"Kau kemana saja, hah?!"

Tenten menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Itu dia, semangat masa muda Sakura.

"Sampai bolos kuliah, pasti kau menghabiskan waktu bersama pacarmu, kan?" goda Ino sambil menunjuk, senyuman usil di wajahnya.

"Eeeh..." Tenten tidak tahu harus mulai dari mana.

"Kupikir kau diculik, tahu! Setidaknya beri kabar!"

"Te-tenanglah, Sakura..."

"Bagaimana aku bisa tenang, Hinata?!"

"Yah, tapi Tenten masih hidup, bukan. Setidaknya kau bisa tenang sedikit."

"Benar, Sakura. Aku masih hidup."

"Diam! Diaaam! Jangan membelanya, Ino! Kau juga! Menghabiskan empat hari bersama suami orang?! Apa yang terjadi dengan peraturan bertemu setiap seminggu sekali?!"

Meja favorit mereka di cafe mendadak senyap. Firasat buruk Tenten mendatanginya secepat badai di musim panas. Tiba-tiba, mematikan dan tanpa peringatan.

"Kau...menghabiskan empat hari dengan orang lain, ya?"

"Tenteeen! Sejak kapan kau jadi perempuan nakal begini?" gumam Sakura putus asa, wajahnya tertutupi telapak tangan.

"Apa itu benar, Tenten?" tanya Hinata.

Tenten berpose sama seperti sahabat berambut merah mudanya; ekspresi frustasi. Ia sudah merasa sangat bersalah membuat mereka khawatir, belum lagi perihal menghabiskan waktu bersama Naruto, objek kasih sayang Hinata.

Tenten harus mulai dari mana?!

"Orang itu...jangan-jangan, Naruto-kun?"

Glek.

"Ha?!"

"Naruto?!"

Kenapa Hinata bisa tahu duluan?!

"Tung, Hinataーayolah, mana mungkin, kan!" canda Tenten kalang kabut.

"Habisnya..." mulai Hinata.

"Hmmp!" desah Tenten yang dibekap Ino.

"Kau diam saja, Tenten!"

"Apa, Hinata?" tanya Sakura.

"Naruto-kun juga menghilang selama empat hari...jadi kupikir..."

"Kebetulan!" teriak Tenten.

"Tapi...Naruto-kun sendiri bilang kalau dia menyukaimu Tenten, jadi..."

Senyap.

Si bodoh satu itu, geram Tenten dalam hati. Ia akan pukul kepala duriannya sampai menjadi gumpalan kuning tak berbentuk!

"Sikapmu buruk sekali, Tenten. Menyembunyikan fakta dari kami." keluh Ino.

"Apapun itu, kami pasti akan mencoba memahami keadaanmu. Kau pikir Hinata tidak akan bisa menerima kedekatan kalian?"

"A...aku..."

Tenten menatap Hinata penuh rasa bersalah. Hidup Tenten memang kacau; tapi kehidupan sahabatnya tidak harus begitu. Ia tidak akan tega menyeret mereka ke dalam kerumitan hidupnya. Tapi jika ja tidak jujur sekarang, semua hanya akan menjadi semakin sulit.

"Maaf...Hinata...tebakanmu benar..." ucapnya lemas.

"Aku sedang tertekan dan tidak berpikir dengan benar, aku minta maaf."

Hinata menggeleng. "Ti-tidak perlu begitu...Naruto-kun juga bukan siapa-siapaku."

Ino menyenggol Hinata sumringah. "Yang benar? Tidak apa-apa kok marah pada Tenten. Dia pasti kuat menerima satu, dua tamparan."

"Ino..." desah Tenten lemah.

"Um...menurutku, itu tidak perlu." imbuh Hinata. "Lagipula, marah-marah tidak akan membuat Naruto berpaling padaku, kan."

Tenten mengangguk antusias. "Itu benar. Kau bijak, Hinata."

Sakura melipat kedua tangannya kemudian menghela nafas. "Haaah...kau pengertian sekali, sih, Hinata. Tenten beruntung punya teman sepertimu."

"Tenten beruntung punya teman-teman seperti kita." Ino menyengir. "Bahkan meskipun dia selingkuh dengan suami orang, kita tetap mendukungnya 100%."

Sakura mendelik. "Aku tidak pernah bilang aku setuju akan hubungannya itu."

Hinata menggumam. "Aku juga...pikir lebih baik Tenten tidak melanjutkannya. Ini tidak baik, akan banyak yang terluka."

Keceriaan di wajah Tenten berangsur surut. Ia sadar kalau topik pembicaraan hari ini adalah tentang ikatannya dengan Minato. Bagaimanapun kau melihatnya, kecuali kau berada di posisi Tenten, sudah pasti ikatan ini tidak akan berakhir baik. Hubungan ini tidak mengarah ke mana-mana.

"Kalau kau segitunya perlu sugar daddy, aku bisa carikan om-om singleー"

"AKU TIDAK PERLU YANG BEGITU, INO!"

Ino terkekeh, tidak mempedulikan pelototan Sakura yang mempertanyakan maksud perkataan si pirang itu.

"Tenten?" Hinata terdengar khawatir melihat Tenten menunduk, wajahnya terbenam di kedua tangannya.

"Aku juga...bukannya berniat buruk..." lirihnya.

"Tapi aku tidak bisa mengatakan ingin pisah darinya..."

Semuanya akan terlalu menyakitkan untuk ditinggalkan. Minato adalah cinta pertamanya setelah sekian lama Tenten tidak menemukan apa itu cinta, ia membuat Tenten bahagia lebih dari apapun. Minato tidak pernah menyakiti Tentenーia tidak pernah berniat punya hubungan gelapーtakdir mempermainkan mereka bertiga secara kejam, yang diinginkan Minato hanyalah menyayangi wanita yang dicintainyaーTentenーdan Kushina.

Minato tidak ingin menyakiti siapapun.

"Hmm...kalau kau masih sulit membicarakannya, aku boleh bahas yang lain dulu, kan?" tanya Ino.

"Ino!"

"Yang lain?"

Ino menyengir lebar, Tenten dan kawan-kawan tidak pernah melihatnya seceria hari ini.

"Kalian tahuーaku punya sumber gosip terpercaya di kota iniーyang akan kuberitahukan akan segera diketahui publik besok, tertera di halaman depan koran pagi!"

"Kedengarannya serius. Kau yakin boleh membicarakannya dengan kami?" tanya Sakura.

"Hm-hm! Hm-hm! Jadi kalau keributan terjadi sebelum hari ini berakhir, aku akan tahu kalau kalian dalangnya!"

"Jangan katakan itu dengan santai, dong..." keluh Tenten.

"Jangan-jangan...soal skandal pemerintah Konoha itu?" tanya Hinata pelan.

"Eh?" Tenten menoleh.

"Hinata kan anak pejabat, pasti tahu soal urusan beginian, ya?" sahut Sakura.

"T-tidak juga. Cuma dengar desas-desus..."

"Ahh! Benar juga! Aku dengar pihak pemerintah mencoba bernegoisasi untuk menghentikan pihak koran mencetaknya besok, tapi pihak koran menolak atas dasar kebebasan pers!"

"Serius sekali...aku jadi takut nih." kata Tenten.

"Bukan apa-apa, kok," mulai Ino sembari mencari-cari foto di hapenya, "cuma skandal perselingkuhan ini."

Jantung Tenten melompat. Seolah mengerti apa yang dipikirkannya, Sakura dan Hinata tertawa kecil, mencoba meyakinkan Tenten kalau itu bukan tentang dia dan kekasihnya.

"Tenang, kalau memang itu tentangmu, kau pasti sudah dikerubungi banyak wartawan sekarang!"

"Begitukah...?"

Di tangan Ino, menghadap ke semuanya, adalah foto profil samping Minato dalam pakaian kasual, sedang mendorong sesosok wanita ke dinding, di mana wanita itu tidak tampak perawakannya sedikitpun, hanya kakinya yang jenjang tidak tertutup kain jeans shorts yang dikenakannya tertangkap kamera. Minato tampak terpejam, mencium perempuan di pelukannya mesra. Dilihat saja perempuan itu lebih muda darinya.

Tapi sepasang sepatu olah raga berwarna ungu ituーtidak salah lagi, Tenten adalah satu-satunya yang akan mengenakan sepatu kets ke restoran mewah.

Jantung Tenten melompat. Lagi.

"APA?!" seru Sakura tidak percaya.

"Te-tenten...?" bisik Hinata sambil menutup mulutnya.

"Da-dari mana kau dapatkan foto ituー"

Ino tersenyum puas. "Aku sudah lama curiga, karena menurut info yang kudapat, M-san selalu menghilang setiap akhir pekan." ujarnya hati-hati, tidak ingin pengunjung lain dengar.

"Bukankah kau selalu menghilang setiap akhir pekan? Aku pikir, tidak mungkin kau orangnya, tapi, semuanya cocok. Apalagi narasumber yang memberitahuku sudah lama mengawasi jadwal M-san. Tapi tenang saja, aku tidak memberitahunya tentangmu. Dia juga mengumpulkan berita ini karena perlu sesuatu untuk mengisi kolom gosip koran kota, tidak ada niat memeras atau menjatuhkan

M-san."

"Tapi tetap saja! M...san," jeda Tenten, "bisa terlibat masalah besar di pekerjaannya! Ini skandal besar!"

"Aku juga tahu itu. Tapi pihak pemerintah katanya sudah menyiapkan pembelaan kalau tidak ada bukti bahwa perempuan di foto ini bukan istrinya, dan bisa siapa saja mengambil foto untuk menjebak M-san, jadi kurasa ini akan menjadi kabar burung saja."

Sakura dan Hinata terpana melihat Tenten yang tampak panik membela Minatoーjelas sudah, sekarang misteri siapa kekasih Tenten bukan lagi rahasia. Memang akan menjadi berita besar, mengingat Minato adalah salah satu pejabat tinggi Konoha yang banyak berjasa membangun kota. Jika ditanamkan pemikiran ada orang yang iri dan ingin mencoreng nama baik beliau, masyarakat akan melupakan hal ini dalam waktu dua minggu. Hal ini lumrah terjadi.

Ino meletakkan hapenya di atas meja. Ekspresinya tenang, tanpa beban.

"Kau mengerti posisimu sekarang, Tenten? Kau menempatkan M-san, istrinya, dan...anaknya," Ino memberi tekanan pada kata anak, "bahkan dirimu sendiri, dalam lubang yang dalam dan berbahaya. Aku tidak menyangka kalau kau juga akan menerima pendekatan Naruto. That's an even deeper shit than I'd thought, dear."

Tenten terhenyak. Ia tahu perkataan Ino benar adanya. Tidak ada yang salah dengan pernyataan gadis berbola mata aquamarine itu. Sosok yang suka bercanda dan sering bergosip itu menunjukkan sisi seriusnyaーkarena ingin Tenten keluar dari situasi ini, kan?

Tenten menunduk. "Aku..."

"Tenten." panggil Sakura.

"Kami tidak bisa memberitahumu untuk melakukan hal yang benar jika hatimu memilih untuk tidak melakukannya, tapi kami ingin kau tahu kami mendukungmu selalu, bahkan jika itu hal yang salah."

"Sakura..."

Tangan Hinata mengambil telapak tangan Tenten lembut. Wajah keibuan itu menyambut mata brownies Tenten.

"Lakukan apapun yang membuatmu bahagia."

Deg.

"Semua keputusanmu ada konsekuensinyaーaku yakin kamu sadar, Tenten. Tapi jika hal itu membuatmu senang meskipun itu salah, tidak ada yang berhak memberitahumu untuk melakukan apa."

"Hinata..." desah Ino tidak menyangka.

"Kadang kamu bisa mengatakan sesuatu tanpa terbata juga, ya?" puji Sakura.

Tenten menarik nafas panjang. Tidak bisa dipungkiri lagi, ia memang sudah masuk ke lubang yang bahkan ia tidak tahu kedalamannya. Ia tidak pernah menduga semuanya akan jadi serumit ini. Dilema antara melakukan yang membuatmu senang, dan hal yang benar...ya?

"Aku...sangat mencintai...M-san..."

Ketiga temannya terdiam.

"Aku tahu ini salah sejak hari pertama kami memulai hubungan iniーNaruto juga, padahal aku sudah sekuat tenaga menolak pendekatannya, tapi dia benar-benar keras kepala!"

Sakura melirik Ino, kemudian melirik Hinata. Mereka saling memandang.

"...tapi...sial, kenapa aku populer di kalangan ayah dan anak?! Ini benar-benar menyebalkan!"

Ketiga teman Tenten tertawa mendengar perkataan gadis itu.

"Tapi, dengar, aku tahu semuanya sedang terlihat kacau sekarang, tapi aku berencana memperbaiki semuanya. Meskipunーjika nanti M-san menciumku dengan rakusー"

"Eww!"

"Too much information!"

"K-kurasa kami tidak perlu tahu itu-"

"ーmeskipunーjika Naruto mencoba memenangkanku kembali dengan ciuman kekanakannya ituー"

"Tenten!"

"Too much information (2)!"

Hinata meringis malu.

"ーakuーakan mengatakan tidak pada mereka."