Dua detik setelah kelopak mata terbuka, pengelihatannya mulai fokus. Disusul rasa sakit luar biasa di kepala, sambil mengerang tertahan Naruto memaksa tubuhnya untuk duduk.

Semakin pulih kesadarannya semakin hebat rasa sakit yang dirasa. Bukan hanya kepala, tetapi di seluruh tubuh—rasanya seperti bangkit setelah tertimbun batuan berat.

Bersandar pada punggung sofa, sepasang bola matanya memerhatikan seisi ruangan; warna putih mendominasi tembok juga langit-langit, ada jendela berukuran 1x1 meter di kedua sisi yang ditutupi tirai putih transparan, lantainya dari parket kayu kualitas tinggi berwarna cokelat tua, di tengah ruangan hanya ada meja, dan dua sofa hitam senada saling berhadapan, beralaskan karpet putih tanpa motif, memberikan kesan kaku, luas—juga kosong secara bersamaan pada seisi ruangan, tetapi tidak membosankan karena sentuhan monochrome yang kuat.

Menyadari tidak familiar dengan lingkungan sekitar, bibirnya mengeluarkan suara bingung yang pelan, "Huh?"

Kepala menunduk walau terasa berat, memastikan pakaian yang membalut tubuhnya dengan kedua tangan. Ternyata pakaian yang dikenakan masih sama dengan miliknya semalam; kemeja putih bau alkohol, jas abu-abu tua, dan celana panjang hitam, beserta kaos kaki, dan sepatu masih menempel di tubuhnya, bahkan dasi yang melilit di kepala masih di posisi yang sama.

Naruto memijit dahi.

Siapa pun yang membawanya ke tempat ini, tidak benar-benar memiliki niat untuk menolong—terkesan terpaksa.

"Setidaknya dia bukan kriminal yang membawa kabur dompet, dan ponselku," ujarnya, masih bersyukur.

Helaan napas menyusul beberapa kali setelahnya, kaki melangkah pelan mengitari ruangan, sebelum matanya terkunci pada pintu.

Ini bukan rumahnya, rumah koleganya, juga jelas bukan hotel.

Lalu rumah siapa?

Tidak bisa mengingat banyak memori dari tadi malam, cukup membuat paginya sulit. Ia tidak menyangka harus mengalami hal seperti ini tepat satu hari setelah ulang tahunnya.

Telapak tangan bersentuhan dengan dinginnya permukaan kenop pintu. Diputar searah jarum jam, dalam hatinya berharap tidak ada sepasang mata yang melihat tingkah lakunya berkeliaran tanpa seizin pemilik rumah.

Sayangnya, harapan dan kenyataan selalu berbeda jauh.

Sosok yang menunggunya di balik pintu sudah siap dengan tatapan setajam belati, tetapi bukannya merasa takut, atau terkejut, Naruto justru mencubit lengan kirinya cukup keras beberapa kali dengan ekspresi datar.

"Huh? Kenapa sakit ..., jadi ini bukan mimpi?" ujarnya mengernyit bingung.

Uchiha Sasuke yang berdiri di hadapannya nyata, bukan ilusi, atau mimpi.

"Apa kau ini masih mabuk? Atau memang kepalamu itu tidak memiliki otak? Apa pun itu, cepat pergi dari sini. Alasan kenapa kau ada di sini tidak penting, dan, hn ... karena semua ini salahmu, mobilmu kupinjam dulu, punyaku tidak tahu di mana kuncinya."

Naruto tidak membuka mulutnya—lebih tepatnya tidak diizinkan. Tubuhnya sudah lebih dulu didorong paksa ke luar oleh Sasuke disusul bantingan pintu kuat tepat di depan wajahnya.

Sekarang hanya bisa berdiri di teras rumah dengan penampilan kusut. Tidak bisa memprotes, tidak bisa melawan, tidak memiliki pilihan selain mendengarkan apa yang dikatakan pria itu dengan ekspresi ragu di wajah.

"A-Apa yang sebenarnya terjadi?" ada jeda sesaat, "mabuk? Rumah Sasuke? Mobilku? Kunci? Semua Salahku? A-Apa yang kulakukan semalam?"

.

Continued