."

Akaito terdiam sejenak. Otaknya mulai berputar-putar mencari kata-kata yang tepat.

"Tapi ya ... bisa saja aku tak sebaik pemikiranmu."

Gadis itu kembali tersenyum, membuat Akaito semakin merasa keheranan.

"Biasanya orang baik itu selalu mengatakan bahwa dirinya tidak baik loh."

Akaito memandangi gadis itu. Dalam hati ia merasa sangat bahagia, karena pada akhirnya ada juga orang yang mau mengobrol dengannya. Hanya saja―

"Kau tidak takut ikut di-bully dan dijadikan babu karena mengobrol denganku? Sekolah kita itu menjunjung tinggi kekayaan orang tua loh, dan kalau mereka tahu kau mengobrol dengan orang yang kekurangan sepertiku bisa saja mereka memperlakukanmu seperti ini."

Ya, Akaito pernah menonton televisi sekali-kali tentang bullying yang sering muncul diberbagai sinetron-sinetron. Setiap ada seseorang yang mengobrol dengan orang yang di-bully, pasti ujung-ujung nasib orang itu juga akan di-bully.

"Aku tidak apa-apa kok."

Akaito kembali menatap heran gadis itu. Kenapa gadis itu tidak takut di-bully seperti orang-orang lainnya sih?

"Kok bisa?"

Karena penasaran Akaito langsung bertanya. Sementara yang ditanya cukup tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaannya.

"Karena aku bisa membalas mereka dengan prestasiku. Jadi bisa dibilang, jika mereka menghancurkanku dengan kekerasan fisik ataupun mental, aku tinggal membalas mereka dengan otakku. Dengan begitu, orang yang akan dipermalukan di masa depan nanti akan terlihat begitu saja di panggung wisuda nanti."

Akaito membulatkan iris matanya. Padahal mereka sama-sama kelas tujuh, tapi pemikiran gadis itu begitu dewasa. Ah, Akaito merasa kalah tiba-tiba.

"Oya, aku juga minta maaf soal sikap sepupuku."

Akaito menaikkan sebelah alisnya. "Sepupu?"

"Ituloh, Teiru Sukone."

Akaito tertawa garing. Pantas saja gadis yang di sebelahnya ini sedikit mirip dengan Teiru. Rupanya mereka itu sepupuan.

"Ah, kita sudah sampai di ruang guru!"

Akaito berseru semangat. Kemudian tangannya menarik kenop pintu, dan membukanya ―setelah mengetuk pintu tentunya.

"Wah, wah, tumben Shion bersama Zatsune."

"Zatsune?" Akaito melirik gadis yang berada di sebelahnya. "Jadi, namamu itu Miku Zatsune? Yang dulu pernah meraih peringkat ketiga dalam olimpiade matematika waktu itu?"

Gadis itu tersenyum malu-malu. "I-iya."

"Wah, ternyata kau masuk ke SMP ini! Beruntung sekali aku bertemu dengan orang hebat sepertimu."

"Hahahaha ..."

Zatsune hanya tertawa canggung.

"Oya, sebaiknya kalian lekas kembali ke kelas. Sebentar lagi jam istirahat berakhir."

Kedua murid itu mengangguk. Mereka kemudian berjalan bersama menuju kelas mereka.

"Zatsune."

"Iya?"

"Kau mau ng ... menjadi temanku?"

"Tentu saja. Kenapa tidak?"

―dan kehidupan bahagia Akaito di sela-sela masa suram kehidupan SMP-nya telah dimulai.


Teman Baru


Untukmu, adikku tersayang.

Benar, beberapa hari yang lalu kakakmu tercinta ini sudah memasuki bangku kelas tujuh. Dan well, kabarku juga biasa-biasa saja.

Oya, aku sudah memiliki teman baru. Namanya Miku Zatsune. Kau tahu? Dia itu siswi yang meraih peringkat tiga dalam olimpiade matematika yang pernah kakak ikuti itu loh! Ah, dan menurutku gadis itu sedikit aneh. Karena ia memiliki kebiasaan buruk tidur di kelas. Tidak seperti siswi sekolah pada umumnya, kan? Tapi biar begitu, Zatsune memang pintar. Ia bahkan bisa menjawab soal dengan mudahnya. Doakan kakakmu agar bisa sepertinya, ya.

Lalu soal foto, kapan-kapan kakak kirim ya. Rasanya kakak belum punya momen yang bagus untuk berfoto. Selain itu, kakak titip salam buat ayah dan ibu ya.

Salam hangat,

Akaito Shion.


End.


A/N:

Saya sudah berulang kali mengganti ide dan inilah hasilnya. Maaf kalau pendek ya *nangis*

Dan well, karena ide-nya kian menipis dan sebentar lagi saya akan pulkam, maka saya mengangkat cerita tentang anak yang di-bully karena perbedaan status sosial dan mendapat teman baru serta berakhir dengan ending yang rasanya menggantung. Wahahahaha ...

Akhir kata, sampai jumpa!