"We Are Brother, Hyung" chapt. 11

*sebelumnya*

Changmin masih terdiam ditempat dan menatap wajah Kyuhyun lekat, sedangkan Kyuhyun berpura-pura tidak melihatnya.

"Bagaimana jika kita pergi sekarang hyung?, karena aku tidak enak jika harus meninggalkan Hae Rie eomma di rumah"
"Ne, kita pergi sekarang saja" ajaknya.

Kemudian mereka pergi meninggalkan Cafe, Changmin tidak percaya dengan perkataan Kyuhyun barusan padanya.
"Kau pasti Kyuhyun!, aku tahu itu kau!, tapi kenapa kau seolah-olah tidak mengenalku?" gumamnya.

*selanjutnya*

*wabh*

Di kantin Rumah Sakit, Hana mengajak Hae Rie untuk bicara sesuatu padanya. Hana memegang erat cangkir berisi kopi dan menghela nafas sejenak. Hae Rie menatapnya lekat.

"Apa yang ingin kau bicarakan padaku, Hana?"

Hana tersenyum, lalu ia berkata "Bagaimana kabar onni?"
"Aku baik, begitu juga dengan kedua anakku"sahutnya
"Syukurlah, aku senang jika onni baik-baik saja"
"Jangan basa basi padaku, langsung saja katakan, ada apa kau mengajakku kemari?, bukankah kau ingin mengatakan sesuatu padaku?"
"Mian, jika aku membuat onni kurang nyaman. Sebenarnya, aku hanya ingin bertanya sesuatu pada onni"
" Apa yang ingin kau tanyakan padaku?"
"Mm...apakah...onni mau memaafkan Choyyi onni?"
"Hana!, kenapa kau harus menyebut nama itu di depanku!, bukankah kau tahu, aku sangat membencinya!"
"Aku tahu, tapi...apakah kesalahannya tidak bisa dimaafkan?"
"Jika hanya hal ini yang kau bahas!, sebaiknya aku pergi!" ucapnya.

Hae Rie beranjak, lalu pergi meninggalkan Hana begitu saja. Shindong yang duduk tidak jauh dari mereka, ia berjalan menghampiri istrinya yang tertunduk dan menangis.

"Yeoboe"
"Kenapa Hae Rie onni begitu keras untuk tidak memaafkan Choyyi onni?, bagaimana dengan Kyuhyun?, yeoboe...kasihan Kyuhyun, dia masih muda, tapi kenapa Kyuhyun harus menanggung beban berat ini?" ucapnya dan menangis sesenggukkan.

Shindong berdiri di sisi kirinya, Hana memeluk pinggang Shindong dan menangis. Shindong mengelus-elus punggungnya.

"Yeoboe, kau tahu Kyuhyun adalah anak yang kuat. Meski Hyunra juga Hae Rie tidak bisa memaafkan Choyyi, tapi kau harus yakin, Kyuhyun pasti bisa membuat mereka memaafkan Choyyi juga Sungmin hyung"
"..." Hana hanya bisa menangis, dan tidak bisa mengatakan apa-apa, karena hatinya begitu sedih memikirkan keponakannya yang berjuang sendirian agar mereka dapat memaafkan ibunya.

*wabh*

Sepanjang jalan, Kyuhyun hanya diam meskipun Donghae mengajaknya bicara, akan tetapi pikirannya masih bergelut akan kehadiran Changmin di Seoul.

"Kyu, apakah tadi eomma marah padamu?" tanyanya.

Donghae menatap Kyuhyun yang tampak melamun, hingga ia menepuk pundak Kyuhyun dan membuatnya tersadar dari lamunannya.

"Kyu!"
"Ah...ne hyung?" tanyanya.
"Kau kenapa?, apa yang sedang kau pikirkan?"
"Ah...tidak apa-apa" sahutnya.
"Apa kau memikirkan kejadian di Caffe tadi?"
"Ah...tidak hyung. Untuk apa aku memikirkannya, lagipula aku tidak mengenalnya" sahutnya berbohong.
"Kau yakin?" tanyanya seakan tidak percaya.
"Memangnya tampangku kelihatan berbohong?'
"Mm...aku tidak tahu juga, ya...mungkin saja...hahahhaa"
"Ish! Hyung!" kesalnya.
"O iya Kyu, tadi karyawan baru itu memanggilmu Kyuhyun"

Kyuhyun terdiam, matanya membesar karena terkejut dengan ucapan Donghae, ia takut jika Donghae akan curiga padanya.

"Aku jadi teringat pada temanku yang mengatakan bahwa namdongsaengku yang tinggal di Jepang, saat ini berada di Seoul"

Deg

Kyuhyun meremas sudut pakaiannya, ia benar-benar takut jika identitasnya terbongkar.

"Di...Seoul?"
"Nde, hm...jika dia memang ada di Seoul, mungkin saat pemakaman Choyyi ajumma, dia ada disana"
"Ya Tuhan, bagaimana ini?, bagaimana jika Donghae hyung curiga padaku?" batinnya.
"Jika pegawai itu memanggilmu Kyuhyun, apa wajahmu mirip dengannya?"
"M...mwo?, ah...hahaahaha, hyung pasti bercanda...ma...mana mungkin wajah kami mirip, nama kami saja berbeda" elaknya.
"Kau benar, tapi...apa mungkin pegawai itu kenal dengan namdongsaengku?" tanyanya.
"Hyung, bukankah kau ingin mengajakku jalan. Kita akan pergi kemana sekarang?" tanyanya dan berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ah iya, aku hampir saja lupa jika kau tidak mengingatkanku. Aku ingin mengajakmu ke Mall besar itu"
"Untuk apa kita ke Mall?"
"Kau ikut saja" sahutnya sambil memarkirkan Mobilnya.

*wabh*

Di dalam bis hanya terdapat beberapa penumpang, salah satunya adalah Hae Rie yang duduk di barisan kedua agak belakang, ia memandang kearah jalan. Perkataan Hana padanya terus terngiang di telinganya.

"Choyyi memang tidak pernah kasar padaku, tetapi...karena Choyyi...Sungmin oppa meninggalkanku. Hal itu lebih menyakitkan dari apapun juga. Jika kau bertanya padaku apakah aku bisa memaafkannya, aku tidak bisa. Luka itu sangat dalam." batinnya.
"Meski Choyyi sekarang sudah tiada tetapi aku masih belum bisa memaafkannya"

Hae Rie meneteskan air mata ,dan ia memegang dadanya, "Mianhe...mianhe" batinnya.

*wabh*

Saat jam istirahat, Changmin lebih banyak diam, hingga membuat Jonghyun juga Minho bingung menatapnya.

"Chaagmin, kau tidak makan?" tanya Minho
"Tadi...aku bertemu dengan Kyuhyun" ucapnya dan membuat kedua sahabatnya terkejut, bahkan Jonghyun menyemprotkan air minum yang barusan saja diseruputnya.
"Mwo?, kapan?, dimana?" tanya Minho bertubi-tubi.
"Sekitar 2 jam yang lalu"
"Kenapa kau tidak mengatakannya pada kami?" ucap Jonghyun
"Jika aku memanggil kalian Kyuhyun tetap tidak akan mengakui kita" sahutnya terdengar sedih.
"Sebentar!, kau bilang...Kyuhyun tidak akan mau mengakui kita?, apa maksudmu?" tanya Jonghyun lagi.
"Tadi aku senang bertemu dengannya, tetapi...aku rasa Kyuhyun sekarang berbeda"
"Berbeda bagaimana?" tanya Minho penasaran.
"Kyuhyun berpura-pura tidak mengenalku, dan lebih anehnya lagi...Kyuhyun mengganti namanya menjadi Lee Kyunnie"
"Lee Kyunnie?" tanya mereka
"Mm" angguknya.
"Bagaimana bisa Kyuhyun pura-pura tidak mengenalmu?" tanya Jonghyun
"Aku juga tidak tahu, tapi aku yakin dia Kyuhyun. Meski dia mengatakan bukan Kyuhyun, tapi itu dia" yakin Changmin.
"Apa mungkin Kyuhyun sedang menyembunyikan sesuatu dari kita?" duga Minho

*wabh*

Siwon berdiri di tepi Pantai, matanya menerawang memandang hamparan laut yang luas. Air laut menyibak menyapa kedua kakinya yang berpijak di atas pasir putih. Ia memaksa tersenyum meski air mata jatuh membasahi pipinya. Tetapi untuk saat ini, Siwon mulai merasa tenang.

Saat terfokus pada lamunannya, pandangannya menoleh kearah beberapa orang anak kecil yang bermain istana pasir bersama.

"Hyung, punyaku rusak" keluh salah seorang anak laki-laki paling kecil diantara mereka.
"Jangan sedih, hyung akan membuatkannya untukmu" sahutnya.
"Hyung juga akan membantumu" ucap salah seorang anak laki-laki yang agak tinggi darinya.

Siwon tersenyum melihat mereka, "Seandainya aku bisa seperti anak kecil itu, bermain bersama Teukie hyung juga Eunhyuk hyung, mungkin aku akan sangat bahagia" gumamnya.
"Tapi sayang, aku hanya membuat mereka semakin membenciku"

*wabh*

Donghae mengantarkan Kyuhyun tepat di depan gangnya, Kyuhyun senang karena ia bisa merasakan bagaimana rasanya refreshing bersama saudara kandung. Kyuhyun melambaikan tangan pada Donghae yang mengendarai Mobilnya. Setelah Donghae pergi, Kyuhyun berbalik dan berjalan menuju rumah Hae Rie sambil menenteng sebuah tas kecil berisi ponsel yang diberikan Donghae padanya.

Donghae yang masih merasa curiga pada Kyuhyun, ia mengendarai Mobil menuju Caffe miliknya. Setibanya di depan Caffe dan memarkirkan Mobil, Donghae bergegas masuk ke dalam dan mencari Changmin.

"Hyung, ada apa?, kau terlihat seperti mencari seseorang?" tanya Jungsin yang memandang Donghae aneh, karena dirinya celingak celinguk mencari seseorang.
"Dimana karyawan baru itu?" tanyanya.
"Karyawan baru?"
"Nde" sahutnya tegas.
"Changmin, Minho atau Jonghyun?" tanyanya.
"Panggil saja mereka bertiga, katakan aku menunggunya di ruanganmu" ucapnya.
"Apa mereka membuat kesalahan padamu, hyung?" tanyanya
"Panggil saja mereka, ini penting!" sahutnya
"Ne hyung"

Donghae menaiki anak tangga dan menunggu mereka di ruangan Jungsin. Ia duduk di salah satu sofa, sambil menunggu kedatangan mereka.

*wabh*

"Hei!, kalian bertiga dipanggil Manajer" salah satu karyawan senior membentak mereka yang berkumpul di taman belakang Caffe.
"Manajer memanggil kami?" tanya Jonghyun bingung.
"Nde!, cepat kalian ke ruangannya!" sahutnya ketus.
"Ne" sahut mereka.
"Apa kita melakukan kesalahan?" tanya Minho
"Aku juga tidak tahu, sebaiknya kita temui saja" sahut Changmin
"Ne" ucap mereka

*wabh*

Kyuhyun membuka pintu pagar, lalu ia tersenyum pada Hae Rie yang juga tersenyum padanya sambil duduk di teras rumahnya yang sederhana.

"Kau sudah pulang?" tanya Hae Rie.
"Ne, hari ini aku pulang cepat" sahut Kyuhyun, lalu duduk di sisi kanannya.
"Apa itu?' tanyanya
"Oh ini?, tadi majikanku yang membelikannya untukku, agar aku bisa dihubungi sewaktu-waktu"
"Oh..."
"Eomma sudah makan?"
"Belum, eomma baru juga datang, jadi eomma belum sempat memasak"
"Oh iya, aku hampir lupa. Tadi majikanku juga membelikan kimbab untukku, bagaimana kalau kita makan bersama, eomma?"
"Sepertinya majikanmu orang yang baik"
"Nde, meskipun dia terlihat agak kasar dari perkataannya, tapi sebenarnya mereka orang-orang yang baik"
"Eomma jadi penasaran, siapa mereka"
"..." Kyuhyun tersenyum padanya, lalu ia mengeluarkan bungkusan kimbab dari dalam tas ponsel.

Setelah membuka bungkusan kimbab, Kyuhyun menyuapi Hae Rie seperti yang pernah ia lakukan pada ibunya.

"Eomma, aku akan menyuapimu"
"Kyunnie, eomma bukan anak kecil lagi"
"Aku tahu. Dulu, sewaktu eommaku masih hidup, aku sering menyuapinya seperti ini" Hae Rie terenyuh mendengarnya.
"Eomma maukan aku suapi?" tanyanya.
"Mm" angguknya, dan itu membuat Kyuhyun bahagia.

Semenjak kehadiran Kyuhyun di rumah mereka, Hae Rie lebih sering tersenyum. Bahkan kedua anaknya begitu dekat dengannya. Setelah Kyuhyun menyuapinya, giliran Hae Rie yang menyuapi Kyuhyun. Mereka tertawa, dan Hae Rie mengelus kepala Kyuhyun lembut.

"Eomma, hari ini aku bahagia" batinnya.

*wabh*

Tok tok...

"Masuk" perintah Jungsin.

Mereka masuk setelah Jungsin mempersilahkannya. Mereka tampak bingung, karena bukan hanya ada Jungsin, melainkan Donghae juga ada di ruangan itu. Dengan sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai rasa hormat mereka.

"Anda memanggil kami?" tanya Changmin.
"Bukan saya, tapi pemilik Caffe ini yang memanggil kalian" sahut Jungsin.
"Duduklah" ucap Donghae.
"Ne" sahut mereka.

Kemudian mereka duduk bersama di sofa panjang. Jantung mereka berdetak cepat, karena mereka bingung, kesalahan apa yang telah mereka lakukan, hingga mereka dipanggil bersama.

"Kalau boleh tahu, ada apa anda memanggil kami?" tanya Changmin.
"Mian jika saya membuat kalian bingung. Sebenarnya, ada yang ingin saya tanyakan pada kalian"
"Tanya apa?" ucap Minho
"Tadi...kau memanggil Kyunnie dengan panggilan Kyuhyun. Apa benar, Kyunnie adalah Kyuhyun?" tanya Donghae
"Saya tidak tahu, apakah namja bernama Kyunnie itu adalah sahabat kami sewaktu di Jepang. Hanya saja..." ucap Changmin.
"Hanya saja, apa?"
"Hanya saja...wajah dan suaranya sangat mirip dengan Kyuhyun yang kami kenal"
"Kalau boleh tahu, siapa nama lengkap sahabat kalian itu?"
"Namanya Cho Kyuhyun" sahut Jonghyun.
"Cho...Kyuhyun?"
"Nde, jika anda penasaran, saya akan memperlihatkan fotonya" ucap Changmin, lalu mengeluarkan foto saat mereka masih SMA, dan menyodorkan padanya.

Saat melihat foto tersebut, tangan Donghae bergetar, matanya berkaca-kaca, ia merasa tidak percaya bahwa adik kecilnya yang sering ia cari keberadaannya, kini sangat dekat dengannya.

"Jadi...Kyunnie itu...Kyu...hyun?" ucap Donghae ketika melihat foto yang diperlihatkan Changmin padanya.
"Saya juga tidak mengerti kenapa Kyuhyun harus mengganti namanya menjadi Lee Kyunnie" sahut Changmin.
"Apakah...nama appanya Lee Sungmin dan eommanya Cho Choyyi?" tanyanya lagi.
"Nde, Sungmin ajussi dan Choyyi ajumma adalah orangtua Kyuhyun" sahut Jonghyun.

Donghae tersandar, air matanya mengalir begitu saja. Changmin, Jonghyun, juga Minho bingung padanya.

"Apa, namdongsaeng yang kau cari adalah namja difoto itu, hyung?" tanya Jungsin.
"Namdongsaeng?" kaget mereka.

Tbc