BLEACH -0- TITE KUBO

.

Snowflakes

Warning: Ada scene di bagian terakhir part ini yang tidak cukup baik untuk dibaca pembaca di bawah umur 18 tahun (menurut saya, sih)

[AU, OoC. Tidak ada keuntungan materi yang saya ambil dari fiksi ini, hanya untuk kepuasan dan kesenangan semata pada pairing pilihan saya]

.

Part 11

.

.

Memulai pagi ke empat di kediaman Kurosaki membiasakan Rukia bangun lebih awal dari biasa yang ia lakukan di rumah sendiri.

Kecanggungan masih membayangi hubungannya dengan keluarga baru, Rukia memasang senyum ceria ketika matanya menemukan sosok kakak iparnya yang sedang bergerak ke sana kemari menemani Kak Hisana menyiapkan sarapan pagi. Untuk kesekian kalinya ia dikalahkan Isshin. Padahal jam weker sudah ia nyalakan lebih pagi demi mewanti-wanti agar bangun lebih dulu dari saingannya—dalam hal ini saingan membantu kakak perempuannya, tentu saja.

Dulu tiap akan menyiapkan sajian makan, ia selalu berusaha keras tidak melalaikan kewajiban itu. Namun sekarang, Kak Hisana memiliki seseorang di sampingnya. Bukan seseorang, melainkan beberapa orang. Kini, Rukia melirik ke arah Karin yang sibuk mengoles rotinya dengan selai kacang.

"Pagi, Bibi!" Karin tidak memandang ke arahnya, meski suara lantangnya terus bicara. "Kau suka sekali bangun kesiangan ya? Tapi tidak apa," kata-kata itu membuat Rukia tersinggung. "Kemarilah! Kubuatkan kau roti lezat. Kau suka selai kacang, nanas atau stoberi?" tawaran itu bukannya menyenangkan hati Rukia, ia malah kian jengkel.

"Buatkan dia roti selai kacang ya, Karin!" dari jauh Kak Hisana menatap sekilas pada Rukia tanpa menghilangkan senyum simpulnya.

"Tidak perlu. Biar aku sendiri yang melakukannya."

Rukia menggeser ke belakang kursinya kemudian duduk di kursi yang ia pilih. Sebelum benar-benar meletakkan tubuhnya di kursi, Karin mengiterupsi pergerakannya. "Jangan duduk di situ Bi, duduklah di seberangku. Di sana kursi milik Kak Ichigo."

Dahi Rukia mengerut dalam. Sudah beberapa kali Karin menyela segala tingkah lakunya, terdengar seperti kalimat perintah. Tak ingin mengacaukan suasana, Rukia menarik napas dalam lalu mengikuti suruhan Karin.

Ia melirik pada Kak Hisana yang sibuk menyedu teh di konter dapur. Belum memusatkan perhatiannya pada sosok Rukia. Hingga setitik perasaan kecewa menyusup dalam hatinya. Dulu, biasanya hanya ada kursinya dan kursi Kak Hisana. Selalu makan berhadapan, atau jika sedang ingin bermanja, ia akan duduk bersebelahan dengan Kak Hisana meminta disuapi sementara tangannya sibuk menyelesaikan PR yang belum ia kerjakan.

Rukia memberengut, mengenang hal lalu sama sekali tak menyamankan hati.

Sejak menghabiskan waktu makan bersama keluarga, mereka akan berada di posisi yang sama. Kakak iparnya akan menduduki kursi tunggal di ujung meja, Kak Hisana di sebelah kiri berdampingan dengan Karin. Sedangkan di sebelah kanan kursi milik Ichigo, dan ia sendiri duduk di kursi sebelahnya.

Tiga hari ini pula selama makan bersama emosinya terkuras habis melihat keakraban Kak Hisana dengan putri tirinya. Meski sesekali Kak Hisana menunjukkan kepedulian pada dirinya, namun itu tak sebanyak dulu.

Dulu, dulu, dulu! Untuk apa menggunakan kata itu? Jika dirinya harus menghadapi masa kini!

Bergulir pada empat piring terisi roti berselai, Rukia memprotes roti punya Kak Hisana yang berselai kacang. "Kak Hisana tidak suka selai kacang," cela gadis itu memicingkan mata pada Karin.

"Kakak suka, kok. Karin terlihat benar-benar menyukai selai kacang, jadi kakak juga ingin mencobanya." Sembari mengelus rambut hitam Karin, Kak Hisana menyodorkan minuman masing-masing yang ia buat beberapa saat lalu. Sepoci kopi untuk suaminya. Tiga poci teh untuk dirinya, Ichigo dan Rukia serta— "Ini segelas susu cokelat peninggi badan untuk Karin," dengan gemas Kak Hisana mengacak rambut Karin, kembali membakar hati adik perempuannya yang sedang menatap iri.

"Walaupun minum susu kalau kerjanya hanya berlari mengejar bola, itu tidak akan menambah tinggi badannya, Bu!"

"Kak Ichigo jahat!"

Ichigo muncul dari ruang keluarga. Menarik kembali kesadaran Rukia. Langkahnya begitu santai mendekati meja makan.

"Aku tidak jahat," sungut Ichigo seraya menimpal kembali ucapan sebelumnya, "mestinya kau ikut klub renang atau lompat tali biar cepat tinggi."

"Lompat tali? Mana ada klub lompat tali, kakak bodoh."

"Sudah, sudah. Ayo makan!" Ibu tiri mereka menengahi, menyudahi perdebatan kecil di meja makan kemudian memanggil serta suaminya, "Suamiku, apa kau sudah selesai? Cepatlah kami menunggumu!"

"Oke! Aku segera dataaaang~" berhati-hati Isshin membawa sebuah piring. Lantas meletakkannya di hadapan Rukia dengan gaya pramusaji handal, "Telur mata sapi untuk adik tercinta. Taraaaaa."

Dada Rukia bergetar. Bola matanya memanas menatap makanan kesukaannya bersanding dengan semangkuk kecil nasi.

"Maaf, ya. Kami baru tahu kalau kebiasan pagi Rukia adalah nasi dan telur. Pantas dari kemarin kau terlihat tidak bersemangat sarapan. Harusnya Rukia memberitahu kalau tidak suka sarapan roti. Hisana bilang, Rukia tidak akan keberatan dengan roti, tapi—aku tidak suka melihat wajah murung Rukia saat duduk di meja makan. Bersemangatlah, Rukia! Rasakan telur mata sapi penuh cinta ala kakak iparmu ini!" Panjang lebar Isshin menjelaskan, lalu menegaskan ajakannya pada anggota keluarga lainnya.

"Mari kita makan!"

Menarik napas dalam, Rukia pun tersenyum getir. Matanya nanar membelah kecil-kecil telur mata sapi buatan sang kakak ipar. Perasaan kecewa beberapa menit lalu berganti haru. Ia sangat ingin menangis sekarang.

"Ada apa?" Ichigo menegur, tatapannya cemas saat kedua mata Rukia begitu lama terpejam sambil mengunyah telur mata sapi.

Hanya gelengan kepala yang bisa dijawab Rukia sebagai tanda bahwa 'tidak ada apa-apa'

Agak curiga pada hasil masakan ayahnya. Ichigo mencabik sepotong telur mata sapi tadi menggunakan garpu lantas mencicipinya.

Jerit histeris Ichigo akhirnya menyusul, "ASIN SEKALI!"

Mengalihkan perhatian pada mimik kaget kepala keluarga Kurosaki.

.

.

.

"Ah, sial!"

Mengumpat kecil pada ponsel yang baru saja ia matikan, Ichigo menginjak-injak rerumputan kebun belakang kampus. Sungguh geram pada misi ingusan kali ini yang tak kunjung selesai sementara kawan-kawannya di luar negara sana sudah menemukan titik terang.

Selain mulai terkuaknya informasi jaringan narkoba berkat interogasi alot Hisagi dan Renji dengan dua tersangka sebelumnya, mereka menangkap seorang perempuan bermarga Schiffer. Kalau mereka sudah bergerak jauh bisa-bisa anak ingusan seperti Grimmjow akan semakin berhati-hati dan ia semakin kesulitan mencari cela.

Bagaimana mungkin ia menangkap tangan targetnya kali ini jika di sekitarnya tak ada bukti? Ia menendang udara kosong di depannya kemudian merangkum gemas kepala berambut jingganya, napasnya terembus halus, mendesah berat.

"Kau kenapa?" mendengar kalimat tanya dari seseorang yang suaranya sangat ia kenali membuat Ichigo enggan menoleh. Rukia datang menghampiri, berdiri di sampingnya.

"Sudah kubilang jangan dekat-dekat denganku kalau di kampus, Bibi."

Rukia mengembungkan pipinya jengkel. "Maaf. Aku hanya ingin menanyakan perkembanganmu mencari kakak kembarku. Rasanya tidak enak membicarakan hal ini di rumah, aku takut Kak Hisana mendengarnya."

"Kapan kau selesai kuliah?"

"Uhm—aku bertekad menyelesaikan kuliahku empat tahun," jawab Rukia terdengar ragu, dahinya mengernyit serius.

"Bukan itu maksudku! Maksudku kapan kau selesai belajar hari ini?!" kali itu Ichigo menoleh pada Rukia. Menyemburkan kata-kata ketus seraya menatap gadis itu dengan tatapan 'dasar bodoh!'

Mata Rukia mengerjap. Memangnya sebanyak apa masalah yang ia simpan sampai-sampai salah menanggapi pertanyaan Ichigo. Memandang Ichigo dengan mata memicing, Rukia menjawab datar. "Oh, jam dua nanti sepertinya sudah pulang."

Ichigo menghela napas sembari menggeleng-geleng lemah ia beranjak pergi dari hadapan Rukia.

"Tunggu aku di halte kompleks Karakura jika sudah pulang. Nanti kutelepon lagi." Tanpa menunggu lebih lama sahutan dari Rukia, ia berlalu pergi. Meninggalkan Rukia terpaku sendirian memandangi punggungnya.

Jam mata kuliah segera dimulai, sayangnya Ichigo belum menangkap sosok Grimmjow Jaegerjaques. Menguap bosan dan berusaha bersabar menunggu ia mengamati beberapa mahasiswa di depannya.

Ini Kampus Seni, kira-kira apa yang mendorong lelaki seperti Grimmjow belajar di sini? Musik, drama, seni rupa? Atau apa—euhm, Ichigo bersedekap jemarinya menggaruk dagungnya, pose berpikir. Ya ampun, bahkan sampai hari ini pun ia tidak memperhatikan tulisan besar di cover buku teman-temannya.

Entahlah. Ia tidak terlalu peduli. Beruntung pengajar-pengajar di sini bukan tipe pendidik yang harus berkeliling ruangan mencari-cari kesalahan mahasiswanya.

Pengajar mata kuliah jam pertama telah memasuki kelas, namun lelaki berambut biru itu belum juga muncul. Ichigo berakhir dengan penampilan wajah mengerikan ketika otaknya menyimpulkan bahwa anak itu tidak masuk hari ini! Tanpa berlama-lama duduk mendengarkan ceramah pengajar di depan sana, ia lekas beranjak meninggalkan mejanya. Ia meninggalkan kelas dengan alasan seperti biasanya, tidak enak badan.

Ichigo berjalan gontai sembari berpikir keras mencari cara untuk menyelesaikan kasus ini. Kriminalitas yang terlalu banyak intrik seperti ini sungguh di luar batas otaknya. Ia lebih suka menggunakan tenaga otot, menyergap langsung, menghabisi pelaku kriminal satu lawan satu bukan diam-diam begini, pakai acara menyamar pula.

Baik, terakhir ia menemukan Grimmjow bertengkar dengan Sarugaki—perempuan berambut kuning dengan kuncir dua yang mencuat seperti nanas, astaga itu mengingatkan Ichigo pada Renji. Kemudian ia mendapati laki-laki itu berbicara akrab—setidaknya itu berdasarkan analisis Ichigo sendiri—dengan perempuan berambut cokelat, rambutnya tersanggul rapi, dari pakaian dan penampilan tampaknya seperti perempuan baik-baik, berbanding jauh dengan Sarugaki. Perempuan itu juga berteman dengan Rukia. Hinamori Momo, uhft, apa perlu dia melakukan pendekatan agar menemukan jalan? Mencari tahu sedikit tentang hubungan Hinamori dan Jaegerjaques, juga Sarugaki. Mungkin dia bisa memanfaatkan pertemuan mereka waktu itu di ...

Perpustakaan!

"Dengarkan aku, Hiyori. Tidak seharusnya kau membangkang—aaw! Hiyori!"

Belum sampai pada tujuan ke perpustakaan, Ichigo terkejut ketika tubuh mungil Hinamori Momo terhuyung ke belakang setelah didorong oleh Sarugaki. Beberapa modul tebal berserakan di sekitar tubuh Hinamori.

"Hei!" teriakan Ichigo menghentikan pembicaraan keduanya, Ichigo tidak sempat berpikir apakah dirinya perlu menolong Hinamori atau mendengarkan isi pembicaraan mereka lebih dulu. Ia sontak mendekati tubuh Hinamori sementara Sarugaki lekas pergi dari hadapan gadis bercepol itu. "Kau tidak apa-apa, Hinamori?" Ichigo berjongkok sembari membantu Hinamori yang mengumpulkan modul-modul berserakan.

"Tidak apa-apa. Terima kasih, Kurosaki."

Ichigo tersenyum tampan membuat kedua pipi Hinamori merona.

"Gadis itu kasar sekali," komentar Ichigo berlanjut. Ia mencoba merangkum tubuh Hinamori agar bisa berdiri, tubuh kecilnya tampak oleng ketika ia menggerakkan kakinya. Dan untuk kedua kalinya gadis itu hampir terjatuh jika saja Ichigo tidak menahan tubuhnya agar tidak terhempas lagi. "Kakimu terkilir, sebaiknya ke ruang kesehatan untuk diperiksa."

"Ya, kau benar. Pergelanganku sakit."

"Kau masih bisa berjalan?"

"Akan kucoba—ah, aduuuh!" Hinamori tersenyum miris, dia sungguh-sungguh kesakitan.

"Tunggu," kali itu Ichigo berinisiatif, ia menyodorkan agenda kecil miliknya pada Hinamori, "Tolong pegang agendaku." Hup! Sekali hentakan, perempuan itu berada dalam gendongan Ichigo. Pipinya kembali memerah matang. "Apa kau tahu dimana ruang kesehatannya?"

Hinamori mengangguk kecil tidak berani menatap mata lelaki yang menggendongnya.

.

Dari kejauhan Rukia mengeratkan pegangan tasnya. Semula ia cemas mencari Momo karena tadi Sarugaki mengajak gadis itu bicara dengan wajah yang tampak kesal. Tapi sepertinya ia tidak perlu cemas lagi. Momo di sana bersama seseorang yang menggendongnya.

Niat untuk membantu Hinamori yang terhuyung tadi luntur seketika. Sebaiknya tidak usah mencari tahu keadaan Momo, gadis itu pasti akan sembuh setelah dibawa ke ruang kesehatan. Ia harus ke kelas dan memintakan izin pada pengajar walaupun Momo tidak memberitahunya.

Duduk memperhatikan penjelasan, Rukia mencatat beberapa istilah-istilah penting yang diterangkan oleh pengajar. Kendali fokusnya meningkat dari hari-hari biasa. Konsentrasi mata dan pikiran Rukia tertuju hanya pada Madam Aragaki di depan sana.

Ada banyak pengetahuan seni yang perlu ia dalami termasuk biografi para seniman. Bagian pembelajaran paling membuatnya antusias agar ditiru. Ada seniman murni, juga populer, begitu penjelasan Madam Aragaki. Seniman murni yang menikmati karya miliknya untuk dirinya sendiri sedangkan bagian lainnya mengandalkan karya seninya untuk nilai royalti—semakin tinggi royalti yang ia dapat maka semakin gila-gilaan ia bekerja, seperti pemain drama populer. Sampai pada kesimpulan ini, anehnya justru menimbulkan keraguan bagi Rukia. Dia memang bisa memanipulasi sikapnya tetapi bukan berarti ia tertarik menjadi pemain drama.

Memasuki inti penjelasan selanjutnya, Madam Aragaki menerangkan bagaimana sejarah teater dunia di mulai, salah satunya Negara Mesir yang masih menyimpan naskah tertua tentang teatrikal ritual para dewa. Merangkai sedemikian kalimat untuk dijelaskan pada mahasiswanya mengenai unsur-unsur penting dalam teater, Madam Aragaki melakukannya dengan sangat baik. Itu tidak mudah. Menjadi pengajar. Seorang sensei?

Topik berlanjut ketika suara lembut Madam Aragaki mengemukakan bagaimana karakter seorang Tuan Puteri begitu dominan dalam dongeng anak-anak.

"Menjadi The Princess haruslah punya aura kelembutan. Jangan terlihat manja, apalagi mengeluarkan rengekan. Cara berjalan yang anggun dan berkharisma akan menarik mata para penonton hanya tertuju pada The Princess. Berbicaralah yang tegas namun menyentuh hati lawan bicara, itu akan semakin mengesankan. Maka ketika kalian mendapatkan peran The Princess yang sesuai dengan karakter ini, kalian bisa berlatih denganku." Madam Aragaki tersenyum tipis, matanya memicing seakan mengintimidasi bahwa dia memiliki sifat yang persis sama dengan The Princess yang ia paparkan. Rukia mencatat beberapa hal penting dari penjelasan tersebut. Jemarinya begitu terampil menulis dan matanya terus berbinar memandangi Madam Aragaki mulai bersikap selayaknya The Princess.

Sampai akhirnya pelajaran usai saat Madam Aragaki baru saja akan menjelaskan materi yang lainnya.

Sementara teman lainnya menyahuti salam penutup dari guru wanita cantik itu, Rukia merasakan ponsel di saku tasnya berdering memperingatkan.

Sepertinya hari ini aku tidak bisa memenuhi jam mata kuliah. Kuchiki, tolong beritahu pada pengajar kalau kakiku sedang sakit. Terima kasih!

Pesan singkat dari Hinamori.

Tadi aku mencarimu. Kuharap kau tidak sendirian saat pulang.

Rukia membalas, tak sampai satu menit ia mendapat balasan.

Kurosaki Ichigo mengantarku. Kyaaaauu, kau tahu dia 'kan? Laki-laki yang kukenalkan padamu di perpustakaan waktu itu.

Hidung Rukia mengernyit. Tentu saja dia mengenal Kurosaki Ichigo.

Hati-hati, Hinamori. Laki-laki itu berwajah berandalan. Kalau dia macam-macam tendang saja wajahnya! Semoga selamat sampai tujuan. Jangan khawatirkan tim pengajar, mereka pasti mengizinkan :)

Terselip emotikon senyuman di akhir pesan yang agak panjang itu. Agak lama menunggu balasan pesan yang tak datang-datang, Rukia menghela napas. Kurosaki Ichigo—lelaki itu ternyata tidak bisa ditebak maunya apa.

Dan Hinamori Momo menyukainya. Itu terlihat jelas.

Rukia beranjak dari tempatnya melangkah ke tepian jendela kelas. Menghirup udara segar dengan latar langit biru di atas sana, Rukia mendongak khidmat pada awan yang melayang anggun. Dahinya mengerut dalam sementara kesepuluh jemarinya menggenggam erat kusen jendela. Berpikir lebih banyak tentang perasaan Ichigo padanya selama ini. Apa secepat itu, ya?

.

.

.

"Terima kasih banyak, Kurosaki."

"Tidak perlu begitu. Rumahmu bagus ya."

Hinamori tersenyum kecil. Langkahnya mengimbangi langkah-langkah panjang Ichigo di sampingnya, "Begitu ya. Kapan-kapan aku juga ingin melihat rumahmu."

"Oh—hahaha, boleh saja. Terima kasih juga sudah memberiku makan." Ichigo menundukkan kepala sembari menggaruk rambutnya yang tak gatal, ia bergerak mundur kemudian berpamitan. "Semoga kakimu cepat sembuh. Aku harus pulang."

"Ya."

Tidak melanjutkan obrolan lagi, Ichigo berlari pulang. Perasaannya berubah senang. Ada sedikit informasi yang ia dapat berkat percakapan basa-basinya dengan Hinamori. Pun pertanyaan santai yang ia coba lontarkan pada Hinamori tak disangka memberinya beberapa langkah informasi penting. Termasuk tempat tinggal Jaegerjaques, juga hubungan mereka dengan perempuan berandal berambut kuning itu.

Ia berusaha mencapai halte dengan gerakan tercepatnya. Menunggu bis yang akan membawanya menuju Kantor Kepolisian tempatnya bekerja. Seringai kecil tersampir di bibirnya karena akhirnya yang ia lakukan berhari-hari menjadi bocah mahasiswa tidaklah sia-sia.

Tiba di kantor kepolisian dengan semangat membara ia tak menggubris salam dari beberapa temannya. Ayunan langkahnya terus melewati kubikel-kubikel rekan seprofesinya begitu mantap. Hingga ia memasuki ruangan Ketua Kenpachi tanpa mengetuk pintu lebih dulu.

Renji, Shuuhei, juga Ketua Kenpachi sudah berada di dalamnya.

"Sudah dapat berita bagus, Kurosaki."

Ketua Kenpachi memicingkan mata, tampak tidak suka dengan sikap kurang ajar Ichigo yang langsung menggebrak masuk ruangannya tanpa mengetuk pintu.

"Tentu saja!"

Kemudian kedua rekan lainnya saling berpandangan satu sama lain. Mengulang dan menentukan kembali rencana mereka selanjutnya, meski mereka belum tahu informasi seperti apa yang Ichigo dapatkan.

"Kuharap bukan hanya sekedar alamat rumah target," cicit Renji meremehkan.

"I-itu sih salah satunya, dan kurasa itu cukup penting," semangat menurun kentara dari cengiran kikuk Ichigo. "Lagipula aku menemukan sindikat narkoba lainnya, tapi sepertinya mereka hanya sebagai kurir."

Shuuhei dan Renji mengalihkan tatapan mereka pada sosok Ketua Kenpachi. "Ketua—" hingga Hisagi Shuuhei menyadarkan Sang Ketua dari pemikirannya sendiri.

"Ceritakan apa yang kautemukan, Kurosaki Ichigo."

Ketua Kenpachi menegakkan punggungnya yang semula bersandar nyaman di kursi. Menatap tajam pada sosok anak buah kesayangannya itu.

.

Lebih dari itu, cerita yang ia dengar dari Hinamori bahwa Sarugaki adalah bagian dari kurir barang haram bukan informasi ringan. Begitu penting sampai-sampai menyeret kasus ini pada puncak penyelesaian.

"Kau bilang Jaegerjaques, Sarugaki dan Hinamori dulu teman satu SMU 'kan? Maka benar bahwa sindikat ini memang berada dalam satu organisasi. Ketua Kenpachi dan ketua divisi lainnya sejak awal menyelidiki keterlibatan Sousuke Aizen, dia pemilik yayasan SMU Hueco Mundo. Tempat dimana Jaegerjeques dan dua teman perempuannya bersekolah." Penjelasan panjang Shuuhei berakhir ketika Renji muncul dari balik pintu atap gedung dengan tiga kaleng kopi dingin.

"Dan alasan kenapa mereka bertiga berada dalam satu universitas, itu mungkin bukan informasi penting yang harus Ketua ketahui," Renji melanjutkan, menghampiri Shuuhei seraya memberikan sekaleng kopi dingin.

"Jadi Jaegerjaques sejak SMU pindah ke Jepang?" Ichigo bertanya ragu sambil menekan-nekan pelipisnya, pusing mulai menghimpit isi kepalanya. "Gadis Hinamori itu sebetulnya sudah dicurigai, tapi hanya sebagai saksi, dia sempat diisukan berhubungan dengan Aizen. Entah sebagai apa, tapi sepertinya dia tidak terlibat dalam kasus ini." Kembali Ichigo mengulangi pernyataan Ketua Kenpachi sebelumnya, "Ya, ampun! Jadi Ketua Sialan itu sudah tahu sampai sejauh ini?! Lalu kenapa dia mengirimku ke kampus itu?!" Makian itu tinggi seolah akan menembus langit ke tujuh, Ichigo menggeram frustasi. Dia benar-benar merasa dimanfaatkan.

"Dia mengirimmu hanya untuk memastikan kecurigaannya. Kurasa hanya itu," dengan enteng Renji menimpali. Seraya menyodorkan sekaleng kopi dingin, "Dinginkan dulu kepalamu, Ichigo. Yang jelas kau tidak perlu melanjutkan tugas menyamarmu. Ahahaha." Saran Renji kemudian, diselingi tawa menghina.

"Kau terlalu menggebu-gebu. Ketua tidak mengirimmu bersama kami karena sikapmu yang selalu bertindak lebih dulu sebelum berpikir," ejekan yang ditambahkan Shuuhei malah menambah suasana buruk di hati Ichigo.

"Kalian ini!" Tak sabar Ichigo berteriak marah pada keduanya.

"Daripada itu—kami punya kabar baik untukmu."

Kemarahan Ichigo menguap saat Renji menunjukkan selembar foto.

.

.

Laju bis yang ditumpangi Rukia berhenti di halte tujuan. Ransel kecilnya tersampir di kedua pundak. Memunggungi bis di belakang yang mulai melanjutkan perjalanan ke halte berikutnya. Lebih dari lima belas menit ia membutuhkan waktu untuk sampai di sini, dan sekarang jam digital di ponselnya menunjukkan pukul dua lebih dua puluh tiga menit.

Tidak seperti siang yang diterangi matahari terik, kali ini matahari terlihat ditutupi banyak awan kelabu.

Duduk di bagian pinggir bangku halte, Rukia menunggu kedatangan Ichigo. Laki-laki itu berjanji meneleponnya ketika jadwal kuliahnya selesai pada pukul dua. Namun, sampai sekarang Ichigo belum menghubunginya sama sekali. Mungkin sebentar lagi dia akan datang, begitu pikir Rukia.

Jika laki-laki itu tidak menelepon itu mungkin saja menandakan bahwa dia sedang dalam perjalanan datang kemari. Masih dengan kemungkinan-kemungkinan itu, Rukia pun belum berniat menghubungi Ichigo lebih dulu. Biarkan dirinya menunggu sebentar lagi.

Sepuluh menit...

Sampai dua puluh menit berikutnya, bahkan empat puluh menit berlalu, tak ada tanda-tanda lelaki berambut oranye itu menunjukkan batang hidungnya. Dengan gemas akhirnya Rukia mengalah untuk menelepon Ichigo. Sialnya lagi, ponsel Ichigo malah tidak aktif! Yang benar saja!

Rukia berdiri dari duduknya, hembusan kasar meniup helaian poni yang membujur di hidung mungilnya. Ujung hidungnya kembang kempis menahan kesal. Ia bersedekap lalu memilih untuk berhenti menunggu, "Sebaiknya aku pulang." Putusnya terdengar jengkel, gigi-giginya bergemerutukan.

Beberapa menit berdiri diam, mengabaikan perhatian beberapa orang yang tengah menunggu kedatangan bis selanjutnya, ia memaku dirinya di tempat.

Memikirkan kembali kesia-siaannya menunggu, benar—percuma saja ia menunggu lama kalau tidak bertemu lelaki itu di sini. Sabar, Rukia, sebentar lagi Ichigo pasti datang. Muncul urat bersudut siku-siku di dahinya.

Ia mengembuskan napas kasar kemudian duduk manis kembali di bangku halte.

Kesabaran Rukia lagi-lagi diuji. Baru saja terduduk manis, mendadak titik-titik hujan berjatuhan. Seolah menyadarkannya bahwa ia memang harus bersabar sedikit lagi. Yeah, rasa-rasanya tidak begitu rugi apalagi hujan terlanjur turun. Cuaca sedang memburuk seperti keadaan hatinya.

Kepalanya mendongak ke arah langit. Hujan tidak begitu deras. Hanya gerimis yang kadar airnya cukup tinggi, dan itu cukup untuk membuat orang-orang kebasahan. Suhu perlahan mengigit tulangnya. Angin bertiup di penghujung musim semi. Terasa agak dingin.

Sungguh sudah mulai dingin—Ichigo tega sekali membiarkannya menunggu terlalu lama. Dengan terpaksa akhirnya Rukia mencoba kembali menggunakan ponsel.

Alat komunikasi berbaja putih itu mulai menununjukkan fungsi.

Layarnya memperlihatkan nama kontak Kurosaki Ichigo, hingga beberapa detik ponsel itu tertempel di telinga, gadis itu justru tak mendapatkan sambutan orang yang ia hubungi. Respon yang didapatkan cuma sepenggal kalimat dari suara operator di seberang sana. Maaf nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi. Apa-apa'an ini?!

Nyaris saja ia membanting ponsel kesayangannya saking geramnya pada tingkah bocah polisi itu.

Tak ingin menyerah, Rukia kembali menghubungi Ichigo. Masih belum ada respon. Jawaban yang sama dari operator. Dicoba lagi hasilnya tetap sama. Coba lagi, coba lagi, coba lagi! Lebih dari delapan kali ia mencoba. Berakhir dengan kemarahan yang menelan wajah merahnya, flip ponsel pun ia tutup.

Kurosaki Ichigooooo—jeritnya dalam hati.

Orang itu sungguh mengesal—

"Rukia!"

Mata Rukia terangkat. Ichigo datang dengan wajah lelah dan jaket kulitnya basah, hal yang sama juga terjadi pada rambutnya. Ia lekas berteduh di bawah atap halte seraya mengacak-acak rambutnya sendiri hingga percikannya mengenai Rukia.

"Kau terlambat," rahang gadis itu mengeras dengan mata melirik tajam ke arah Ichigo. "Sebaiknya pulang saja."

"Maaf ya. Tadi aku meminjam motor Renji—ahh, sialan! Motornya malah kehabisan bensin." Ichigo menjelaskan. Jempolnya terarah pada motor berwarna platinum yang terparkir di tepi halte. "Untung tidak terlalu jauh dari halte jadi aku menyeretnya sampai di sini." Penjelasan panjang lebar itu terdengar omong kosong di telinga Rukia yang meresponnya hanya dengan sikap membisu. "Kau—marah?" setelah menjelaskan itu, Ichigo baru menyadari kebisuan Rukia. Tatapan tajam perempuan itu berubah mengerikan.

Ichigo menelan ludah.

"Aku mau pulang."

Tanpa menjawab pertanyaan Ichigo, Rukia melangkah keluar dari halte menyebabkan tubuhnya mulai tersiram gerimis.

"O-oi! Jangan begitu Rukia, aku sudah berusaha datang tepat waktu tapi ada hal yang harus kuselesaikan." Menyamai langkah kecil si gadis Kuchiki, Ichigo mencoba menarik pergelangan mungilnya, berusaha membawa kembali berteduh. "Lagipula masih hujan, kita bisa duduk sebentar sambil bicara."

"Tidak usah. Harusnya kau menelepon kalau memang ada urusan yang lebih penting."

"Bukan begitu—"

"Kutelepon berkali-kali ponselmu malah tidak aktif. Kau sengaja melakukannya 'kan?"

"Ponselku—ah ya, tadi memang sengaja tidak kuaktifkan karena—"

"Tuh 'kan kau memang sengaja!" Tunjuk Rukia gemas di dahi Ichigo, pundaknya yang dilapisi dress merah muda sudah lembab karena separuh tubuhnya tidak terlindungi atap halte.

Samar-samar bisikan calon penumpang bis di halte itu terdengar mengganggu.

'Wah-wah pertengkaran sepasang kekasih.'

'Tidak tahu malu sekali mereka adu mulut di tempat umum.'

'Pria tampan seperti itu kok dimarahi. Kalau tidak mau untukku saja.'

'Mereka sepertinya mau putus.'

Rukia menghela napas. Tidak seharusnya ia marah-marah di tempat umum begini.

"Lain kali saja kita bicara lagi."

Wajahnya bersungut-sungut menghindari berbagai macam tatapan dari orang-orang. Untung tidak ada yang ia kenal. Agak berlarian kecil menghindari tatapan-tatapan itu, Rukia mengabaikan seruan pria yang mengejarnya.

"Oi, bajumu sudah basah. Pakai ini!" Sebuah jaket milik Ichigo terpasang menutupi kepalanya, "Nanti kau kena flu." Keduanya sudah berada di belokan blok menuju rumah.

"Tidak usah. Aku tidak akan sakit hanya karena hujan."

Kaget pada reaksi Rukia yang dengan kasar mengembalikan jaketnya, Ichigo menarik keras lengan gadis itu. "Terlalu percaya diri itu tidak baik, Bibi."

Taak!

Tulang kering kaki Ichigo menjadi sasaran kemarahan Rukia. "Ah—aaaw!" Ichigo memekik tertahan, memegangi kakinya yang kesakitan, ia kembali menyajari langkah Rukia yang berada di depannya. "Hei, kau tidak perlu marah begitu."

"OHH! Yuhuuuu, wow~ pakaian dalamnya berwarna cokelat, itu cantik sekali Nona Manis." Komentar dua pengendara sepeda melewati jalan khusus sepeda tertuju pada sosok Kuchiki Rukia. Tubuh basah Rukia terang saja mengundang perhatian. Ukuran dadanya terjiplak jelas di busana berbahan halus yang ia pakai dan akibat guyuran gerimis maka warna cokelat muda tampak begitu bersinar di balik baju merah mudanya.

Cepat gadis itu menyilangkan kedua lengannya di depan dada. Ia tak sempat meneriaki kedua remaja sialan tadi karena mereka sudah memacu sepeda terlalu jauh.

"Sudah kubilang pakai ini!" Paksa Ichigo memasangkan jaketnya di tubuh dingin Rukia, "Jangan khawatir. Kurasa tidak ada yang bisa dilihat oleh mereka dari dada rata mu itu."

Buuk!

Kali itu tinju Rukia menghantam dagu Ichigo.

.

.

.

Rukia masih marah sampai-sampai tidak ikut makan malam dan Ichigo merasa tidak enak hati. Ditambah lagi kepalanya berdenyut pening. Hidungnya agak gatal dan—"HATCHII!" ia mulai bersin-bersin.

Padahal saat makan malam tadi tubuhnya tidak selelah ini. Ichigo memijat-mijat pangkal hidungnya. Pundaknya agak pegal dan persendiannya terasa ngilu. Ada banyak beban di otaknya yang masih tersimpan, beban-beban itu sungguh memusingkan.

Setelah menutup agenda berisi catatan penyeledikannya atas kasus bisnis gelap narkoba juga menaruh kembali selembar potongan koran bergambar seseorang di tengah lembaran agenda, Ichigo tertatih-tatih mendekati ranjang tidur. Ini waktunya tidur. Ia membutuhkan tidur untuk merelaksasikan diri.

Sayangnya kelopak mata terpejam tak kunjung meredakan sakit kepala. Ia perlu meminum obat pereda sakit kepala. Sekilas memperhatikan jam weker yang menunjukkan pukul sepuluh lebih, ia berusaha duduk di di tepi ranjang sejenak sebelum kemudian benar-benar berdiri.

Ini sudah cukup larut, semua orang pasti sudah tertidur nyenyak. Lagipula ia tidak ingin merepotkan—yeah, cukup berjalan menuruni tangga lantas ke dapur ia akan menemukan sepaket obat di dalam lemari penyimpanan.

Rasa gerah ikut mengusik suhu tubuhnya. Kaos tidurnya lembab. Dan bersamaan kegerahan itu ia juga merasakan suhu tubuhnya dingin.

Ichigo memegangi pegangan tangga, undakan demi undakan seakan menjadi lebih banyak dari biasanya.

Cahaya... dengan mata memicing Ichigo mendekati ruang dapur yang diterangi cahaya lampu. Siapa yang belum tidur? Ibu Hisana? Ayah? Karin ataukah...

"Oh, rupanya kau," langkah Ichigo berhenti sebentar, memperhatikan dahi Rukia yang mengerut dalam menatap angkuh padanya. "Sepertinya kau sangat kelaparan."

Semangkuk nasi sudah Rukia habiskan bersama sup buatan Kak Hisana. Sangat pelan ia membenahi sisa makannya takut-takut bunyi peralatan makan membangunkan orang-orang seisi rumah. Ichigo berjalan semakin dekat, deru napasnya sudah seberat kakinya yang enggan melangkah.

"Bisa menolongku, Bi? Tolong ambilkan obat sakit kepala di rak penyimpanan di atas sana," pinta Ichigo dengan ekspresi wajah menyakitkan. Ichigo tersenyum miring melihat kebingungan di mata Rukia. "Kenapa bengong begitu? Kau tidak pernah melihat orang sakit, hah?"

"Ternyata kau bisa sakit juga, Tuan Polisi."

Lagi-lagi komentar Rukia membuat Ichigo tersenyum kecil.

"Kau terlihat sehat. Ternyata benar kalau hujan tidak akan membuatmu sakit ya?"

"Aaa, tubuh kecilku beribu kali lebih kuat daripada yang terlihat," ucap Rukia bangga, sayang sekali tubuhnya yang kecil itu nyatanya tak membantunya sama sekali di saat situasi seperti ini—mengambil sepaket obat sakit kepala di atas rak yang agak tinggi dari jangkauan jemarinya. "Seharusnya jangan meletakkan obat di tempat seperti ini," bisiknya gemas. Rukia berjinjit dan terus mencoba.

Dari jauh Ichigo tersenyum geli. Kepalanya menggeleng lemah menyaksikan tubuh pendek perempuan itu terus berusaha menjangkau kotak obat di atas sana. Gadis itu benar-benar pendek dan—bulat? Ichigo menelan ludah ketika pandangannya turun ke pinggang Rukia yang terbuka karena berusaha mengangkat lengannya setinggi mungkin juga—bulatan di sepasang bongkahan bokong itu, astaga. Mengusap rambut jingganya yang terasa panas, Ichigo segera mengalihkan perhatian ke arah berlawanan.

"Oii cepat sedikit."

"Iya, Ichigo. A-aah, se-sebentar..."

Apa-apa'an itu?! Kenapa suara Rukia berubah jadi parau? Terdengar menggairahkan di ujung gendang telinga lelaki dewasa yang duduk menontoni Rukia yang tak kunjung mendapatkan obat. Baiklah, berhenti menunggu dan Ichigo harus segera turun tangan.

Lelaki itu menghampiri Rukia. Punggung mungil Rukia begitu hangat ketika berbenturan dengan pergerakan dadanya yang sesak. Menyadari keterkejutan Rukia yang tak ingin berbalik dan menemukan dirinya tengah berada sangat dekat dengan tubuh kokoh Ichigo, ia memilih membiarkan jemari Ichigo menggapai paket obat di atas rak sementara lengannya lekas ia turunkan.

"Ini dia," Ichigo membawa sepaket obat lalu menyerahkannya pada Rukia. Gadis itu masih belum berbalik, tubuhnya masih berhadapan ke dinding konter sedangkan punggungnya tertempel di perut keras Ichigo.

Kemudian... dagu Ichigo yang menempeli puncak kepalanya sambil memberikan obat itu dengan lengan melingkar posesif di sekitar bahu gadis itu. "Kau bisa membukanya untukku?" mohon Ichigo berharap Rukia mau menolongnya membuka plastik dari tablet obatnya.

"Ya—ya," lekas Rukia berbalik mendapati kaos Ichigo sudah lembab tercetak peluh sedangkan ekspresi wajahnya terlihat menyedihkan.

Bukannya berhasil mendorong bahu Ichigo menjauh, ia justru dikejutkan oleh beban tubuh Ichigo yang jatuh menubruk pundak kecilnya.

"Ichigo!"

"Sstt, kau bisa membangunkan semua orang, bodoh. Maaf, badanku sakit semua. Sial." Ichigo tak mampu bertahan lagi, ia membiarkan Rukia merangkul punggungnya dan sangat hati-hati membawa tubuh besarnya terduduk di lantai.

"Kau ini lemah sekali."

"Memangnya siapa yang kau sebut lemah, Pendek. Kau bahkan tidak mampu memapahku."

"Iiihh kau ini."

Ichigo memperbaiki posisinya yang hampir menimpa Rukia, lalu duduk pasrah di hadapan gadis itu.

"Masih bisa menghina orang yang sudah menolongmu, eh?" seraya membuka tablet obat, Rukia memasukkannya ke dalam mulut Ichigo—dengan sedikit kekasaran tentu saja. "Telan dengan benar obatnya."

"Air, minta airnya." Disuruh menelan langsung membuat obat itu terasa tersangkut di kerongkongan. Segera Rukia mengambil air lantas meminumkannya pada Ichigo sembari menepuk lembut punggung Ichigo yang ia gapai dari posisinya yang berhadapan dengan laki-laki itu, tatapan menyesal kentara di binar ungunya. Dan ia merasa lega saat lelaki di hadapannya berubah tenang.

"Kau baik-baik saja, Ichigo?"

Seringai kecil terbit di sudut bibir Ichigo, "Ya, kurasa begitu."

Naluri Ichigo sebagai lelaki dewasa kembali terusik. Wajah Rukia yang begitu dekat hingga deru napas beraroma jeruk itu menusuk indera pembaunya.

Sakit kepala yang beberapa saat lalu menguasainya kini berubah menjadi gelora panas di perut.

Aroma manis rambut, juga kulit Rukia mengundang rasa ngilu yang aneh di pangkal paha Ichigo. Nafsunya lambat laun membumbung seiring redanya sakit di kepala. Membuatnya mabuk.

Dan keinginan menciumi gadis itu—

Merajai otaknya yang dipenuhi gairah.

"E,eh..." Rukia terbungkam.

Aksesnya untuk bicara tertutup rapat oleh bibir Ichigo yang terpasang kasar di bibir mungilnya. Sementara jemari Ichigo merangkum penuh rahang Rukia, menempel bagai lem setan yang bila dilepaskan akan melukai kulit keduanya.

Meraup penuh-penuh bibir hangat perempuan mungil di depannya nyatanya belum mampu meredakan dahaga anehnya, dahaga yang dipenuhi emosi berbeda ketika dulu ia pernah mencium perempuan yang sama.

Kali ini ia benar-benar menginginkan apapun yang ada pada diri Rukia. Ichigo menelan habis isi mulut Rukia yang masih kesulitan bergerak. Lidah, liur, gigi, gusi, bahkan kerongkongan, Ichigo menginginkan itu semua. Menyantap hidup-hidup Kuchiki Rukia dalam kemauannya sendiri.

Hidung mereka saling menempeli. Ichigo bisa merasakan embusan napas mereka—entah dari hidung ataupun mulut—itu membuatnya sungguh frustasi. Tak mau melepaskan bibir beku Rukia yang sudah berada dalam permainannya. Lekuk lembut dalam tekstur indera pengecap gadis itu begitu merangsang. Ichigo kehilangan kendali, menginginkan lebih banyak lagi.

Rukia berusaha mendorong bahu Ichigo yang terus maju sampai membentur dirinya, mencari pertahanan lain ia memundurkan diri hingga ciuman dipenuhi emosi itu justru semakin memojokkan tubuh Rukia yang tersandar di dinding. Dengan posisi duduk seperti itu Ichigo sepertinya benar-benar diuntungkan.

Perlahan situasi yang sama pun menular pada Rukia. Sekujur tubuhnya seolah ditarik paksa untuk mengikuti ciuman liar lelaki itu, perut hingga apapun yang berada di bagian bawah tubuhnya seakan berdengung diisi gairah. Gadis itu mulai kehilangan pertahanan.

Malam itu dunia keduanya yang ganjil seakan menjadi genap. Bukan cinta sepihak. Bukan hanya satu orang yang meledakkan diri pada perasaan sayang yang besar tetapi keduanya, dua-duanya tenggelam ke dalam sensasi, gairah, nafsu, hasrat atau apapun sebutan untuk itu.

Agak gugup gadis itu turut merangkum wajah Ichigo, meremas pipi lelaki itu agar tak melepaskan ciuman mereka. Rukia merasakan puncak payudaranya bergetar ketika Ichigo mendadak meraih gumpalan daging di sana.

Diselingi geraman frustasi dari dalam suaranya yang sudah parau dalam ciuman, Ichigo menekan jempol pada apa yang tersimpan di dalam pakaian piyama Rukia. Meremas gemas payudara Rukia yang begitu pas dalam genggaman.

Begitu pula Rukia, tubuhnya sendiri juga semakin tidak imun terhadap posisi mereka. Kulit kasar Ichigo yang menyentuh kulit halus dadanya itu seolah merupakan kenikmatan paling mewah yang baru ia rasakan. Rukia merasakan keinginan konyol untuk meluncurkan tubuhnya di sepanjang tubuh si jangkung, untuk menyentuh tubuh pria itu dengan jemarinya di bagian tergelap seorang Kurosaki Ichigo.

Lama saling menjelajahi isi di dalam organ lembut itu tak membuat Ichigo puas. Ia mendesah putus asa menarik lebih dekat punggung gadis Kuchiki itu tanpa melepaskan ciuman sampai-sampai memaksa mengangkat badan mungil perempuan yang disayangnya agar naik ke pangkuan kakinya.

Mata mereka terpejam, buta pada apa yang akan terjadi jika seseorang memergoki mereka berciuman di tengah malam begini—di saat semua orang tertidur nyenyak sedangkan keduanya malah saling menghangatkan di lantai dapur.

"Cukup, Ichigo," memikirkan bahwa mereka sudah di luar batas, Rukia mendorong rahang Ichigo yang masih sibuk meraih-raih bibirnya kembali.

"Tidak. Ini tidak akan pernah cukup."

Plaak!

Akhirnya tamparan menyudahi semua.

Tidak terasa sakit, tetapi memandangi bibir mungil yang baru saja ia lahap kini terlepas, Ichigo memandanginya dengan tatapan terluka.

Bibir Rukia mengkilap basah. Sangat indah. Sialnya bukan hanya bibir itu, Ichigo menginginkan seluruh milik Rukia. Dada lelaki itu berdebar keras, naik turun seakan-akan ia baru selesai dari berlari marathon. Sementara sekujur tubuh kekarnya mulai gemetar.

"Berikan semuanya padaku. Aku menginginkanmu berada di ranjangku, Rukia—"

"Kau sudah gila. Kau benar-benar gila." Rukia menatap ngeri pada niatan Ichigo, dengan kasar menarik dirinya dari hadapan Ichigo kemudian menghindari tatapan menyiksa yang diberikan laki-laki itu.

Lantas tanpa memaki lagi dan berkata apapun, Rukia berjalan menjauh membiarkan Ichigo tetap terduduk dengan napas terengah-engah.

.

.

Bersambung—

.

.

Ternyata membutuhkan waktu setahun untuk melanjutkan fanfic ini. Maaf sebesar-besarnya baru bisa diteruskan. Setahun kemarin saya tenggelam pada rutinitas yang membuat kunjungan saya ke fanfiction ini harus tertunda :I

Terima kasih dukungannya. Silakan direview jika sempat, teman-teman.

Next chapter? I'm ready!