Author : Miss Galaxy

Title : Truth or Dare? ( Chap 11 )

Cast :

Kim Jong In a.k.a Kai

Do Kyung Soo a.k.a Kyungsoo

And Other Cast

Rated : T

Genre : Yaoi/Shounan-ai, Romance, School life

.

.

.

.

KazekageLaxy present;

Karna saya seorang Kazekage, jadi semua cerita adalah milik saya secara SAH! XDD

DON'T READ IF YOU DON'T LIKE!

WARNING TYHPO! And,

.

.

.

Happy Reading ^^

.

.

.

.

[PREVIEW]

.

.

.


12 – 01 – 2015

'Cepat tumbuh besar bocah kecil ^^

Aku akan mengajakmu kencan besok pagi. Bersiaplah'

From : Kim Kai.

Kyungsoo menarik sudut bibirnya keatas, segera dia menarik pita besar yang mengikat kotak itu dan melihat isinya. Sebuah boneka Pororo dan Krong yang sangat besar –Sekali lagi lebih besar dari tubuhnya – Kyungsoo memekik senang, kembali melihat kedalam kotak itu dan mendapati sebuah Origami Musim Salju berlapis kaca bening juga beberapa tumpuk komik manga favoritnya. Si mungil memekik sekali lagi, otaknya kembali teringat sesuatu, ah~ saat Kai menanyakan kesukaannya di kantin tempo lalu. Ini.. semua hadiah ini persis seperti yang Kyungsoo sebutkan. Perasaan bahagia mulai menjalari setiap nadi dalam tubuhnya. Kyungsoo berlalri-lari kearah balkon dengan Origami ditangannya, dibukanya jendela lebar-lebar dan berteriak kencang pada mobil Kai yang baru saja melaju hendak meninggalkan rumahnya.

"KAIIIII~ TERIMAKASIHHH~ AKU SANGAT MENYUKAINYAA~"

Kai tersenyum kecil didalam mobilnya. Sekilas dia melirik kearah balkon dimana Kyungsoo berteriak girang sambil mengacung-acungkan Origaminya. Perasaannya tiba-tiba membaik, dengan senang dia mulai menjalankan mobilnya membelah jalanan. Cukup lama hingga sebuah mobil putih mendahuluinya. Sisi kaca mobil itu terbuka, dan mata Kai terbelalak milihat siapa si pengemudi itu..

"Dia.."

.

.

.

Chanyeol biasanya selalu menghabiskan waktu libur untuk tidur sepanjang hari seperti Vampire. Namun hal yang berbeda dia lakukan saat ini. Yeah~ Mobilnya berhenti di sebuah halaman tepat didepan sebuah rumah mungil ber cat cream. Saat kaki lelaki jangkung itu menyentuh tanah, matanya langsung disuguhi pemandangan taman bunga yang sedang asik bermekaran. Angin pagi yang bertiup lembut menerpa wajah tampannya, membuatnya tanpa sadar memejamkan matanya menikmati setiap oksigen yang masuk ke paru-parunya.

"Maaf anak muda. Kau ini siapa?"

Chanyeol membuka matanya dan mendapati sosok Nenek dengan pakaian kebun menyapanya. Mata coklatnya meneliti wajah wanita yang umurnya kira-kira sudah lebih dari setengah abad ini. Tubuh mungil dengan pahatan wajah cantik meski sudah memasuki usia renta, wajahnya sangat mirip dengan seseorang. Tak salah, dia adalah Nenek Baekhyun.

"Apa kabar. Aku Park Chanyeol, teman Baekhyun." Chanyeol membungkuk hormat sedangkan wanita didepannya hanya membulatkan bibirnya.

"Ooh! Teman Baekki ya, ayo masuk kedalam. Baekki sedang memasak didapur." Chanyeol menurut, dia ikuti langkah nenek Baekhyun yang membawanya keberanda depan, Chanyeol mendaratkan bokongnya diatas kursi kayu coklat dengan nyaman.

"Tunggu ya, aku akan memanggil Baekki dulu." Chanyeol mengangguk dengan senyum kaku, dia biarkan wanita tua itu berjalan menuju kedalam rumah. Matanya kembali mengawasi keadaan taman yang masih cukup berembun, tentu saja. Waktu masih menunjukkan pukul 06. 45 KST. Beberapa saat kemudian, dari arah dalam terdengar langkah kaki yang sangat berisik. Chanyeol memutar kepalanya dan menemukan wajah Baekhyun menyembul dari balik pintu, mata sipitnya membulat lebar, dia bawa tubuhnya keluar dari balik pintu sepenuhnya.

"Chanyeol." Baekhyun memekik kecil, berdiri dengan gugup disana.

"A..ada..apa kemari?" Chanyeol tak menjawab. Mata lelaki itu masih mengawasi tubuh Baekhyun dari atas sampai kebawah. Piyama biru bergambar anak beruang yang terbalut oleh Apron berenda warna Pink, jangan lupakan sandal bulu rumahan dengan kepala jerapah itu. Astaga! Chanyeol merasa cengo saat ini juga. Baekhyun sangat imuttt. Merasa ditatap intens, Baekhyun menunduk menatap bajunya dan tersenyum malu.

"Ma..Maaf! aku baru selesai memasak." Chanyeol mengerjap sekali mencoba menyadarkan diri.

"Haii.."

Chanyeol akhirnya membuka mulut, lelaki jangkung itu masih menatap Baekhyun yang kini mulai mendudukkan diri dikursi sebelahnya.

"A..ada apa Yeol?"

"Mengajakmu pergi keluar."

Baekhyun menoleh cepat, memiringkan kepalanya dengan imut meminta penjelasan. Dan sumpah! Baekhyun berkali lipat semakin imut. Chanyeol segera membuang muka kearah lain jika tak ingin menderita Diabetes mendadak. Lelaki jangkung itu berdehem menutupi kegugupannya.

"Berlibur dihari minggu. Sebagai ucapan terimakasih, nilau ulanganku mulai membaik karnamu."

"Oh!" Baekhyun mendesah kecewa dalam diam.

"Jadi, mau pergi denganku?" Baekhyun sangat pintar menyembunyikan perasaannya, dengan semangat dia mengangguk.

"Tentu. Tak masalah menunggu sebentar?" Chanyeol mengangguk, dan Baekhyun segera berlari lagi memasuki kamarnya, meninggalkan Chanyeol yang kini mengusap wajahnya kasar.

"Shit!"

.

.

.

Kai memasuki rumah 'Iparnya' dengan santai, beberapa Maid yang kebetulan ada disana sempat membungkuk hormat. Dengan mantap dia memasuki ruang tengah dimana Kakaknya tengah merapikan berbagai undangan bersama calon suaminya, di sana juga ada Ibu Kyungsoo.

"Annyeong Haseyo.."

Ketiganya serempak menoleh mendapati Kai membungkuk memberi hormat, dan orang yang semangat menyambutnya pertama kali adalah ibu Kyungsoo. Wanita paruh baya itu segera menuntunnya untuk duduk kearah sofa.

"Astaga Kim, kenapa tidak bilang mau kesini?" Kai tertawa kecil melihat reaksi ibu Kyungsoo, lelaki tan itu menoleh kearah Kakaknya yang saat ini tengah tertawa jahil.

"Apa yang membawamu kesini Kim?"

"Kyungsoo bu." Celetuk Lay cepat. Kai mendelik kearah kakaknya tersebut, namun lelaki manis berdimple itu pura-pura tak tahu dan kembali berkutat dengan undangan diatas meja.

"Benarkah itu?"

"Eng..Ya benar Nyonya."

Sial! Sejak kapan seorang Kim Kai gugup? Ibu Kyungsoo nampak tertawa senang.

"Dia ada diatas, sebentar lagi juga akan turun. Pagi-pagi sekali dia sudah mandi dan bersiap. Apa kau mau mengajaknya pergi?"

Kai sudah membuka mulut akan menjawab jika saja 'Calon' suami kakanya itu tak menyahut.

"Kencan bu." Kai tersenyum malu, jika saja dia bukan kakak ipar, matilah kau –batin Kai dalam hati. Kemudian terdengar suara sepatu yang menuruni tangga, Kai mendongak dan terpukau saat itu juga. Jika ini diflim animasi, maka waktu akan berjalan secara slow motion, kemudian suasana sekitar akan berwarna-warni dengan gemerlapan bintang disekitar tubuh mungil Kyungsoo. Ah~ juga suara biola yang digesek dengan merdu. Bodoh! Ini dunia nyata. Kai segera tersadar dan merutuk dalam hati, untung saja dia sangat pintar memasang ekspresi cool untuk menutupi kegugupannya. Sial, Sial! Si mungil Kyungsoo sampai dilantai bawah dan berjalan malu-malu kearah Ibunya. Celana Jeans biru yang membalut kaki kecilnya, kemeja biru yang tertutup sweater berwarna cream dengan dasi kupu-kupu kecil didepannya. Demi apapun, Kyungsoo sangat imut.

"Nah. Kyungso sudah datang, kalian bisa pergi sekarang." Seruan Ibu Kyungsoo mengintrupsi Kai untuk bergerak cepat. Maka dia raih tangan Kyungsoo dan membungkuk hormat.

"Aku pinjam putramu dulu Nyonya."

"Ta..tapi aku be-"

"Annyeong.."

Dan ucapan Kyungsoo terputus karna Kai lebih dulu menyeretnya keluar. Si mungil merengut kesal, kakinya menghentak-hentak lantai, namun Kai tak peduli. Lelaki tan itu tetap menarik Kyungsoo membawa si mungil kehalaman rumah dimana mobilnya terparkir. Nyonya Do yang melihat itu terkekeh kecil, dasar pasangan jaman sekarang.

"Bukankah mereka sangat cocok?" Komentar Ibu Kyungsoo.

"Ya. Tentu saja!" Sahut Lay semangat. Kemudian menoleh kearah Calon suaminya.

"Benar kan Myeonni?" Lelaki berdimple itu bergelayut manja pada lengan Suho.

"Aku sangsi jika mereka memiliki sebuah hubungan." Ucap Suho masih memeriksa kartu undangan pernikahannya yang akan disebar sebentar lagi.

"Mereka Pacaran Myeonni." Sahut Lay gemas, dia pukul bahu kekasihnya itu keras membuat Suho mengaduh pelan. Sementara wanita paruh baya didepannya hanya tertawa kecil.

"Kau lupa jika Kai yang menyiapkan pesta ulang tahun untuk Kyungsoo?"

"Ya. Aku tahu itu, bagaimana menurut Ibu?" Nyonya Do terlihat berfikir sejenak, kemudian sebuah senyum kecil tercetak di wajah cantiknya.

"Bagaimana jika kita menyatukan acara pernikahan kalian dengan pertunangan mereka?"

.

.

.

"Aku bahkan belum sarapan pagi."

Kyungsoo terus menggerutu disepanjang jalan dimana mobil Kai membawanya pergi, heartlipsnya terus saja maju beberapa centi, membuatnya terlihat sangat menggemaskan. Dan Kai yang egois sayangnya pura-pura tidak peduli. Kyungsoo yang melihat itu mendengus. Manusia kutub ini sangat temperamen –Menurutnya– Kemarin sangat dewasa dan romantis, tadi dihadapan Ibunya dia sangat sopan dan manis, namun sekarang? Dia tetap menjadi manusia kutub ber'es yang selalu membeku, dingin dan keras.

"Kai..Kai.." Panggil Kyungsoo, namun lelaki tan itu hanya diam, masih focus dengan jalanan didepannya ini. Kyungsoo mengerang dalam hati, seharusnya dia tidak pergi saja hari ini dan menghabiskan waktu liburnya untuk bergelung didalam selimut. Keadaan menjadi hening sampai Kai membelokkan mobilnya menuju daerah Samcheong-dong. Mobilnya berhenti tepat didepan Baedongbaji, sebuah restoran tradisional. Kai keluar mobil dan memutar membuka pintu untuk Kyungsoo yang kini sedang mendengus sendiri. Dalam hati lelaki tan itu tertawa. Yes! Mengerjai Kyungsoo sangat menyenangkan ternyata. Tangannya meraih pergelangan Kyungsoo dan membawanya masuk.

"Selamat datang!"

Seorang wanita muda dengan seragam pelayan menyambutnya hangat. Kai mengangguk kecil dan membawa Kyungsoo kearah meja paling pojok didekat penghangat ruangan. Seorang pelayan lain datang mencatat pesanan dan Kyungsoo dengan senang mulai mengambil buku menu berniat memilih makan, tapi..tapi.

"Satu porsi Doenjang Jjigae, Japchae dan satu paket Ayam Goreng."

Kyungsoo membuka mulut hendak protes.

"Tidak ada protes!" Sahut Kai cepat. Kyungsoo merutuk, membangting buku menunya keatas meja dengan sebal. Padahal dia sedang ingin makan Kimchi dan Bimbap. Si gadis pelayan tersenyum kecil melihat tingkah Kyungsoo, dia membungkuk kemudian berlalu pergi. Dan Kai? Dia masih memasang wajah stay Cool seolah tidak terjadi apa-apa.

Beberapamenit terlewati dalam diam hingga makanan yang dipesanpun datang. Kyungsoo yang memang laparpun sontak tersenyum senang sambil meraih sumpitnya. Mejanya kini penuh makanan. Perut mungilnya mulai berontak didalam sana.

"Yee! Selamat Makan."

Kyungsoo mulai memakan mie dalam mangkuknya dengan nafsu, suara 'Sruuttt' efek makan mie yang terlalu bersemangat membuat lelaki tan itu menatap Kyungsoo aneh. Bocah ini makan berisik sekali.

"Kau makan apa?" Kyungsoo mengangkat kepalanya, mulutnya masih penuh oleh sayuran. Orang yang ditanya hanya diam, melanjutkan acara makannya.

"Kau hanya makan Ayam?" Kyungsoo membelalak.

"Hm."

"Aku juga mau Ayam. Berikan.." Kyungsoo mengambil paksa Ayam saus madu ditangan Kai, dengan muka tanpa bersalahnya si mungil mulai asik makan, sesekali menjilati jarinya yang tercecer saus. Ini enak, gumannya. Dan Kai? Dasar bocah! Umpatnya dalam hati.

.

.

.

Kyungsoo membulatkan matanya senang. Si mungil itu sesekali melompat-lompat dalam pegangan Kai. Ah~ Kalian tahu mereka akan kemana?

"Ice skating!"

Kai hanya tersenyum kecil melihat keantusiasan Kyungsoo, ternyata bocah mirip Owl ini sangat lucu dan menggemaskan. Bagaimana bisa Kai baru menyadarinya? Setelah membeli karcis dan memakai mantel kembar –Sebenarnya gadis penjaga karcis yang senagaja memberikan warna kembar– Keduanya kini melangkah kearah out door Rink Grand Hyat Hotel dimana tempat seluas 910 Meter yang dibekukan sedemikian rupa seperti lapang salju berada. Kyungsoo memekik senang, tanpa sadar dia mulai menarik tangan Kai berjalan semakin cepat. Lighting dan Sound yang apik membuat mereka seolah-olah sedang berada di Wonderland.

"Ternyata disini dingin ya." Kyungsoo berguman pelan sambil mengembung-ngembungkan pipinya. Kai yang melihat itu segera menarik tangan Kyungsoo dan memasukkannya kedalam mantelnya. Sontak Kyungsoo terkejut, tangannya yang digenggam erat didalam mantel sana mulai menghangat, mengalir sampai kepipinya hingga si gembul itu kini bersemu merah. Aw! Dia tidak sedang syuting drama disini kan?

"Hangat?"

Kyungsoo mengangguk. Dan keduanya kembali berjalan diantara manusia-manusia yang berlalu lalang disana, menyusuri Wonderland buatan itu sambil menikmati Han River. Air yang mengalir tenang membuat keduanya merasa nyaman. Jika kalian melihat keduanya dari sisi sudut, maka mereka terlihat seperti Putri dan Pangeran dari dunia dongeng. Kyungsoo tersenyum senang, tangannya menggenggam kuat didalam mantel bertautan hangat dengan tangan Kai yang besar. Beberapa orang disana yang melihat keduanya hanya tersenyum kecil, keduanya terlihat romantis.

Jika malam akan membuat semua moment ini berakhir, maka Kai berharap bahwa Matahari akan terus bersinar sepanjang masa.

.

.

.

Museum Teddy Bear, Lotte World dan berbagai tempat lainnya sudah Kyungsoo dan Kai kunjungi hari ini hingga matahari mulai bergeser kearah timur. Diam-diam Kai melirik kearah Kyungsoo yang masih asik memakan permen kapasnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya masih dia genggam erat. Malam akan tiba dan Kai tak mau kebahagiaan ini berakhir. Maka dia menarik Kyungsoo menuju kearah Cheonggyecheon Stream –Sungai yang mirip Seine di Paris. Tepat sekali. Ada banyak pasangan muda-mudi yang saling bergandengan tangan disini, mengambil selfi atau menikmati satu cup ice cream berdua. Kai menghela nafas panjang. Kenapa waktu terasa bergulir sangat cepat sampai-sampai dia tak sadar bahwa sudah hampir seharian dia menghabiskan waktu bersama Kyungsoo? Apa karna dia menikmatinya? Well, mungkin itu benar. Si mungil yang cerewet ini membuatnya merasa nyaman dan hangat.

"Ayo kita ketaman. Ada banyak penjual disana." Ajak Kyungsoo semangat. Kai pura-pura mendecih, menatap Kyungsoo yang kini asik menjilati jarinya yang tertempel permen kapas. Astaga! Kejadian yang sama saat makan Ayam di Baedongbaji tadi.

"Difikiranmu hanya makan saja." Komentar Kai dan Kyungsoo langsung merengut sebal.

"Manusia juga butuh makan."

"Tapi tidak serakus dirimu. Lihat lemak dipipimu itu." Kyungsoo langsung menyentuh pipinya dengan tangan kiri, dia tepuk-tepuk pipinya dengan pandangan sebal.

"YA! Aku tidak gendut." Ucap Kyungsoo tidak terima saat sadar bahwa Kai baru saja mengatainya gendut dalam gaya bahasa Eufimisme. Dasar licik!

"Jika tidak makan, manusia pasti akan mati."

"Tapi mereka makan dengan wajar tanpa harus menguras dompetku."

"YA! Aku tidak makan sebanyak itu."

"Terserah."

Kaki dengan perbedaan panjang yang mencolok itu mulai melangkah melewati taman dimana banyak karya seni dipajang disana. Patung, Lukisan, Cinderamata dan masih banyak lagi. Hingga keduanya berhenti disebuah patung wanita bersayap yang tengah menunduk dengan Gucci yang berisi gemelucur air didalamnya.

"Ayo mengambil gambar."

Kai segera mengambil ponselnya, dia mengatur timer dan mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi agar patung dan wajah keduanya terlihat.

"Yah, aku tidak kelihatan." Kyungsoo refleks merapatkan tubuhnya pada Kai, tangannya terangkat membentuk tanda Peace.

"Hana.. Duel… Set!"

Kimchi!

"Waa..Lihat. Lihat!" Kyungsoo segera merebut ponsel Kai dan hal itu membuat wajah keduanya menjadi sangat dekat. Lelaki tan itu merutuk karna jantungnya yang tiba-tiba berpacu sangat cepat. Sial! Ini bukan yang pertama kalinya, kenapa dia harus gugup?

"Ayo ke Jembatan saja." Kyungsoo menjauhkan wajahnya dan Kai mampu bernafas lega setelahnya. Keduanya kembali merajut langkah melewati air terjun hingga sampailah mereka di Sungai dengan panjang 8, 4 Km di Seoul. Ada dua jembatan besar dibelahan sisi sungai, Kai berinisiatif mengambil jembatan sebelah kanan. Dan disinilah keduanya berada. Kai melepaskan tautan tangannya dan melompat naik ke tembok pembatas jembatan dengan tinggi menyamai tinggi perutnya itu. Matahari akan terbenam, dan posisi ini sangat pas untuk melihat Sunset.

"YA! Kau mengacuhkanku. Aku mau melihat Matahari terbenam juga."

Kai melupakan sesuatu lagi. Si mungil itu sekarang tengah marah-marah dengan bibir maju beberapa centi, pout andalan. Kai yang melihat itu terkekeh pelan.

"Naik saja." Kyungsoo menghentakkan kakinya.

"Kau mengejekku ya? Aku kan pendek, tidak bisa naik tahu!" Dan Kai tersenyum jahil. Dia kembali turun dan mengangkat Kyungsoo naik. Ah~ tubuhnya mungil sekali sih.

"Dasar pendek!"

"Terserah! Week~" Kyungsoo menjulurkan lidahnya, memutar tubuhnya membelakangi Kai yang memutuskan tidak naik. Hell! Sunsetnya akan terlihat meski dia tidak naik kok, jangan lupakan tinggi tubuhnya yang diatas rata-rata itu.

"Mataharinya akan terbenam." Kyungsoo memekik, dia mengambil ponselnya dan mulai merekam pemandangan indah barusan. Dan malampun benar-benar datang. Waktu mereka sudah habis ya?

"Indah ya Kai?" Guman Kyungsoo pelan. Karna tak ada sahutan, lelaki mungil itu kini membalikkan tubuhnya sampai dengkulnya bertubrukan langsung dengan perut lelaki tan itu.

"Kai.."

"Hm.."

Keduanya bertatapan dalam diam. Tangan Kyungsoo terangkat melingkari leher lelaki tan itu. Rasanya menyenangkan sekali. Tapi malam telah memperingati bahwa mereka sudah berdua terlalu lama. Artinya acara 'Kencan' mereka sudah berakhir seharian ini. Kyungsoo tersenyum manis, dia mendapatkan setengah dari apa yang dia cari.

"Kau menemukannya?"

"Hampir sepenuhnya." Jawab Kai.

"Benarkah?"

"Ya."

"Apa itu artinya kau tertarik padaku?" Goda Kyungsoo. Kai menyeringai kecil.

"Well, aku tidak bilang bahwa aku tertarik padamu. Tapi suatu saat nanti pasti semuanya benar." Kyungsoo tersenyum.

"Kurasa harus ada kencan kedua."

"Mungkin. Tapi tidak hanya itu saja, aku harus tahu semua tentangmu."

"Ayo menjalaninya dengan baik, maka kau akan tahu semua tentangku." Kai menjulurkan tangannya, mengusap pipi halus Kyungsoo dengan sayang. Wajahnya semakin mendekat.

"Kau mau?" Matanya menatap Kyungsoo dalam.

"Ya. Asalkan.." Potong Kyungsoo.

"Asalkan?" Tanya Kai tak sabaran, dan Kyungsoo tertawa kecil setelahnya.

"Jadilah lebih baik. Aku tak mau ada rokok, alcohol ataupun perkelahian. Jika aku melihat itu semua, maka aku akan pergi.." Kai tersenyum kecil, memajukan wajahnya hingga berhasil mengecup ringan bibir Kyungsoo.

"Aku tidak janji."

"Berjanjilah."

"Aku tidak suka berjanji karna aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Daripada membuat janji yang tisak bisa aku tepati, lebih baik aku berusaha yang terbaik saat ini." Ucap Kai. Kyungsoo berdecak, mendorong bahu lelaki tan itu agar sedikit menjauh dari tubuhnya.

"Truth or Dare?"

"Ck! Apa-apaan ini? Jangan memulai hal yang aneh-aneh Kyungsoo." Balas Kai datar. Hh, bocah ini aneh-aneh saja. Bukan seperti ini permainan ToD yang sebenarnya, tidak ada botol yang diputar, dan dia tak memiliki kesempatan memberikan pilihan, ini tidak adil.

"Truth or Dare?" Desak Kyungsoo dengan senyum misterius.

"Kyungsoo!"

"Truth or Dare?"

"Berhenti."

"Truth or Dare?"

Kai menghela nafas, sudah tiga kali dan Kai tak bisa menolaknya. Manik kelamnya menatap Kyungsoo yang kini menatapnya penuh penasaran. Apa lagi kali ini?

"Dare."

Jawaban Final dan Kyungsoo bersorak dalam hati. Si mungil itu segera melompat kepunggung Kai dengan cepat. Kai tentu saja kaget bukan main, tapi untung saja dia memiliki ketahanan tubuh yang kuat hingga dia mampu mengimbangi tubuhnya. Si mungil dipunggungnya hanya terkikik, melingkarkan lengannya ke leher Kai dengan erat.

"Kau harus menggendongku."

"Curang." Omel Kai tak terima, Kyungsoo hanya tertawa, memajukan wajahnya memberikan satu kecupan manis dipipi lelaki tan itu.

"Itu tantangannya Tuan Kim."

.

.

.

Luhan merutuk, dalam hati dia sudah mengeluarkan sumpah serapah karna memilih melewati lapangan basket daripada melewati lorong hendak menuju kekelasnya. Sial! Mimpi apa sih dia semalam? Sambil menunduk, si anak rusa itu berbalik bersiap pergi, namun..

Greb!

Sial. Seseorang yang dihindarinya kini menahannya. Membalikkan tubuhnya dengan paksa.

"Kenapa selalu menghindariku? Kau fikir aku ini hantu?"

'Yes. Hantu yang selalu mengganggu fikiranku.' Jerit Luhan dalam hati. Lelaki pucat yang kini mencekal lengan Luhan mendengus sebal. Anak ini sangat aneh. Setiap kali tak sengaja bertemu, Luhan selalu menghindar, memangnya dia semacam virus mematikan yang harus dihindari begitu? Bagaimana dia bisa melakukan pendekatan jika begitu?

"Le..Lepaskan aku!" Ucap Luhan tegas –Sok tegas, karna dia sekarang sedang gugup– Sehun menyeringai kecil.

"Tertarik padaku Noona?"

Sut up your mouth! Untung kau tampan, jika tidak pasti sudah kuhajar wajahmu dari jauh–jauh hari –guman Luhan dalam hati– Luhan mendongak dan mendelik sebal. Well, yang Sehun ucapkan memang benar. Dia bukan saja tertarik, namun sudah terpesrosok jatuh terlalu dalam, hanya saja dia terlalu malu mengakuinya. Pesona Sehun selalu membuatnya silau. Luhan merasa takut tak bisa lepas dari manusia ini, sementara dia masih memiliki gengsi yang setinggi langit.

"Aku laki-laki. Aku memiliki Penis bodoh!"

"Pfft!" Sehun Menutup mulut dengan sebelah tangannya, matanya melirik jahil kearah bagian tengah selakangan Luhan. Kira-kira ukurannya seberapa ya mengingat tubuh Luhan sangatlah mungil. Si anak rusa yang sadar 'Miliknya' dilihat langsung gugup. Dia meronta-ronta minta dilepas. Namun Sehun semakin menguatkan pegangannya, mendorong tubuh Luhan hingga mundur kebelakang. Luhan sontak panik, fikiran kotor tentang apa yang akan Sehun lakukan kepadanya terbayang-bayang di otaknya. Jangan-jangan.. Sehun akan memperkosanya? Andweee!

"YA! JANGAN MELIHATTTT! DASAR MESUM."

DUAGH!

"Ahk." Sehun meringis, pegangannya pada tangan Luhan terlepas dan beralih memegang miliknya yang berkedut parah karna baru saja mendapat tendangan telak dari Luhan. Sehun bergulung-gulung dilantai sambil mengerang tak jelas. Dan Luhan? lelaki manis itu kini sudah ambil langkah seribu sambil berteriak-teriak seperti gadis yang baru saja diperkosa.

.

.

.

Kyungsoo berjalan riang memasuki sekolahnya, dengan langkah ringan sambil sesekali bernyanyi kecil. Mood seorang Do Kyungsoo sedang membaik hari ini. Well, setelah acara kencan kemarin, hubungannya dengan Kai semakin dekat dan mesra. Lelaki tan itu rajin mengiriminya pesan layaknya pasangan kekasih lainnya. Ini menyenangkan, Kyungsoo merasa sangat nyaman. Mungkin rasa cinta sebenarnya adalah saat kau bersama orang yang membuatmu nyaman.

"Kyungsoo.."

Kyungsoo menoleh dan mendapati Baekhyun tengah berlari-lari kecil kearahnya. Lelaki manis ber-eyeliner itu langsung memeluknya erat.

"Hei~ ada apa Baek Hyung?"

"Kau tahu tidak? Chanyeol mengajakku kencan kemarin." Mata Kyungsoo langsung membulat, dia lepas pelukannya dan menatap Baekhyun dalam-dalam.

"Serius Hyung? Ya! Kenapa tidak memberitahuku?" Baekhyun tersenyum malu.

"Aku juga tidak menyangkanya."

"Aaaa~ Selamat yaa! Kau berhutang penjelasan padaku." Kedua sahabat itu kembali berpelukan dengan senang, sampai-sampai tak menyadari bahwa ada seseorang yang tengah mendekati mereka. Lelaki dengan seragam yang berbeda.

"Permisi. Dimana letak ruang guru?"

Sapaan itu menghentikan aksi 'Mari berpelukan' Baekhyun dan Kyungsoo. Baekhyun mengernyitkan dahinya bingung menatap lelaki tampan didepannya ini, sedangkan Kyungsoo menatap lelaki itu dengan mata membulat.

" .."

.

.

.

"Ada hal buruk!" Kai menghentikan aktifitas membacanya, menatap Sehun tak mengerti.

"Apa maksudmu?" Sehun memutar bola matanya malas.

"Aku bingung menjelaskannya. Ayo ikut aku."

Sehun melangkah meninggalkan ruangan meninggalkan Kai yang masih diam. Manusia albino itu seenak jidatnya saja memberi perintah. Dengan helaan nafas kasar lelaki tan itu bangkit mengikuti Sehun kearah ruang kepala sekolah. Kai mempertemukan dahinya bingung, kenapa lelaki ini membawanya kesini?

"Heii! Sehun, kenapa kau mem-"

Kai terdiam ditempatnya, matanya bergerak menatap tajam dua orang lelaki yang baru saja keluar dari ruang kepala sekolah dengan tajam. Keduanya asik bercanda dan tertawa tampa sadar bahwa tangan Kai dibawah sana sudah mengepal kuat. Dengan langkah lebar Kai menghampiri keduanya, melewati Sehun yang hanya memamerkan senyum remeh.

"Berhenti."

Dua manusia yang asik bercanda itu menoleh. Dan Kai benci melihat ekpresi salah satu lelaki itu.

"Kai.."

Kai mendekat, kemudian menarik Kyungsoo kearahnya, memeluk pinggang kekasihnya posessif. Dia sangat jijik melihat Kyungsoo dekat-dekat dengan lintah satu ini. Dan si lelaki satunya hanya tersenyum kecil melihat tangan Kai yang terkesan memiliki si mungil itu.

"Kenapa si brengsek ini disini?" Tanya Kai tajam, menatap lelaki didepannya dengan dingin.

"Kai..Jangan bilang seperti itu." Ucap Kyungsoo halus.

"Hai Kai. Lama tak berjumpa." Ucap lelaki itu sok kalem, Kai mendecih.

"Mau apa kesini?"

"Santai saja Man. Aku tidak membawa kelompokku kesini," Lelaki itu mengangkat kedua tangannya memasang pose menyerah. Kai menatapnya tajam.

"Kenapa bersama Kyungsoo?"

"Aku bertemu dengannya di lorong tadi. Jadi aku meminta bantuannya, Aku kesini sebagai wakil sekolah untuk pertandingan basket bulan depan."

"Omong kosong! Ravi.."

"Kau tak percaya?" Lelaki bernama Ravi itu mengangkat sebelah alisnya. Lihat penampilannya saat ini. Rambut hitam dengan pakaian yang rapi. Ciih, pintar sekali kau menutupi sifat busukmu itu.

"Haruskah aku percaya?"

"Kai. Dia tidak bohong kok, aku melihatnya sendiri." Ucap Kyungsoo pelan, takut-takut dua lelaki ini akan berkelahi lagi. Kai menunduk menatap Kyungsoo.

"Kau yakin?"

"Ya."

Kai menghela nafas pelan. Dengan sengaja dia kecup bibir Kyungsoo tepat didepan Ravi. Dengan seringaian puas, lelaki tan itu kini beralih merangkul Kyungsoo yang tengah merona malu. Dan Ravi? Lelaki itu hanya diam dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Pergilah.." Usirnya kemudian Kai bawa kekasih kecilnya itu pergi dari sana, meninggalkan Ravi yang tengah mendesis marah.

"Sial."

.

.

.

' Aku ada pelajaran tambahan pagi ini. Kau berangkat sendiri saja Ok? Love You :* '

Kyungsoo tersenyum malu melihat pesan yang Kai kirimkan sekitar satu setengah jam yang lalu. Pipinya sudah memerah hebat. Sial! Padahal hanya sebuah pesan, namun sudah berhasil memporak-porandakan perasaannya. Memang, Manusia kutub itu selalu saja bisa membuatnya salah tingkah. Kyungsoo menyimpan kembali ponselnya kedalam kantung celana, kemudian kembali melanjutkan langkahnya memasuki kelas. Dia tak berniat membalas pesan Kai, toh sebentar lagi mereka akan bertemu kan?

"Wow! Aku tak menyangka semua ini. Situs sekolah selalu upto date ya? Hihi.."

Kyungsoo melirik beberapa gadis yang tengah terkikik dilorong koridor. Mata bulatnya memutar malas. Pasti ada berita baru hingga sepanjang koridor pagi ini penuh oleh para gadis yang tengah berkumpul sambil tertawa cekikikan membicarakan sesuatu. Kyungsoo kembali melangkah tanpa ada minat mendengarkan.

"Hell. Ternyata salah satu member Girl Group yang baru debut itu sudah memiliki kekasih ya? Dan parahnya adalah, pacarnya itu salah satu siswa disini."

"Benarkah?"

"Ya. Kalian tidak melihat foto di Mading tadi? Jelas-jelas lelaki itu adalah Kai Sunbae."

Mendengar nama itu disebutkan, sontak langkah kaki Kyungsoo terhenti. Seperti ada sebuah feeling yang menyuruhnya berhenti dan bertanya apa yang telah terjadi.

"Dan lagi, bukankah Kai sunbae itu berpacaran dengan Kyungsoo anak kelas dua itu ya? Hhmm, apa Kai sunbae hanya mempermainkannya yaa?"

Tunggu– Apa yang terjadi sebenarnya? Langkah Kyungsoo mendekat kearah tiga gadis –Anak kelas satu– yang asik mengobrol dibawah tangga. Dia harus tahu apa yang terjadi, apa lagi ini menyangkut nama Kai dan namanya.

"Apa yang terjadi?"

Sontak ketiga gadis tadi menoleh dengan pandangan kaget, sedikit gugup ketiganya membungkuk kecil.

"Sunbae.."

"Apa yang terjadi? Katakan padaku!" Ucap Kyungsoo tak sabaran.

"A..anu sunbae, i-itu.."

"Itu apa?" Bentak Kyungsoo emosi, ketiganya terlihat ketakutan.

"Si..silahkan lihat di Mading sekolah saja sunbae."

Tanpa membuang waktu, kaki kecil Kyungsoo segera melangkah berbalik kearah Mading sekolah. Tempat itu saat ini terlihat seperti sebuah pasar, sangat ramai. Manusia-manusia disana tampak haus dengan berita terbaru dari sekolah.

"Aaa! Kyungsoo Sunbae.." Beberapa gadis yang mengetahui keberadaan Kyungsoo segera memekik kecil, mereka dengan teratur segera memberi Kyungsoo jalan agar bisa melihat apa yang terdapat di papan persegi ukuran 4x4 itu. Kyungsoo maju selangkah, matanya bergerak gusar melihat deretan kata-kata yag tertulis disana, juga beberapa foto mesra yang terpampang jelas disana. Bagai ada sebuah badai yang menghantam taman hatinya yang saat ini tengah bermekaran.

"Soo..Hosh! Kyungsoo!" Bahkan pekikan Luhan dia abaikan. Kyungsoo masih menatap kosong kedepan, sebelum akhirnya dia berlari mengabaikan Luhan yang terus memanggil-manggil namanya.

.

.

.

Kai melirik kearah jam tangan dipergelangan tangan kirinya, dan lelaki tan itu mengerang kecil. Dia tatap dengan malas layar computer didepannya yang menampilkan deretan angka-angka berantakan yang harus dia selesaikan sesuai perintah Kang Songsaenim. Argh! Pelajaran computer dipagi hari membuatnya frustasi. Kai menodorong kusinya kebelakang dan bangkit dari tempat duduknya.

"Aku selesai." Ucapnya santai. Kaki panjangnya melangkah maju kedepan. Well, Kai memang berada di computer paling belakang, dia harus berjalan melewati sekitar sepuluh orang agar mencapai pintu masuk.

"Kai..Apa ini kau?"

Kai menghentikan langkahnya, dia memutar badan menatap Seungyoon yang menatap layar computer dan wajahnya bergantian. Kai yang ditatap seperti itu merasa risih.

"Ada apa?"

"Ini benar-benar Kaii.."

Pekikan Nahyun disebelahnya membuat lelaki tan itu bingung. Dia mendekat kearah Nahyun berniat melihat apa yang terjadi hingga namanya disebut-sebut. Dan setelah retina matanya menangkap sebuah gambar yang ditampilkan dilayar computer, bola matanya langsung membuat sempurna.

"Kai, ini kau kan?" Tanya Nahyun pelan.

"Apa yang terjadi?" Kai berlalih kekomouter Mino disebelahnya, dan gambar yang sama persis juga terdapat dikomputer Mino. Dia mengecek computer disana satu persatu, dan Sial! Semua Computer disana menampilkan gambar yang sama.

"Apa ini?" Kai mengerang frustasi. Dia tatap Sehun diujung sana yang tengah menggelang tidak tahu. Brengsek! Siapa yang melakukan ini?

"Wah..Kai. Kenapa kau menyembunyikan hubunganmu dengannya selama ini?" Komentar Jinhwa dibelakangnya. Kini semua pandangan tertuju kearahnya. Kai menatap Jinhwa tajam.

"Tutup mulutmu Brengsek!"

Dan Kai segera berlari meninggalkan ruang computer dengan cepat, menyisakan suara benturan pintu yang keras. Sehun melihat kembali layar komputernya dan menghela nafas.

"Apa lagi ini?"


.

.

.

.

.

TBC.

.

.

.

.

.

Big Thank's and Love to :

Oneblacktomato, namefake, TheLightAndTheFire, Kim Eun Bom, AudryByun, Sofia Magdalena, eunkyouw, BangMinKi, anjanidisyacita, pooaeri3, yullseh, taufikunn9, yongchan, BaconieSonjay, Kim Latte, lianiamiDYO, alxshav, xolovebaekie, Taman Coklat, kyungsooxeveryone, Kaisoo32, ohana no haruno, KaiCEBONGHANYUT, Shim Yeonhae, Guest, kyungie, use airegar, Kaisoo Shipper29, Kyungra26, SkyBlueAndWhite, RealMultiSHAWOL, Yeorky, bekikola, ViraHee, Kim YeHyun, , NHAC,Kaisoomin, Asuji Posya, sukhyu, nikyunmin, diah, Kim Jae In, nunumato99, patriciacornelia, meliarisky7, miss, elferani, bnm, .35, Bubbleniiowl, luvjongin, .1, herzana00kurnia, Re-Panda86, Royrose, BigSehun'sjunior, vietrona chan, DKSlovePCY, sweaty hany, meyriza, belenggg114, d.o930112, ShinjiWoo920202, Maxiumum, besoo120193, dewiarum08gmail, N, dudududu, AryaniL, Viyomi, EkaOkta3424, Nam Jung, Jung NaeRa, Lucky8894, Kim124, KeziaJSC, KTOdult, PURPLE-Kimlee, kyungiejongie, Yeolsoo, Jenny, anaknyakyungsoo, anjani, ezol211, meliarisky7, , xobechan56, antnia8, CuteSoo93, URuRuBaek, Kyungsoo SEME, dokyungsooxs, xoxowkwk, Vibi Cho, SiscaMinstalove, elferani, sakhnazrzk, LS-snowi, fatmawativivi4, kyung1225, veraseptian, Liuhan68.77, anisa fransiskaa, DyoniChan, ashano, kuminosuki, doctorbaek, IM-Magnae, hshsgw85, , dokydo91, Ay, rdfyg, hala artiosh, anjar913, Yusi865, Nameanisaa Frans, xoxossekai, anno401, edogawa ruffy, Nurfadillah, Nananan, dini kyungsoo, Viyomi, luvjongin, Maximun, besoo120193, dewiarum08gmail.

ADA YANG KURANG? XDD

TERIMAKASIH BUAT KALIAN YANG MASIH MENUNGGU FANFICT INI! MAKASIH YANG MAU MEMBACA, MEM-FOLLOW, MEM-FAVORITKAN DAN ME-RIVIEW FANFICT INI ^^

ARIGATOU SEMUA ^^

SEE YOU NEXT CHAPTER ! ^^

SARANGHAE GUYS! :* :* :*