Saya tau fic ini tidak pernah luput dari kekurangan jadi mohon maklumi -.-"
Karena AU, jadi pasti OOC. Banyak kalimat yang rancu karena saya tidak edit lagi ToT
CHAPTER 11 : Farewell PART II
"Aa, Uchiha? Uchiha Sasuke?" Sasori memasang topengnya. Raut wajahnya terlihat bingung ketika melihat Uchiha dan Hyuuga bersama.
Pemilik rambut indigo itu tersentak mendengarnya. 'Jangan bilang... Sasori-senpai mengenal Sasuke?!' Ia mengalihkan pandangannya ke pemuda di sebelahnya. Pucat. Itu yang ia tangkap dari raut wajah Sasuke. Gerak-gerik Sasuke tiba-tiba mencurigakan. Salah tingkah.
"Apa yang kau lakukan di sini, Sasuke? Dan—Hinata, kau mengenalnya?" Sasori menatap Hinata dengan senyum palsunya. "Kau mengenal Sasuke?" Sasori menekan kalimat itu lagi dan sukses membuat jantung Hinata berdegup lebih cepat. Kenapa? Kenapa Sasori tersenyum ke arahnya? Ia merasa ini bukan pertanda baik.
"Te-tentu saja Sa-Sasori-senpai, di-dia—"
"Adalah orang terpandang di Konoha," potong Sasori langsung. Hinata dan Sasuke sukses membatu mendengarnya.
"Cukup, Sasori!" ujar Sasuke dengan nada mengancam. Hinata menatap pemuda itu kaget. Sasuke mengenal Sasori? Setahunya, ia belum pernah mengenalkan Sasori kepada Sasuke. Apa maksud dari semua ini, Kami-sama...
Sasori tidak mengindahkan kata-kata pemuda bermata onyx itu, "keluarganya sangat terpandang di Konoha, Hinata," Sasori kembali menunjukkan senyum palsunya, "dia adalah bungsu dari keluarga Uchiha, pemilik Uchiha Company, perusahaan terbesar di Konoha. Kelak ia akan melanjutkan jejak Ayah dan Kakak laki-lakinya. Oh iya,
dia sudah mempunyai tunangan, Hinata."
"Sasori! Aku bilang cukup!" Sasuke menggertakkan rahangnya.
Sedangkan Hinata hanya diam mematung. Hatinya bagaikan disayat oleh ribuan belati. Air matanya sukses mengalir dari mata indahnya. Sebelah tangannya mencengkram erat dadanya. Menahan rasa sakit yang ia rasakan.
"Kau tidak merasa bersalah, Hyuuga? Seharusnya kau tahu kalau dia adalah seorang Uchiha. Kau tahu, Uchiha? Perusahaan yang telah menghancurkan bisnis dan menghilangkan seluruh aset yang ayahmu miliki, Hyuuga Company," masih dengan nada angkuh dan datarnya, Sasori terus berucap tanpa rasa bersalah. Aa, kalau tidak karena perjanjiannya dengan Sakura, ia tidak akan menyakiti Hinata. 'Maafkan aku, Hinata,' tetapi siapa peduli. Ia terlalu benci Sasuke. "Kau tahu? Seluruh keluarganya khawatir. Teman-temannya, orang yang mengenalnya. Semua pekerjaannya terlantar. Oh iya, tunangannya tidak pernah berhenti menangis. Sasuke bukan gelandangan, Hinata, seharusnya kau tahu hal itu,"
Cukup, Sasori, cukup! Rasanya Sasuke ingin meneriaki wajah stoic itu saat ini juga. Sikapnya keterlaluan. Ia tahu Sasori mengenal Hinata cukup lama dan tidak sepantasnya ia bersikap seperti itu. Seharusnya Sasori selesaikan dengan cara yang baik, bukan menyalahkan Hinata seperti ini! Siapa sebenarnya dalang dari semua ini? Ia tahu Sasori sangat membeci dirinya, tetapi tidak harus membalas dendam dengan menyakiti tetangganya sendiri, 'kan?
Sasuke menarik tangan Hinata—berniat ingin meninggalkan tempat itu. Sasori keterlaluan. Parah. Tetapi Hinata menepis tangan kekar itu. Hal itu sukses membuat Sasuke terkejut. "Hinata..."
"Pergi,"
"Hinata, dengarkan aku—"
"Pergi!" tangisnya semakin kencang. Ia menundukkan kepalanya sehingga Sasuke tidak dapat melihat air mata yang terus keluar dari kedua matanya. Tubuh mungilnya bergetar hebat. Isak tangis Hinata membuat Sasuke merasa bersalah. Amat merasa bersalah. Seluruh sandiwara bodohnya itu justru menyakiti orang yang ia sayangi. Seharusnya ia tahu, cepat atau lambat semua akan terbongkar. Ini semua karena dirinya... Tidak, tetapi karena Sasori! Amarah menguasai Sasuke saat Sasori menatapnya dengan seringai tipis. Seringai yang sukses membuat amarah Sasuke memuncak.
Sasuke dekati pemuda berambut merah itu. "Brengsek kau, Sasori!" ia cengkram kerah kemeja Sasori lalu mendaratkan sebuah pukulan di pipinya. Sasori sukses tersentak. Ia tidak menyangka Sasuke akan sampai seperti ini. Ia mencoba melepaskan cengkraman Sasuke namun ia tidak bisa karena Sasuke terus memukulinya. Kakinya menendang perut Sasori sehingga cairan berbau anyir keluar dari mulutnya. Sasori tidak mau kalah. Ia balas perbuatan Sasuke.
"SASUKE!" pekik Hinata ketika menyadari perkelahian itu. Ia menghampiri kedua pria itu lalu menarik Sasuke paksa, "HENTIKAN!" teriaknya setengah terisak. Namun Sasuke tetap bergeming. Ia terlanjur diselimuti oleh emosinya yang tidak terkontrol. Ia tidak mau berhenti juga. Amarahnya tidak cukup ia salurkan dengan menghajar pemuda berambut merah itu saja. Tidak cukup. Ia ingin Sasori mati di tangannya. "AKU BILANG HENTIKAN!" kali ini teriakan Hinata sukses menghentikan kegiatan Sasuke. Sasuke menatap Sasori sinis sebelum menarik cengkramannya. Ia membalikkan badan dan mendapati Hinata yang tengah menatapnya marah.
"Hinata! Kau tahu Sasori sudah keterlaluan, aku hanya—"
"Cukup Sasuke!" bentak Hinata. Pemuda berambut raven itu membisu. Ia kaget melihat Hinata. Bukan, bukan Hinata yang lemah lembut, tetapi Hinata yang marah kepadanya. Hinata yang rapuh. Hinata yang kini membencinya. "Sa-Sasori-senpai mungkin keterlaluan! Tetapi kau lebih menyedihkan, Sasuke! Kau lebih keterlaluan! Kau jahat! Kau bohongi aku, kau bohongi semua orang!" tangis Hinata semakin kencang.
"Hinata—" ingin Sasuke merengkuh tubuh mungil itu. Menenangkannya. Ia tidak kuat melihat Hinata membencinya. Ia tidak tahan melihat Hinata menangis karena dirinya. Ia tidak mau Hinata pergi darinya.
"JANGAN SENTUH AKU!" Hinata memekik. Ia tidak mau kenal lagi dengan Sasuke, seumur hidupnya. Ia mau berhenti mencintainya. Ia mau menghapusnya dari ingatannya. Ia ingin amnesia! "Anggap aku tidak pernah mengenalmu, begitu pun, kau!" bola mata lavender itu menatap bola mata onyx itu tajam. Sasuke membisu ketika melihat luka yang tersirat di kedua bola mata Hinata. Luka yang begitu mendalam. Luka yang butuh membutuhkan waktu lama untuk terobati, bahkan mungkin tidak bisa. Dan itu semua karena ulah Sasuke sendiri. Akibat kebohongannya. Akibat kecerobohannya. Dan akibat dirinya yang lari dari kenyataan.
"Aku membencimu, Sasuke!" kata-kata itu sukses menusuk hati Sasuke. Kata-kata yang tidak pernah mau ia dengar, tetapi cepat atau lambat ia akan mendengarnya.
Sungguh, ia tidak pernah membayangi hal ini akan terjadi. Selama ini ia selalu membayangkan bahwa ia dan Hinata akan terus bersama. Akan terus bersama menetap di Iwa. Keduanya sama-sama manusia dari Konoha, tetapi keduanya lebih memilih tinggal di Iwa. Keduanya sama-sama lari dari kenyataan. Tetapi kenyataan sebenarnya tentang Sasuke memang menyakitkan bagi wanita tak bersalah itu. Hinata tidak pantas menerima semua ini. Ya, Hinata tidak salah apa-apa. Ia hanya menjadi korban dari masalah Sasuke. Hinata adalah tumbal! Seharusnya Sasuke melepaskan wanita itu. Seharusnya Sasuke mengerti bagaimana perasaan Hinata nanti ketika Hinata tahu semua kebohongannya.
Sasuke menatap punggung Hinata yang semakin lama semakin jauh. Kali ini apa yang dilihatnya bukan mimpi. Hinata benar-benar meninggalkannya.
Tidak terasa air mata mengalir dari bola mata onyx itu.
Sedangkan pemuda berambut merah itu menyeka darah di sudut bibirnya. Seulas senyuman tulus tersungging di bibirnya. 'Semoga kau merasakan itu, Sasuke,'
-x-
Sasori mendapatkan kesepakatannya bersama Sakura. Entah kesepakatan apa yang Sasori buat dengan Sakura, Sasuke tidak peduli.
Sasuke berada satu mobil bersama Sasori. Ia duduk di jok depan. Sasori mengemudikan mobil.
Mereka tidak dalam fase berdamai, sesungguhnya. Sasuke masih membenci Sasori. Aa, bahkan ia akan terus membenci Sasori.
"Sasuke,"
Sasuke tidak menghiraukan. Ia selalu menganggap bahwa di mobil itu dia hanya sendiri. Sasori hanyalah hantu.
"Jangan marah seperti itu, ini demi kebaikanmu," Sasori berkata seolah ia mengerti apa yang terbaik untuk pemuda itu. Bohong. Sasori hanya mementingkan dirinya sendiri.
Lagi-lagi Sasuke tidak menggubris. Ia lebih memilih diam. Pasrah lebih tepatnya.
Kemarin seharusnya tidak menjadi sebuah perpisahan. Seharusnya Sasori tidak datang! Ingin rasanya Sasuke membunuh Sasori saat ini juga, tetapi ia urungkan niatnya mengingat mereka sebentar lagi akan memasuki Konoha.
Konoha, eh? Sasuke menghela nafasnya berat. Ia tidak mau kembali ke kota laknat itu. Ia tidak mau kembali pada kehidupannya. Ia tidak mau melihat raut wajah orang tuanya yang kecewa akan dirinya. Ia tidak mau melihat Sakura. Sungguh, ia tidak mau.
Selama perjalanan hanya diisi oleh keheningan. Sasuke tidak membuka topik, sedangkan Sasori terlalu takut untuk membuka topik.
Keheningan itu membuat Sasuke kembali terhanyut pada kejadian beberapa jam lalu. Kejadian yang memilukan. Kejadian yang menyayat-nyayat hatinya.
Mungkin hari ini adalah hari terakhirnya melihat Hinata. Rasanya, ia tidak akan pernah melihat Hinata lagi, mengingat wanita itu sudah terlanjur membencinya. Ia baru mengenal wanita itu beberapa bulan. Seharusnya ia bisa langsung melupakannya, tetapi mengapa rasanya susah? Mengapa itu sakit sekali? Segitu dalamnya kah perasaan Sasuke? Yang benar saja, Sasuke! Kau baru mengenalnya beberapa bulan! Namun kenapa sakit sekali rasanya?
Kenapa rasa sakit bertubi-tubi ini terus menghujatmu?
Tanpa Sasuke sadari, mobilnya telah berhenti di depan sebuah rumah megah. Rumah di mana ia dibesarkan.
"Welcome home, Sasuke,"
-x-
Hinata tidak kunjung beranjak dari kasurnya. Sudah hampir seharian ini, ia hanya merebahkan diri. Seperti mayat saja. Air mata tidak kunjung berhenti mengalir. Tubuhnya lemah. Dirinya sangatlah rapuh.
Disaat hatinya kosong. Disaat seseorang telah hadir dan mengisinya. Namun Tuhan merenggutnya kembali. Tidak lebih dari dua bulan, Tuhan kembali merenggut kebahagiaannya.
Ia kehilangan Ibunya, adiknya, kini ia harus kehilangan Sasuke pula?
Rasanya Tuhan tidak adil. Apakah benar Tuhan menyayanginya? Tetapi mengapa yang ia terima hanyalah sakit, sakit, sakit, pilu, perih, nyeri, dan sebagainya? Mengapa Tuhan tidak membiarkannya bahagia untuk waktu yang lama? Mengapa hanya sebentar?
Dan mengapa kenyataan yang pahit ini harus ia terima dalam waktu yang begitu singkat?
Rasanya ia baru saja mencintai Sasuke. Rasanya baru saja ia bahagia. Tetapi semua sirna ketika ia sadar bahwa selama ini ia hidup dalam kebohongan.
Ya, betapa bodohnya Hinata.
Mata itu... Mata gelap milik Sasuke. Aa, seharusnya Hinata sadar bahwa hanya Uchiha yang memiliki mata setajam itu. Ia ingat akan perkataan Sasori. Uchiha telah merenggut semua milik Hyuuga. Ia ingat bahwa Ayahnya bangkrut karena ulah Uchiha, namun Hinata tidak pernah memedulikannya karena saat itu ia terlalu sibuk dengan rasa sakit yang terus ayahnya berikan.
Bodoh.
Hinata terus merutuki dirinya sendiri. Apakah Uchiha itu tidak cukup membalas dendam pada Hyuuga? Apakah Uchiha tidak cukup dengan membuat keluarganya hancur saja? Sekarang Uchiha itu malah membuat hatinya hancur? Padahal Hinata tidak ada sangkut pautnya dengan masalah mereka!
Berbagai pikiran negatif bergelut di otaknya. Pikirannya kacau. Ia terlalu frustasi.
'Kami-sama... sampai kapan?'
TBC
NB: Maaf terlalu singkat dan padat. Tidak saya cek ulang jadi biarkan reader yang cek biar nanti saya perbaiki *digampar* Duh, gak puas yaa? Saya juga gak puas:( Maaf atas ketidakpuasan ini. Mungkin sebagian besar udah pada lupa sama plotnya, karena hampir setahun lebih tidak diupdate, tetapi saya gatel kalo ditelantarin gitu aja! Lagian sebenernya cerita ini sudah mau habis. Buktinya sudah sampai klimaks (sepertinya). Saya akan lanjutkan fic terlantar lainnya jika ada waktu pasti saya ketik dan lanjutkan. Mohon do'anya, ya!
Oh iya, terima kasih buat review di chapter-chapter sebelumnya:) buat yg non login, maaf tidak bisa dibalas, intinya skrg sudah say aupdate dan terima kasih banyak review dan masukannya! terima kasih selalu mewanti-wanti saya buat update:D
Terima kasih telah membaca:)
