Ini flashback

.

Minhyun mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kantin dan matanya menangkap segerombolan laki-laki yang ia kenali sebagai anak-anak sipil. Ia bisa melihat Jonghyun juga Woojin berada di sana sedang menyantap makan siang mereka.

Tanpa ragu-ragu, Minhyun lantas melangkahkan kakinya ke meja paling ujung, tempat di mana segerombolan mahasiswa Teknik Sipil itu duduk. Ia berdiri di samping mejanya dan langsung membuat atensi kaum laki-laki di sana beralih kepadanya.

Jonghyun yang duduknya di paling pinggir, dekat tempat ia berdiri adalah yang paling pertama menolehkan kepala. "Ngapain?" Sembari mengunyah bakso, ia bertanya.

"Liat Seongwu gak? Biasanya dia kan sama kalian," jawab si perempuan.

"Gak usah nyari mas Seongwu, Mbak, kalo di sini masih banyak yang lebih cakep." Satu dari mereka yang bertubuh paling tinggi menyela. Minhyun mengenalinya sebagai adik tingkat Jonghyun yang sedang naksir teman seangkatannya.

"Yeu si Mingyu mah gitu, Kak. Liat yang bening dikit langsung dialusin," Junhui menimpali.

"Tadi Abang Seongwu bareng Woojin, Mbak. Tapi sekarang gak tau dah di mana." Haknyeon yang baru saja kembali setelah memesan bakso, memberikan informasi.

"Woojin?" Minhyun mengalihkan pandangannya pada laki-laki yang sejak tadi lebih memilih menghabiskan baksonya ketimbang memerhatikan Minhyun.

"Ke studio mungkin. Bang Seongwu kan kalo gak kantin, basecamp, ya studio," jawab si paling muda sambil menyantap baksonya. Ia kemudian melirik Minhyun yang masih melihatnya. "Udah sana. Ntar digodain sama jomblo-jomblonya teknik sipil emang mau?"

.

.

.

DAYBREAK

Episode #10: Watching Each Other Sleep

.

.

.

Hidup Seongwu selama ini hanya terpaku pada kuliah, gambar teknik, main drum, warung kopi, dan kos-kosan. Itu semua sebelum ia mengenal si bidadari Fakultas Teknik, sepupu dari keyboardistnya Justice League, Minhyun. Pusat gravitasnya langsung beralih sepenuhnya pada si cantik yang memikat hatinya pada pandangan pertama.

Sejak keluar dari kelasnya tadi, Seongwu sempat mengantarkan Minhyun ke perpustakaan sebelum mendekam di studio JUTAP menyelesaikan gambarnya. Ruang studio yang dipenuhi AC itu sudah ia anggap sebagai rumah ketiganya sendiri. Yang pertama tentu rumahnya di Jakarta dan yang kedua adalah kos-kosannya di Yogyakarta.

Studio siang itu cukup ramai. Beberapa mahasiswa baru ikut menggunakan fasilitas studio untuk menyelesaikan tugas mereka. Kebanyakan dari mereka adalah laki-laki. Bisa dihitung dengan jari keberadaan perempuan di sana. Youngmin, si perempuan berkacamata, teman seangkatan Minhyun dan Seongwu juga menghabiskan waktunya di studio untuk menggambar.

"Seongwu, ini Minhyun tadi chat aku. Tanya kamu di studio apa gak. Kamu gak buka hape?" Youngmin yang duduk tak jauh dari Seongwu, bertanya pada laki-laki yang sedang sibuk dengan gambarnya.

"Hah?" Ia menolehkan kepala ke kanan, ke arah di mana Youngmin duduk. "Gue silent hape, jadinya gak denger. Bilangin aja iya," jawabnya singkat sebelum fokus lagi pada gambarnya.

Youngmin yang memang sedang beristirahat langsung mengetikkan jawaban kepada Minhyun dengan cepat. Memberitahukan bahwa Seongwu memang ada di studio.

"Minhyun bilang mau ke-" Ucapan Youngmin terpotong ketika melihat Seongwu tertidur dengan posisi tangan terlipat di meja dan kepala yang ia letakkan di atasnya. "-sini. Cepet amat tidurnya."

.

.

"Youngmin, Seongwu di dalem?"

Youngmin yang baru saja menutup pintu studio dikejutkan dengan kemunculan Minhyun tiba-tiba. Ia sampai mengelus dadanya berkali-kali karena kaget. "Haduh ngagetin aja," dengusnya.

Minhyun memberikan cengiran dan menggaruk tengkuknya. "Maaf ya kakak Youngmin."

"Ada tuh di dalem," ujar Youngmin.

"Hah? Apanya yang di dalem?" Minhyun bertanya bingung.

"Seongwu lah. Masa Donghyun." Youngmin menjawab sembari mulai melangkah meninggalkan Minhyun yang berdiri di depan pintu studio. "Wis ndhang masuk, nanti berdiri terus dilalerin lho." Ia terkekeh pelan sebelum benar-benar menjauh dari studio.

Sepeninggal Youngmin, Minhyun segera memasuki ruang studio dan langsung mencari keberadaan Seongwu di sana. Ia menemukan sosok Seongwu di meja pojok yang tengah tertidur pulas dengan kepala di atas meja. Minhyun segera melangkahkan kakinya ke sana dan duduk di samping laki-laki itu.

Ia mengamati wajah Seongwu yang tengah tertidur dengan kerutan di dahinya. "Kamu mimpi apa sih? Kok mukanya ketakutan gitu?" Gumam Minhyun.

Perempuan itu mengambil tisu yang selalu ia bawa dari dalam tasnya dan mengelap keringat sebesar biji jagung di hidung dan dahi kekasihnya. Ia mengelapnya dengan hati-hati agar Seongwu tidak terbangun.

Minhyun tahu Seongwu pasti lelah sekali. Laki-laki itu akhir-akhir ini makin rajin belajar, mengerjakan tugas hingga tengah malam, dan selalu datang tepat waktu ketika ada kelas. Padahal, Seongwu dulu terkenal sering terlambat untuk masuk kelas dan membuat Minhyun bingung dibuatnya. Terkadang Minhyun sering melihat kantung mata Seongwu yang semakin lebar dan menghitam. Ia sedih melihat sosok laki-laki yang disayanginya itu terlihat kelelahan setiap ada kelas pagi. Ingin rasanya Minhyun menyuruh Seongwu untuk berhenti memaksakan tubuhnya sendiri. Tapi jika itu memang kemauan si laki-laki, Minhyun bisa apa?

Kerutan di dahi Seongwu semakin jelas terlihat ketika Minhyun selesai mengelap hidung si laki-laki yang penuh keringat. Tangan Minhyun bergerak untuk mengelus kepala Seongwu hingga kerutan di dahinya mengendur dan hilang. Sesekali Minhyun juga menepuk-nepuk punggungnya pelan agar tidurnya semakin nyenyak.

"Kamu jangan capek-capek dong. Nanti kalo sakit gimana?" Ujar Minhyun pelan di sela-sela kegiatannya menepuk punggung lebar kekasihnya.

Minhyun mengambil jaket marun milik Seongwu yang selalu dikenakan laki-laki itu dari dalam tas punggungnya, kemudian menyelimutkannya ke punggung Seongwu agar tak kedinginan karena suhu pendingin ruangan yang mencapai 16 derajat celsius. Sebelum berdiri, ia menyempatkan sekali lagi untuk mengelus rambut hitam milik Seongwu.

"Sehat terus ya, masa depanku."

Ia kemudian beranjak dari sana dan melangkah menuju pintu ruang studio. Setelah menutup pintu, Minhyun berpikir mungkin ojek online adalah solusi terbaiknya saat ini untuk mengantarkannya pulang ke rumah.

.

.

.

.

.

hah aku kena wb paraaaah gara2 nyelesein puluhan soal kimia dan matematika wajib sama matematika peminatan. sampe lupa gimana caranya bikin cerita akibat terlalu banyak melihat angka2. segitu besar ya efeknya hahahaha

ini pendek banget heh kzl saya

ada yang nonton anime gak? tolong rekomendasikan anime yg bagus dong. yang romance sih kalo bisa heuheu