"Aaaahhh.. Sedikitthh lagihh Baekk.. Akuuuhh.. Arrrghhh.. "

CROTT

Malam ini Chanyeol kembali menyemburkan lahar panas miliknya kedalam tubuh Baekhyun. Setelah selesai makan malam, Chanyeol meminta Baekhyun untuk bersetubuh kembali. Baekhyun sebenarnya sedang tidak mood untuk melakukan itu, tapi ia juga tidak berani menolak permintaan suaminya. Ia tahu seorang istri tidak boleh menolak jika suaminya sedang ingin melakukannya.

Chanyeol menatap wajah Baekhyun yang terbaring lemah dibawah kungkungannya. Sedari tadi Baekhyun hanya diam dan tidak memberikan respon apapun. Ia bahkan dengan sengaja menolehkan kepalanya kesamping seolah enggan menatap langsung mata suaminya.

Chanyeol menyentuh lembut dagu istrinya agar pria cantik itu menoleh dan langsung menatap dirinya.

"Terjadi sesuatu? Apa kau merasa keberatan kita melakukannya lagi malam ini?"

Baekhyun menggeleng lemah. "Aniyo, hanya saja suasana hatiku sedang tidak bagus."

"Kenapa?"

Baekhyun terdiam sejenak. "Maafkan aku Chanyeol, tadi aku tidak sengaja membaca sms untukmu. Kau mendapat sms dari seorang wanita berambut pendek."

Chanyeol mengernyit. Wanita berambut pendek siapa?

Ia lantas langsung melepaskan penyatuan tubuh mereka dan mengambil ponsel miliknya di atas laci di samping tempat tidur.

'Oppa, jika kau ada waktu luang aku ingin bertemu denganmu. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Salam hangat dari wanita berambut pendek yang kau selamatkan kemarin. ❤❤❤'

Chanyeol lantas melirik istrinya itu yang sudah mengubah posisi tidurnya menjadi terbaring membelakangi dirinya. "Kau cemburu?"

Baekhyun menggeleng pelan. "Tidak, aku tidak cemburu."

Chanyeol menghela nafasnya pelan. "Kemarin aku sempat menolong seorang wanita yang hampir dirampok di jalanan. Namanya Jung Soojung kalo tidak salah."

Baekhyun sontak menoleh, ia menatap suaminya dengan pandangan terkejut. "Jung siapa? "

"Jung Soojung."

Baekhyun refleks langsung terduduk. "Jangan bilang yang kau maksud itu Jung Soojung putri dari perdana menteri Korea?"

"Aku tidak tau, aku tidak bertanya soal pekerjaan ayahnya."

"Dia tinggi, bertubuh ramping, berwajah dingin dan berambut pendek kan?"

Chanyeol mengangguk. Baekhyun pun lantas menghela nafasnya kasar. Tidak salah lagi, ini pasti Soojung yang itu.

"Kenapa ia bisa sampai punya nomor teleponmu?"

"Ia memintanya jika sewaktu-waktu keluarganya membutuhkan seseorang untuk memasang baliho. Rejeki kan tidak boleh ditolak Baek."

Baekhyun mendengus kesal karenanya.

"Kau terlihat kesal sekali, apa kau mengenalnya?"

"Aku satu kampus dengannya. Dia adalah musuh bebuyutan ku. Di kampus kami sering sekali bertengkar setiap kali kami bertemu. Kami bersaing dalam segala hal. Popularitas, kecantikan, akademik, fashion dan soal bakat."

"Kenapa harus begitu Baek?"

"Dalam dunia perkuliahan kan memang sudah menjadi hal yang wajar jika kita bersaing satu sama lain. Kita melakukan itu untuk menunjukan status dan pengaruh kita di kampus."

Chanyeol menggeleng sambil tersenyum kecil. "Apapun alasannya kau tidak perlu cemburu pada wanita itu. Aku pikir dia hanya butuh orang jika sewaktu-waktu keluarganya ingin memasang baliho untuk keperluan bisnis. Tidak ada maksud lain, lagipula aku juga tidak akan melirik pria atau wanita manapun karena aku sudah punya istri."

Baekhyun menggeleng dengan cepat. "Jangan bertemu dengannya Chanyeol, aku mohon. Aku tidak mau dan tidak akan pernah rela. Jika kau butuh uang, aku akan meminta banyak uang pada aboeji."

Chanyeol menghela nafas. "Yasudah, jika kau tidak suka, aku janji tidak akan bertemu dengan wanita itu."

"Benarkah?"

Chanyeol mengangguk. Dan Baekhyun pun tersenyum girang, ia langsung memeluk tubuh telanjang sang suami dengan erat.

.

.

.

"Ahhh pelan-pelan Chanyeol periihh.. "

"Ini sudah pelan Baek."

Keesokan harinya, Baekhyun meringis menahan sakit di area lubang analnya akibat perbuatan Chanyeol kemarin. Alhasil, Chanyeol meminta Baekhyun untuk berbaring terlentang sambil mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar sedangkan ia mengoleskan salep pereda rasa sakit pada lubang anal sang istri. Setiap kali Chanyeol sentuh lubang itu dengan telunjuknya, Baekhyun pasti akan langsung meringis perih. Jika diperhatikan dengan seksama, lubang anal istrinya itu memang sedikit agak lecet. Chanyeol jadi merasa bersalah karenanya, sepertinya mulai sekarang ia harus bermain dengan lebih lembut jika ingin besenggama lagi dengan sang istri.

"Sudah, sekarang pakai lagi celanamu."

Baekhyun memakai lagi celananya setelah Chanyeol selesai mengoleskan salep berwarna putih yang Baekhyun sendiri tidak tau darimana Chanyeol mendapatkan itu. Rasanya sangat dingin dan yang pasti lubangnya sudah tidak terasa perih lagi.

Chanyeol kemudian melirik jam di dinding kamar yang sudah menunjukan pukul 7.30 pagi. Ia harus segera berangkat kerja.

"Sudah jam setengah delapan, aku harus segera pergi."

"Kau tidak sarapan dulu?"

Chanyeol menggeleng. "Tidak akan sempat."

"Maafkan aku Chanyeol, karena aku kau jadi tidak sempat sarapan." ucap Baekhyun penuh penyesalan.

"Tidak apa-apa, kau begini kan juga karena perbuatanku."

Pipi Baekhyun langsung merona merah mendengarnya. "Tapi Chanyeol ah, kau harus ingat janjimu semalam. Hari ini kau tidak boleh bertemu dengan Soojung, aku tidak suka."

"Jika aku tetap ingin bertemu bagaimana?"

"Chanyeol ishhh, lihat saja jika kau berani bertemu dengan wanita itu aku tidak akan pernah mau tidur denganmu lagi." ucapnya dengan nada penuh ancaman.

Chanyeol tertawa. "Aku bercanda, aku janji tidak akan bertemu dengan wanita itu. Kau tidak perlu merasa cemburu seperti itu."

"A-aku tidak cemburu Chanyeol, a-aku hanya-"

"Hanya tidak suka jika aku dekat dengan wanita lain? Itu sama saja." Chanyeol tersenyum jahil.

"Chanyeol ishh aku seriuuusss." Baekhyun jadi salah tingkah digoda seperti itu oleh suaminya.

Chanyeol tertawa lagi, menyenangkan juga rasanya menggoda Baekhyun seperti ini. Ia lantas langsung memeluk tubuh mungil sang istri dan mengecup keningnya pelan.

"Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun Baek, aku adalah tipikal pria yang sudah merasa cukup dengan satu pasangan saja. Irene saja berusaha aku lupakan apalagi wanita lain? Aku milikmu sekarang, kau bisa percaya padaku. Karena aku adalah suamimu."

Baekhyun tersenyum di dalam rengkuhan hangat tubuh suaminya. Ia tanggahkan wajahnya keatas dan dengan berani ia melumat bibir tebal sang suami dengan lembut. Ia kecup dan hisap bibir atas dan bawah suaminya dengan kencang sampai merasa puas.

"Kau sekarang sudah mulai agresif ya Baek, kau sudah mulai berani mencium bibirku lebih dulu." ucap Chanyeol setelah Baekhyun melepaskan ciumannya.

Baekhyun tersenyum kecil, ia lingkarkan kedua tangannya dibelakang pundak Chanyeol dan ia dekatkan wajah mereka hingga hidung mereka bersentuhan. Mereka saling bertatapan dengan lembut.

"Terimakasih atas kesetiaanmu padaku, awalnya aku sangat menentang pernikahan ini karena kau bukanlah pria yang aku cintai. Tapi sekarang aku mengerti kenapa aboeji begitu bersikeras memaksaku untuk menikah denganmu. Kau benar-benar pria yang baik, dan kau pria yang bertanggung jawab. Kau bahkan berusaha keras untuk tidak menodai ikatan suci pernikahan kita padahal kau sama sekali tidak mencintaiku. Seumur hidupku aku baru pertama kali bertemu dengan pria seperti dirimu. Terimakasih Chanyeol, terimakasih banyak. Aku bersyukur Tuhan mempersatukan kita berdua." ucap Baekhyun dengan tulus, sekarang ia mengerti kenapa aboejinya menjodohkannya dengan Chanyeol. Chanyeol memang benar-benar pria yang baik.

Chanyeol tersenyum lembut mendengar penuturan sang istri. Ia begitu tersentuh mendengarnya. Ia mengusap pipi sang istri dengan lembut kemudian.

"Aku juga bersyukur karena Tuhan mempertemukan kita. Kau tetap setia berada disampingku meskipun kau tau aku hanya seorang pria miskin. Padahal di jaman seperti ini mana ada yang tahan menikah dengan pria miskin seperti ku. Karena itu, kita harus sama-sama menjaga ikatan suci pernikahan kita ya, kau mau?"

Baekhyun mengangguk pelan, mereka lantas mendekatkan wajah mereka lagi dan kembali berciuman dengan lembut. Chanyeol memeluk tubuh istrinya dengan erat begitu juga Baekhyun yang memeluk pundak Chanyeol dengan erat pula. Mereka saling memejamkan mata menikmati sensasi kuluman bibir mereka berdua.

CKLEK

"Chanyeol kau tidak-auuuucchh."

Mereka berdua sontak melepaskan ciuman mereka ketika Heechul tiba-tiba saja membuka pintu kamar mereka.

Heechul tampak begitu terkejut, ia hanya sedikit merasa heran saja karena Chanyeol belum juga keluar kamar padahal sudah hampir jam delapan. ia sama sekali tidak menyangka jika Baekhyun dan Chanyeol sedang..

"Sepertinya eomma masuk disaat yang kurang tepat, kalau begitu kalian boleh lanjutkan. Hehe maaf mengganggu." ucapnya tanpa menghiraukan wajah kedua anaknya yang sudah pucat pasi.

BRAAKK

Chanyeol dan Baekhyun mematung, dalam hati Chanyeol mengutuk dirinya sendiri karena lupa mengunci pintu. Baekhyun sendiri tampak begitu shock karena sama sekali tidak menyangka jika ibu mertuanya akan masuk tiba-tiba.

Mereka berpandangan dalam diam, dan dalam hitungan sepersekian detik Baekhyun langsung membenamkan wajah cantiknya di dada bidang sang suami sambil berteriak kencang.

"AAAAHHH ABOEJIII BAEKKIE MALUUUUUU."

.

.

.

"Chanyeol ah.. "

Chanyeol yang tengah sibuk memasang pintu masuk untuk restoran milik Sehun tampak menoleh sejenak ketika Hyungsik muncul dan memanggil namanya.

"Sekarang waktunya istirahat, ayo kita makan bersama."

Chanyeol mengangguk sekilas, ia tinggalkan pekerjaannya sebentar dan langsung duduk bersama Hyungsik di ruang istirahat para pekerja bangunan.

"Tuan Sehun hari ini memberikan uang tambahan untukku, maka dari itu aku beli 2 porsi nasi ayam untuk kita berdua, ayo ambilah."

Chanyeol tersenyum kecil, ia memang sedang tidak punya uang sekarang. Uangnya sudah habis untuk membeli alat kecantikan Baekhyun.

"Terimakasih." ia menerima bungkusan nasi itu dan memakannya dengan tenang.

"Tuan Sehun itu benar-benar baik, tak jarang aku diberi uang tambahan. Lumayan untuk beli susu anakku."

"Kau sudah lama bekerja dengannya?"

"Ani, aku baru bekerja dengannya. Sebelum ini dia lama menetap di China. Aku di pekerjakan sebagai supirnya jika ia sedang berada di Korea saja."

"Selama ini dia tinggal di China?"

"Sebenarnya tuan Oh Sehun itu asli orang China, dia ke Korea hanya untuk kuliah dan mengembangkan bisnis. Dari yang aku dengar dia akan benar-benar menetap di China dalam waktu dekat ini."

"Benarkah?" Chanyeol sedikit tersenyum mendengarnya, jujur saja ia merasa senang jika Sehun benar-benar pindah dari Korea.

"Iya, tapi ia masih belum bisa kembali ke China karena ada urusan lain di Korea yang masih belum selesai."

"Urusan apa? Maksudmu restoran ini?"

"Bukan, ini bukan soal bisnis. Tapi sepertinya masalah percintaan."

"Uhukk.. Uhukk.. " Chanyeol langsung tersedak mendengarnya.

"Aish kau ini ceroboh sekali, pelan-pelan makannya." ucap Hyungsik sambil menyodorkan sebotol air mineral putih.

"Percintaan apa maksudmu?" Tanya Chanyeol setelah selesai minum air yang diberikan Hyungsik.

"Aku dengar tuan Sehun ingin sekali bertemu dengan kekasihnya, tapi sampai sekarang ia masih belum bertemu kekasihnya itu. Aku dengar ayah dari kekasih tuan Sehun itu sangat tidak menyetujui hubungan mereka. Maka dari itu tuan Sehun sangat kesulitan untuk bertemu kekasihnya."

Chanyeol terdiam, ia jadi penasaran kenapa Donghae Aboeji terlihat begitu tidak menyukai Sehun. Padahal menurutnya Sehun itu sosok yang sangat sempurna, ia tampan, baik hati dan juga kaya. Kenapa ayah dari istrinya itu justru lebih memilih pria miskin sepertinya untuk menjadi suami Baekhyun?

"Tuan Sehun sepertinya tidak akan kembali ke China sebelum ia berhasil bertemu dengan kekasihnya."

Chanyeol termenung, sebenarnya ada urusan apa antara mereka berdua? Apa mungkin Sehun ingin membawa Baekhyun pergi bersamanya ke China? Ah tidak, Chanyeol langsung menggeleng cepat. Ia tidak mau jika sampai listrinya dibawa kabur oleh pria lain.

.

.

.

"Selesai.. "

Baekhyun mengusap keringat di dahinya, sudah satu jam lebih ia berkutat dengan masakannya dan sekarang nasi goreng ayam tepung buatannya sudah siap. Baekhyun bisa pastikan masakan buatannya kali ini enak dan layak untuk dimakan. Ia tersenyum sendiri, Baekhyun lantas dengan cepat memasukan makanan itu kedalam kotak makan dan membungkusnya dengan rapi.

"Baekhyun ah.. "

Baekhyun terlonjak kaget ketika ibu mertuanya datang dan memanggil namanya.

"E-eomma." jujur Baekhyun masih sangat malu dengan kejadian tadi pagi, ia tidak berani menatap mata ibunya secara langsung.

"Wah kau masak banyak sekali, untuk siapa Baekhyun ah?"

"U-untuk Chanyeol eomma." ucapnya masih terus menunduk.

"Kenapa kau terus menunduk seperti itu Baekhyun ah?"

"A-aku.. " Baekhyun tergagap, wajahnya bahkan sudah memerah sampai ke telinga.

Heechul tertawa geli. "Kau masih malu karena kejadian tadi pagi?"

DEG

Baekhyun refleks mendongak, ekspresi wajahnya yang terlihat begitu terkejut sontak saja membuat Heechul tertawa.

"Maafkan eomma ya Baek, harusnya eomma mengetuk pintu dulu sebelumnya. Kau tidak perlu merasa malu. Wajar jika sepasang suami-istri bermesraan, tapi lain kali kau harus ingat untuk selalu mengunci pintu kamarmu."

Baekhyun tertawa canggung, ia benar-benar merasa malu atas kejadian tadi pagi.

"Yasudah, ayo cepat kau antarkan makanannya. Sekarang sudah hampir lewat jam makan siang."

Baekhyun mengangguk sekilas. Ia langsung membawa kotak bekal untuk Chanyeol dan bersiap untuk pergi.

"Kau tau dimana tempat kerja suamimu kan Baek?"

Langkah Baekhyun lantas terhenti, ia lupa bertanya dimana tempat kerja Chanyeol pada suaminya itu.

"Aku lupa bertanya eomma."

Heechul menghela nafas. "Yasudah, sebaiknya kau tanya saja pada Minhyuk. Mungkin saja ia tau. Hari ini Minhyuk sedang ada dirumah."

Baekhyun mengangguk. "Baik eomma."

.

.

.

"Sudah lama kita tidak bertemu oppa, kau semakin tampan saja."

Sehun tersenyum kecil sambil menyesap kopi americano miliknya, saat ini ia sedang menikmati waktu makan siangnya di sebuah restoran Prancis yang cukup terkenal di wilayah Gangnam.

"Lama tidak bertemu Soojung ah, kau tetap terlihat cantik seperti sebelumnya."

Ya, Sehun dan Soojung sudah saling mengenal semenjak mereka kuliah. Sehun merupakan senior Soojung di kampus dan mereka terbilang cukup dekat, Sehun bahkan sudah menganggap Soojung seperti adiknya sendiri. Itulah salah satu alasan kenapa Baekhyun sangat tidak menyukai Soojung, gadis itu sangat dekat dengan Sehun dan itu jelas saja membuat Baekhyun cemburu setengah mati.

"Bagaimana China? Kau betah tinggal disana?"

"Tentu, tidak ada yang lebih nyaman dibanding rumah sendiri bukan?"

Soojung mengangguk pelan, ia meneguk minuman pesanannya dengan pelan.

"Kau yakin akan menetap disana?"

Sehun mengangguk. "Aku akan secepatnya pindah dan menetap di China, tapi aku tidak akan pindah sebelum aku bertemu dengan Baekhyun."

Alis Soojung sedikit bertaut. "Baekhyun? Bukankah urusan kalian sudah selesai?"

"Belum, masih ada sesuatu yang harus aku selesaikan dengannya."

Soojung memotong steak pesanannya dengan pelan. "Oppa tau aku dan Baekhyun seperti kucing dan anjing bukan? kami sama sekali tidak bisa akur. Aku tidak menyukainya karena menurutku dia itu sangat cerewet dan menyebalkan. Tapi jika tujuanmu kembali mencari Baekhyun hanya untuk menyakiti pria itu lagi, aku akan menjadi orang pertama yang menghalangimu. Aku sangat tidak menyukai seseorang yang mempermaikan perasaan orang lain."

Sehun terdiam, ia ikut menyantap hidangan mahal yang sudah disiapkan pihak restoran untuknya.

"Bukankah seharusnya kau membantu oppa untuk menemukan Baekhyun? Aku rasanya hampir frustasi karena Donghae ahjussi seperti melenyapkan Baekhyun dari muka bumi ini. Kau tau? Kemarin orang suruhannya bahkan datang menemuiku dan mengancam akan menghancurkan bisnisku jika aku masih tetap berusaha mencari keberadaan Baekhyun. Pria tua itu sepertinya sangat membenciku."

"Jika aku menjadi ayahnya Baekhyun, aku juga pasti akan sangat membencimu."

Sehun terkekeh pelan. "Kau tau kemana dia pergi?"

"Aku tidak tau, dia sudah tidak pernah terlihat dikampus. Terakhir aku dengar dia sudah menikah."

Seringai di wajah Sehun langsung menghilang detik itu juga. "Mwo, menikah?"

Soojung mengangguk. "Baekhyun sudah menikah, tapi tidak banyak orang yang tau. Aku juga tau itu karena ayahku di undang di hari pernikahannya."

"Menikah dengan siapa? Kenapa aku tidak tau apapun."

"Aku juga tidak tau oppa, dan aku tidak mau tau. Kemungkinan besar pria cerewet itu tinggal bersama suaminya sekarang."

Sehun menghela nafasnya pelan. Ia tidak menyangka jika Baekhyun sudah menikah. Ia kemudian melirik keluar jendela sekilas, ada 3-6 orang pria berbadan tegap dan berstelan jas lengkap berdiri di luar di dekat mobil Soojung.

"Kau masih dikawal seperti ini?"

Soojung mengangguk. "Mau bagaimana lagi? Ayahku tidak mau ambil resiko. Tapi oppa tidak perlu khawatir. Aku sudah membuat kesepakatan dengan appa, aku diperbolehkan dikawal oleh seorang bodyguard jika bodyguard itu sesuai dengan kualifikasi appa. Aku sudah memilih seseorang yang menurutku sangat cocok untuk menjadi pengawalku."

"Benarkah? Kau harus mengenalkannya juga padaku. Oppa juga harus tau siapa yang akan menjadi pengawal adik kecil oppa."

Soojung mengangguk antusias. "Tapi sayangnya, pria itu masih belum memberiku kabar. Sepertinya aku harus berjuang lebih keras lagi."

"Sepertinya kau sangat menyukai orang itu."

"Iya aku menyukainya, ia mengingatkanku pada Jongin oppa." ucapnya sambil menatap sendu.

Sehun terdiam, ia kemudian tersenyum kecil. "Aku jadi semakin penasaran pada sosok pria itu."

DEG

Sehun membulatkan matanya ketika ia kembali mengalihkan tatapan matanya keluar jendela.

"Baekhyun.."

"Huh..?" Soojung tampak dibuat bingung.

"Baekhyun, itu Baekhyun." Ucap Sehun sambil menunjuk seseorang di dekat halte bus.

Soojung ikut mengalihkan tatapannya keluar dan matanya pun juga ikut membulat terkejut.

Sehun lantas langsung berdiri. "Aku harus bertemu dengannya sekarang juga."

Ia langsung berlari keluar restoran untuk mengejar Baekhyun.

"Ya! Oppa.. "

.

.

.

Baekhyun turun dari bis yang membawanya ke daerah tempat kerja Chanyeol, butuh waktu beberapa lama agar Minhyuk mau memberitahukan dimana tempat Chanyeol bekerja. Anak itu benar-benar bersikeras tidak ingin memberitahukan dimana Chanyeol bekerja, baru setelah ia menangis dan memohon, Minhyuk akhirnya memberitahu dimana tempat Chanyeol bekerja. Baekhyun jadi merasa curiga, kenapa Chanyeol dan Minhyuk seolah tidak mau jika ia tahu dimana tempat Chanyeol bekerja? Chanyeol seperti menyembunyikan sesuatu darinya.

"BAEKHYUN AH."

Baekhyun mengedarkan atensinya keseluruh penjuru tempat ketika ia mendengar suara lantang seorang laki-laki yang memanggil namanya.

"BAEKHYUN AH, INI AKU SEHUN."

DEG

Sehun? Dimana?

"BAKHYUN AH, AKU DISINI."

Baekhyun menolehkan tatapannya ke seberang jalan dan sontak saja matanya membulat. Itu Sehun, itu benar Sehun. Pria itu masih terlihat tampan seperti biasanya, hanya saja sekarang ia terlihat lebih dewasa dan lebih berwibawa dari sebelumnya. Tanpa sadar Baekhyun meneteskan airmatanya pelan, kenapa ia menangis? Apakah karena ia terlalu merindukan Sehun?

Sehun tersenyum lebar diseberang jalan sana, tanpa banyak bicara lagi ia langsung melangkahkan kaki panjangnya untuk menyeberang jalan.

TIINN

BRUUM

"Aisshh.. " Sehun menggeram kesal, ia tidak menyadari jika lampu lalu lintas sudah berubah merah untuk para pejalan kaki. Hampir saja tadi ia tertabrak mobil.

Baekhyun tersadar dari lamunannya, ia mengusap airmatanya pelan dan langsung bergegas pergi meninggalkan tempat itu.

Sehun sontak saja membulatkan matanya terkejut. "BAEKHYUN, YA! TUNGGU AKU." ia semakin menggeram kesal karena lampu lalu lintas tidak kunjung berubah menjadi hijau.

"SIAL!"

.

.

.

Baekhyun berlari sampai terengah-engah, ia sudah berlari cukup jauh dari tempat Sehun tadi. Ia benar-benar tidak menyangka akan bertemu Sehun secepat ini. Baekhyun masih belum siap, ia belum siap untuk bertemu dengan kekasihnya itu. Baekhyun akan bertemu Sehun setelah ia siap untuk memperjelas soal status hubungan mereka. Ia melirik sekilas tempat ia berdiri sekarang. Seharusnya ia sudah dekat dengan tempat kerja Chanyeol. Ia berjalan beberapa meter ke depan, dan tepat setelah ia melihat para pekerja bangunan yang tengah berkumpul, Baekhyun pun lantas berjalan cepat menghampiri mereka.

"Chanyeol ah."

Baekhyun tersenyum cerah ketika melihat suaminya yang tengah duduk bersila sambil mengobrol dengan para pekerja yang lain. Chanyeol sontak saja terkejut, ia langsung berdiri dan menghampiri istrinya itu.

"Baekhyun, untuk apa kau datang kemari?"

"Aku datang kemari untuk membawakanmu bekal makan siang." ucapnya sambil menyerahkan sekotak nasi goreng ayam tepung yang tadi ia buat.

Chanyeol masih tampak begitu terkejut, ia langsung menarik tangan lentik istrinya untuk masuk keruang ganti.

Hanya ada mereka berdua disana, setelah dirasa aman, Chanyeol langsung mengajak istrinya itu untuk duduk.

"Kenapa kau datang kemari Baekhyun ah?"

"Aku sangat mengkhawatirkanmu Chanyeol ah, dari pagi kau belum makan dan aku tau kau tidak punya uang untuk membeli makanan. Maka dari itu aku datang kemari untuk membawakanmu makanan."

"Darimana kau tau aku bekerja disini?"

"Dari Minhyuk, ia yang memberitahuku."

Chanyeol tertegun, Baekhyun datang jauh-jauh kemari hanya untuk mengantarkan makanan untuknya? ia jadi begitu tersentuh. Selama ini tidak pernah ada yang benar-benar peduli padanya selain ibunya. Ternyata begini rasanya jika punya seorang istri. Akan selalu ada orang yang memperhatikanmu ketika kau merasa lelah.

"Terimakasih Baek." ucapnya dengan tulus.

Baekhyun tersenyum lembut. "Sebentar.. " Baekhyun mengeluarkan sebuah handuk kecil dari dalam tas kecil yang ia bawa. Ia dengan telaten membersihkan keringat dan noda bekas semen atau tanah yang menempel diwajah tampan suaminya.

Chanyeol semakin dibuat terenyuh oleh perbuatan Baekhyun, ia menatap pria cantik itu dengan intens. Tanpa Chanyeol sadari, kedua matanya mulai berembun dan basah karena air mata.

"Chanyeol kau menangis?" tanya Baekhyun yang terlihat begitu terkejut.

Chanyeol refleks mengusap airmatanya pelan. "Ani, mataku hanya kelilipan semen saja."

"Benarkah?" Baekhyun dengan polosnya langsung mendekatkan wajahnya dan meniup bola mata Chanyeol.

Chanyeol terkekeh, ia menyentuh tangan sang istri dengan lembut, Baekhyun sontak saja langsung terdiam dan menatap pergelangan tangannya yang di pegang oleh Chanyeol.

Pria tampan itu mendekatkan wajahnya pada wajah kecil Baekhyun dengan perlahan. Baekhyun terdiam layaknya patung, ia biarkan suaminya itu meraup bibirnya pelan. Chanyeol menutup matanya rapat, ia berharap ciuman ini bisa menjadi jembatan untuknya menyalurkan rasa terimakasihnya pada sang istri. Ia kembali meneteskan airmatanya. Sungguh ia begitu bersyukur karena Tuhan telah menjadikan Baekhyun sebagai istrinya.

.

.

.

Sehun berjalan pelan menuju restoran miliknya, ia sudah melepas jas mahalnya sehingga kini ia hanya memakai kemeja berwarna hitam yang begitu kontras dengan kulit putihnya. Ia kehilangan jejak Baekhyun dan mobilnya pun mogok. Oleh sebab itu dia terpaksa berjalan kaki dari restoran tempat ia makan bersama Soojung tadi.

"Dimana Chanyeol?" tanyanya pada para pekerjanya setelah ia sampai di restoran miliknya.

"Chanyeol sedang bersama istrinya diruang ganti."

"Chanyeol sudah menikah?"

"Sudah tuan, istrinya sangat cantik. Dia datang kemari sambil membawakan makanan untuk Chanyeol."

Sehun tidak terlalu menghiraukan itu, ia langsung berjalan pelan menuju ruang ganti para pekerja bangunan.

Di dalam ruang ganti, Baekhyun membuka kotak bekal makan siang yang ia bawa.

"Ini banyak sekali, sebenarnya tadi aku sudah makan. Temanku memberikan ku makanan." ucap Chanyeol ketika melihat seporsi besar nasi goreng yang Baekhyun bawa.

"Oh benarkah? Sayang sekali, tadinya aku pikir kau belum makan. Jadinya aku membuat nasi goreng dengan porsi besar untukmu."

"Tidak apa-apa Baek, aku akan tetap memakannya. Tapi kau bantu aku menghabiskannya ya?"

Baekhyun mengangguk sambil tersenyum manis. Ia lantas mengambil sesendok nasi goreng untuk disuapkan pada suaminya.

"Aaaa.. Ayo buka mulutmu."

Chanyeol menerima suapan itu dan menguyahnya pelan. "Hm, mashita."

"Benarkah?" tanya Baekhyun yang terdengar senang masakannya dipuji.

Chanyeol mengangguk. Baekhyun memang pandai membuat nasi goreng, tapi untuk makanan yang lain, ia masih belum terlalu mahir.

"Berikan sendoknya padaku." Baekhyun menyerahkan sendoknya pada Chanyeol dan pria tinggi itu langsung menyendokan nasi goreng juga untuk disuapkan pada Baekhyun.

Baekhyun menerima suapan itu sambil tersenyum malu-malu dan ia mengunyahnya pelan. Apa yang mereka lakukan ini? Makan sepiring berdua? Astaga, mereka sudah seperti pemeran utama dalam sebuah drama romantis.

TOK TOK TOK TOK

"Chanyeol ssi, kau di dalam? Ini aku Sehun."

DEG

Chanyeol dan Baekhyun sama-sama mematung. Khususnya Baekhyun, bagaimana bisa Sehun ada disini? Ia jelas tau itu Sehun yang sama dengan Sehun yang ia kenal. Ia kenal betul suara berat dari kekasihnya itu.

TOK TOK TOK TOK

"Chanyeol ssi, kau di dalam?"

Dengan perasaan panik Chanyeol langsung meminta Baekhyun untuk bersembunyi.

"Baek, sebaiknya kau sembunyi dulu dibelakang lemari sana."

Tanpa perlu berpikir dua kali, Baekhyun pun langsung berjalan cepat dan bersembunyi dibalik loker para pekerja bangunan.

"Iya tuan, saya di dalam."

CKLEK

Sehun berjalan masuk setelah Chanyeol membuka pintunya.

"Sedang apa kau disini? Bukankah kau sedang bersama istrimu?"

"A-ah istri saya sudah pulang tuan, dia kemari hanya untuk mengantarkan makanan untuk saya."

Sehun mengangguk mengerti. "Sebenarnya aku ingin minta tolong padamu Chanyeol ssi, mobilku mogok dan saat ini masih terparkir di restoran Prancis di ujung jalan sana. Aku ingin kau memperbaikinya untukku. Kau bisa memperbaiki mobil kan?"

Chanyeol mengangguk. "Saya bisa tuan."

"Bagus kalau begitu, ini kuncinya. Setelah selesai, kau bawa saja mobilku kemari dan parkirkan di depan. Untuk alat-alatnya kau bisa ambil diruanganku. Kau tenang saja, aku akan memberikan bonus yang besar untukmu." Sehun menepuk pundak Chanyeol pelan.

Chanyeol mengangguk mengerti. "Baik tuan, terimakasih."

Sehun tersenyum kecil, ia langsung berbalik dan pergi menuju ruangannya. Chanyeol menghembuskan nafasnya pelan. Untung saja Sehun tidak masuk sampai kedalam ruangan.

Ia lantas berjalan pelan menghampiri istrinya yang daritadi berdiri dibalik loker.

"Baekhyun ah."

Baekhyun menatap suaminya itu seolah meminta penjelasan. Chanyeol yang mengerti maksud dari tatapan sang istri mencoba untuk meminta pengertian istrinya.

"Nanti akan aku jelaskan, aku harus segera pergi sekarang. Kau juga sebaiknya pulang, terimakasih untuk makanannya."

Baekhyun menghembuskan nafasnya kesal, tapi ia tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah suaminya.

.

.

.

"Chanyeol ssi?"

Chanyeol menoleh ketika ia mendengar suara seseorang yang memanggil namanya. Ia baru saja sampai di restoran Prancis yang Sehun maksud.

"Soojung ssi?"

Soojung tersenyum senang, ia baru keluar dari restoran dan hendak pulang. Tapi niatnya itu ia urungkan ketika melihat Chanyeol berdiri di depan restoran.

"Apa yang kau lakukan disini Chanyeol ssi? Kenapa kau berdiri di depan mobil temanku?"

"Ini mobil bosku, aku kesini untuk memperbaikinya."

"Bosmu? Maksudmu Oh Sehun? Oh Sehun itu sahabatku ngomong-ngomong."

Chanyeol hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf o dan langsung membuka kap mobil Sehun. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya agar ia bisa langsung pulang dan menjelaskan semuanya pada Baekhyun.

"Kau bekerja sebagai seorang montir?"

"Tidak, aku hanya diminta tuan Sehun untuk memperbaiki mobilnya." jawabnya singkat.

"Kau bekerja pada Sehun? Sebagai apa? Supir pribadi atau.. "

"Kuli bangunan, aku bekerja untuk membangun restoran milik tuan Sehun."

Soojung sontak terdiam, pantas saja tubuh pria tinggi dihadapannya ini sangat kekar dan berotot. Rupanya ia sudah terbiasa melakukan pekerjaan berat.

"Kenapa kau tidak membalas pesanku Chanyeol ssi, kau membacanya kan?"

"Jika kau ingin bicara, bicara saja Soojung ssi. Aku akan mendengarnya." ucap Chanyeol sambil terus fokus pada alternator mobil Sehun yang rusak.

"Aku ingin menawarkanmu sebuah pekerjaan, aku ingin kau menjadi pengawal pribadiku."

"Maaf tapi aku tidak berminat."

"Aku akan memberikan gaji yang besar, aku janji."

"Aku tetap tidak berminat."

Soojung menghela nafas. "Park Chanyeol ssi, apa kau tidak lelah dengan hidupmu yang seperti ini? Jika kau mau menjadi bodyguard ku, kau pasti bisa mendapatkan apapun yang kau mau."

"Aku tidak harus mendapatkan apapun yang aku mau dengan menjadi bodyguardmu."

"Lalu bagaimana dengan istrimu? Memangnya dengan penghasilanmu sekarang kau bisa memenuhi segala kebutuhannya? Dari jenis kosmetik yang ia pakai saja aku sudah tau jika istrimu itu memiliki gaya hidup yang mewah."

Chanyeol langsung terdiam mendengarnya, benar juga apa yang dikatakan Soojung. Dengan penghasilannya sekarang ia tidak akan mampu mengimbangi gaya hidup Baekhyun. Tapi bukankah seorang istri memang seharusnya mengikuti suaminya? Itu berarti Baekhyun juga harus mengikuti gaya hidupnya yang sederhana. Lagipula Donghae aboeji juga berpesan padanya agar Baekhyun dibiasakan untuk hidup sederhana.

"Aku tetap tidak mau." ucapnya tetap menolak permintaan Soojung.

Soojung menghela nafasnya pelan. "Baiklah, aku mengerti. Tapi jika nanti kau berubah pikiran, kau harus segera menghubungiku. Aku akan selalu menunggumu Chanyeol oppa."

Chanyeol cukup terkejut ketika Soojung memanggilnya oppa, mereka bahkan tidak terlalu dekat tapi gadis itu dengan berani memanggilnya oppa, jika Baekhyun mendengar ini dia pasti akan uring-uringan sepanjang hari.

"Kalau begitu aku pergi dulu ya, sampaikan salamku untuk istri dan keluargamu. Bye.. " ia melambaikan tangannya sambil tersenyum manis kearah Chanyeol.

Chanyeol memperhatikan Soojung yang masuk kedalam mobil sambil dikawal beberapa bodyguard. Mobil itu melaju dengan pelan dan Chanyeol hanya bisa menghela nafas setelahnya.

.

.

.

"Jadi begitu, aku bekerja disana karena aku memang membutuhkan pekerjaan secepat mungkin."

Pukul 20.38, ketika mereka selesai makan malam. Chanyeol langsung mengajak Baekhyun untuk berbicara secara empat mata di dalam kamar mereka.

Baekhyun menghela nafas kemudian. "Kenapa kau tidak berkata jujur padaku sejak awal Chanyeol ah?"

"Aku pikir aku tidak harus memberitahumu jika aku bekerja sebagai bawahan mantan kekasihmu."

"Aku mau kau berhenti dan mencari pekerjaan baru." ucap Baekhyun kemudian.

"Kenapa? mencari pekerjaan itu susah Baek, aku hanya lulusan SMA dan aku tidak punya apapun selain otot dan tenagaku untuk mencari uang."

"Chanyeol kau itu punya banyak keahlian, kau mengerti soal listrik, kau mengerti soal kendaraan bermotor dan kau juga bisa memperbaiki alat-alat elektronik. Kau bisa mencari pekerjaan di tempat lain, kenapa juga kau harus selalu menjadi kuli bangunan?"

"Jadi maksudmu kau tidak suka jika aku bekerja sebagai seorang kuli bangunan?"

"Aku bukannya tidak suka, tapi kau bisa mencari pekerjaan lain yang lebih layak. Kau tidak harus bekerja pada Sehun. Aku tidak suka melihat suamiku sendiri diperintah oleh kekasihku."

Chanyeol langsung terdiam, entah kenapa ia sedikit merasa tersinggung mendengar penuturan Baekhyun. Baekhyun sepertinya mulai merasa malu jika suaminya hanya seorang pekerja bangunan.

"Kenapa kau tidak menerima tawaran ayahku untuk bekerja di perusahaannya? Ayahku bisa mencarikan posisi yang pas untukmu jika kau mau bekerja di perusahaannya."

"Aku tidak mau bergantung pada ayahmu, aku ingin membuktikan jika aku bisa menafkahi istriku sendiri tanpa harus menerima belas kasih dari orangtuamu. Lagipula aku ini hanya lulusan SMA Baek, bagaimana bisa aku bekerja di perusahaan ayahmu? Aku hanya akan menjadi aib bagi perusahaan ayahmu."

"Baik aku mengerti, tapi mau sampai kapan Chanyeol ah? Sampai kapan kau akan terus menjadi seorang pekerja kasar seperti in? Semakin hari kebutuhan kita semakin banyak, belum lagi jika nanti aku hamil dan punya anak. Penghasilan dari menjadi kuli bangunan tidak akan pernah cukup. Aku mohon untuk kali ini saja Chanyeol ah, tolong pikirkan kembali tawaran aboeji."

Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan yang sulit di artikan. "Kenapa kau tiba-tiba mempermasalahkan soal ini? Sebelum ini kau tidak masalah sekalipun aku hanya seorang pekerja kasar. Apa kau malu karena suamimu hanya seorang pekerja kasar?"

"Tidak seperti itu Chanyeol, kau jangan salah paham. Aku hanya tidak suka jika kau bekerja pada Sehun. Apa kau pikir aku akan baik-baik saja mengetahui suamiku sendiri menjadi bawahan dari kekasihku? Lagipula untuk apa kau terus menjadi pekerja bangunan padahal kau sendiri punya banyak keahlian yang bisa kau gunakan untuk mendapatkan uang yang lebih banyak?"

Chanyeol mengepalkan tangannya erat ketika Baekhyun menyebut Sehun dengan kata 'kekasihnya.' hatinya panas secara tiba-tiba entah karena apa.

"Baiklah, jika itu memang keinginanmu. Besok aku akan berhenti bekerja pada Sehun. Aku akan mencari pekerjaan lain. Tapi tidak dengan aku bekerja pada ayahmu. Selamat malam."

Setelah mengatakan itu, Chanyeol langsung membaringkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Baekhyun.

Baekhyun yang melihat itu hanya menghela nafasnya pelan. Ia juga ikut membaringkan tubuhnya membelakangi punggung Chanyeol.

.

.

.

"Saya ingin mengundurkan diri tuan."

"Mengundurkan diri? Kenapa?"

"Saya ingin mencari pekerjaan lain, istri saya tidak suka jika saya bekerja sebagai seorang kuli bangunan."

"Sayang sekali Chanyeol ssi, padahal aku sangat menyukai kinerjamu."

Keesokan harinya, Chanyeol langsung datang menghadap Sehun dan berkata jika ia ingin mengundurkan diri.

Sehun membuka laci kecil dibawah meja kerjanya dan mengambil sebuah amplop cokelat. "Ambil ini, anggap saja pesangon dariku."

Chanyeol tampak terkejut. Ia menerima amplop itu dengan tangan kanannya. Ia membuka isinya dan ternyata uang yang Sehun berikan cukup banyak.

"Terimakasih tuan, anda benar-benar orang yang baik."

Sehun mengangguk. "Sama-sama, kau juga sudah banyak membantuku selama ini."

Chanyeol tersenyum lagi. "Sekali lagi terimakasih tuan."

"Aku harap kau bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik Chanyeol ssi."

"Amin, kamsahamnida tuan."

.

.

.

Baekhyun duduk diruang tamu seorang diri, ia terus melamun sedari tadi. Pagi ini hubungan antara dirinya dan Chanyeol agak sedikit merenggang. Chanyeol bahkan tidak berbicara satu patah kata pun dengannya. Dia langsung pergi begitu saja setelah selesai sarapan. Sepertinya pria itu sedikit tersinggung dengan ucapannya semalam.

"Secangkir teh manis hangat untuk menantu eomma yang paling cantik." ucap sang ibu mertua sambil membawa secangkir teh manis hangat untuk Baekhyun.

"Terimakasih eomma." ucap Baekhyun kemudian.

Heechul duduk disamping Baekhyun, ia menatap menantunya itu untuk beberapa saat. "Sepertinya kalian berdua sedang ada masalah, eomma perhatikan pagi ini kalian tidak saling bicara. Apa terjadi sesuatu?"

"Tidak ada apa-apa eomma, hanya saja semalam kami sempat berdebat soal pekerjaan Chanyeol. Baekkie meminta Chanyeol untuk berhenti bekerja sebagai kuli bangunan di restoran milik mantan kekasih Baekkie. Sebenarnya Baekkie juga agak kurang suka jika Chanyeol terus menjadi pekerja kasar. Chanyeol punya banyak keahlian dan menurut Baekkie Chanyeol bisa mendapat pekerjaan yang lebih layak. Baekkie juga meminta Chanyeol untuk mempertimbangkan tawaran aboeji untuk bekerja di perusahaannya. Tapi sepertinya Chanyeol sedikit tersinggung dengan ucapan Baekkie. Dia merasa jika Baekkie malu karena punya suami yang hanya seorang pekerja kasar, padahal sebenarnya tidak seperti itu. Baekkie hanya tidak ingin Chanyeol di perintah oleh mantan kekasih Baekkie. Lagipula bekerja sebagai pekerja bangunan itu sangat melelahkan, penghasilan yang di dapat juga tidak seberapa."

Heechul tersenyum mendengarnya, ia sudah menduga jika ini pasti akan terjadi. "Sebenarnya sebelum kalian menikah Chanyeol memang sudah membicarakan ini dengan eomma, ia berjanji tidak akan menerima uang bantuan sepeserpun dari ayahmu untuk menunjang kehidupan rumah tangga kalian. Ia berjanji akan memenuhi semua kebutuhan rumah tangga kalian dari hasil jerih payahnya sendiri. Dan eomma percaya itu, eomma percaya Chanyeol bisa menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik tanpa bantuan dari ayahmu. Dan semuanya sudah terbukti bukan? Selama kalian menikah kau tidak kekurangan sesuatu apapun kan?"

Baekhyun mengangguk, memang selama tinggal disini ia tidak kekurangan apapun. Ia bahkan tidak merasa kelaparan sedikitpun, padahal tadinya ia mengira jika sudah menikah dengan Chanyeol ia akan dilanda rasa lapar yang hebat setiap harinya. Tapi nyatanya tidak, Chanyeol benar-benar memenuhi kebutuhan pangan mereka sekeluarga dari hasil keringatnya sendiri.

"Jadi menurut eomma, sebaiknya kau biarkan saja Chanyeol mencari uang dengan caranya sendiri. Mungkin memang benar penghasilan menjadi seorang pekerja kasar itu sangat kecil, tapi kau tidak perlu khawatir Baekhyun ah. Selama Chanyeol masih hidup, eomma pastikan kau tidak akan kekurangan apapun. Eomma sangat mengenal anak eomma, dia adalah pria yang menjunjung tinggi soal tanggung jawab."

Baekhyun tersenyum kecil, ia tau Chanyeol adalah pria yang bertanggung jawab. Tapi masalahnya ia hanya tidak ingin jika Chanyeol bekerja pada Sehun. Akan semakin sulit rasanya untuk melupakan Sehun jika suaminya saja masih punya ikatan dengan pria albino itu.

TOK TOK TOK TOK

CKLEK

Heechul dan Baekhyun kompak menoleh ketika pintu rumah mereka langsung dibuka dari luar. Baekhyun agak sedikit mengernyit tidak suka melihatnya, siapapun orang yang bertamu rasanya tidak sopan sekali jika langsung membuka pintu seperti itu.

Terlihat dua orang pria berbadan tegap masuk kedalam rumah, yang satu terlihat seperti sudah berumur dan yang satunya lagi terlihat seumuran dengan Chanyeol suaminya. Eh tunggu, Baekhyun seperti mengenal pria itu. Ya, Baekhyun mengenal nya, pria itu adalah orang yang menolongnya di pasar waktu itu.

"Heechul ssi."

Heechul sontak saja langsung berdiri ketika pria yang satunya menyebut namanya. Baekhyun pun ikut berdiri, ia menatap kedua pria itu secara bergantian.

"Lama tidak bertemu Baekhyun ssi."

Baekhyun tersenyum sopan. "Ne, lama tidak bertemu Suho ssi."

"Baekhyun ah, bisakah kau buatkan minuman untuk mereka berdua?"

Baekhyun mengangguk menuruti perintah ibu mertuanya. "Baik eomma."

Baekhyun berjalan ke dapur kemudian, tak sampai 5 menit berlalu, ia sudah kembali dengan 2 cangkir teh manis hangat.

"Silahkan diminum tuan." ucapnya setelah menyimpan 2 cangkir teh itu diatas meja.

"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu Heechul ssi, hanya bertiga saja." ucap pria itu sambil menatap Baekhyun dengan intens.

Heechul menatap Baekhyun kemudian. "Sayang, bisakah kau tinggalkan kami bertiga dulu nak?"

Baekhyun mengangguk lagi, mungkin mereka ingin membicarakan sesuatu yang penting. "Baik, aku mengerti eomma."

"Saya permisi tuan, Suho ssi."

Suho mengangguk sambil tersenyum lembut kearah Baekhyun. Ia terus memperhatikan pria cantik itu dengan tatapan intens.

.

.

.

Sudah 17 menit berlalu dan Baekhyun hanya menghabiskan waktunya untuk bermain game di ponselnya di dalam kamar. Ia merasa bosan, tapi ia tidak berani keluar kamar. Kira-kira Suho dan pria tua itu sudah pergi belum ya?

BRUUMM

Terdengar suara mobil yang bergerak pergi meninggalkan pekarangan rumah. Mungkin mereka sudah pergi, Baekhyun akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar.

"Eomma." Baekhyun berjalan pelan menuju ruang tamu dan mendapati ibu mertuanya sedang menangis.

"Eomma, kenapa menangis? Apakah terjadi sesuatu?" tanyanya khawatir sambil duduk disamping ibunya.

"Hiks, yang tadi itu tuan Kangin dan putranya Suho. Mereka datang kemari untuk menagih hutang."

"Hutang? Hutang apa eomma?"

"Dulu ayahnya Chanyeol pernah meminjam uang dengan bunga yang sangat tinggi pada tuan Kangin. Uang itu digunakan untuk investasi bisnis properti, tapi sayangnya ayah Chanyeol malah ditipu dan uang yang sudah diserahkan dibawa kabur semua. Kami tidak bisa mengembalikan uang pinjaman pada tuan Kangin. Karena itu ayahnya Chanyeol sampai jatuh sakit dan meninggal dunia. Eomma tidak punya pilihan lain selain menjadikan sertifikat rumah ini sebagai jaminan, tuan Kangin mengancam akan menyita rumah ini jika eomma tidak mampu melunasi semua pinjaman dan juga bunganya hiks."

Baekhyun menutup mulutnya shock. Astaga, ia benar-benar tidak tau jika keluarga suaminya tengah dilanda kesulitan seperti ini.

"Apakah Chanyeol tau soal ini?"

"Chanyeol tau, justru ia sangat membenci Kangin dan Suho karena menganggap mereka sebagai penyebab kematian ayahnya."

Baekhyun menatap ibunya prihatin, ia hanya bisa memeluk dan menguatkan ibunya saja untuk sekarang.

"Yang sabar eomma, kita akan mencari solusinya bersama." ucapnya sambil terus memeluk Heechul yang tengah menangis.

.

.

.

Chanyeol pulang kerumah tepat pukul 6 sore. Ia masih belum mendapatkan pekerjaan baru padahal ia sudah berkeliling kota Seoul dari pagi hingga menjelang malam. Sungguh sulit rasanya mencari pekerjaan di kota sebesar ini dengan hanya menggunakan ijazah SMA saja.

Ia lepas sepatu dan kaos kakinya pelan, biasanya Baekhyun akan langsung menyambutnya jika ia baru pulang kerumah, tapi hari ini pria cantik itu bahkan tidak menunjukan batang hidungnya sama sekali di hadapan Chanyeol.

Ah.. Chanyeol lupa. Ia dan istrinya itu kan sedang bertengkar, bertengkar karena kejadian semalam. Baekhyun pasti merasa canggung jika harus menyambutnya seperti biasa.

Langkah kakinya terhenti ketika ia mendengar isakan seseorang. Suara itu berasal dari kamar ibunya. Merasa penasaran, Chanyeol pun berjalan pelan kearah kamar ibunya dan mengintip dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka.

"Eomma harus makan, dari pagi eomma belum makan apapun."

Baekhyun di dalam, ditangannya ada sepiring nasi dan beberapa lauk. Ia tampak berusaha membujuk sang ibu mertua yang menolak untuk makan.

Heechul menggeleng. "Hiks eomma tidak lapar Baekhyun ah."

CKLEK

Chanyeol langsung membuka pintunya dan berjalan masuk, ia tentu saja merasa sangat khawatir melihat ibunya yang menangis seperti itu.

"Chanyeol kau sudah pulang?" Tanya Baekhyun yang terdengar kaget.

Chanyeol tampak tidak menghiraukan pertanyaan Baekhyun, ia justru langsung berjongkok dan menggenggam kedua tangan ibunya sambil menatap khawatir.

"Ada apa eomma, kenapa eomma menangis?"

Heechul mengusap airmatanya pelan. Ia beralih menatap Baekhyun yang duduk disampingnya. "Sayang bisakah kau tinggalkan kami berdua sebentar?"

Baekhyun mengangguk mengerti. "Baik, eomma."

.

.

.

Baekhyun memegang secangkir kopi hitam buatannya dengan perasaan ragu, ia ragu apakah ia harus memberikan kopi ini kepada Chanyeol atau tidak. Baekhyun berdiri di dekat pintu dapur, dari sini ia bisa melihat suaminya Chanyeol tengah duduk sendirian diruang tamu dengan sebatang rokok yang mengepul ditangan kanannya.

Baekhyun meneguk ludahnya dengan gugup, ia mantapkan hatinya untuk berjalan pelan kearah sang suami. Ia duduk disamping Chanyeol yang sepertinya tidak menyadari kehadirannya.

"Aku bawakan kopi untukmu Chanyeol ah." ucapnya sambil menyimpan kopi yang ia bawa di hadapan Chanyeol.

Chanyeol sama sekali tidak merespon, ia masih larut dalam lamunannya sendiri.

"Chanyeol.. " barulah ia tersentak setelah tangan Baekhyun menyentuh pundaknya pelan.

Chanyeol menolehkan kepalanya kesamping dan terkejut melihat Baekhyun duduk disampingnya.

"Sejak kapan kau duduk disini?"

"Baru beberapa detik yang lalu."

Chanyeol terdiam, ia kembali memfokuskan atensinya ke depan.

"Aku membawakan kopi untukmu Chanyeol ah."

"Hm, terimakasih." jawab Chanyeol singkat.

Baekhyun menghela nafasnya, ia terlihat sedikit gugup. "Bagaimana dengan pekerjaan mu hari ini? Semuanya lancar?"

"Aku sudah berhenti sesuai dengan permintaanmu. Sekarang aku pengangguran."

Baekhyun sedikit terkejut mendengarnya, ia tidak menyangka jika Chanyeol akan langsung berhenti dari pekerjaannya.

"Bagaimana dengan eomma? Eomma sudah menceritakan semuanya?"

Chanyeol mengangguk pelan, ia pejamkan matanya dan ia pijat pelipisnya dengan pelan. Rasanya kepalanya hampir meledak jika memikirkan kejadian yang terjadi hari ini.

Melihat suaminya yang tampak begitu frustasi, Baekhyun pun mencoba memberanikan diri untuk memeluk tubuh tinggi itu. Chanyeol awalnya terkejut. Ia berusaha melepaskan pelukan sang istri tapi Baekhyun malah semakin mempererat pelukannya. Alhasil Chanyeol hanya bisa diam, ia biarkan istrinya itu memeluk tubuhnya dengan erat.

Baekhyun memejamkan matanya. Ia bisa merasakan tubuh Chanyeol perlahan mulai terasa lebih rileks. Ia tau suaminya tengah banyak pikiran, ia hanya sedang berusaha untuk menenangkan suaminya saja. Hanya itu.

Tak lama, Chanyeol kemudian bangkit berdiri. Baekhyun sedikit dibuat bingung dengan sikap suaminya itu. "Kau mau kemana Chanyeol?"

"Aku mau pergi mencari kerja."

"Tapi ini sudah malam Yeol, kau mau mencari kerja kemana?"

"Kemana saja, uang tidak akan datang dengan sendirinya jika aku hanya berdiam diri saja dirumah. Aku harus membayar seluruh hutang ayahku pada kedua bajingan tengik itu."

Chanyeol melangkahkan kakinya cepat dan mengambil jaket lusuh miliknya, dengan sebatang rokok yang terselip dibibir tebalnya, Chanyeol memakai sepatunya asal dan bersiap untuk pergi.

"Chanyeol aku mohon jangan pergi, sekarang sudah malam dan diluar mendung. Kau bisa mencari pekerjaan besok."

Chanyeol sama sekali tidak menghiraukan ucapan istrinya, ia langsung berjalan keluar rumah dan membanting pintunya dengan kasar.

BRAAAKK

Baekhyun hanya bisa menghela nafasnya pelan, jika sudah begini ia hanya bisa berdo'a semoga Tuhan selalu melindungi suaminya dan mempermudah segala urusannya.

.

.

.

Hujan deras dan petir pun menyambar, Chanyeol masih tetap mengendarai motor bututnya mengelilingi kota Seoul tak peduli dengan tubuh dan pakaiannya yang sudah basah kuyup. Sudah sekitar 20 menit ia berkeliling tapi ia masih belum juga medapatkan pekerjaan. Jujur ia sendiri bingung kemana lagi ia harus mencari pekerjaan.

JDERRR

Suara petir yang menyambar keras dan gemuruh hujan yang semakin deras membuat Chanyeol sedikit kesulitan melihat jalan. Pandangannya mengabur tertutup oleh air hujan dan jalanan pun juga ikut tertutup oleh kabut.

JDERRR

TIIINNN

CKIIT

Dan benar saja, apa yang Chanyeol khawatirkan pun akhirnya terjadi. Ia tidak melihat ada mobil yang melaju dari arah berlawanan. Chanyeol berusaha menghindari mobil itu namun naas, Chanyeol tidak bisa menjaga keseimbangan hingga motor yang ia tumpangi menabrak tiang listrik di pinggir jalan.

BRAAKK

"Arrrgghh.. "

Chanyeol meringis sakit, tubuhnya jatuh ke aspal jalanan dan kepalanya terbentur hingga berdarah.

"CHANYEOL."

Seorang perempuan cantik berambut panjang berlari kecil menghampiri Chanyeol. Ia berjongkok dan berusaha membangunkan pria tinggi itu.

Chanyeol sedikit terkejut melihat wanita itu. "Kau.. "

.

.

.

"Dahimu terluka, sini biar aku obati.. "

Chanyeol menundukan tatapan matanya tak berani menatap langsung pada wanita itu, ia hanya menggunakan pakaian ketat berwarna hitam dengan rok pendek diatas paha. Belahan dadanya juga sangat rendah hingga kedua buah dadanya menyembul keluar. Lekukan tubuhnya tercetak dengan sangat jelas dibalik pakaian tipis yang ia pakai karena basah terkena air hujan. Chanyeol bahkan masih bisa melihat pakaian dalam wanita itu sekalipun ia sudah menunduk.

Sadar akan gelagat pria dihadapannya, wanita yang ternyata adalah Irene itu langsung salah tingkah karena ia baru sadar penampilannya sekarang sudah membuat Chanyeol tidak nyaman. Ia terlalu panik tadi.

"M-maafkan aku Chanyeol, aku akan ganti baju dulu sebentar." Irene langsung bergegas masuk kedalam kamar untuk berganti pakaian.

Chanyeol menghembuskan nafasnya lega, ia bisa saja khilaf dan mengkhianati Baekhyun jika Irene tidak segera mengganti pakaiannya.

Tak berapa lama Irene pun keluar dengan pakaian yang lebih tertutup. Ia kembali duduk dan mengambil perban dan obat merah untuk mengobati dahi Chanyeol yang terluka.

Chanyeol mengangkat tangannya ketika Irene hendak mengobati dahinya. Irene yang melihat itu pun tampak dibuat bingung.

"Wae?"

"Biar aku obati sendiri." ucapnya sambil mengambil perban dan obat merah ditangan Irene.

Irene menatap Chanyeol dengan pandangan bertanya. "Sebenarnya apa yang terjadi Chanyeol ah? Kenapa kau berkendara ditengah hujan seperti tadi?"

"Aku sedang mencari pekerjaan."

"Bukankah kau sudah bekerja?"

"Sudah tidak, aku sudah berhenti."

"Tapi kenapa kau begitu memaksakan diri Chanyeol? Kau kan bisa mencari pekerjaan besok."

"Aku sedang butuh uang."

"Uang untuk apa?"

"Untuk membayar hutang ayahku pada Kangin."

Irene sontak terdiam. Ternyata Chanyeol masih punya urusan dengan lintah darat itu.

"Kau sendiri, apa yang kau lakukan malam-malam begini?"

"Tadinya aku mau berangkat kerja. Tapi setelah melihatmu jatuh dari motor tadi, aku langsung berlari kearahmu."

"Terimakasih Joohyun ah."

Irene tersenyum, ia suka jika Chanyeol sudah menyebut nama aslinya. "Sama-sama."

"Dimana Kookie?"

"Kookie aku titipkan dirumah neneknya."

Chanyeol terdiam, berarti mereka hanya berdua saja disini. Tanpa pikir panjang Chanyeol langsung mengambil jaketnya dan berdiri.

"Maaf, tapi sepertinya aku harus segera pergi."

"Kenapa buru-buru, kau tidak ingin ganti baju dulu? Tubuhmu basah kuyup Chanyeol ah."

"Tidak apa-apa, kita tidak bisa berduaan seperti ini Joohyun ah. Aku sudah menikah, aku tidak ingin orang berpikir yang tidak-tidak tentang kita berdua."

Irene mengangguk mengerti, ia lantas masuk kedalam kamar dan mengambil sesuatu dari dalam laci mejanya.

"Ambilah ini Chanyeol, aku harap ini bisa sedikit membantu."

"Apa ini?"

"Ini uang yang aku pinjam dari bank tadi sore, tadinya aku ingin menggunakan uang ini untuk membuka usaha baru. Aku sudah lelah menjadi penyanyi cafe, tapi sepertinya kau lebih membutuhkan uang ini daripada aku."

Chanyeol menatap amplop cokelat yang cukup tebal ditangan Irene, ia lalu menatap Irene dengan pandangan ragu.

"Uang ini mungkin tidak cukup untuk melunasi semua hutangmu, tapi setidaknya ini bisa sedikit membantu. Kau bisa bekerja untuk mencari tambahannya Chanyeol. Nanti jika kau sudah punya uang, kau bisa langsung mengembalikannya padaku."

Chanyeol terdiam, dengan ragu akhirnya ia menerima uang pemberian dari Irene.

"Aku janji akan mengembalikan uangmu secepatnya."

Irene tersenyum. "Tidak perlu dipikirkan Chanyeol. Sebaiknya sekarang kau pulang, kau bisa mencari pekerjaan besok. Jangan terlalu memaksakan diri. Kasihan istrimu, dia pasti sangat khawatir sekarang."

Chanyeol mengangguk. "Kalau begitu aku pamit pulang. Sekali lagi terimakasih Joohyun ah."

.

.

.

"Chanyeol akhirnya kau pulang hiks."

Baekhyun berucap syukur di dalam hatinya, ia bersyukur karena Chanyeol akhirnya pulang. Sedari tadi perasaannya benar-benar dibuat kalut dan khawatir karena diluar benar-benar sedang hujan deras.

"Chanyeol dahimu terluka.. " ucap Baekhyun yang terlihat sangat khawatir.

"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir."

Baekhyun melihat penampilan Chanyeol dari atas kebawah. "Tubuhmu basah kuyup, sebaiknya kau mandi dengan menggunakan air hangat agar tidak sakit. Biar aku siapkan air hangatnya sebentar."

.

.

.

Setelah selesai mandi, Chanyeol langsung membaringkan tubuhnya diatas kasur, kali ini ia tidak tidur sambil bertelanjang dada seperti biasanya. Ia memakai pakaian training panjang berwarna hitam yang hangat. Jujur Chanyeol merasa kedinginan, tubuhnya pun mulai terasa menggigil.

Baekhyun yang melihat itu semakin dibuat panik dan khawatir. Ia lantas langsung memeluk tubuh besar sang suami dengan posesif mencoba menyalurkan kehangatan untuk sang suami.

"Kau terlalu memaksakan diri Chanyeol ah, kau bisa bercerita padaku jika kau sedang ada masalah. Jangan simpan semuanya sendiri."

Mendengar itu, Chanyeol lantas ikut memeluk tubuh Baekhyun erat. Ia sembunyikan wajah tampannya di perpotongan leher Baekhyun mencoba mencari kehangatan.

Baekhyun menangis dalam diam. Ia kecup rambut sang suami berulang-ulang sambil terus memeluknya erat. Ia tidak tau kenapa ia menangis, dia hanya tidak ingin pria yang ada dalam pelukannya saat ini terluka. Ia tidak ingin jika Chanyeol merasa sedih, karena itu akan membuat hatinya juga ikut bersedih. Apapun akan ia lakukan agar pria yang sudah mengorbankan banyak hal untuknya ini bahagia.

Ya, Baekhyun hanya ingin Chanyeol merasa bahagia.

Ia bergumam dalam hati...

'Semuanya akan baik-baik saja Chanyeol ah, semuanya akan baik-baik saja.'

.

.

.

.

.

TBC

Konflik sedikit demi sedikit udah mulai muncul. Please jangan ada yang bilang konfliknya berat karena menurut author konfliknya ga berat sama sekali wkwk.

Silahkan review jika kalian berkenan, thanks buat yang udah ninggalin jejak di chapter kemarin. :)

See you in the next chap ~

Bye Bye :)