The Impression

Author: Hoshi Yutaka

Part: 10/…

Rating: PG

Genre: romance, slight humor

Pairing: too lazy to tell

Warnings: none

Disclaimer: well, uh… you know, the usual…

Comments: my mind was wandering again, creating some wild imaginations and now I'm turning them into this

Teaser: "thank you, for showing me a real life, with a simple way…"

Current music: The Corrs feat. Bono – When The Stars Go Blue

"Shou! kau memakan seluruh isi bentoku, ya!" seru Avaron dari meja kasir. Dia melihat kotak bentonya yang berisi gyoza dan isinya telah habis seluruhnya. Padahal Avaron baru meninggalkan kotak bentonya itu selama beberapa menit di atas meja kasirnya untuk ditinggal ke toilet, tapi begitu dia kembali, isinya sudah hilang.

Shou datang dengan terburu-buru dan tertawa tanpa merasa bersalah sedikit pun, "memangnya kenapa? Aku tidak melihat namamu ada di kotak bento itu. Jadi aku bebas untuk memakannya, kan?"

Dengan tatapan tajam Avaron menunjuk ke bagian bawah kotak bentonya. Disana terdapat tulisan nama Avaron yang ditulis tangan oleh Avaron sendiri.

"oh… aku tidak melihatnya. Hehe… maaf…" Shou menggaruk kepalanya.

"padahal aku baru meninggalkan makanan siangku ini selama beberapa menit tapi sudah hilang dan habis seperti ini…" Avaron menangisi bentonya.

"sudahlah, aku bisa membelikanmu yang baru nanti." Shou menanggapi kemarahan Avaron dengan enteng.

"ah, sudahlah… lihat saja nanti, perbuatanmu akan kubalas…" Avaron berkata dengan mantap.

"kalau begitu, aku tidak akan membawa makan siang ke petshop ini untuk mengantisipasi…" balas Shou.

"selalu ada jalan, Shou…" entah kenapa kalimat itu sudah menjadi kalimat yang cukup sering diucapkan oleh Avaron dan Shou.

"sudahlah… Avaron-san, anda bisa memakan bentoku kalau anda mau…" Aya menyerahkan kotak bentonya untuk Avaron.

"tidak, tidak usah. Kau juga harus makan, Aya…" Avaron menolak dengan halus.

"tapi nanti kalau anda lapar bagaimana?" Aya sedikit khawatir.

"tidak apa-apa. Tidak makan siang sekali tidak akan membuatku mati, kok…" Avaron melihat ke arah Shou yang masih tertawa tidak jelas di sebelahnya.

"lebih baik kau dengarkan Aya. Kalau kau tidak makan, kau bisa sakit…" timpal Shou.

"memangnya siapa yang sudah membuatku tidak bisa makan, hah!" Avaron menjewer telinga Shou. "kau mau gajimu kupotong?"

"ja… jangan… ampun, ampun! Aduh… sakit!" Shou berusaha melawan.

"ya sudahlah…" Avaron melepaskan tangannya dari telinga Shou. "aku mau pergi ke restoran sebelah. Aku makan siang disana saja…" dia meninggalkan meja kasir untuk mengambil dompet yang dia taruh di dalam loker.

Restoran tempat Avaron berada sekarang adalah sebuah family restaurant yang menyediakan berbagai macam menu dari seluruh dunia. Avaron duduk di meja makan yang memiliki sofa sebagai kursinya, dan membaca buku menu. Dia memutuskan untuk memesan pizza berukuran kecil karena dia hanya makan sendirian dan segelas ice lemon tea. Dia menyampaikan pesanannya ke seorang pelayan wanita. Pelayan wanita itu mencatat pesanannya dan berkata pesanannya akan tiba 15 menit kemudian.

Setelah pelayan pergi, Avaron menyandarkan punggungnya di sofa yang cukup empuk itu. Dia menarik nafasnya dalam-dalam dan mengingat-ingat betapa spesialnya hari ini. Hari ini adalah hari ulang tahunnya Kai. Dia sengaja tidak mengirimkan e-mail atau menelepon untuk mengucapkan selamat ulang tahun untuk tunangannya karena dia ingin kejutannya nanti malam bisa membuat Kai terkesan walaupun dia sedang tidak bersama Avaron.

Dia juga teringat rencananya hari ini. Nanti jam 3 sore, dia akan pergi ke apartemen Mori-san untuk menyelesaikan kue yang dia buat kemarin bersama Shou, dan membawa kue itu pulang untuk didinginkan di freezer apartemennya. Jam setengah 7 nanti malam, dia akan mengeluarkan kue itu dan menyiapkan lilin di atasnya. Lalu dia akan menelepon Kai dan menyanyikan lagu happy birthday untuknya.

Yap. Rencana yang sempurna.

Avaron masih tidak bisa berhenti tersenyum sendiri. Dia seharian ini terus membayangkan bagaimana reaksi Kai saat dia diberi kejutan itu oleh Avaron. Dia sangat mengharapkan reaksi yang lucu itu. Reaksi yang kaget, salah tingkah, juga malu.

"kau tahu, kalau kau tidak berhenti tersenyum sendiri seperti itu, dari jauh orang akan mengira kau sakit jiwa…" sebuah suara membuatnya berhenti membayangkan ekspresi orang yang dia cintai itu.

"sedang apa kau disini, Shou?" Avaron masih kesal pada Shou yang tadi menghabiskan bentonya.

"menemanimu." Shou duduk di sebelah Avaron. "tidak boleh?"

"lebih baik kau temani saja Toran-chan. Dia membutuhkan pacar.'' Jawab Avaron sekenanya.

''ayolah, aku kan sudah meminta maaf soal bentomu tadi.'' Shou berusaha membujuk Avaron.

"kau datang kesini untuk membela dirimu sendiri…" Avaron mengambil kesimpulan.

"kalau perlu, aku akan membayar makan siangmu disini." Shou menawarkan dirinya.

"tidak perlu. Memangnya aku anak kecil?" tolak Avaron.

"kumohon…" Shou memelas.

"sudah kubilang tidak usah. Kau merusak suasana saja, sih." Gerutu Avaron jengkel karena keberadaan Shou, dia tidak bisa melamun tentang Kai lagi.

"daripada kau melamunkan sesuatu yang tidak nyata, lebih baik kau mengobrol saja denganku. Aku nyata, aku disini bersamamu." Ujar Shou.

"tapi kau menyebalkan."

"memang. Tapi aku nyata. Kenapa kau tidak mengobrol saja denganku? Dari wajahmu, aku tahu kau membutuhkan seseorang untuk diajak mengobrol atau berheboh ria."

"aku bukan tipe orang yang bisa heboh dan berlebihan tanpa alasan…" tegas Avaron.

"itu karena kau jarang bergaul dengan cewek. Cewek kebanyakan selalu punya cara untuk mengekspresikan perasaan mereka melalui cara apapun, bahkan kalau perlu, mereka bisa bertingkah berlebihan sekalipun."

"maaf kalau aku bukan tipe cewek yang dengan mudahnya mengatakan isi hatiku yang sebenarnya."

"karena itulah aku disini untukmu. Kau bisa bercerita padaku."

''hah, sejak kapan kau menjadi psikolog ?'' tanya Avaron sarkastik.

''ya sudah. Kalau kau benar-benar tidak ingin aku ada disini, baiklah. Aku pergi.'' Shou berdiri untuk meninggalkan Avaron. Tapi Avaron hanya diam saja, malah dia melihat ke jendela di sebelah sofa, jendela yang memperlihatkan pemandangan trotoar tempat orang-orang berlalu-lalang.

''Avaron… ?'' Shou berusaha menyadarkan Avaron yang lagi-lagi melamun.

''kau tahu, aku suka duduk di restoran atau kafe dekat jendela kafe karena aku ingin melihat orang-orang yang lewat di depan restoran. Seperti sekarang…'' kata Avaron sambil terus melihat ke arah jendela.

Shou kembali duduk dan mendengarkan perkataan Avaron, sambil ikut melihat ke arah jendela.

"kau lihat sepasang kakek nenek yang ingin menyebrang jalan disana?" Avaron menunjuk ke arah kakek nenek yang hendak menyebrang jalan dengan zebra cross yang jaraknya 10 meter dari mereka duduk. "apa kau pernah bertanya pada dirimu sendiri kemana mereka akan pergi, apa yang akan mereka lakukan, atau bagaimana kehidupan mereka?"

"tidak, aku tidak pernah melakukannya." Shou menggeleng. "menurutmu hal seperti itu asyik, ya?"

"entahlah, menurutku sih asyik. Aku sudah cukup sering melakukan ini sampai aku bisa mengamati dan menilai orang dari jauh. Lihat sepasang anak muda yang baru lewat tadi?" Avaron menunjuk ke sepasang anak SMA berseragam sekolah. Mereka bergandengan tangan, namun mereka tidak membicarakan apapun.

"mereka masih malu-malu. Itu berarti mereka baru jadian. Mungkin baru beberapa hari yang lalu atau seminggu. Dari penampilan cowoknya, dia pasti cowok yang cukup populer di sekolah. Dan dari penampilan ceweknya yang membawa banyak buku di tangan satunya dan rambutnya yang tidak terlalu terawat itu berarti dia seorang kutu buku. Kau pasti tahu kan rasanya saat seorang cowok populer jatuh cinta pada seorang kutu buku ? pasti mereka berdua akan sangat merasa salah tingkah.''

''dan wanita yang menggendong bayi perempuannya di seberang jalan." Avaron menunjuk ke arah lain. "dia pasti seorang yang sering bekerja keras demi kehidupan suami dan bayinya. Kau bisa tahu dari wajahnya yang terlihat agak lebih tua dari usianya, dan seluruh belanjaan yang dia bawa, belanjaan seperti itu cukup untuk sebulan, Shou. pasti tidak ada yang lebih penting baginya daripada keluarganya sendiri."

"waw… kau hebat juga…" Shou tidak bisa berkata apa-apa lagi.

"tapi aku tidak tahu apa yang kukatakan barusan benar atau tidak. Itu hanya dugaan dari cara mereka berpenampilan. Aku sama sekali tidak tahu bagaimana mereka yang sebenarnya." Avaron memastikan.

"coba lihat sekumpulan anak-anak SD kelas 1 yang ada di sudut jalan." Avaron menunjuk lagi. "mereka menggemaskan sekali…"

"aku bisa menebak anak lelaki itu bertanya rasa es krim apa yang dia makan pada teman yang ada disebelahnya." Shou tertawa geli. Anak-anak SD itu memang sedang berjalan sambil memakan es krim yang baru mereka beli tidak jauh dari tempat mereka berada.

"kau bisa merasakan getaran kehidupan dari mereka, kan? Itulah hal terindah yang kau rasakan. Kau merasa… lebih hidup dan manusiawi." Avaron tersenyum pada Shou yang masih terus memandang jalanan.

Mereka berdua kembali duduk saat pelayan membawakan pesanan Avaron. Satu loyang kecil cheese pizza dan segelas ice lemon tea.

"kau mau?" tawar Avaron.

''tidak usah. Aku tadi sudah memakan makan siangmu. Terima kasih, Avaron…'' Shou tersenyum penuh arti padanya.

"terima kasih untuk apa?"

"terima kasih karena kau telah menunjukkan kehidupan padaku, dengan cara yang sangat sederhana…"

Setelah Avaron selesai makan siang, Avaron membayar bon makanannya di kasir dan kembali dengan membawa sebuah kotak besar yang berisi cheese pizza yang seperti dia makan tadi.

"ini untukmu dan Aya." Avaron memberikan kotak pizza itu pada Shou.

"oh, untuk apa?" Shou menerima kotak itu dengan agak ragu.

"tidak apa-apa. Ini untuk kalian saja." jawab Avaron santai.

"tapi aku kan sudah memakan bentomu. Kenapa kau malah memberiku pizza."

"sudahlah, soal itu sudah kulupakan." Avaron sudah melupakannya. "lagipula aku akan pergi sebentar lagi untuk menyelesaikan kue di rumah Mori-san dan tidak kembali ke petshop lagi hari ini."

"oh… kau langsung pulang ya nanti?"

"yep." Avaron mengangguk.

"terima kasih, ya…" Shou mengambil kotak itu. "soal yang kemarin, aku masih bisa datang kan jam 8 malam nanti?"

''janji tetap janji, Shou. Tentu saja kau bisa datang nanti.''

''oke. Sampai jumpa nanti malam.'' Shou mengucapkan sampai nanti pada Avaron yang pergi meninggalkan restoran.

Pukul setengah 7 malam, Avaron sudah sampai di apartemennya. Dia tadi dengan terburu-buru berjalan dari apartemen Mori-san dengan membawa devil's chocolate cake buatannya yang sudah jadi dan dihias dengan sangat manis dan cantik. Kue itu ditaruh dan dibawa di dalam sebuah kotak tertutup rapat dan Avaron membawanya dengan sangat hati-hati selama perjalanan tadi agar tidak terguncang dan rusak.

Dia menaruh kunci rumahnya di kotak dekat pintu seperti biasanya, melepas dan melempar mantelnya begitu saja di sofa ruang TV, mengganti pakaiannya, dan ke dapur untuk membuka kue yang dia bawa.

Saat dia membuka kuenya, dia sudah sangat tergoda oleh kecantikan dan kelezatan kue tersebut. Sampai dia menahan ludahnya sendiri dan berusaha untuk tidak mengambil sedikit potongan-potongan cokelat yang ada di atas kue.

Dia membuka bungkus plastik yang ada di sebelah kotak kue. Kemarin selain membeli acetate ribbon di toko alat-alat untuk membuat kue, dia juga membeli lilin dengan jumlah yang sesuai dengan jumlah umur Kai tahun ini, 25 tahun. Dia menata ke-25 lilin-lilin itu dengan teliti dan rapi di setiap sudut atas kue yang berbentuk kotak tersebut.

Sempurna sudah. Kini Avaron membawa kue itu ke ruang TV dan menaruhnya di atas meja. Dengan korek api yang dia bawa juga, dia menyalakan 25 lilin-lilin itu dengan sabar. Beberapa kali dia menggerutu pelan karena ada beberapa lilin yang mati setelah ia nyalakan.

Setelah semuanya selesai dan seluruh lilin sudah menyala, dia menikmati pemandangan kue buatannya yang ada di depannya. Di sisi kue, ada tulisan 'felice compleanno, Kai!' yang Avaron tulis dengan susah payah di tempat kursusnya tadi. Walaupun terlihat agak berlebihan, tapi dia merasa inilah caranya untuk menunjukkan rasa bahagianya.

Dia mengambil handphone yang ada di saku celananya. Dia membuka flip handphonenya dan menekan nomor telepon Kai dengan terburu-buru. Dengan tidak sabaran dia menempelkan handphonenya di telinga, mendengarkan nada sambung, menunggu Kai untuk mengangkat teleponnya.

Namun, di luar dugaannya… tidak ada jawaban. Telepon putus begitu saja karena tidak ada yang mengangkat.

Avaron tertawa pada dirinya sendiri. Berusaha menghibur dirinya kalau ini baru telepon pertama. Mungkin Kai belum sadar kalau teleponnya berbunyi saat ini.

Dia menekan tombol fungsi redial untuk menghubungi nomornya. Sudah satu menit dia mendengar nada sambung dan masih tidak diangkat.

Bodoh. Kemana kau, Kai? Itulah yang Avaron pikirkan saat telepon ketiga masih tidak diangkat.

Kau tahu, aku menantimu disini. Aku membuat kejutan untukmu. Itulah pikiran Avaron setelah telepon keempat tidak ada respon.

Kalau kau tidak mengangkatnya sekarang juga, aku akan mencekikmu. Itu pemikiran Avaron setelah telepon kelima tidak diangkat juga.

ADUH, KAU INGIN DIBUNUH YA! Itulah jeritan Avaron dalam hati setelah telepon keenam masih tidak diangkat.

Avaron menarik nafasnya dalam-dalam. Dia melihat ke arah kuenya. Lilin-lilin yang ada di atas kue itu sudah mulai meleleh karena sudah 10 menit mereka menyala.

Avaron berusaha untuk tidak putus asa. Dia dengan pelan menekan nomor telepon Kai walaupun dia tahu dia bisa saja memakai fungsi redial, berharap dalam hati Kai akan mengangkat teleponnya kali ini.

Kai, tolong angkat teleponku… kau pasti akan rugi kalau kau tidak mengangkat teleponnya. Kumohon angkat…, Avaron terus berharap.

Dan akhirnya, teleponnya kali ini diangkat juga.

"oh, halo? Kai!" dengan buru-buru Avaron menyapa orang yang mengangkat telepon itu.

"Kai? Maaf Avaron, ini aku, Ruki…"

Avaron terpaku. Kenapa malah Ruki yang mengangkat teleponnya ?

"ng… Ruki, apa Kai bersamamu?" tanya Avaron.

"kau sudah menghubungi handphonenya Kai ini berkali-kali, ya?" ujar Ruki sambil melihat notification handphone Kai yang mempunyai hampir 10 panggilan tidak terjawab dari Avaron.

"ya. Aku ingin bicara dengan Kai, Ruki…" pinta Avaron.

"maaf, Avaron…" suara Ruki kali ini terdengar seperti dia tidak enak hati. "Kai sedang tidak bersamaku."

"eh… lalu, kemana dia?" tanya Avaron kecewa. Entah kenapa dia merasa ini adalah tusukan pertamanya.

"dia sedang menerima kejutan dari para staff karena hari ini ulang tahunnya! Tentu kau pasti tahu kan kalau hari ini ulang tahunnya Kai kan, Avaron ? kau tahu tidak, 15 menit yang lalu dia baru saja meniup lilin di depan para penonton dan fans-fans yang menghadiri tur kami disini ! kau harus lihat wajahnya tadi. Dia sangat senang sekali dan berkali-kali mengucapkan terima kasih untuk para fans!''

Rasanya dia bagai dibanting dari langit yang sangat tinggi ke tanah dengan sangat keras dan setelah itu ribuan pisau menusuk dirinya saat dia mendengar cerita Ruki tadi.

''sekarang saat ini dia menerima kado dari para staff di ruang sebelah dan kurasa mereka akan mengajak Kai minum-minum malam ini. Aku dan yang lainnya juga ikut. Ah, seandainya kau ada disini, Avaron…'' tambah Ruki lagi.

Ruki, kalau seandainya aku ada disana, aku pasti akan mencekik Kai, menusuknya dengan pisau berkali-kali, dan menggelindingkan mayatnya di sungai, menghapus seluruh jejakku, dan pergi dengan wajah tanpa dosa. Itu yang sangat ingin Avaron katakan saat ini pada Ruki. Tapi dia tidak bisa mengatakannya. Karena sisi kejam dari dirinya kalah oleh air matanya sendiri yang sedari tadi sudah membendung dan sebentar lagi akan meledak.

''halo, Avaron ? kau masih ada disana ?'' Ruki sama sekali tidak mendengar suara Avaron selama semenit terakhir.

''ya, Ruki, aku masih disini.'' Avaron berusaha membuat suaranya terdengar baik-baik saja. Walaupun sedari tadi dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakannya.

"kau tidak apa-apa, Avaron?" Ruki bisa merasakan sedikit getaran dari suara Avaron tadi.

''ya, aku tidak apa-apa. aku baik-baik saja. sampaikan ucapan selamat ulang tahunku untuknya kalau kau bertemu dengannya nanti. Dan jaga dia agar dia tidak mabuk malam ini. Kau tahu kan, kalau dia sudah mabuk dia akan seperti apa…'' Avaron berusaha mengucapkan kata-katanya ini dengan usaha yang sangat keras.

''ngg… ya, akan kusampaikan…'' jawab Ruki pelan.

"ya sudah kalau begitu. Selamat bersenang-senang disana…" Avaron menutup teleponnya begitu saja karena dia sudah tidak tahan lagi.

Dengan terburu-buru dan sambil menangis dengan keras dan air mata mengalir dengan deras dari matanya dia mematikan handphonenya dan melepas baterainya. Dia juga berdiri dan berjalan menuju telepon rumahnya yang letaknya tidak jauh dari dia berdiri. Dengan kasar dia mencabut kabel telepon rumah agar teleponnya tidak tersambung lagi.

Dia tidak ingin mendengar suara orang itu. Dia tidak ingin mendengar Kai meneleponnya kembali untuk meminta maaf atau apapun itu. Apapun yang bisa membuatnya luluh dan memaafkan Kai. Dia tidak ingin mendengarnya.

Dia kembali duduk di sofa dan menyandarkan kepalanya di sisi sofa, menutupi wajahnya dengan lengannya, dan menangis sepuasnya disana…

Pukul 8 malam, sesuai janji Shou sudah masuk ke lobi apartemen Avaron. Dia menghampiri resepsionis apartemen dan menyebutkan nama Avaron. Dengan ramah petugas resepsionis memberitahu lantai dan nomor apartemen tempat Avaron tinggal. Lantai 21 nomor 201. Dengan lift, Shou mencapai lantai itu dengan waktu yang sangat singkat.

Dia melihat kiri-kanan saat dia menyusuri lorong lantai 21. Dan tidak lama kemudian dia menemukan pintu nomor 201 yang dia cari.

Dengan tidak sabar, Shou menekan bel pintu beberapa kali. Dia tidak sabar karena ingin mencicipi kue buatan Avaron.

"Avaron! Kau ada di dalam?" seru Shou dari depan pintu karena sudah semenit dia menunggu tapi tidak ada respon dari balik pintu.

Akhirnya, dia mendengar suara pintu dibuka oleh kunci dan terbuka lebar. Shou yang tadinya mengira dia akan melihat Avaron dengan ekspresi riangnya, akan menceritakan bagaimana serunya tadi saat dia merayakan ulang tahun Kai lewat telepon ternyata tidak sesuai dengan perkiraannya.

Avaron muncul dengan rambut yang sangat kusut, matanya bengkak dan memerah karena menangis dalam waktu yang cukup lama, wajahnya berantakan karena bekas air mata, dan ketika mata yang memerah dan memancarkan kesedihan yang sangat mendalam itu menatap Shou, Shou langsung merasa dia ingin sekali menyeret Kai ke ruang yang remang-remang, mengikatnya di kursi, dan menghajarnya berkali-kali.

"kau… kenapa?" Shou menatap Avaron dengan tatapan khawatir. "kau tidak apa-apa, kan? Apa yang terjadi padamu?"

"Shou, aku tahu kalau wajahku sekarang saat ini sangat jelek, dan mungkin lebih jelek daripada babi. Aku tahu kalau mataku bengkak seperti mata ikan koi, aku tahu suaraku sengau seperti kodok, dan aku juga tahu rambut sadako bahkan tidak lebih kusut daripada rambutku. Silahkan kau bebas mengataiku karena aku…"

Namun kata-kata Avaron tidak dia teruskan karena Shou berkata, "kalau ini karena Kai, katakan padaku dimana dia agar aku bisa kesana sekarang untuk membunuhnya." Dia berkata dengan sungguh-sungguh.

"ya, ini karena dia. Dan aku tidak ingin kau pergi untuk membunuhnya karena jujur, aku membutuhkan seseorang disini. Walaupun aku sangat tahu aku bisa sendirian mengatasi hal ini, walaupun sedari tadi aku terus berkata aku akan baik-baik saja, tapi air mata ini tidak bisa berhenti mengalir…" Avaron berkata lirih. Dia mulai menangis lagi.

"apa aku berlebihan? Apa ini karena aku berharap terlalu tinggi?" tanya Avaron di sela tangisannya.

Tanpa ragu, tidak peduli kalau Avaron mungkin akan menghajarnya karena dia melakukan ini, dia memeluk gadis itu, membiarkan air matanya membasahi kaus SexPot Revenge yang pernah dibelikan Avaron tempo hari, membelai rambutnya seperti seorang kakak yang membelai rambut adiknya yang menangis karena kehilangan mainan yang sangat dia sayangi…

A/N: *said to myself* did I just wrote that? O_O*ikutan nangis*

commentnya please... aku pengen tau kesan kalian setelah baca ini ^^