yeee apdet ! ini kayaknya bau2 mau ending, but author juga ndak tau, sebuntunya ide2 yg keluar dari pikiran author aja lhah ya hehe

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

HAPPY READING

Warning typo masih dimana mana !

.

.

.

.

.

.

.

.

"mari bersulang untuk kelulusan dokter Haruno"

Begitu Tenten mengucapkan kalimat tersebut, orang-orang yang tengah duduk mengelilingi meja yang penuh dengan minuman dan makanan tersebut mengangkat gelas masing-masing untuk bersulang.

"sekali lagi selamat ya dokter"

Seseorang yang tengah menjadi bintang utamanya hanya bisa tersenyum tipis sambil memandangi teman-teman satu pekerjaannya menikmati acara makan sebagai perayaan kelulusan. "ya, terima kasih untuk semuanya, silahkan menikmati hidangan yang sudah ada di depan kalian" ucap Sakura.

Setelah Sakura selesai mengucapkannya, mereka kembali berkutat dengan makanan yang ada di depan mereka. Di tengah-tengah kecerian dan kegembiraan yang penuh tawa tersebut, Sakura nampaknya tidak bisa menyembunyikan kesedihan yang dia alami saat ini, terlihat jelas dari wajahnya yang tampak muram dengan pandangan mata kosong. Entah kenapa Sakura tidak bisa menikmati acaranya sendiri.

"kau baik-baik saja, Sakura ?" nampaknya Sasori menyadari kondisi yang dialami Sakura.

Merasa diajak bicara, Sakura kemudian menolehkan kesamping menatap sejenak Sasori yang sedang menatap kearahnya. "ya, aku baik-baik saja. Aku permisi ke toilet sebentar" Sakura kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah toilet.

Setengah jam kemudian, Sakura tidak kunjung kembali dari toliet, sehingga Tenten kemudian ikut menyadarinya. "dimana dokter Sakura ?"

"dia sedang ke toilet"

"tapi sudah setengah jam tidak kembali juga"

Mendengar ucapan dari Tenten membuat Sasori kemudian ikut merasa cemas. Akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Sakura.

"Halo, Sakura. Kau baik-baik saja ?" Raut wajah Sasori menunjukkan kecemasan.

"Kenapa kau belum juga kembali dari toilet, yang lain jadi ikut mencemaskanmu ?"

"maafkan aku Sasori, aku sedikit kurang enak badan. Jadi aku memutuskan untuk kembali ke rumah saja. Maaf aku lupa mengabari kalian, tapi tenang saja, semua makanan sudah aku bayar. Kalian teruskan saja menikmati hidanganya. Terima kasih sudah datang di wisudaku. Tolong kau sampaikan pada mereka ya Sasori" ucap Sakura sebelum memutuskan sambungan ponselnya.

"Sakura ?"

"ada apa dokter ?"

"Sakura pulang, dia bilang sedang kurang sehat, tapi tenanglah kalian lanjutkan saja makannya sampai selesai. Aku akan menyusulnya"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Di tempat lain, tepatnya di salah satu gedung pencakar langit yang ada di Jepang, seseorang yang masih saja duduk di depan layar komputer padahal matahari sudah menghilang di barat sana tiga jam yang lalu. Orang tersebut tampaknya sangat serius sekali dengan pekerjaan yang ada dihadapanya. Sepertinya dia sedang dalam gairah kerja yang begitu menggebu-gebu.

Dia sempat melirik sekilas ke arah sofa yang disana tengah duduk seorang wanita yang tampaknya tidak jauh beda dengan kondisinya sekarang, yang sedang berhadapan dengan layar laptopnya. "maaf membuatmu ikut melembur, Ino"

"tidak apa-apa tuan, dengan begini tugas kita menjadi lebih cepat selesai. Saya jadi punya waktu banyak untuk menemani Sai di rumah sakit besoknya" ucap Ino tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop yang ada didepanya. "oh iya, bukankah tadi siang acara wisuda Nona Sakura ?"

"hn"

"wah saya sebenarnya ingin datang ke acara wisuda tersebut, tapi tadi siang saya sibuk atur jadwal anda yang cukup padat" Sasuke bisa mendengar suara hembusan nafas Ino saat menghela nafas. Sepertinya Ino cukup menyesal. "apa anda sempat untuk datang kesana tuan Sasuke ?"

"hn"

"bukankah seharusnya anda merayakan kelulusan nona Sakura saat ini, bukan malah memutuskan untuk lembur kerja tuan ?" pertanyaan Ino cukup menyita perhatian Sasuke dari layar komputernya dan menatap ke arah Ino.

"semua berjalan tidak sesuai rencana, Ino"

"maksud Tuan Sasuke ?" Ino menampakkan raut wajah bingung. "apakah anda sedang dalam masalah, tuan ?"

Drtt drtttt drtt…..

"halo" deringan ponsel Ino menginterupsi percakapan mereka. "apa, kalau begitu aku akan segera kesana !" ucap Ino begitu mendapatkan informasi melalui ponselnya.

"ada apa ?" percakapan Ino dengan seseorang melalui ponselnya ternyata cukup membuat Sasuke penasaran. "apakah itu mengenai Sai ?"

"bukan tuan, tapi Nona Sakura"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sekitar empat puluh menit Sasuke dan Ino telah sampai di depan sebuah café. "jadi ini café milik Sai ?"

"benar, tuan. Seratus meter didepan sana sudah rumah Nona Sakura" jawab Ino.

"sebaiknya kita segera masuk. Mari, tuan" setelah mengatakan hal tersebut, Ino beranjak keluar dari mobil atasannya, diikuti oleh Sasuke.

"dimana dia ?" tanya Ino kepada salah satu pegawai café milik Sai.

"disana Nyonya, dia sudah habis tujuh botol sake. Sepertinya sudah tidak sadarkan diri"

Pandangan mata Ino dan Sasuke kemudian mengarah ke salah satu tempat duduk dan meja yang ada di pojokan dekat jendela. Terlihat dari jauh seseorang tengah duduk namun dengan kepala yang tergeletak di meja ditemani dengan botol-botol sake yang sudah kosong.

Sasuke dan Ino kemudian menghampiri sosok berambut merah muda tersebut. "Nona Sakura, bangun" Ino sedikit menepuk-nepuk bahu Sakura untuk memastikan kesadaran Sakura. "kenapa anda sendirian, dimana teman-teman anda yang lain ?"

"sejak dari awal datang dia sudah sendirian" ucap salah satu pelayan di café tersebut.

"biarkan aku yang bawa pulang dia" ucap Sasuke yang kemudian ikut duduk di depan Sakura.

"baiklah, tuan. Apa anda butuh sesuatu ?" tanya Ino.

"tidak perlu"

"kalau begitu saya buatkan teh sebentar" Ino kemudian pergi meninggalkan Sasuke dan Sakura untuk membawakan minuman atasannya tersebut.

Pandangan mata Sasuke tidak pernah lepas dari sosok merah muda yang ada didepannya. Tatapan mata yang orang lain tidak pernah bisa membaca dan mengerti apa yang ada di hatinya. Namun kemudian dia merubah posisi duduk menjadi disamping Sakura, sehingga dia bisa melihat wajah Sakura lebih jelas. "kau memintaku untuk menjauh darimu, tapi kau sendiri kondisinya seperti ini. Sesakit itukah rasanya ?" ucap Sasuke pelan dengan salah satu tangannya membelai rambut merah muda milik sahabatnya tersebut.

"ini tehnya, tuan. Silahkan diminum terlebih dahulu sebelum mengantar nona Sakura pulang" Ino datang dengan membawa nampan berisi secangkit teh.

"terima kasih"

"sepertinya anda dan Nona Sakura maupun Nona Karin sedang dalam masalah" ucap Ino. "saya hanya bisa mendoakan semoga masalahnya cepat selesai, tuan" ucap Ino sebelum menundukkan kepala untuk pamit.

Beberapa menit kemudian, Ino melihat Sasuke telah beranjak dari duduknya membawa Sakura di punggungnya. "tuan sudah mau mengantar nona Sakura pulang ?"

"hn"

"kalau begitu biarkan saya bantu untuk membuka pintu mobilnya" Ino kemudian bersiap untuk keluar.

"tidak perlu, aku akan jalan kaki saja. Tolong titip mobilku disini"

"ja-jalan kaki, tuan ?" tanya Ino dengan raut wajah penuh tanda tanya.

"hn"

"kalau begitu, hati-hati di jalan, tuan" Sasuke kemudian berjalan keluar dari café dengan menggendong Sakura di belakang punggungnya.

Jalanan di sekitar rumah Sakura memang biasa tampak sepi, Sasuke sudah terbiasa dengan suasana lingkungan sahabatnya tersebut. "akan lebih mudah jika kau marah dan memukulku. Kau justru menyerah begitu saja"

"apa kau benci padaku Sakura ?" Sasuke bertanya kepada Sakura walaupun dia tau bahwa sahabatnya tersebut tidak akan menjawabnya.

"aku juga membenci diriku sendiri, Sakura. Sikapku selama ini akhirnya hanya bisa menyakiti dua perempuan penting dihidupku"

"aku tidak bisa meninggalkannya, tapi aku juga tidak siap untuk kehilanganmu" langkah Sasuke tiba-tiba berhenti dan menggunakan salah satu tangannya sebentar untuk mengusap air matanya yang tiba-tiba keluar tanpa seizinya. Kemudian dia kembali melanjutkan langkahnya.

Tanpa Sasuke sadari, kesadaran Sakura sejak awal masih ada, hanya saja pengaruh alkohol membuatnya tidak mampu untuk mengangkat kepalanya yang terasa begitu berat bahkan untuk membuka kedua matanya. Sehingga Sakura masih bisa mendengar apa yang Sasuke bicarakan, hanya saja dia tidak bisa menjawabnya. Air mata yang ikut keluar dari kedua matanya yang tengah terpejam mungkin menjadi salah satu jawabanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ting tong..

Akhirnya Sasuke sampai di depan pintu rumah Sakura, begitu selesai memencet bel, dia membuka kenop pintu dan masuk kedalam rumah Sakura. Dia sudah terlalu terbiasa ada di rumah ini, sehingga menganggapnya seperti rumah sendiri. Sasuke telah masuk kedalam rumah dan memutuskan untuk mencari bibi Mebuki dan menempatkan Sakura di tempat tidurnya.

Namun langkahnya kembali terhenti di depan meja makan dan tatapannya mengarah ke arah dapur begitu melihat tiga sosok tengah memperhatikannya dengan raut wajah terkejut.

"ya ampun Sakura, apa yang terjadi ?" Mebuki yang pertama menghampiri Sasuke dan kemudian menyuruh Sasuke untuk membawa Sakura ke kamarnya yang kemudian diikuti Karin dan Sasori yang sedari tadi diam belum mengatakan sepatah katapun.

Begitu Sakura telah dibaringkan, Sasuke dan Karin keluar dari kamar untuk memberi ruang Sasori memeriksa kondisi Sakura dan Mebuki yang akan mengganti pakaian Sakura. Sasuke dan Karin kemudian turun menuju dapur.

"apa yang terjadi dengan Sakura ?" Karin membawakan segelas air kepada Sasuke.

"dia mabuk dan tak sadarkan diri di café milik Sai, kebetulan aku sedang lembur bersama Ino saat Ino diberi kabar oleh pegawai café tentang kondisi Sakura"

"kenapa kau juga ada disini ?" tanya Sasuke.

"aku pernah punya janji dengan Sakura untuk datang di wisudanya, tapi siang tadi jadwalku sangat padat dan aku tidak bisa meninggalkannya, jadi sebagai gantinya sore tadi aku datang kesini, aku ingin memasakkan sesuatu untuk makan malam hari ini" jawab Karin. Sasuke kemudian mengedarkan pandangannya di sekeliling dapur yang begitu banyak bahan makanan.

"aku juga tahu kalau kau datang ke wisuda Sakura"

"Sasuke" Sasuke menoleh kearah asal suara yang memanggilnya. " terima kasih sudah membawa Sakura dengan selamat ya. Tidak biasanya Sakura mabuk seperti itu"

"iya, bibi"

"kalau begitu kamu sekalian ikut makan malam disini ya ?" ucap Mebuki. "kalau begitu bibi dan Karin akan siapkan terlebih dahulu mejannya ya. Ayo, Karin" Mebuki kemudian berjalan menuju dapur bersama Karin.

Sedangkan Sasuke dan Sasori tengah duduk di sofa depan televisi. "bagaimana Sakura bisa seperti itu ?" Sasori memulai percakapan dengan Sasuke.

"kau sendiri kenapa ada disini ?" tanya balik Sasuke kepada Sasori.

"saat acara makan-makan tadi dia pulang begitu saja tanpa berpamitan dengan teman-teman yang lain, dia bilang sedang tidak enak badan" jawab Sasori. Terlihat dari wajah Sasuke bahwa dia tidak ada keinginan untuk memberi tanggapan.

"aku sudah tau apa yang terjadi antara kalian bertiga" kali ini kalimat yang keluar dari mulut Sasori berhasil memancing perhatian Sasuke. "kapan kau akan memberikan Sakura padaku ?"

"sudah aku bilang jangan urusi urusan kami bertiga" Sasuke menatap tajam Sasori yang duduk di seberangnya.

"aku tidak akan tinggal diam begitu saja. Melihat kalian hanya akan menyakiti Sakura. Dan tanpa seizin kau pun mulai saat ini aku akan selalu disamping Sakura"

"kau benar-benar membuatku ingin menghajarmu kembali. Kau tidak menyimak omonganku dulu" ucap Sasuke pelan, suara Sasuke hanya bisa didengar oleh Sasori.

Sasori juga tengah menatap tajam Sasuke.

"aku kasihan padamu, Sasuke" setelah mengucapkan kaliamat tersebut Sasori kemudian beranjak dari tempat duduknya untuk mendekati meja makan.

BUGH !

Namun seseorang yang ada dibelakangnya menghentikan langkahnya dan membuatnya mendapat pukulan diwajahnya untuk kedua kalianya begitu menoleh kebelakang. Sontak Sasori kembali tersungkur di lantai. Kejadian tersebut kemudian ikut menyita perhatian Karin dan Mebuki begitu melihat Sasuke tiba-tiba memukul kembali Sasori yang sudah ada dibawahnya. Untuk kali ini Sasori memberika perlawanan dengan balas memukul Sasuke, yang mau tidak mau membuat Sasuke tersungkur kebelakang dengan luka di wajah yang hampir sama.

"aku tidak butuh belas kasihan darimu, brengsek !" Sasuke kembali bangun untuk membalas Sasori. Namun terhenti ketika Karin dan Mebuki sudah ada ditengah-tengah mereka untuk memisahkan Sasuke dan Sasori.

"apa yang kalian lakukan hah !?" Karin terlihat emosi ketika melihat kejadian di depan matanya tadi.

"anak-anak ini kenapa kalian seperti ini ?" Mebuki berusaha membantu Sasori bangun, sedangkan Karin membantu Sasuke.

"ada apa Sasuke, cepat katakan pada kami !" perintah Karin.

Namun sepertinya kedua pria ini hanya memilih untuk diam, namun kedua mata dari masing-masing pria tersebut masih tampak jelas menggambarkan kemarahan yang menggebu-gebu. Sasuke akhirnya hanya menarik lengannya paksa dari genggaman Karin dan memutuskan untuk pergi keluar dari rumah Sakura. Karin kemudian ikut mengejar Sasuke yang sudah menghilang dari balik pintu depan.

"maafkan kami bi, maafkan saya. Saya benar-benar sangat menyesal karena tidak bisa mengontrol emosi saya dan membuat kekacauan di rumah bibi" Sasori menundukkan kepalanya tanda menyesal.

"sebenarnya kalian ada masalah apa ?" tanya Mebuki, namun dilihat dari bahasa tubuhnya, Sasori sepertinya ingin sekali menghindar dari pertanyaan tersebut. "ya sudah kalau begitu, ayo kita makan malam dulu saja" ajak Mebuki.

"maaf bibi, sepertinya saya pamit saja. Maafkan saya yang tidak bisa ikut makan malam hari ini"

Mebuki kemudian hanya bisa menghela nafas. "baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan ya Sasori, dan segera istirahat kalau sudah sampai rumah" ucap Mebuki. "tap sebelumnya, sini bibi obati dulu lukamu itu"

"tidak usah bibi, saya langsung pamit saja. Salamkan kepada Sakura ya bibi" Sasori kemudian melangkah pergi menuju pintu depan rumah dan menghilang dibalik pintu tersebut.

"teman-temanmu yang lain sepertinya juga ikut menderita, Sakura" ucap Mebuki lirih pada dirinya sendiri.

Lamunan Mebuki tersadar ketika dering ponselnya berbunyi. "Halo"

.

.

.

.

.

.

.

.

"Halo bibi, ini Karin. Maafkan kelakuan Sasuke tadi ya bi. Maaf, sepertinya Karin belum bisa ikut makan malam hari ini. Karin akan menemani dulu"

"iya sayang, tidak apa-apa. Kau dan Sasuke hati-hati ya dijalan. Salam untuk Sasuke dan sebaiknya cepat kamu obati lukanya" ucap Mebuki lewat ponselnya.

"iya bi, maafkan kami ya. Kalau begitu salam juga untuk Sakura" setelah berpamitan, Karin kemudian memutuskan sambungannya.

Tok tok

Suara berasal dari seseorang yang baru saja mengetuk kaca mobil, kemudian Karin menurunkan kaca jendelanya. "ini obatnya Nona" Ino terlihat menyodorkan kapas dan obat merah kepada Karin. "anda baik-baik saja tuan Sasuke ?" Ino tampak khawatir begitu dia melihat kondisi antasannya didalam mobil terlihat memar menghiasi wajah bak porselen tersebut.

"hn" Sasuke menatap Ino sekilas dan kemudian kembali menatap kearah depan.

"kenapa kalian tidak masuk sekalian ?"

"tidak Ino, terima kasih. Nanti kami akan langsung pulang saja"

"baiklah, hati-hati dijalan nona Karin dan tuan" Ino kemudian kembali melangkah masuk kedalam café milik suaminya tersebut.

Didalam mobil, Karintampak berusaha mengobati luka memar Sasuke walaupun kadang mendapatkan penolakan dari Sasuke karena merasa sangat perih. Namun Karin tetap tidak menyerah.

"sampai sekarang aku masih tidak tau apa yang terjadi dengan dirimu" Karin memcoba membuka percakapan tanpa menghentikan usahanya untuk mengobati Sasuke.

"aku memang salah, Sasuke. Aku tidak pernah ada untukmu, karena itu mulai saat ini aku akan selalu disampingmu. Aku tidak akan menjadi artis, aku akan setia bersamamu, aku mungkin akan mengurangi sedikit demi sedikit jadwal pemotretan, supaya aku selalu ada untukmu. Jadi, ceritakan padaku, Sasuke" Karin menatap Sasuke sangat dalam dari arah samping.

"tidak, Karin. Jangan lakukan itu" Sasuke kemudian menatap ke arah Karin.

"kenapa ?" nada bicara Karin sangat terlihat jelas bahwa dirinya cukup terkejut mendengar Sasuke.

"jangan pedulikan ucapanku yang dulu. Tetaplah menjadi Karin dengan segala apa yang telah kau raih saat ini. Aku tidak ingin menjadi penghalang bagimu untuk meraih impianmu" kalimat yang terlontar dari Sasuke kembali mengejutkan Karin.

"tapi-"

"aku tahu ini impianmu sejak dulu" ucap Sasuke memotong perkataan Karin.

Mendengar hal tersebut membuat Karin meneteskan air matanya, bahkan kini menjadi tangisan. Karin menangis dihadapan Sasuke. "aku tidak tau, kenapa aku merasa kau berubah akhir-akhir ini, itu membuatku menjadi khawatir padamu. Aku sangat takut sekali kehilanganmu, Sasuke"

Melihat Karin menangis, Sasuke kemudian membawanya kepelukannya. "berjanjilah untuk tetap disampingku"

"hn"

.

.

.

.

.

.

.

.

Sudah lebih dari sepekan semenjak kejadian yang terjadi di rumah Sakura. Seakan semua kembali normal seperti biasa, hubungan Sasuke dan Karin tetap berlanjut seperti biasa. Namun semenjak itu sudah tidak ada lagi notifikasi-notifikasi yang masuk melalui grub di sosial media, walaupun hanya berisi tiga manusia saja, namun grub itu tidak pernah sepi, dan sekarang telah berbalik 180 derajat.

Seseorang yang saat ini terlihat tengah duduk di balik meja kerjanya tampak sedang melamun memikirkan sesuatu sambil memainkan ponsel yang ada ditanganya, dia juga berulang kali mengecek ponselnya. Benar-benar dia merasa sangat kesepian. Dia merasa belum siap menerima semua perubahan yang terjadi di kehidupannya akhir-akhir ini. Sepekan dia lalui sungguh sangat berat, waktu berjalan begitu lambat.

Dia tidak memungkiri bahwa dia sangat merindukan sosok berambut merah muda yang sepekan ini tidak pernah lagi muncul dihadapanya, tidak ada kabar apapun yang dia dapatkan semenjak terakhir kali dia ada di rumah Sakura. Sepertinya Sakura benar-benar melakukan apa yang dia katakan waktu itu. Hasrat untuk menanyakan kabar melalui ponsel sepekan ini menjadi sebuah ujian berat bagi Sasuke. Didalam lubuk hatinya dia sangat menyesal. "Sakura" ucap Sasuke lirih. Akhirnya Sasuke memutuskan untuk bangkit dari tempat duduknya dan pergi dari ruanganya.

Sekitar satu jam kemudian, tampak mobil mewah terparkir di pinggir sebuah jalan yang sudah sangat dia kenali. Dari tempat mobil tersebut berada, beberapa meter di depan adalah sebuah rumah yang pemiliknya saat ini sangat dia rindukan. Tujuan dia ada disitu adalah menunggu sang pemilik rumah yang begitu dia rindukan tersebut pulang, sehingga dia bisa melihat wajahnya. Tidak ada keinginan lebih dari itu, karena semua itu sudah menjadi kemauan dari Sakura semenjak pertemuannya dia kantornya terakhir kali. Sasuke berharap walau hanya dengan melihatnya saja, rasa rindunya bisa sedikit berkurang.

Matahari telah terbenam dua jam yang lalu, hari sudah berganti menjadi gelap, dan seseorang dengan mobil mewahnya masih dengan setia menunggu seseorang disana. Namun semakin lama dia menunggu, membuatnya semakin muncul tanda tanya besar dalam benaknya. Kenapa sedari tadi beberapa orang yang tidak dia kenal keluar masuk dari pintu rumah seseorang yang saat ini dia tunggu-tunggu. Tidak betah berlama-lama disana dengan rasa penasaran yang sangat berat, akhirnya Sasuke memutuskan keluar dan menghampiri rumah itu. Terbesit rasa takut dan khawatir yang bercampur menjadi satu.

Tok tok

Seseorang tengah berusaha membuka pintu rumah itu. Sasuke kemudian hanya bisa terkejut tanpa bisa berkata-kata. Saat ini ada seseorang yang tidak dikenalnya tengah menatapnya setelah pintu rumah tersebut terbuka. "kau siapa ?"

"ma-maaf, seharusnya saya yang bertanya seperti itu" jawab wanita yang ada dihadapannya tersebut. Sangat jelas sekali raut wajahnya yang cukup terkejut mendengan perkataan Sasuke.

"dimana Sakura ?"

"Sakura ?" raut wajah wanita tersebut sangat tampak kebingungan. "tidak ada yang bernama Sakura di rumah ini"

"apa maksudmu hah ?" tiba-tiba nada suara Sasuke meninggi disertai dengan deru nafas yang tidak beraturan. "ini adalah rumah Sakura !"

"apa maksudmu itu penghuni rumah yang sebelumnya ?" tampaknya wanita tersebut sedikit bisa mengkontrol diri setelah sebelumnya sedikit merasa ketakutan dengan perubahan Sasuke. "penghuni rumah sebelumnya sudah pergi dari awal saya datang, jadi saya belum pernah bertemu dengannya" jawab wanita tersebut.

Sasuke hanya bisa terdiam dengan tatapan mata kosong, nafasnya terlihat memburu, dia mencoba menyandarkan tubuhnya yang tiba-tiba merasa tidak kuat untuk berdiri berdiri. "su-sudah berapa lama ?" tanya Sasuke sangat lirih, lebih kearah bisikan. Intonasi suaranya pun masih tetap sama seperti tadi.

"saya sudah empat mingguan ada disini sepertinya, tuan"

Kini kepala Sasuke menunduk dan menatap ke arah lantai, dan nafasnya masih terlihat memburu. "an-anda baik-baik saja ?" wanita tersebut terlihat khawatir.

Ekspresi wajah Sasuke masih tampak syok, merasa dipanggil, Sasuke mengangkat kepalanya dan kemudian mengusap kedua matanya secara kasar menggunakan lengan kanannya. Kemudian tanpa berpamitan, dia melangkah keluar meninggalkan rumah tersebut.

"Sakura"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC