"...mengerti?"

Minseok kembali melirik ke kaca, lalu mendapati Kyungsoo yang telah terlelap, begitu juga Yixing yang juga tertidur di sampingnya.

Ia tahu, ia adalah harapan terakhir sepasang sejoli ini.

"Aku mengerti."

Baekhyun menghela nafasnya puas, "Oh, syukurlah—"

"Mama! Mama! HUWEEEE!"

Dan tidak perlu ditanyakan, Minseok tahu siapa pemilik suara lucu nan menggemaskan itu.

"Ah, sayangku Taehyungie! Maafkan Mama, ya, sayang—aku putus ya, Seokkie! Fighting!"

"Ya—"

Minseok menghela nafasnya berkali-kali. Sinar matanya meredup, putus asa. Entah ia bisa melakukan rencana yang sudah disusun matang-matang oleh Jongin atau tidak.

Tapi, semoga saja, ia tak melakukan kesalahan.

Semoga...


.

.

.

.

Twelvelight Present's

.

.

.

Chapter ten: Krystal Jung

.

.

.

Kaisoo (GS)

.

.

Hope you all like it!

.

.

.


Minseok menghentikan mobilnya di dekat gedung pinggir kota yang sekarang ini terlihat sangat ramai. Yixing yang awalnya sedikit mengantuk pun, matanya langsung berbinar-binar melihat bagaimana aura seni yang menguar dari dalam sana. Teman Minseok ini, memang sangat mencintai seni, gedung yang di sewanya pun di hias sebagus mungkin agar menarik orang-orang masuk ke dalam. Seperti Kyungsoo, yang bahkan langsung berjalan masuk ke dalam dengan tatapan yang tak lepas dari lukisan di depan pintu masuk.

Lukisan yang sangat cantik, elegan, namun penuh misteri. Walaupun wanita—dalam posisi duduk agak serong ke kanan—di dalamnya terlihat tersenyum dengan ceria, dan bajunya yang sangat anggun, Kyungsoo dapat melihat ketakutan yang terpancar dari matanya. Hal itu yang membuat Kyungsoo cukup menyukai lukisan ini.

"Dia cantik, bukan begitu?" celetuk seorang wanita yang berada tepat di samping Kyungsoo. Kyungsoo tersentak kaget namun cukup ahli untuk menutupi keterkejutannya.

Wanita itu tersenyum, "Jessica Jung, kau?" ia mengulurkan tangannya, dan Kyungsoo menyambutnya dengan senyuman yang sangat hangat, "Kyungsoo Do."

Jessica mengangguk singkat dengan sinar wajah yang agak meredup. Kyungsoo tak terlalu menyadari perubahan raut wajah Jessica karena ia terlalu tertarik pada lukisan dihadapannya.

"Jes!" teriak Minseok dengan sangat nyaring. Membuat Kyungsoo kembali terkejut untuk kedua kalinya.

Jessica tertawa kecil melihat sahabat kecilnya berlarian ke arahnya dengan merentangkan kedua tangannya. Lalu memeluknya sembari menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri.

"Aku rindu sekali padamu, Jes~"

Jessica mengangguk, "Ya, aku juga, Seok-ie." Jessica mencubit pipi Minseok dengan gemas. Sedangkan Minseok hanya diam saja, menerima segala perbuatan Jessica pada pipinya sembari tersenyum kecil.

"Ah, ya. Kenalkan, ini sahabatku, Zhang Yixing. Dan yang di sebelahmu itu adalah Kyungsoo Do, kekasih Kim Jongin."

Jessica mengangguk sembari tersenyum kecil, "Aku sudah berkenalan dengannya tadi. Kau sangat beruntung mendapat lelaki sepertinya, Soo-ya." Kyungsoo tersipu, sedangkan Jessica menatap Kyungso sedih, namun tersamar dengan senyuman yang tercetak di belahan bibirnya.

Minseok berdeham kecil, "Umm—Jung, kau tidak ingin memperlihatkan beberapa lukisan karyamu pada kami?" celetuknya yang membuat Jessica tersadar dari lamunannya.

"Ah—Ah ya! Ayo silahkan masuk!"

.

.

.

Luhan menggigiti bibirnya dengan rasa khawatir bukan main. Matanya terus memandang ke arah layar ponselnya. Dimana tertera nama 'Baek~bodoh~Hyun' di pesannya.

Baek~bodoh~Hyun

Lu, semua aman terkendali. Kau tenang saja.

-06.13PM

Aku tidak bisaT.T Jongin itu ceroboh sekali, Byun!

Bagaimana jika Kyungsoo menolaknyaT.T

Rasa takut ini membunuhkuuTT_TT

-Me

Demi Tuhan, Xi Luhan!

-06.14PM

Kau dimana sekarang?

-06.14PM

Di rumah Sehun.

Kenapa memangnya?

-Me

Ah, pas sekali!

Aku ingat, di lantai dua rumahnya,

ada balkon, bukan?

-06.16PM

Ada apa memangnya?

-Me

Lu, coba kau pergi ke sana,

sekarang.

-06.16PM

Untuk apa?

-Me

Turuti saja apa yang aku katakan!

-06.17PM

Sudah.

-Me

Lompat.

-06.19PM

.

.

.

Jongin tampak sudah rapi kali ini. Namun, belum lengkap dengan jas hitamnya, karena ia ingin makan terlebih dahulu. Takutnya, nanti jasnya kotor dengan saus atau bumbu makanan yang lainnya.

Ia sekarang sedang duduk di dapur dengan sepiring daging yang dilahapnya penuh nafsu. Ia lapar bukan main. Sepanjang siang, Baekhyun membuatnya lelah sekali. Bahkan untuk memejamkan mata saja, Baekhyun sudah membentaknya dengan keras. Membuat matanya seperti Xiao—seekor panda China milik Luhan.

"Demi Tuhan, Jongin," seorang pria melangkah mendekatinya dengan mata yang menatapnya sengit. Jongin tak peduli, ia tetap meneruskan makanan malamnya.

Jongdae berteriak, "Kenapa aku harus terlibat di kisah cinta menjijikanmu ini?!" dengus Jongdae sembari menusuk daging lainnya di meja dengan garpu ditangannya. Lalu memakannya.

Sebagai informasi, Jongdae dipaksa datang ke sana untuk mengantarkan makanan yang Jongin pesan (karena Jongin kelelahan). Dan Jongdae terpaksa datang karena ia juga tidak ada kerjaan di Seoul.

Hanya saja, pria itu berakting seperti dia yang menjadi korban penyiksaan di sini.

Kali ini Jongin yang nampak tak terima, "Apa maksudmu menjijikan? Memangnya, aku ini cacing? Seharusnya, kau yang menjijikan. Dasar perjaka tua tidak tahu diri."

Alis Jongdae berkedut keras, "Apa kau bilang?! Kau seumuran denganku, keparat!"

Jongin mengangkat telunjuknya tepat di depan hidung Jongdae, "Ups! Aku lebih muda darimu 4 bulan."

"Kau lahir di awal tahun—"

"Lebih 14 hari." potong Jongin acuh tak acuh.

Jongdae nampak menahan kekesalannya yang telah berkumpul di ubun-ubunnya. Wajahnya menjadi merah marah karena Jongin yang memang selalu menang berargumen dengannya.

"Keparat sial." Bisik Jongdae sembari kembali memakan daging yang dibelinya dengan cepat. Berusaha menghilangkan kekesalannya dengan makan saja.

.

.

.

07:09PM, Busan.

Minseok, Yixing dan Kyungsoo tampak puas dengan apa yang mereka lihat di pameran lukisan barusan. Terlebih lagi, Yixing semangat sekali ingin membeli beberapa lukisan yang sangat ia sukai. Juga Kyungsoo dan Minseok, hanya saja, mereka tidak membeli sebanyak yang Yixing beli.

"Kau suka sekali dengan lukisan, ya, Xing. Aku baru tahu," celetuk Minseok yang dijawab dengan tawa renyahan Yixing. "Sebenarnya, ini bukan untukku." Ucap Yixing sembari menengok ke arah kanan dan kiri, melihat beberapa lukisan lagi yang mungkin saja ingin ia beli juga.

"Lalu untuk siapa, eonnie?" tanya Kyungsoo yang berjalan bersebelahan dengannya. Yixing tersenyum kecil, "Untuk anak panti asuhanku. Juga salah satunya untuk hiasan di rumah ibuku."

Lalu mereka akhirnya memutuskan untuk berjalan keluar untuk mencari udara segar di malam hari. Yixing memesan makanan ringan, begitu juga Minseok dan Kyungsoo.

"Ah.. tapi, bukankah ini.. terlalu banyak, Xing?" ucap Minseok, melanjutkan obrolan mereka di dalam tadi.

"Tidak. Tentu saja tidak, Seokkie. Menurutku, ini terlalu sedikit untukku. Tapi, aku berusaha juga untuk tidak membeli banyak-banyak." saat Minseok hendak bertanya lagi, ia mendapati ponselnya bergetar di saku celananya.

Baek Hyun

"Tunggu sebentar." ucap Minseok sebelum mengangkat telfon dari Baekhyun. Yixing mengangguk mengiyakan.

"Ya, Baek?" bisiknya.

"Hei, kau masih di pameran lukisan di Busan, 'kan? Chanyeol kebetulan ingin ke sana karena ada teman bisnisnya. Mungkin sebentar lagi sampai."

Tiba-tiba, Jessica datang dengan seorang perempuan cantik yang mengekor di belakangnya.

Kyungsoo mengernyit sembari berpikir. Ia merasa seperti pernah melihat wanita itu, namun ia lupa tepatnya dimana. Seperti sudah lama sekali.

Wanita itu menyapa Minseok terlebih dahulu. Lalu berjalan ke arahnya dan Yixing, setelahnya, membungkuk sopan di hadapan mereka.

Minseok melirik jam tangannya, lalu mengangguk. "Kutunggu. Kau bersama Chanyeol dan Tae?" tanya Minseok tanpa mengalihkan perhatiannya pada orang-orang di hadapannya.

"Of course, mana mungkin mereka kubuang di tengah jalan? Dan Tae akan bangun jika aku melepaskan gendonganku. Anak ini baru saja tertidur sejam yang lalu."

Minseok menjerit dalam hati, "Pasti lucu sekali~ aku ingin mencubit pipinya itu~" gemas Minseok sembari mencubit-cubit pahanya yang dibalut jeans.

"Jung Soojung. Kalian juga bisa memanggilku Krystal Jung. Salam kenal." Senyumnya melebar. Membuatnya kian terlihat cantik.

"Jangan, bodoh. Dia—apa? Aku seperti mendengar seseorang berucap, Krystal Jung, Seok-ie? Cepat katakan, kalau aku salah dengar!" Minseok mengerutkan dahinya. "Kau tidak salah dengar. Memang di sini ada yang bernama Krystal Jung. Dia baru saja datang," bisiknya.

Yixing tersenyum, lalu juga memperkenalkan dirinya juga. Tetapi, pada saat giliran Kyungsoo yang mengenalkan dirinya, Krystal lebih dulu memotongnya.

"TAHAN ULAR ITU, MINSEOK! JANGAN DENGAR APA YANG DIKATAKANNYA!" bentak Baekhyun membuat Minseok berkedip terkejut dan menegakkan tubuhnya. "Apa maksudmu—"

Krystal tetap tersenyum ramah. "Dan kau pasti Kyungsoo Do, kekasih Kim Jongin, bukan?" Kyungsoo mengangguk dengan tersenyum tipis. "Ya, benar."

Krystal menyeringai tipis. Namun sayangnya seringaiannya itu tidak terlalu diperhatikan oleh orang-orang disekitarnya itu.

"Perkenalkan, aku adalah mantan kekasih tercinta-nya."

Kyungsoo terpaku.

"A-apa?" ucap Yixing dengan mata yang membulat.

Minseok melepaskan ponselnya secara tak sadar.

Baekhyun berteriak di tempatnya.

"BANGSAT!"

Lalu ia memutuskan sambungan telfonnya sepihak.

.

.

.

"CHANYEOL BODOH! LEBIH CEPATTTT!"

Chanyeol meringis saat Baekhyun mencubit pinggangnya, "Sabar, sayang! Ini macet! Memangnya mobil kita bisa terbang?"

"AH ASTAGA! KENAPA TIBA-TIBA MACET?" ia menjambak rambutnya keras-keras.

Dan tentu saja membuat Taehyung terbangun.

.

.

.

"Dasar Baekhyun sialan!" umpat Luhan sembari menghentak-hentakkan kedua kakinya dengan kesal. Tak menyadari bahwa seseorang sedang memperhatikan gerak-geriknya di lantai satu dengan pandangan geli.

Sehun tertawa kecil, "Hei, tuan Putri! Sedang apa kau disana?" Luhan tersentak kaget. Lalu memandang ke arah bawah, dimana Sehun sedang berdiri dengan kedua tangan di saku celana dan memandangnya geli.

"Sialan! Jangan meledekku! Aku sedang kesal!" bibirnya ia cebikkan. Membuat Sehun tertawa keras-keras. "Ahh~ imut sekali kau, tuan Putri!"

"Kubilang jangan meledekku! Dasar bodoh!" bentak Luhan kembali. Sedangkan Sehun menutup mulutnya rapat-rapat dengan raut wajah menahan tawa.

Beberapa saat penuh keheningan. Mereka hanya saling bertatap mata, tak ada yang berniat satupun.

Luhan pun berucap, "Hei, Hun-ah,"

"Hm,"

"Ayo pergi sekarang."

Alis Sehun bertaut, "Kemana, sayang?"

Luhan menghela nafas, "Jongin."

Sehun nampak berfikir sebentar. Lalu matanya membulat dengan jari yang dipetikkan. "Ah, ya! Aku lupa! Ayo pergi!" Sehun segera masuk ke dalam rumah, untuk mengambil kunci mobilnya. Sedangkan Luhan menggeleng tak percaya.

"Aku tak percaya, aku akan menikahi seorang pelupa akut sepertinya." Ia tertawa, "Jangan sampai saja, ia lupa jika sudah punya istri nanti."

.

.

.

"—aku mencintaimu."

"Sebenarnya, semenjak kau—"

"Kau selalu terlihat cantik di mataku—"

Jongdae mengangkat kedua tangannya saat Jongin berjalan lurus ke arahnya dengan tatapan memuja. Ia panik, "Bro—"

"—Maukah menikah denganku?"

"HELL NO!" bentak Jongdae dengan keras. Sampai suara nyaringnya bergema keluar.

Jongin berdecih, "Dasar sinting, memangnya aku sedang melamarmu?!" delik Jongin sembari merapihkan kembali tataan rambut dan dasinya. Jongdae yang dibelakangnya pun hanya berpangku tangan.

"Kau tadi melamarku."

Jongin memutar bola matanya malas, "Aku hanya sedang latihan, keparat. Aku anggap kau adalah Kyungsoo. Kau ini memang sudah gila, ya?" Jongdae tertawa. "Hanya bercanda. Baperan sekali, sih."

Untuk kesekian kalinya, Jongin menggerutu. Kerabat-kerabatnya memang sangat tak berguna di kondisi seperti ini. Hanya bisa membuatnya kesal, lelah dan emosi. Tidak dengan Baekhyun, apalagi Jongdae. Kedua orang itu bisanya hanya membuatnya pusing. Tetapi, ia tetap memerlukan peran kedua orang idiot itu di dekatnya karena mereka juga adalah orang terdekatnya.

"Hei, Jongtan—"

"Sekali lagi kau memanggilku seperti itu, aku akan patahkan lehermu , dan memberikannya pada Xiao." Ancam Jongin yang tampak tak dihiraukan oleh Jongdae.

"Xiao vegetarian, bodoh. Semenjak kapan, seekor panda memakan daging? Kau itu tidak lulus sekolah dasar, ya?" ledek Jongdae. Yang kali ini membuat Jongin kembali kesal.

Jongin menggeram, "Demi Tuhan, Jongdae. Sekali lagi kau membuatku pusing, kau akan melihat bagaimana rontoknya semua rambutku dihadapanmu dan juga bebek mainan di kamar mandimu."

"Wow, Jane pasti akan terhibur."

Jane adalah nama boneka bebek yang selalu berada di kamar mandi seorang Kim Jongdae.

Ya. Bebeknya adalah mainan karet.

"KIM JONGDAE!"

"Iya, iya, maaf. Kau sensitif sekali sih, Jong." Keluh Jongdae yang masih menahan tawanya. "Sebentar lagi kau menjadi seorang Kepala Keluarga, lho."

"Belum."

"Akan." Celetuknya, "Kyungsoo pasti menerimamu. Tak mungkin dia menolak seorang Kim Jongin."

Jongin tampak bersemangat kembali, "Tapi, bagaimana kalau dia menolakku?"

Jongdae mengendikkan bahunya tak acuh, "Berarti, semua indra miliknya tak ada gunanya lagi."

Mereka berdua tertawa.

Jongdae memandang penampilan Jongin dari atas ke bawah, "Jong, sepertinya aku harus merubah konsepmu ini. Kau terlihat seperti—"

"Pangeran?"

"—ahjussi mesum."

Jongin cemberut, "Yang benar saja, ini ide dari Baekhyun noona." Ucapnya sembari berkaca kembali.

"Kau meminta pada orang yang salah. Dia wanita yang kolot. Pantas saja penampilan Chanyeol begitu-begitu saja. Pasti, kalau di model sedikit, penampilannya akan tampak seperti anak muda kekinian." Celetuknya yang dibenarkan oleh Jongin di dalam hati.

"Tapi, nanti para wanita akan berteriak untuknya, bukan untuk seorang Kim Jongdae lagi." ejek Jongin.

Jongdae menatap Jongin takjub, "Kau benar juga! Wah, kau juga sudah mengakui ketampananku yang melebihi Brad Pitt ini ya, Jong?" Jongin mendelik jijik.

"Menjijikan."

Jongdae mengabaikan ucapan Jongin, "Ah, ya! Kembali ke topik awal.

Kau harus pergi ke kamarmu sekarang, dan berkacalah sebentar di sana. Aku akan mengambil beberapa pakaian kebanggaanku di mobil." Jongdae berbalik, hendak mengambil kunci mobilnya dan pergi ke arah garasi.

"Hei, pakaianmu itu bersih, kan?"

"Jangan samakan aku dengan kebiasaan kotormu ya, sialan. Aku pecinta kebersihan." Lalu ia bergegas keluar dari sana.

Jongin menggerutu, "Dasar pecinta bebek." Lalu ia melangkahkan kakinya ke lantai atas.

.

.

.

Minseok dan Yixing masih melongo pada ucapan Krystal. Sedangkan Kyungsoo hanya terpaku di tempatnya karena Jongin tak pernah menceritakan tentang mantan-mantan kekasihnya padanya.

Minseok berkedip dua kali, "Wow. Mengejutkan sekali, Krys. Maaf saja, karena, Jongin bahkan tak pernah mengatakan pada kami kalau ia berpacaran sebelumnya." Krystal terlihat tersenyum sedih. Sedangkan Jessica menggenggam tangan adiknya yang hanya dibalas senyuman singkat.

"Aku tak terkejut pada ucapanmu, eonnie. Aku juga tahu alasan Jongin tak pernah menceritakan tentangku pada sahabat-sahabatnya. Karena, sebelum ia akan mengenalkanku pada kalian, ia ingin mengenalkanku pada kedua orang tuanya terlebih dahulu." Yixing tambah membulatkan kedua matanya, "Wah. Gentleman."

Krystal tersenyum tipis, "Ya. Tapi kami tidak direstui oleh orang tuanya. Bibi Kim mengancamku, dan ayahku juga tidak merestui kami karena perbedaan kondisi aku dan dia." Ia memberi jeda sebentar untuk menatap Kyungsoo, "Jongin meyakinkanku kalau itu bukanlah apa-apa untuknya. Tetapi, ancaman selalu datang ke rumahku dan aku pun memutuskan untuk meninggalkannya. Jongin menolak, tetapi aku bersikeras. Akhirnya, aku menemukan sebuah rencana agar Jongin memutuskan hubungan kami." Air matanya menetes. Membuat Kyungsoo, Minseok dan Yixing tersentak.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Kyungsoo.

Krystal menghapus air matanya, "Aku mulai bermain ke bar, aku berkumpul di kumpulan yang banyak pria. Lalu, aku—" ia tersedu, "—aku menyelingkuhinya." dan akhirnya, tangisannya meledak. Membuat Kyungsoo memeluknya secara refleks. Karena Kyungsoo merasa iba padanya juga turut sedih untuk hubungan mereka.

"A-aku minta ma-maaf... aku melakukan-kannya dengan terpaksa..." ia menghapus air matanya dengan sapu tangan milik Jessica yang baru saja diberikan padanya. Lalu menatap Kyungsoo dengan mata yang berlinang air mata.

"Aku mencintainya." tambahnya.

Minseok, Yixing dan Jessica terkejut pada ucapannya. Jessica menatap adiknya dengan mata yang membulat. Tetapi tidak pada Kyungsoo. Ia hanya tersenyum, sembari mengelus pundak Krystal pelan.

"Soojung," panggil Kyungsoo dengan suara gemetar tertahan.

"Aku akan merelakannya padamu, asal kau—"

Krystal menyeringai dalam ketertundukkannya.

"—berjanji padaku untuk tidak melukainya lagi?"

Minseok tersedak.

Yixing limbung.

Jessica mencengkram lengan atas Krystal kuat-kuat.

"APA YANG BARU SAJA KAU KATAKAN PADA ULAR SINTING ITU, DO KYUNGSOO!"

Dan Baekhyun baru saja tiba di sana.

Bersama dengan Chanyeol dibelakangnya dengan wajah geram.

.

.

.

.


To Be Continued.


.

.

.

.