Tittle : THANK YOU, AND I LOVE YOU
Genre : Romance, Friendship, Little hurt
Cast : Lu Han, Se Hun, EXO's member, Tang Min SNH48, ETC
Warn : Shounen-ai, Boys love, typo, etc
Summary : "Lu Han adalah murid paling tidak dikenal disekolahnya, namun nasibnya berubah Ketika ia bertemu dengan murid paling bad boy disekolah. Oh Se Hun"
GEKIKARA98
Present
…
[::THANK YOU, AND I LOVE YOU::]
Chapter 11
…
..
.
AUTHOR POV
Hari ini semuanya berjalan biasa saja. Tapi perasaan aneh terus saja tercipta dalam pikiran luhan. Dimulai dari sikap aneh yang sehun tunjukkan padanya. Yeah, akhir-akhir ini sehun sangat protektif terhadapnya dan sehun juga terus memaksa luhan untuk menginap di apartemennya.
"Tidak bisa? Sehun, aku sudah meninggalkan rumah empat hari ini. pasti rumahku akan kotor sekali?" protes luhan ketika sehun melarangnya untuk pulang.
"Aku akan mengirim seseorang untuk membersihkan rumahmu, Lu?"
"Ck, kau ini kenapa sih? Tidak akan! Aku akan pulang, sekarang!" luhan benar-benar kesal akan sikap sehun yang menurutnya sangat aneh. Luhan mulai memberontak, sedari tadi tangannya dicengkram erat oleh sehun.
"Baiklah, kau boleh pulang. Tapi aku juga akan menginap disana?" pinta sehun. Luhan terdiam, terlihat sedang berpikir.
"Terserah kau, tapi aku tidak menjamin kau akan nyaman tinggal di tempatku yang jelek…"
Sehun tersenyum dan mulai melepas cengkraman erat pada pergelangan tangan luhan. Beda dengan luhan yang mendengus kesal.
Akhirnya luhan dan sehun pulang ke rumah luhan bersama. Selama perjalanan luhan terus saja memikirkan soak sehun. Anak itu jadi aneh semenjak bertemu dengan kris malam itu. Kemana pun luhan pergi, sehun pasti mengawasinya bahkan secara diam-diam juga selalu sehun lakukan.
Setelah sampai di rumah mungil luhan, mereka berdua disuguhi oleh pemandangan tidak nyaman. Yeah, rumah itu jadi sedikit berdebu walau hanya ditinggal selama empat hari oleh sang pemilik. Sehun yang melihatnya sedikit bergidik.
"Sudah kubilang apa? ini rumah kuno, jadi bisa sangat kotor jika tidak dibersihkan lebih dari dua hari saja. Sekarang kau harus bantu aku membersihkannya!" perintah luhan. Sepertinya dia tidak ingin mendengar penolakan dari sehun.
"MWO!"
. . .
. . .
. . .
"Aku, ingin kau memecat dia dari restoran ini?"
"T-tapi tuan, dia adalah koki terbaik disini? Kami tidak mungkin memecatnya, lagi pula akan sangat sulit mencari koki yang sehebat dia dalam waktu singkat?"
"Tenang saja, aku sudah membawa koki asal Prancis untuk bekerja disini. Dia salah seorang koki dari restoran yang terkenal dengan masakannya yaitu Rattatouille…"
"B-baiklah, kalau begitu dua atau tiga minggu lagi kami akan mengurus surat pemecatannya…"
"Tidak, tidak, aku tidak mau menunggu dua atau tiga minggu. Buat dia dipecat dalam minggu ini juga…"
"T-tapi tuan—n"
"TIDAK ADA TAPI TAPIAN ATAU KAU YANG AKAN KUPECAT?!"
"Tidak tuan, ampuni saya. Baiklah, saya akan segera mengurus semuanya…"
"Bagus…"
Sebuah senyuman licik terpampang pada wajah tampan itu. Kris, dia baru menyadari bahwa restoran tempat luhan bekerja adalah salah satu asset milik ayahnya. Hingga sebuah ide licik terlintas dari otaknya. Rencana menghancurkan luhan secara perlahan-lahan. Membuat luhan hancur, berarti membuat sehun sakit hingga mati.
Pembicaraan dari telepon itu terdengar diseluruh sudut ruangan Wolf. Membuat semua orang yang didalamnya mendengar dengan jelas percakapan kris dengan manager restoran. Mereka semua tersenyum licik.
"Kau mau menghancurkan dia? Kris?"
"Yeah, dengan perlahan…"
"Lalu setelah luhan hancur dan mati, sehun akan sadar bahwa jalan yang ia pilih itu salah…"
"Dan sehun akan kembali pada kita…"
"Tidak akan…"
"Maksudmu apa? kris hyung?" tanya chanyeol tak mengerti. bukankah memang seharusnya sehun kembali pada Wolf jika luhan lenyap dari kehidupan sehun. Melihat reaksi chanyeol, kris tersenyum sangat licik.
"Kau pikir aku mau menerimanya kembali pada kita?" gumam kris menggantung, "Jawabannya, TIDAK!"
Dengan suksesnya pernyataan kris membuat suho yang sejak tadi sibuk dengan bukunya langsung mendongak kaget. Matanya membulat. Namun tak ada yang menyadari ekspresi suho. Semunya lebih fokus pada kris.
"Kejadian malam itu adalah pengkhianatan yang fatal. Aku tidak bisa terima akan semua perbuatannya itu. Beraninya ia menghajar kita semua tanpa kata maaf terlontar dari mulutnya. Dia bahkan mengatakan dengan sangat keras bahwa dia akan keluar. Jadi, tak akan ada jalan Oh Sehun untuk kembali pada kita…" jelas kris panjang lebar. Tangannya sudah mengepal erat, siap meninju sebuah figura yang memampangkan wajah sehun.
Prangg!
Benar saja, figura itu dihantam keras oleh kris sampai terjatuh. Suho yang menyaksikannya hanya menunduk. Sebuah kalung ia genggam erat, memandang sedih pada kalung yang dulunya selalu sehun pakai dengan bangga.
Berbeda dengan anggota lain yang hanya tersenyum licik sambil mengangguk-ngangguk. Setuju dengan pemikiran kris. Perbuatan sehun malam itu benar-benar tak bisa mereka maafkan.
. . .
. . .
. . .
"M-mwo?"
"Yah, Xi Luhan. Terpaksa kau aku pecat karena kau akan digantikan oleh koki asing asal luar negeri. Jadi aku minta maaf, dan sekarang silahkan tanda tangan di surat pemutusan kerja ini…"
"Tapi tuan, saya tidak apa-apa jika tidak harus menjadi koki disini. Mungkin sekedar menjadi pelayan? Atau tukang cuci piring? Yang penting saya bisa bekerja?" melas luhan. Sebenarnya tuan manager sendiri tidak tega pada luhan, ia tau betul bagaimana nasib luhan sebagai pelajar yang kesusahan mencari pekerjaan. Tapi, ia sendiri tak ingin dipecat dari restoran.
"Maaf luhan. Kurasa dengan penampilan seperti ini, kau tidak akan cocok jadi pelayan kami. Dan juga di restoran ini sudah penuh tukang cuci piringnya. Jadi, kau harus terima kenyataan ini? aku yakin kau pasti bisa, luhan? Kau kuat…" tuan manager berusaha menenangkan luhan. Sungguh ia tak tega melihat luhan yang hampir saja menangis itu.
"Baik, pak manager…"
Dengan sangat amat berat hati, luhan menandatangani surat phk tersebut. Sungguh ia akan menangis saat ini. Bagaimana ia akan melunasi cicilan rumahnya kalau dia dipecat.
"Tapi kau jangan khawatir, aku akan memberikan uang pesangon untukmu karena kau sudah turut campur dalam memajukan restoran ini. ini, untukmu…"
"Ne, kamsahamnida…"
Luhan menerima gaji terakhirnya. Yeah, itu pun karena terpaksa juga. Mengapa ia harus dipecat secepat ini.
Dengan langkah pelan dan tidak menentu, luhan berjalan ke rumah mungilnya. Sungguh ia berjalan seolah-olah akan terjatuh beberapa kali. Harus pada siapa ia minta tolong. Ia jadi teringat pada keluarganya di cina. Tapi tidak mungkin, keluarga luhan bahkan jauh mengalami kritis yang lebih parah dari luhan sendiri. Tak mungkin luhan berharap lebih dari mereka.
Isakan-isakan kecil keluar dari bibir mungilnya. Sedikit demi sedikit air mata bening itu mengalir disekitar wajahnya.
Puk!
Seseorang menepuk bahunya, dan…
Srett!
"H-hey!"
Dengan sigap sehun menopang badan luhan yang baru saja akan terjatuh. Kenapa luhan begini batinnya. Lemah sekali…
"K-kau, kenapa? apa yang terjadi?" tanya sehun khawatir, ia mengguncang-guncang bahu luhan. Luhan hanya tertunduk, masih dengan isakan terus keluar dari bibirnya.
"Luhan! Jawab aku!" bentak sehun. Ia sangat khawatir pada luhan…
Dengan wajah penuh air mata dan matanya yang sembab, luhan mendongak. Menatap sehun dengan tatapan sayunya. Bibirnya membuka pelan, hendak mengucapkan sesuatu.
"Sehun…" panggil luhan pelan. Suaranya terdengar parau sekali.
"Hmm? Ne? kau kenapa?" sehun menatap luhan cemas. Tangannya terjulur, mengusap pelan pipi basah luhan.
"Aku…" luhan perlahan menunduk dan menggantung ucapannya, "Aku, dipecat. Hiks, hiks…." Kembali luhan menangis dengan keras. Sehun memandang luhan tak percaya, 'dipecat? Tapi kenapa' batinnnya.
Grepp!
Tanpa aba-aba sehun membawa luhan pada dekapan hangatnya. Membiarkan luhan menangis parau didadanya. Menghiraukan semua tatapan aneh dari orang-orang yang berjalan disekitar mereka. Sehun hanya ingin membuat luhan nyaman.
"Tenanglah, Lu… masakanmu itu enak, sangat enak. Aku yakin kau akan dapat pekerjaan di tempat yang lebih baik?" sehun mengusap lebut punggung luhan. Badan luhan kecil sekali pikirnya.
"Tenang, ada aku. Ada aku, Lu…" gumam sehun. Berusaha membuat luhan tenang.
Dalam pelukan sehun, luhan mengangguk pelan. Hingga setelah beberapa waktu, isakan luhan mulai berhenti. badannya sudah tidak bergetar hebat seperti tadi. Perlahan mereka melepaskan pelukan masing-masing.
"Sudah, jangan menangis. Kau terlihat makin jelek?" ejek sehun dengan lidahnya yang menjulur.
Luhan mengerutkan dahinya, baru saja sehun berbuat dan berkata sangat lembut. Sekarang sudah mulai mengejek lagi.
"Kajja? Kita pulang? Besok kita harus cari pekerjaan lagi untukmu?" ajak sehun sembari menjulurkan tangannya pada luhan. Luhan menatap tangan sehun sesaat, 'apa maksud dari ini…'
Namun pikiran ragu luhan hilangkan seger dan menggenggam erat tangan sehun. Ia tau, sehun orang yang baik dan pasti selalu ada untuknya. Mereka pulang berdua ke tempat sehun dan memutuskan untuk berbelanja sebelumnya, sehun ingin membuat luhan sedikit melupakan kesedihannya.
. . .
. . .
"Ya, sehun? Untuk apa kau mengambil mie instan sebanyak itu?"
"Tentu saja untuk dimakan?"
"Ckck, tidak baik sering makan mie instan. Sini kembalikan? Biar aku akan memasakkan untukmu daripada kau harus makan mie instan terus menerus?"
"Sungguh? Kau mau memasakkanku terus?"
"Iya…"
"Kau yakin, Lu?"
"Iya, cerewet!"
"Hahaha! Terimakasih kalau begitu!"
"Whoaahh? Ternyata kau bisa berterimakasih juga?"
"Tentu saja, bodoh?"
"Aissh, sudahlah. Kita bayar dulu. Cepat dorong keretanya dan bawa ke kasir…"
"Siap bos!"
Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya. Bagaimana bisa oh sehun yang katanya rajanya pendiam malah menjadi secerewet ini. apakah sehun memang sudah seperti ini sejak berada di The Wolf? Tidak.
Sang kasir super market adalah sosok wanita paruh baya terus saja tersenyum ketika memperhatikan tingkah laku dua pemuda yang sering sekali belanja berdua di super market tersebut. Tepat saat giliran belanjaan sehun dan luhan akan dihitung, sang kasir mulai buka suara.
"Kalian sering sekali belanja berdua kemari?" ucapnya dengan senyuman ramah. Mulai menghitung beberapa belanjaan sehun dan luhan yang cukup banyak itu.
"Yeah, kami tinggal bersama!" jawab sehun seenaknya. Luhan mendelik mendengar cerocosan sehun.
"Haa, jadi kalian ini sudah tinggal bersama?" tanya sang kasir sedikit terkejut. Sepertinya ia salah tangkap mengenai jawaban sehun barusan.
"I-iya, begitulah…" luhan menjawab sedikit tergagap. Wajahnya sedikit merona. Entah kenapa sehun malah terlihat tenang sekali.
"Pasti sulit sekali yah, karena kalian masih seorang pelajar?" gumam sang kasir. Ia melirik pakaian yang melekat pada luhan dan sehun adalah sebuah seragam sekolah. Mengapa bisa? Tadi luhan segera menuju tempat kerjanya sepulang sekolah dan sehun mengikutinya secara diam-diam. Tentu masih dengan seragam.
"Eh, maksud anda?" tanya luhan, sebentar sepertinya sang kasir salah paham.
"Sekarang banyak sekali pemuda yang sudah menikah rupanya yah, semoga kalian bisa langgeng?" kasir paruh baya tersebut tersenyum begitu senang dengan menjulurkan bingkisan berisi belanjaan luhan dan sehun.
Luhan tergagap "Ah, a-anda salah paham ahjumma, i-itu tidak…", "Memang anak kalau masih muda sudah menikah akan sulit mengakui pernikahannya, hahaha…" potong sang kasir.
Wajah luhan sudah merona hebat dan sedikit salting, sehun pun mengalami hal serupa tapi ia masih bisa terlihat tenang.
"Aigoo, kalian lucu sekali. Ini belanjaannya? Terimakasih sudah sering belanja disini. Semoga kalian langgeng terus yah?" sang kasir tersenyum lembut. Melihatnya luhan dan sehun tak tega untuk membantah lagi, jadi terpaksa mereka mengiyakan ocehan kasir paruh baya tersebut.
Selesai berbelanja, sehun dan luhan berjalan menuju apartemen sehun dalam diam tanpa bicara sekali pun. Mereka berada dalam suasana yang begitu awkward. Sungguh kesalahpahaman ahjumma tadi itu membuat mereka berpikir sangat keras mengenai perasaan masing-masing. Saat sampai di apartemen pun juga keduanya tidak bicara satu sama lain.
Tentu tau kan? Hanya waktu yang bisa membuat suasana ini berubah menjadi seperti biasa lagi.
Waktu yang cukup lama untuk tak berbicara secara langsung. Terlebih lagi adanya fakta bahwa mereka berdua harus tidur di satu ranjanng, berdua.
Sampai akhirnya jengah dengan suasana, mereka mulai berbicara seperti biasa. Tentu diawali dengan suasana yang cukup awkward.
. . . .
. . . .
. . . .
Dua minggu telah berlalu sejak pemecatan luhan. Setiap hari luhan berusaha mencari pekerjaan pengganti. Tapi ia selalu ditolak oleh beberapa restoran bahkan kedai sekali pun. Dengan keteguhan batinnya, luhan tetap selalu bersemangat dan tidak mau menyerah. Hingga ia mencapai hari pertama di minggu keempat. Rasa putus asa mulai melandanya, beberapa hari lagi luhan harus membayar uang kontrakan rumahnya. Terlebih lagi ia juga harus membayar biaya administrasi sekolahnya. Dari mana ia akan mendapat uang untuk membayar semua itu.
Hari ini ia terpaksa pulang ke apartemen sehun dengan wajah lebih murung dari pada biasanya. Sehun yang mendapatinya langsung khawatir dan berlari menghampirinya dengan wajah cemas. Wajah luhan muram dan pucat.
"Kau sudah mencari pekerjaan hampir diseluruh distrik ini tapi tak ada satu restoran pun yang menerimamu?" tanya sehun khawatir.
"Awalnya mereka menyambutku dengan senyuman, tapi setelah tau namaku mereka menolak untuk memberiku pekerjaan walaupun hanya sebagai tukang cuci piring…"
"Kau sudah mencoba dibeberapa kedai belum?"
"Aku sudah melakukannya. Beberapa kedai yang cukup ramai tidak dapat menerimaku karena mereka sudah punya cukup pekerja. Lalu untuk di kedai sepi mereka menerimaku tapi hanya dengan gaji yang bahkan tak cukup untuk membayar uang administrasi sekolah…"
"Kau tidak mencoba mencari pekerjaan lain?"
"Yang bisa kulakukan hanya memasak, Oh Sehun…"
Wajah kurus itu terlihat begitu murung dan sedih. Sudah beberapa hari ini ia mencari pekerjaan pengganti untuk bisa membayar uang kontrakan rumahnya. Tapi tak ada satu pun yang menerima dia. Yeah, itu semua merupakan akal licik dari Kris. Kris yang ayahnya adalah pengusaha banyak restoran di distrik ini. Dengan akalnya dia memblokir seorang Xi Luhan untuk bisa bekerja.
"Kau tak perlu khawatir, aku yang akan membayar semua biaya sekolahmu? Lu?"
Luhan menggeleng pelan, mata indah yang tertutup kacamata oval itu mulai berkaca-kaca. Keputusasan telah melanda dirinya. Membuat seorang oh sehun tak mampu melihat rusa kecil dihadapannya mulai terisak pelan.
"Tidak perlu…." Gumam luhan. Suaranya terdengar begitu bergetar. Luhan tentunya sadar bahwa semua ini adalah perbuatan Kris.
"Tidak perlu….." "Tidak perlu, sehun-ah…" "Tidak perlu, hiks… tidak…"
Tes!
Sakit, sesak, itu yang sehun rasakan kala melihat seseorang dihadapannya menangis pilu. Apa yang harus dia lakukan untuk luhan? Apa?
"Xiao Lu, biarkan aku menolongmu? Biarkan aku membantumu? Aku mohon!"
Sungguh sehun benar-benar tak mengerti bagaimana cara harus menenangkan luhan. Ini pertama kalinya luhan menangis seperti ini.
"Aku sudah banyak merepotkanmu, Oh sehun… hiks…" luhan mendongakkan wajahnya. Matanya terlihat begitu merah dengan penuh lelehan air mata.
"Xi Luhan! Berhentilah menangis! Kau memang sudah tak punya pekerjaan dan bahkan sulit untuk bekerja lagi karena si bajingan itu! Lalu apa kau akan selemah ini? menangis karena keterpurukan yang menimpamu? Hahh! Sudah kuduga kau memang payah!" bentak sehun.
Hati luhan langsung mencelos, rasanya perkataan sehun barusan menusuk tepat diulu hatinya. Apa yang sehun katakan barusan? Aku tidak lemah…
Itu tidak benar, aku tidak lemah, Oh Sehun…
Seluruh persendian tubuh luhan melemas. Ia bergetar hebat memikirkan dirinya yang lemah, atau tidak…
Grep!
Tapi tidak setelah kedua tangan kekar sehun mencengkram erat dibahunya. Badan luhan kembali menegang. Ia ketakutan melihat wajah dingin sehun. Sehun terus menatapnya dengan tatapan seram dan menuntut.
"Kau! Bodoh!" teriak sehun, tepat dideapan wajah luhan.
"Mengapa kau secemas ini? MENGAPA!"
Luhan sudah sangat ketakutan, Sehun mengguncang bahunya begitu kuat…
Keluh, itulah yang lidah luhan rasakan saat ini. ia terlalu takut untuk melawan sehun.
"Kau memang tidak perlu secemas ini, Xi Luhan! Kau tak akan mati hanya karena tak punya kesempatan bekerja! Luhan bisakah kau tidak selemah ini! aku tak ingin melihatmu menangis hanya karena hal seperti ini!"
Luhan terus menengang, diotaknya berpikir, semua yang sehun katakan itu benar. Ia tak boleh lemah karena hal ini saja, karena….
"Luhan! Aku ada disampingmu! Aku akan ada untukmu! Biarkan aku menolongmu! Biarkan aku membantu dirimu yang terpuruk begini, luhan!"
Tes!
Mata itu menteskan lagi airmata yang begitu hangat. Airmata penyesalan, penyesalan terhadap orang yang selalu ada untuknya. Betapa bodoh dirinya, terlalu berpikir pesimis…
"Luhan, jangan lemah. aku pasti menolongmu? Tanpa engkau memintanya… sungguh…"
Dengan mata berair, luhan mentap mata sehun yang sarat akan ketulusan. Sehun benr-benar akan menolongnya. Tentu saja, lalu kenapa ia harus lemah dan merasa tak memiliki siapapun padahal ada sehun yang selalu disampingnya. Luhan terlalu takut akan keadaannya yang selalu sebatang kara semenjak meninggalkan keluarganya. Sekarang ia harus menyadari bahwa dirinya telah memiliki sehun… tempat ia akan bersandar ketika dirinya rapuh.
"Mian, sehun-ah. Jeongmal mianhae! Aku tak melihatmu! Aku bodoh dan terlalu cemas! Hiks! Hiks!"
Grep!
Sehun membawa luhan dalam dekapannya. Membiarkan luhan menangis sekencang-kencangnya didalam pelukannya. Membiarkan dirinya dapat merasakan bagaimana yang luhan rasakan saat ini. Membiarkan beberapa penderitaan luhan masuk kedalam dirinya juga. Memberi luhan sentuhan lembut yang menenangkan.
"Ssst, berhentilah menangis. Biarkan aku menolongmu? Xiao Lu?" gumam sehun, terdengar lembut ditelinga luhan. Entah mengapa sebuah desiran harus terasa didadanya. Memaksa luhan untuk melepas pelukan tersebut, ia tak tahan dengan detakan jantungnya yang begitu cepat.
"Kau mengerti kan? Jadi, mulai sekarang kau akan menetap ditempatku. Karena percuma jika aku juga membayarkan rumah kontrakanmu itu jika pemiliknya malah lebih sering tinggal disini? Heumm?"
Kenapa sehun jadi selembut ini, biasanya tak begini. Sungguh luhan bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada suasana hatinya.
"Baiklah, sebaiknya sekarang kita makan lalu istirahat. Kau pasti kelelahan setelah pulang sekolah langsung berjalan kesana-kemari mencari pekerjaan hingga malam begini?" sehun membelai lembut pipi luhan yang terasa basah karena airmata sebelumnya.
Tanpa banyak bicara dan penolakan, luhan mengangguk dan menuruti semua perkataan sehun. Dimulai dari mandi air hangat, sampai makan. Awalnya luhan tak yakin akan makan karena ia belum memasak sebelumnya, namun ia langsung memakan makanan di meja karena sehun memberi tahu bahwa makanan itu merupakan pesanan sehun.
Setelah acara makan bersama, sehun dan luhan memutuskan untuk tidak cepat-cepat tidur karena besok adalah hari libur. Terlebih lagi saat ini sehun sudah membuat perasaan luhan membaik. Luhan terkejut bahwa sebenarnya sehun orangnya cukup humoris dan tidak sedingin biasanya. Malam ini sehun benar-benar menghiburnya sampai lelah dan terlelap dalam pelukan sehun.
Luhan masih tak mengerti dengan apa yang dia rasa, tapi ia tau bahwa dirinya telah menyayangi orang yang mendekapnya malam ini.
"Xiao Lu,kau tak perlu takut dan cemas. Tenang dan percayalah, ada aku yang akan selalu berada disisimu. Saranghae, luhan…"
Chapter 11
TBC
[::THANK YOU, AND I LOVE YOU::]
Lohaa!
Akhirnya chapter 11 kelar juga! :D
Bagaimana pendapat para readers sekalian? Silahkan tuangkan pada kotak review saja! LOL :3
Akhirnya Sehun sudah benar-benar bilang perasaannya kalau ia mencintai luhan. Tapi sayangnya belom bilang sama luhan yah? Hohooho!
Ya sudah, kalau begitu saya berterima kasih buat para readers yang sudah mampir, membaca, dan ngasih review di fanfic saya ini.
Sampai jumpa di chapter berikutnya! :D
