"Kemah setelah ujian nasional, ya?" gumam Kyungsoo mengangguk-angguk membaca lagi kertas pengumuman yang tertempel di mading sekolah itu. Kemudian ia beralih pada Luhan, bertanya, "Kau ikut?"
Luhan mendongak pada Sehun yang berada disebelahnya. "Bolehkah?" tanyanya. Sesekali Sehun melirik Luhan dengan dagu yang dia usap jemarinya. "Aku menurut pada Sehun saja." kata Luhan pada Kyungsoo.
Kyungsoo manggut-manggut lagi. Kali ini ia beralih pada Sehun untuk melihat reaksinya. Berharap Sehun mengiyakan dan ia bisa berkemah bersama Luhan. Namun begitu melihat gelengan Sehun untuk pertanyaan Luhan tadi, Kyungsoo merengut. Hendak Kyungsoo protes namun Luhan yang berkata, "Ya sudah." sebagai tanggapan dari gelengan Sehun, membuat Kyungsoo mengurungkan niat.
Luhan ini. Kyungsoo merengut selepas Sehun pergi dari Luhan. Ia menarik-narik sebelah lengan Luhan merajuk. Sedangkan Luhan menaikkan sebelah alisnya sungguhan tak mengerti dengan apa yang dimaksud Kyungsoo.
"Ada apa?"
Kyungsoo makin merengut. "Kau tak ingin ikut kemah apa?" tanyanya protes. Luhan menaikkan kedua alisnya samar sebelum dirinya tertawa. Rengutan Kyungsoo berubah menjadi raut wajah heran. "Kenapa memangnya?"
"Kau tahu, tidak? Kalau malam-malam kemah di gunung itu mengerikan." Luhan membuat gerakan mengerikan dengan kedua tangannya di depan wajah Kyungsoo. "Kau akan bertemu dengan Burung Hantu, Harimau, atau Ular. Lalu kalau kau keluar dari perkemahan sendirian, kau akan…" Luhan menggantungkan kalimat melihat reaksi Kyungsoo yang memandangnya datar. Luhan mendengus. "Tidak jadi, ah."
Kyungsoo berdecak. "Ayolah… Pasti menyenangkan bisa berkemah bersama teman-teman yang lain dan juga dirimu. Lagipula kenapa kau meminta ijin pada Sehun tadi?"
"Aku sudah berjanji untuk selalu bersamanya, Kyungsoo."
"Tuh!" Kyungsoo tiba-tiba melompat menjauhi Luhan seraya menatap Luhan dengan pandangan berlebihan. Luhan tersentak kecil karena suara Kyungsoo tadi. "Kalian pacaran?!"
Luhan mengerjap, refleks menepuk lengan Kyungsoo cukup keras hingga perempuan bermata bulat itu mengaduh kecil. "Enak saja. Pacaran kepalamu itu." sungut Luhan. Diam-diam Luhan menahan rona merah yang menjalar nakal diwajahnya. "Sudah aku bilang kan kalau aku hanya berteman dengannya."
Kyungsoo menyeringai jahil, tak mendengarkan penjelasan Luhan tentang status hubungannya dengan Sehun. Ia menunjuk Luhan dengan kedua alis yang dinaik-turunkan menggoda. Luhan hampir tak bisa menahan rona merah itu dan hampir saja salah tingkah kalau Baekhyun tak datang.
"Ada apa?" tanya Luhan pada Baekhyun yang baru saja datang memanggil namanya.
"Ikut kemah, tidak?" tanya Baekhyun balik. Luhan menggeleng dan Baekhyun mendesah kecil. "Kenapa tidak ikut?"
"Tidak diperbolehkan Sehun."
Baekhyun berdecak. Segera ia mengambil ponsel, mengetik sembarang dilayarnya, lalu menunggu seseorang yang ditelponnya untuk menerima panggilan. Baru setelah itu, Baekhyun berkata, "Ya! Sehun! Kenapa tak kau ijinkan Luhan ikut berkemah? Kalau Luhan ikut kan kau juga bisa ikut…. Aih, harus ikut!... Nah, begitu." Baekhyun mengangguk-angguk puas. Ia menutup panggilan, dan tersenyum senang pada Luhan yang menatapnya bingung bersama Kyungsoo.
"Kau menelpon Sehun?" tanya Luhan. Baekhyun mengangguk cepat.
"Dia bilang kau boleh ikut. Dan kita bertiga bisa kemah bersama." katanya senang. Lalu menempelkan ibu jari beserta jari telunjuk tangan kanannya di dagu. "Bagaimana, aku keren kan?"
Luhan tertawa kecil. "Terima kasih, omong-omong."
A Letter For Little Fairy
10. Hilang?
"Ini caranya bagaimana?"
Sehun beralih pada soal yang ditunjuk Luhan. Ketika sudah memahaminya, Sehun mulai menjelaskan. Dan Luhan akan memperhatikan dengan dagu yang terketuk pensil.
Malam ini, Luhan berhasil memaksa Sehun bangun dari tidur untuk mengajarinya Fisika. Enak saja besok sudah mulai ujian dan Luhan belum memahami mata pelajaran yang satu itu. Sementara Sehun yang sebenarnya ogah-ogahan bangun dari tidur nyenyaknya, akhirnya terpaksa menurut. Kalau Luhan tak segera dituruti, makin pusinglah kepala Sehun nanti.
Dan disinilah mereka. Di ruang tengah rumah Sehun. Dengan banyak macam buku yang tak Luhan mengerti, makanan ringan sebagai pengganjal perut, dan tiga kaleng minuman bersoda yang dua diantaranya sudah habis.
"Sudah me―" Sehun tak melanjutkan kalimatnya melihat Luhan tertidur karena penjelasannya. Tanpa sadar Sehun mengulas senyum kecil. Cantiknya Luhan saat tertidur…
Sehun merapikan buku-buku tebal miliknya yang berada di meja, menyingkirkannya di sofa kemudian. Bungkus makanan serta kaleng pun ikut Sehun singkirkan dari meja. Sehun mengambil selimut dari kamar dan membalut tubuh Luhan dengan kain hangat itu. Kemudian Sehun ikut meletakkan kepalanya di meja memandang Luhan yang tertidur.
Aih.. Mungkin saking sulitnya materi yang dijelaskan dari pukul delapan sampai pukul sepuluh ini membuat otak Luhan mendidih. Lalu dengan caranya sendiri, otak tersebut membuat Luhan mengantuk dan tertidur.
Lagi-lagi kebiasaan Sehun muncul. Kalau Luhan sedang tidak sadar, Sehun selalu memperhatikannya. Merekam wajah perempuan itu untuk disimpan baik-baik dimemorinya. Lalu ketika Luhan sedang dalam keadaan sadar dan sedang bersama dirinya, Sehun akan melakukan apa saja agar perempuan ini selalu berada disisinya. Apa saja…
Termasuk merelakan Luhan untuk selalu jatuh cinta pada laki-laki lain dulu.
Tangan Sehun terulur untuk menyingkirkan anak rambut Luhan dari wajahnya, menyelipkannya di belakang telinga dengan lembut. Lekukan samar di kening Luhan sempat terlihat selama satu detik sebelum tergantikan dengan senyuman kecil tanda Luhan mulai benar-benar masuk ke alam mimpi. Sehun tersenyum lagi. Raut wajah Luhan membuat hatinya ikut tenang sendiri.
Bahkan Sehun tak dapat menghitung berapa saja raut wajah Luhan yang sudah dia rekam dan dia simpan di dalam otaknya, dan berapa saja raut wajah Luhan yang menjadi faforitnya. Mungkin raut wajah tenang milik Luhan saat tertidur adalah salah satunya. Atau raut wajah yang lain.
Bagi Sehun. Apapun yang ada dan yang berhubungan dengan Luhan, Sehun selalu suka.
Suara pintu yang terbuka dan tertutup kembali membuat Sehun beralih. Laki-laki itu bangkit untuk menghampiri si pemilik langkah kaki yang terdengar dari ruang tengah. Begitu ia menemukan kakaknya yang baru saja pulang dari rumah sakit, Sehun berkata, "Jangan berisik, ya? Luhan tidur."
Kening Sehyun berkerut bingung. Namun ketika ia menilik belakang tubuh Sehun dan melihat Luhan tertidur dengan posisi duduk seperti itu, Sehyun tersenyum seraya mengangguk. Ia berjalan menuju dapur setelah melepas jaket dan meletakkannya di bahu sofa.
"Sudah makan, belum?" tanya Sehyun pada adiknya. Sesekali melirik Sehun saat ia menuangkan air putih di gelas yang baru saja diambilnya.
"Sudah." jawab Sehun singkat. "Noona sendiri?" tanyanya balik. Tanpa menunggu jawaban kakaknya yang sedang menghabiskan segelas air putih itu, Sehun melanjutkan, "Aku yakin noona pasti belum makan malam."
Sehyun terkekeh. Bukannya menjawab, perempuan itu berkata, "Besok kan kau sudah mulai ujian. Cepat tidur sana. Sebelum itu, kau harus memindahkan Luhan di kamarku. Cara tidurnya tidak baik untuk tubuhnya sendiri."
Sehun mendecakkan lidah, mengangguk kemudian. Ia bangkit dan meninggalkan kakaknya di dapur. Lalu Sehun menggendong Luhan dengan hati-hati agar perempuan itu tak terbangun. Namun saat membaringkannya di tempat tidur milik Sehyun, mata Luhan bergerak-gerak dalam pejaman. Sehun menahan napas saat melihat Luhan terbangun sedangkan mereka memiliki jarak yang cukup dekat.
Luhan gelagapan. Mata Sehun barusan menatap maniknya dan Luhan merasa salah tingkah sendiri. Segera Luhan menggerakkan tubuhnya agar Sehun cepat menjauh.
"Apa aku tadi tertidur lama?" tanya Luhan serak. Luhan mendudukkan diri kemudian.
Sehun menggeleng. "Tidak juga." jawab Sehun ikutan serak.
"Baiklah. Aku pulang saja."
"Eh." Sehun menahan Luhan yang hendak turun dari tempat tidur. Sehun mulai gugup sendiri saat menyadari gerak refleksnya tadi.
"Apa?"
"Kau―ini sudah malam. Diluar juga dingin sekali." Sehun menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Tidur saja disini tidak apa-apa."
Luhan tertawa kecil.. "Besok sekolah, Sehun. Aku juga tidak ingin merepotkanmu."
"Tidak, tidak. Ada Sehyun noona disini. Jadi tidak akan merepotkanku."
"Eh?" Luhan mengangkat kedua alisnya samar. Matanya beralih pada pintu yang masih terbuka dan masuklah sosok Sehyun. Perempuan itu tersenyum pada Luhan ketika dirinya menyadari Luhan bangun dari tidurnya.
"Oh. Kau terbangun?" tanya Sehyun. Luhan mengangguk kecil sebagai jawaban. "Pasti Sehun melakukan hal yang tidak-tidak ya sampai kau terbangun?"
Tiba-tiba saja Luhan jadi gelagapan. Dan Sehun menggaruk tengkuknya lagi yang tak gatal. Melihat reaksi dua orang muda ini, Sehyun tak bisa menahan senyuman geli.
"Tidak. Aku saja yang terbangun sendiri." jawab Luhan jujur. Luhan benar-benar turun dari tempat tidur. Hendak ia bangkit namun suara Sehyun membuatnya mengurungkan niat.
"Aku sudah bilang ke bibi Kim kalau kau tertidur disini. Bibi bilang tidak apa-apa. Asal besok pagi-pagi kau harus sudah pulang ke rumah. Biar Sehun yang mengantarmu besok pagi."
Luhan jadi tak punya pilihan dan alasan lain untuk menolak. Pada akhirnya ia mengangguk. Lalu Sehyun pergi dari sana, menyisakan Sehun dan Luhan yang masih saling diam.
"Jadi… Aku tidur dulu, ya?" tanya Luhan pelan. Ia melirik Sehun yang mengangguk dan tersenyum. Luhan membaringkan diri dan menyelimuti dirinya sendiri dengan canggung. Ia melirik Sehun yang masih berada ditempatnya. "Kau tidak keluar?"
Sehun gelagapan. "Ya, tentu. Aku lupa." jawabnya gugup. Ia bangkit dan berjalan keluar dari kamar. Sebelumnya lampu kamar kakaknya itu Sehun matikan dan Sehun menutup pintunya. Luhan tersenyum dalam kegelapan.
Lensa kontak yang masih dipakainya, Luhan lepas dengan mudah. Setelah itu Luhan meniupnya hingga menghilang menjadi serbuk cahaya mirip kunang-kunang. Cahayanya menghilang beberapa detik setelahnya.
.
.
.
"Luhan, ayo bangun."
Luhan menggeliat kecil. Selimut yang masih membungkus tubuhnya itu ditarik sampai hampir menutupi hidungnya. Tepukan lembut beserta suara serak milik Sehyun yang membangunkannya membuat Luhan mengernyit. Luhan mengerjap beberapa kali dan sempat tersadar bahwa Sehyun tidak boleh tahu tentang manik matanya yang berwarna biru itu. Luhan kembali memejamkan mata pura-pura mengantuk.
"Iya, sebentar." gumam Luhan. "Beri aku waktu satu menit saja untuk menuntaskan mimpiku." lanjutnya beralasan.
Sehyun terkekeh. Perempuan itu mengiyakan permintaan Luhan dan pergi setelah berkata, "Temui Sehun di ruang tengah setelah ini, ya."
Suara pintu yang tertutup membuat Luhan membuka mata. Luhan mendudukkan diri, lalu menggosok matanya yang masih benar-benar mengantuk. Ketika melirik jam digital di meja kecil dekat tempat tidur, Luhan baru menyadari bahwa ini kali pertama Luhan bangun sekitar pukul lima pagi. Biasanya Luhan bangun saat waktu menunjukkan pukul setengah enam pagi.
Luhan turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan berkumur. Setelahnya Luhan menghampiri meja rias milik Sehyun dan bercermin disana. Luhan mengangkat sebelah tangannya, lalu mulai memfokuskan diri untuk mengembalikan lensa kontaknya yang semalam Luhan sembunyikan di suatu tempat. Setelah mendapatkannya, Luhan memakainya dengan mudah. Matanya mengerjap-erjap dan Luhan tersenyum pada pantulan dirinya sendiri di cermin.
"Luhan sudah bangun, belum?" suara Sehun yang bertanya pada Sehyun terdengar dari balik pintu kamar.
Luhan menoleh, mendekati pintu, lalu membukanya. Punggung Sehun yang berada tidak jauh darinyalah yang Luhan lihat saat ini.
"Tuh, di belakangmu." Sehyun menunjuk Luhan yang baru saja keluar dengan dagu.
Sehun berbalik, lalu menemukan Luhan yang berjalan pelan mendekatinya. Senyuman gelinya tertoreh melihat Luhan menguap dengan sebelah tangan yang menggosok matanya. Sehun meraih tangan itu dan menjauhkannya dari mata Luhan. Luhan menatapnya.
"Jangan digosok."
Luhan berdecak. "Apa urusanmu?" tanyanya singkat. Ia menarik kembali tangannya dan berjalan melewati Sehun menuju pintu utama rumah ini. Rasa-rasanya Luhan ingin cepat-cepat pulang.
"Eonnie. Aku pulang."
"Noona. Aku mengantar Luhan dulu, ya."
"Iya."
"Seharusnya kau tidak perlu mengantarku pulang." ujar Luhan setelah Sehun berbalik menutup pintu.
Sehun mengiringi Luhan yang sudah berjalan terlebih dahulu. "Sudah terlanjur. Aku malas pulang lagi."
Luhan mendesis. Ia berjalan lebih cepat dan tak perduli pada Sehun yang berada di belakangnya.
Sejujurnya, melihat Sehun yang baru saja bangun tidur tadi itu membuat Luhan tak tahu lagi mendiskripsikan betapa tidak karu-karuannya perasaannya kali ini. Sehun dengan rambut hitamnya yang belum disisir, lalu raut wajah mengantuknya, serta suara seraknya. Alih-alih menghindar, Luhan bahkan terus terbayang Sehun yang seperti itu sekarang ini.
Entahlah. Luhan pikir dia memang sudah sinting. Tadi saat Sehun berbalik dan menarik tangannya, ada aliran listrik yang menyengat permukaan kulit Luhan. Aliran itu mencubitinya, membuatnya ingin cepat-cepat pulang agar Sehun tak mempengaruhinya lebih jauh dari itu.
Tapi kemudian―
"Heh, Luhan. Rumahmu dimana, eh?"
Luhan berhenti melangkah dan tersadar. Ia berbalik, berlari kecil menghampiri Sehun, dan menepuk lengan laki-laki itu seraya berkata, "Kenapa kau tak memanggilku dari tadi?" dengan nada protes. Baru saja Luhan melewati rumahnya sendiri karena pikiran aneh-anehnya tentang laki-laki ini.
"Siapa suruh pagi-pagi sudah cemberut begitu. Aku jadi malas memanggilmu." Sehun menepuk-nepuk pipi Luhan yang mulai memanas rasanya. "Sudah cepat sana pulang. Aku malas menjemputmu kalau nanti kau belum siap berangkat sekolah."
Luhan cemberut. Ia kembali melangkah menuju rumahnya. Namun sebelum ia melangkahkan langkah keduanya, Sehun menarik rambut Luhan hingga perempuan itu menjerit kecil. Luhan menatap Sehun jengkel setelah itu.
"Kau ini kenapa, sih?"
"Lihat dulu itu jalannya." Sehun menunjuk sebuah mobil yang melintas di depan mereka dengan dagu. "Jangan asal main menyeberang saja. Kau pikir jalan ini punya siapa?"
Luhan makin merengut. Makin kusut pula wajah Luhan saat ini. Sudah jengkel karena Sehun seenak jidatnya sendiri menarik rambutnya, lalu sudah mati-matian pula Luhan menahan rasa panas yang menjalar nakal dari leher menuju wajahnya. Dan cemberutnya Luhan tentu saja membuat Sehun tertawa kecil. Puncak kepala Luhan diusaknya gemas kemudian.
"Aih. Sudah, sudah." Luhan menyingkirkan tangan Sehun dari kepalanya. Perempuan itu melihat jalanan dan benar-benar menyeberang untuk pulang. Ketika hendak membuka pagar, Luhan berbalik. Sosok Sehun yang memandanginya membuat Luhan sempat membeku.
Sehun memandanginya dari seberang sana. Seolah mengawasinya agar tak terjadi apa-apa nanti. Luhan sungguh berdebar-debar lagi, dan ia menunduk untuk menghindari tatapan Sehun padanya.
Cukup sudah olahraga jantung di pagi hari ini. Luhan tidak ingin berlama-lama terkena resiko yang lebih parah karena pengaruh Sehun.
.
.
.
"Siap-siap? Kemah!"
Sehun diam-diam tak dapat menahan senyuman geli. Ketika Luhan sedang melompat-lompat bagai peri kecil yang menggemaskan di depannya, Sehun hanya mampu menahan diri untuk tak gemas pada Luhan. Sebenarnya Sehun ingin sekali meremas tangan Luhan yang berada dalam genggamannya. Setelah itu Sehun akan menciumi punggung tangan Luhan kalau seandainya Luhan merengek kesakitan.
"Iya, Luhan. Sabar." ujar Sehun menenangkan. Sebisa mungkin ia menahan langkah kaki Luhan dan membuat Luhan memberi perhatian penuh padanya.
Luhan cemberut. Perempuan itu berbalik dan menatap Sehun jengkel. "Omong-omong aku harus berterima kasih padamu karena kau sudah memperbolehkanku ikut kemah. Lalu yang kedua, aku belum punya pakaian yang co―"
"Iya, Luhan." Sehun menyela dan tersenyum. Luhan melipat bibir ke dalam karena lagi-lagi Luhan merasa malu sendiri. "Jangan melompat-lompat seperti itu. Kau tahu sendiri sekarang kita dijalan."
Luhan nyengir. Ia mengangkat kedua bahu dan tersenyum-senyum malu saat Sehun mengusak puncak kepalanya lembut.
Mereka berdua berjalan kembali di trotoar yang ramai akan pejalan kaki. Setelah ujian selesai dan di rumah tidak ada kerjaan, Luhan mengajak Sehun untuk keluar rumah. Awalnya hanya berniat untuk refreshing, tapi ketika melewati jajaran toko-toko kecil di pinggir jalan, Luhan meminta Sehun untuk menemaninya membeli beberapa keperluan yang digunakan untuk kemah lusa depan.
"Aku belum punya yang ini." kata Luhan sembari menunjukkan beanie hat berwarna putih pada Sehun. Ia memakainya, dan bertanya, "Apa ini bagus untukku?"
Sehun menggeleng. Ia meraih beanie hat dengan warna hitam. Sehun mengganti beanie hat yang dipilih Luhan tadi dengan beanie hat yang dipilihnya. Sehun tersenyum seraya menepuk-nepuk puncak kepala Luhan pelan. "Warna hitam lebih bagus untukmu."
"Aku suka warna putih." Luhan mendebat dengan cemberut. Ia meraih beanie hitam di kepalanya lalu memakaikannya pada Sehun. Senyuman Luhan terukir begitu manis ketika Luhan berusaha memakaikan beanie hat itu di kepala Sehun yang jauh lebih tinggi darinya. Bahkan Luhan harus berjinjit dan melompat-lompat kecil untuk mencapainya.
Sehun terkekeh. Ia sedikit menunduk agar Luhan bisa mencapainya dengan mudah. Ketika beanie itu sudah terpakai di kepala, Luhan tersenyum senang. Luhan memuji, "Kau jauh lebih baik bila memakai beanie hitam." dan kemudian melanjutkan, "Aku akan membeli yang ini. Kau juga harus membeli beanie itu. Kita akan memakainya lusa depan, bagaimana?"
"Terserah kau saja." balas Sehun iya-iya saja. Sehun hanya tersenyum melihat Luhan yang kelihatan senang sekali hanya karena beanie putih baru miliknya.
Setelah mendapatkan beanie―couple― itu, Luhan memaksa Sehun untuk melihat-lihat bagian gelang. Entah mengapa, ketika tidak sengaja meliriknya saat masuk di toko ini, Luhan jadi tertarik. Apalagi bentuk bandul dari gelang tersebut adalah benda-benda luar angkasa―kecuali batu-batuan di sabuk asteroid tentunya―. Luhan paling tertarik dengan hal-hal yang berbau semesta akhir-akhir ini.
"Apa lagi?" tanya Sehun mencoba untuk sabar. Laki-laki itu hanya bisa memandang Luhan yang memperhatikan satu per satu bentuk bandul dari puluhan gelang yang berada di depannya.
Luhan tak menjawab. Perempuan itu tersenyum dengan mata berbinar saat menemukan apa yang dia cari. Dua gelang hitam yang masing-masing berbandul bintang dan bulan yang lucu itu diambilnya. Luhan menunjukkannya pada Sehun dengan binar cerah yang mampu membuat Sehun meleleh kalau tak bisa menahan dirinya sendiri.
"Kau lebih suka yang mana? Bulan atau bintang?"
"Bulan." jawab Sehun meliriknya sekilas.
Bulan.
Luhan tersipu diam-diam. Bulan adalah nama lain dari Lunar. Dan Lunar sendiri adalah namanya. Kebetulan? Atau… Bagaimana? Ketika melirik Sehun, Luhan dapat melihat ketidaksungguhan atas jawabannya tadi. Jadi mungkin itu sebuah kebetulan saja. Luhan berdeham untuk menghilangkan rasa-rasa itu kemudian.
"O-oh.." Luhan menyerahkan gelang yang berbandul bulan itu pada Sehun. "Untukmu." ujarnya serak.
Sehun menaikkan sebelah alisnya seraya menerima gelang cantik itu. Ia mengerjap, memperhatikan gelang itu, lalu bergidik geli sendiri. "Kau menyuruhku untuk memakainya?"
"Terserah." Luhan menggidikkan bahu sekilas. "Aku tidak perduli kau memakainya atau tidak. Tapi gelang itu untukmu. Simpan saja tidak apa-apa. Aku sudah yakin kalau kau tak mau memakainya."
Sehun tersenyum. Puncak kepala Luhan lagi-lagi digosoknya dengan lembut. Sehun merangkul Luhan dan membawanya ke kasir agar mereka bisa cepat-cepat keluar dari sini. Lagipula sebentar lagi malam segera tiba.
Mereka berjalan berdua menuju halte terdekat. Lalu menunggu seraya bercanda di halte bersama calon penumpang lain. Ketika berada di dalam bus, Luhan mengajak Sehun bermain tebak kata dengan petunjuk gerakan tangan. Kalau salah menebak, yang kalah dapat satu sentilan kecil di kening. Tetapi bukannya sentilan pelan, Sehun selalu melakukannya dengan keras saat menyentil kening Luhan. Luhan sampai protes dan merengut hingga akhirnya badmood di dalam bus.
Lalu sesampainya di pemberhentian terakhir mereka, Sehun membiarkan Luhan berjalan terlebih dahulu. Kebiasaan sekali Luhan ini, kalau sedang ngambek selalu berjalan di depan Sehun selain cemberut dan tidak mau bicara banyak. Nanti kalau butuh, Luhan akan berhenti dan menunggunya untuk berjalan bersama-sama kembali.
Dan benar saja. Baru beberapa meter mereka meninggalkan halte, Luhan berhenti melangkah tanpa berbalik meminta Sehun untuk mempercepat langkah. Kepala Luhan tertunduk, dan hal itu tentu saja membuat Sehun penasaran. Ketika sudah berada disebelah Luhan, Sehun menunduk berusaha untuk melihat wajah Luhan. Lalu tiba-tiba saja Sehun mendengar suara isakan Luhan dengan bahu yang berguncang kecil. Sehun mengerjap dan refleks memeluk Luhan.
"Sehun… Aku…" Luhan sesenggukan memanggil nama Sehun.
"Iya, kenapa?" sahut Sehun bertanya dengan lembut. Tanpa sadar Luhan mencengkeram kemeja Sehun yang dipeluknya. Luhan menggeleng di bahu Sehun kemudian.
"Aku tak tahu kenapa aku bisa menangis."
Sehun menarik diri, memandang wajah Luhan yang penuh dengan air mata. Ada dengusan geli saat Sehun menghapus air mata itu dari wajah Luhan. Ia tak habis pikir kenapa perempuan ini begitu aneh akhir-akhir ini. Tiba-tiba aktif, lalu tiba-tiba diam, dan tiba-tiba lagi menangis sendiri. Sehun sempat kebingungan karena Luhan selalu menjawab, "Aku tak tahu kenapa aku bisa menangis." saat ditanya. Dan kali ini, Sehun tak ingin bertanya lebih jauh. Membiarkan Luhan menenangkan diri di pelukannya sampai Luhan―juga Sehun sendiri― puas.
.
.
.
Saat itu, halaman sekolah sudah dipenuhi beberapa bus yang memang akan mengantar siswa tingkat akhir menuju perkemahan. Selain ramai dengan bus, ada juga siswa-siswi yang ramai di halaman hanya untuk membicarakan ini dan itu yang sebenarnya tidaklah penting.
Kalau Luhan, setelah masuk di kawasan halaman sekolah, Luhan langsung mencari bus nya dan masuk ke dalam sana untuk tidur. Sebenarnya Luhan tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan hal apa saja yang akan terjadi saat berkemah nanti. Luhan hanya tidur empat jam dan itu sungguh melelahkannya. Bahkan Sehun harus mengomel-omel sepanjang perjalanan karena melihat kantung mata beserta mata mengantuk Luhan pagi tadi.
Saat terbangun, yang pertama kali Luhan lihat adalah bahu milik Kyungsoo yang berguncang karena tawa. Lalu setelah itu Luhan melihat betapa ramainya bus kelasnya ini karena tingkah teman-temannya. Luhan yang masih mengantuk, memilih untuk tak mau ambil pusing dengan teman-temannya. Luhan hanya memandangi jalanan yang dilewati bus beserta pemandangannya. Selepas keluar dari daerah perkotaan, hanya hamparan rumput hijau beserta tumbuhan-tumbuhan besar lain yang kini Luhan lihat. Menyejukkan mata dan hati.
Bus berhenti di tempat pemberhentian kendaraan dua jam kemudian. Saat itu, Luhan melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul sembilan pagi. Hendak Luhan mencari keberadaan Sehun dan ingin berjalan bersama menuju hutan sebagai tempat lokasi perkemahan. Namun tiba-tiba saja Kyungsoo beserta teman-teman yang lain menariknya agar mereka bisa berjalan bersama-sama dengan Luhan.
Satu jam setelah itu, rombongan telah sampai di lokasi. Tempat ini memiliki tanah lapang dengan rumput hijau yang luas. Disekeliling tanah lapang ini sudah ada hutan liar yang menjadi larangan untuk masuk ke sana. Dan di beberapa titik di tanah lapang itu, ada pohon besar yang tumbuh. Adanya pohon besar itu dapat mengurangi sedikit panas yang menyengat kulit di siang hari.
Setelah diberi briefing singkat, mereka mulai membangun tenda. Acara bangun-membangun tenda ini diberi durasi waktu satu jam mengingat betapa banyaknya siswa yang mengikuti perkemahan ini. Namun, ketika seharusnya tenda sudah berdiri semua di pukul sebelas siang, nyatanya di pukul dua belas siang lah semua tenda baru berdiri.
Sisa-sisa siang sampai sore hari kala itu digunakan untuk menjelajahi hutan sekitar yang sekiranya aman untuk dilewati manusia. Beberapa yang malas untuk menjelajah, hanya menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama teman atau sendirian di tenda.
Seperti Luhan, misalnya. Ketika kebanyakan temannya ikut menjelajah hutan sekitar, Luhan hanya berdiam diri di depan tenda sendiri. Beberapa teman satu angkatan yang lewat dihadapannya, Luhan abaikan. Luhan sendiri sebenarnya sedang menunggu seseorang. Dan orang itu adalah Sehun yang belum ditemuinya selepas turun dari bus.
"Melamun saja."
Luhan terkesiap mendengar suara itu. Otaknya secara cepat memerintah untuk mendongak dan tersenyum pada orang yang sedari tadi berputar-putar dipikirannya. "Aku tidak melamun." kilah Luhan serak.
Sehun terkekeh. Ia ikut mendudukkan diri disebelah Luhan. "Tidak ikut jelajah?"
"Kau sudah lihat sendiri sekarang aku ada dimana."
"Kenapa tidak ikut?"
"Malas." Luhan menghembuskan napas pelan. "Dari tadi kau dimana, sih? Aku mencarimu, tahu."
"Oh." kedua alis Sehun terangkat menatap Luhan pura-pura terkejut. "Kau tak menyadariku kalau aku ada di belakangmu sedari tadi?"
Luhan mengerjap. Yang benar?
Tawa Sehun terdengar dan menyadarkan Luhan. "Kau tak sadar, ya? Sebenarnya apa saja yang ada di otakmu itu sampai-sampai aku yang dibelakangmu saja kau tak tahu?" tanya Sehun sembari mengetuk-etuk kening Luhan dengan ujung jemarinya.
Luhan cemberut menepis tangan Sehun. Ia menekuk lutut dan memeluknya, lalu menyembunyikan sebagian wajahnya disana. Hanya karena sentuhan kecil dari Sehun macam itu, Luhan bisa merona dengan mudah. Sialan sekali Sehun ini.
.
.
.
Api kala itu menari-nari, menerangi gelapnya malam, serta memberi kehangatan untuk sekumpulan manusia yang melingkarinya. Luhan yang kala itu masih terasa dingin walau sudah berada di deretan paling depan bersama teman-temannya, hanya mampu mengeratkan jaket dan mendekati Kyungsoo untuk mencari kehangatan. Sesekali Luhan menyandarkan kepala pada bahu Kyungsoo, lalu mengedarkan pandangan untuk mencari Sehun.
Entah mengapa, hari ini kondisi Luhan drop lagi. Luhan tak tahu mengapa karena pagi-pagi sekali Luhan harus meninggalkan Flory di kamar dan tak sempat bertanya soal ini padanya. Dan kini, Luhan butuh Sehun. Tapi laki-laki itu sepertinya menghilang lagi entah kemana.
Luhan yang menyandarkan kepala dibahunya, sebenarnya membuat Kyungsoo keheranan. Maka setelah selesai bercanda tawa bersama teman-teman yang lain, Kyungsoo beralih pada Luhan. Dilihatnya Luhan, dan Kyungsoo merasa cemas sendiri.
"Luhan, kau sakit?" tanyanya pelan seraya menggerak-gerakkan bahu agar Luhan menjauh dari sana.
"Aku baik." jawab Luhan tenang seraya menegakkan kepalanya. Ia tersenyum pada Kyungsoo kemudian. "Hanya kedinginan." jelasnya singkat. "Kau lihat Sehun tidak?" tanyanya kemudian.
Pandangan Kyungsoo berpendar secara refleks. Ketika ia melihat seorang laki-laki berdiri dari duduknya, Kyungsoo menunjuk laki-laki itu dengan dagu. "Itu Sehun."
Luhan mengangkat kepala. Dapat ia melihat Sehun berjalan menghampirinya, dan Luhan tak dapat menahan senyuman untuk laki-laki yang menatapnya itu. Ketika Sehun duduk disebelahnya, menyentuh dahi untuk mengecek suhu tubuhnya, Luhan mulai merasa jauh lebih baik.
"Suhu tubuhmu normal." gumam Sehun dengan kening berkerut. "Tapi wajahmu pucat. Apa yang kau rasakan sekarang?"
"Dingin." jawab Luhan pelan.
"Beanie mu mana?" tanya Sehun lagi. Ia mendesah kecil ketika Luhan menjawab dengan gelengan kepala. Sehun melepaskan beanie nya lalu memakaikannya pada Luhan. "Sudah. Apa masih terasa dingin?"
Luhan cemberut. "Masih dingin." rengeknya jujur.
Sehun berdecak. Sehun menarik kedua tangan Luhan, lalu mengarahkannya ke api unggun agar mendapat kehangatan. Luhan yang menggeleng lagi padanya membuat Sehun frustasi. Decakan lidah keluar lagi dari bibir Sehun hingga membuat Luhan tertawa.
"Kau mengerjaiku, ya?"
"Tidak."
"Masuk ke tenda saja."
Luhan cemberut lagi. "Aku sendirian kalau di tenda."
"Lalu mau apa?" tanya Sehun memutar kedua bola mata malas. "Kau ingin aku peluk disini?"
Luhan mengerjap. Rasa panas menjalar ke wajahnya kemudian.
"Atau mau aku peluk ditenda?"
"Ih!" Luhan meninju lengan Sehun keras-keras. Wajahnya sudah semerah tomat matang, dan Luhan tak bisa menyembunyikannya dari Sehun yang tertawa-tawa selain cemberut jengkel. Luhan ingin membalas, namun tiba-tiba terdengar suara nyanyian merdu milik Baekhyun yang Luhan kenal. Luhan mengurungkan niat dan mendengarkan suara itu.
"Eonjenga eoneunal. Ne sarangi naege oneun nal. Jigeum anirado dareun saramboneun neorado... Nan jiulsuga eobseosseo. Hayan geurium kkot nuncheoreom naerigo. Apeun sarang geu kkeute nab maeil bam kkumeulkkwo." (*)
Luhan melirik Kyungsoo disebelahnya. Perempuan itu terlihat sedang menahan sesuatu dengan lipatan bibirnya. Kemudian pandangan Luhan beralih, dan tanpa sengaja menemukan Jongin yang berada tidak jauh darinya. Laki-laki itu sedang menatapnya, seolah memintanya untuk mengerti keadaan. Luhan menggigit bibir bawah seraya mengalihkan pandangan menuju Kyungsoo. Tidak sadar bahwa saat itu Sehun juga memandangnya dengan arti pandangan yang tidak bisa diterjemahkan.
"Nae sarangimyeon eolmana joheulkka. Nae pumiramyeon neo angyeon uneun got. Malhamyeon mulgeopumdoeeo sarajyeobeoril neomu apeun sarangiraseo… Neo hyanghaneun got naramyeon. Neol utgehaneun naramyeon. Nal seuchyeogatdeon geu sungan soge heuteojyeo sarajin seoreum." (**)
Luhan ingat, Kyungsoo pernah bercerita bahwa tidak ada gunanya mengejar seseorang yang mengejar orang lain. Yang ada, malah rasa sakit akan terus berdatangan dan juga merasa bodoh sendiri. Maka dari itu Kyungsoo memilih untuk mundur dari Jongin dan Luhan. Luhan tentu tak bisa memaksakan perasaan Kyungsoo untuk tetap bertahan. Lagipula Luhan sudah benar-benar melupakan seluruh perasaannya pada Jongin. Dan Luhan kini tahu bagaimana perasaan Kyungsoo saat mendengar lagu lama ini.
Luhan memeluk lututnya. Diam-diam dadanya terenyuh mendengar lagu ini. Bukannya apa. Tapi Jongin… Jujur, meskipun Luhan perlahan-lahan menjauhi Jongin, tapi perasaan itu juga masih ada. Sebisa mungkin Luhan mengalihkan pandangan dari Jongin yang selalu saja menarik perhatiannya. Luhan jadi menyesal memperhatikan keadaan sekitar dan menemukan keberadaan Jongin tadi.
"Luhan,"
Luhan mendongak. Lalu menatap Kyungsoo yang menatapnya dengan mata berair. "Iya. Tidak apa-apa. Menangis saja." ujarnya lembut. Luhan merengkuh Kyungsoo dan membiarkan perempuan itu menangis di bahunya. Pun membiarkan air matanya luruh di bahu Kyungsoo.
Besok Luhan harus protes pada Baekhyun. Kenapa pula Baekhyun menyanyikan lagu sedih disaat seharusnya semua orang menginginkan suasana bersenang-senang macam pesta pora di perkemahan ini? Benar-benar Baekhyun ini.
"Ijen geumanhaja ijeo beorija. Modu jiuja sarang chueok modu. Neowa hamkke bonaesseotdeon geu manheun sigandeul… Cham babo gateun neoraseo. Cham babo gateun naraseo. Nan neoman bogo neun geunyeoman baraboneun. Kkeutdo eonmeun nunmul eonjenga kkeutnalkka." (***)
.
.
.
"Kau lihat Luhan?"
"Sebenarnya kemana dia? Kyungsoo juga, aduh…"
"Aku tidak tahu. Sudah kucari-cari mereka, tapi sampai sekarang belum ketemu."
"Sehun, kau tahu Luhan, tidak?"
Pada pertanyaan terakhir, Sehun hanya melirik Chanyeol yang baru saja bertanya padanya. Laki-laki jangkung itu terlihat khawatir dan uring-uringan entah karena apa.
Banyak orang-orang yang berlarian kesana-kemari karena mencari Luhan dan Kyungsoo yang hilang secara tiba-tiba. Dari raut wajah orang-orang yang mondar-mandir di depan Sehun, laki-laki itu dapat menebak betapa khawatirnya mereka pada Luhan dan Kyungsoo yang belum ketemu selama delapan jam pencarian. Hanya Sehun lah orang pertama yang berhasil ditemukan terlebih dahulu. Dan saat ditemukan, Sehun terlihat seperti orang ling-lung. Seperti orang yang baru saja melihat hantu menurut Chanyeol.
Chanyeol mendesah jengkel. Ia mendudukkan diri disebelah Sehun kemudian. Merasa lelah telah ikut campur dalam urusan cari-mencari Luhan dan Kyungsoo pagi ini.
"Kalian bertiga ini hilang secara bersamaan. Kenapa juga kau tak menjawab pertanyaanku barusan?" tanyanya jengah. Namun yang ditanya tak kunjung menjawab. Chanyeol menghela napas kasar. "Aku yakin kau pasti tahu dimana Luhan dan Kyungsoo."
"Aku tahu." jawab Sehun dengan pandangan kosong.
Chanyeol menegakkan tubuh dengan cepat. Wajahnya berbinar ketika bertanya, "Benarkah?"
Sehun mengangguk. "Luhan disini." jawab Sehun sembari menunjuk dadanya. "Kalau Kyungsoo, aku tidak tahu."
Chanyeol mendelik. Ingin sekali rasanya Chanyeol meninju laki-laki yang makin sinting ini dan membakarnya hidup-hidup. Chanyeol gemas. Dan pada akhirnya, Chanyeol menyerah. Tak ada gunanya juga bertanya pada Sehun yang masih syok dengan keadaan.
.
.
.
.
To be continued…
(*) Some day, some time. When my love comes to me. Even if it's not now, even if you're looking at someone else. I couldn't erase you. The longin feel like snowflakes. I dreamed every night at the and of a painful love.
(**) How nice would it be if you were my love. If only you came into my arms to cry. But my love is so painful that I'll become like foam and disappear. If only I'm the one you're headed toward. If only I'm the one who makes you smile. Sadness would disappear through each moment that passed.
(***) Let's stop now, let's forget. Let's erase everything, the love, the memories, everything. All of the times I spent with you. Because you're such a fool. Because I'm such a fool. I only look at you and you anly look at her. When will these endless tears stop?
―If it was Me – Yang Ji Won SPICA―
Maaf kalo part ini gaje ples ngga mudeng. Intinya ya gitu dah. Cuma aku cepetin alurnya doang :3 Aku nggabakal nyebutin dicerita ini intinya apa aja soalnya ada reader yang suka nyelonong ke Notes ku sebelum baca heheh. :D
Soal kemaren aku nggabisa update maaf yaa.. Pasti pada nungguin. Heheh. Aku lumayan sibuk *ditimpuk suka sok sibuk* ngejar deadline soalnya hiks. :')
Maaf juga kalo kalian nemu typo(s) yang nggasengaja kalian baca. Aku suka pusing sendiri soalnya heheh xD
Next part : Terakhir kali.
Bakal ada bocoran siapa itu Peterpan lhoo :v
See ya. Dont forget to review ;)
