Naruto by Masashi Kishimoto © 1999

RUSH!/AU/OOC/OC: Sasuko Uchiha/TYPO(s)

SasuSaku slight SasuIno friendship and GaaraSaku family

-Chapter XI-

==00==00==00==

Suasana gedung itu terlihat sepi karena beberapa menit yang lalu suara bel tanda berakhirnya jam sekolah sudah menggema. Hanya beberapa ruang club dan lapangan yang masih berpenghuni oleh beberapa siswa yang menjalankan jam ekstrakulikuler. Ah, satu lagi… ruangan sepi yang selalu di datangi seorang pemuda beasiswa bernama Uchiha Sasuke…

Perpustakaan.

Seorang murid berambut emo sedang sibuk menggerakan pulpennya di atas sebuah buku, wajahnya terlihat sangat serius menekuni beberapa buku tebal yang berada di atas meja. Keringat mengucur di atas dahinya, Sasuke membolak-balikan beberapa lembar kertas dari buku-buku tadi seolah mencari sesuatu, lalu menulisnya pada sebuah kertas. Terus seperti itu, sampai…

"Kau tidak pulang?" tanya seorang gadis berambut pirang dikuncir satu, Sasuke menoleh sekilas dan kembali melanjutkan aktifitasnya sambil menggeleng untuk menjawab pertanyaan Ino. Gadis bermata aquamarine itu pun duduk di sebelah sang cowok berambut emo. "Memangnya kau tidak mengantar Sakura pulang?"

Srek!

Goresan tinta pada lembar kertas itu terhenti, iris kelam Sasuke perlahan bergerak menjauhi kertasnya untuk menatap lurus ke depan. Ia menghela napas jika mengingat kejadian tadi, tidak, lebih tepatnya kejadian beberapa bulan belakangan. Cowok keren berprestasi itu merasa semakin jauh dengan cewek yang disukainya semenjak Gaara datang. Memang, tak sepantasnya ia cemburu pada sang kakak dari si cewek tersebut, tapi tetap saja kehadiran Gaara membuat jarak yang cukup lebar antara dirinya dengan Sakura.

Sasuke menggeleng, "Hari ini dia bilang mau jalan sama Gaara." tangannya kembali menggoreskan sesuatu di atas kertas. Ino tersenyum lemah, biar pun sekarang ia tidak begitu dekat dengan Sakura, ia dapat merasakan adanya kejanggalan dari sikap gadis ceria tersebut. Sakura terlihat memilih menyendiri, walau pun seberapa sering Sasuke mendekatinya tetap saja Sakura berusaha menghindarinya dengan halus. Entah apa yang dipikirkan gadis berambut merah muda tersebut, Ino sadar Sakura menyukai Sasuke tapi terlihat begitu menghindarinya.

"Oh," gumam Ino, aquamarine-nya melirik pada cowok berambut raven di sebelahnya, "Kau tidak memakai kacamatamu lagi?"

Sasuke menggeleng, iris kelamnya tak sedikit pun pergi dari apa yang sedang ia kerjakan.

"Kenapa?" tanya Ino.

"Rusak." Jawab Sasuke singkat, tidak bohong sih. Kacamata nako itu memang retak dan sengaja ia buang waktu itu karena kesal tidak menemukan Sakura dalam keadaan hujan. "Dan aku tak punya uang untuk membeli yang baru." Lanjut Sasuke seolah tahu apa yang akan Ino tanyakan. Saat ini, murid beasiswa Konoha Arts Academy itu tak mau diganggu karena mengerjakan sesuatu yang sangat penting bahkan sampai membuat keringatnya mengucur.

"Ah, bagaimana kalau kita pulang bareng? Aku yang teraktir deh, sekalian membelikanmu kacamata baru." Tawar Ino tersenyum sumringah seolah mendapatkan ide. Sasuke hanya bergumam dan tetap pada pekerjaannya.

"Terimakasih, tapi nanti saja." Sahutnya cuek, "Aku benar-benar sibuk saat ini."

Ino merengut, sudah untung cowok ini bakal di teraktir tapi malah menolak sok sibuk. "Sedang mengerjakan apa sih?" tanyanya penasaran dan menjulurkan kepala untuk melihat apa yang tengah dikerjakan oleh Sasuke namun segera ditutupi oleh tubuh Sasuke yang membungkuk.

"Jangan lihat!"

"Memangnya apa?" aquamarine itu melirik heran pada wajah tegang Sasuke. Aneh. Cowok yang datar itu sudah lama melepas predikat culun dan berubah wujud jadi prince ice walau dalam status beasiswa yang artinya miskin. Tapi sudah lama wajah Sasuke tidak menunjukan ketegangan seperti sekarang, dulu wajah seperti itu muncul hanya saat-saat ia di bully. "Apaan sih? Kasih tahu dong!"

"Nggak!" tangan kurus cowok itu buru-buru memberesi asal-asalan apa yang ada di meja berpustakaan.

Ino berdecak kesal, "Ih, tadi katanya sibuk sama kerjaan, sekarang kerjaannya di beresin sendiri."

"Aku bisa mengerjakannya nanti—heiii!" protes Sasuke kesal karena Ino berhasil merebut beberapa bukunya, ingin sekali Sasuke rebut kembali tapi ia sadar ini perpustakaan. Akan menimbulkan masalah yang besar jika ia berteriak atau membuat debaman keras dari sepasang sepatunya yang berlaian. Sasuke mendesah pasrah, biarlah…

Senyum di wajah cantik Ino memudar setelah memperhatikan buku-buku yang berada di tangannya. Novel klasik, sastra jepang, seni bahasa, tata penulisan surat, grammar kanji, menggali kemampuan merangkai kata, dan lain-lain.

Aneh, Sasuke siswa jenius yang seharusnya bergelut dengan buku sains atau semacamnya, tapi kenapa malah jadi seperti siswa sastra yang melankolis begini? Batin Ino bingung setengah mati. Sementara Sasuke diam menyandarkan punggungnya di kursi perpustakaan yang tersedia, menunggu reaksi teman pirangnya.

Perlahan, terdengar tawa yang mati-matian Ino tahan setelah melihat buku terakhir yang di bacanya.

Untuk Sakura. Hai. Apa kabarmu? Aku merindukanmu—ah (Paragraf ini dicoret).

Untuk Sakura. Kita sudah lama mengenal, aku tahu mungkin aku lelaki yang biasa-biasa—(paragraf ini dicoret).

Sakura… ada hal yang ingin kukatakan padamu, ini menyangkut apa yang telah kita lalui selama ini… aku—(dicoret)

Seperti bintang yang tak lelah menyinari, begitupun cintaku takkan padam untuk—(yang ini dicoret dengan goresan frustasi hingga kertas tersebut timbul).

Shit. Foolman. Jackass. Stupid. Idiot. (tulisan seperti ini besar-besar dengan goresan frustasi).

Ino tertawa keras dan lepas sampai mengundang sang penjaga perpustakaan untuk menghardiknya. Setelah pegal karena membungkuk-bungkuk minta maaf pada sang penjaga, Ino pun kembali pada Sasuke yang telah pasang wajah memerah dan kerutan alis yang tercetak jelas. "Puas kau menertawakanku?"

Ino menghapus air disudut matanya, "Kau lucu."

Sangat lucu. Ternyata sedari tadi wajah datar, tegang dan berkeringat Sasuke hanya karena susah payah menulis sebuah surat cinta. "Caramu kuno, katakan secara langsung! Be gantle."

Sasuke membuang muka, "Aku sudah mencoba, tapi kakaknya itu sepertinya sengaja terus menghalangiku."

Tubuh gadis berambut pirang itu menegang, ekspresi menahan tawanya lenyap seketika.

"Gaara?" gumam Ino menghela napas, aquamarine-nya menerawang, "Dia memang protektif pada adiknya. Kau tahu, dia begitu mencintai Sakura."

Sasuke menoleh.

"Mencintai sebagai adik-kakak!" jawab Ino cepat setelah mendapat tatapan aneh dari Sasuke, "—tentu saja. Kadang aku sedikit iri dengannya—Sakura."

Hening sejenak. Ino menatap ke luar jendela yang menampilkan langit sore, sementara Sasuke kembali memberesi buku-bukunya yang sempat direbut Ino.

"Nah," Ino memecahkan keheningan, "Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke mall, beli kacamata baru untukmu dan bicarakan soal Sakura?"

Iris kelam itu melirik, "Sakura?"

"Ya, kita cari solusi bersama. Aku bisa membuat Gaara sibuk, dan saat itulah gunakan waktumu dengan baik untuk menyatakan cinta." Jawab Ino berbisik sambil melirik ke sana ke mari, memastikan tidak ada orang yang mendengar.

Sebalah alis Sasuke terangkat, "Membuat Gaara sibuk?" heh, memangnya gadis ini siapa? Gaara merupakan reman sekolah yang bertindak sesuka hatinya, guru saja tidak bisa memerintahnya, bagaimana Ino?

"Sudah, percayakan saja padaku. Kau tidak mau kan kalau Sakura terlanjur direbut orang?" pekik Ino masih berbisik. Perkataan itu sukses membuat Uchiha kehilangan ketenangan, sungguh tak bisa dibayangkan. Sehari berlalu tanpa mengantar Sakura pulang ke rumahnya saja Sasuke sudah uring-uringan, bagaimana kalau melihat gadis mungil itu bersama cowok lain—selain Gaara, kakaknya?

"Hn."

.

==00==00==00==

.

"Sakura…"

"Ya?" gadis berambut merah muda itu menoleh menatap kakaknya yang sedang mengerutkan dahi.

"Kenapa melamun?" tanya Gaara masih merangkul pundak adiknya tanpa memberatkan sang adik. Sakura berusaha tersenyum.

"Eh, tidak… hanya saja aku sedikit lapar."

Pemuda berambut merah bata tersenyum tipis, sebelah tangannya yang lain mengangkat hampir sepuluh kantung belanjaan. Tentu saja berat dan harusnya dibawa oleh dua tangan, tapi Gaara terlalu memikirkan sang adik, ia bersikeras menganggurkan tangannya yang lain untuk merengkuh adiknya. Meski Sakura sudah merengek minta ikut membawakan beberapa kantung, Gaara menolaknya mentah-mentah. "Ya sudah, kita ke lantai foodcourt saja."

Gadis berambut merah muda itu mengangguk dan tersenyum manis. Mereka pun berjalan tanpa peduli tatapan-tatapan kagum beberapa pengunjung lain.

"Mereka serasi ya?"

"Ih, cowok setampan itu pantasnya jalan deganku."

"Imut banget ceweknya."

Celetukan-celetukan seperti itu mendadak menyurut ketika mendapat tatapan tajam dari sepasang mata hijau pucat Gaara.

Pengganggu!

Matanya tetap memicing tak suka seolah berkata diam-kau-atau-mati—sampai ia dan adiknya memasuki lift yang ternyata kosong sehingga mereka berdua saja. Guratan kesal masih terpasang jelas di wajah pemuda tampan bertato 'Ai' tersebut. Kerutan dahinya perlahan memudar karena merasakan getaran pada lengannya yang merangkul bahu Sakura.

"Hihihi." Gadis bermata hijau cemerlang itu tertawa geli, "Mereka kira kita pacaran, Nii-san." Gumamnya terus cekikikan. "Bahkan sampe ada yang cemburu lho, ih Nii-san-ku ini memang tampan sih."

Melihat wajah adiknya tersenyum membuat Gaara tanpa sadar menarik sebelah sudut bibirnya, ia menghela npas. Baiklah, ia akui seberapa marahnya ia akan redam begitu saja kalau adiknya tersenyum apalagi sampai cekikikan seperti itu.

Lift terbuka, kedua murid berseragam Konoha Arts Academy itu pun keluar, Sakura masih sibuk berceloteh sambil tertawa pada kakaknya. Suara riangnya mendadak lenyap ketika kedua iris hijau cerahnya menangkap dua sosok yang sangat ia kenali.

"S-sas-suke?"

Senyum di wajah Gaara pun memudar ketika mendapati adiknya mendadak berhenti berbicara, pandangannya mengikuti arah kemana Sakura memandang.

Seorang pemuda berambut raven yang tampan memakai tas selempang sedang memajukan kepala pada seorang gadis pirang. Gadis cantik yang dikuncir satu tinggi-tinggi itu memakaikan sebuah kacamata pada Sasuke.

Gaara menoleh lagi pelan pada adiknya yang sedang menatap dua orang di sebelah sana dengan tatapan kecewa. "Saku—"

"Aku ingin coffee." Sakura menoleh cepat ke kakaknya dan menggeret tangan pemuda itu kembali memasuki lift yang kebetulan terbuka. Gaara mengernyit ketika sudah masuk ke dalam lift yang sedang bergerak turun tersebut.

"Kau sangat tidak menyukai kopi," gumam cowok merah itu memicingkan mata pada Sakura yang terunduk enggan menatapnya.

"Aku mau mencobanya," dusta gadis berambut merah muda pucat itu, membuat Gaara mendengus pelan. Sudah kuduga, dia itu bajingan. Dasar sialan. Gaara mengumpat dalam hati seraya bersumpah bahwa Uchiha yang satu itu tak kan pernah lagi bisa untuk bertemu adiknya. Tidak. Akan. Pernah.

Sesampainya di café yang khusus menjual coffee dan makanan ringan itu, Gaara menaruh kantung-kantung belanjaan tadi di sofa sementara ia duduk di seberang bersama adiknya. Kalau para pengunjung lain duduk berseberang-seberangan, jangan samakan dengan Gaara. Ia lebih suka duduk di sebelah adiknya agar dapat menjaganya lebih mudah. Keabsenannya tidak bertemu setahun dengan sang adik membuatnya semakin protektif, selain rasa rindu yang tak pernah habis, rasa sayang yang kian menjadi itu menjadi faktor mutlak dirinya tak ingin jauh-jauh dari Sakura. Gadis mungil yang berwajah imut itu terus menjadi pusat perhatian hampir seluruh hidupnya, karena hanya Sakuralah yang ia miliki di dunia ini. Tak ada yang lain.

"Mau pesan apa?"

"E-eh?"

Gaara mendesah, rupanya Sakura baru tersadar dari lamunan. "Apa yang kau pikirkan?"

Iris hijau Sakura menatap meja di hadapannya, "Tidak, aku hanya berpikir… aku tidak suka kopi mungkin aku akan membeli cokelat panas saja." Jawab Sakura lagi-lagi berdusta membuat Gaara mulai sedikit muak.

"Aa," gumam Gaara menyodorkan menu yang pada sang pelayan setelah menyebut apa yang ia dan adiknya pesan. Lama keheningan diisi dengan suara Gaara yang menjelaskan tentang maksudnya mengajak Sakura untuk pergi ke luar negeri ketika tahun baru nanti.

"Sakura?"

"Ah?" gadis bermata hijau itu menoleh, "Na-nani?"

Gaara membuka bibir tipisnya untuk mengatakan sesuatu sebelum akhirnya terpotong dengan pelayang yang mengantar pesanan mereka.

"Terimakasih," ucap Sakura tersenyum manis seolah tak ada apa pun yang terjadi pada sang pelayan. Gaara melirik dari sudut matanya sambil menyesai kopi pesanannya, adiknya itu kembali melamun dengan kedua tangan memegang cangkir cokelat panas di atas meja.

"Sakura, dengar…" pinta pemuda berambut merah itu, Sakura menoleh dan menyesapi cokelat panasnya lamat-lamat. "Aku berencana libur ke paris tahun baru ini, orang tua angkatku bilang kau boleh ikut jika kau mau."

Gadis berambut merah muda itu menelan cokelat panasnya dan menaruh cangkir di atas meja. "Benarkah? Wah, sepertinya menyenangkan."

Pembicaraan pun berlanjut, usulan Gaara disambut suara riang adiknya. Dalam hati pemuda penyandang predikat preman di sekolah itu tersenyum, nampaknya sang adik mulai ceria kembali.

"Nii-san, boleh ajak satu orang lagi tidak?"

"Hn?" Gaara bergumam heran, "Siapa?"

Sakura tersenyum, "Sasu—" senyuman gadis itu memudar ketika matanya tak sengaja melirik dua pelanggan yang baru saja masuk, "—ke…"

Heran, Gaara menoleh ke arah pintu dan mendapati lagi-lagi wajah yang dibencinya. Sasuke sedang berjalan beriringan dengan gadis berambut pirang.

"Ok, mari mulai latihannya." Ucap Ino ketika sampai di kursi duduk bersama Sasuke yang berseberangan. Kedua orang itu tak menyadari keberadaan dua orang lainnya di sudut ruangan sedang memandangi mereka.

"Di sini?" Tanya Sasuke heran. Ino mengangguk setelah menyebutkan pesanannya pada sang pelayan.

"Iya, kita tidak punya waktu banyak." Ino mengingatkan. Sasuke mengangguk paham, besok adalah hari dimana rencananya dengan Ino berjalan. Dimana Ino akan berusaha membuat Gaara sibuk dan membuat Sasuke memiliki kesempatan untuk berdua saja dengan Sakura.

"Pertama-tama kau harus memegang tangannya."

"Huh?"

"Kau tidak perlu memegang tanganku," sergah Ino melihat wajah bingung Sasuke. "Setelah itu kau tatap matanya," ujar Ino menatap kedua mata kelam Sasuke, cowok bermata kelam itu mengangkat sebelah alis balas menatap Ino yang sedang memajukan wajah di seberang meja.

"Seperti ini?"

"Bodoh, jangan kerutkan alis seperti itu. Tatap yang serius," protes gadis pirang tersebut, "datar namun dalam."

Sasuke mengikuti intruksi Ino.

Sementara itu dua pasang mata hijau memandang aktifitas keduanya dari sudut ruangan. Mata Sakura memanas melihat wajah dua insan itu saling berdekatan walau terbatas meja. Orang bodoh saja tahu apa yang akan mereka lakukan, Sakura pun membuang wajah dan mengeratkan genggaman tangannya pada telapak tangan Gaara yang sedari tadi meremas jemarinya.

"Kita pulang," gumam Gaara meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja lalu melepas jaket hitam barunya untuk ia kenakan di tubuh adiknya, Sakura mengenakan kupluk jaket tersebut. Seolah mengerti, Gaara pun memakai topi yang baru saja dibelinya hari ini bersama sang adik, untuk menutupi rambut merah batanya. Meski dalam hati ia ingin sekali menghardik lelaki berambut emo di sebelah sana, tapi ia tahan mati-matian. Ia tahu tak sepantasnya ia bertindak seperti itu karena bagaimana pun Sasuke tak memiliki ikatan dengan Sakura.

Sepasang kakak beradik itu lebih memilih menyembunyikan rambut mereka yang mencolok agar tidak disadari oleh kedua orang yang kini sedang mereka lewati. Iris hijau Sakura melirik, sebenarnya matanya sudah memburam dalam tundukan kepalanya itu.

Sementara Sasuke dan Ino tak menyadari kehadiran dua teman satu sekolah mereka. Waktu seakan bergerak sangat lambat…

Iris kelam Sasuke menatap lurus pada satu titik di dahi Ino, bibirnya terbuka untuk mengatakan sesuatu yang sedari tadi diulang-ulangnya karena Ino memerotes suaranya terlalu lemah.

"Aku menyukaimu."

Tes.

Degup jantung Sakura terasa berat dan sakit, setetes air mata tak dapat terbendung lagi dari mata hijaunya. Sementara Gaara yang tak sengaja mendengar pun mengeratkan genggamannya pada jemari Sakura seraya menarik gadis itu cepat-cepat untuk pergi dari situ.

"Nah! Benar begitu!" seru Ino senang sambil menjauhkan wajahnya, "Ok, tinggal kumpulkan saja keberanianmu besok."

Sasuke menghela napas lega, akhirnya… setelah beberapa kali perkataannya diprotes oleh Ino dapat didengar dengan jelas juga. Detak jantungnya mendadak cepat ketika Ino mengingatkan hari esok dimana yang diberinya ucapan seperti itu adalah Sakura. Cowok berambut emo itu menyesap kopinya yang baru saja datang dengan senyum tipis.

Sementara di luar, Gaara berjalan cepat membawa banyak kantung belanjaan di sebelah tangannya dan sebelahnya lagi menggeret adiknya yang sudah menangis sesunggukan. Tak peduli tatapan heran orang-orang karena wajah Sakura memerah dan basah, kupluk yang dikenakan Sakura sudah terjatuh kebelakang—meperlihatkan rambut merah mudanya—karena berlari kecil mengikuti langkah besar-besar Gaara yang cepat.

Sekilas, orang akan menyangka mereka sepasang kekasih yang habis bertengkar dilihat dari wajah mati-matian menahan marah Gaara dan wajah merah Sakura yang seseunggukan. Gaara tak peduli, ia terus menggeret adiknya hingga masuk ke dalam parkiran. Tak banyak kata, ia memakaikan helmnya yang cuma satu itu pada sang adik yang sedang berdiri menghapus air mata dengan lengan berjaket milik Gaara. Gaara pun tak peduli dengan jaketnya yang dipakai Sakura, ia menstater motor merah besarnya sambil membantu adiknya naik di belakang.

Dalam perjalanan, mereka diam. Gaara bersikeras menahan dirinya untuk tidak berteriak marah pada adiknya yang masih saja menangis, cowok berambut merah itu menaikan kecepatan motornya tak peduli angin menerjang kasar wajahnya. Pelukan sepasang tangan berlapis jaket miliknya mengerat dipinggangnya, ia tahu adiknya seperti itu bukan takut pada kecepatan tapi karena menangis semakin sendu.

Bodoh. Kau selalu menyukai lelaki yang bodoh. Gaara berucap dalam hati atas kelakuan adiknya. Adikku bodoh.

.

==00==00==00==

.

Malam hari.

"Sasuke-nii!" teriak gadis berambut hitam panjang dari luar kamar Sasuke, tangan mungilnya tanpa permisi membuka pintu geser dan menemukan kakaknya sedang terkejut berdiri di depan cermin.

"Teman sekolahmu mencarimu!" beritahu Sasuko, "Cepat!" lanjut gadis itu beranjak pergi lagi meninggalkan Sasuke yang menghela napas lega. Sebenarnya tadi Sasuke sedang melatih lagi dirinya di depan cermin sampai tiba-tiba terkejut dengar suara adiknya berteriak dan membuka pintu kamarnya secara tiba-tiba. Ia menghela napas, kira-kira siapa yang datang? Teman sekolah yang pernah datang ke rumahnya cuma Sakura seorang. Tapi kalau memang iya Sakura, tidak mungkin adiknya bilang 'teman sekolahmu' pasti adiknya yang cerewet itu mengatakan 'Sakura-neechan' atau 'pacarmu'.

Wajah Uchiha yang tampan itu sedikit memerah mengingat godaan adiknya yang selalu menyebut Sakura adalah pacarnya. Besok, sebutan itu dapat menjadi nyata—mudah-mudahan. Sasuke terus melamunkan hal-hal yang membuatnya tersenyum sendiri sepanjang jalan menuju pintu depan kontrakan sederhana keluarganya.

Sasuke membuka pintu, mendapati seorang pemuda berambut merah bata memakai jaket kulit sedang berdiri dengan tatapan sinis. Belum sempat Sasuke terkejut, tangan teman satu sekolahnya itu sudah menariknya keluar tanpa sempat mengenakan sandal dan segera menutup pintu rumah Sasuke.

Bhuagh!

Sasuke mengerang tertahan, sepanik dan sekaget apa pun ia berusaha tidak membuat suara gaduh yang memancing kedua orang tuanya keluar.

"Brengsek!" hardik Gaara meraih kerah kaus rumahan Sasuke. Kalau dulu Sasuke bisa melawan Gaara yang memukulnya, sekarang tidak bisa—sekalipun kepercayaan dirinya sudah terlatih. Fakta penting yang tak boleh dilupakannya, Gaara adalah kakak kandung Sakura. "Apa-apaan kau?"

Gaara mendecih mendengar pertanyaan pemuda yang dianggapnya pecundang tersebut. Awalnya Gaara berfikir pemuda ini benar-benar mnyukai adiknya, tapi melihat dan mendengar sendiri pernyataan suka Sasuke pada Ino, Gaara benar-benar dibuat muak. "Jauhi adikku!"

Sasuke mengernyit, pemuda yang sedang menatapnya garang ini benar-benar tidak konsisten. Semula menyuruhnya untuk menjauhi Sakura, lalu membiarkannya dekat dengan Sakura meski sering pula dihalangi, sekarang benar-benar menentang kedekatannya dengan Sakura.

"Ada apa lagi?"

Gaara membanting kerah Sasuke, mendengus keras-keras. "Kuperingati kau, adikku tidak akan pernah kubiarkan berdekatan denganmu, miskin."

Sasuke tertohok, belum sempat ia terkejut Gaara melanjutkan perkataannya dengan tatapan yang lebih tajam.

"Jangan bermimpi adikku mau denganmu, dia adalah 'tuan putri di kerajaanku'. Dan aku tidak akan membiarkan orang miskin sepertimu mendekatinya. Sadar diri, miskin!"

Sasuke diam tak menjawab, ia sadar selama ini dirinya hanya remaja bodoh yang mengabaikan fakta tersebut. Bahwa dirinya adalah pemuda dari keluarga miskin yang bersekolah di sekolah elit hanya karena beasiswa. Sasuke merasa sesak, Gaara memang menentang kedekatannya dengan Sakura selama ini tapi pemuda berambut merah bata itu tak pernah mengungkit status sosial sebelumnya.

"Fikirkan, Uchiha. Hidup adikku selalu terpenuhi, apakah kau bisa membahagiakannya? Bahkan setiap harinya kau hanya membuatnya berkeringat kepanasan karena naik sepeda bersamamu. Dasar miskin, kau hanya akan membuat adikku menderita."

Perkataan Gaara sepenuhnya benar, tidak ada yang salah dan karena itulah Sasuke merasakan sakit pada rongga dadanya, "Aku bisa membuatnya bahagia, aku akan berusaha." Sahut Sasuke dengan nada memohon dan suara yang berasal dari tenggorokan yang tercekat, secara tak langsung dirinya sedang meminta restu Gaara agar memperbolehkan adiknya menjadi miliknya.

Gaara tertawa sinis, "Mimpi? Setiap hari kau membuatnya makan makanan kotor pinggir jalan."

Cowok berambut emo itu menelan ludah, ia mengutuk kebiasaannya yang mengajak Sakura membeli makanan ringan di pinggir jalan. Ia harusnya sadar tak seharusnya membuat Sakura memakan makanan seperti yang dikatakan Gaara.

"Kau selalu membuatnya repot membawa bekal makan siang double," lanjut Gaara dengan picingan mata yang belum pudar, "Kau benar-benar si miskin yang merepotkan. Tak bisakah kau membeli makanan sendiri? Oh, aku akan memberimu uang jika kau tidak mampu."

Nada sinis Gaara tak dapat lagi ditolelir dalam pendengar Sasuke. Harga dirinya sudah tercabik dan seharusnya ia marah tapi tak ada yang bisa dilakukannya lebih karena semua yang dikatakan Gaara tidak ada yang salah.

Gaara membenahi letak jaketnya dalam sekali gendikan bahu, matanya memicing tajam pada Sasuke, "Cukup jauhi adikku. Aku tak kan mengganggu hidupmu lagi." sinis sang Sabaku meninggalkan Uchiha terpaku kemudian menunduk dalam. Deru gas dari motor besar Gaara terdengar dan menghilanglah motor berwarna merah menyala itu dalam kegelapan malam.

Tak lama kemudian, rintik-rintik air kecil turun berdentuman dengan tanah. Gemericik yang semula tipis dan lembut itu berubah menjadi debaman kasar dan deras, namun Sasuke masih enggan masuk ke dalam guna melindungi tubuhnya. Lidahnya kelu, ia benar-benar terbungkam tak dapat berkata sepatah kata pun. Baru kali ini ia merasakan apa itu yang di sebut sakit hati. Selama ini ia dicerca dan dihina sebagai anak culun, rasanya tak sesakit saat harga dirinya diinjak habis-habisan dan dilarang untuk berdekatan dengan gadis yang disukainya hanya karena status sosial. Status sosialnya yang rendah.

Rambut kelam itu telah basah sepenuhnya, ia tetap tertunduk di pekarangan sederhana kontrakan keluarganya. Tanpa ia sadari sepasang suami istri dibalik jendela menatapnya dengan tatapan sedih. Mikoto ingin sekali menghampiri puteranya tapi mengapa ia merasa tak sanggup mendapati sang anak yang ia cintai terpuruk karena dihina. Ia menatap pada sang suami yang sedang menatapnya kecewa. Kedua orang tua itu saling memeluk berbagi kesedihan setelah melihat anaknya terhina. Mereka tahu seperti apa putera mereka mencintai gadis bermarga Haruno itu. Mereka sangat tahu, dan mereka ikut sedih atas derita puteranya sendiri.

"Tou-san, tolong lakukan sesuatu," pinta Mikoto ditengah deru hujan diluar sana, memandang anak lelakinya yang berdiri dengan tertunduk dari jendela kontrakannya yang sedikit lusuh, ia tahu anaknya tidak akan masuk sebelum dapat menunjukan raut baik-baik saja.

"Dia… kuat."

"Kau selalu bilang seperti itu! Kau tidak melihat bagaimana sedihnya dia?" pekik Mikoto tertahan, Fugaku hanya mengeratkan remasan pada jemari istrinya, ia pun mengangguk menyetujui permintaan sang istri.

Sementara Sasuke masih merenungi apa yang telah dialaminya.

Apa yang bisa dilakukan orang miskin sepertiku?—dan orang tuaku?

.

==00==00==00==

.

Sakura berjalan dengan headset putih di kedua telinganya, langkahnya tetap santai meski ia tahu bel telah berbunyi beberapa menit yang lalu.

"Haruno, kau terlambat!" tegur guru cantik berambut ikal dengan iris merah ketika melihat salah satu muridnya yang cantik itu masuk kelas. Suara Kurenai-sensei menyedot perhatian seluruh penghuni di kelas yang langsung menatap keberadaan Sakura di ambang pintu. Gadis itu melepas headset-nya dan membungkuk untuk meminta maaf.

"Sumimmasen," gumamnya namun jelas di telinga sang guru, Sakura pun beranjak duduk di sebelah Sasuke, tempatnya duduk. Iris hijaunya sempat melihat Sasuke yang ternyata sedang menatapnya. Napasnya terasa sesak saat melihat kacamata berframe hitam yang bertengger di hidung mancung pemuda itu. Sasuke terlihat jauh lebih tampan mengenakan kacamata itu di tambah wajah dan rambut emo-nya yang keren. Sakura segera membuang pandangannya, ia benci mengingat siapa yang telah menemani Sasuke membeli kacamata tersebut.

Sasuke memudarkan senyum tipisnya, meski hatinya belum sembuh betul atas hinaan Gaara kemarin, ia berusaha tersenyum pada Sakura. Tapi sepertinya gadis itu enggan membalas senyumannya, justru menolak menatapnya. Mendadak tenggorokannya terasa tercekat untuk bertanya 'ada-apa', Sasuke rasa pertanyaan tak berguna seperti itu tak pantas dilontarkan dari mulutnya, ia hanya pemuda miskin. Jemarinya membenahi letak kacamata dan mendesah kecewa dalam hati.

Manik hijau Sakura tak ingin memandang mata kelam yang selalu disukainya itu, ia belum siap mengingat sorot mata menawan Sasuke tidak mungkin menjadi miliknya lagi.

Sementara Sasuke duduk dengan tubuh tegang tak berani bergerak sedikit pun meski sebenarnya tubuhnya sedikit lemas. Cowok berambut emo itu melirik teman sebangkunya sekali lagi, ia tertunduk kembali ketika mendapati sorot dingin iris hijau itu menatap buku-buku yang mulai Sakura keluarkan. Ia tak tahu harus berbuat seperti apa, bahkan untuk menjemput Sakura pagi ini dia tidak berani. Bagaimana pun perkataan Gaara semalam menancap kuat di otaknya.

Sadar diri, miskin!

"Sabaku, kau terlambat!" suara Kurenai-sensei mampu membuat sang Uchiha mengangkat kepala melirik sekilas pada teman sekelasnya yang terlambat tersebut.

Gaara mengangkat bahu, "Maaf, aku menjemput adikku terlebih dahulu."

"Kau bisa menjemputnya lebih pagi hingga tak membuat Sakura ikut terlambat denganmu," tegur Kurenai sabar menanggapi wajah angkuh murid berambut merah batanya. Pemuda tinggi mengenakan ransel pada sebelah bahunya itu tidak menggubris dan melengos menuju tempat duduknya paling belakang sambil bergumam keras, "Aku sibuk membujuk adikku ikut karna dia terus menunggu pecundang yang tidak datang menjemputnya tanpa kabar."

Sakura tertunduk, perasaannya campur aduk antara semakin sedih dan malu. Ia mengasihani dirinya sendiri yang masih saja berharap kalau Sasuke mau menjemputnya setelah menyatakan cinta pada Ino kemarin di kafe. Ternyata ia salah besar, sangat-sangat salah besar. Ia harusnya sadar bahwa seorang lelaki yang telah memiliki kekasih tidak seharusnya menjemput perempuan lain.

Sementara Sasuke membuka matanya lebih lebar setelah melihat gumaman keras Gaara. Iris kelamnya melirik dan mendapati gadis berambut merah muda itu tertunduk menatap meja kayu polos di hadapannya dengan sorot mata kecewa.

Karena aku? Gumam Sasuke pahit dalam hati. Ia benar-benar tak tahu harus bagaimana lagi, tangannya mengepal di bawah meja sementara satunya lagi mencengkram pensil dengan kuat. Hatinya seperti tersayat saat lantunan kalimat Gaara kemarin malam bergema di kepalanya dan raut wajah kecewa Sakura.

Alisnya terpaut, Sasuke benar-benar ingin berteriak kecewa. Tidak ada yang bisa dilakukan pemuda miskin sepertinya. Berusaha menjadi orang sukses di masa depan untuk membahagiakan Sakura? Jangan membuat Gaara tertawa! Tentu saja kakak kandung Sakura yang memiliki perangai buruk itu akan menghajarnya duluan saat Sasuke berkata seperti itu. Bukannya takut, tapi Sasuke dapat memprediksikan dengan baik bahwa Gaara akan memperkenalkan adiknya dengan pemuda kaya lain sebelum dirinya dapat menjadi orang sukses.

Suara Kurenai-sensei yang membuka pelajaran pun memburam di telinganya. Masa bodo, ia tidak peduli dengan pelajaran yang diterangkan sang guru karena ia tentu sudah mempelajarinya terlebih dahulu dan sudah mengerti sepenuhnya. Sasuke berusaha mengatur napasnya untuk menenangkan diri, baru kali ini pengendalian dirinya terganggu.

"Baiklah, kerjakan evaluasi beserta essaynya!" perintah Kurenai -sensei setelah itu berpamitan meninggalkan kelas, mengundang sedikit keriuhan murid-murid sekelas kecuali bangku paling depan. Tempat Sasuke dan Sakura. Di tengah kebisingan kelas itu hanya dua orang paling depan yang diam tak bersuara. Biasanya, Sasuke dan Sakura akan mengobrol banyak hal seperti teman-teman lainnya pada teman sebangku masing-masing, atau sekedar saling membantu dalam mengerjakan soal. Tapi tidak untuk kali ini. Mereka berdua terdiam.

Sasuke sibuk mencoret-coret buku tulisnya, soal evaluasi tersebut sudah pernah dikerjakannya seperti biasa, ia hanya mengulang-ulang menulis dan menjawab soal-soal itu. Sementara Sakura tidak benar-benar mengerjakan soal-soalnya, ia hanya berpura-pura sibuk membolak-balikan buku seolah sedang mencari jawaban. Selain ada beberapa soal yang sulit untuknya, Sakura juga tidak dapat terlalu fokus dengan pelajarannya.

Sasuke melirik dari balik kacamata yang semakin membuatnya tampan itu, ia mendapati Sakura yang wajah ling-lung. Sebelah sudut bibirnya tertarik, sorot kelamnya melembut, ia selalu menyukai wajah Sakura dalam ekspresi apa pun—kecuali menangis. Menurutnya wajah kecil itu selalu lucu dan membuat ia ingin mencubit pipi ranum tersebut.

Gadis berambut merah muda itu mendesah frustasi, otaknya benar-benar tak bisa diajak kompromi. Soal yang seharusnya mudah pun tak begitu ia pahami, akhirnya ia memilih menyandarkan dagunya di atas meja seraya mengetuk-ngetuk pensil di kepalanya sendiri. Sempat terpikir untuk bertanya pada Sasuke, tapi mengingat pemuda itu sudah menyatakan cinta pada Ino… Sakura membuang jauh-jauh keinginannya. Tanpa ia ketahui kemarin hanyalah kesalahpahaman semata.

Mata beriris kelam Sasuke kian lembut dan sedikit menyipit juga senyum yang semakin terlihat, ia terkekeh pelan melihat pipi Sakura yang digembungkan karena frustasi. Gadis yang duduk di sebelah kanannya itu benar-benar membuatnya lupa akan kesakit-hatiannya paska di hina Gaara habis-habisan kemarin.

Tangan kanan Sasuke mengambil pensil di tangan kanan Sakura sedangkan tangan kirinya mencubit pipi kiri Sakura. Gadis berambut merah muda itu terkejut atas tindakan Sasuke dan bangkit dari sandarannya pada meja, irisnya menatap teman sebangkunya itu.

"Sini biar kubantu," tawar pemuda berambut emo dengan membenahi kacamata yang bertengger di hidung mancungnya, senyum tipisnya benar-benar membius Sakura. Si kepala merah muda pun hanya membuka matanya lebih lebar saat menyadari bahwa Sasuke baru saja mencubit pipi kirinya, tangannya terulur untuk menyentuh pipi itu—tanpa sadar.

"Nomor berapa yang sul—" terpotong, Sasuke pun bingung menatap Sakura yang sedang memegangi pipinya sendiri, "Aa, sakit, ya?" tanyanya menaruh pensil tadi dan menyingkirkan tangan Sakura lembut dari pipi kiri gadis itu.

"Uh, maaf…" ucap Sasuke tak enak sambil mengelus pelan pipi itu dengan ibu jarinya, "Aku tidak bermaksud menyakitimu."

Harusnya Sakura senang mendapat tatapan khawatir Sasuke, pemuda itu membuat dirinya merasa disayangi—selain kakaknya, Gaara. Tapi suara Sasuke yang menyatakan cinta pada Ino kemarin di kafe membuatnya meredupkan mata sedih dan menyingkirkan tangan Sasuke. "Tidak apa-apa."

Sasuke mengernyit pelan mendapati jawaban dingin Sakura, padahal ia yakin sekali kalau tadi ia menemukan adanya sorot lembut dari kedua mata hijau cemerlang itu sebelum akhirnya berubah dingin secara tiba-tiba. Apa yang salah?

Senyuman tergores secara paksa di wajah Sakura, telunjuk lentiknya mengetuk buku di atas meja. "Ah, aku kesulitan mengerjakan yang ini… dan yang ini. Itu juga, aku sudah membaca rumusnya berulang kali dan tidak mengerti."

Pemuda beasiswa yang tampan itu masih bingung dengan perubahan Sakura, nada ceria gadis itu terdengar aneh di telinganya. Sasuke mengangguk dan menjelaskan soal-soal yang ditanyakan Sakura.

Sakura berusaha menceriakan nadanya meski hatinya masih sakit karena pemandangan menyakitkan kemarin di kafe, ia menegaskan pada dirinya sendiri bahwa ia akan berteman dengan Sasuke-kun dan patut berbahagia atas kebahagiaan sahabatnya tersebut.

Kebahagiaan? Bersama perempuan lain?

Pandangannya pada buku yang digores oleh tangan Sasuke mendadak memburam, alis merah mudanya terpaut melihat tangan itu sudah menjadi milik perempuan lain. Selama ini, dalam benaknya, Sakura yakin kalau Sasuke memiliki perasaan yang sama dengannya, tapi ternyata salah besar. Benar-benar menyedihkan ia terlalu percaya diri, Sakura memicingkan matanya tanpa sadar membuat tetesan itu terjatuh tepat di punggung tangan Sasuke.

Tes.

Srek.

Goresan pensil itu terhenti, bibir tipis Sasuke juga berhenti menjelaskan, alisnya terpaut menatap setetes cairan bening hangat di punggung tangannya. Iris hitam itu terbuka lebih lebar setelah menoleh dan menangkap punggung gadis berambut merah muda itu bergetar, gadis itu menunduk dalam.

"Ke-kenapa?" tanya pemuda bermarga Uchiha itu sedikit panik, tangannya terulur untuk menyentuh punggung itu namun segera di tepis oleh Sakura.

"Ja-jangan menyentuhku, hiks…" ketus Sakura dengan suara lemah dan serak, "Tidak seharusnya kau menyentuh perempuan lain saat sudah bersa-ma…" nada itu memelan, "—Ino."

Sakura berusaha meredam tangisannya berharap teman-teman sekelasnya yang sedang riuh tidak menyadari keadaannya karena ia dan Sasuke duduk paling depan sementara Sasuke menatap Sakura bingung.

"Ino?" Gumam pemuda berambut emo tersebut, "Apa maksudmu?"

Kedua tangan Sakura mengusap kasar wajahnya sendiri dengan mata menyipit dan senyuman manis—namun alisnya tetap terpaut lemah, ia berusaha terkekeh, "Ah, maaf aku terlalu berlebihan, aku ikut senang kok." Dustanya tersendat.

Bodoh kalau Sasuke percaya apa yang dikatakan Sakura, tangannya terjulur menghapus jejak-jejak air mata di kedua pipi gadis itu, Sakura hanya diam. "Dengar, kau sepertinya salah mengerti, aku—"

Grep.

Tubuh gadis bersurai merah muda itu terterik, Sasuke mendongak menapati sepasang mata jade yang memicing tajam. "Kau apakan adikku?"

"Ti-tidak apa-apa Nii-san, aku hanya sedang mengobrol."

"Sampai menangis begitu? Kau membodohiku?" desis pemuda bertato 'Ai' itu tajam sementara murid-murid sekelas mulai menyurutkan kebisingan karena perhatian mereka tersedot oleh tiga sosok yang nampaknya berseteru di depan sana.

"Aku tidak mengerti dan aku tidak bermaksud membuat adikmu—"

Gaara mendengus kasar dan keras seraya mengibaskan tangannya yang tidak menggenggam pergelangan tangan Sakura, erat. "Omong kosong!"

Sasuke berdiri dari kursinya namun Gaara buru-buru menyeret adiknya pergi keluar kelas.

.

.

.

.

.

-TBC-

5000 words for this chapter! Kabar baik dan tidak disangka fic ini ada yang nominasiin ke IFA dan lolos xD hayo ngaku siapa yang daftarin? *bibir merah monyong2 yang baru dipoles lipstick Kurenai-sensei* #dibakarrrr

Gomen lama apdet, aku lagi di luar dan kebetulan di tempat yang sinyalnya itu bikin kita ngomong sh*t and f*ck xD buat online susahnya minta ampun (ini aja upload doc lewat hp, kudu mindah2in dulu pake card reader arghhh #stres), mana sibuk banget lagi. Mudah2an tidak mengecewakan ya? Sekedar bocoran bahwa fic ini akan selesai sebentar lagi, mungkin satu atau dua chapter lagi ^^ semoga nggak bosen ya nunggunya…

Terimakasih untuk:

Nina317Elf, Uzumaki Himeko, Michelle I. Xe, Ladychibby, Tsurugi De Lelouch, sandra difita, Api Hitam AMETERASU, Momo Haruyuki, Sakakibara mei, Uciha shizu-chan, uchiha rin, kikihanni, Guest, Hira-kun, Akasuna no Fia, Chintya Hatake-chan, FallenMonster, Shuriken89, asaechan, WaffleAndCream, Mizura Kumiko, Azakayana Yume, Rannada Youichi, chioque, Kurasu Uchiha, lavender kururu-chan, Aiko Kirisawa, azu may, Retno UchiHaruno, sasuThing-chan, UzuKyu Huri-chan, Zenka-chan Reilsha ^^