Details?
Story © alice dreamland
The Basketball which Kuroko Plays © Fujimaki Tadatoshi
Genre: Romance, Drama
Warning: Typo(s), all in 2nd PoV, AkashixReader, fluff, drabbles, cliche, OOC, OC
Detil 11: Hujan
Akashi menatap lurus pemandangan di hadapan—halaman sekolah dengan rintik air membasahi bumi.
Hujan deras.
Mengeratkan pegangan pada tas coklat, berdiri bersandar pada pilar di bagian depan. Dingin dan keras, namun tak ia pedulikan. Suara gemerisik air bergesek tanah terus tercipta—cepat meski konstan, ribut.
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi, menyebabkan seluruh siswa-siswi memenuhi bagian depan—bersiap pulang dengan payung yang mereka bawa.
Akashi pun salah satunya. Seperti biasa, ia sudah mempersiapkan payung untuk penjagaan cuaca. Tangannya membuka payung merah hitam miliknya—sementara manik mendapati mayoritas murid telah berlari keluar gerbang.
Memakai payung tentu, tapi tak sedikit nekat menggunakan tas sebagai pelindung seiring langkah berpacu.
Akashi menghela napas—menaikkan payung yang terbuka sempurna. Kaki mulai menginjak tangga turun menuju halaman becek sekolah—
"Ada apa, Hana-chan?"
—namun langkahnya terhenti mendengar sebuah suara.
[surname][name].
Mengurungkan niat untuk pergi, diam mendengarkan lanjutan percakapan—mengingat lokasi kini tidak mencolok; cukup bagus untuk sembunyi.
"Aku tidak membawa payung..." Suara parau seorang gadis menjawab.
"Kalau begitu gunakan payungku saja!" Riang, ceria—bersemangat. Tipikal dirimu. Dan sedikit ia dengar suara payung dibuka meski tumpang tindih dengan rintik hujan.
"J-Jangan! Nanti [name]-chan bagaimana?!" Sang teman terdengar bersalah.
"Tasku kan multifungsi!"
"Uh, jangan bercanda! Nanti kalau sakit bagaimana?!"
"Daijoubu, daijoubu! Aku tidak mudah sakit kok!"
"Jaa, bagaimana kalau kita pulang bersama saja?"
"Mou, Hana-chan! Kubilang tidak apa-apa ya tidak apa-apa!" Kali ini, dari balik pilar—samar Akashi melihatmu mendorong punggung seorang gadis mungil berambut ungu, dengan payung kecil putih biru polkadot terbuka lebar di atasnya.
"... Sungguh?" Tampaknya Hana—salah seorang teman perempuanmu, Sakamoto Hana—mulai terpancing.
Kini Akashi dapat melihat kau beserta temanmu jelas—dikarenakan posisi kalian yang semakin ke depan.
"Tentu!" Tersenyum lebar dengan kedua tangan di balik punggung—membawa tas.
"Jaa, jangan sampai aku tidak melihatmu di kelas besok karena sakit." Gadis berambut ungu itu tersenyum kecil—berbalik memunggungimu seraya berlari dengan payung melindungi. Namun langkahnya terhenti di gerbang sekolah.
Air hujan masih terus berjatuhan—tak menunjukkan sedikit pun pertanda berhenti. Pijakan tanah pada pekarangan semakin becek, bahkan ada beberapa genangan kecil.
Hana berbalik—menyinggung senyum. Melambaikan tangan ceria seraya menjerit:
"Mata ashita! Ingat ya! Awas kalau aku tidak melihatmu di kelas!" [13]
Kau hanya tertawa kecil, melihat punggung Hana terus menjauh hingga menghilang di tikungan. Kemudian tawamu memudar—meski bibir masih menggulum senyum.
"Sekarang aku juga harus pulang," gumammu sambil meletakkan tas sekolah di atas kepala. Akashi menghela napas—cepat, ia keluar dari tempat sembunyinya. Membuatmu yang awalnya hendak berlari pergi mendapati kehadirannya.
"Ah! Doumo, Akashi-kun!" Kau melebarkan senyum—kemudian memekik kecil menyadari ada yang salah dengan sapaanmu. "Wuaa! Sumimasen! Maksudku, mata ashita!"
Kau hendak berlari pergi jika saja lelaki itu tidak menahan pergelangan tanganmu. Menoleh padanya, mengerjap berulang kali memastikan.
"Kuantar pulang," ucap Akashi serius dan datar—tatapannya lurus pada manikmu yang memancarkan rasa heran.
Kau menaikkan sebelah alis mendengar penuturannya, kemudian memekik terkejut. "Heee?! J-Jangan! Lagipula rumahku tidak sejauh—!"
Akashi memicingkan kedua mata tajam—cukup membuatmu mengerti jika ia tidak menerima penolakan. Akashi tahu kau merasa sungkan, karena itu memang salahmu tidak membawa payung—tapi dirinya tidak peduli.
Lagipula, salahkah ia memintamu pulang dengannya? Tidak—Akashi selalu benar. Ia tidak pernah salah.
"Baiklah." Kau menghela napas seraya tersenyum kecil. "Kuterima ajakanmu."
Akashi menarikmu dalam naungan payung lebarnya—membuat kepalamu sedikit bergesek dengan lengan seragamnya. "Sejak awal itu perintah, aku tidak menerima penolakan."
Kau tertawa kecil—menurunkan tas di atas kepala, membawanya dengan kedua tangan. "Ha'i, ha'i. Wakatta yo! Ayo mulai jalan!"
.
[13]: "Sampai jumpa besok! Ingat ya! Awas kalau aku tidak melihatmu di kelas!"
Ideas stock mulai hilang wwww. Kalo ada yang punya ide boleh ngerikues. Masih masa SMA tapi entah kapan nti masuk masa kuliah fufufu.
Makasih semua yang sudah membaca, fave, fol, dan mereview fict ini! Saya senang melihat banyak respon :''3 jadi semakin termotivasi x3
Sekian! Sekali lagi terima kasih banyak!
~alice dreamland
