Mr. Wu!

Chapter 11 – Mr. Wu


Cast aren't mine.

Kris/Suho

Tao & Sehun

Romance, family.

Genderswithced.

~Mengucapkan selamat membaca~


Yifan itu bukan pria yang romantis. Bahkan beberapa kali harus Joonmyeon yang meminta terlebih dahulu untuk diperlakukan romantis. Jangankan bunga, memuji saja hanya kalau sedang ada maunya. Joonmyeon menopang dagu sambil berpikir. Ia juga ingin kehidupan pernikahannya seperti layaknya di drama-drama yang ia tonton. Suami kaya, check. Tampan, check. Romantis, uh sayangnya tidak.

Tuh, lihat saja bagaimana Lao Xing diperlakukan begitu manis oleh kekasihnya.

"Yifan?"

"Hm?"

"Kapan kau belikan aku cincin?"

Pria itu tersedak kopi yang sedang diteguknya. "Apa?!"

Itu, sih, bukan romantis, Joonmyeon. Itu matre namanya.

.

Yifan, walaupun wajahnya tampan, tapi menurut Joonmyeon juga terlihat galak, tua, dan sangar. Joonmyeon sedikit iri bagaimana Baekhyun yang punya suami baby face seperti Chanyeol. Pria itu juga manis dan ekspresinya selalu menyenangkan, sekaligus punya sisi manly tersendiri dengan suara beratnya.

"Joon?"

Joonmyeon menoleh dan mendapati suaminya sedang berpose aneh. Wanita itu melongo. "Kau sedang apa?"

"Aegyo."

Joonmyeon melotot. "Ya Tuhan itu aegyo? Hentikan, Yifan. Malah jadi menyeramkan."

Ralat, Yifan itu memang tampan, tapi sayang kelakuannya terlalu kekanak-kanakan cenderung konyol.

.

Semua orang bilang Yifan, dengan keberhasilannya mengelola bisnis, adalah orang yang perfeksionis, disiplin, dan rapi. Joonmyeon ingin menolak rasanya, tapi ia tidak terlalu tega untuk menghancurkan reputasi suaminya di depan umum.

Begini, ya. Menurut Joonmyeon Yifan itu sama sekali tidak perfeksionis. Yifan tidak akan permasalahkan apakah itu sempurna atau tidak, yang penting dia setuju dia akan anggap benar. Sesederhana itu prinsipnya. Pakaian tidak cocok saja bukan masalah bagi dia. Bangun tidur dengan mulut terbuka plus aliran liur di mana-mana, pun sudah biasa.

Suaminya itu juga bukan orang yang disiplin. Kalau tidak dibangunkan mana bisa dia bangun pagi. Sudah dibangunkan pun meleknya sangat-sangat susah. Harus ekstra sabar hanya membangunkan Yifan di pagi hari. Joonmyeon juga harus mengingatkannya untuk makan dan tidur tepat waktu.

Pria itu bukan juga orang yang rapi. Kalau tidak dengan Joonmyeon yang mengomel untuk meletakkan segala sesuatu di tempatnya dia akan asal saja melemparkan barangnya. Mungkin saja kalau Joonmyeon tidak ada, sepatu bisa dibawanya tidur.

Sudah hampir jam delapan dan mereka masih berguling-guling saja di atas kasur.

"Lepaskan aku. Aku mau sikat gigi dulu."

"Tidak apa-apa. Belum sikat gigi, rambut acak-acakan, wajah bangun tidurmu pun aku terima, Joon." Tuh, bukan perfeksionis.

"Kau tidak mau sarapan? Ini sudah siang, Yifan."

"Tidak apa. Berangkat kantor nanti bisa jam sepuluh." Tepat waktu dari mana?

Joonmyeon berguling lagi, mencoba melepaskan diri dari kungkungan si bule China. Dan kemudian dia berhenti ketika merasa menindih sesuatu yang keras. "Ini apa?"

"Ya Tuhan laptopku! Bagaimana bisa kau tindih begitu? Semua datanya ada di sana! Duh, jangan sampai rusak." Berantakan, iya.

Yifan langsung bangkit berdiri. Mengambil komputer jinjingnya, mengungsikannya ke kamar kerjanya.

"Siapa suruh taruh di sini?"

Joonmyeon mendesah lega. Akhirnya, pria itu bangun juga, ia terbebas dari cengkraman maut sang naga mesum. Joonmyeon akan mencatat ini sebagai salah satu cara membangunkan Yifan.

Ah, sebaiknya ia manfaatkan kesempatan sebelum si naga itu kembali menerkamnya.

.

Yifan itu tegas dan bijaksana, kata orang. Joonmyeon Cuma bisa diam menahan tawa.

"Baba, aku ingin baju baru."

"Bukannya kemarin sudah beli baju, Tao-ie?"

Tao merengut. Dia sudah melakukan bbuing-bbuing andalannya tapi tidak dikabukan juga. Huh.

"Baba, Sehunie mau bubble tea."

"Jangan bubble lagi, bukannnya hari ini sudah minum tiga gelas, Sehuna?"

"Uh, Baba, please. Sehun sudah tidak punya uang mau beli sendiri."

"Tidak, Sehuna."

"Baba,"

"Apa, Joon? Mau mencoba merayu aku juga?"

"Tidak. Hanya mau berbicara sebentar." Joonmyeon mendekatkan tubuhnya pada suaminya. Senyum manisnya sudah terpasang. Telapak tangannya bergerak mengelus lengan suaminya lembut. "Apa kau tidak keterlaluan dengan anak-anak?"

"Keterlaluan bagaimana? Mereka berlebihan kalau—" seandainya saja Yifan tidak menoleh pertahanannya tidak akan sia-sia. Nasi sudah masuk ke perut Tao, mau bagaimana lagi. Kalau dipaksa dikeluarkanpun bentuknya sudah tidak indah lagi. "Ya , baiklah. Ayo berangkat."

Si kakak-beradik bersorak. Yifan hanya menghela nafas malas. Bagaimana mungkin Yifan tahan dengan jurus wajah anak anjing super milik istrinya.

Sejenak ia memikirkan dompet dan kartu kreditnya. Akan susah kalau Tao minta barang-barang bermerk lagi. Akan payah kalau Sehun harus dituruti dengan segala obsesinya pada bubble tea. Tapi akan lebih menyedihkan lagi kalau ia harus menolak permintaan istrinya. Kelangsungan hidupnya bisa-bisa terancam.

.

Orang-orang selalu memuji Yifan dengan tinggi badannya dan tubuhnya yang kekar. Joonmyeon menatap dirinya sendiri. Dari ujung kaki hingga ujung kepala Joonmyeon kalau dipikir-pikir memang kebalikan dari Yifan.

Yifan tinggi, Joonmyeon pendek.

Yifan kekar, Joonmyeon kurus kelontang.

Yifan seksi, Joonmyeon kerempeng.

Yifan—

"Aku tampan, kau cantik. Itu dihitung kebalikan, kan?"

Wajah wanita itu sudah semerah buah cherry sekarang. Uh, Yifan sok gombal.

.

Yifan pendiam dan dingin, katanya. Joonmyeon berkedip. Pendiam? Pria semacam Yifan itu pendiam? Uh.

Asal kalian tahu, Yifan itu selalu berceloteh tentang semua hal, bahkan saat tidur. Hal yang penting, tidak penting, apa saja. Dia bahkan pernah mengigau tentang apel saat tidur, dengan tiga bahasa yang membuat Joonmyeon cuma melongo. Ia tidak heran lagi kenapa Tao dan Sehun bisa secerewet itu. Dari mana datangnya kalau tidak dari ayahnya.

Daripada cukup mengatakan masakanmu enak, Yifan akan bilang Ya Tuhan Joonmyeon sup nya enak sekali bumbunya pas sekali kau pandai masak Ya Tuhan aku sampai terharu, dan bla. Itupun hanya untuk mendapat balasan berupa bekas bibir Yifan di wajah Joonmyeon.

Yifan juga mudah panik, sebenarnya. Pernah sekali saat Yifan membantunya di dapur, dia langsung khawatir dan ketakutan ketika melihat ujung jari Joonmyeon teriris pisau. Hanya sebuah sayatan kecil pisau. Dibasuh air pun sudah selesai.

"Bagaimana mungkin bisa begitu. Aku, kan, cuma khawatir, Joon. Bagaimana kalau jadinya infeksi dan kau harus dibawa ke rumah sakit, dan bla bla.."

Tuh, kan, cerewet.

.

Tapi bagaimanapun suaminya, Yifan tetaplah Yifan. Dengan dirinya yang apa adanya, Joonmyeon jauh akan lebih mencintai dan menghormati suaminya itu.

Joonmyeon menikmati bagaimana suaminya yang tidak romantis setengah mati itu memberinya pelukan dan kecupan setiap harinya. Atau bagaimana pria itu mengabaikan rasa malu menggenggam tangannya dan bercanda bagaikan mereka sepasang remaja walau di tengah kerumunan orang. Bagi Joonmyeon itu sudah jauh lebih romantis daripada sebuket bunga, atau bahkan kalung dan cincin. Perhatian kecil Yifan jauh melebihi apapun di dunia.

Joonmyeon sangat suka sensasi ketika tangannya menyentuh wajah tampan Yifan. Atau mengamati pria itu ketika sedang terlelap. Wajah garangnya akan berganti dengan wajah damai pria itu yang manis dan menggemaskan. Ia akan tersenyum dan terkagum-kagum sendiri menikmati pahatan Tuhan pada wajah suaminya. Dan dia akan berakhir mengecupi wajah polos suaminya. Tapi pelan-pelan, jangan sampai Yifan terbangun dan mendapati ia sedang menodai wajah kebanggaannya.

Ia juga bersyukur Yifan punya sisi ketidaksempurnaan. Ia akan merasa memiliki Yifan seutuhnya kalau saja pria itu membiarkannya tahu kelemahan dirinya. Joonmyeon akan dengan senang hati membenahi kesalahan pria itu, mengingatkannya, membenarkannya, menjadikan dirinya berguna sebagai istri dan sahabat bagi suaminya. Ia akan menjadi penyempurna bagi ketidaksempurnaan pasangannya, begitu juga Yifan akan berperan baginya. Ia selalu berharap bahwa ketika dia mencintai ketidaksempurnaan Yifan, suaminya juga akan menerima dan mencintainya apa adanya.

Menyenangkan melihat bagaimana Yifan dengan sifat kekanak-kanakannya yang terkadang muncul. Dia yang super sok dewasa itu bertingkah lucu dan menggelikan, mengundang tawa dan tatapan tak percaya darinya. Tapi ia juga bersyukur bisa mempunyai Yifan dengan kebijaksanaannya yang selalu bisa mendamaikan masalah di keluarganya, selalu bisa menjadi sandaran baginya ataupun anak-anaknya, yang selalu bisa menjadi tempat berbagi dan berkeluh-kesah.

Ia suka tubuh tinggi dan kekar Yifan, seolah tubuh itu akan siap siaga melindunginya yang kecil nan mungil dari bahaya. Ia suka ketika mendongak dan mendapati wajah Yifan yang juga menatap ke arahnya. Ia suka memeluk tubuh pria itu, membenamkan kepala pada dada bidang suaminya. Ia juga suka bagaimana dekapan suaminya akan menangkup penuh dirinya, memeluknya erat seakan enggan melepaskan. Atau bagaimana tangan besarnya menggenggam miliknya yang kecil, membuat tangan itu tertutup sepenuhnya.

Joonmyeon akan terkikik sendiri bila teringat kelakuan Yifan yang sangat cerewet itu. Ia suka mendengar Yifan yang memujinya berlebihan walau terdengar aneh. Ia suka Yifan ketika mengomentari apa yang ia kenakan atau apa yang ia lakukan, apakah baik atau tidak dengan segala alasan yang rasanya dilebih-lebihkan. Ia suka bagaimana sifat Yifan yang terlalu protektif dan mengkhawatirkan ia dan anak-anaknya, itu selalu membuatnya merasa diperhatikan dan dilindungi. Ia suka kepolosan pria itu. Ia suka kenaifan pria itu.

Dengan Yifan yang mencintai dan melindunginya sebegitu besar, Joonmyeon sudah berjanji pada dirinya sendiri agar menjadi istri terbaik di dunia. Ia akan mencintai, merawat, menjaga kehormatannya, dan selalu menghormati pria itu. Setiap detik hidup mereka akan ia simpan baik-baik dalam memorinya, sehingga ketika salah satu harus kembali nanti ia akan bisa terus memutar kenangan akan pria itu.

"Joonmyeon?"

"Iya."

"Katanya, setiap pria yang hebat pasti akan ada wanita super hebat di belakangnya."

Joonmyeon tersenyum, mengeratkan pelukannya pada pria di sampingnya. "Terima kasih pujiannya."

"Sama-sama." Si pria mengecup kening istrinya sayang. "Aku mencintaimu."

"Haruskah kita melakukan ini? Kenapa kau jadi cheesy begini, sih? Aku merinding, tahu."

Si pria menatapnya sebal. "Kamu tidak romantis, ih, Joon."

-END-

Hai akhirnya end juga ._.

Terima kasih untuk yang sudah baca dan mereview dari chapter perrtama sampai sekarang masih setia. Terima kasih bagi yang sudah baca walaupun engga review wkwk.

terima kasih terima kasih banyak untuk peblish-ssi, babyjunma-ssi, nadira1203-ssi, whirlwind27-ssi, chenma-ssi, hamsterxiumin-ssi, emmasuho-ssi, assyifa-ssi, aniya98-ssi, ciandys-ssi, luckygirl91-ssi, daiichi-ssi, pikaa-chuu-ssi, kiutemi-ssi, arkan'sgirl-ssi, akiko ichie-ssi, ubannya sehun-ss, gigi onta-ssi, dhantieee-ssi, ruixi1-ssi, redrose9488-ssi, nunaabaozi-ssi, matamatakaihun-ssi, soororo-ssi, pchuu-ssi, fanneeeyyy-ssi, junmyunie-ssi, sukhyu-ssi, dan lain sebagainya yang belum tersebut. Maaf juga karena tidak sempat dibales satu-satu. Terima kasih banyaaaaak. *bowbowbow*

semoga bisa menciptakan krisho yang lainnya ya. Doakan saya juga karena sekarang saya kelas tiga uhuk UN Februari uhuk :3

sekali lagi terima kasih terima kasih banyaaak. ^^