buat yang salah paham kalo cerita ini sebelumnya belum end, saya tekankan ff ini udah end.
yang temen saya maksud pas review ini ff belum end soalnya bagian Hani x JB saya cut, berhubung gak terlalu penting dan males trans-nya. xixi
.
.
.
i.
Mark membuka matanya hanya untuk menutupnya lagi karena sinar matahari yang begitu terang menerangi ruangan dimana dia tertidur. Setelah beradaptasi dengan cahaya yang mengagetkan kedua matanya dia melepaskan tangan Jackson yang melingkar ditubuhnya dengan perlahan. Berhasil melepaskan tangan kekar itu dari tubuhnya, dia berdiri dan mulai memunguti pakaian-pakaian mererka berdua yang berserakan dilantai lalu melemparnya ke keranjang pakaian kotor.
Dengan cepat, dia berjalan menuju toilet karena merasakan sesuatu yang aneh dan tidak enak naik dari bagian paling bawah perutnya dan kini sudah berada dikerongkongannya. Dia membuka tutup closetnya kemudian memuntahkan semua makanan yang dia santap pada malam sebelumnya.
Mark mengelap mulutnya dengan pergelangan tangannya kemudian berdiri untuk menutup pintu toilet itu. Dengan lunglai dia berjalan menuju bathtub lalu menenggelamkan tubuhnya yang memang sudah tidak memakai apa-apa. Dia menyandarkan kepalanya pada pinggiran bathtub dan mendongak menatap langit-langit. Tangan kanan Mark mengambil botol sabun cair yang ada disisi kanannya lalu menuangkannya ke dalam bathtub sampai bathtub itu dipenuhi dengan busa-busa. Dia pun membasuh tubuhnya.
Setelah sudah selesai mandi dan berpakaian rapi dia pun pergi keluar kamar, menuruni anak-anak tangga dan menuju ke dapur untuk membuat sarapan. Dia berkacak pinggang melihat bahan-bahan makanan yang ada dihadapannya, merasa bingung ingin membuatkan apa untuk sarapan Jackson. Segala jenis makanan yang muncul dipikirannya membuatnya merasa mual kembali. Tanpa ambil pusing dia memilih untuk membuatkan pancake dan sirup madu saja.
Tiba-tiba tangan kekar milik Jackson melingkar di pinggang kecilnya yang sontak membuatnya terkejut. Jackson hanya tersenyum kecil dan menenggelamkan kepalanya dileher putih milik Mark yang kini sudah penuh tanda-tanda merah berkat ulahnya semalam.
"Morning." Ujar Jackson dengan suara seraknya yang seksi –ini murni pendapat Mark–.
"Morning.."
"Apa yang istriku lakukan pagi-pagi sekali? Sejak menjadi seorang istri kau bangun lebih awal dari biasanya." Goda Jackson.
Tidak. Mereka belum menikah. Mereka hanya memutuskan untuk tinggal bersama dan Jackson suka menyebut Mark sebagai istrinya. Mark tidak keberatan sama sekali dengan hal itu dan tanpa sadar mereka sudah menjalani hidup seperti pasangan suami istri yang sah. Kata 'istriku' dan 'suamiku' sudah tidak asing lagi di telinga mereka, begitupula di telinga teman-teman mereka.
"Berhentilah menggodaku." Wajah Mark sudah merah seperti tomat berkat ulah suaminya yang memang hobi menggodanya.
Jackson menyukai reaksi yang dia dapatkan dari Mark dan memutuskan untuk menggodanya lebih lanjut. Dia mengelus pinggang bagian belakang istrinya itu, dan berbisik ditelinganya.
"Apa tidak sakit? Apa aku terlalu kasar semalam?"
Jackson pikir wajah Mark tidak bisa lebih merah lagi dan dia salah. Wajah Mark sekarang sudah menjadi dua kali lipat lebih merah. Dia tertawa kecil lalu mengecup pipi Mark yang sudah sangat merah itu.
.
.
ii.
Mark merasa tersiksa sejak beberapa hari ini, tubuhnya merasa lemas dan rasa mual serta pusing terus menguasai dirinya. Dia menyandarkan tubuhnya di dinding toilet yang berada di kantornya. Sejak kembali kedalam pelukan Jackson, Mark memutuskan untuk kembali bekerja di perusahaannya untuk membantu Jackson yang disambut hangat oleh para investor yang selalu memojokkan Jackson setelah acara fashion show yang lalu.
Mark baru saja memuntahkan makanan yang baru saja dilahapnya pada jam makan siang tadi. Mark bahkan sudah tidak kaget lagi, hal ini selalu terjadi setiap hari.
"Mark hyung? Apa kau tidak apa-apa?" tanya Bambam yang baru saja masuk ke toilet karena khawatir dengan keadaan Mark.
"Hyung kau pucat sekali!" Seru Bambam.
Yugyeom yang mendengar seruan Bambam ikut bergabung dengan mereka. Dia terkejut saat melihat Mark yang sedang duduk dilantai dengan mata tertutup dan wajah yang sangat pucat.
"Hyung, tunggu disini biar aku panggilkan Jackson hyung."
Mark melambai-lambaikan tangannya, menolak untuk memberitahu Jackson. Belakangan ini Jackson banyak kerjaan dan sedikit sibuk, Mark tidak mau mengganggunya dan menambahkan beban pikirannya jika dia tahu Mark sedang tidak enak badan. Namun sudah terlambat, Yugyeom sudah berlari keluar dari toilet menuju ruangan Jackson dengan tergesa-gesa.
Tidak lama kemudian Jackson datang dengan ekspresi wajah yang sangat panik dan khawatir. Dengan sigap, dia mengangkat tubuh Mark dan membawanya ke sofa yang berada di ruangan kerja Mark.
"Mark, kau kenapa?" tanya Jackson setelah membaringkan badan Mark di sofa tersebut.
"Aku hanya lelah, Jacks." Jawab Mark lemah.
"Apa kau sakit? Dimana yang sakit?"
"Aku tidak apa-apa-"
"Yugyeom, ambilkan segelas air." Perintah Jackson pada temannya yang paling muda.
"Tidak usah. Aku hanya ingin istirahat saja." Yugyeom yang hendak mengambil segelas air memutar badannya kembali.
"Apa kau yakin?" Jackson mengelus lembut pipi Mark dengan ibu jarinya.
Mark mengangguk pelan.
"Baiklah.." Jackson mengangkat tubuh Mark lagi lalu duduk di sofa itu. Dia meletakkan kepala Mark ditengkuk dimana leher dan pundaknya bertemu kemudian memeluknya dengan erat. "Tidurlah."
Mark tersenyum dan tertidur.
.
.
iii.
Keadaan Mark memburuk. Kali ini dia bahkan belum selesai menyantap makanannya dan perutnya sudah mulai memberontak, menyuruhnya untuk berhenti makan dan mengeluarkan kembali semua makanan yang baru saja dilahapnya. Berbagai pikiran buruk mulai hinggap dipikirannya. Apa dia mengidap suatu penyakit yang mematikan? Apa dia akan segera mati? Lalu bagaimana dengan Jackson?
Melihat Mark yang berlari terburu-buru kearah toilet membuat Jackson mengikutinya dari belakang. Jackson melihat Mark memuntahkan semua yang ada diperutnya dengan khawatir. "Mark, apa kau yakin kau baik-baik saja?" tanya Jackson, dia berjongkok disebelah Mark dan mengusap-usap punggungnya lembut.
Setelah selesai memuntahkan isi perutnya, Mark merobohkan tubuhnya yang lemas kearah Jackson. Jackson melingkarkan satu tangannya ke tubuh Mark untuk menjaganya agar tidak jatuh lalu mengelap mulut Mark dan membersihkannya dengan tissue basah yang ada di toilet dengan tangannya yang lain. "Mengapa kau sangat keras kepala?! Aku kan sudah menyuruhmu untuk periksa ke dokter!"
Mark merengut mendengar bentakan Jackson dan menyembunyikan wajahnya di dada Jackson dengan manja. Kepalanya sedang sakit dan tubuhnya terasa lemas, dia ingin Jackson memanjakannya bukan memarahinya.
Jackson mendesah melihat Mark yang merengut kemudian membelai rambutnya dengan lembut. Dengan hati-hati, Jackson mengangkat tubuh lemas Mark dan membawanya ke kamar mereka. Mark hanya diam karena kepalanya terasa sangat berat, dia hanya ingin segera berbaring di ranjangnya dan tidur didalam dekapan Jackson.
Jackson membaringkan tubuh yang terlihat fragile itu dengah perlahan diatas ranjang mereka. Mark menarik kain pakaian yang dia kenakan, secara tidak langsung memintanya untuk berbaring disampingnya dan Jackson memenuhi keinginannya.
Mark mendekatkan tubuhnya ke tubuh Jackson sampai kedua hidung mereka bertabrakan. Jackson mengecup bibir Mark yang terlihat sangat kering itu untuk membuatnya kembali lembab.
"Aku tidak mau tahu. Kita ke rumah sakit besok." Tegas Jackson.
.
.
iv.
"Selamat tuan, anda sedang mengandung,"
Mark menatap dokter yang berada dihadapannya dengan tatapan tidak percaya, seakan-akan dokter itu baru saja memberitahunya bahwa matahari itu berwarna merah muda dan bukan kuning.
"Apa anda tidak merasa senang?" senyuman yang menyebalkan itu tidak pernah hilang dari wajah sang dokter dan membuat Mark sedikit kesal. Ayolah, ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda. Dia datang kesana setelah melewati waktu yang sangat melelahkan di toilet. Ini menyangkut hidup dan matinya.
Bahkan dia rela pergi sendirian tanpa Jackson yang tiba-tiba ada urusan mendadak
Mark menunggu sang dokter untuk mengatakan "April Fools! "Caught you!" atau semacamnya karena jujur, jika ini semua hanya lelucon Mark bersumpah akan memberi dokter itu sebuah tinjuan.
Tapi kata-kata itu tidak pernah keluar dari mulut sang dokter.
Melihat keseriusan dari wajah sang dokter, Mark membulatkan matanya. Dia tidak pernah menyangka bahwa dirinya adalah seorang male-carrier. Dia tidak pernah menyangka dirinya akan seberuntung itu.
Dia tidak sabar untuk segera pulang dan memberitahu Jackson.
.
.
xxxx.
.
"Tidak, aku tidak begitu menginginkan seorang anak."
Mark menghentikan langkahan kecil kakinya, senyuman yang tersimpul diwajahnya menghilang. Dia berencana ingin mengagetkan Jackson lalu memberitahunya kabar baik yang baru saja dia dapat. Namun nampaknya kabar itu bukan sebuah kabar baik lagi..
"Hm, aku tidak begitu memikirkannya.." lanjut Jackson yang sedang berteleponan dengan seseorang.
Ekspresi wajah Mark yang sebelumnya sangat cerah berubah menjadi gelap. Dia memutar balik badannya dan langsung naik menuju kamar yang dia tempati bersama Jackson.
Jika sebelumnya Mark merasa sangat senang dan tidak sabar untuk bertemu dengan Jackson, kini yang dia rasakan hanya rasa takut. Dia mengganti pakaiannya dan langsung berbaring di ranjangnya.
Jackson tidak menginginkan seorang anak.
Bagaimana jika Jackson tau bahwa dia sedang mengandung anaknya?
Dia tidak mau Jackson meninggalkannya.
Tapi dia juga tidak mau menyingkirkan anak mereka.
Lalu apa yang harus dia lakukan?
"Mark?" panggil Jackson dari arah pintu. "Baby, apa kau sudah tidur?"
"..."
Jackson berjalan menghampiri Mark karena merasa heran dengan sikapnya, biasanya Mark akan menyambutnya dengan sebuah ciuman jika salah satu dari mereka baru saja pulang. "Baby?" Jackson menunduk untuk mengecup dahi Mark lalu duduk disampingnya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Jackson lembut sambil mengelus-elus rambut merah milik Mark.
"Jackson.."
"Hmm?"
"Bagaimana jika aku hamil?"
...
Jackson diam sejenak, hingga akhirnya semua kejadian-kejadian aneh yang terjadi pada Mark terkumpul di kepalanya seperti sebuah puzzle yang sudah berhasil disusun dengan rapi.
"Apa kau hamil?"
Mark mengangkat kepalanya dengan rasa takut untuk menatap mata Jackson. "Bagaimana jika aku hamil? Apa kau akan meninggalkanku?"
"Apa kau gila?" Jackson tersenyum lebar dan memeluk Mark dengan sangat erat. "Kau tidak sedang bercanda kan?"
"Tidak.. Aku baru kembali dari rumah sakit..."
"Oh my god, Mark Tuan. Aku sangat mencintaimu!" Jackson menghujani wajah Mark dengan kecupan-kecupan lembut, sekaligus menghapuskan keraguan dan rasa takut yang sebelumnya Mark rasakan.
"Tanpa sengaja aku mendengar percakapanmu, kau bilang kau tidak mau punya anak..."
Jackson mengangkat satu alisnya. "Apa kau menguping percakapanku dan Ibuku?"
Mark mengangguk.
Jackson tersenyum manis, "Ibuku menanyakan apa aku ingin menikahi gadis lain." Jackson mengusap-usap pipi Mark dengan penuh rasa kasih sayang. "Untuk mempunyai keturunan.. Jadi aku bilang aku tidak mau mempunyai anak. Tentu saja aku mau punya anak, tapi jika punya anak berarti aku harus menikah lagi.. Aku lebih baik tidak punya keturunan sama sekali."
Mark tersentuh, kali ini dia yang menghujani wajah Jackson dengan kecupan-kecupan manis. "Aku sangat mencintaimu, Jackson.."
Jackson hanya mengangguk kecil. "Aku tau."
Mark memutar badannya membelakangi Jackson dan bergeser untuk memberikan tempat untuk Jackson berbaring. Jackson dengan otomatis berbaring dibelakangnya. Mark mendekatkan punggungnya lebih dekat lagi ke dada bidang milik Jackson, menyuruh Jackson untuk memeluknya dari belakang. Jackson secara otomatis memeluknya dari belakang. Mereka sudah saling mengerti satu sama lain. No words needed.
Mark sudah tidak sabar menanti kedatangan anak mereka. Dia membayangkan bermain bersama anaknya di sebuah kolam dan di taman. Dia juga membayangkan membacakan dongeng dimalam hari untuk anaknya. Serta mengantarkannya ke sekolah saat anaknya sudah tumbuh besar.
Jackson mengangkat kepalanya sekilas untuk melihat apakah Mark sudah tertidur atau belum karena istrinya itu tidak mengeluarkan sepatah kata sama sekali. Melihat senyuman di wajah istrinya yang sedang melamun membuatnua tersenyum juga, dia mengecup pelan kepala bagian atas Mark dengan lembut dan bertanya, "Apa yang sedang kau pikirkan?"
Mark menggumam. "Hmm.." jeda satu detik. "Aku sedang membayangkan bermain air dengan anak kita di kolam- Jackson! Bukankah itu bagus jika kita punya kolam berenang? Aku selalu memimpikan memiliki sebuah kolam berenang di lantai dua rumahku!" ujar Mark dengan antusias.
"Lantai dua? Indoor?" tanya Jackson, amused.
"Hmm, rumah impianku sederhana saja. Aku ingin rumah yang sangaaat luas, dua tingkat." Mark terkikih. "Dan sebuah taman di rooftop, di halaman rumah juga harus ada tamannya, tapi tidak akan seluas taman yang ada di rooftop.. Bayangkan saja, mobilmu banyak sekali, pasti tamanku akan habis dimakan garasi! Dan lapangan bola basket mu! Hufftt tamanku harus di rooftop!" ujar Mark seakan-akan mereka benar-benar akan membangun rumah seperti itu.
"Itu namanya bukan rumah, Mark. Itu mansion." Jackson chuckles.
"Biar saja. Jika mengkhayal tidak usah tanggung-tanggung, Jackson."
.
.
v.
Kehamilan Mark sudah memasuki empat bulan, dokter juga memberitahu mereka bahwa janin mereka sangat sehat.
Empat bulan belakangan ini adalah hari-hari yang paling melelahkan bagi Jackson. Bagaimana tidak? ...
...
"Aku ingin chicken!"
"Baby, semua toko chicken sudah tutup tengah malam begini." Jackson tidak berbohong. Dia mengatakan yang sejujurnya. Dia tidak pernah mencari-cari alasan jika Mark meminta hal-hal yang aneh. Semua toko chicken memang sudah tutup setelah jam 12 malam.
"Apa kau tidak mau pizza saja? Pizza buka 24 jam.." bujuk Jackson.
"Tidak, bayi kita mau chicken, Jackson!"
Jackson mengusap wajahnya frustasi. Mark selalu meminta hal-hal yang aneh di waktu yang tidak tepat. Pada malam hari dia akan meminta dibelikan makanan yang hanya dijual pada pagi hari, misalnya susu kotak yang dijual secara keliling oleh tukang koran. Pada pagi hari dia akan minta dibelikan makanan yang hanya dijual pada malam hari, contohnya ddeokbokki. Beginikah yang dirasakan ayahnya saat ibunya mengandung dirinya? Jackson bersumpah mulai sekarang dia akan lebih menghormati ayahnya.
Tapi bagaimanapun anehnya permintaan Mark, Jackson selalu memenuhinya tanpa pamrih dan tanpa mengeluh.
Setelah melahirkan nanti, Mark akan kembali mengingat bagaimana perjuangan Jackson mencari makanan-makanan langka yang dia minta tanpa mengeluh sekalipun dan akan terharu. Karena di dunia ini, tidak akan ada suami yang sabar dan pengertian seperti Jackson.
Alasan dibalik frustasinya Jackson bukanlah karena dia sudah lelah dengan permintaan-permintaan Mark. Alasannya adalah karena dia tidak tau dimana harus membeli chicken di dini hari seperti ini. Dia tidak mau membuat kekasih –istri– nya kecewa. Dia juga sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa apapun yang Mark minta saat dia hamil, dia akan memenuhinya. Karena Mark berhak mendapatkan segalanya yang dia inginkan setelah memberikan Jackson begitu banyak kebahagian apalagi dengan berita kehamilannya.
Jackson yang tidak habis akal, pergi menuju super market 24 jam dan membeli instant chicken.
Dan tentu saja dia juga yang memasaknya.
Dengan sepenuh hati.
.
.
vi.
Jika kemarin malam Mark menginginkan chicken, kini dia merengek-rengek di ruangan Jackson meminta dibelikan patbingsu. Namun saat Jaebum datang sambil membawa patbingsu di tangan kanannya, Mark menolak memakannya hanya karena bentuk gelasnya yang tidak dia suka.
"YA! Apa kau tahu sesusah apa aku mencari patbingsu terkutuk ini? Kau pikir ada yang menjual patbingsu di musim salju?!" protes Jaebum saat usaha kerasnya ditolak mentah-mentah oleh Mark.
"Jacksoon~~ dia memarahiku!" rengek Mark dengan manja pada Jackson yang sedang sibuk dengan berkas-berkas yang harus dia tanda-tangani.
"Im Jaebum!" ujar Jackson dengan nada peringatan.
"UGH!"
"Jacksonnie~~ aku ingin hotdog."
Jaebum berharap dia punya kekuatan untuk menghilang, karena.. not again pleasee?
"Im Jaebum..." panggil Jackson.
"AAARRGGGGGHH!" Jaebum berteriak, merasa frustasi.
Bambam dan Yugyeom tertawa puas melihat orang yang biasanya menjahili mereka disiksa habis-habisan oleh Mark.
Mark hanya tersenyum polos sambil mengelus-elus perutnya yang sudah mulai membesar.
"Bayiku yang minta.."
.
.
vii.
Mark dan Jackson memutuskan untuk berbelanja membeli kebutuhan bulanan mereka sepulang dari kantor. Semua orang menatap mereka dengan iri saat melihat Jackson mendorong keranjang dorong yang dinaiki Mark sambil menaruh beberapa barang yang ingin mereka beli.
"Jackson, apa aku boleh membeli ice cream?" tanya Mark, dia memutar kepalanya sedikit untuk melihat Jackson.
"Mark, kau akan menyesal makan ice cream lagi setelah memakan banyak ice cream semalam jika kau sudah melahirkan nanti dan berat badanmu menaik." Jawab Jackson yang sedang mengamati kesekeliling, melihat-lihat barang yang menurutnya harus dia beli.
...
...
...
"Are you saying that I'm fat?" Mark memajukan bibir bagian bawahnya, matanya sudah mulai berair. Fuck hormones.
Panik, Jackson menggeleng-gelengkan kepala dan tangannya. "Tidak, Mark. Maksudku bukan begitu.."
"Turunkan aku! Kau pasti merasa lelah mendorong kereta keranjang ini. Aku kan berat!"
Fuck mood swings.
"Tidak, baby. Kau tidak berat sama sekali.."
"Tidak usah bohong! Aku tau semuanya!"
Huh? Tau apa? Batin Jackson.
"Kau sudah tidak suka aku lagi kan? Aku sudah berat dan besar, kau sudah tidak mencintaiku lagi kan?!"
...
...
"No no no no, aku masih mencintaimu... Mark! Jackson ketakutan saat Mark berdiri dari kereta keranjang itu dan lompat dari sana.
"Mark Tuan!"
"Apa?!" Mark berjalan cepat meninggalkan Jackson dan kereta dorong mereka.
"Apa yang kau pikir baru saja kau lakukan! Itu bahaya!"
Mark berhenti berjalan dan memutar badannya. "Kau membentakku sekarang?! Kau tidak pernah membentakku sebelumnya! Kau benar-benar sudah tidak mencintaiku lagi! Maafkan aku, bukan salahku menjadi besar seperti ini!" ujarnya sebelum kembali berjalan keluar dari sana dan menuju mobil mereka.
.
.
Sepanjang perjalanan Jackson terus meminta maaf pada Mark yang terus menempelkan dahinya dijendela mobil, menolak untuk melihat Jackson. Walaupun sedang marah dengan Jackson, Mark juga merasa sedih karena Jackson berpikir dia sudah tidak menarik lagi karena badannya yang besar. Dia sudah merencanakan pola diet ketat di otaknya. Dia tidak akan membiarkan Jackson melirik orang lain!
"Mark.. Baby.."
Berapa kalori yang harus dia konsumsi perhari.
"Kau sama sekali tidak berat, sayang.."
Mungkin sekitar 350?
Jackson mendesah, dia memarkirkan mobilnya di garasi lalu turun dari mobilnya. Dia membuka pintu mobil di bagian yang Mark duduki dan mengangkat pria yang sedang hamil enam bulan itu.
Mark merasa terkejut saat Jackson mengangkatnya dan membawanya masuk kedalam. Jackson bahkan tidak menurunkannya saat menaiki tangga-tangga menuju kamar mereka.
Barang belanjaan mereka sudah tidak penting lagi dan ditinggalkan begitu saja di bagasi.
Jackson membaringkan Mark dengan penuh hati-hati diatas ranjang mereka. Dia menempelkan dahinya ke dahi Mark dan menatap sepasang mata milik Mark dalam-dalam.
"Lihat kan? Kau tidak berat sama sekali.." ujarnya dengan nada suara yang diturunkan beberapa oktav.
Mark menatap balik kedua mata Jackson, sama dalamnya dengan tatapan yang Jackson berikan padanya.
"You're not fat, Mark. And even if you are, aku masih akan tetap mencintaimu." Tangan kanan Jackson mencari tangan kecil milik Mark, lalu mengenggamnya dengan erat sambil mengusap-usapnya dengan lembut. "Yang kau lakukan tadi itu sangat bahaya, my love. Aku sangat ketakutan, jangan ulangi lagi ya?" Jackson mencium tangan Mark tanpa memutuskan kontak matanya dengan kekasihnya itu.
Dengan wajahnya yang sudah kemerahan, Mark mengangguk kecil.
.
.
viii.
Mark terbangun dari tidur siangnya. Dia tidak bisa tidur dengan nyaman karena bayi dikandungannya terus menendang-nendang dan membuat perutnya merasa sakit. Dia membuka matanya dan cuaca sudah gelap, rupanya dia tertidur sampai malam hari.
Dia menggeliat di ranjangnya, sesekali mengelus-elus perutnya untuk menenangkan bayinya yang sedang marah entah mengapa.
Mark bangkit dan segera bergegas menuju dapur, menurutnya bayinya marah karena bayinya sedang lapar.
Dia pun membuat susu untuk ibu-hamil nya dan meminumnya. Saat bayinya tidak berhenti juga menendang-nendang dia membuat susunya lagi dan meminumnya lagi, namun bayinya masih saja tidak berhenti.
Mark mengambil segala jenis buah-buahan yang ada di kulkasnya dan membawanya ke ruang tamu. Dia membaringkan dirinya di sofa dan membuat dirinya senyaman mungkin lalu memakan buah tersebut.
Sampai semua buah yang dia bawa habis pun bayinya masih tidak lelah juga menendang-nendang perutnya. Mark meringis kesakitan karena bayinya terus menendang kebagian perutnya yang sama. Dia menutup matanya dan terus mengelus-elus perutnya, berharap bayinya akan berhenti menyiksanya.
Saking sakitnya, Mark bahkan tidak mendengar pintu rumahnya yang terbuka dan tidak mendengar suara sepatu Jackson yang melangkah masuk kedalam rumah.
"Mark?"
Mark memejamkan matanya kencang saat menerima tendangan yang lebih kuat lagi dari sebelum-sebelumnya.
"Mark apa yang kau lakukan disini? Seharusnya kau berbaring di kamar sa- Mark?" Raut wajah Jackson berubah khawatir saat melihat istrinya yang kesakitan.
"Mark, ada apa? Ini bukan waktunya kau melahirkan, kan?" Jackson duduk disamping Mark dan mengelus-elus pipi istri kesayangannya itu.
"Jackson.. bayi kita terus menendang-nendang sejak tadi.." ujar Mark pelan.
Jackson menurunkan pandangan matanya ke perut Mark yang besar itu. Dia mengangkat tangannya dan mendaratkannya disana lalu dengan lembut mengelus-elusnya. Kemudian dia mendekatkan kepalanya untuk berbisik ke perut besar istrinya itu.
"Little sweetheart." Bisiknya. "Biarkan ibumu istirahat dengan nyaman.."
Seperti sebuah sulap, tendangan-tendangan yang terus Mark terima pun berhenti. Mark menatap Jackson dengan tatapan tidak percaya. Semudah itukah bagi Jackson menenangkan bayinya yang marah?
Apa ini tanda-tanda sebuah pilih kasih dari anaknya?
Mark sudah bisa menyimpulkan bahwa anaknya akan lebih menyayangi Jackson saat besar nanti.
.
.
.
ix.
Jackson dan Mark sedang berada di department store untuk membeli pakaian ibu hamil karena perut Mark sudah sangat besar dan dia butuh pakaian baru. Mark sedang duduk santai disebuah kursi sambil meminum latte sedangkan suaminya, Jackson, sedang keliling-keliling ke setiap sudut area ibu hamil tapi tidak satupun diantara baju-baju yang dia tunjukan sesuai dengan selera Mark.
"Itu pakaian wanita, Jackson!"
"Mark, tentu saja. Semua yang ada disini pakaian wanita.. Judulnya saja ibu hamil, baby. Bukan ayah hamil."
"Hufft!" Mark mengerucutkan bibirnya lucu.
"Baby.. Kalau begini terus kau mau pakai apa?"
"Kau kan direktur perusahaan clothing mengapa tidak buatkan baju untukku?" Mark melipat tangannya di depan dadanya.
"Hah.. baiklah, tapi kita beli ini semua dulu ok? Sambil menunggu bajumu selesai. Ok, baby?" bujuk Jackson.
"Ok.."
Akhirnya Jackson bisa tersenyum lega.
xxxx.
.
Mereka sedang berada di kasir untuk membayar pakaian-pakaian yang mereka beli. Jackson sedang sibuk mencari kartu debitnya di dompetnya dan Mark sedang sibuk memberikan tatapan tajam ke kasir yang menurutnya sangat genit dan menel yang sedari tadi terus menelanjangi Jackson dengan matanya.
"Semuanya 900.000 won, tuan." Ujar kasir itu sambil memberikan senyuman terbaiknya kepada Jackson. Dan dibalas dengan senyuman juga oleh Jackson yang berhasil membuat kepala Mark berasap karena menahan emosi dan keinginan untuk mencekik wanita jalang yang ada dihadapannya itu.
Kasir itu tersenyum malu saat melihat Jackson kembali tersenyum padanya. Spontan, Mark menarik tangan Jackson dan melingkarkan kedua tangannya ke tangan kekar itu. "Apa kau buta?! Pria ini sudah menikah!"
Fuck pregnant people and their sensitivity.
"H-huh?"
"Jangan pura-pura tidak tau apa yang aku katakan!"
"Mark..." bisik Jackson sambil mencoba menenangkan kekasihnya.
"Apa kau tidak tau malu? Mencoba menggoda pria didepan istrinya yang sedang hamil?!"
"Baby-"
Mark memutar kepalanya untuk menatap Jackson, sama tajamnya dengan tatapan yang dia berikan kepada si kasir. "Kau juga sama saja!" Ujarnya, lalu pergi begitu saja meninggalkan Jackson menuju mobil mereka di parkiran.
.
.
"Dasar Wang bodoh!" umpatnya saat dia sudah berada di mobil.
"Seharusnya aku tidak meninggalkan mereka berdua disana.."
"Bagaimana kalau Jackson tergoda.."
"Aku benar-benar harus diet.."
Semua pikiran buruknya buyar saat melihat Jackson berlari-lari sambil membawa tas belanjaan yang sangat banyak dengan ekspresi wajah yang panik.
Mark tersenyum puas dan lega..
.
.
x.
"Jackson hyung sedang rapat diluar kantor, hyung. Sekalian makan siang bersama klien." Ujar Bambam.
Mark mengembungkan pipinya gemas. Dia sudah rela-rela membuatkan makanan siang untuk Jackson dan sudah jauh-jauh datang tapi pria pendek itu malah makan diluar bersama klien.
"Seharusnya kau tinggal dirumah saja. Kalau kau kelelahan bagaimana?" Jaebum menarik tangan Mark untuk ikut duduk di sofa bersama mereka.
"Makanannya untuk kami saja, hyung." Yugyeom melirik ke kotak bekal yang ada dipangkuan Mark. Jackson selalu berkata pada mereka bahwa masakan Mark sangatlah lezat, Yugyeom sangat ingin membuktikannya.
"Ya sudah, daripada tidak ada yang makan.."
"Yas!" seru Yugyeom, tangan panjangnya dengan segera merampas kotak bekal itu dari tangan Mark.
Yugyeom membuka kotak bekal itu dengan semangat. Jaebum dan Bambam tidak kalah semangatnya mengambil sendok mereka masing-masing. Makanan yang mereka pesan dari restaurant pun diabaikan.
"Waaahh!" seru mereka bertiga saat melihat mozarrella beef wraps –makanan kesukaan Jackson- dan berbagai jenis makanan dari seafood dibalik kotak bekal tersebut.
"I envy Jackson hyung the most, he gets to eat this kind of food everyday.." bisik Yugyeom, dengan harapan Bambam dapat mendengar bisikannya dan merasa tersindir.
"I know right!" sahut Bambam.
Yugyeom menyipitkan matanya. Bukannya tersindir Bambam malah setuju dengan pendapatnya. Dasar uke yang tidak peka, batin Yugyeom.
Ditengah-tengah mereka menyantap bekal yang dibawakan Mark, Jackson datang bersama dengan seorang wanita yang belum pernah Mark lihat sebelumnya. Mereka sedang tertawa-tertawa kecil dan tidak menyadari tatapan laser yang diberikan Mark kearah mereka.
"Oh, acaranya sudah selesai?" tanya Jaebum yang berhasil mengalihkan perhatian Jackson dan wanita yang tidak diketahui itu.
"Oh? Mark? Mengapa kau datang? Ada apa?" tanya Jackson bertubi-tubi, dia langsung berjalan cepat menghampiri istrinya.
"Kenapa? Tidak suka aku datang?"
Pssh. Biasanya Mark tidak bersikap berlebihan seperti ini tapi kali ini masalahnya berbeda. Wanita yang baru datang bersama dengan Jackson merupakan wanita yang masuk dalam semua kategori tipe ideal Jackson –bertubuh atletis dan berkulit coklat–. Spontan, Mark melirik ke warna kulitnya yang putih pucat. Dia mengerucutkan bibirnya, tidak puas dengan warna kulitnya sendiri.
"Bukan be-"
"Tidak apa. Aku juga sudah punya janji dengan Hani." Mark berdiri dan mengambil barang-barang bawaannya.
"Mark.. Hey ada apa, sayang?" tanya Jackson yang bingung dengan tingkah laku istrinya. Istrinya memang selalu memiliki mood-swings karena kehamilannya, namun kali ini Mark bersikap aneh tanpa alasan dan itu membuat Jackson hampir gila karena terus memutar otaknya, mencari-cari ingatan dimana dia membuat sebuah kesalahan yang berujung membuat istrinya marah.
"Hyung! Aku belum selesai makan!" Rengek Yugyeom saat Mark mengambil paksa kotak bekalnya dan membungkusnya kembali dengan kain yang dia bawa.
"Makeu.."
Setelah selesai membereskan barang bawaannya, dia berjalan keluar sambil menghentakkan kakinya dengan keras.
"Baby.."
Jackson hendak menyusul istrinya namun Jaebum menghentikannya.
"Wanita hamil memang selalu begitu, kau tidak perlu khawatir."
"Dia bukan wanita, hyung." Ujar Bambam
"..."
(Hari itu juga Mark mengajak Hani untuk tanning bersama di pantai. Dia optimis akanmenggelapkan warna kulitnya.)
.
..
.
.
.
xi.
Semenjak memiliki sekretaris baru, banyak hal yang berubah. Setiap malam Mark akan jatuh tertidur saat sedang menunggu Jackson yang akan pulang dengan bau parfum wanita lain di pakaiannya, dan di pagi hari dia akan terbangun tanpa Jackson yang sudah berangkat ke kantor disisinya.
Jackson sudah jarang pulang ke rumah tepat waktu. Dan yang lebih parah lagi Jackson sudah tidak pernah menyentuh makanan buatan Mark, hal ini merupakan hal yang paling mustahil mengingat betapa jatuh cintanya Jackson dengan masakan istrinya itu.
Jackson juga melarang keras Mark untuk mengunjunginya di kantor. Semua hal-hal itu membuat Mark seratus persen yakin bahwa Jackson selingkuh darinya. Dan malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya, Jackson tidak akan pulang sebelum larut malam.
Mark ingin memberontak. Dia ingin mengutarakan semuanya tepat di wajah Jackson. Tapi disisi lain dia merasa ini balasan yang harus dia dapatkan atas perbuatannya dulu. Dia merasa Jackson berhak melakukan apapun yang dia mau. Jadi dia hanya bisa diam dan menangis setiap malam sampai dia tertidur.
Ditengah-tengah pikirannya, bayinya mulai berulah lagi dan menendang-nendang perutnya. Mark hanya bisa mengelus-elus perutnya berusaha menenangkan bayinya walau dia tahu itu semua tidak akan berhasil.
"Your dad is not here, baby.. Please don't do this to me now.." bisiknya lemah, energinya sudah habis dia pakai untuk menangis dan dia tidak punya energi cadangan lain untuk menghadapi amukan bayinya.
Bayinya tetap tidak mau diajak kompromi dan terus menyiksa Mark yang sudah sangat lelah dan lemah. Seperti apapun Mark memohon, bayinya tetap tidak mau mendengar.
Mark tersenyum pahit, airmata kembali membasahi wajahnya. Bahkan anaknya sendiri lebih menyayangi Jackson daripada dia, ibunya. Mark tidak pernah merasa begitu kesepian seumur hidupnya, seakan-akan dia hanya hidup seorang diri.
Beberapa jam kemudian, tendangan-tendangan itu mulai terasa sangat menyakitkan. Tangisan Mark semakin mengencang, dia butuh Jackson untuk menenangkan bayinya. Tapi dimana pria berkebangsaan Hongkong itu sekarang?
"If you love me too.. Please calm down.." bisik Mark. "AAH!" bukannya menjadi tenang, tampaknya bayinya malah semakin marah.
Bayinya bahkan tidak mencintainya. Ayah dari bayi itu juga tidak mencintainya. Bobby sudah di amerika meninggalkannya. Siapa yang dia punya sekarang?
Mark merasakan cairan air keluar dari tubuh bagian bawahnya dan membuat ranjangnya basah. Mark mencengkram selimutnya erat-erat, tangisannnya semakin menjadi. Namun sekencang apapun dia menangis dan menjerit tidak ada yang bisa mendengarnya.
Mark mencengkram selimutnya erat-erat, tangisannnya semakin menjadi. Rasa sakit dihatinya melampaui rasa sakit di perutnya. Namun sekencang apapun dia menangis dan menjerit tidak ada yang bisa mendengarnya.
"Jacksooon!" jerit Mark di sela-sela isakannya. "Jackksoonn!"
Rasa sakit yang Mark rasakan tidak bisa dijelaskan, begitu sakitnya sampai dia berharap lebih baik dia mati saja daripada tersiksa seperti itu. Peluh mulai menghujani wajahnya.
"St-stoop." Rintih Mark disela-sela isakan tangisnya.
.
.
xxx.
Hal pertama yang Jackson dengar saat membuka pintu rumahnya adalah suara tangisan istrinya yang begitu kencang. Dia melemparkan tas kerjanya ke sembarang tempat dan dengan segera berlari menuju kamarnya. Saat dia membuka pintu kamarnya dan melihat Mark terbaring di ranjangnya dengan kaki yang terus menggeliat dia merasa sangat menyesal.
"Mark..." dia bergegas menghampiri istrinya dan mengeluarkan handphone-nya untuk menghubungi ambulance.
Jackson mengusap peluh yang membasahi wajah istrinya dengan telapak tangannya sambil menunggu seseorang menjawab panggilannya.
"Hello?"
"Tolong kirimkan ambulance ke xxxxxxxx, istriku akan melahirkan. Tolong kirimkan secepat mungkin." Ucapnya terburu-buru lalu melempar handphonenya ke ranjang.
"Baby.. hold on. Hold on.. I'm sorry.. please hold on."
Melihat Mark terus merintih kesakitan dan menangis membuat Jackson ikut menangis dengannya sambil terus mengucapkan kata maaf. Jackson memegang wajah Mark dengan kedua tangannya untuk menghentikannya melempar kepalanya ke kiri dan ke kanan lalu menempelkan dahinya dengan dahi istrinya itu.
Untuk pertama kalinya sejak dia memasuki rumah itu tadi, mata Mark yang sudah kemerahan menatap mata coklatnya.
"I love you, Mark. Please hold on, okay baby?" bisik Jackson.
Tangan kanan Jackson mencari tangan kanan istrinya sambil terus menatapnya. Saat dia mendapatkan apa yang dia cari, dia menggenggam tangan itu dengan kuat.
"Aku sudah disini, tenanglah.."
Dan Mark pun tenang. Betapa hebatnya seorang Wang Jackson.
.
.
.
xxx.
Jackson terus berjalan mondar-mandir di depan pintu dimana Mark sedang melakukan proses melahirkan dan anehnya Jackson dilarang masuk ke dalam oleh sang dokter.
"Jackson, berhentilah mondar-mandir seperti itu. Mark akan baik-baik saja." Ujar Hani yang sudah lelah melihat Jackson berjalan dari kanan ke kiri dan ke kanan lagi dihadapannya.
"Benarkah?" tanya Jackson pada Hani dengan suara yang bergetar. "Tapi ini sudah berjam-jam.."
"Melahirkan memang seperti itu, Jackson. Dokter harus menunggu sesuatu yang disebut buka tujuh buka sepuluh atau apapun itu sebelum bayinya bisa keluar.. Well, aku tidak begitu yakin juga tapi intinya seperti itu.." jelas Hani panjang lebar.
"Benar-"
Belum sempat Jackson menyelesaikan pertanyaannya, dokter sudah keluar dari ruang labor itu sambil tersenyum.
"Bagaimana keadaan istriku, dok? Apa dia baik-baik saja? Lalu bagaimana dengan anakku? Apa dia juga baik-baik saja? Bisa aku melihat mereka sekarang?" tanya Jackson bertubi-tubi.
Dokter itu mengangguk, masih tersenyum. "Ya. Semua pertanyaan anda, jawabannya ya."
Tanpa perlu banyak basa-basi lagi Jackson langsung menerobos kedalam. Dia mendapatkan Mark tengah berbaring di tengah-tengah ranjang rumah sakit sambil mengelus-elus kepala bayi mereka.
Ternyata apa yang ayahnya katakan memang benar, wanita terlihat paling cantik setelah mereka melahirkan. Wajah Mark terlihat sangat bercahaya dan membuat Jackson kehabisan kata-kata.
"Mark.."
Gerakan tangan Mark terhenti saat mendengar suara Jackson. Untuk sejenak dia lupa dengan masalahnya dengan Jackson setelah melihat wajah bayinya.
Jackson mendekati Mark lalu mengecup keningnya lembut.
"I'm proud of you."
Jackson tersenyum lebar saat melihat bayinya.
"Anak kita perempuan? Aku memang selalu ingin punya anak perempuan.."
Kini Mark menatap bayinya dengan penuh rasa iba. Bayinya akan tumbuh besar melihat ayahnya selingkuh dibelakang ibunya. Tapi itu lebih baik daripada tumbuh besar tanpa seorang ayah, kan?
"Mark, mengapa kau diam saja?" Jackson mengerutkan keningnya dan menatap Mark dengan penuh rasa khawatir. "Apa kau baik-baik saja? Haruskah aku panggilkan dokter?"
Mark tidak menjawab dan terus mengabaikan Jackson.
"Mark, apa kau marah? Aku kan sudah minta maaf.." ujar Jackson lembut.
"Apa kau pikir maaf saja cukup, Jackson?"
"Mark.. I'll make it up to you.."
"Dengan cara apa? Berhenti berselingkuh dengan wanita itu?! Sudah terlambat Jackson!"
Jackson mengerutkan keningnya lagi.
"Apa maksudmu?"
"Jangan berpura-pura tidak tahu. Aku sudah tahu semuanya. Kau berselingkuh dibelakang ku kan? Dengan sekretaris barumu itu?"
"Hey hey hey.." panggil Jackson lembut saat melihat mata Mark yang sudah berair. Dia menarik Mark kedalam pelukannya dengan hati-hati agar tidak mengganggu bayi mereka. "Aku? Selingkuh? Dengan Bora? Apa yang kau katakan.."
Jackson menepuk-nepuk punggung Mark lembut saat merasakan tubuh Mark bergetar dipelukannya.
"Mark. Shushh.."
"K-kau selalu pulang terlambat dan pergi lebih awal. Kau s-selalu tercium seperti bau wanita. Dan kau melarangku berkunjung k-ke kantormu.." jelas Mark disela tangisannya.
Jackson terkekeh. "Aku menghabiskan waktu di kantor bersama Bora, tentu saja parfumnya akan menempel di pakaianku."
Tangisan Mark mengencang.
"Tidak terjadi apa-apa diantara kami, Mark. Bagaimana mungkin kau bisa meragukan kesetiaanku padamu?"
...
"Aku tidak ingin kau kelelahan jika kau mengunjungiku."
Jackson melepaskan pelukan mereka dan memegang kedua pipi Mark di tangannya. Dia mengusap air mata Mark yang membasahi pipinya sambil tersenyum lembut. Walaupun sudah tidak hamil lagi ternyata istrinya masih suka menangis..
.
"Aku hanya lembur dan bekerja lebih keras lagi untukmu. Bukankah kau pernah bilang ingin tinggal disebuah mansion?"
Mark thought he can't fall any deeper. Jackson proved him wrong.
.
.
.
.
.
.
besok kalo gak males ku baca ulang chap ini dan diedit. ini nulisnya ditengah-tengah rasa ngantuk dan lelah habis nyekripsi di kampus dari pagi.
jadi mohon di review sbg tanda terimakasih buat saya yang udah rela-rela ngeladenin rengekan kalian apalagi yang sampe PM.
.
.
lots of loves!
- barxbee
