Our Now
His First Word Spoken
Salah asuhan
Sesuai janjinya, Lawliet menghabiskan waktu berkualitas paling banyak dengan anak bungsunya. Di kala Mello di sekolah dan Raito di kantor, kemewahannya sendirian di rumah selain mengerjakan pekerjaannya dimanfaatkan untuk mendidik Near.
Berdasarkan pengalaman-pengalaman yang dirasakan para orang tua lainnya, mendengar kata pertama yang terungkap dari mulut yang biasanya hanya sesak dijejali tangis dan jeritan adalah anugerah termahal seperti nyanyian para malaikat dari Surga.
Lawliet tidak bisa menangkap rasio dari 'nyanyian para Malaikat dari Surga', tapi sampai saat ini keseluruhan perkembangan yang dialami Near selalu mengharu-birukan perasaan Lawliet, entah karena kemampuannya dalam mengurus anak bertambah baik atau karena ia selalu menemui misteri baru yang tak terjelaskan oleh otak briliannya. Yang manapun itu, Lawliet menantikan detik-detik misteri itu membalutnya dalam kuasa tak terbantahkan.
"Booo-…."
"Ayo, Near, sedikit lagi."
"Buu…Ruuu…."
"Ayo ucapkan, to-uuu-chan."
"Burrrru-booo…i."
Terbalut dalam kuasa tak terbantahkan? Ya.
Kalut lebih tepat.
Melongo, diminus mulut menganga-karena seterkesiap apapun seorang Lawliet, pantang baginya melebarkan mulut, kecuali untuk mengasupi dirinya kue, donat, dan lain pihak menghambat seluruh artikulasi dalam diri Lawliet lebih lama dari kapanpun yang pernah terjadi.
Siapa pula yang sering menyebut-nyebut kata yang mampu memicu perang antah-berantah paling ganas sekaligus brutal di rumah?
Lawliet menghela nafas, ia sangat yakin dengan hipotesanya.
Menghukum biang keladi adalah hal kedua, Ia harus mulai memikirkan metode terbaik untuk merombak kesalahan akut ini dalam prioritas 'gawat darurat' karena Raito jelas tidak akan senang mendengarnya.
---HF-Smile---
A little footnote :
Buru Boi : homosexsual on Japanese term.*tackle*
Kalian punya pikiran yang sama dengan L tentang kriminal yang sesungguhnya? Anggota keluarga Yagami cuma empat. Near yang menjadi korban sudah diluar hitungan. L jelas tidak akan menanamkan ajaran sedikit menyimpang, lebih-lebih Raito yang acuh pada kedua anaknya. Jadi pelakunya sudah pasti….*nunjuk Mello ala Conan Edogawa*
Mello: "Tapi itu kan benar!"
Mello, gara-gara kamu, Near sudah tercemar mulai dari kata pertama yang keluar dari mulutnya.
A little-crack-footnote:
Melongo, diminus mulut menganga-karena seterkesiap apapun seorang Lawliet, pantang baginya melebarkan mulut, kecuali untuk mengasupi dirinya kue, donat, dan gulali-.
Oh, there is something I almost forget to tell. Except cakes, donuts, sweets, there IS something that makes L open his mouth voluntarily…You ask what!? Leave it to your imagination, Ladies.
*diisolasi ke Gunung Kilimanjaro oleh ayahanda dan bunda.*
