Chapter 11

Author POV.

Kai duduk di ujung tebing yang menjorok ke laut. Ini adalah hari ke tujuh semenjak Sehun meninggalkannya. Sebagai seorang pria dewasa yang selalu meragukan keberadaan cinta, kini ia secara perlahan menarik kembali ucapannya. Ia percaya, karena sekarang ia sedang merasakannya. Hanya saja kali ini sedikit berbeda, ia baru sadar seberapa besar ia mencintai Sehun saat Sehun telah meninggalkannya. Kebodohannya membuat Sehun yang ingin mendalami dunia manusia menarik kembali tekadnya. Kai berpikir dan berpikir, apa yang harus ia lakukan agar Sehun kembali. menyesalpun tak ada gunanya karena semua telah terlambat.

"Haahh.." Kai menghelakan nafas beratnya, hatinya sakit karena menahan rindu. Ia memandang layar pinselnya yang menunjukkan fotonya dan Sehun. Senyuman kecil terukir di bibir Kai. "Aku merindukanmu Sehun. Dan aku tau kau juga merasakannya."

.

.

.

Kai melamun di ruang tamu, ia memandangi grand piano yang sering dimainkan Sehun. "Nona Sehun selalu memainkannya. Nona Sehun adalah wanita yang sangat cerdas. Ia bisa menguasai semua kunci piano dalam hitungan hari. Permainannya juga tak bisa dikatakan buruk sebagai pemula." Kai menoleh pada Brenda. Yang Brenda ketahui adalah Sehun meninggalkan Kai karena Kai membuat Sehun kecewa. Yang diketahui Brenda tidak sepenuhnya kebohongan, itu memang benar. "Ya, dia memang sangat cerdas." Jawab Kai. "Tuan, apa anda ingin saya buatkan kopi?" Brenda tersenyum kecil, ia tau Kai sedang patah hati. "Ya Brenda. Terima kasih." Brenda berjalan ke dapur dan membuat secangkir kopi. "Tuan, jika anda masih mencintai nona Sehun makan seharusnya anda berusaha untuk mendapatkannya kembali." Kata Brenda dengan secangkir kopi di tangannya. "Aku tak dapat melakukan apapun Bren, terima kasih kopi dan sarannya." Dan Kai mengambil cangkir itu lalu berjalan ke lantai dua.

Sebenarnya ia masih dalam periode liburannya. Karena rencana liburannya tak berjalan dengan baik, ia terpaksa kembali dan berakhir dengan tak melakukan apapun. salah siapa? Salahnya sendiri. Sungguh tak ada hal lain yang ia lakukan untuk meraih Sehun. Rasanya memikirkan semua kenangan mereka membuat rasa rindunya semakin besar. Kai berdiri di balkon kamarnya dengan secangkir kopi. "Haahhh.." Helaan nafas panjang keluar dari mulutnya. "Jika saja aku tidak teledor hari itu, kau mungkin akan sering mengunjungiku." Nada penyesalan kembali Kai lontarkan. Yang Kai ketahui hanya secuil dari yang semestinya. Yang Kai tau hanya bahwa Sehun memutuskan pergi karena tidak ingin terjerat kehidupan rumit manusia. Kai tak tau apa yang harus Sehun hadapi.

.

.

.

Hari ini Kai memutuskan untuk sedikit jalan-jalan. Ini memang terdengar sangat bukan Kai. terakir kali ia mengunjungi taman ini hampir sekitar satu bulan lalu saat Sehun memaksanya untuk menemaninya jalan-jalan. Kai duduk di sebuah bangku putih tepat dimana ia dan Sehun dulu sering duduk. Senyuman tipis terukir dibibirnya, "Kai!" seseorang memanggil namanya. Kai menoleh dan menemukan Krystal berjalan ke arahnya denga anjingnya. Kai memutar matanya, 'Mau apa lagi dia?' kata Kai dalam hati.

"Selamat sore tuan Kim. Kebetulan sekali kita bertemu. Apa kabar?" Kata Kai dengan lagu sopannya. "Sore nona Jung, baik denganku." Kai mengeluarkan seringaian tipisnya. "Benarkah? Lalu dimana kekasih anda?" Krystal bertanya dengan senyuman polosnya. 'Jelas sekali ia tau sesuatu.' Kata Kai dalam hati, ia tau Krystal adalah tipe wanita yang tak segan-segan melakukan hal gila demi sesuatu yang ia inginkan. Ditambah lagi fakta bahwa tidak ada yang tau tentang Sehun kecuali keluarganya dan Brenda. "Kekasihku? Ia harus kembali karena ada beberapa hal yang harus ia urus."

"Benarkah? Lalu apa kita bisa melakukannya? Mumpung kekasih anda sedang tidak ada." Krystal duduk di samping Kai tanpa seizinnya. "Apa kau masih tertarik denganku?" Kai merendahkan suaranya, dan jawaban dari pertanyaan Kai adalah anggukan kecil dari Krystal. Kai terkekeh rendah, "Kau tau Krys, kau sangat tidak pintar dalam berakting. Yang tau aku memiliki kekasih hanyalah keluarga dan pembantuku. Dan dari semua yang kau katakan, aku bisa menarik kesimpulan bahwa kau telah ikut campur dalam hal ini." Krystal terdiam, ia menyadari keodohannya. Kai berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menjauh. "Satu hal lagi, aku sama sekali tak tertarik dengan tubuhmu." Dan Kai kembali melanjutkan langkahnya.

Pertemuan tak terduganya membuat Kai bertanya-tanya apa yang sebenarnya telah Krystal lakukan. Ia memang mengalami hal aneh malam itu. Seperti saat ia tiba-tiba mabuk padahal ia memiliki ketahanan terhadap alkohol yang cukup tinggi dan berakhir dalam kamar hotel sendirian. Kai memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah. Ia tau ada yang salah, dan ia sangat antusias untuk segera mencari tau.

"Hei Brend, aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu. Apa Sehun pernah bercerita tentang orang lain selain aku kepadamu?" Kai langsung menuju Brenda yang sedang membersihkan dapur. "Tentang orang lain? nona Sehun selalu bercerita tentang anda tuan." Kai menelan ludahnya. "Brenda ini serius, apa kau yakin ia sama sekali tak pernah bercerita tentang orang-orang yang ia temui saat ia jalan-jalan tanpaku?" Brenda terlihat sedang berpikir, "Saya ingat dulu nona Sehun pernah mengatakan bahwa ia memiliki insting kuat, dan tiap kali ia keluar rumah, ia merasa seperti diawasi oleh seseorang. Saat itu nona Sehun berpikir mungkin itu orang-orang suruhan anda." Kai menahan nafasnya.

Jika Sehun sudah membawa-bawa insting, maka kemungkinan itu terjadi adalah 90%. Berhubung Sehun bukanlah manusia biasa. "Lalu apakah ada orang asing yang pernah menanyakan hubungan kami kepadamu?" Tanya Kai lagi. "Kalau itu ada tuan, sekitar dua minggu lalu saat tuan dan nona sedang berlibur, waktu itu saya sedang belanja. Dan tiba-tiba ada sepasang kekasih yang menyapa saya dan mengatakan bahwa mereka pernah berkunjung ke rumah lama anda dan mengenal saya karena saya adalah pembantu anda. Mereka bertanya apakah saya masih bekerja dengan anda, dan saya menjawabnya lalu mereka juga bertanya apakah anda sudah memiliki kekasih. Tentu saja saya antusias untuk menjawabnya berhubung nona Sehun adalah wanita satu-satunya yang pernah anda bawa ke rumah." Binggo, Kai menemukan petunjuk darimana Krystal mengetahui hubungan merekanya dengan Sehun.

"Memangnya ada apa tuan?" Brenda sebenarnya juga penasaran. "Terjadi kesalah pahaman antara aku dan Sehun. Aku hanya ingin mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. terima kasih infonya, sangat membantu." Kai berjalan lurus ke kamarnya. tujuannya kali ini adalah ponsel Sehun. Ia langsung membuka laci kerjanya dan mengeluarkan ponsel Sehun. Folder demi folder ia buka, ia tersenyum saat menemukan foto-foto selfi Sehun disana. Tapi ia kembali memfokuskan pikirannya untuk mencari sesuatu dari ponsel Sehun.

Hingga Kai menemukan folder bernama 'recently deleted', sebuah folder dimana hal-hal yang sudah dihapus berada. Ia membuka folder itu, awalnya Kai tak menemukan apapun selain foto-foto yang Sehun hapus hingga sebuah vidio secara tak sengaja tertangkap olehnya. Kai membuka vidio itu dan terkejut pada konten di dalamnya. Jantungnya berdebar saat ia mengenal betul postur tubuh pria dalam vidio itu. "Ya tuhan, Sehun melihat ini?!" Kai mengerutkan dahinya. Ini pasti sangat menyakitkan untuk Sehun.

"Aku benar-benar tak ingat, siapa wanita ini?" Kai melanjutkan monolognya. Ia yakin 1000% bahwa Krystal ada dibalik hal ini. Kai menggenggam tangannya erat, aura gelap mengepul dari tubuhnya. Siapapun yang melakukan ini kepadanya pantas mendapat sesuatu yang setimpal. Kai meraih ponselnya dan memencet sebuah nomor dari kontaknya, "Hai Dave, aku ingin kau mengecek CCTV dari hotel Lavista pada tanggal 18 Juli. Aku ingin tau siapa saja yang berusaha mendekatiku saat aku sedang mabuk. Aku akan mengirimi semua detail ceritanya melalui email." Kata Kai pada sekretaris kepercayaannya. Jika memang ia sdang dipermainkan oleh seseorang, maka ia akan membuat orang itu menyesal telah bermain dengannya.

.

.

.

.

.

.

Di sisi lain dari dunia manusia, seorang mermaid sedang berenang dengan cepat. Rasanya sudah berhari-hari ia berenang untuk menuju suatu tempat. Suatu tempat yang dikatakan sebagai jantung lautan, jantung dimana alat buatan manusia tak dapat mendeteksi keberadaannya. Sehun menajamkan instingnya menuju tempat itu, tujuannya hanya satu, menebus dosa. Sehun berenang mengarungi samudra luas, roh-roh penghuni laut dalam mengamati Sehun saat ia berenang melewati mereka karena bau Sehun yang bercampur dengan bau manusia. Namun mereka tak mengatakan apapun, sebenranya Sehun risih karena pandangan mereka yang seolah mencemoohnya. Ia tak ambil pusing, ia sangat siap menerima hukuman apapun dari sang penguasa laut.

Sehun berenang menyusuri dasar laut. Gelap, dingin, dan sunyi adalah gambaran yang cocok untuk menggambarkan keadaan didalam sini. Ia menurunkan kecepatan berenangnya saat ia mencapai sebuah tempat yang dianggap suci oleh para penghuni laut dalam. 'Lingkar impian.' Kata Sehun dalam hati. Sehun menghampiri pusat lingkaran itu dan duduk di atas batu ditengahnya. Sehun memeluk gelang ditangannya erat seolah itu adalah pusat kekuatannya. 'Kumohon tolong aku.' Kata Sehun entah pada siapa.

Lingkaran impian adalah salah satu tempat suci dimana mahluk-mahluk yang merasa diri mereka terombang-ambing akan merenung dan meminta bantuan pada semesta. Lingkaran impian juga disebut sebagai gerbang tuhan, karena letaknya yang berada di tengah segitiga pusat bumi dan diyakini sebagai tempat tersakral bagi mahluk-mahluk penghuni dunia lain.

.

.

.

Kai memfokuskan pikirannya pada kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Emosinya masih meletup-letup hingga rasanya kepalanya ikut memanas. "Sialan! Mengapa aku teledor sekali!" Kai menggebrak meja kerjanya. Beberapa detik kemudian kepalanya terasa berkunang-kunang, dan ia merasa ia berada di suatu tempat yang penuh dengan cahaya hingga ia tak bisa membuka matanya. "Aku baik-baik saja. Jangan khawatir. Kembalilah pada kehidupan saat dimana kita tak saling mengenal. Nikmati hidupmu Kai." begitu suara itu menghilang, Kai mulai bisa menguasai tubuhnya kembali. Ia bingung, apa yang barusan terjadi. Ia ingat sekali saat beberapa detik yang lalu ia berada diposisi duduk menyandar di kursi kerjanya, namun sekarang posisinya berubah menjadi tertelungkup di atas meja. "Apa itu kau Sehun?" tanya Kai sambil menyentuh gelangnya. "Itu suaramu sayang, aku sungguh merindukanmu." Dan setetes air mata jatuh membasahi pipinya. "Aku tak tau yang barusan mimpi atau memang nyata, tapi yang jelas Sehun, jangan pernah menyuruhku untuk melupakanmu. Karna aku tak akan pernah bisa."

.

.

.

Sehun mendengar suara Kai yang penuh dengan penekanan. Kai tak mengerti, ini tak semudah yang ia bayangkan. Sehun tak tau kemungkinan apa yang akan terjadi di masa depan. Ditambah lagi bagi Sehun, Kai masih berpura-pura mencintainya. Dalam artian lain, Kai hanya mencintai tubuhnya. Memang Sehun adalah mahluk spesial yang memiliki feeling kuat, tetapi masalah cinta? Ia tak bisa membacanya berhubung ini adalah kisah cinta pertama Sehun. Sehun telah menyiapkan mental untuk kemungkinan terburuk. Jika memang harus mati, maka ia akan menerimanya. Hidup dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan sangat menyiksa, dan Sehun tak yakin ia bisa hidup seperti dulu dengan cinta yang ia miliki.

Air mata Sehun mengumpul di pelupuk mata dan bersentuhan langsung dengan air suci dalam lingkaran impian. Air mata itu berubah mengeras dan membentuk sebuah batu permata bening yang jatuh membaur dengan pasir laut. 'Sehun, kami telah menunggumu.'

Sehun membuka matanya, ia melihat secercah cahaya yang muncul di atas lingkaran impian. Entah mendapat bisikan dari mana, Sehun berenang ke atas menembus cahaya itu hingga ia sampai pada suatu tempat dengan daratan berbatu. Sehun mengedarkan pandangannya, ia melihat bebatuan yang tersusun tumpang tindih menyebar di bibir sungai. Memang tak masuk akal, Sehun baru saja berada dalam laut yang gelap dan dingin, namun sekarang ia berada di tengah-tengah sungai dengan air hangat. "Sehun, katakan apa tujuanmu kemari." Suara yang tak bersumber itu kembali muncul.

Sehun berenang ketepian dan duduk di atas batu besar. Jantungnya berdebar dan pikirannya tak fokus. Ia menarik nafas dalam dan mengeluarkannya pelan. "Hamba ingin menebus dosa." Jawab Sehun dengan suara bergetar. "Apa kau tau dosa apa yang telah kau perbuat Sehun?" Suara itu kembali muncul. Sehun menelan ludahnya kasar, "Hamba telah melanggar aturan. Cinta membutakan hamba, dan hamba siap menerima hukuman." Sehun memejamkan matanya erat. "Tidak ada yang salah dengan cinta Sehun. hanya saja banyak mahluk yang salah mengartikannya. Nafsu berbeda dengan cinta." Dan jawaban dari sang semesta membuat Sehun seperti ditampar oleh kenyataan.

'Bahkan semesta tau itu hanya nafsu.' Kata Sehun dalam hati ia tersenyum kecut karena tamparan ini. Sehun merasa bodoh, ia malu pada apa yang telah diasumsikannya sebagai cinta. "Tidak Sehun, tak ada yang mengetahui apakah perasaan yang kau miliki adalah cinta ataukah nafsu. Hanya kau sendiri yang mengetahuinya." Sehun menggelengkan kepalanya. "Jika memang ini adalah cinta, lalu mengapa hanya aku yang memiliki? Mengapa orang yang kucintai tak memilikinya?" Air mata yang Sehun bendung sedari tadi kembali tumpah.

"Semua mahluk hidup yang memiliki perasaan pasti memiliki cinta juga, hanya saja terkadang mereka mencintai mahluk yang salah. Kau memiliki perasaan, dan tentu saja memiliki cinta sejati. Tapi jalan setiap mahluk untuk menemukan cinta sejati mereka selalu tidak mudah." Sehun meresapi kata demi kata sang semesta. "Hamba mengerti. Sekarang hamba siap menerima apapun yang menjadi harga yang harus hamba bayar." Sehun menundukkan kepalanya. "Sehun bisa kau jelaskan mahluk seperti apa manusia itu?" tanya sang semesta. Sehun berhenti sejenak sebelum menjawab pertanyaan ini.

"Dulu hamba sering mendengar cerita-cerita tentang manusia dari mahluk lain. mereka mengatakan bahwa manusia adalah mahluk bodoh, tak berperasaan, egois, tamak dan sifat-sifat buruk lainnya. Tapi saat bertemu dengan salah satu manusia itu, presepsi hamba berubah. Mereka tak memiliki kemampuan alami seperti membaca masa depan atau menghentikan waktu tetapi mereka adalah mahluk cerdas yang memiliki rasa penasaran yang tinggi, terbukti dari penemuan-penemuan mereka. Dan satu hal lagi yang harus hamba ingat seumur hidup hamba adalah, tak semua manusia dapat dipercaya."

"Kini kau mengerti banyak tentang manusia. Jika memang begitu apakah kau siap untuk menjadi salah satu dari mereka?" Sehun terbelalak, ia tak yakin ia salah dengar. "Hamba tak mengerti." Sehun memang tak mengerti, ia pikir ia akan menerima hukuman seperti disiksa atau bahkan dibunuh, menjadi manusia bukanlah seperti yang ia bayangkan. "Kau telah memberikan kesucianmu pada salah satu dari mereka, pada mahluk yang tak memiliki hubungan apapun dengan alammu. Dan seperti hukum alam yang kita semua ketahui, dengan melakukan penyatuan tubuh dengan mahluk lain itu diartikan bahwa kau telah mengorbankan kedudukanmu sebagai dewi laut untuk menjadi mahluk lain." Sehun tak memiliki kekuatan untuk bereaksi. Tubuhnya tegang mendengar penjelasan tuhannya.

"Tetapi itu bukan hukumanmu yang sebenarnya Sehun. hukumanmu yang sebenarnya adalah, setelah kau mencapai daratan dan setelah kau berubah menjadi manusia yang sebenarnya, kau akan kehilangan rasa cintamu." Sehun tak sepenuhnya mengerti, cerita versi lain yang ia ketahui tentang mermaid yang jatuh cinta pada mahluk yang tidak sedunia dengannya selalu berakhir tragis. Salah satu dari mereka pasti akan mati. "Aku sungguh tak mengerti." Sehun menggelengkan kepalanya. "Kau akan mengerti saat kau mencapai daratan. Dan kau akan menghadapi kejamnya kenyataan yang telah menunggumu."

"Aku tak memiliki pilihan lain bukan? Jika memang ini adalah hukuman yang pantas untukku, maka aku akan menerimanya." Tepat setelah Sehun selesai dengan kalimatnya, Sehun merasa ditarik kebelakang dan jatuh kedalam pusaran air. tubuhnya hanyut terseret arus, untuk beberapa saat Sehun merasa tubuhnya berputar-putar mengikuti gelombang air tetapi secara berangsur-angsur ia merasa pusaran itu mulai menenang hingga tubuhnya terpental menabrak lantai laut.

"Apa ini artinya aku akan berubah menjadi manusia jika aku mencapai daratan?" Sehun merasa dipermainkan takdir, ia bahkan sudah siap mati beberapa waktu yang lalu. "Pergilah kedaratan Sehun, takdirmu menunggu." Suara itu muncul dalam kepala Sehun. Sehun membulatkan tekadnya, ini adalah harga yang harus ia bayar karena telah bermain dengan takdir. Ia tau ia pantas mendapatkannya.

Sehun kembali berenang menyusuri lautan. Perasaannya kembali kacau, bukan karena memikirkan Kai yang ia cintai, tetapi karena takut akan sesuatu yang sedang menunggunya saat ia mencapai daratan. "Sehun, kau harus melakukan ini!" Kata Sehun sambil berenang menjauhi titik pusat bumi.

.

.

.

.

.

.

Kai duduk menyandar kepala ranjangnya. Semenjak Sehun pergi, ia tak pernah sekalipun tidur nyenyak. Mimpi-mimpi tentang Sehun selalu datang bergantian. Terkadang mimpi indah dan terkadang mimpi buruk. Sepertihalnya malam ini, ia kembali terbangun karena mimpi buruknya. Dalam mimpinya ia dan Sehun sedang berada dalam mobil, mereka terlihat tidak dalam keadaan yang baik. Suara petir bersahut-sahutan, dan entah mengapa di cuaca yang sangat tak bersahabat seperti ini mereka memutuskan untuk bepergian.

Bukan mimpi namanya jika tak terdapat unsur tak masuk akal lainnya, saat Kai menginjak pedal gas mobil yang mereka tumpangi tak berjalan maju, melainkan mundur. Kai berkali-kali mengubah persneleng mobilnya agar berjalan maju, tetapi tak berhasil.

Dari ujung jalan, terlihat sebuah truk cargo yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Aneh memang jika ada truk cargo besar yang melintas, biasanya truk-truk seperti ini akan memilih jalan tol ketimbang jalan raya kecil seperti ini. Kai memencet klaksonnya berkali-kali dan menyalakan lampu reting serta lampi dimnya bergantian untuk memberi tanda agar truk besar itu berhenti. Namun trk itu melaju tanpa menurunkan kecepatannya hingga tabrakanpun tak terelakkan. Mimpi buruk itu berhenti disana, Kai terbangun dengan nafas tersenggal dan butiran keringat yang meluncur dari pori-pori kulitnya.

Kai menoleh ke arah jam digital di meja sampingnya, pukul 2.45 am. 'Masih terlalu larut untuk olah raga pagi' pikirnya. Kai berjalan menuju jendelanya dan melamun menghadap hamparan ombak tenang dibawah sana. "Apa yang sedang kau lakukan Sehun?" tanya Kai sambil meraba gelang hitamnya. "Kuharap kau baik-naik saja."

Cuaca malam ini tak seindah hari-hari sebelumnya, petir dan kilat menyambar bersahut-sahutan. "Sehun, akan ada badai malam ini. kuharap kau berada di tempat yang aman. Aku mencintaimu sayang." Berada di tempat dimana ia biasa melihat Sehun sangat menyiksanya. Berkali-kali ia membayangkan bahwa Sehun masih disini bersamanya. Tiap kali ia sendiri, maka ia akan berakhir membayangkan Sehun lagi. "Aww..!" Kai tersentak kaget karena batu digelangnya tiba-tiba mengeluarkan sengatan listrik untuk sepersekian detik.

"Ya tuhan Sehun, apa yang terjadi sebenarnya?" Kai mengamati batu di gelangnya yang tiba-tiba mengeluarkan cahaya putih redup. "Berapa kali aku harus mengatakan kau harus jadi gadis baik. jangan membuatku khawatir seperti ini." Kai mengusap batu itu berkali-kali berusaha berbagi kehangatan.

.

.

.

Brenda duduk di ruang tamu, ia merasa ada yang aneh semenjak Sehun pergi. Saat Brenda kembali dari cuti musim panasnya Kai menjelaskan secara singkat bahwa ia dan Sehun sudah tak bersama lagi. Saat itu Brenda sangat kaget, ia bahkan menitihkan air mata karena tak percaya. Sejauh yang Brenda tau Kai dan Sehun saling mencintai, meskipun mereka sering bertengkar tapi Brenda dapat melihat bahwa keduanya saling menempatkan nama satu sama lain di prioritas pertama mereka.

Terutama Kai, Brenda selalu menangkap basah Kai sedang diam-diam memperhatikan Sehun. Semenjak Sehun tinggal bersama Kai, Kai juga sering tersenyum. Sangat berbeda dengan dua minggu terakhir ini. Menurut Brenda Kai selalu menunjukkan wajah serius dan tak bersahabatnya. Entah karena masalah pekerjaan atau masalah pribadinya.

"Brenda aku pergi cari udara segar, dan aku tak yakin akan pulang malam ini jadi kau bisa mengunci pintu utama dari dalam setelah aku pergi." Kata Kai sambil berjalan menuruni tangga dengan pakaian casual.

"Apa tuan akan pergi menemui nona Sehun? Tolong sampaikan bahwa saya sangat merindukannya." Entah apa yang membuat Brenda menebak-nebak tak jelas seperti ini. Terlihat jelas bahwa ia juga merindukan wanita cantik itu.

"Sehun tak akan kembali Brend. Aku pikir aku perlu bersenang-senang sedikit. Hampir dua minggu ini aku menenggelamkan diriku dalam kubangan penyesalan." Kai tersenyum miring. "Jika memang tuan masih mencintai nona Sehun, mengapa tuan masih diam saja? tuan harus berusaha memenangkan hati nona Sehun lagi." Kai duduk di depan counter dapur. "Masalahanya adalah Sehun menghilang Brend, aku tak tau dimana dia. Aku berusaha sejauh yang aku bisa untuk mencarinya." Kai sedikit mengarang ceritanya agar terdengar lebih logis.

"Nona Sehun menghilang? Kita harus menghubungi polisi kalau begitu." Brenda terlihat semakin kaget, Kai dapat melihat ekspresi paniknya. "Kita tak bisa melakukannya Brend, Sehun pergi karena keinginannya sendiri. Ia juga memintaku untuk tak mencarinya." Kai mengeluarkan helaan nafas panjangnya.

"Tuan maaf karena saya sedikit lancang. Saya hanya sangat menyayangkan karena yang saya lihat, nona Sehun dan tuan saling mencintai. Saya bahkan tak pernah melihat tuan yang seceria saat tuan bersama nona Sehun." Brenda mengetakannya dengan nada rendah, ia sungguh menyayangkan apa yang terjadi pada hubungan Kai dan Sehun. "Aku memang sangat mencintainya. Tapi jika ia memutuskan hal seperti ini, aku tak bisa melakukan apapun. baiklah Brend aku akan pergi sekarang." Kai berdiri mengenakan jaketnya. "Baiklah, hati-hati di jalan tuan dan selamat bersenang-senang." Brenda membungkuk dan Kai hanya menanggapinya dengan anggukan kecil.

Kai berjalan menuju garasi mobilnya, dari 6 mobil mewah yang dimilikinya ia memutuskan untuk membawa maserati putihnya. Tujuan Kai kali ini adalah club malam langganannya. Kai memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Ingatannya kembali pada saat ia sering jalan-jalan dengan Sehun. sehun yang polos akan bertanya banyak tentang segala sesuatu yang ia lihat, mulai dari lampu lalu lintas, tiang listrik, sampai gedung bertingkat.

"Aku memikirkanmu lagi sayang. Apa kau juga sering memikirkanku?" Kai mengusap gelangnya. Beberapa menit kemudian Kai sampai ke club yang ia tuju. Terakhir kali ia mengunjungi club ini sekitar setengah tahun yang lalu, satu hari sebelum Sehun memasuki kehidupannya. Kai memarkirkan mobilnya ditempat biasa lalu memasuki club ini tanpa ditanyai identitas oleh dua penjaga dipimtu depan.

Tak jauh berbeda dari club-club biasannya, club ini memiliki dua lantai. Lantai dasar untuk berdansa yang disertai bar –bar dan sofa panjang, dan lantai dua adalah lantai privasi dimana terdapat bilik-bilik kecil bersekat untuk orang-orang yang ingin memiliki suasana sendiri. Kai memasuki lantai dasar yang penuh dengan orang-orang yang sedang berdansa. Wanita-wanita berpakaian seksi itu seolah tertarik oleh aroma dominan kuat Kai, mereka langsung mendekatinya dan menggelendot di lengan berotonya. "Aku sedang ingin bermain dengan kalian. pergilah selagi aku masih mengatakannya dengan baik." Kai menarik tangannya dan berjalan lebih cepat ke arah bar. "satu tequilla" kata Kai pada si bartender. "Lama tak berkunjung tuan Kim, saya pikir anda sudah tak tertarik dengan hal-hal seperti ini." Kata si bartender yang sedang meracik minuman Kai. "Ya, aku pikir juga begitu. Tapi sepertinya aku salah, tempat ini tetap jadi pelarianku saat ada masalah." Kai mengeluarkan senyuman basa-basinya.

"Manusia memang tak luput dari masalah tuan, masalah yang satu selesai muncul masalah lain. tak akan ada habisnya. Kadang saya juga berpikir, apakah tuhan memiliki stok masalah yang banyak sekali? Atau apakah saya adalah orang jahat di kehidupan saya yang sebelumnya? Berhubung masalah yang saya hadapi tak pernah habis." Kata si bartender dengan menyengir sambil menyodorkan minuman pesanan Kai. "Kau benar, kadang aku juga merasa begitu." Kai meneguk minumannya.

"Wahh wahh kita bertemu lagi." Kata seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelahnya. "Jangan-jangan kau mengikutiku?" tanya Kai dengan nada sarkastiknya. "Aku hanya kebetulan mampir, kau tau hidup harus diwarnai sedikit, bukan hanya sekedar rumah dan kantor. Aku pesan segelas brendi." Pria tinggi itu menjawab Kai sambil memesan. Kai tersenyum tipis, entah apa yang sedang ia pikirkan. "Aku dengar bisnismu berkembang dengan baik beberapa bulan terakhir ini." tanya si pria tinggi. "Ya, aku sedang berusaha melebarkan sayap ke bidang lain. seperti yang orang-orang katakan, manusia adalah mahluk yang tamak, mereka tak akan puas hanya dengan secuil keberhasilan." Jawaban Kai membuat si pria tinggi tertawa rendah.

"Anda benar sekali tuan Kim." Jawabnya dengan tangan mengepal. "bagaimana dengan bisnismu Wu?" Kai kembali meneguk minumannya. "Berjalan dengan baik, aku sedang berusaha membuka cabang di beberapa wilayah. Jangan membandingkanku dengan apa yang telah kau capai, aku jauh dibawahmu." Jawabnya, ia menerima minumannya dari si bartender. "Kau ini bisa saja."

"Ngomong-ngomong, apa kau tak mengambil cuti libur?" Kai kembali meneguk minumannya sebelum menjawabnya, "Aku sedang dalam cuti liburanku saat ini, tapi aku pikir aku akan kembali bekerja di minggu ini. bagaimana denganmu Kris?" Kris meneguk minumannya dengan gaya yang elegan. "Aku sedang merencanakan sesuatu, dan untuk mencapai keberhasilan rencanaku aku harus giat bekerja bukan?" Kai tertawa rendah, "Kau mengingatkanku pada diriku dulu. dulu aku juga sangat ambisius jika ingin mencapai sesuatu. Saranku untumu, nikmati hidup. Jangan terlalu memaksakan diri bekerja, kau juga harus bersenang-senang."

"Aku setuju dengan saranmu. Terkadang aku juga mlelakukan hal-hal menyenangkan. Tak hanya bekerja, bowling atau golf salah satu hal yang menurutku menyenangkan. Hal-hal seperti itu tak memakan waktu yang lama, dan juga mudah untuk dilakukan."

"Ngomong-ngomong apa kau sudah tertarik dengan hubungan serius?" tanya Kris. "Waw kau ini sangat tak terduga. Barusan juga kita membicarakan masalah bisnis, sekarang kau loncat ke hal menarik lainnya." Kai terkekeh rendah. "Tak ada salahnya bukan? Tak masalah jika kau tak ingin berbagi. Aku hanya penasaran, berhubung kita berada di fase dimana seharusnya kita telah memiliki calon pendamping." Kris berusaha membela dirinya.

"Bagaimana dengan dirimu? Kau sudah memiliki kekasih?" tanya Kai balik, ia sangat tidak ingin membagikan ceritanya dengan orang lain. "Yaahh.. kau tau bagaimana aku. aku selalu tertarik pada wanita yang salah." Kai tertawa mendengar nada kalimat Kris yang menyiratkan nada tak bersemangat.

"Entahlah, sebenarnya jika aku mau aku bisa mencari wanita yang cantik, lugu dan manis. Tapi aku selalu berpendapat mereka terlalu membosankan untuk pria sepertiku." Kris tertawa kecil disela-selamkalimatnya, "Dan kau lebih menyukai jalang agresif yang hanya memburu uang?" Kai menyeringat karena tau jawabannya pasti benar. "Kau tau mereka sangat hebat di ranjang. apa lagi setelah diiming-imingi uang, mereka akan melakukan hal-hal tak terduga yang anehnya itu membuatku sangat puas." Kalimat Kris secara tak langsung membenarkan tebakan Kai, dan mereka berdua kembali tertawa karena jawaban jujur Kris.

"Kau tau sendirikan jalang tak akan bisa dipelihara." Tanggap Kai, "Aku tau, karena itulah aku sedang berusaha menjinakkan satu jalang yang menurutku sangat berbakat. Tapi untuk menjinakkannya aku harus melenyapkan apa yang ia prioritaskan agar ia tak memiliki pilihan lain selain kembali kepadaku." Kris tersenyum miring. "Kau benar-benar pria yang menyeramkan Kris wu." Sarkastik Kai. kris hanya mengangguk pelan dengan seringaian tipis.

.

.

.

Kai duduk di belakang meja kerjanya dengan rahang yang gemeratuk. Dahinya berkerut dan pandangan matanya menajam. Kumpulan dokumen penting tertumpuk menyebar di atas mejanya. "Sehun kumohon bantu aku." Kai mengusap gelangnya. Semenjak Sehun memutuskan untuk pergi, Kai memiliki kebiasaan baru yaitu meraba gelangnya. Gelang itu satu-satunya hal yang membuat Kai merasa dekat dengan Sehun.

Ponselnya berdering beberapa kali tapi ia tak menghiraukannya. Kepalanya sedikit pusing karena terlalu sering minum kopi dan kurang istirahat. Bagi Kai, cara satu-satunya melupakan Sehun sejenank adalah dengan bekerja. Itulah alasan mengapa ia kembali memutuskan bekerja sebelum cuti musim panasnya berakhir.

Sejak beberapa hari yang lalu ia kembali pada kesibukannya. Bisnisnya memang berjalan dengan lancar, semua kerja sama mencapai kesepakatan yang memuaskan, ia juga berencana melebarkan sayap bisnisnya pada bidang properti dan penyewaan gedung. Tanggung jawab yang besar ia pikul di punggungnya.

Tetapi sepintar-pintanya Kai berusaha menjauhkan Sehun dari pikirannya, secara tak sadar ia akan tetap berakhir membayangkan wanita itu lagi. Memang sulit jika harus menghilangkan sesuatu atau seseorang yang sangat berarti untuk seseorang. "Sayang aku baik-baik saja. Kuharap kau juga begitu. Aku mencintaimu." Kai mencium batu gelangnya.

.

.

.

Jam digital di kamar Kai menunjukkan hampir pukul 9 pagi. Ini adalah hari Sabtu, hari dimana para pekerja kantoran mendapt libur mereka. Seperti rutinitasnya setiap hari, Kai akan memulai harinya dengan olah raga pagi. Seperti saat ini, ia sedang sibuk melakukan push up. Sudah sekitar satu jam ia berada di ruang olah raganya, dan itu berarti ia harus segera mandi dan sarapan.

Pipp..pip..pip..

Alarm Kai berbunyi, artinya ia harus menyudahi olah raganya dan segera mandi. Dengan tubuh yang berkeringat Kai berjalan lurus ke kamar mandi. Tak butuh waktu lama bagi Kai untuk membersihkan diri, ia bukan wanita yang akan menggosok seluruh bagian tubuhnya dengan krim penghalus kulit. Kai keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju walk in closetnya. Pandangannya berhenti di sebuah etalase yang penuh dengan pakaian wanita.

"Aku berharap kau bisa mengenakan pakaian-pakaian ini lagi Sehun." Kai mulai bisa menerima kepergian Sehun, meskipun sebenarnya itu sangat sulit baginya. Ia mengambil pakaiannya secara acak, kaos putih dan celana kain hitam. Kai berjalan menuruni tangga, sarapannya telah siap di atas meja. Hanya saja biasanya sejak Sehun pergi, Kai akan sarapan berdua dengan Brenda, tapi kali ini ia hanya mendapati saraapan untuk satu orang dan sebuah catatan kecil di samping piringnya.

Selamat pagi tuan,

Saya hanya mengingatkan kalau hari ini saya akan pulang. Saya akan kembali lagi hari Senin. See you on Monday.

Brenda.

Kai ingat beberapa hari yang lalu Brenda meminta ijin kepadanya untuk pulang, dan tentu saja Kai, mengijinkannya. Kai makan dengan pelan. "Selamat makan Sehun, kau pasti merindukan pancake dengan sirup mapple." Kai tersenyum kecil. Ia memakan sarapannya sambil memperhatikan helang hitamnya. Beberapa kali ia bermimpi gelangnya hilang, dan karena itulah ia selalu mengecek atau meraba gelangnya untuk memastikan bahwa gelang itu masih melingkar di tangannya.

"Turunlah." Kai mendengar suara Sehun dalam kepalanya. Ia membelalakkan matanya karena kaget. Ia benar-benar tak mengerti, ini seperti deja vu. Ini adalah kali kedua Kai mendengar suara Sehun dalam kepalanya. "Sehun itu kau?" tanya Kai entah pada siapa. Selera makannya hilang, dan jantungnya berdegup kencang.

"Apa maksudmu dengan turun Sehun?" kai sangat yakin barusan ia mendengar Sehun mengatakan 'turunlah'. "Aku harus turun kemana?" Kai berpikir keras. ia tak yakin yang barusan adalah imajinasinya. Kai memang sering membayangkan Sehun, tapi yang barusan terdengar sangat nyata. Dengan langkah cepat Kai berjalan ke keluar rumah, tujuannya kali ini adalah ujung tebing. Cuaca hari ini masih tak begitu bersahabat, langit biru tertutup mendung tebal, dan angin berhembus dengan kencang.

Harapan Kai mengumpul di kepala, jantungnya berdegup kencang dan nafasnya bersahutan. Ia tau kemungkinan harapannya terkabul sangatlah kecil, tetapi ia tak ingin membiarkan rasa penasarannya menguap begitu saja. begitu ia sampai di ujung tebing, ia memandang ke bawah mengamati tiap celah bebatuan. Dan harapannya lenyap begitu saja. Ia tak menemukan apapun atau siapapun di bawah sana. tetapi saat ia hendak melangkah mundur "Aku dibawah sini bodoh!" suara seorang wanita yang sangat ia kenali terdengar. Kai kembali memfokuskan pandangannya pada bebatuan dibawah sana. Dan di sana, sekitar 50 meter dari batu dimana dulu ia menemukan Sehun, ia melihat seorang wanita yang sedang duduk di balik batu, ia menunjukkan bagian depan tubuhnya. Senyuman Kai terangkat. "Sehun tunggu di sana! aku akan turun!" Kai berteriak dan berlari menuruni tebing.

.

.

.

"Aku tak percaya kembali ke tempat ini dengan perasaan yang berbeda."

TBC

Halo readers...

Pendek ya? Author jg ngrasa ini pendek bgt. Mana nggak dibaca ulang lagi X_X Seperti alasan author yang sebelum-sebelumnya, author lg sibuk bgt. Banyak tugas sama banyak kerjaan. Agak susah mbagi waktu jg sih. Sebenernya author pngen update minggu depan sambil nungguin review, tapi kalo dipending2 ini nggk selese-selese.

Author mutusin Sehun jadi manusia dengan satu pengorbanan. Dan disini Kai yang akan ngrasain sakitnya. Anyway, kalo ada yang nggak jelas kalian bisa tanya ke author ntar author jawab di chapter selanjutnya.

Makasih buat para readers yang udah ninggalin review, Baik yang nulis panjang-panjang, yang ngasih saran, atau yang sekedar ngasih semangat. author sangat menghargai kalian. untuk karakter baru keluarnya di chapter-chapter depan, chapter ini author masih pengen nunjukin kalo Kai itu mikirin Sehun banget. Chapter depan bakal Kai yang dinistain.

Author kadangtuh mikirnya nih ff sebenernya banyak yang baca sampek ke chaper 10 tapi jarang ada yang ngerivew. Apa ff ini patut untuk dihiatuskan? Pertanyaan ini muncul nggak Cuma sekali. author pengennya sih nyelesein, tapi kadang nggak ada semangat sama sekali. jadi untuk para readers yang selalu aktif atau yang masih jadi silent readers, mohon reviewnya buat chapter ini. Author usahain chapter depan bakal lebih panjang dan lebih banyak momen kaihunnya(tp nggk janji bakal lovey dovey).

See you in the next chapter ;)

Third story of redaddict.