Seijuurou membuka matanya.

Yang pertama dilihatnya adalah langit-langit berwarna cream dengan berbagai origami digantung disana, ada bangau (yang mendominasi), naga, gajah, kelinci, kucing, dan banyak lagi. Memiringkan kepalanya ke kiri, Seijuurou melihat keluar melalui jendela. Tampak di luar sudah mulai terang, sang mentari telah bangun dari peraduannya, menerangi bumi yang dingin dan gelap. Seijuurou tersenyum kecil sebelum memalingkan wajahnya ke arah sebaliknya, kanan.

Ogiwara masih tertidur pulas dengan kedua tangannya yang memeluk Seijuurou erat. Mendekapnya penuh perlindungan, membuat Seijuurou ingat masa kecilnya, dimana setiap malam Ogiwara juga selalu memeluknya hangat seperti ini. Namun yang menjadi fokus utama Seijuurou bukanlah pelukannya, melainkan mulut Ogiwara yang terbuka...

.

.

.

.

.

…dan mengeluarkan cairan bening.

"AN-CHAAAAAAAN!"


Disclaimer: Kurobas punya Fujimaki-sensei. Akakuro punya Fei #plakk.

Rate: T+

Pair: Father!Kuroko X Son!Akashi.

Warning: Violence, bully, children abuse, blood, typo(?).

Selamat membaca ^^


Ogiwara meringis sambil mengelus-elus punggungnya yang masih terasa sakit karena beradu dengan lantai, "Sei, kalau mau membangunkan orang ga didorong dari ranjang juga dong!"

Seijuurou meneguk susunya sampai habis sebelum menjawab, "Salah sendiri, An-chan ngiler ke kepalaku." Jawabnya datar.

"Aku rasa aku ga akan bisa main basket hari ini." Ogiwara menangis lebay.

"Maaf," gumam Seijuurou pelan.

Ogiwara menatap Seijuurou yang tampak sangat merasa bersalah. Dielusnya lembut punggung mungil itu agar tidak mengenai daerah lebamnya, "Aku hanya bercanda, ceria dikit dong, kita kan ada pertandingan final lusa."

"Final? Emangnya kita udah ikut semifinal? Seingatku kita baru ikut babak pertama." Tanya Seijuurou bingung.

"Yah, kata Taiga sih, kita sudah ikut sampai semifinal, dan waktu itu kau tak ikut karena demam." Jawab Ogiwara.

"Begitu ya?" Seijuurou yakin waktu yang dimaksud Taiga adalah waktu dia tinggal berdua di rumah dengan Shinya (baca chapter 5)

" Lawan kita siapa?" Tanya Seijuurou.

Ogiwara menelan nasinya, "Kalau ngga salah, Shuutoku."

"Shuutoku kah? Akhirnya aku akan melawan Kazu-nii." Gumam Seijuurou, "Oh ya, An-chan, boleh pinjam seragammu? Seragamku robek."

"Oh, tentu saja."

Ogiwara mengambil satu stel seragam Teikonya dan menatap Seijuurou ragu, "aku tak yakin kau muat."

"Tentu saja tak muat, kau pikir perbedaan tubuh kita itu kecil? Tapi lebih baik pakai seragam kebesaran daripada ngga sama sekali." Tutur Seijuurou sedikit tersinggung (karena merasa kecil). Tanpa banyak basa-basi dipakainya seragam Ogiwara, dan tentu saja hasilnya mengundang tawa sang empunya.

"Bwahahaha, Sei, kau lucu banget!"

Sejiuurou merengut. Pakaian itu sudah pasti kebesaran, tapi dia tak menyangka bakal sebesar ini. Panjang lengan blazernya sampai ke lutut, begitu pula seragamnya. Celananya juga sama, panjang dan besar sampai Seijuurou tak berani melepaskan genggamannya pada pinggang celana, karena sekali dia lepaskan, celana itu akan melorot sampai ke mata kakinya. Bahkan dadanya yang putih terekspos jelas karena kancing kemeja teratasnya sengaja dilepaskan.

"An-chan, jangan ngeledek." Protes Seijuurou, "kenapa seragammu besar banget? Padahal kalau dilihat ga terlalu besar."

"Sengaja, biar bisa kupakai sampai kelas 3." Jawab Ogiwara sembari berlutut di hadapan Seijuurou dan menepuk kepalanya, "warui na, sini An-chan betulkan."

Setelah beberapa saat lamanya, Ogiwara tersenyum senang dan menatap Seijuurou yang sudah rapi dengan celana dan lengan yang sudah digulung rapi, "Beres."

"Arigatou, An-chan."

"Yosh. Nah, ayo berangkat!" Serunya semangat sembari melangkah menuju pintu depan.

Seijuurou sweatdrop, "An-chan, ada nasi di pipimu. Dari tadi ga nyadar ya?"


Hal pertama yang Seijuurou lakukan ketika tiba di kelas adalah menghampiri Taiga yang sedang ngobrol dengan Shintarou, Ryouta, Murasakibara dan Takahashi Reiko (alias ketua kelas).

"Taiga-nii, kenapa ga bilang kalau kita akan ada pertandingan final lusa?" Tanya Seijuurou.

"Ah! Aku lupa," Taiga nyengir, "kau tau dari mana?"

"An-chan yang kasih tau."

"An-chan, maksudnya Shige?"

Seijuurou mengangguk, "Ngomong-ngomong, Sei, kenapa wajahmu lebam begitu?" tanya Taiga.

"Er, kemarin aku menolong nenek-nenek yang dijambret." Jawab Seijuurou. Tidak sepenuhnya bohong sih, semalam sebelum pergi ke makam Satsuki, Seijuurou memang menolong seorang nenek yang tasnya dijambret, tapi penyebab lebamnya kan bukan itu.

"Mattaku kenapa kau selalu datang ke sekolah dengan luka baru? Merepotkan saja." Tanya Shintarou sedikit jengkel.

"Maa maa, Sei-chan kan bertindak baik dengan menolong nenek itu, seharusnya kau memuji Sei-chan, bukan malah memarahinya." Tegur Takahashi.

"Tau tuh, Midorimacchi si tsundere."

"O-oy, aku cuma-"

"Mido-chin wa ba~ka~"

"MURASAKIBARA!"

Tiba-tiba Seijuurou berdiri, "Reiko-nee, aku izin ke UKS, kepalaku sedikit sakit."

"Oh, apa perlu dibantu, Sei-chan?" Tanya Takahashi.

"Tak apa, aku sendiri saja." Jawab Seijuurou sembari berjalan keluar kelas. Ryouta sempat melihat perubahan ekspresi Seijuurou sesaat sebelum menghilang di balik pintu. Maka dia segera berdiri dan melangkah menuju pintu, "Kagamicchi, aku akan menyusul Seicchi."

"Oh, oke, tolong awasi dia ya." Pinta Taiga. Ryouta, tanpa membalikkan tubuhnya, mengangguk dan menyusul Seijuurou.


Sebenarnya, izin ke UKS hanyalah alasan belaka, Seijuurou baik-baik saja, dia hanya butuh waktu menyendiri. Entah kenapa, kata-kata Shintarou terasa menusuk perasaannya, membuat dadanya sesak. Dan disinilah dia, kembali di tempat yang sama, atap sekolah, menangis keras, tanpa takut ada orang yang mendengarnya. Toh, tempat ini adalah tempat paling sepi di sekolah ini, tak akan ada orang yang melihatnya.

Seijuurou memukul-mukul dinding sambil berteriak keras, melampiaskan kebenciannya pada diri sendiri dengan memukul dinding beton tak berdosa di hadapannya, tak mempedulikan tangannya yang sudah berdarah, dia terus melampiaskan kekesalannya sampai seseorang memeluknya erat dari belakang dan menahan tangannya.

"Seicchi, yamero (hentikan)!" Perintah Ryouta sambil mengeratkan pelukannya, mengunci lengan atas Seijuurou, "Kau menyakiti dirimu sendiri-ssu!"

"Aku tak peduli! Aku sudah merepotkan semua orang!" Seijuurou memberontak melepaskan diri dari Ryouta, "Ryouta, lepaskan aku!"

Ryouta menghela nafas, salah satu ciri-ciri Seijuurou depresi berat adalah kecenderungannya untuk memanggil orang dengan nama kecil, tanpa embel-embel 'nii' atau 'nee' atau 'san' dan lainnya. Hal ini pertama kali terjadi ketika mereka kelas 1, ketika Seijuurou mulai menjadi korban kekerasan, dia seolah berubah menjadi orang yang berbeda, bukan lagi Seijuurou yang sopan dan ramah.

Ketika Ryouta lengah, Seijuurou menyikut tulang rusuk Ryouta dan melepaskan diri, Ryouta yang tidak siap akan serangan Seijuurou hanya bisa meringis dan mencengkeram daerah sekitar tulang rusuknya yang menjadi korban.

"Gimana? Sakit? Hahaha, itulah yang kurasakan!" Seru Seijuurou, masih dengan air mata di wajahnya, dia tertawa kencang dan menunjuk Ryouta, "Ada apa dengan wajahmu, hah? Kenapa kau memasang tampang melas itu? Kalau marah, ayo balas aku!" Tantang Seijuurou.

Ryouta beranjak bangun dari tempatnya berjongkok tadi, berjalan mendekati Seijuurou, dan berhenti tepat di depan Seijuurou, menatap anak itu dengan pandangan yang tak bisa diartikan.

"Ha? Apa? Kau tak menyerangku, Ryouta? Kau takut, hah? Pengecut!"

Plak!

Seijuurou terbelalak.

Ryouta menampar Seijuurou dengan sangat keras hingga bekas tangan kemerahan tampak kentara di pipi Seijuurou, matanya menatap dingin bocah dihadapannya, seperti mata robot yang diprogram untuk membunuh manusia.

"R-Ryouta-"

Secepat dia menampar Seijuurou, secepat itu pula dia menarik bocah itu ke dalam pelukannya. Seijuurou tak mengerti sama sekali, kenapa Ryouta dengan cepat merubah ekspresi dan memeluknya secepat dia menamparnya? Seijuurou menangis dalam pelukan Ryouta begitu menyadari perubahan sikapnya tadi.

"Maafkan aku, Seicchi, aku melakukan ini demi kau juga."

Tes.

Eh? Seijuurou mendongak, dan sangat terkejut melihat apa yang menetes di rambutnya tadi.

Ryouta menangis. Air mata berjatuhan dari balik kelopak mata yang tertutup itu, menetes semakin banyak di rambutnya. Seijuurou bingung, kenapa Ryouta menangis? Padahal, kan dia yang sakit, kenapa malah Ryouta yang menangis? Apalagi mulut Ryouta dari tadi menggumamkan kata 'maaf' berkali-kali, otak jenius Seijuurou pun tak bisa memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.

"R-Ryouta-nii, maafkan aku."

Ryouta menatapnya sambil tersenyum tipis, "aku mengerti perasaanmu, Seicchi."

"Aku tau." Seijuurou tersenyum.

"Ini bukan kata-kata penenang belaka, Seicchi," Tambah Ryouta, "Aku juga sama denganmu,"

"Eh?"

Ryouta duduk menyandar ke dinding, menepuk nepuk lantai diantara kedua kakinya, memberi isyarat bagi Seijuurou untuk duduk disana. Seijuurou menurut, membiarkan punggungnya bersandar pada dada bidang Ryouta dan tangan pemuda itu memeluk pundaknya, sama seperti kemarin. Ryouta tersenyum kecil dan menengadah, menyandarkan dagunya di kepala Seijuurou dan menatap langit biru, "Yuu-nii…"

"Ng?" Seijuurou menengadah dan menatap wajah Ryouta, "Yuu-nii? Siapa itu?" Tanyanya.

"Kakakku yang paling kusayangi," Jawab Ryouta, kedua matanya menatap lembut Seijuurou, "beginilah cara dia melindungiku 12 tahun yang lalu, ketika kami berpisah untuk pertama dan terakhir kalinya."

"Eh? Aku kira Ryouta-nii anak tunggal."

"Aku anak bungsu, Seicchi, aku punya 2 kakak perempuan dan 1 kakak laki-laki."

"Dimana mereka?" Tanya Seijuurou penasaran.

Ryouta menggigit bibir bawahnya, "Itu…"

"Ryouta-nii," panggil Seijuurou, "apa masa lalumu juga sekelam milikku?" Tanyanya.

Ryouta tersenyum kecut, "kurasa…lebih kelam darimu-ssu."

"Bisakah kau menceritakannya padaku? Aku benar-benar penasaran." Sambil tersenyum manis, Seijuurou menggenggam tangan Ryouta erat, berharap Ryouta akan mengangguk dan memulai ceritanya.

Ryouta menunduk, menatap kedua iris crimson yang berbinar penasaran, kemudian menggeleng kecil, "Jangan sekarang. Aku belum mau membicarakannya." Kedua iris madunya menerawang kosong ke langit, "lagipula aku kemari untuk membawamu kembali ke kelas. Tapi aku janji, aku pasti akan menceritakannya padamu."

Seijuurou menghela nafas kecewa, "janji ya?"

"Mochiron-ssu (tentu saja)" Jawab Ryouta, "Nah, ayo kita kembali ke kelas."

Seijuurou menyandarkan kepalanya ke dada bidang Ryouta, "Ryouta-nii, aku boleh minta sesuatu?"

"Tentu saja," Jawab Ryouta.

"Bolehkah kita seperti ini sedikit lebih lama?" Tanya Seijuurou.

"Are? Memangnya kenapa-ssu?" Tanya Ryouta balik.

"Aku hanya ingin." Jawab Seijuurou.

"Kenapa tidak sama Kagamicchi atau Ogiwaracchi? Kenapa aku?" Tanya Ryouta lagi.

"Karena pelukan Ryouta-nii sangat nyaman."

Ryouta terpaku mendengar jawaban bocah itu, "Bukannya semua orang bilang pelukanku bisa membuat orang mati ya?"

"Tapi didalamnya ada kehangatan."

Senyuman kecil terukir di wajah model tampan itu. Dengan lembut, didekapnya erat tubuh mungil itu, tangan kirinya setia memeluk bahu kecil Seijuurou sementara tangan kanannya mengelus surai scarlet yang lembut itu. Bisa dia rasakan tubuh mungil itu berguncang kecil, membuat Ryouta semakin mengeratkan pelukannya. Entah berapa lama sudah waktu berlalu, hingga Ryouta mendengar suara dengkuran halus dari objek yang dipeluknya.

"Seicchi?"

Seijuurou tertidur. Kepalanya terkulai lemas ke lengan Ryouta, mulutnya terbuka kecil, dadanya bergerak naik turun dengan teratur. Ryouta hanya bisa tersenyum kecil melihat betapa damainya wajah Seijuurou saat ini.

"Seicchi, pasti ada hal berat yang terjadi padamu kemarin, iya kan?" Tanyanya sambil menghapus air mata di pipi Seijuurou.


"Oh, rupanya kalian disini, Kise."

Ryouta menoleh dan menatap Ogiwara, Taiga, Shintarou dan Murasakibara yang baru saja tiba di atap, "Minnacchi."

"Kise, tangan Seijuurou kenapa?" Tanya Shintarou sambil menunjuk tangan Seijuurou yang berdarah. Mendadak pemuda berambut hijau itu merasakan hawa tak enak di sekitarnya.

"Shintaroucchi, nanti pulang baru kita buat perhitungan, oke? Bukannya hari ini lucky itemmu itu perban? Kalau begtu cepat obati dia." Perintah Ryouta sambil tersenyum psycho.

"O-oke." Jawab Shintarou, yang dengan cepat mengeluarkan lucky itemnya dan membebat tangan Seijuurou.

"Ano, Kise-chin, kenapa rahangmu lebam gitu?" Tanya Murasakibara.

"E-eh, ahaha, anu," Kise salah tingkah, "Yah, kemarin ayahku melakukan kebiasaan lamanya.."

Shintarou langsung berdiri tegap mendengarnya.

"T-tenang saja, Midorimacchi, hanya dipukul kok-"

"Dengan apa?" Tanya Midorima serius.

"Ano…etto…sapu…kurasa?" jawab Kise, "Aku tak ingat, soalnya kepalaku terbentur."

"Tapi kau tak apa-apa kan?" tanya Taiga.

"Ya. Aku baik-baik saja."

"Yokatta. Oh, aku baru sadar, kenapa seragam Sei kelihatan lebih besar dari biasanya ya?" Tanya Taiga. Mendengar pertanyaan itu, Ogiwara hanya bisa menggaruk kepalanya.

"Yah, kemarin bajunya kotor, jadi dia pakai seragamku." Jawabnya kikuk.

"Begitu ya?" Tanya Taiga.

Ogiwara tersenyum, dia berjongkok di depan Ryouta dan menatap wajah Seijuurou yang tertidur. Dengan usil Ogiwara memasukkan jarinya ke mulut Seijuurou yang terbuka kecil namun segera ditepis oleh Ryouta, "Ogiwaracchi!"

"Hehehe, maaf, aku sudah lama tak melihat wajah tidur Sei." Ogiwara tertawa kecil.

"Ya sudah, ayo kembali ke kelas. Kise, biarkan saja dia tidur dulu, toh kita jam kosong sampai pulang." Taiga tersenyum, "kalian berdua butuh istirahat, bukan?"

Ryouta tersenyum tulus, "Arigatou."

"Sa, ayo." Ajak Ogiwara.

"Jaa nee, Kise-chin."

"Jaa."


Seijuurou terbangun dari tidurnya.

"Eh? Aku dimana?"

Tangan kanannya terangkat untuk mengucek matanya yang setengah terbuka, namun Seijuurou terkejut mendapati tangannya terbalut perban. Otaknya mulai memproses dan membongkar ingatannya, tak butuh waktu lama untuknya mengingat apa yang telah terjadi sebelum dia tertidur.

"Oh iya, aku harus minta maaf sama Ryouta-nii." Gumamnya sambil berusaha bangun, namun sesuatu menahan -tepatnya memeluk- tubuhnya, yang membuatnya sedikit kesulitan untuk bergerak. Seijuurou menengadah untuk melihat siapa yang membuatnya berasa seperti tahanan perang.

Ryouta pelakunya, dengan kedua mata yang tertutup rapat dan kepala bersandar pada dinding, kedua tangannya melingkari bahunya, Seijuurou langsung sadar kalau dirinya tertidur sambil menyandar ke Ryouta, dan saat itulah Seijuurou melihat ada lebam keunguan di rahang bawah Ryouta. Dengan pelan dia berusaha untuk melepaskan diri dari Ryouta.

Rupanya pergerakan kecil Seijuurou membuat Ryouta terbangun.

"Nggh, eh? Seicchi sudah bangun?" Tanyanya sambil tersenyum lembut.

"Ryouta-nii, aku mau minta maaf." Ucap Seijuurou pelan.

"Eh? Karena apa?"

"Aku…tadi aku…"

"Sssh…" Ryouta mendekap bocah itu, "tak apa-ssu, itu bukan sepenuhnya salahmu. Lagipula bukannya tadi kau sudah minta maaf?" Tak menerima jawaban dari bocah itu, Ryouta tersenyum tipis, "ma, kita lupakan kejadian tadi, ayo ke gym. Mereka semua pasti sudah menunggu kita-ssu."

"Ryouta-nii, lebam itu…" Seijuurou mendongak dan mengelus lebam itu, "Apa aku yang melakukannya?"

"Bukan, bukan kau. Tenang saja. Jadi, kau mau ke gym sekarang?"

Anggukan kecil diterima sebagai jawaban. Ryouta tersenyum kecil dan menggandeng Seijuurou menuju gym.


" 'sup!"

Ogiwara menoleh dan membalas salam tersebut, "Yo, Kise, Sei."

"An-chan, one-on-one yuk." Ajak Seijuurou yang langsung merebut bola yang dipegang Ogiwara, namun Ogiwara sudah keburu mengangkat bolanya ke atas, "Ngga boleh, tangan Sei lagi luka, trus An-chan baru mau menantang Taiga one-on-one." Jelas Ogiwara.

"One-on-one dengan Taiga-nii? Aku wasit deh." Seru Seijuurou semangat.

"Boleh aja." Ogiwara tertawa kecil.

"Ada apa kalian menyebut-nyebut namaku?" Tanya Taiga.

"An-chan menantangmu one-on-one." Jelas Seijuurou.

"Hoo, ayo." Taiga menyeringai lebar.

"Whoa, jangan menyeringai gitu dong, kau mirip macan ompong jadinya." Ledek Ogiwara.

"Teme!"

"Mou, ayo cepat mulai!"


"Seijuurou, aku punya kabar untukmu!"

Seijuurou yang sedang menonton pertandingan Taiga dan Ogiwara langsung menoleh dan menatap Shintarou, "Yo, Shin-nii, kabar apa?" Tanyanya.

"Ayahmu sudah sadar."

Taiga dan Ogiwara yang mendengar hal itu langsung menghentikan pertandingan dan mendekati Shintarou.

"Benarkah? Tou-san sudah sadar?!" Seru Ogiwara.

"Ya, dia sudah pulang ke rumahnya." Jawab Shintarou.

"Yosha! Bukannya itu bagus, ne, Sei," Taiga berhenti tertawa begitu melihat Seijuurou menunduk, "Sei?"

"Ano, Shin-nii, bolehkah aku menginap di rumahmu beberapa malam lagi?" Tanya Seijuurou.

Baik Shintarou, Taiga, Nijimura, Ryouta, Ogiwara, bahkan Murasakibara terkejut bikan main mendengar permintaan Seijuurou. "K-kenapa? Bukannya kau bilang kau mau langsung pulang setelah ayahmu sadar?" Tanya Shintarou.

"Mauku sih begitu, tapi aku tiba-tiba teringat," Seijuurou menggigit bibir bawahnya, "Tou-san mungkin masih merasa bersalah sampai takut berlebihan padaku, soalnya kemarin Tou-san mencoba bunuh diri karena takut padaku. Kalau aku pulang, aku takut Tou-san masih mengingat kejadian kemarin, jadi aku menunda kepulanganku…"

Shintarou mengelus kepala Seijuurou dengan sayang, "tentu saja boleh-nodayo, rumahku selalu terbuka untukmu."

Seijuurou tersenyum kepada Shintarou, "Arigatou." Bisiknya pelan.

"Oh ya, Sei."

Seijuurou menoleh, "Kenapa, An-chan?"

"Pulang sekolah nanti…mau ga anterin An-chan ke makam Kaa-san?" Tanya Ogiwara sedikit ragu. Dia pikir Seijuurou akan menolak, tapi ternyata bocah itu malah tersenyum dan mengangguk, "Oke."

"Sei, aku ikut ya." Pinta Taiga.

"Aku juga-ssu!"

"Aku ikut ya, Sei-chin."

"Aku ikut-nodayo."

"Aku ikut."

"Ya ampun, kalian ngapain ikut? Kapten juga?" Tanya Ogiwara sedikit kesal.

"Emangnya ga boleh?" Tanya Nijimura.

"Kalau Taiga sih ga apa-apa, kan Kaa-san itu bibinya, tapi kalian ngapain coba?"

"Kami hanya ingin mengunjungi makam wanita yang telah melahirkan Seijuurou, apa itu salah?" Tanya Shintarou. Cukup satu pertanyaan itu saja untuk membuat Ogiwara bungkam.

"Sudahlah, An-chan," Seijuurou menepuk bahu Ogiwara, "Tentu saja kalian boleh ikut."

"Arigatou, Seicchi!" Seru Ryouta senang sambil memberikan Seijuurou pelukan mautnya.

"Woi goblok Sei ga bisa nafas tau!" Taiga memukul kepala Ryouta.

"Sakit!"

Seijuurou hanya bisa tersenyum kecil.


"Konbanwa, Kaa-san."

Di tempat yang sama dengan kemarin, Seijuurou berlutut dan mengusap batu nisan yang mengukir nama ibunya sambil tersenyum sedih. "Kaa-san, kata Shin-nii Tou-san sudah bangun, dia udah di rumah. Tapi aku belum berani pulang, aku takut kejadian kemarin terulang lagi, jadi aku mau memberikan Tou-san waktu untuk melupakan ketakutannya."

Untuk pertama kalinya, mereka semua bisa melihat sisi lain Seijuurou. Di mata mereka, Seijuurou bagaikan anak kucing yang tersesat dan tak punya siapapun untuk melindunginya, atau seperti kata Ryouta, barang antik yang akan pecah jika kau salah menyentuhnya.

Seijuurou tak lebih daripada seorang anak yang kesepian.

"Oh ya, Kaa-san, hari ini aku membawa senpai-senpaiku dari sekolah, lho, mereka bilang mereka mau bertemu denganmu, Taiga-nii juga ikut," Seijuurou tertawa kecil, "Mou, Kaa-san, apa maksudmu aku ini benar-benar adik kecil mereka? Aku anak tunggal kan? Hahaha."

Seijuurou terus berbicara seolah-olah makam yang berada di hadapannya adalah ibunya, ibunya saat masih hidup. Sesekali dia tertawa kecil dan protes, membuat Taiga yang paling penakut merinding, "sekarang aku percaya, kuburan memang banyak hantunya!"

Shintarou berlutut di samping Seijuurou dan mengatupkan kedua tangannya, kemudian mengelus nisan itu sambil tersenyum lembut. "Konnichiwa, Satsuki-san, nama saya Midorima Shintarou. Mungkin kita belum pernah bertemu, atau mungkin pernah tapi tidak saling menyadari, tapi saya bisa merasakan anda adalah ibu idaman semua anak. Jujur saya sedikit cemburu pada Seijuurou, saya juga ingin memiliki ibu sepertimu, tapi, ah, ibuku juga tak jauh berbeda denganmu, kata Seijuurou sih. Jadi saya hanya akan bilang, semoga anda beristirahat dengan tenang-nanodayo."

Shintarou berdiri dan berbalik, hanya untuk mendapati tatapan aneh dari teman-temannya, "A-aku bilang begitu bukan karena aku peduli-nodayo!"

Muasakibara ikut berlutut dan berdoa, "Ne, Satsuki-san, kata Sei-chin masakanmu enak ya? Sayang banget aku tak pernah nyoba. Semoga tenang di sana." Astaga, bahkan titan ini masih memikirkan makanan.

Giliran Ryouta yang maju, "konnichiwa, mamacchi, apa kau masih ingat aku? Anak berambut kuning dengan wajah kesepian yang selalu bergantung pada kakaknya yang berambut hijau, yang waktu itu kalian ajak bergabung untuk piknik, aku harap kau tak melupakanku. Aku masih kecil waktu itu-ssu, jadi aku tak mengerti apa-apa, tapi sekarang aku ingin mengucapkan terima kasih, karena saat itu, untuk pertama kalinya aku bisa merasakan hangatnya keluarga."

Dia berbicara begitu pelan, nyaris berbisik, hanya Seijuurou yang bisa mendengarnya, dia hanya bisa tersenyum kecil ketika mengingat kejadian itu.

"Konnichiwa, saya Nijimura Shuuzo, senpai Seijuurou. Saya memang tak pernah bertemu anda, kalau melihat dari jauh sih pernah," semua sweatdrop mendengarnya, "er…serius saya tak tau mau bilang apa, tapi," Nijimura merendahkan suaranya, "terima kasih karena sudah melahirkan Seijuurou, dia sangat berharga untuk kami semua. Dia benar-benar mirip denganmu, imut dan jenius."

Taiga menepuk kepala Seijuurou lembut dan berlutut di sampingnya, "Obasan, aku datang lagi. Eh, kapan ya terakhir kali aku kemari?" Taiga menggaruk kepalanya bingung, "tapi aku kemari karena ingin menanyakan satu hal, kemarin ayah Nijimura-senpai memberitahuku sesuatu, aku tak begitu percaya, tapi aku ingin memastikan, jadi, Obasan, aku mau nanya…"

Taiga mendekatkan wajah ke nisan, angin yang berhembus kencang menerbangkan pertanyaan yang keluar dari mulut Taiga, hingga tak seorangpun mendengarnya, "oyasumi." Ucap Taiga.

"Taigacchi, apa pertanyaannya?" Tanya Ryouta.

"Bukan urusanmu!" Balas Taiga.

"Ne, Kaa-san," Suara Seijuurou kembali terdengar, "An-chan sudah kembali lho, dia ada di sini nih," Seijuurou berbalik dan menatap Ogiwara yang sejak awal masih terdiam di tempatnya, "An-chan, sini." Ajaknya.

Ogiwara tersadar dari lamunannya dan berjalan mendekati Seijuurou, "makam Kaa-san ya? Aku galau akan perasaanku nanti. Apa aku akan menangis ya?" pikirnya sambil berlutut di samping Seijuurou. Ketika kedua manik onyxnya menatap nisan, entah kenapa dadanya terasa sesak, seperti ada es yang beku di dalam sana.

"D-doumo, Kaa-san," Ogiwara menyadari suaranya bergetar, "lama tak bertemu, tau-taunya aku sudah tak bisa bertemu denganmu lagi."

Ogiwara menggigit bibir bawahnya, "selama di Amerika, aku tak pernah lupa lho, akan pesan terakhir kalian, aku selalu berharap bisa berkumpul lagi bersama, berempat, dan sekarang, aku sudah pulang, tapi kita malah bertemu disini."

Angin berhembus dan menerbangkan dedaunan kering yang berada di sekitar mereka, "Aku masih belum puas, Kaa-san, aku masih ingin merasakan hangatnya pelukanmu, lembutnya senyummu, aku selalu merindukannya selama 5 tahun terakhir ini, tapi…"

Tes.

"Eh?" Ogiwara menatap setetes air yang menetes ke punggung tangannya yang terkepal diatas pahanya, dia menangis? Untuk apa dia menangis untuk orang yang sama sekali bukan ibunya lagi?

"Hiks…"

Ogiwara menoleh ke samping, dan mendapati Seijuurou menunduk dalam, kedua tangannya saling terlipat seperti sedang berdoa, dagunya menempel ke dadanya, giginya terkatup rapat dan air mata terus mengalir dari kedua matanya yang tertutup.

Sekali keluarga, selamanya tetap keluarga, Shige-kun.

Kata-kata Tetsuya pada hari itu seolah menerjang masuk ke dalam pikirannya, membuatnya tersentak. Benar juga, bukannya dia pernah menjadi bagian keluarga ini? Dan sekali keluarga, selamanya adalah keluarga bukan? Sampai kapanpun, Tetsuya tetaplah ayahnya, Satsuki tetaplah ibunya, dan Seijuurou juga tetaplah adiknya. Lagipula, bukankah dia sendiri yang mengatakannya kepada Taiga?

"Kaa-san…" isaknya, Ogiwara tak ragu lagi, kalau memang dia ingin menangis, maka dia akan menangis sampai puas, kalau dia ingin berteriak, dia akan berteriak sampai suaranya habis. Pokoknya, dia akan melampiaskan seluruh rasa sesak di dadanya dengan cara apapun.

Seijuurou merasa tubuhnya dirangkul dengan lembut dan didekap oleh kakak angkatnya, "S…Sei…kenapa nangis?" Tanya Ogiwara sambil tersenyum (masih dengan air mata yang mengalir)

"K..Kangen sama Kaa…Kaa-san…" Jawab Seijuurou jujur.

"An-chan mou(juga)," Ogiwara menempelkan jidatnya ke pundak Seijuurou dan menangis.

"An-chan…" Seijuurou menangis kencang, melesakkan diri ke dalam pelukan Ogiwara yang selama tiga tahun waktu yang mereka habiskan bersama selalu melindunginya, menjaganya, dan menenangkannya. "An-chan, Kaa-san…" tangisnya, tangannya mencengkeram bagian depan seragam Ogiwara, sementara wajahnya terbenam dalam dada sang kakak, meredam setiap raungan rindu yang keluar dari mulutnya. Ogiwara sendiri hanya bisa menyandarkan dahi ke kepala Seijuurou sambil menutup mata dan mengatupkan gigi, membiarkan air matanya mengalir tanpa berusaha untuk menyembunyikannya.

"Wakatteru…yo (Aku tau)," Ogiwara mengelus punggung dan kepala Seijuurou, "An-chan mou…"

Taiga, Ryouta, Shintarou, Murasakibara dan Nijimura hanya bisa terpaku, dan tanpa mereka sadari, air mata mereka ikut menetes melihat Ogiwara dan Seijuurou yang tampak begitu hopeless. Taiga berjalan mendekati mereka dan memeluk keduanya.

"Sudahlah," suaranya ikut bergetar, "Obasan sudah tenang disana, kita hanya bisa mendoakannya di sini." Bisiknya sambil mengusap lengan kedua kakak beradik itu.

"Taigacchi benar, Seicchi, Ogiwaracchi," Ryouta ikut bergabung, "mama kalian sudah berada di surga, Seicchi dan Ogiwaracchi tak boleh sedih, ne?"

"Seijuurou, Ogiwara, seorang laki-laki itu harus tegar, jangan sedih, beliau sudah bahagia disana, ne?"

Murasakibara menerobos kerumunan itu dan mengelus kepala Seijuurou, "Sei-chin, kenapa nangis?" Tanyanya, dan tanpa dia duga, Seijuurou melepaskan diri dari Ogiwara dan beralih memeluk lehernya, "Atsushi-nii…" Isaknya.

Tersenyum kecil, sisi dewasa Murasakibara pun bangkit. Dengan lembut digendongnya Seijuurou yang masih menangis, tangannya mengelus punggung Seijuurou, " maa maa, jangan nangis lagi ne, Sei-chin. Atsushi-nii yakin, dari sana, mama Sei-chin selalu mengawasi Sei-chin. Mama Sei-chin pasti akan sedih kalau melihat Sei-chin seperti ini. Apa Sei-chin mau membuat mama menangis?"

Seijuurou menggeleng kuat dan memeluk leher Murasakibara semakin erat, "Atsushi-nii juga tau gimana rasanya kehilangan, mama Atsushi-nii juga sudah ngga ada lagi. Tapi Atsushi-nii ga mau membuat mama menangis. Karena itu, sekarang, Sei-chin menangislah sampai puas, tapi setelah itu, jangan menangisi mama Sei-chin lagi, oke?"

Anggukan kecil diterima Murasakibara sebagai jawaban, dan Seijuurou benar-benar menepati janjinya, dia meraung sekuat yang dia mau, menangis selama yang dia mau, Seijuurou benar-benar melampiaskan seluruh emosi dan kerinduannya saat itu, hingga mereka semua tau, seberapa rindunya anak ini pada sosok seorang ibu yang dahulu selalu berada di sampingnya.

Ogiwara sendiri juga sama. Dia berteriak sekuat yang dia bisa, dengan Taiga yang setia menghiburnya, yang dia inginkan hanya melepaskan perasaan sesak yang membebani dadanya sedari tadi. Terserah dia mau dikatain cengeng atau apa, pokoknya dia ingin menangis sampai puas.

Seijuurou yang kelelahan menangis hanya bisa menyandarkan dahi ke bahu Murasakibara yang lebar, berusaha mengontrol nafasnya yang masih tak beraturan karena menangis, sedangkan Murasakibara sendiri mengelus kepala Seijuurou, tak mempedulikan seragamnya yang basah karena air mata dan ingus bocah berkepala merah itu.

"Ayo pulang," Ajak Taiga dan dijawab dengan anggukan mereka semua.

"Aku pulang dulu, Kaa-san, jaa nee." Bisik Seijuurou sambil tersenyum ke arah makam.


"Tadaima~"

"Okaeri," Shiina menyambut kedatangan kedua pemuda itu, "Ara, Sei-chan-"

"Seijuurou bilang dia mau nginap disini." Jawab Shintarou sambil menatap Seijuurou yang tertidur di punggung Taiga.

"Hee? Bukannya dia bilang mau langsung pulang segera setelah ayahnya bangun?" Tanya Kazuya.

"Ya," Shintarou meletakkan sepatunya di rak sepatu dan mengambil Seijuurou dari Taiga agar pemuda itu bisa melepaskan sepatunya. "Seijuurou bilang dia mau memberikan kesempatan untuk ayahnya menenangkan diri, dia takut kejadian ini kembali terulang." Jelasnya.

"Shigehiro-kun?"

"Ugh.." Taiga memijit pelipisnya, sekilas saat Shiina menyebutkan nama Shigehiro, entah kenapa kepalanya terasa sakit.

"Taiga-kun, daijobu?" Tanya Shiina khawatir.

"Ah," jawabnya.

"Shige pulang ke rumahnya." Jawab Shintarou.

"Trus kalian dari mana? Kenapa baru pulang?" Tanya Kazuya.

"Kami dari makam Satsuki-san." Jawab Shintarou.

"Siapa?"

"Ibunya Sei." Jawab Taiga.

"Sou ka? Kalian makanlah terlebih dahulu, Hahaoya akan menggendongnya ke kamar."

"Baik."

.

.

.

TBC.


Preview.

"Cih, kalian berisik banget pagi-pagi."

"Tak kusangka hari ini tiba juga…"

"Aaah, seandainya ayahku masih hidup, dia pasti akan bangga sekali padaku…"

"Kami menang, kami memenangkan Inter High! Aku berhasil mencetak buzzer beater pertamaku, Tou-san!"

"lebih baik aku tak punya anak daripada punya anak tak tau diri sepertimu."

"Maafkan Tou-san..."


Hehehe, halo ^^ /dilempar tomat.

kelamaan update ya? maaf deh, kemarin sibuk dengan tugas dan fanfic lainnya, jadi aku lupa kalau fanfik ini belom diupdate :P ditambah lagi sekarang Fei lagi ngungsi(?) di rumah saudara di jakarta, dan wifi disini ga sekuat di rumah fei, jadinya gagal terus deh :3 /dihajar readers

Terima kasih untuk Renka Sukina, ShizukiArista, kojima Miharu, sorahime345, dan Ryuu-chan yang sudah me-review cerita absurd ini :D

Akhir kata, RnR please… ^^