Curse of Life
Author : Shirokami Khudhory
Genre : Adventure, Friendship, Action, Romance
Rating : M
Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto, Highschool DxD by Ichisei Ishibumi, dan UQ Holder by Akamatsu Ken serta mangaka maupun musisi yang karyanya saya catut di fanfic ini

Warning! AR, AU, gaje, OOC, typo, dsb.


Note :
Well... Sebelumnya perkenalkan saya Shirokami Khudhory, kali ini saya akan menghadirkan fanfic triple crossover Naruto x Highschool DxD x UQ Holder. Yap, kali ini saya membawa sebuah manga baru yang mungkin masih sedikit asing bagi kalian karena kupikir ini bakal menarik. Di cerita ini akan bercerita tentang sekelompok manusia-manusia yang abadi alias tak bisa mati, dan konflik antara mereka dengan makhluk spiritual yang semakin mengancam umat manusia.

Jujur, sangat susah utuk menggabungkan universe dari Highschool DxD dengan universe UQ Holder

Terlebih mengingat UQ Holder bersetting waktu pada tahun 2085 dimana manusia normal sudah menyadari keberadaan ilmu sihir, dan dunia sudah sangat modern walaupun belum merata, bahkan sudah diproduksi aplikasi agar manusia normal yang tak mempunyai bakat sihir bisa memiliki sihir walaupun harga aplikasi tersebut sangat mahal
Namun di sisi lain aku juga ingin membuat alur canon d HS DxD kugeser kek setting latar waktu seperti di UQ Holder yakni di tahun 2085

Untuk alur ceritanya, aku akan mengambil alur canon gabungan antara Highschool DxD dengan UQ Holder


Summary :
Keabadian... Kutukan paling mengerikan yang pernah ada, kutukan yang memaksa korbannya untuk terus hidup dalam kesepian dan kesendirian, melihat tiap sahabat maupun yang terkasih pergi meninggalkannya termakan oleh kejamnya arus waktu. Ditambah, para makhluk spiritual yang terlalu serakah atas dunia yang begitu sempit ini serta para penguasa yang tak pernah puas untuk menguasai segalanya, membuat mereka - para immortal mulai bergerak melindungi umat manusia.


"Peperangan terjadi disaat dua kubu yang berseberangan saling mempertahankan apa yang mereka anggap sebagai KEBENARAN. Walau terkadang kebenaran yang mereka pertahankan hanyalah sesuatu yang semu." - Bartholomew Osvaldo Jiraiya

Arc III : Excalibur and the Memories of Dragon

Chapter 11 : Not an Ordinary Teacher

Yuuto Kiba, seorang iblis dan juga merupakan [knight] milik Rias Gremory sama sekali tak menyangka bahwa dendamnya pada pedang suci dan usahanya untuk membalaskan dendamnya tersebut justru membawanya kedalam sebuah pertarungan melawan seorang exorsist psycho bernama Freed Zelzan. Saat ini kondisinya terbilang cukup buruk beberapa luka tebasan kecil terdapat di beberapa bagian tubuhnya yang terus menerus mengucurkan darah segar dan juga asap tipis seperti benda yang sedang terbakar perlahan, ia sedikit meringis kesakitan karena luka-luka tersebut diciptakan oleh pedang suci sekelas Excaliburn.

Terkejut?
Jelas, karena pedang suci sekelas Excaliburn tak mungkin bisa berkeliaran secara bebas tanpa izin dari pihak gereja pusat Vatikan, apalagi jika berada di tangan seorang exiled exorsist seperti Freed Zelzan.

Namun bukan hal itu yang lebih mengejutkan, justru kehadiran seorang pria tegap bersurai putih yang secara tiba-tiba muncul dihadapannya dan meninju wajah Freed. Pria tersebut lantas membalikkan tubuhnya kearah belakang, dan alangkah semakin terkejutnya Kiba saat melihat sosok yang sangat ia kenali adalah orang yang menyelamatkannya.

"Ji-Jiraiya-sensei..."

Yap, sosok yang telah menyelamatkannya tak lain adalah Jiraiya, guru olahraganya di Kuoh Gakuen.

"Yuuto Kiba, mundurlah..."

Kiba terdiam begitu mendengar ucapan Jiraiya yang tampak berbeda dari biasanya, entah mengapa tubuh Kiba secara insting merangkak mundur beberapa langkah seolah-olah perintah yang Jiraiya ucapkan mutlak adanya. Dan benar saja, saat ia mencapai langkah mundur kelima, ia melihat Freed menyerbu kearah punggung Jiraiya sembari mengayunkan pedang Excaliburn kearah leher Jiraiya. Kiba hendak berteriak untuk memperingatkan gurunya tersebut, namun ia urungkan saat ia melihat Jiraiya menundukkan kepalanya secara refleks - membiarkan pedang tersebut melintas diatas kepalanya dan menyikut dada Freed hingga membuatnya terlempar jauh ke belakang.

"Yuuto Kiba, sekalipun kau adalah iblis, aku takkan membiarkanmu mati disini. Karna biar bagaimanapun kau adalah muridku dan seorang guru takkan membiarkan muridnya mati di hadapannya." Kiba terkejut, ia sama sekali tak menyangka bahwa gurunya mengetahui identitasnya sebagai seorang iblis, "Jadi sekarang pulihkan tubuhmu dan lihat bagaimana gurumu beraksi." Kiba bisa melihat senyuman tipis di bibir gurunya, "Because I'm not an ordinary teacher."

Bersamaan dengan ucapannya, Jiraiya langsung berlari kearah Freed. Awalnya Kiba sedikit terkejut dengan kecepatan gurunya tersebut yang menurutnya agak tidak wajar untuk ukuran manusia biasa, namun ia akhirnya menyadari bahwa gurunya satu ini merupakan mantan atlit, setidaknya itu yang tercantum dalam biodata gurunya itu yang tersimpan di arsip sekolah.

Saat ia kembali memperhatikan pertarungan tersebut, ia bisa melihat pertarungan tersebut berjalan dengan seimbang, tidak... lebih seperti pertarungan yang berat sebelah. Sepintas pertarungan terlihat seperti Freed yang terus menekan Jiraiya dengan tebasan pedangnya yang begitu terlatih, namun sebenarnya Jiraiya lah yang unggul karena sedari tadi ia terus bisa menghindari tebasan pedang lawannya dan sesekali memberikan serangan balasan melalui tinjunya yang selalu tepat sasaran. Ia bisa melihat Freed yang tampak semakin frustasi dengan kondisi tersebut, itu terlihat dari gerakannya yang semakin cepat namun juga semakin brutal dan mudah dibaca.

Kiba sepintas melihat Freed memasukkan pedang yang digenggamnya ke balik jubah pendeta miliknya lalu menarik pedang tersebut keluar dari balik jubah tersebut, gerakannya barusan terlihat seperti... Mata Kiba membulat atas analisa yang ia dapatkan, ia hendak memperingatkan gurunya tersebut. Namun ia terlambat, karena Freed tiba-tiba melesat dengan kecepatan yang tak mungkin dilihat oleh mata manusia normal dan langsung menebas dada Jiraiya.

"Sensei..." pekiknya.

"Yuuto Kiba, sudah kubilang jangan panik, jadi biarkan gurumu ini beraksi." keluh Jiraiya.

"Mu-Mustahil..." Freed terkejut tak percaya saat melihat pedang digenggamannya tertahan saat menyentuh dada Jiraiya, tebasannya memang merobek baju Jiraiya namun tetap saja tak melukai tubuh Jiraiya sedikitpun.

"Maaf..." Jiraiya mencengkeram bahu Freed dengan tangan kirinya, "Tapi pedangmu tak cukup tajam untuk melukaiku."

Bersamaan dengan ucapannya, Jiraiya menghunuskan tinju tangan kanannya yang menghujam perut Freed dengan telak hingga membuatnya memuntahkan darah dan terlempar mundur. Freed yang terlempar mundur cukup jauh langsung mengembalikan posisi tubuhnya dan mengambil sebilah pedang dari balik jubahnya - memasang posisi bertarung dengan dua pedang. Merendahkan posisi tubuhnya, dengan secepat kilat Freed langsung melesat kearah dengan pedang di kedua tangannya.

"Huh, Excalibur Rapidly rupanya..." Jiraiya tersenyum tipis, "Sayangnya kau tak cukup cepat untuk mengecoh penglihatanku." lanjutnya dengan nada pelan.

Jiraiya pun langsung menghunuskan tinjunya tangan kanannya kearah datangnya Freed, namun Freed juga tak kalah cerdik dengan sedikit gerakan berputar ke kiri ia berhasil menghindari tinju Jiraiya dan langsung mengayunkan kedua pedangnya dari kedua arah yang berbeda secara horisontal. Namun tepat sebelum kedua bilah pedang tersebut memenggal lehernya, secara insting Jiraiya menendang betis kiri Freed hingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan berlutut.

Hal tersebut tentu saja tak disia-siakan oleh Jiraiya, ia langsung mengunci leher Freed dengan kedua tangannya dan membanting tubuhnya ke tanah bersamaan dengan kepala freed yang berhasil ia kunci sebelumnya dan membuat kepala Freed terbanting ke jalanan aspal terlebih dahulu. Namun sayangnya gerakan gulat RKO(1) ala pegulat WWE Randy Orton yang ia peragakan sebelumnya hanya membuat kepala Freed berdarah dan masih belum cukup untuk melumpuhkannya, bahkan Freed masih bisa berdiri walaupun dengan kondisi yang agak sempoyongan. Melihat itu, Jiraiya langsung bangkit dan berlari kearah dinding di dekat lokasi Freed berdiri - menjadikan dinding tersebut sebagai tolakan bagi tubuhnya untuk melompat keatas kepala Freed dan kembali mengunci leher lawannya dengan gerakan Flying Scirsors(2) menggunakan kedua kakinya yang mengapit leher Freed. Memanfaatkan gaya gravitasi yang menarik tubuhnya, Jiraiya kembali membanting tubuh Freed keatas jalanan aspal dengan sedikit gerakan memutar ala Hurricane(3) dan membuat tubuh mereka berdua sama-sama terpelanting cukup jauh.

"Ugh, sial... Itu-"

Belum sempat Jiraiya menyelesaikan ucapannya, ia melihat sebilah pedang Excalibur yang tergeletak diatas jalanan aspal tak jauh dari tempatnya berada. Rupanya gerakannya sebelumnya membuat genggaman tangan Freed pada salah satu pedangnya terlepas dan terlempar tak jauh dari lokasinya berada. Merasakan instingnya menyatakan sinyal bahaya, Jiraiya langsung melompat meraih gagang pedang tersebut dan mengayunkannya kearah belakang punggungnya.

TRAAAANNGG...

Kedua bilah pedang Excalibur itu saling beradu dengan posisi pedang digenggaman Jiraiya berada dibawah menahan pedang digenggaman Freed yang berada diatasnya. Sayangnya Jiraiya tidak melihat bahwa Freed mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya, sebuah benda bulat berukuran sebesar kelereng, sebuah bom cahaya atau biasa dikenal sebagai flashbang. Benda tersebut dilemparkan tepat diantara kedua mata Jiraiya dan langsung meledak serta memancarkan cahaya yang teramat silau dan mungkin bisa membutakan mata manusia normal. Setelah cahaya silau itu menghilang, ternyata Freed sudah tak berada di tempatnya, ia kabur dari pertarungan jalanan di tengah gelapnya malam hari itu.

"Tch... Dia kabur, aku tak menyangka kalau dia akan memakai bom flashbang untuk kabur." Jiraiya mendecak kesal, namun sesaat kemudian ia melihat kearah sebilah pedang suci yang berada di genggaman tangan kanannya, "Tapi setidaknya aku berhasil mendapatkan pedang ini, langkah awal yang bagus untuk menyelesaikan semua kegilaan ini." lanjutnya sambil berbalik ke belakang dan mengayunkan pedangnya ke belakang - menahan serangan mendadak dari Kiba, "Bukan begitu, Yuuto Kiba?"

"Biarkan... Aku... Membalaskan dendam teman-temanku... Biarkan aku menghancurkan pedang suci itu Jiraiya-sensei!" teriak Kiba sambil terus menekan pedang miliknya yang tertahan oleh pedang suci digenggaman Jiraiya.

"Maaf muridku Yuuto Kiba, tapi aku tak bisa membiarkan kau melakukannya." balasnya.

Jiraiya menarik pedangnya menjauh dari persilangan kedua pedang tersebut dan membuat Kiba kehilangan keseimbangan, ia lantas menendang salah satu betis Kiba lalu menghantamkan pangkal gagang pedang di tangannya ke lehernya dan membuatnya pingsan di tempat.

"Yuuto Kiba... Subjek terbuang dari Holy Sword Project yang gagal total, aku mengerti seberapa besar dendam yang harus kau pikul itu, sayangnya kau menempatkan dendammu itu di tempat yang salah." ucap Jiraiya sambil memikul tubuh Kiba yang pingsan keatas bahunya lalu pergi meninggalkan tempat tersebut.


2 hari telah berlalu semenjak kejadian tersebut, malam itu Jiraiya sedang duduk di salah satu sofa di ruang tamu rumahnya sambil menyesap secangkir kopi. Di depannya, dua orang pemuda masing-masing bersurai pirang jabrik dan raven panjang sebahu berdiri menghadap dirinya.

"Jadi, bagaimana keadaan anak itu? Naruto..." Jiraiya mengalihkan direksi pandangannya dari pemuda bersurai pirang menuju pemuda bersurai raven, "Sasuke..."

Sejenak Naruto menggelengkan kepalanya, "Tidak ada perkembangan berarti, dia masih pingsan, namun setidaknya aku sudah selesai menghisap seluruh darah yang terkontaminasi unsur cahaya dari tubuhnya."

"Yah, sudah kuduga." Jiraiya menghela nafasnya, "Tak banyak yang bisa kuharapkan dari perkembangan kondisinya, racun cahaya dari pedang suci sekelas Excalibur memang sangat fatal untuk iblis seperti dia."

"Tapi Jiraiya-sama, kalau pemuda itu adalah iblis, kenapa kita harus menyembuhkannya?" tanya Sasuke, "Bukankah iblis adalah makhluk serakah yang hanya mementingkan dirinya sendiri?" tambahnya.

"Tidak semua iblis itu jahat, sama seperti kau menganggap bahwa tak semua manusia itu baik." Jiraiya menjeda ucapannya sejenak, "Anak itu, yang sekarang terbaring lemah didalam kamar tidurku adalah salah satu muridku, apakah salah jika seorang guru melindungi muridnya sendiri?" Naruto dan Sasuke menggelengkan kepalanya, "Bukankah sudah kubilang kalau misi kalian berdua disini adalah untuk menyamar dengan bersekolah di Kuoh Gakuen dan mencoba berteman akrab dengan mereka, iblis-iblis muda penjaga kota Kuoh ini?" Kali ini Naruto dan Sasuke menganggukkan kepalanya serentak, "Lagipula apa yang salah dengan iblis? Toh salah satu pendiri UQ Holder adalah seorang iblis, tepatnya manusia berdarah iblis."

Naruto dan Sasuke terdiam sejenak - mencoba mencerna informasi yang baru saja mereka dengar, "Ehh... Iblis?" teriak mereka berbarengan, "Siapa dia? Biar kusucikan dosanya dengan kekuatanku." timpal Sasuke.

"Kau tak perlu tahu siapa dia, yang jelas kau takkan bisa menang bertarung melawannya." jawab Jiraiya, "Sekarang lebih baik kalian berdua tidur, bukankah besok hari pertama kalian bersekolah? Aku tak ingin mendengar berita kalau kalian terlambat di hari pertama kalian, MENGERTI..."

"Baik Jiraiya-sama..."

Dengan itu, Naruto dan Sasuke langsung lari menuju kamar yang telah disediakan untuk mereka berdua. Setelah ia yakin mereka berdua telah tidur, Jiraiya beranjak dari duduknya dan berjalan kedalam kamar tidurnya.


Di dalam kamar tidurnya, ia melihat muridnya, Yuuto Kiba sedang terlelap diatas ranjang tempat tidurnya yang terletak tepat disamping jendela kamarnya. Mematikan lampu dan mengunci pintu kamar tidurnya, ia lantas berjalan menghampiri ranjang tempat tidurnya dan duduk diatasnya - tepat di dekat posisi kedua kaki Kiba.

"Bangunlah... Aku tahu kau sudah sadar dan terus terjaga dari tadi." ucap Jiraiya.

Mendengar ucapan Jiraiya barusan, Kiba langsung membuka kedua matanya dan duduk diatas ranjang - menatap tajam kearah Jiraiya, "Ugh... Ji-Jiraiya-sensei..."

"Jangan terlalu memaksakan dirimu, tubuhmu belum pulih sempurna, kau seharusnya beruntung karna aku punya seorang teman vampire yang bisa membersihkan sisa-sisa racun cahaya yang ada di dalam darahmu." Mendengar ucapan Jiraiya, Kiba langsung teringat akan alasannya untuk hidup, "Ahh... Pedang suci itu, aku harus membalaskan dendam teman-temanku." Membuat sebilah demonic sword, Kiba langsung berdiri dan beranjak kabur melalui jendela sebelum pada akhirnya dihentikan oleh Jiraiya dengan cara memegang bahu Kiba dan membantingnya kembali keatas ranjang, "Sudah kubilang jangan banyak bergerak, kondisimu belum pulih total..." bentaknya.

"Ugh..." Kiba sedikit merintih kesakitan.

"Sebenarnya apa yang terjadi padamu Yuuto Kiba? Kenapa kau terus bersikeras untuk pergi dengan kondisimu seperti ini?" tanya Jiraiya.

"Itu bukan urusanmu." jawabnya datar.

"Tentu saja ini urusanku, kau adalah muridku, dan sudah menjadi suatu keharusan bagi seorang guru untuk membantu permasalahan muridnya." balas Jiraiya.

"Kalau begitu jangan ikut campur, ini bukanlah sesuatu yang bisa sensei tangani." balasnya kembali dengan nada pahit.

"Ya ya ya, masalah ketiga fraksi supranatural bukan..." Kiba sedikit terkejut dengan ucapan gurunya tersebut, sempat terpikir olehnya tentang seberapa jauh dunia spiritual yang gurunya ini ketahui namun ia mengabaikan pemikiran itu saat gurunya kembali melanjutkan ucapannya, "Atau... Apa ini karena dendammu pada pedang suci?"

Bagaikan sebuah bom yang dijatuhkan di tempat yang salah, ucapan Jiraiya tersebut langsung memantik emosi Kiba hingga ke tahap maksimal, "Biarkan... aku menghancurkan... pedang suci itu... demi teman-temanku..." ucap Kiba sambil menggertakkan giginya.

"Lihat... Emosimu mudah sekali terpancing, lagipula orang bodoh macam apa yang menaruh dendam pada sebilah pedang suci yang tak bernyawa? Kau menempatkan dendammu di tempat dan target yang salah." ucapnya tenang.

Sontak emosi Kiba yang telah memuncak langsung lenyap begitu ia mendengar sindiran dari Jiraiya, ia pun lantas bertanya balik, "Apa maksudmu sensei?"

"Seperti yang sudah kubilang, kau menempatkan dendammu di tempat dan target yang salah, karna aku tahu apa yang kau rasakan saat ini." Kiba hendak membalas ucapan Jiraiya namun ia urungkan saat Jiraiya melanjutkan ucapannya kembali, "Kalau kau ingin membalas dendam, maka lindungilah semua orang yang kau sayangi dan jangan biarkan mereka bernasib sama sepertimu, itulah cara terbaik untuk membalas dendam. Tapi setidaknya jika kau tak sanggup melakukannya, maka setidaknya kau hanya perlu membalasnya pada orang yang melakukan hal itu padamu."

Kiba terdiam sejenak saat mendengar nasihat Jiraiya. Untuk saat ini ia tak mungkin mengikuti nasihat pertama gurunya tersebut, yang itu berarti ia hanya bisa mengikuti nasihatnya yang kedua. Ia lantas menatap kedua bola mata gurunya dengan tatapan mata penuh tekad baja.

"Siapa? Siapa orang yang melakukan hal biadap itu?"

"Entahlah, aku tak tahu, tapi mungkin kedua exorsist utusan gereja pusat Vatikan yang datang ke kota ini tahu jawabannya."

"Kalau begitu dimana mereka sekarang?"

"Mana kutahu? Aku bukan paranormal yang tahu segalanya, tapi yang terakhir kali kuingat mereka berdua sempat berbincang dengan Issei Hyoudou dan Koneko Toujou, kau mengenal mereka?" Kiba mengangguk, "Kalau begitu tanya saja pada mereka, atau bahkan jika beruntung kau bisa bertemu dengan kedua exorsist wanita tersebut."

Mendadak raut wajah Kiba memucat, tentu saja hal ini membuat Jiraiya bertanya padanya, "Ada apa Yuuto Kiba?" ucapnya.

"Issei... Koneko... Mereka berdua dalam bahaya, aku harus menolong mereka." Beranjak dari tempatnya terbaring, Kiba hendak melompat keluar jendela sebelum pada akhirnya usahanya lagi-lagi digagalkan oleh Jiraiya - kali ini dengan cara menggenggam sebelah tangannya, "Tunggu..." ucap Jiraiya seraya menggenggam tangan Kiba.

"Ada apa lagi sensei? Apa sensei ingin menghalangiku lagi? Nyawa temanku sekarang berada dalam bahaya." tanya Kiba yang dibalas oleh gerakan menggelengkan kepala oleh Jiraiya, "Tidak... Aku takkan menahanmu kali ini, tapi kumohon tunggu disini sebentar."

Melepas genggamannya atas tangan Kiba, Jiraiya langsung berlari keluar kamarnya dan kembali tak lama berselang. Ia terlihat seperti menggenggam sesuatu dibalik kepalan tangan kanannya dan menyalami tangan Kiba.

"Bawalah... dan hanya gunakan benda ini disaat genting saja."

Kiba membuka telapak tangannya dan alangkah terkejutnya ia saat melihat pemberian gurunya tersebut. Sebuah botol kecil seukuran ibu jarinya dengan tutup berwarna orange yang ia ketahui sebagai,
"Phoenix tears? Darimana sensei mendapatkannya?"

"Pasar gelap, tentu saja... Dimana lagi tempat di dunia ini bagi orang sepertiku untuk mendapatkan benda ajaib seperti ini?" jawab Jiraiya dengan nada riang.

"Sensei, sebenarnya sensei ini siapa?" tanya Kiba dengan nada serius.

"Belum saatnya kau tahu siapa diriku yang sebenarnya." jawabnya datar, "Ahh, bukankah kau ingin menolong temanmu itu? Kalau begitu, cepatlah pergi!"

Kiba lantas melompat ke pinggir jendela, sejenak ia menoleh ke belakang - melihat sekilas kearah gurunya tersebut, "Terima kasih, sensei..." Mengepakkan sepasang sayap iblis miliknya, Kiba kemudian melompat keluar dan pergi meninggalkan rumah gurunya tersebut.


Keesokan paginya, terjadi sedikit kehebohan yang disebabkan oleh Naruto dan Sasuke karena Yuuto Kiba menghilang dari kamar tidur. Namun kehebohan tersebut bisa diredam tatkala Jiraiya menjelaskan bahwa muridnya tersebut sudah sadar dan langsung pulang ke rumahnya malam itu juga. Naruto dan Sasuke akhirnya mengerti penjelasan dari Jiraiya lalu segera bersiap berangkat ke Kuoh Gakuen.

Jiraiya yang kini berada di halaman depan rumahnya hanya bisa melambaikan tangannya pada Naruto dan Sasuke yang sudah berjalan cukup jauh dari rumahnya - berangkat menuju Kuoh Gakuen. Jiraiya menghela nafasnya lalu berbalik badan dan hendak berjalan masuk kedalam rumah, namun semua itu ia batalkan tatkala ia mendengar suara deru mobil yang terdengar menuju kearahnya. Dan benar saja, saat ia membalikkan badannya, ia melihat sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam sedang drift masuk ke halaman depan rumahnya dan berhenti. Dari dalam mobil tersebut keluarlah seorang bishonen bersurai perak dan wanita muda bersurai hitam yang diikat pony-tail yang tentu saja sudah ia kenal sebelumnya.

"Ahh, akhirnya kau pulang juga Shiro..." sapa Jiraiya pada pemuda bishonen bersurai perak.

"Yo pak tua! Tadi saat kemari aku melihat dua bocah keluar dari rumah ini, jadi kamu meminta bocah-bocah itu sebagai back-up dari markas pusat? Ayolah, kau pasti bercanda..." balas Shiro dengan nada sedikit meremehkan.

"Sebenarnya akupun lebih menginginkan Karin sebagai back-up kita, hanya saja sudah beberapa minggu ini dia menghilang saat misi di pemukiman kumuh di pinggiran Tokyo, kudengar dia terkena sihir teleport paksa saat melawan Zabuza." Jiraiya menghela nafasnya, tak menghiraukan Shiro yang berteriak 'diteleport paksa lagi?' lalu melanjutkan ucapannya, "Tapi toh mereka berdua juga tak cukup buruk, mereka berdua adalah member tercepat yang menyelesaikan seleksi masuk UQ Holder langsung dibawah pengawasanku."

"Ho, seberapa cepat?" tanya Shiro.

"2 bulan, bahkan salah satu diantara mereka bisa menggunakan pedang gravitasi buatanmu dengan mahir. Recommended lah kalau menurutku..." jawab Jiraiya sambil mengacungkan jempolnya kearah Shiro.

"Ya sudah, itu berarti mereka berdua tanggungjawabmu mulai sekarang." Shiro kemudian menjinjing tas gitar miliknya - mengabaikan Jiraiya yang menggerutu seraya berucap 'seperti kau mau mengurus mereka saja Shiro...' dan mulai melangkah berjalan memasuki rumahnya tersebut disusul oleh Shuri yang mengekor dibelakangnya.


Sore harinya, Naruto dan Sasuke yang baru saja pulang sekolah dikejutkan oleh dua sosok orang yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Yah, sebenarnya Sasuke mengenali salah satu diantara mereka sebagai Shiro, seorang penyanyi yang sedang naik daun dan langsung meminta tandatangannya karena kebetulan ia mengidolainya.

Namun Jiraiya segera datang dan mencairkan suasana. Ia lantas memperkenalkan kedua orang tersebut sebagai UQ Holder #3 Jean Claude Hitsugaya dan UQ Holder #8 Himejima Shuri, sontak saja hal ini mengejutkan mereka berdua karena Yukihime pernah berkata pada mereka bahwa UQ Holder #3 adalah numbers terkuat. Naruto lantas menanyakan hal ini langsung pada Shiro untuk memastikan kebenarannya yang dibalas dengan gelak tawa Shiro dan sepucuk kalimat 'itu terlalu berlebihan, masih ada orang yang sedikit lebih kuat dariku.'

Dan malam harinya, tepatnya pukul 11 malam, dimana pada waktu itu seharusnya manusia normal sudah tertidur dengan lelap. Namun hal itu tidak berlaku bagi Shiro dan Jiraiya yang kini sedang duduk santai diatas atap rumahnya dan juga Shuri yang berdiri dibelakang mereka berdua.

"Shu-chan, tolong pastikan kedua bocah itu sudah terlelap dan tidak keluar dari kamarnya, kita berdua ada urusan penting yang tak seharusnya mereka ketahui." titah Shiro.

"Baik Shiro-sama..."

Setelah Shuri pergi, Shiro dan Jiraiya mengalihkan direksi pandangannya kearah Kuoh Gakuen. Mereka berdua tampak melihat dengan seksama apa yang terjadi disana, atau lebih tepatnya sekelompok iblis yang terbang menjaga barrier yang menyelimuti Kuoh Academy dan seorang da-tenshi bersayap lima pasang yang duduk santai diatas singgasana melayang didalam kompleks Kuoh Gakuen.

"Sepertinya sudah dimulai..." komentar Jiraiya.

"Yah begitulah, sesuai informasi yang kudapatkan, semua kegilaan ini berujung pada satu da-tenshi gila, Kokabiel." balas Shiro sambil menghela nafasnya, "Pencurian excaliburn dan penyerangan ke adik dua orang maou saat ini, dia sudah memenuhi syarat untuk memicu Great War jilid 2, tinggal kita tunggu saja bagaimana reaksi dari pihak surga dan juga underworld." tambahnya.

"Oh ya, kalau dipikir-pikir pemandangan malam ini mirip dengan malam itu." ucap Jiraiya.

Shiro menoleh kearah langit, memandanginya sejenak lalu tersenyum, "Yah, kau benar... Malam bersejarah-" ucap Shiro, "-yang mempertemukan kita berdua dalam takdir-" sambung Jiraiya, "-tepat 750 tahun yang lalu." Shiro dan Jiraiya menyelesaikan ucapan mereka bersama-sama.

to be continued...


Story note:

(1). Gerakan gulat yang pada dasarnya berpusat pada teknik mengunci leher lawan dengan kedua tangan lalu membantingnya ke tanah dengan posisi kepala lawan menyentuh tanah terlebih dahulu, dan bertujuan untuk mematahkan leher lawan atau sekedar membuat kepala lawan bocor. Gerakan ini dipopulerkan oleh pegulat WWE Randy Orton sebagai "finishing move" andalannya.

(2). Gerakan gulat yang pada dasarnya berpusat pada teknik mengunci leher lawan dengan kedua kaki dalam posisi seperti menggunting leher lawan lalu membantingnya ke tanah dengan memanfaatkan gaya gravitasi yang menarik tubuh orang yang melakukan gerakan ini, dan bertujuan untuk mematahkan leher lawannya. Gerakan ini lebih cocok digunakan oleh orang bertubuh kecil dan biasa digunakan oleh pegulat WWE Rey Mysterio.

(3). Gerakan gulat satu ini sepintas mirip dengan gerakan flying scirsors(2), bedanya hanya terletak pada gerakan memutar leher lawan dengan kedua kaki yang mengapitnya sebelum membantingnya ke tanah.


AN :

Ahh... Akhirnya selesai juga chapter yang sempat tertunda sekitar 3 minggu ini.

Maafkan Shiro yea... T_T
Soalnya baru saja balik dari Jawa, dan disana tidak ada satupun warnet ditambah dengan cuaca yang luar binasa panas sehingga inspirasi mendadak hilang.

Sebenarnya secara garis besar chapter ini merupakan show-off bagi karakter Jiraiya, baik dari segi kekuatan maupun dari segi kebijaksanaannya.
Dan untuk karakter Jiraiya ini sendiri aku gambarkan sebagai seseorang yang spesialis pertarungan jarak dekat dengan tangan kosong gaya MMA (Mix Martial Art)

Kemudian, untuk chapter selanjutnya akan terfokus pada final battle vs Kokabiel...
Yah... Jiraiya takkan berpengaruh cukup banyak di final battle nanti, mungkin abakl sedikit mirip dengan cerita di canon dengan "sedikit" kejutan didalamnya.


Review :

Laffayete :
Apakah Jiraiya orang kedua paling kuat dari Yukihime?
Jika berpatokan pada Yukihime, maka jawabannya adalah iya. Namun masih ada 3 orang numbers lain yang punya kekuatan setara atau bahkan diatas Yukihime.

The KidSNo OppAi :
Ok, ini sudah lanjut... Maaf kalau lama updatenya

Donquixote Tamao :
Thanks...

Hyuuhi Ga Ara :
Kapan scene NaruYukihime?
Tidak dalam waktu dekat, maaf...
Mungkin di akhir arc 4 atau awal arc 5 dimana bakal berfokus pada Yukihime itu sendiri


Bagaimana fanfic dari saya, semoga memuaskan anda selaku reader...
Overall, Shirokami Khudhory logout dulu...