Hai hai~!

Fro balik lagi nih, pertama-tama fro ingin meminta maaf untuk keterlambatan ini, hontou ni gomenne minna-san *bow*

Dalam tiga minggu ini, fro memang tidak sempat menulis karena beberapa alasan

1. pindahan kos, fro harus memindah2 barang, dan mengurus ini itu bla bla bla lain yang merepotkan

2. kegiatan organisasi di akhir minggu yang tidak bisa fro hindari

3. setiap minggu fro harus mengerjakan laporan kuliah

4. fro sempat sakit dalam beberapa hari kemarin

5. fro hanya punya waktu untuk menulis ketika malam hari dan weekend, itu pun kalau tidak ada kegiatan organisasi

karena itu mohon dimaklumi akan keterlambatan ini, gomenne minacchi *bow*

Warning : chapter ini di bagi menjadi dua part, sehingga surprise nya pun terpaksa di bagi dua

Disclaimer : Naruto itu punya Masashi Kishimoto

Well, then, enjoy reading :3


Chapter 11. Reunion Part One...


Beribu-ribu tahun yang lalu, terjadi perang besar antara demon dan monster. Ribuan bahkan ratusan ribu korban berjatuhan akibat perang. Baik demon maupun monster mengalami kerugian yang sangat kolosal, namun tak ada satu pun dari mereka mau mengaku kalah dan menyudahi perang itu. Perang yang entah sudah dilupakan penyebabnya itu berlangsung selama bertahun-tahun. Memang, sejak awal demon dan monster tak pernah akur sekalipun, hingga akhirnya salah satu masalah meledak menjadi perang besar.

Perang itu semakin menjadi dan meluas, bahkan mengancam kepunahan dua makhluk berbeda spesies itu. Namun, baik demon ataupun monster, mereka sama-sama memiliki kekeras kepalaan dan harga diri yang sangat tinggi, tak satu pun dari mereka terlihat ingin menyerah bahkan jika harus memusnahkan seluruh makhluk hidup di dunia. Sampai akhirnya, langit pun menjadi marah, mengirimkan sembilan makhluk kuat untuk menghentikan perang yang hanya akan berakhir sia-sia itu. Sembilan makhluk berukuran raksasa yang tak bisa dikatakan sebagai monster atau pun demon.

Mereka memiliki kekuatan sangat bervariasi dengan jumlah ekor yang berbeda-beda. Makhluk dengan ekor satu dikenal sebagai Ichibi, ekor dua disebut Nibi, lalu ekor tiga dipanggil Sanbi, dan lalu seterusnya disebut Yonbi, Gobi, Rokubi, Nanabi, Hachibi, dan yang terkuat dari yang terkuat yaitu makhluk berekor sembilan dinamakan Kyuubi.

Perang besar antara demon dan monster berhasil dihentikan oleh kekuatan luar biasa dari sembilan makhluk berekor. Untuk menjaga kedamaian dan ketenangan antara kedua spesies, yaitu demon dan monster, serta mencegah terjadinya perang besar kedua, sembilan makhluk itu ditempatkan di sembilan wilayah berbeda yang ada di seluruh penjuru dunia. Menjadi penjaga sekaligus pelindung wilayah disana. Sampai sekarang, kebencian antara demon dan monster masih melekat, namun berkat sembilan makhluk itu, tidak terjadi perang besar antar keduanya.

Cerita itu terjadi beribu-ribu tahun yang lalu. Meskipun begitu, baik demon maupun monster masih percaya akan keberadaan sembilan makhluk berekor yang melindungi mereka. Walaupun tak pernah sekalipun mereka melihat ataupun merasakan keberadaan dan kekuatan para makhluk berekor.

Sekarang, sembilan makhluk berekor itu disebut sebagai Dewa Pelindung, namun ada juga menyebutnya sebagai Penunggu Wilayah, Penjaga Wilayah, Dewa Penjaga dan lain sebagainya. Namun dari sekian banyaknya nama sebutan, yang paling sering digunakan untuk memanggil sembilan makhluk itu adalah para makhluk...Demon Beast.

.

.

.

.

.

.

"Yo! Sensei!" Naruto menyeringai senang memberi hormat dua jari.

Itachi menatap lebar pada Naruto dan rubah berukuran raksasa di hadapannya secara bergantian. Rasa shok menyelimuti seluruh pikirannya.

Sensei?!

Dia bilang sensei?!

Naruto baru saja memanggilnya 'Sensei'?! Rubah raksasa ini?!

Rubah yang dimaksud itu mendengus malas, lalu menggerakan tubuhnya untuk berbaring dengan kedua tangannya sebagai bantalan. Dia menguap dengan malasnya, hendak memejamkan matanya kembali saat Naruto meneriakinya.

"Oi, oi, Kuchan, muridmu baru saja kembali, dan kau malah tidur lagi?!" ucap Naruto mencibir.

"Tunggu, Naruto, dia benar-benar gurumu?!" tuntut Itachi masih tidak percaya.

"Apa maumu bocah?" rubah merah itu berkata, menyela tiba-tiba perkataan Itachi. Tubuhnya yang berukuran raksasa, membuat suaranya terdengar seperti geraman yang sangat keras.

Belum sempat menjawab, Naruto sedikit tersentak saat Itachi tiba-tiba berdiri di depannya dan memasang posisi waspada melindungi sang tuan.

"Siapa kau sebenarnya?!" tanya Itachi menatap curiga pada makhluk raksasa didepannya, kedua tangannya bersiap menarik pedang yang ada dipinggangnya kapanpun.

Sang rubah merah menyeringai, mempertontonkan deretan gigi besar dan tajam. "Lancang sekali." rubah itu mendengus. "Apa kau berniat menantangku, pemuda?" ucapnya lagi dengan seringai meremehkan. "Kenalkan dirimu dulu, sebelum menanyaiku, dan lepas pedangmu itu. Kau mau menyerangku hah?" ucapnya lagi membuat Itachi menyipitkan matanya.

Melihat ketegangan diantara Itachi dan gurunya, Naruto hendak membuka mulut, namun terhenti saat teringat sesuatu. Ia pun memutusku untuk diam dan memperhatikan keduanya.

"Jadi?" rubah merah itu menyeringai.

Itachi mengeratkan kepalannya pada gagang pedang. "Namaku Itachi dari klan Uchiha. Siapa kau sebenarnya dan apa hubunganmu dengan Naruto?"

Bukannya jawaban, yang ia dapat malah sebuah kekehan keras. "Itachi?" rubah merah itu mengulanginya dengan masih terkekeh. "Oi, bocah, kau bilang dia sudah mati." ucap rubah itu tiba-tiba melirik ke arah Naruto.

"Itu...sesuatu...terjadi.." jawab Naruto dengan mengalihkan matanya. Namun sang rubah bisa melihat emosi sedih sekaligus marah yang sekilas muncul di manik shappire.

Tak berkata apapun, rubah itu kembali melirik Itachi. Ia mendengus pelan. "Tsk. Jadi kau si bodyguard kecil itu huh?" ucapnya memperhatikan seksama penampilan Itachi, membuat pemuda raven itu sedikit bergidik di hadapan tatapan tajam bola mata merah sang rubah.

"Kesatria berbeda dengan bodyguard!" potong Naruto tidak setuju.

"Heh, tugas mereka sama saja." balas rubah itu lagi.

"Tunggu! Kau belum menjawab pertanyaanku!" sela Itachi kesal, merasa tertinggal dengan obrolan guru-murid yang tidak ia mengerti.

Sang rubah pun terkekeh. "Ah...benar." ia melirik ke arah Itachi kembali. "Aku adalah penjaga wilayah ini. Orang-orang sering menyebutku sebagai hmm…Dewa Pelindung?" ucapnya dengan sebuah seringai menghiasi moncong bergigi tajamnya.

"Penjaga...wilayah..?" Itachi mengulanginya pelan, dan dua onyx-nya pun terbelalak lebar saat akhirnya ia menyadari sesuatu.

"Kau bisa berbicara seperti kami….tak ada monster yang berbahasa seperti demon! K-kau—!" Itachi terbelalak lebar.

"—tidak mungkin kau adalah—!" ia meneguk ludah, melirik ke arah sembilan ekor panjang yang terpampang jelas di belakang sang rubah merah. "—salah satu dari demon beast, Kyuubi?!" lanjutnya mempererat genggamannya pada gagang pedang.

"Sudah lama tak ada yang memanggilku seperti itu." Rubah besar itu terkekeh keras, membuat Itachi semakin terkejut mendengarnya.

Pemuda raven itu melirik ke belakang, dimana Naruto berdiri di balik punggungnya. "Naruto, dia...benar-benar gurumu?!" Itachi menyuarakan rasa shoknya.

"Err.. yeah, kau tidak perlu mewaspadainya, 'Tachi." balas Naruto mengusap tengkuk lehernya.

"Benarkah?!" Itachi berkata masih shok. Ia mengeratkan genggamannya pada pedang sebelum akhirnya memaksakan diri melepas posisi siaga bertarungnya. Ia pun melepas genggamannya, dan menoleh kembali ke arah makhluk raksasa dihadapannya. "Maafkan kelancanganku. Tak kusangka akan bertemu dengan salah satu demon beast di tempat seperti ini, apalagi bertemu dengan.." Itachi menelan ludah, melirik ke arah sembilan ekor besar berwarna merah. "...yang terkuat dari seluruh demon beast..."

Rubah merah yang dipanggil 'Kyuubi' itu terkekeh keras, membuat gema tawa seram yang memantul disana-sini pada dinding goa.

"Tsk, berhenti menakutinya, Kurama! Itachi sudah seperti kakakku. Ubah tubuhmu menjadi kecil, suaramu itu terlalu keras dan menyeramkan." ucap Naruto memutar bola matanya, mengorek tidak nyaman telinga kanannya dengan jari kelingking.

"Berisik, bocah." ucap sang rubah sebelum—WUSSH!—sesuatu yang sangat cepat menyambar ke arah Naruto.

Pemuda pirang itu tersentak kaget saat tubuhnya tiba-tiba dibanting keras ke belakang oleh sesuatu berwarna merah. Ia terbatuk kesakitan, namun dengan tubuhnya yang cekatan, ia berhasil memutar tubuhnya di udara, dan mendaratkan kakinya dengan mulus.

"Cara lama tidak akan membuatku terluka." ucap Naruto dengan seringai puas, mengusap peluh di bibirnya.

"Tsk, bocah sombong." balas sang rubah juga dengan seringai, mengibaskan ekor panjangnya dengan angkuh.

Itachi mengerjap akan serangan tiba-tiba barusan, sebelum menyipitkan matanya. Sepertinya pemuda raven ini masih belum percaya sepenuhnya pada makhluk raksasa dihadapannya.

"Naruto, kau baik-baik saja?!" tanyanya khawatir, dengan segera menghampiri sang pirang.

"Nah, yang barusan hanya main-main." balas Naruto mengibaskan tangannya enteng. "Lihat, Ku-chan, kau membuatnya khawatir. Sudah kubilang tubuhmu itu terlalu menyeramkan." Naruto tersenyum mengejek.

Sang rubah hanya tersenyum cuek, lalu merubah tubuhnya. Cahaya kemerahan menyelimuti tubuhnya sebelum sedikit demi sedikit tubuh raksasa itu menyusut kecil.

Itachi menatap lebar akan perubahan drastis yang terjadi pada tubuh rubah raksasa di depannya. Tubuh yang mungkin hampir mencapai dua puluh meter itu sedikit demi sedikit mengecil menjadi berukuran seperti demon dewasa pada umumnya, sebelum kemudian tubuh berkaki empat itu mulai berdiri di atas dua kaki, menjadi tegap tinggi seperti seorang pemuda yang memiliki tinggi sekitar 190 cm atau lebih. Bulu merah keorenan lebat yang menyelimuti seluruh tubuh sang rubah dengan perlahan mulai lenyap digantikan dengan kulit tan, dengan sebagian berkumpul dan berubah seperti layaknya sebuah pakaian yang menutupi tubuh. Sebuah celana berwarna hitam pun terbentuk menutupi tubuh bagian bawah, sedang bagian atas dengan sangat elegan dihiasi oleh sebuah mantel bulu tebal berwarna merah. Ekor sembilan yang tadinya bergerilya aktif di belakang tubuhnya kini dengan perlahan mengecil sebelum lenyap sepenuhnya. Cakar tajam digantikan dengan jari-jari panjang yang terlihat halus. Moncong dengan gigi runcing dan tajam berubah menjadi rahang kokoh. Wajah rubah yang tadinya terlihat seram kini berubah menjadi wajah tampan dengan pahatan sempurna yang membuat siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona pada pandangan pertama. Bulu yang tersisa di sekitar kepalanya memanjang menjadi helaian rambut merah keorenan yang sangat indah, mencapai pinggang dengan bagian bawah yang sedikit wavy.

Sang rubah—bukan, melainkan seorang pemuda yang tadinya merupakan seekor rubah raksasa itu menepuk-nepuk mantel tebalnya, lalu menerawang memperhatikan penampilannya sendiri. "hmm not bad." terdengar gumaman lirih dari sang pemuda sebelum ia berjalan ke belakang menuju sebuah bebatuan yang mirip seperti sebuah kursi menempel pada dinding goa. Dengan angkuhnya ia duduk disana, menyilangkan kedua kakinya di depan. Surai merah panjang di belakang punggungnya ikut tersibak indah mengikuti gerakannya. Ia menyenderkan tubuhnya, meletakan siku tangan kanannya pada tumpuan yang ada di sisi kursi, menjadikan kursi yang terbuat dari batu itu menjadi terlihat seperti sebuah kursi singgasana. Sang rubah—sang pemuda dengan surai merah panjang itu menyenderkan kepalanya pada tangan kanan, sebelum melirikkan dua manik ruby miliknya pada dua demon muda di depannya. Terlihat santai namun penuh kuasa dan berkarisma, seperti itulah aura yang ditunjukan pemuda bersurai merah itu.

"Jadi?" ia berkata dengan sebuah seringai terlukis di bibirnya, menjadikan wajah tampan miliknya terlihat sexy.

Itachi mengerjap, mengedipkan matanya berulang kali seakan tak percaya dengan yang dilihatnya. Ia melirik sekali lagi pada pemuda itu, dengan tak sengaja bertabrakan dengan tatapan dua manik ruby. Tiba-tiba ia merasa terkunci, dua bola mata yang tadinya sangat besar kini menjadi dua manik kecil yang menyala merah, dan itu sangat….indah.

"Gee, berubah lagi? Kali ini penampilan siapa yang kau tiru?" Naruto mendengus heran, berjalan mendekat pada gurunya. Itachi pun terbangun dari lamunannya, sebelum mengikuti Naruto.

"Aku tidak meniru siapapun, bocah. Aku hanya suka bulu merahku yang indah masih terlihat. Bukankah rambut panjang cocok untukku." Balas sang guru dengan tersenyum angkuh, memainkan surai merah panjangnya.

Naruto pun memutar bola matanya, terlalu terbiasa dengan sikap sombong sang rubah. "Well, kurasa akan lebih baik jika aku mengulangi perkenalannya. Ku, ini Uchiha Itachi, dia adalah kesatria-ku, aku yakin kau pasti ingat yang sudah kuceritakan padamu. Itachi, ini guruku Ku—err….kurasa kau bisa memanggilnya Kyuub—"

"Kurama." Pemuda dengan julukan 'Kyuubi' itu tiba-tiba menyela kalimat Naruto, membuat pemuda pirang itu memandangnya terkejut.

Kurama hanya tersenyum kecil membalas tatapan terkejut dari muridnya, sebelum menatap langsung ke arah Itachi. "Naruto mempercayaimu sebagai kesatria-nya, karena itu aku tak keberatan jika kau memanggil namaku." Ucapnya, mengubah senyum kecil di bibirnya menjadi seringai tipis.

Itachi tak menjawab, hanya balas menatap dua manik ruby di depannya. Ia merasa…aneh. Sesuatu seperti sedang menggelitik perutnya ketika pemuda bersurai merah itu menatapnya. Wajahnya tiba-tiba seperti terasa panas. Tidak mungkin ia tiba-tiba merasa spesial karena diperbolehkan memanggil sang demon beast dengan namanya, 'kan? Ia bahkan tak tahu jika para demon beast punya nama masing-masing, dan salah satunya adalah guru Naruto, dan tentu saja Naruto pasti tahu, uh maksudnya...mereka adalah guru dan murid, dan dia hanya—uh, sial, kenapa dia jadi berpikir kacau seperti ini.

Itachi berdehem pelan, memulihkan kembali kewarasannya. "Boleh aku tanya sesuatu?" ucapnya bersikap senormal mungkin. "Penampilanmu…maksudku, apa itu wujudmu yang sebenarnya?" tanyanya melirik penampilan pemuda bersurai merah di hadapannya.

"Hm?" Kurama menaikkan alisnya. "Ah…ini hanya tubuh buatanku, kau sudah melihat wujudku yang sebenarnya ketika pertama kali melihatku."

"Oh." Itachi tiba-tiba kehilangan suara.

"Kami berbeda dengan kalian, para demon, tapi juga bukan salah satu dari monster. Bukan demon ataupun monster, namun kami mampu berbicara seperti demon dan monster, mampu merubah tubuh kami seperti demon dan monster. Karena itu kami dipilih untuk menjadi penjaga ketenangan dunia ini." Terang Kurama dengan sedikit malas.

"Kami? Maksudmu para demon beast?"

Kurama hanya mengedikkan bahunya. "Kurasa sudah cukup basa-basinya…" ia berkata malas, sebelum melirik tajam ke arah Naruto. "Jadi bocah, apa yang kau lakukan disini?" ucapnya menatap dingin pada sang murid.

Naruto menelan ludah. "I-itu, well…" ia menggaruk tengkuk lehernya canggung.

"Jangan katakan apapun selain jika kau kemari karena sudah berhasil menyelesaikan misi balas dendammu, bocah." ancam Kurama berkata dingin.

Naruto membuka mulutnya, namun tak berhasil mengeluarkan suara. Dia pun menutupnya erat, dan memalingkan tatapannya. "Uh…"

Melihat itu, Kurama pun menghela napas. "Apa yang terjadi?" ucapnya kini lebih pelan.

"Well…" Naruto mengawali kalimatnya dengan bingung. "Ada banyak hal yang terjadi di luar rencanaku…" ia menghela napas.

"Jelaskan." perintah Kurama menuntut.

Naruto pun akhirnya menceritakan segala hal yang sudah terjadi padanya sejak pertama kali datang ke istana sampai ia menemukan Itachi, dan tentu saja, minus hal-hal yang berhubungan dengan Sasuke, apalagi tentang dirinya yang menjadikan sang raven sebagai submissive-nya..

"Tunggu, ada satu hal yang tak ku mengerti." Sela Itachi yang juga ikut mendengarkan cerita Naruto. "Bagaimana cara Danzo bisa menjebakmu di saat-saat terakhir? Ku pikir tak ada yang tahu rencanamu? Bukankah kau hanya sendirian? Dari ceritamu, kau tidak bergabung dengan Tsunade, itu berarti kau tidak memberitahu mereka rencanamu."

"Itu…" Naruto menahan rasa panik untuk keluar dari ekspresi wajahnya. "Yah…kurasa itu adalah kesalahanku…" ia mengaku.

Kurama mengernyitkan alisnya. "Bagaimana bisa itu salahmu?"

"Well, kita bisa menganggapnya karena kecerobohanku, seseorang menjadi tahu rencanaku dan membocorkannya pada Danzo." Ucap Naruto mengalihkan pandangannya dari Kurama.

Kurama menyipitkan matanya, menatap curiga pada muridnya. "Kau menyembunyikan sesuatu, bocah." selidiknya tak percaya.

Naruto menggigit bibirnya, masih mengalihkan pandangannya dari dua orang pemuda yang menatapnya serius. "Uh…arrgh fine!" ia menggeram kesal. "Akan kuceritakan semuanya." Ia menghela napas pasrah.

"Seharusnya kau melakukan itu dari awal." Ejek Kurama yang langsung mendapat delikan tajam dari sang murid.

"Aku hanya akan menceritakan intinya saja." Naruto menghela napas lagi. "Sasuke membantuku dalam rencana melawan Danzo."

"Tunggu, kau tidak bilang kau dekat dengan Sasuke!" sela Itachi lagi, merasa ingin protes saat tahu ternyata adiknya bersama Naruto.

"Aku tidak dekat dengannya! Maksudku—ah damnnn it." Ia menghela napas lagi. Sial. Sudah berapa kali ia menghela napas sekarang?!

"Dengar, aku hanya akan menceritakan intinya. Awalnya aku memang tak ingin melibatkan Sasuke, tapi yah.. dia tak sengaja melihatku membunuh salah satu Anbu Ne. Karena itu aku terpaksa menjadikannya sebagai submissive-ku agar dia tak bisa melawanku. Aku—

"Kau menjadikannya submissive?!" Itachi lagi-lagi menyelanya, tapi kali ini karena memang ia benar-benar terkejut, dua onyxnya menatap tak percaya pada Naruto.

"Itu—aku terpaksa oke? Aku baru saja membunuh salah satu kesatria raja! Sebagai putra mahkota, Sasuke merupakan ancaman untukku. Lagipula sekarang aku sudah melepas tandanya!" Naruto menambah kalimat terakhir saat melihat Itachi menyipitkan mata ke arahnya.

"Jadi, inti cerita, bocah putra mahkota itu pura-pura menurut padamu, menipumu agar kau mau menceritakan rencanamu, lalu menghianatimu dan membocorkan rencanamu pada Danzo di saat-saat terakhir, huh?" Kurama mendengus jijik saat melihat ekspresi terluka terlihat jelas di wajah Naruto ketika mendengar perkataannya.

"Sasuke tidak mungkin melakukan hal itu!" desis Itachi marah saat mendengar Kurama menjelek-jelekkan adiknya.

"Huh, bukankah sudah jelas? Siapa lagi yang bisa membocorkannya pada Danzo selain Sasuke? Dia—

"Itu salahku." Naruto tiba-tiba berkata memotong pembicaraan mereka. "Sasuke…dia tak bersalah…sejak awal itu adalah salahku." Ia berkata datar, meskipun ekspresi sedih terlihat jelas dalam manik shappire, membuatnya dua langit biru itu menjadi redup.

"Apa maksudmu, bocah?" Kurama berkata lagi tidak suka. "Jelas sekali kalau bocah itu sudah menipumu, dia—

"Kau tidak mengerti, Ku." Naruto menghela napas. "Sasuke…tak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam kerajaan. Dia bahkan tak tahu jika Danzo lah yang sudah membunuh seluruh anggota kerajaan sebelas tahun yang lalu. Dia menyalahkanku karena mengira keluarganya sudah di bunuh oleh ayahku. Karena itu saat tahu identitasku yang sebenarnya, ia menjadi membenciku, bahkan berbalik melawanku. Ini salahku karena sudah melibatkannya meskipun tahu akan jadi seperti ini."

Baik Kurama maupun Itachi pun menjadi terdiam mendengar penjelasan itu. Mereka tak tahu harus merespon apa saat melihat kesedihan yang terlihat jelas di balik shappire.

"Kau menyukainya…" ucap Kurama tiba-tiba memecahkan keheningan di antara mereka.

Itachi sedikit terkejut saat mendengar kalimat itu, ia melirik cepat pada Kurama, lalu menoleh pada Naruto yang terlihat masih terdiam.

"Kau menyukai bocah itu, Naruto." Kurama mengulangi kalimatnya, dengan mudah ia bisa melihat perubahan ekspresi wajah muridnya.

Naruto mengatupkan bibirnya erat, menatap langsung pada gurunya. Mereka seperti berbicara lewat tatapan itu, sebelum akhirnya Naruto memalingkan wajahnya. "Itu…tidak penting…" ia bergumam lirih. "Baik aku menyukainya atau tidak, itu sudah tidak penting…" ia berkata lebih keras. "Karena sekarang ia… sudah membenciku…"

.

.

.

.

.

.

Trang!

Makhluk itu bergerak sangat cepat menghindar lalu meloncat mundur, sebelum menerjang lagi dengan gerakan kilat. Sasuke pun tanpa menurunkan pertahanannya kembali menangkis dan menyerang. Samar-samar ia melihat sesuatu berwarna hijau dan biru. Ia terbelalak saat dari berbagai arah bermunculan monster yang sepertinya sama dengan yang sedang ia serang. Shikamaru dan Kiba pun dengan cepat memasang posisi bertarung, berdiri tepat di belakang Sasuke, sehingga mereka saling melindungi.

Monster-monster itu mulai berdatangan lalu berkumpul mengelilingi mereka. Sekarang Sasuke bisa dengan jelas melihat monster-monster berukuran kecil itu.

"Goblin?!" ucapnya terbelalak menyadari posisi mereka yang sekarang terkepung.

Monster berwarna hijau biru itu berukuran cebol, hanya setinggi sekitar satu meter atau lebih. Berkepala bulat dan berbadan kurus, dengan berbagai macam senjata yang berbeda-beda, digenggam oleh tiap monster. Mereka bisa bergerak sangat cepat dan lihai menggunakan berbagai senjata.

"Fuck! Sudah kuduga akan jadi seperti ini! Apa yang harus kita lakukan!" Kiba berteriak panik.

"Diamlah Kiba." Sasuke mendesis, sebelum menerjang maju menangkis serangan salah satu goblin yang hendak menyerangnya.

Benturan senjata pun terjadi di antara mereka. Sasuke menangkis palu yang mengarah ke arahnya dengan pedang, lalu melemparkan tendangan kuat pada perut goblin yang tadi menyerangnya hingga terlempar jauh. Tak ingin membuang waktu, ia menggunakan chakra listriknya, menyalurkannya langsung pada bilah pedangnya. Dia pun menerjang maju ke tengah gerombolan monster, menyerang mereka satu per satu dengan gerakan pasti. Satu dua goblin mulai berguguran terkena serangannya.

"Sasuke!" ia tersentak kaget saat mendengar Shikamaru memanggil namanya keras. Dua onyx-nya pun terbelalak horror saat menemukan dua goblin ternyata menyerangnya dari belakang. Tubuhnya menjadi kaku saat sadar posisinya sangat genting. Tak sempat bergerak ia terbelalak ngeri, seluruh tubuhnya tiba-tiba ingin berteriak.

'Naruto!'

SLASH—!

Dua goblin yang hendak menyerangnya tiba-tiba tumbang oleh serangan seseorang.

Sasuke mengerjap, lalu menoleh pada seseorang yang baru saja menolongnya tadi.

"Kau tidak apa-apa?!" Shikamaru berkata cepat, mengecek segera tubuh sang putra mahkota. Ia bernapas lega saat tak menemukan luka. Terlambat bergerak sedikit saja, ia pasti sudah gagal menjalankan misinya melindungi sang putra mahkota.

"Hn." Sasuke bergumam pelan, sebelum kembali memfokuskan dirinya pada pertarungan, di sampingnya Shikamaru pun kembali memasang posisi siaga.

Pertarungan melawan goblin itu berhasil dimenangkan oleh ketiga demon muda itu. Sasuke menghela napas lega saat akhirnya ia berhasil menumbangkan goblin yang terakhir. Ia melirik keadaan Shikamaru dan Kiba, memastikan tidak ada yang terluka di antara mereka. "Kalian tidak apa-apa?" tanyanya seraya membersihkan pedangnya dari darah goblin lalu memasukannya kembali ke dalam sarung pedang.

"Yeah…hanya sedikit goresan, kita harus segera pergi, sepertinya akan hujan." balas Shikamaru melirik jauh ke atas dimana samar-samar melihat langit yang menjadi gelap.

Seakan mendengar kalimat Shikamaru, tetesan pertama pun jatuh dari langit, sebelum disusul deras oleh ratusan tetesan air dingin lain membentuk hujan. Mereka pun bergegas lari menembus hujan mencari tempat berteduh.

Zaaaaaasssssshhhhhhhhhhh—!

"Achoo—!" Kiba tak bisa menahan hidungnya yang gatal untuk bersin dengan keras. Hawa merinding pun langsung menyerang tubuhnya. Dia langsung menggosok-gosok badannya mencari kehangatan.

"Kau tak apa, Puppy?" Shikamaru menatapnya cemas, menarik tubuh pemuda itu mendekat ke arahnya.

"Aku hanya tidak suka hujan." rengut Kiba mengacak-acak rambutnya yang basah kuyup.

Mereka akhirnya berhasil menemukan tempat berteduh, namun bukan tempat yang cukup nyaman untuk beristirahat. Pepohonan yang sangat besar dan tinggi menjadikan akar-akar mereka berbentuk sangat besar dan kokoh. Tak sedikit pohon yang memiliki sebuah rongga cukup besar yang bisa digunakan untuk berteduh di bawah akar-akarnya.

Sasuke memilih untuk duduk dekat pintu keluar, menekuk kaki dan memeluknya dengan erat untuk menghalau rasa dingin memasuki tubuhnya. Dua onyx-nya memandang keluar, menatap tetesan air hujan yang berjatuhan deras menyerang daratan. Tiba-tiba ia menjadi teringat saat ia menghabiskan malam dalam goa karena terjebak badai hujan. Keadaan yang sangat mirip dengan sekarang, tapi…

Ia melirik ke arah Shikamaru dan Kiba lewat sudut matanya. Berbeda. Sama namun sangat berbeda.

…bukan Naruto yang kini bersamanya.

Ia menggerakan tangannya, meraba perlahan tanda tiga koma yang ada di leher kirinya. Dengan sekali sentuhan ia bisa merasakan chakra yang mengalir disana.

Dekat. Sangat dekat. Ia bisa merasakannya. Padahal sudah sedekat ini, tapi kenapa ia harus—

"Kita pasti bisa menemukannya." ucap Shikamaru tiba-tiba mengagetkan, seakan bisa membaca apa yang sedang dipikirkan Sasuke.

"Hn." Gumam kecil pemuda raven itu tanpa menolehkan pandangannya dari hujan.

.

.

.

.

"Arrgghhh! Aku benar-benar benci hujan!" keluh Kiba menatap jijik sepatu boot-nya yang kini kotor karena tanah becek.

Hujan telah reda, meskipun langit masih terlihat mendung ingin menjatuhkan hujan susulan. Mereka memutuskan untuk bergegas melanjutkan perjalanan sebelum terhambat lagi oleh hujan.

"Oi, Sasuke, apa Naruto masih jauh dari sini?" ucap Kiba mengeluh lagi.

"Hn." Gumam Sasuke cuek berjalan lebih cepat ke depan.

"Hah…merepotkan…" Shikamaru menghela napas, ia menghentikan kakinya ketika merasakan sesuatu. Melirik ke samping memastikan tidak ada yang mencurigakan.

"Hey, Sasuke, kurasa akan lebih baik jika kita tidak lewat sini." Dia berkata tiba-tiba menghentikan langkah dua temannya.

"Huh? kenapa?" Kiba menyuarakan kebingungannya.

Tanpa berkata apapun, Shikamaru melirikkan pandangannya, menunjuk ke sesuatu yang ia maksud.

"Sarang." Sasuke berkata pelan, menatap bekas bangkai rusa yang tergeletak tidak jauh dari mereka.

"T-tunggu, maksudmu sarang monster?" tanya Kiba terkejut.

"Tempat ini sudah ditandai monster buas, kurasa kita harus lewat jalan lain." saran Shikamaru menoleh pada sang putra mahkota.

Sasuke terdiam, terlihat keberatan untuk mengambil jalan memutar. Setelah beberapa saat ia pun akhirnya menghela napas. "Kita memutar." putusnya enggan.

Tapi sepertinya mereka tidak beruntung. Mereka baru sadar kalau sudah masuk terlalu jauh ke dalam sarang ketika mereka mengambil jalan memutar. Beberapa monster sudah mengikuti mereka sejak mereka berjalan masuk. Beberapa pasang mata menyala tiba-tiba bermunculan terlihat dari balik semak-semak gelap dan dari atas pepohonan, mengerumuni tiga demon itu seperti predator yang mengincar mangsanya.

"Shika—

"Shhh! Kita terkepung." Sasuke memotong kalimat Kiba, menatap waspada pada sekelilingnya. Monster-monster itu belum menampakkan wujudnya, namun ia bisa merasakan dengan jelas tatapan-tatapan buas yang mengarah padanya.

"Apa yang harus kita lakukan?" bisik Kiba hati-hati, bulu kuduknya terasa berdiri melihat beberapa pasang mata yang terlihat menyala dari balik kegelapan semak-semak.

"Mereka terlalu banyak, kita tidak mungkin bisa mengalahkannya. Apalagi mereka adalah karnivora buas, ini terlalu berbahaya." Terang Shikamaru dengan nada lirih.

"Kita lari saja! Aku tidak mau jadi makanan monster!" Kiba berkata panik.

"Shit, kurasa kita juga tak mungkin bisa lari. Lihat." decak Sasuke, melirik pada salah satu monster yang tiba-tiba melompat turun dari atas akar besar yang menjulang tinggi ke atas. Monster itu menggeram, menampilkan wujudnya yang buas dan menyeramkan. Air liur menetes dari moncongnya yang tajam dan besar.

Sekilas, monster itu berbentuk mirip seperti singa, namun juga terlihat seperti serigala, dengan sepasang sayap tumbuh di punggung monster itu. Dua buah tanduk terlihat menyembul runcing di atas kepala, menjadikan wujud monster itu semakin seram, dengan mata mereka yang menyala merah.

"Chimera." bisik Kiba menyuarakan keterkejutannya. Iya. Chimera, makhluk yang sedikit 'abstrak' wujudnya itu terkenal sangat menakutkan dengan kebuasannya ketika memangsa makanan. Dan sekarang sepertinya mereka bertiga menjadi incaran mangsa kumpulan para chimera. Oh Great.

"Mereka sangat cepat, lari saja tak akan cukup. Kita harus memikirkan suatu rencana." ucap Sasuke lirih pada kedua temannya.

"Great. Sekarang apa rencananya?" Kiba berkata tak sabaran.

"Aku bilang berpikir, dog breath!" desis Sasuke mendelik padanya.

"Shika, itu bagianmu untuk masalah rencana-rencanaan!" keluh Kiba tak ingin ambil pusing.

"Merepotkan..." Shikamaru mengeluh malas, meskipun dari tadi otaknya sudah berpikir keras memikirkan cara untuk menyelamatkan mereka bertiga.

"Jadi?" ucap Sasuke menaikkan satu alis pada Shikamaru, ikut pasrah menyerahkan soal rencana pada si rambut nanas.

Shikamaru pun menghela napas. Nekat tak nekat sepertinya dia memang harus melakukannya. "Baiklah, chimera tak bisa terbang walaupun memiliki sayap. Mereka hanya bisa melompat tinggi. Aku bisa menahan mereka untuk sementara agar kalian bisa kabur. Kiba, aku ingin kau melindungi Sasuke selama kita berpisah—

"Tunggu, bagaimana caramu untuk kabur?" potong Kiba cepat, merasa tidak setuju jika harus meninggalkan kekasihnya sendiri.

"Aku bisa terbang, ingat?" ucap Shikamaru dengan senyum kecil, ia mengusap ujung kepala Kiba dengan gemas saat melihat kecemasan masih terlihat di wajah pemuda itu. "Tenang saja, mereka tak akan bisa mengejarku. Aku bisa terbang tinggi lalu mencari kalian. Daripada itu, aku ingin kalian berhati-hati dan berlari secepat mungkin ke tempat yang aman. Bagaimana?" ia menyelesaikan kalimatnya seraya melirik dua temannya satu per satu meminta persetujuan.

"Aku mengerti." balas Sasuke setelah beberapa saat. "Jaga dirimu baik-baik, Shikamaru."

"Tentu, Yang Mulia. Aku titip Puppy-ku bersamamu." balas Shikamaru tersenyum kecil.

"Hn."

…dan mereka pun dengan segera melancarkan rencana mereka. Shikamaru menyerang beberapa kali, menarik perhatian monster itu padanya. Mengambil kesempatan itu, Sasuke dan Kiba dengan segera mencari celah untuk kabur. Mereka langsung berlari cepat begitu mendapatkannya.

Sasuke menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya, memastikan Shikamaru akan baik-baik saja menahan monster-monster itu.

Yang ia dapat adalah senyuman kecil dari sang pemuda rambut nanas. Membalas senyum itu, Sasuke mengangguk pelan sebelum dengan cepat berlari bersama Kiba.

Wuuuussssssshhhhh—!

Mereka pun berlari dengan kecepatan penuh, menggunakan wujud demon mereka agar bisa berlari lebih cepat.

"Kemari!" perintah Sasuke mengambil alih jalan lari mereka. Dia berdecak saat melihat dua monster yang berhasil mengikuti mereka dari samping.

"Shit! Sepertinya kita salah memperhitungkan jumlah mereka. Ini terlalu banyak!" decaknya kesal, menikung mengambil jalan lain.

"Sial, sebelah sini juga ada, sebesar apa sih wilayah mereka!" Kiba menggeram kesal saat melihat dua chimera yang juga menyusul tidak jauh dari samping kirinya. Tak ingin terkejar ia pun menambah kecepatan larinya semampu yang ia bisa, diikuti Sasuke di belakangnya. Itu sampai ia ingat bahwa sang putra mahkota yang bersamanya sekarang sedang tidak dalam kondisi maksimal untuk bertarung. Shit.

"Sasu—

"Kita harus segera menemukan jalan lain!" potong Sasuke cepat, tanpa sedikitpun mengurangi kecepatan larinya. "Mereka tak akan berhenti mengejar kita. Jumlah mereka akan semakin banyak, kita harus—Oh Shit!" Mata onyx-nya terbelalak lebar saat melihat sesuatu yang melompat dari depan ke arahnya sebelum—Bruaghh!

"Sasuke!" Kiba terlonjak shok saat monster itu tiba-tiba menyerang dari depan. Dia terbelalak panik menatap tubuh monster dan sang serigala yang saling mencengkram dan berguling beberapa kali di tanah.

"Grrr!" Sasuke menggeram marah, menggigit leher monster itu dengan kuat, meskipun sebagai balasan ia juga mendapat gigitan di pundaknya. Tanpa mempedulikan rasa sakit, sang serigala hitam mencoba mengoyak sang monster, mencakar tubuh monster itu sedalam yang ia bisa, lalu menendangkan kaki belakangnya ke perut monster itu dengan kuat. Mereka kembali berguling di tanah sebelum akhirnya cengkeraman masing-masing terlepas. Dengan cepat Sasuke menjauhkan tubuhnya dari monster itu.

"Sasuke! Kau baik-baik saja?!" tanya Kiba cemas, melihat darah yang menetes pelan dari pundak kanan sang serigala.

"Hn, daripada itu, kita dalam masalah besar." Balas Sasuke menatap tajam enam monster yang sudah berdiri beberapa meter mengepung mereka. Ia melirik ke arah monster yang baru saja menyerangnya, bernapas sedikit lega saat sepertinya gigitannya berhasil mengenai titik vital. Monster sudah terlihat kewalahan menahan sakit sekarang. Tinggal menunggu kehabisan darah, maka ia tak akan bisa melawan lagi.

"Fuck, apa yang harus kita lakukan?!" ucap Kiba panik.

"Kita harus melawannya." Putus Sasuke memperhatikan lawannya satu persatu.

"Apa?! Tapi—bagaimana denganmu, kau sedang ham—

"Berisik!" geram Sasuke mendelik tajam pada Kiba. "Aku baik-baik saja." desisnya dingin.

"Sasu—

"Diamlah Kiba." desisnya lagi, sebelum sang serigala menerjang maju melawan salah satu monster yang melompat turun menyerangnya.

Dua mata onyx pun berubah menjadi merah sharingan, memberinya keunggulan untuk menyerang lebih cepat dan kuat. Dengan membaca gerakan musuh, Sasuke bisa menyerang lebih cepat dan melukai titik vital monster itu.

JZZAAATTT!—listrik memancar kuat menyerang sang monster hingga gosong. Sasuke melepas gigitannya dan melangkah mundur dengan hati-hati. Percikan listrik masih sedikit terlihat di sekitar rahang tajamnya. Wolf demon itu menggeram memastikan monster yang dilawannya tadi tak akan bergerak lagi, lalu berpaling pada monster lain yang masih tersisa mengepung mereka.

Kelima monster itu pun menggeram marah melihat kawannya baru saja dikalahkan. Tanpa ampun mereka tiba-tiba menerjang secara bersamaan menyerang dua demon yang menjadi mangsa incaran mereka.

"Fuck!" umpat Kiba kesal, bersiap menyerang balik monster manapun yang menyerangnya.

Pertarungan berdarah pun dimulai antara demon dan monster. Dua melawan lima. Pertarungan yang tidak seimbang. Kiba sedikit kuwalahan saat mendapat serangan dari dua arah, tidak tahu harus bertahan atau menyerang terlebih dahulu.

Buagh!—dentuman keras terdengar menabrak batang pohon, menarik perhatiannya untuk melihat kondisi sang putra mahkota.

Sasuke mengumpat kesal. Dia dengan segera mengeyahkan tubuhnya dari tanah dan berdiri kembali, menghiraukan rasa sakit yang langsung menyengat akibat serangan yang mengenai tubuhnya barusan. Kakinya sedikit sempoyongan ketika ia hendak berjalan, jika bukan karena batang pohon di belakangnya, mungkin ia sudah terjatuh kembali ke tanah.

'Sial, aku menggunakan terlalu banyak chakra untuk serangan listrik tadi.' Ia merutuk dalam hati, mencoba memfokuskan pandangannya pada tiga monster yang mengepungnya. Chakra dalam tubuhnya sudah mulai menipis. Sial. Kalau saja…kalau saja sekarang ia tidak sedang hamil, pasti ia…'Tidak! Dasar Bodoh! Apa sih yang ku pikirkan!?'

'Aku harus menjaganya…'

'Aku harus melindungi anakku apapun yang terjadi…'

Sasuke menggertakan giginya, menatap tajam pada tiga chimera di hadapannya. Tersudut dalam sedikit pilihan, ia pun akhirnya memutuskan untuk menggerakan tubuhnya, dan mengambil sedikit celah untuk kabur dari tempat itu. Apapun yang terjadi, ia harus bisa bertahan hidup dan melindunginya..

"Sasuke?! Fuck!" Kiba tersentak kaget saat tiba-tiba melihat sang serigala hitam berlari kabur dengan cepat. Tiga monster yang tadi menyerang Sasuke pun dengan cepat mengejar.

"Damn it! Minggir sialan!" Ia menggeram marah, saat dua monster di hadapannya terus menyerang, tak memberinya celah sedikitpun untuk bergerak mengejar sang putra mahkota.

Hosh!—Hosh!—Hosh!Napasnya mulai menjadi berat, namun Sasuke tetap berlari secepat mungkin menghindari tiga monster yang mengikutinya dari belakang. Ia menikung mengambil jalan kecil di antara pepohonan, dengan sengaja memilih jalan yang sulit agar monster yang memang berukuran sedikit lebih besar darinya itu sedikit kesulitan mengikutinya. Ia menikung tajam, hampir berhasil membuat monster di belakangnya menabrak pohon jika mereka tidak cekatan.

"Cih." decaknya kesal saat melihat monster itu semakin mendekat.

'Sedikit lagi…' ia membatin, menyipitkan matanya, menatap tajam pemandangan di depannya. Ia menambah kecepatannya, ingin segera sampai ke tempat tujuannya. 'Sial, tinggal sedikit lagi!' desisnya.

Tinggal sedikit lagi…

Tinggal sedikit lagi ia akan sampai pada…

Wuusshh—!

"Huh?!" ia tersentak saat tiba-tiba dari arah samping, monster itu melompat cepat menerjang ke arahnya dan—BUAGH!

…Naruto

.

.

.

.

.

"Huh?" Naruto mengerjap bingung, menoleh ke sekelilingnya, lalu melirik pada Kurama dan Itachi yang masih berbicara satu sama lain. Mengernyitkan alis, ia mengorek kupingnya tidak nyaman.

"H-hey…" ia akhirnya mengeluarkan suara, menarik perhatian dua orang pemuda di dekatnya.

"Kenapa?" Itachi menaikkan alis heran.

"Apa kalian baru saja memanggil namaku?"

"Bocah, mungkin kau harus memeriksakan telinga kotormu itu, kau berdiri sedekat ini dengan kami, dan kau masih menanyakan itu?!" sindir Kurama padanya, yang langsung mendapat delikan sewot dari sang murid.

"Cih, kalau begitu, apa kalian mendengar sesuatu?" kesal Naruto mengganti pertanyaannya.

"Sesuatu?" tanya Itachi menjadi tertarik.

"Hmm, sesuatu…seperti suara yang memanggil namaku mungkin…" ucap pemuda pirang itu tidak yakin. Sungguh! Ini benar-benar konyol! Sudah dua kali ia mendengar suara Sasuke memanggil namanya! Itu tidak mungkin kan! Mereka bahkan sudah tidak memiliki ikatan. Dia sudah melepas tandanya, Sasuke bukan lagi submissivenya. Bagaimana bisa ia bisa mendengar suara Sasuke dengan begitu jelas.

'Naruto…'

Ya! Ya! Seperti itu! Lihat kan! Suara itu benar-benar jelas—

'Naruto!'

Naruto pun terbelalak. Dia menoleh kesana kemari, namun tak berhasil menemukan apapun. Dimana?! Dimana Sasuke—

—DDEGHH!—

"A—

"AARGGGHH!" Naruto menjerit keras saat rasa sakit yang sangat amat tiba-tiba menyerang dadanya. Dia pun jatuh tersungkur di tanah, mencengkram dadanya begitu kuat menahan rasa sakit.

"Naruto?!" Itachi terlonjak panik saat melihat tuannya tiba-tiba berteriak kesakitan. "Naruto?! Apa yang terjadi?! Naruto!" dia menggoncangkan tubuh pemuda pirang itu untuk meminta jawaban.

"Oi, bocah!" Kurama ikut menjadi cemas saat melihat wajah muridnya menjadi sangat pucat.

"Arrghh! Fuck!" umpat Naruto kesakitan. Ia meraba dadanya, namun sama sekali tak berhasil menemukan luka apalagi darah disana. Hanya rasa sakit. Rasa sakit yang benar-benar menyengat. Kenapa? Apa yang terjadi?! Apa yang—

'Naruto…'

Ia terbelalak lebar, dengan cepat melonjak berdiri tanpa mempedulikan rasa sakit di tubuhnya. Ia pun segera berlari keluar goa, mengagetkan Itachi dan Kurama yang masih terkejut sekaligus bingung dengan tingkahnya yang tiba-tiba.

"Naruto! Hey, apa yang—! Sial!" umpat Itachi saat teriakannya sama sekali tak hiraukan. Merasa khawatir, ia pun segera berlari mengikuti tuannya pergi.

.

.

.

.

Hosh!—

Dimana…

Hosh!—Hosh!—

Dimana…?!

Hosh!—

"DIMANA SASUKE?!"

Naruto berteriak, menatap garang pada apapun yang menemui pandangan matanya. Napasnya terengah berat. Sakit di dadanya masih tak juga reda bahkan semakin terasa. Ia berlari sekuat tenaga menelusuri hutan, mengedarkan pandangannya ke seluruh arah mencari keberadaan seseorang yang terus memanggilnya.

"Ukh—!" jari tangannya mencengkram kuat dadanya menahan sakit.

Kenapa..

Apa yang terjadi?!

APA YANG SEBENARNYA TERJADI?!

'Dia memanggilku…'

'Sasuke memanggilku…'

'Dia membutuhkanku…'

Tapi dimana…

Dimana sasuke berada sekarang…?

Menarik napas, Naruto memejamkan matanya, memusatkan seluruh chakranya pada suara yang memanggilnya, pada rasa sakit yang menyerang dadanya, dan disana…ia bisa merasakannya…

Sasuke ada disana…

Sasuke berada tidak jauh darinya…

Tanpa membuang waktu, ia pun segera berlari dengan sangat cepat, membiarkan tubuhnya bergerak dengan sendiri mengikuti arah suara yang memanggil dirinya. Ia harus cepat. Apapun—dimanapun itu, ia harus cepat. Perasaannya benar-benar tidak enak. Ia merasa akan benar-benar menyesalinya jika sampai terlambat sedikit saja.

Naruto menggigit bibir saat ia akhirnya bisa merasakan chakra sang raven dengan sangat jelas. Tipis. Chakra itu semakin menipis, dan…baru darah yang sangat pekat…

Dua shappire-nya pun menyalang seram saat mencium jelas bau darah siapa yang ia rasakan. Biru berganti dengan merah garang. Gigi taringnya meruncing, tiga goresan kumis di pipinya semakin kentara tajam. Naruto menggertakan giginya, mengepalkan kedua tangannya dengan kuat sebelum ia menerjang maju ke depan dengan sangat cepat…

.

.

.

.

.

BUAGH!

Tubuh sang serigala pun terbanting keras menabrak batang pohon. Sasuke terbatuk keras, darah menetes pelan dari ujung bibirnya. Sial, satu dua tulang rusuknya pasti baru saja patah.

Ia memaksakan diri untuk berdiri, mengabaikan rasa sakit yang menyerang tubuhnya disana-sini. Dua manik onyx-nya menatap garang pada tiga monster yang sekarang mengepung dirinya. Chakra yang menipis memaksanya melepas sharingan dari matanya. Tubuhnya mulai kelelahan, dan chakra-nya tak akan cukup untuk melawan tiga monster. Great, sekarang apa yang harus ia lakukan untuk bertahan melawan tiga monster buas yang kelaparan?

Mengabaikan rasa pusing, ia memaksa kepalanya untuk berpikir cepat. Bukan Uchiha namanya jika ia harus menyerah secepat ini. Ketiga monster itu menatapnya garang, mengawasinya tanpa cela agar sang mangsa tak bisa kabur lagi. Mereka dengan perlahan berjalan mendekati sang serigala, seperti sang pemburu yang bermain-main dengan mangsanya sebelum mereka memakannya. Sasuke menarik napas dalam dan menormalkannya. Ia merubah wujudnya kembali seperti semula, memutuskan menyimpan sebanyak mungkin chakra di dalam tubuhnya. Ia menarik pedang dan memasang posisi bertarung. Dengan kemampuan pedangnya, ia pun mulai menyerang maju.

Satu dua serangan berhasil ia lancarkan mengenai tubuh sang monster. Namun tetap saja tiga lawan satu merupakan pertarungan yang sangat tidak seimbang. Sasuke meringis sakit saat salah satu monster berhasil mengigit kakinya. Menggeram, ia menusukkan pedangnya tajam ke dalam leher sang monster, membuat monster itu mengerang kesakitan. Sasuke menggunakan kesempatan itu untuk menendang sang monster dan membantingnya. Namun dua monster lain sudah bersiap untuk menyerang. Sasuke tak bisa mengelak ketika salah satu monster menerjangnya dan—SCRATCH!

"Gahk!—" tubuh sang raven terbanting ke tanah. "Uhuk!—Uhuk!—" darah pun mengucur deras dari luka cakaran yang mengenai dadanya. Sasuke mencoba mengangkat tubuhnya, namun sepertinya luka di dadanya terlalu dalam karena rasa sakit yang sangat amat langsung terasa. Rasa pusing langsung menyerang kepalanya, membuat pandangannya menjadi buyar dan berkunang-kunang. Tubuhnya menjadi sangat berat, napasnya mulai tak beraturan. Sial. Ia tak bisa bergerak lagi.

Samar-samar, ia melihat dua monster itu kembali mendekat ke arahnya. Geraman buas terdengar mendenging di telinganya. Monster itu berjalan semakin mendekat. Sasuke bisa melihat tetesan air liur yang jatuh di tiap langkah dua monster itu. Ahh…sudah berakhir kah?

Seperti inikah batasnya?

'Bagaimana ini?' kalimat itu muncul dalam kepalanya. Dengan sangat berat, Sasuke menggerakan tangannya, meraba perutnya dengan hati-hati. 'Bagaimana ini…? Padahal aku…sudah berjanji untuk melindungimu…'

'Tapi sekarang…'

Sasuke menatap menerawang pada dua monster yang kini berada tepat di depannya. Siap menerkamnya kapan pun mereka mau.

'Maaf…'

Kepalanya menjadi semakin berat. Pandangannya pun mulai menggelap. Pemandangan dua monster yang siap menerkamnya mulai buyar menjadi tak jelas.

'…..maafkan aku karena tak bisa menjagamu…'

Sasuke memejamkan matanya dengan perlahan. Napasnya yang berat pun mulai menjadi hembusan tipis.

'Maafkan aku…Naruto…'

"SASUKE!"

Sebuah teriakan keras memaksanya membuka mata kembali, sebelum disusul oleh suara geraman dan suara berisik lainnya. Telinganya berdenging. Samar-samar, Sasuke melihat dari kejauhan, seseorang dengan brutal mengamuk, mengalahkan dua monster itu tanpa ampun. Sasuke tak bisa melihat wajah orang itu, sebelum akhirnya ketika orang itu mendekatinya. Samar-samar ia melihat sesuatu berwarna pirang.

Klontang!—bunyi keras terdengar ketika pedang besar yang terbuat dari besi itu terjatuh dari genggaman tangan sang pemuda pirang. Langkah kakinya terhenti seketika pemuda pirang itu menangkap jelas kondisi tubuh sang raven. Napasnya tertahan, dan dua manik shappire-nya terbelalak shok. Seluruh tenaganya tiba-tiba terasa seperti direnggut paksa dari tubuhnya. Ia merasa ngilu. Rasa sakit yang dari tadi menyengat dadanya tiba-tiba seperti hilang digantikan kekosongan yang sangat besar. Bibir pemuda itu bergetar, terbuka sedikit namun tak berhasil mengeluarkan suara.

Ia menggerakan kakinya ke depan, namun tak sanggup berpijak lagi, membuatnya jatuh berlutut di depan tubuh sang raven.

"Sa…suke…" bisiknya hampir tak bersuara, salah satu tangannya terulur, dengan bergetar menyentuh luka yang ada di dada sang raven.

"H-hei…Sasuke…" ia menggerakan tubuh yang sudah tak mampu bergerak itu.

"Hei!" Ia berteriak. "Hey! Sasuke!" Ia berteriak lagi, mengeluarkan chakra hijau dari telapak tangannya dan menyalurkannya langsung pada sang raven.

"Sasuke!" ia mengerahkan seluruh chakranya, menyembuhkan luka apapun yang dilihatnya pada tubuh sang raven.

"Sasuke!"

"Sasuke!"

"Sasuke!"

"SIAL! Sial! Sial! Sial! Bangun brengsek!" Sebutir air hangat mulai menetes perlahan dari sudut matanya, tangannya masih belum berhenti bergerak, terus menyalurkan chakra berusaha menyembuhkan sang raven.

"Bangun, brengsek! Aku tahu kau tidak selemah ini! Bangun! Bang—" kalimatnya terhenti seketika sebuah tangan tiba-tiba terulur menyentuh pipinya yang basah. Tangan itu sangat pucat, bergemetaran mengusap lelehan air mata dari pipinya, sebelum akhirnya kehilangan tenaga dan terjatuh. Sang pirang dengan cepat menangkapnya, menggenggamnya dengan sangat erat. Mata shappire-nya menatap lebar pada dua onyx yang kini memandangnya dengan tidak fokus.

"Sasu—

"…h..r..ny…" suara itu terdengar sangat lirih dan serak.

"A..apa…?"

"…ak..hirnya…a..ku…bisa menemukanmu…." Sasuke menggerakan mulutnya, mengeluarkan suaranya dengan serak. "…Naruto…" bisiknya hampir tak bersuara, dengan sebuah senyuman terlukis begitu leganya di bibir sang raven sebelum akhirnya ia kembali menutup mata dan tak sadarkan diri.

"Eh…" manik shappire pun membulat lebar.

"Ap…H-hey! Sasuke!" Ia memanggilnya, menggoyangkan tubuh sang raven mencoba membangunkannya. "Sasuke!"

Tidak.

"Damn it! Bangun brengsek!" ia mengecek luka di dadanya.

Tidak.

"Sial! Sial! Sial!" bergerak dengan panik saat merasakan detak jantung yang semakin melemah.

Tidak.

Tidak.

TIDAK!

"Sasuke!"

Kenapa?!

Kenapa lagi-lagi seperti ini!

Lagi-lagi ia tak bisa melindunginya..

Lagi-lagi ia membiarkannya terluka..

Lagi-lagi ia…

Sial!

Dasar bodoh!

Dasar tak berguna!

Dasar—

"AKU BILANG HENTIKAN, DASAR BODOH!"—BUAGH!—sebuah pukulan bersamaan teriakan keras tiba-tiba datang mengenai wajahnya.

Naruto terlonjak jatuh, menatap lebar pada seseorang yang baru saja memukulnya barusan.

"Kau bisa kehabisan chakra jika terus menyembuhkannya seperti itu, Baka!" Itachi berteriak memarahinya, menyadarkan pemuda pirang itu dari pikiran gelapnya. "Menyingkirlah, biarkan aku yang memeriksanya!" Itachi berkata lagi kini lebih pelan, dengan segera mengambil posisi Naruto dan memeriksa keadaan adiknya.

Naruto tak sanggup berkata apapun. Masih dalam keadaan shok, ia hanya mampu menganggukkan kepalanya tanpa suara.

'Ini buruk.' Itachi menggertakan giginya, menatap serius pada kondisi tubuh sang adik. Sial. Apa-apaan ini! Ia baru saja bertemu langsung dengan adiknya setelah sebelas tahun lamanya, tapi sekarang malah dalam keadaan seperti ini?! Apa yang sebenarnya terjadi?!

Ia menelusuri dengan hati-hati tubuh Sasuke, memastikan tak ada satu inci pun yang terlewat oleh pemeriksaannya. 'Sebagian besar lukanya sudah berhasil disembuhkan oleh Naruto, tapi tubuhnya benar-benar lemah. Chakranya sangat tipis. Ia tak akan bisa bertahan jika dibiarkan terus seperti ini…Sial, apa yang—Huh?' Itachi mengernyitkan kedua alisnya dengan bingung, sebelum dua onyx miliknya melebar tak percaya saat ia menemukan sesuatu yang janggal pada perut Sasuke. 'Ini…yang benar saja…' gumamnya shok.

"Naruto…kau bilang kau sudah melepas tandanya bukan?" Itachi bertanya dengan ekspresi tak terbaca terlukis di wajahnya. Ia menoleh, menatap langsung pada pemuda pirang di sampingnya.

"A…apa?" Naruto terbata bingung. "Apa yang kau bi—

"Tandanya…kau bilang kau hanya menandai Sasuke dan sudah melepasnya sekarang…" Itachi mengulangi pertanyaannya masih dengan ekspresi sulit terbaca.

Tak mengerti, Naruto hanya mengangguk bingung.

"Lalu…kenapa sekarang…ada janin di dalam perut Sasuke…?" Itachi berkata hampir seperti bergumam pada dirinya sendiri, ia meraba perut adiknya dengan hati-hati.

"A-apa…?!" Naruto mengerjap.

"Sasuke sedang mengandung anakmu…kurasa aku tahu siapa yang menahan chakramu sekarang…"

"A—" Naruto membuka mulutnya, namun tak berhasil mengeluarkan suara. Dua shappire-nya terbelalak lebar menatap Itachi. Ia membuka mulutnya lagi, namun lagi-lagi gagal bersuara. Ia pun mengatupkannya erat. Perlahan, ia menolehkan wajahnya, menatap perut Sasuke dengan pandangan shok.

"A….nak…?!" bisiknya hampir tak terdengar.

Dengan ragu-ragu, ia bergerak mendekat, mengulurkan tangannya seakan ingin memastikan hal yang baru saja didengarnya. Itachi pun menyingkirkan tubuhnya untuk memberi ruang pada pemuda pirang itu agar lebih leluasa.

"Anak…" Naruto berbisik tak percaya, tangannya bergemetaran, menyentuh ragu-ragu perut sang raven. Seperti ada sengatan listrik, ia menariknya lagi dengan takut, mengepalkannya dengan erat.

"A-anak…" ia mengulanginya, menghembuskan napasnya dengan berat, terlalu shok akan hal yang baru saja diketahuinya. "Sasuke…mengandung…anak…?"

"…anakku…?" ia terus mengulanginya, meskipun tangannya bisa merasakan dengan jelas chakra baru yang mulai tumbuh dalam perut Sasuke. Namun pikirannya tiba-tiba berhenti berjalan, seakan tak menerima dengan baik informasi itu.

"Hey, Naruto! Aku tahu kau sangat terkejut sekarang! Tapi bukan saatnya untuk shok! Sasuke dalam keadaan kritis! Kita harus melakukan sesuatu untuk menolongnya. Ia kehilangan banyak chakra, kalian harus segera melakukan mating." Pinta Itachi cemas, tak ingin berlama-lama berada disana. Namun sang pirang bahkan tak merespon, pandangannya terlihat menerawang, membuat sang Uchiha sulung semakin cemas akan kondisi adiknya.

"Hey, Naru—

"GRRR!" Naruto menggeram marah dengan tiba-tiba saat melihat Itachi hendak menyentuh Sasuke. Gigi taringnya memanjang tajam, digertakan dengan marah. Ia mendelik garang pada Itachi, manik yang tadinya biru kini merah menyala. Tiga goresan di pipinya menebal seperti kumis rubah.

Itachi pun tersentak kaget. "Naru—O-okay…okay…aku tak akan menyentuhnya. Aku tak akan melakukan apapun." Ia akhirnya berkata, mengangkat kedua tangannya pasrah. "Dia milikmu, aku tak akan melakukan apapun, apalagi melukainya. Tapi kau harus segera melakukan sesuatu. Kau harus segera menolongnya. Sasuke—Wha—! Hey! Naruto!" Itachi berteriak kaget saat tiba-tiba pemuda pirang itu berdiri dan mengangkat Sasuke dengan kedua tangannya. Tanpa berkata apapun, Naruto pergi berlari cepat dengan Sasuke berada dalam pelukannya.

"Hey—! Sial, bocah itu. Damn it!" rutuk sang Uchiha sulung kesal. Ia hendak menyusul tuannya pergi namun terhenti saat mendengar suara berisik dari balik semak-semak. Ia menyipitkan matanya, memasang posisi siaga untuk menghadapi siapapun yang akan ditemuinya.

Krosak!—Krosak!—Krosak!—semak-semak itu bergerak dengan berisik sebelum akhirnya menampakkan dua sosok pemuda yang berjalan dengan salah satunya menggendong. Seorang pemuda dengan rambut nanas tersentak kaget, menghentikan langkahnya seketika melihat pemuda raven yang tak dikenalnya. Dipunggungnya, Kiba terbangun dari rasa capeknya, hampir terjatuh dari gendongan Shikamaru jika ia tak berpegangan erat.

"Siapa?"

.

.

.

.

.

Kurama menekuk wajahnya dengan kesal saat tak satu pun dari Naruto ataupun Itachi kembali dari kepergiannya yang sangat tiba-tiba tadi. Ia bisa saja mengejar mereka, namun ia terlalu malas untuk melakukannya. Yuki dan Ruki berdiri di sampingnya, mengikik berisik mengajaknya mengobrol. Kurama hanya sesekali bergumam membalas, menyenderkan tubuhnya pada dinding di mulut goa Ia menoleh ke arah hutan saat akhirnya merasakan Naruto yang berlari mendekat.

"Oi, bocah, kenapa kau lama sekali?! Apa yang kau laku—Huh?!" Kurama mengerjap bingung menatap kedatangan Naruto yang terburu-buru dengan seseorang berada dalam gendongan tangannya. "Siapa—"—Sniff!—Sniff!—hidungnya mendengus tak nyaman saat mencium bau darah dan sesuatu yang asing. "Hey, Aku mencium bau kit darinya, apa yang terjadi?!" Kurama menuntut bingung.

Namun pemuda pirang yang ditanyainya tak menjawab apapun, ia bahkan tak menoleh, hanya berlari cepat menuju ke dalam goa, tanpa mempedulikan sekelilingnya. Kurama yang merasa dicueki pun merasa kesal, hendak menyusul sang murid namun terhenti saat melihat Itachi yang berlari dengan cepat menuju goa.

"Dimana Naruto?!" tanya Itachi panik dengan napas terengah.

"Di dalam, apa yang terjadi?! Siapa bocah yang bersama Naruto, ada bau darah dimana-mana, terlebih lagi kit yang ada di dalam perutnya…" Kurama bertanya bingung, menggosok hidungnya dengan tak nyaman.

"Itu…" Itachi menatap ke dalam goa, seperti menahan diri, ia pun akhirnya batal untuk menyusul masuk. "Ini sedikit rumit." Ia menghela napas. "Yang bersama Naruto sekarang adalah adikku, Sasuke, aku akan menceritakannya nanti. Sebaiknya kita tak usah mengganggu Naruto sekarang." Jelasnya menambahkan saat melihat Kurama menaikkan alis tak mengerti karena mendengar nama 'Sasuke'.

"Untuk sekarang, kurasa kita punya masalah lain yang harus kita urus…" tambah Itachi menoleh pada dua orang pemuda yang mengikutinya dari belakang. Kurama pun ikut menoleh mengikuti pandangan Itachi.

"Err…well..." Shikamaru menggaruk kepalanya canggung, tak tahu harus melakukan apa.

.

.

.

.

.

.

Jauh di dalam goa bermanik kristal cahaya itu, terdapat beberapa goa kecil yang bisa digunakan sebagai ruangan. Bagi orang yang pertama kali menjejakkan kaki di dalam sana, mereka pasti akan langsung tersesat. Namun, tidak bagi Naruto, yang sudah bertahun-tahun tinggal di dalam sana, ia dengan mudah melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan.

Pintu buatan berwarna coklat natural berasal dari pohon mahoni terpasang sebagai penutup sekaligus pintu masuk sebuah ruangan. Dinding-dinding batu masih terlihat jelas ketika berjalan masuk ke dalam ruangan itu, tanpa sedikitpun mengurangi keaslian goa dengan sedikit lumut dan tumbuhan liar di beberapa sudut. Kristal-kristal kecil pun tak luput menghiasi bagian atap. Sebuah lemari sederhana yang terbuat dari kayu berdiri kokoh di sudut ruangan, dengan sebuah meja usang dan kursi di sampingnya. Di sisi yang lain, sebuah ranjang kayu sederhana, dengan kasur kapas yang sudah terlihat sangat usang tergeletak disana.

Naruto merebahkan tubuh Sasuke di atas tempat tidur dengan hati-hati, seakan takut sang raven akan hancur jika ia ceroboh melakukan sesuatu. Lalu ia pun menyusul naik ke atas tempat tidur, melepas kedua sepatunya, dan berdiri di atas lutut agar tak menindih tubuh sang raven. Dengan cepat ia melepas kimono sang raven yang sudah robek dan penuh darah, melemparkannya ke lantai. Mata shappirenya dengan cepat menelusuri seksama setiap luka yang bisa ia lihat di tubuh Sasuke. Sedikit bernapas lega saat melihat luka besar yang pertama kali ia lihat di dada sang raven sudah mulai menutup hanya tersisa bekas kecil.

"Sasuke…" panggilnya dengan suara pelan, mengulurkan tangannya untuk membelai pipi pucat pemuda raven itu.

"Hey Sasuke…bangunlah…" panggilnya lagi lebih keras. Ia menangkup wajah Sasuke ke dalam kedua telapak tangannya, mengusap-usap pipi yang mulai mendingin itu dengan pelan.

"Sasuke…aku mohon…bangunlah…" pintanya hampir berbisik tak sanggup.

"Sasuke…baby…please…kau harus bangun…sebentar saja…" Naruto terus memanggil sang terkasih untuk bangun.

"Aku mohon…Sasuke…bangunlah…aku tahu kau mendengarku…Sasuke…"

"Sasuke…Sasuke…" Naruto memejamkan matanya, menyatukan dahinya dengan sang raven, seakan ingin menyatu masuk dalam pikiran pemuda itu dan membangunkannya langung. "Kumohon bangunlah…Sasuke…" ia berbisik lagi, suaranya kini mulai serak akibat menahan perasaan.

"…ru..u…"

Naruto membuka matanya cepat, menatap wajah sang raven saat mendengar suara lirih itu. Dua kelopak pucat itu pun dengan perlahan membuka sayu, menampilkan dua onyx yang memandang tak fokus.

"…na..ruu…?" bibir pucat itu mulai bergerak lagi mengeluarkan suara, dua matanya mengernyit tak nyaman, tak bisa memfokuskan pandangannya pada satu objek.

"Sasuke…Sasuke…aku disini, aku disini…" balas Naruto cepat, membelai pipi sang raven dengan lembut. "Hey baby, kau mendengarku? Apa kau bisa melihatku?"

"Naruu…?" masih sedikit berkunang, namun Sasuke berhasil menangkap sosok pemuda pirang itu di depannya.

"Sshh, tak usah bicara, dengarkan aku, oke? Kita harus melakukan mating, tubuhmu tak akan bertahan, aku harus…hey, Sasuke, kau bisa mendengarku…?" Naruto menatap cemas saat Sasuke memejamkan matanya pelan, lalu membukanya lagi dengan berat.

"...ngn…" Sasuke mengerang, merasa terlalu lelah dan mengantuk.

Tanpa bicara banyak, Naruto pun akhirnya melepas dengan cepat baju yang dikenakannya dan membuangnya ke lantai. Ia mengangkat tubuh Sasuke ke dalam pelukannya, menyenderkan tubuh sang raven pada dadanya, sementara ia memegang erat pinggang sang raven agar tak terjatuh. Ia memiringkan lehernya, memposisikan kepala Sasuke agar bisa mencapai leher miliknya.

"Sasuke…hey…baby, dengarkan aku…" panggil Naruto lembut, menepuk pelan pipi sang raven untuk menarik kesadaran pemuda itu.

"Kemarilah, kau harus menandai tubuhku, buatlah tanda di leherku…" pintanya sepelan mungkin agar pemuda itu mendengar ucapannya.

"..ke…napa…?" Sasuke mengernyitkan alisnya tak mengerti.

"Ssshhh, lakukan saja…gigit dan tandai tubuhku, Sasuke…hanya sekali saja…Sasuke…"

Hanya sekali saja…

Antara sadar dan tak sadar, Sasuke hanya mengangguk pelan. Tubuhnya tak bisa bergerak, ia bahkan tak bisa mendengar jelas kalimat pemuda pirang itu. Aroma maskulin yang menguar dari pemuda pirang itu membuat hidungnya tergelitik. Oh…betapa rindunya ia pada bau pemuda ini. Sasuke mencoba mengangkat tangannya untuk memeluk Naruto, namun tak berhasil menggerakannya. Ia mengerang pelan, mendekatkan bibirnya pada leher sang pirang. Ia hanya perlu menandainya kan? Tapi kenapa? Naruto akan marah jika ia melakukannya. Tapi kenapa Naruto malah menyuruhnya untuk menandainya?

Tak sanggup berpikir lagi, Sasuke membuka mulutnya, menempelkan taringnya pada permukaan kulit berwarna tan itu. Ia pun menggigitnya, menyalurkan sedikit chakra miliknya ke dalam sana.

"…Ngnn…" Sasuke mengerang pelan saat merasakan sebuah gigitan yang sama juga terjadi pada leher kirinya.

Naruto mengigit tanda di leher sang raven sepelan mungkin, memperbarui ikatan mereka menjadi ikatan yang seutuhnya. Ikatan tanda yang tak mungkin dilepas lagi oleh siapapun dan apapun. Ia menghisap sedikit darah dan menggantinya dengan chakra. Hal yang sama persis juga dilakukan sang raven. Sebuah simbol berbentuk seperti lingkaran hitam dengan perlahan muncul menghiasi perut datar sang pirang, sebagai tanda bukti bahwa Sasuke sudah berhasil menandainya.

"..A..kh…" Sasuke meringis, tubuhnya langsung melemas, pandangannya tiba-tiba menggelap sekejap. Ia merasa tubuhnya di baringkan kembali. Rasa panas yang sangat aneh tiba-tiba muncul dari tanda di lehernya lalu menyebar ke seluruh tubuhnya. "…Ngnn…" Sasuke menggerakkan tubuhnya tak nyaman, rasa panas itu seperti menggelitik, menyebar ke tiap inci tubuhnya dengan sangat tidak nyaman. Ia menggerakkan tangannya, mencakar pelan dadanya seakan ingin menghilangkan perasaan aneh dalam tubuhnya. Sepasang tangan menggenggam tangannya, menghentikan gerakan tangannya agar tak melukai diri.

"….pa…nas…." erang Sasuke meronta, tubuhnya menggeliat tak nyaman. Pipi yang tadinya sangat pucat kini sudah mendapatkan warnanya kembali, bahkan sekarang menampakkan rona merah disana.

"Sshh..sshhhh Sasuke…Sasuke…tidak apa…hey Sasuke…" bisik Naruto mencoba menenangkan pemuda itu. Ia memeluk tubuh sang raven dengan erat, mencoba mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja. Sasuke pun akhirnya berhenti meronta, meskipun rasa panas yang dirasakannya masih belum hilang.

"Tak apa…kau akan baik-baik saja…Ini hanya berlangsung sebentar…" ucap Naruto pelan, melepas pelukannya saat sang raven sudah mulai tenang.

Naruto bernapas lega, saat melihat luka-luka yang tersisa di tubuh Sasuke mulai menutup dengan sendirinya. Tubuh Sasuke mulai menghangat dan tak sedingin sebelumnya. Warna kulitnya sudah kembali normal tak sepucat sebelumnya. Jalur kedua tanda sudah terbuka, chakra mereka dengan perlahan mulai membaur dan menyatu. Ia merasa sangat bersyukur tubuhnya memiliki kemampuan penyembuhan yang cepat, sehingga Sasuke pun akan mendapatkan kemampuan yang sama.

"…Naruu…." Sasuke mengerang, kembali meronta saat panas dalam tubuhnya semakin membuatnya tak tahan. "…pa…nas…" ia menggeliat, kedua tangannya mulai mencakar tubuhnya sendiri lagi seakan ingin menarik hawa panas dari tubuhnya.

"Sshh…aku tahu…aku tahu….bertahanlah sedikit lagi…kita harus menyelesaikan ritual matingnya…" bisik Naruto lirih, mengecup leher sang raven dimana tanda itu berada. Sasuke mendesah pelan saat merasakan sentuhan lembut pada tanda di lehernya.

"Maaf…tapi kau harus bertahan sedikit lagi, oke? Aku akan melakukannya sepelan mungkin, setelah itu kau akan baik-baik saja…" Naruto berbisik lagi, mengusap lembut pipi Sasuke.

Sasuke hanya mengangguk. ia tak peduli. Apapun itu, ia hanya ingin segera menyelesaikannya. Tubuhnya terasa berat, kepalanya pusing, ia merasa tak sanggup berpikir apapun. ia hanya ingin segera memejamkan matanya dan tertidur.

Naruto menatap cemas pemuda raven di depannya. Mata onyxnya memandang sayu, terlihat tak fokus antara sadar dan tak sadar. Pemuda pirang itu menghembuskan napas pelan, menyibak helaian poni hitam yang sedikit menutupi wajah sang raven. Ia mengecup pelan dahi pucat itu, lalu berpindah mengecup lembut pipi sang raven. Ia membisikkan kata 'maaf' sekali lagi, merasa bersalah harus melakukan ini ketika pemuda itu dalam kondisi setengah sadar. Tak ingin berlama-lama lagi, ia melirik celana hitam yang masih terpasang menutupi tubuh bagian bawah Sasuke. Sepelan mungkin ia membuka kancingnya, sebelum melepas celana itu dari kaki sang raven dan meletakkannya di lantai. Berikutnya adalah boxer hitam yang dikenakan Sasuke, setelah semuanya terlepas, Naruto memposisikan tubuhnya, mempersiapkan pemuda itu sepelan dan selama yang ia bisa, sesuai yang ia janjikan tadi pada sang raven. Ia benar-benar takut pemuda itu akan terluka lebih dari yang sudah ia lihat sekarang.

"…ngnn…" Sasuke mendesah tak nyaman saat merasa sesuatu menginvasi lubangnya. Ia mencoba meronta, hawa panas yang masih menyelimuti tubuhnya sama sekali tak membantu. "…naruu…" erangnya meminta, entah apa yang sebenarnya ia minta sekarang. Ia hanya ingin perasaan aneh yang menyerang tubuhnya segera hilang.

Sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh bibirnya, membungkam desahan dan erangannya. Perasaan yang sangat menggelitik, terasa melilit perutnya. Sasuke meronta, mencengkeram punggung pemuda pirang yang berada di atasnya. "…Nn..ah…" sebuah jilatan kecil membuatnya mendesah dan membuka mulut. Bibirnya pun kembali dilumat lembut, sebelum sesuatu yang basah dan hangat menginvasi masuk menyentuh lidahnya. Lidahnya dihisap pelan, dijilat dan ditarik lembut oleh sesuatu yang basah dan hangat itu. Kepalanya terasa berdenyut, setiap sentuhan yang dilakukan pemuda pirang itu terasa menyengat seperti aliran listrik. Hawa panas yang dirasakan tubuhnya seperti berkumpul, terus terasa membuat perasaannya ingin meledak-ledak.

"…u.h..panas…naru…panas sekali…" Sasuke mendesah, merasa tak tahan lagi dengan perasaan aneh dalam tubuhnya.

"Shhh….aku tahu…aku tahu…aku akan segera menghilangkannya…" bisik Naruto pelan mengecup pipi sang raven dengan lembut. Ia menarik keluar jari tangannya, merasa Sasuke sudah cukup siap untuk menerimanya. Ia memposisikan dirinya, dengan hati-hati ia pun memasukan kejantannya ke dalam lubang sang raven.

"…Ngnn…naru..kh.." erangan sang raven dengan segera dibungkam dengan sebuah cumbuan. Naruto menciumnya lembut, memastikan submissive-nya tak akan merasa sakit sedikitpun. Ia mulai menggerakan tubuhnya, namun tanpa sekalipun melepas sentuhan bibirnya.

Sasuke mendesah pelan, perasaan aneh dalam tubuhnya terasa ingin meledak tak karuan. Namun kecupan-kecupan kecil yang diberikan bertubi-tubi oleh Naruto seperti menenangkannya. Matanya tiba-tiba menjadi sangat berat. Samar-samar ia mendengar bisikan-bisikan lembut dari Naruto yang membuat perasaan hangat dan nyaman muncul dalam dadanya.

"Aku mencintaimu Sasuke….aku mencintaimu…" bisik Naruto berkali-kali, memberi kecupan ringandi setiap inci yang ia temukan di wajah sang raven.

Tanda lingkaran hitam yang terukir pada perutnya menyala dengan perlahan bersamaan dengan tanda tiga koma yang ada di leher Sasuke. Dua tanda ikatan itu menyala bersamaan sebelum akhirnya meredup di saat yang sama seperti saling mengunci. Ikatan pun telah terbentuk, menyatukan jiwa dan raga dua insan yang saling mencintai satu sama lain. Ikatan kuat yang akan terus terukir bahkan setelah kematian menjemput mereka bersama.

.

.

.

.

.

.


to be continued in part two...


Chapter ini pendek? Nanggung? MEMANG, hahahh. Ada beberapa alasan kenapa chapter ini lebih pendek dari biasanya

1. Apa kalian membaca judulnya "Reunion Part One" ? artinya akan ada "Part Two" oke? Chapter ini hanya potongan separuh dari alur cerita chapter yang sebenarnya. Jadi chapter ini seharusnya dua kali lebih panjang dari ini, tapi fro memutuskan untuk membaginya menjadi dua, dan tentu saja, surprise ny trpaksa jd dua chapter, hotty fluffy smoochy akan muncul di chapter berikutnya haha

2. Ini udah tiga minggu, dan fro belum mengapdetnya, daripada kelamaan ya uda fro publish aja

3. Fro benci ditagih. Fro tahu para reader pasti sudah ga sabar baca kelanjutanya, karena beberapa hari ini fro ditagih mulu, dan fro ga suka itu, jadi ya udah, dari pada semakin ditagih fro publish aja separuh chapter

4. Ini hanya separuh chapter, dan tentu saja masih ada separuh lg dong? Tapi fro akan memperingatkan satu hal, fro ga bisa mempublish lanjutanya besok karena separuh chapterny itu belum selese dan karena...

tgl 21, 22 des, alias minggu dan senin fro ga bisa pegang leptop karena hari itu fro ada acara makrab kelas yang menginap selama dua hari

tgl 24, 25 des, alias rabu kamis, fro ada acara organisasi yg jg menginap selama dua hari

jadi, paling banter fro cuma bisa mempublishny hari selasa malem ato dini hari, itu pun kalau fro berhasil menyelesaikan chapternya. kalo hr selasa ga ada apdetan, berarti chapterny belum slese, dan fro bru bisa menyelesaikany hr jumat ato sabtu, oke?

Karena itu silahkan dimaklumi dan selamat menunggu penuh kesabaran kekekeke :P

oke, berhubung masih ada yang bingung masalah marking dan kenapa tandanya bisa balik lagi, fro akan menjelaskannya sedikit. Pertama fro akan memberi kalian beberapa hint yang sudah pernah fro keluarkan dalam chapter2 sebelumnya.

1. Masih ingatkah kalian dengan chapter dimana "Chakra Naruto dan Sasuke menjadi tidak stabil karena janin yang ada di dalam tubuh Sasuke" ? (bagian 6. chapter 5)

2. Masih ingatkah kalian kalau "Naruto harus menyegel chakra nya agar bisa mengendalikan chakra ny yang tidak stabil dengan baik" ? (bagian 7. chapter 6)

3. Masih ingatkah kalian kalau "Naruto sempat kehabisan chakra-nya karena menyembuhkan luka parah Sasuke akibat serangan Sai" ? (bagian 8. chapter 7)

4. Masih ingatkah kalian kalau "Naruto harus melepas segel chakra nya agar bisa menggunakan seluruh chakra dalam tubuhnya tanpa batasan ketika melawan Sai" ? (bagian 9. chapter 8)

5. Masih ingatkah kalian kalau "tanda di leher Sasuke tiba-tiba muncul kembali" ? (bagian 10. chapter 9)

6. sudah pahamkah kalian penjelasan shikamaru tentang "Bayinya tidak akan membiarkan tanda nya hilang apalagi membuat aliran chakranya terputus, namun "sesuatu" menahan chakra naruto sehingga bayi nya tidak bisa menarik chakra yang dibutuhkannya." ? (bagian 10. chapter 9)

oke, dari hint2 di atas, apakah sudah ada sedikit pencerahan? hahah, intinya, Naruto menyegel chakra nya agar bisa mengendalikan chakra yang tidak stabil, sehingga ia cuma bisa memakai sebagian chakra nya, dan ketika ia kehabisan chakra karena menyembuhkan Sasuke, maka chakra yang dibutuhkan untuk sang bayi otomatis juga tidak ada kan? "Bayinya seharusnya tidak akan membiarkan chakranya terputus" tapi, karena chakra ny sempat kehabisan, maka, ketika Naruto melepas tandanya di leher Sasuke, sang bayi tidak bisa melakukan apapun karena alirannya memang sempat terputus karena kehabisan chakra. TAPI ketika Naruto melawan Sai, dia masih punya cadangan chakra yang memang sengaja disegel (dan disini sang bayi tidak bisa menariknya karena memang DISEGEL) sehingga, saat Naruto melepas segelnya, otomatis, chakra ny kembali mengalir, dan sang bayi bisa kembali menarik chakra yang dibutuhkannya, dan otomatis tandanya pun kembali. sudah paham kah?

Akhir kata, Bagaimana chapter ini? terlalu nanggung dan tidak memuaskan? hahah _

.

/-.-.-.-.-.-.-Pojok Tulisan-.-.-.-.-.-.-/

[guru naruto kyuubi? kirakira ff ini berapa chap fro? ] yap, kyuubi, uda liat kan di chappy ini kekeke :3 sampai 13-14 chappy mungkin

[Kpan sasuke ketemu sama naruto?] itu uda ketemu kan? kekeke

[si mbah danzo pada kemana sich,, lama banget ketemu dan berantem ama naru nya?] hahaha, it "rahasia" 3 #digeplak

[ada adegan yg rasanya kurang pas fro, si itachi di kurung bertahun2 masa ga berewokan? rambutnya juga mungkin semata kaki. dia cukuran di mana tuh?] wkwkwk, cukuran di salon deket kosnya fro #plakk, anggep aja uda bersih2 sendiri di dalam penjara wkwkwk, walaupun disekap2 gitu, harus tetep jaga penampilan meennnn, makanya di cukur tiap hari hahahah #ditendang

[Bknnya krna adanya ikatan,pasangan bisa saling merasakan kehadiran satu sama lain. Ini sasuke bisa merasakan naru tp knpa tdk sebaliknya ya?] sebenarnya naru bisa merasakannya, bukankah naru mendengar suara sasuke? namun karena naru sudah melepas tandanya, ia merasa ragu bisa merasakan keberadaan sasuke, karena seharusnya memang tidak bisa kalo tandanya sudah dicabut

[apa anaknya narusasu itu nanti menma? mereka bakal bersatu kan?] entah, belum ta putusin wkwkwk, yep, uda liat di chapter ini kan? hehe

[kapan naru ngelepas segel n untuk apa? Hingga baby narusasu bs meretas jln bantu sasu menimbulkan 'mark' nya lg?] pertanyaan ini sudah fro jelaskan di atas kan? kekeke :3

[huwaaa.. gimana keadaan sasuke?] huwaa gimana ya? ga tau nih #digetak haha uda liat chappy ini belum? lanjutannya tunggu chappy depan

[fro aku mo nanyak? kenapa itachi gak bisa melihat siapa yg ngambil chakra naru? apa emang ditutupi ato gimna?] iya ga bisa, chakra ny tertahan sesuatu yang ga bisa diliat oleh orang lain, alias baby narusasu hahah, uda liat di chappy ini kan?

[trus yang di scene terakhir kan si kyuubi nongol versi rubahnya apa dia bisa berubah wujud jadi human?] bukan human, tapi demon, hahah, iya bisa, liat kan dia jadi pemuda tampan berambut merah panjang kekeke :3

[yg mo d tanyain siapa yg nolong Sasuke? Trus kenapa Kuramany bru kluar d chap. Ni!] yang nolong sasuke jelas naruto dums kekeke :3 hey! kan asik kalo dikeluarin semua dari chapter awal kekeke semua dapet jatah peran :3

[Kapan naruto tahunya sasuke hamil anaknya padahal kan aku selalu menantikan nya ntar sasuke lahirannya normal?] itu uda liat kan reaksi naruto pas tau sasuke hamil? kekeke, entahlah fro belum memutuskannya hahahah, liat nanti deh

[Ngomong-ngomong yang death char itu tokoh utamanya bukan sih ka?] bukan, tiap warning hanya berlaku untuk chapter itu saja, warning death chara hanya untuk sai yang mati di chapter itu, kalo ada death chara lagi, pasti fro kasih warning lg, jangan khawatir kekeke :3

[ apa kyukyu bisa jadi manusia ? apa kyukyu bakal ikut naru bwt bunuh danzo ? apa bakal ada itakyu atau kyuita ? kalau ita udah kekurung selama 11 tahun jadi badanya gak kekar kyak naru donk.. badan ita bidangan naru kan ? ] oke banyak juga, fro jawab satu2, kyukyu bisa merubah tubuhnya, udah liat di chappy ini? dia jd cowok bersurai merah yang hotty hotty hahahh #plak untuk pairing bakal jadi surprise hahahh :3 well, untuk badan itachi, memang tak sekekar itu karena dia cuma di dalem penjara, tp tetep fit kok, kekeke, apalagi yang bisa ia lakukan di dalam penjara, selain memanfaatkanya untuk menjaga otot tubuh dengan push up tiap hari? hahahah #ditendangitachi

/-.-.-.-.-.-.-.-/

Terima kasih banyak buat review, kritik dan sarannya, Hontou ni arigatou gozaimasu *bungkukbungkuk*

Buat yang pertanyaannya belum kejawab, brati akan terjawab di chapter berikutnya, oke? kekeke :3

well, then, jangan lupa chapter ini di review juga! nanti ga fro apdet lho? #glare #dirajangmasa #uhuk #uhuk

Sampai jumpa di chapter berikutnya, berdoa fro ga terlalu sibuk, oke!

Matta Ne!

.

Special Thanks to :

suira seans, CA Moccachino, riena okazaki89 , Aicinta, ManaTheAngelOfDarkness , sabachi gasuchi, yola yaoi, zazuo , shity shinee, Dewi15 , natasya agustine 12, Kiyomi Hikari, Gorilla Gila, Uzumaki Prince Dobe-Nii , himekaruLI, alta0sapphire , ai no dobe, Kagaari, NitsugaAo-Mido, Ivy Bluebell, Sadistic, 306yuzu, Flanilla , nurin vip4ever , Natsume Yuka, Guest , Kim Tria, dokbealamo, Nita suci devgan, zukie1157, NaluCacu CukaCuka, gdtop , ShinKUrai, Arevi are vikink, FUJODANSHI, Septaniachan, jungefakim, julihrc, usur saos , sitara1083 , Dark de ay, Kim Tria , Sakie ayana, narusasuwookie, amour-chan , Naminamifrid , pingki954 , Chika kyuchan, jaeradise, Namikaze doberachiha, Luca Marvell, neni uchiha , narusasuwookie, Ichikawa Arata , Midory Spring, yassir2374, o.O rambu no baka , sapphire melody, iche cassiopeiajaejoong , kitsune, Guest, RevmeMaki, Ndah D Amay, Izumi Jung, AyaKira SanOMaru , driccha , nalunacacu lovedovey, Ryuzaki324, Guest , U-Know Yunjae, Akasaka Kirachiha, Gyujiji , Fuyuto Yuuki, michiyo, Xilu, heyoyo, Monster Danau Toba, Cherry bloosom, naruuuuu, Yukihana Nokawa, Yukihana Nokawa, Agata Nami, Sasofi No Danna , Luexo, Guest , Gaa-Chama, NaruFreak, Komozaku Natsuki, maruka, megumi ichikawa, QRen, Katsuki12, miszshanty05, Park Minnie , jeruktomat, shizu-chan, QRen , kitsune, gorilla gilla, ilma,