"Taehyung mau punya adik, dong."
Ungkapan polos setengah memohon itu begitu mencengangkan hingga Namjoon tersedak saat meminum kopi hangatnya. Dia terbatuk kencang oleh ampas kopi yang tersangkut di kerongkongannya hingga hidungnya gatal. Taehyung memiringkan kepalanya tidak mengerti, meski ia menepuk punggung Namjoon pelan dan menyuguhkan air minum untuknya. Diliriknya Mama yang baru datang membawa dua lembar roti panggang, duduk tenang dan mengoles selai kacang dan menatap kedua pria dihadapannya dengan mata yang sendu. "Kenapa Taetae tiba-tiba minta adik, hm?"
"Sungjae punya adik yang lucu, Mama." Taehyung menjawab dengan mata yang berbinar; benaknya melayang pada ingatan dua hari lalu saat ia dan teman-teman kelas melihat adik Sungjae yang baru lahir di rumahnya. Taehyung sering melihat bayi tapi ketika menatap Sungjae yang menjaga dan begitu menyayangi adik bayinya, dia merasa ingin punya satu. "Aku juga mau yang seperti itu. Pasti menyenangkan punya adik yang harus ku jaga. Lagipula Papa sering pulang larut dan jarang main dengan Taetae, Mama juga pergi-pergi terus..." ia merengut, "Aku 'kan kesepian."
"Hei, jangan begitu." Namjoon melarikan jemari panjangnya mengusak rambut Taehyung yang tebal dan wangi. Dia tersenyum lebar menatap anaknya yang tengah mendongak memandanginya begitu polos, sejenak ia menghela begitu pelan usai melirik istrinya yang masih menatap ke arah lain dengan sendu. Ia dibuat bingung dengan situasi seperti ini. Istrinya benar-benar tidak mau membantunya bicara, jadi Namjoon harus bersua, "Meskipun begitu, kami tetap memikirkan Taehyungie setiap saat. Iya, 'kan?" lantas ia mengerling pada istrinya yang kemudian menoleh kaget dan tersenyum paksa, "Papa pulang larut karena banyaaaak sekali pekerjaan yang harus dilakukan. Dan Mama sedang mengurus toko, 'kan ini mimpi Mama untuk punya toko kue. Kalau Taetae ikut, nanti sekolahnya gimana, dong?"
Taehyung mengembungkan pipinya, "Ya tapi aku kan jadi harus ke rumah Jimin terus."
"Bukankah Jimin anak yang baik?" Namjoon mengusap pipi Taehyung sekilas dan kembali meminum kopinya yang nyaris tersisa separuh karena tercecer di meja. Setia mendengarkan Taehyung yang bercerita banyak hal untuk merespon pertanyaan-pertanyaan Namjoon. Betapa dia malas bertemu Jimin setiap hari meski rasanya menyenangkan saja karena dia bisa makan enak gratis. Namjoon tertawa perhalan mencairkan suasana. Terus bersenda gurau dengan Taehyung sebagai upaya memecah sunyi yang canggung antara dirinya dan Istrinya sendiri. Namjoon sesekali memerhatikan istrinya yang memainkan jemarinya gelisah, ada rasa canggung dalam dirinya untuk menegur atau sekadar berbasa-basi sebagaimana biasa. Ia bisa melihat ada rasa gelisah dalam bahasa tubuh istrinya; dimana ia berkata 'aku ingin pergi' terus menerus hingga Namjoon mengalah. Ia bangkit setelah Taehyung merengek masih ingin dipeluk olehnya. "Papa harus berangkat kerja, Taehyungie."
"Tapi janji buatkan aku adik,"
"Taehyung –"
"Buatkan aku adik!" Taehyung merengek dan mengacaukan sarapannya sendiri. Membuat Namjoon dan Istrinya tidak tega melihat anaknya menangis tidak jelas seperti itu. Namjoon menghela panjang sekali, kemudian melirik istrinya yang juga menatapnya dengan kecanggungan yang mencekik kemudian istrinya memutus tautan mata itu dan menghampiri Taehyung, memberi satu pelukan yang gemetar dan sayang yang cukup menohok untuk dilihat Namjoon. "Iya, sudah ya. Nanti Mama dan Papa akan buatkan Taehyungie adik yang lucu dan manis. Sudah dong, nangisnya. Taehyung 'kan cowok kuat, oke? Sudah, peraturan pertama menjadi Kakak yang baik adalah tidak boleh cengeng."
Namjoon tercekat, suaranya tertahan.
Ia masih berdiri di ambang pintu, menyaksikan istrinya sibuk menyudahi tangis Taehyung dengan janji-janji manisnya yang Namjoon tidak yakin apakah wanita itu sanggup melakukannya. Dia masih mengamati bagaimana wanitanya begitu telaten membersihkan wajah Taehyung yang belepotan selai dan juga merapikan seragam sekolahnya, juga membujuk Taehyung untuk minum susu dengan tenang sementara dirinya melangkah mendekati Namjoon yang masih terpaku. Dia dibuat bungkam ketika istrinya masih bisa tersenyum dan merapikan dasinya yang mencuat berantakan, juga menepak jas mengilatnya yang berdebu tipis. Lantas membuka pintu dan tetap setia menemani langkah Namjoon yang perlahan menuju mobilnya. Wanita itu masih tersenyum, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi dan Namjoon dibuat muak oleh itu.
"Hana –"
"Sudahlah," dia tersenyum lagi, meski matanya nampak mendung. Tangan kurusnya mendorong tubuh Namjoon secara lembut untuk masuk ke dalam mobil. Ia bahkan menutup pintu untuknya, Namjoon dibuat bungkam lagi. Separuh hatinya tidak menerima perlakuan barusan. Tapi ia tidak bisa melukai wanita itu lebih lama lagi, jadi dia diam saja ketika Hana menghela akan bicara lagi. "Kau tidak usah pikirkan apa pun. Aku baik-baik saja, masalah Taehyung... biar aku yang urus."
Jemari Namjoon mecengkeram erat kemudi, "Aku bisa memberikannya adik."
"Jangan konyol, Namjoon." Dahi Hana berkerut serius, namun cepat ia tersenyum paksa. "Sudah cukup omong-kosongnya. Kau sudah sangat terlambat untuk menyambut jabatan Direktur Utama. Jangan buat hari ini menjadi kacau dengan menjadi bos dengan perangai jelek dihadapan karyawan," ia melarikan jemari halusnya untuk mencubit iseng pipi Namjoon, mengelus sejenak tempat dimana lesung pipi Namjoon akan muncul ketika pria itu tersenyum manis kemudian terdiam lagi. Ia menghela dan hendak pergi sebelum Namjoon menahan pergelangan tangannya dan menatapnya lebih serius. "Namjoon –"
"Yang terakhir,"
Hana terdiam, menunggu lanjutan ucapan Namjoon. "Kumohon... mungkin, ini adalah yang terakhir kita menjadi begitu dekat. Aku didalam dirimu, kita yang bersatu, cukup satu malam dimana kau sedang subur dan aku akan membuat adik untuk Taehyung," matanya menggelap, "Katakan aku terlalu bodoh dan pengecut, tapi, bisakah kita mengakhiri semua ini dengan baik? Kita akhiri semua ini dengan mengabulkan permintaan Taehyung. Aku... takut, jika dia benci padaku. Aku takut dia kesepian, jika adik bisa membuatnya senang setelah aku melukainya begitu dalam... maka aku akan memberikannya. Kim Hana, tolong bantu aku memberikan hadiah untuk Taehyung sebelum aku melukainya sampai mungkin ia akan membenciku seumur hidup."
"Namjoon –" Hana menggeleng lemah, " –bukan begini caramu pergi."
"Maafkan aku, Hana.Aku ini... brengsek."
.
My Mama
..
Kim Taehyung
Jeon Jungkook –role as Kim Jungkook
[Vkook both KookV as brothership]
[MinV]
..
Who the hell take my breath away?
..
"Astaga, Taehyung!"
Yang diserukan namanya tersadar, ketika Soonyoung memekik begitu kuat dan menghampirinya dengan tergopoh. Bertanya banyak hal dan berulang-ulang. Dia terkaget dalam diam mendapati dirinya terluka oleh pecahan piring. Jemarinya berdarah hebat dan bodohnya Taehyung bahkan hanya bisa termenung menatapi jari-jarinya yang terus menganga mengalirkan cairan pekat itu. Sedangkan Soonyoung heboh mengambil kotak P3K yang disimpan di atas lemari, menyuruh Seungkwan untuk membereskan kekacauan yang dibuat Taehyung dan segera membawa pemuda melamun itu ke tempat yang aman. Keadaan dapur jadi sedikit heboh, dan itu ulah berisik Soonyoung yang terus berteriak seperti nahkoda yang dihadapkan pada ombak besar. "Taehyung, astaga, apa sih yang kau pikirkan?"
"A –ah! Aduh," Taehyung berjengit dan meringis merasakan perih pada telunjuknya yang diberikan olesan idoin povidon oleh Soonyoung dengan begitu telatennya. Pemuda itu sangat terampil merawat luka, meski mulutnya terus bergumam dan mengomel pada Taehyung yang seharian ini melamun dan membuat kekacauan di dapur. Taehyung hanya diam memerhatikan bagaimana Soonyoung menempelkan plester bermotif singa pada tiga jari kanan dan empat jari kirinya. Ia tersenyum simpul saat Soonyoung mendesah lemas dan duduk di sampingnya, "Makasih. Dan maaf sudah merepotkanmu, Soonyoung-ssi. Ya, kurasa aku sedang bodoh sekali hari ini. Dapur menjadi kacau seharian ini, maafkan aku."
"Ini karena Jimin?"
Taehyung tidak menjawab, lidahnya kelu. "Aku tahu, Jimin memang bersikap aneh seharian ini. Kalian berdua jelas ada masalah, tapi aku tidak tahu apa itu." Soonyoung menghela, membawa tubuh Taehyung ke dalam rangkulannya yang hangat dan bersahabat, menepuk bahu kurus Taehyung dengan gerakan lembut dan tersenyum simpul. "Aku tidak perlu tahu masalah apa yang kalian punya, tapi cobalah berbaikan. Memang sih, berantem itu akan menjadi bumbu pelengkap dalam pacaran. Tapi jangan berlarut-larut, oke? Kalian harus bicara dan selesaikan masalah ini."
"Tidak semudah yang kau bayangkan, Soonyoung-ssi."
"Hm? Kenapa? Jimin itu terpesona olehmu, dia tidak punya alasan untuk marah berhari-hari padamu. Kau tahu? Meskipun dia sebenarnya cukup galak, Jimin adalah orang yang berprinsip dan tidak suka kalah, dia akan mempertahankan apa yang dia miliki; termasuk kau, Taehyung." Soonyoung tersenyum menyemangati Taehyung yang lemas. "Dia menyayangimu dengan sungguh; aku bisa melihat itu dari bola matanya yang selalu jernih dan mendamba tiap kali melihatmu. Dia tidak bisa menolak kehadiranmu barang sedetik, dia tidak akan mampu menghempasmu jika nyatanya kau adalah hidupnya dan objek baginya untuk bernapas."
"Bagaimana kalau dia memang menghempasku?"
Pertanyaan retoris itu membuat Soonyoung terdiam oleh kebingungan. Ia mengamati lamat-lamat ekspresi Taehyung yang serius dan larut dalam duka. Ia belum pernah melihat Taehyung sebegini terluka. Mungkin permasalahannya dengan Jimin benar-benar berat, Soonyoung membatin. Ia juga kedapatan Taehyung meremas jemarinya sendiri dengan gelisah dan berantakan. Soonyoung meringis takut-takut jemarinya semakin terluka, maka ia cepat menggenggam lembut jemari Taehyung yang gemetaran dan dingin. "Jangan konyol, Taehyung. Jimin adalah pacar romantis dan manja. Dia tidak akan bisa hidup semudah itu tanpamu," dia terkekeh ringan mencoba menghibur Taehyung meski usahanya gagal. "Sudah kubilang, Jimin tidak akan sanggup melakukannya. Kau jangan berpikir aneh-aneh, seorang Park Jimin tidak mungkin membuangmu –"
"Nyatanya dia membuangku!"
Suaranya pecah, bersama tangis yang tak kuasa ia bendung lagi. Teriaknya terdengar pilu dan menyayat hati. Soonyoung terbelalak mendengar nada bicara Taehyung yang tebal dan tersiksa. Bahkan pemuda itu sudah mendorong tubuhnya menjauh satu senti, menangis lagi sembari menggigit bibirnya yang mungkin saja akan merobeknya hingga berdarah. Namun, Soonyoung terlampau tercengang dengan pernyataan dari Taehyung yang rasanya begitu mustahil. Tetapi ia tahu, Taehyung terlalu baik untuk berkata bohong. Lalu, apa yang terjadi? "T-Taehyung..."
"Aku ini sampah, hahaha."
"Taehyung, dengar –"
"Aku ini sampah!" kemudian Taehyung tertawa miris, tidak peduli meski ia akan terlihat seperti manusia tidak waras dihadapan Soonyoung. Dia hanya merasa bahwa hidupnya sangat lucu; bagaimana bisa hidupnya sangat konyol –ia terbahak. Menertawakan alur cerita yang menjadi daur kehidupannya selama bertahun-tahun. Sembari menangisi kehidupan yang begitu menyesakkan untuk dijalani, ia memukul kepalanya yang terus berdenyut nyeri, menertawakan hidupnya yang payah. "Tidak berguna! Aku ini tidak berguna, seorang pecundang yang payah dan tidak tahu diri! Ya, itulah aku; Kim Taehyung yang sangat hina melebih jutaan sampah masyarakat –aku hina, aku kotor, aku brengsek." Dia terus meracau sebab Soonyoung hanya diam mendengarkan, "Aku sudah menjadi orang brengsek, sialan, aku ini sudah jadi bajingan untuk Park Jimin. Jika kau berkata Jimin tidak bisa hidup tanpaku, maka itu adalah kesalahan besar. Aku! Aku yang tidak bisa hidup tanpanya, Soonyoung! Aku yang terlalu lemah untuk terus mengandalkannya, terlalu lemah untuk memintanya menopangku, terlalu bodoh untuk terus menyakitinya, terlalu idiot untuk membuatnya pergi dariku; aku ini brengsek..."
Suara Taehyung terdengar sangat mencekik, Soonyoung tidak tahu harus merespon seperti apa selain diam dan mendengarkan. Dia tidak tahu apa yang Taehyung bicarakan padanya tapi dia tidak bisa meninggalkannya begitu saja dalam kondisi seperti ini. Ia dibuat bingung dengan apa yang terjadi diantara Taehyung dan Jimin.
Satu hal yang dia tahu, bahwa luka mereka sudah terlalu besar.
.
.
Setelah lama terdiam, Jimin menghela.
"Cafe akan aku kunci," ia mendekat, suaranya terdengar dingin. "Cepat pulang."
Taehyung terperanjat dalam lamunannya, ia mengerjap banyak-banyak sembari mengucap 'ya' dan terburu membereskan barangnya ke dalam tas. Memakai jaketnya dalam hitungan detik dan mengganti sepatu pantopelnya dengan sneakers. Sesekali ia melirik Jimin yang masih diam menunggunya di ambang pintu. Cafe sudah sepi, semua karyawan sudah pulang dan Taehyung masih terdiam melamun di dapur terlalu lama hingga lupa bahwa Jimin adalah satu-satunya orang yang akan mengunci cafenya. Cepat dia berlari menyusul Jimin yang kalau tidak salah dengar baru saja berdecak dan mendengus. Itu membuat langkah Taehyung berhenti sejenak, jantungnya bertalu-talu; Jimin membencinya. Ia tahu itu. "Buat apa bengong lagi?! Cepat angkat kakimu dari sini, atau kau kubiarkan terkunci di dalam sini!"
"N-Ne, maafkan aku."
Suasana terasa canggung. Taehyung menggigit bibirnya ragu, "Jimin... jariku berdarah tadi."
Lama sekali Jimin menjawab, "Ya. Kau memang manusia ceroboh." Kemudian ia merogoh saku celananya, memilah kunci, dan mengurus pintu cafenya yang sudah ia pasang tanda closed. Taehyung masih terdiam, tidak tahu harus merespon apa lagi. Ini kali pertama ia bertemu Jimin setelah seharian Jimin menjauhinya. Rasanya begitu menyiksa, nyaris saja Taehyung sesak sebab tak menemui Jimin dimana pun ia berada. Dan ketika itu terjadi, ketika Jimin justru ada di hadapannya, Taehyung malah merasa kecil dan ketakutan. Ia takut Jimin benar-benar benci padanya. Sebab meskipun ia sudah berkata dirinya terluka, nyatanya Jimin hanya diam seolah tak peduli. Raut mukanya datar dan dingin, tidak memberikan satu pun respon positif seperti biasa. Ya, Taehyung tidak bisa berharap apa pun.
Bahkan Jimin melangkah pergi meninggalkannya.
"Jimin," Taehyung memanggil dengan nada yang putus asa. Entah apakah itu terdengar atau tidak; suaranya terlalu pecah dan bercampur angin malam. Tapi ketika Jimin justru berhenti, Taehyung pikir setidaknya pemuda itu masih memiliki sebutir kepedulian padanya meski ia tahu itu tidak akan bertahan lebih lama. Cepat atau lambat, Jimin akan benar-benar tidak peduli dan pergi darinya. "Maafkan aku." Tangisnya turun begitu derasnya, meski Jimin tak mungkin melihat itu. "Aku telah melukaimu, maafkan aku, Jimin... Aku benar-benar menyesal dan minta maaf,"
"Setelah apa yang kuberikan padamu –" Jimin mengepal kuat. " –ini yang kau lakukan?!"
Tangisnya lebih kencang, "Maafkan aku."
"Aku tidak mengerti, Taehyung." Suara Jimin ikut melemah, dadanya terasa sesak oleh amarah. Jemarinya masih ia kepal kuat-kuat menahan tangis. Ia masih tidak berani berbalik untuk bertatap dengan Taehyung, terlalu menyakitkan baginya melihat pemuda manis itu menangis. Bahkan mendengar isaknya saja cukup membuatnya nyaris gila oleh rasa sakit. "Kenapa kau lakukan itu? Kenapa kau tega –argh, sialan." Ia terkejut dan mengusap pipinya yang basah oleh airmata dengan gerakan terburu. Ia tidak menyangka dirinya akan menangis, mungkin sakitnya sudah begitu besar hingga ia ingin menangis. Ia benar-benar menangis, dan suara lemah Taehyung hanya memperburuk keadaan. "Aku tahu kau sebegitu tersiksanya, aku tahu kau terluka, si brengsek Jungkook... kenapa –kenapa kau biarkan dia menyentuhmu?! Kenapa kau biarkan dia menjadi bajingan yang menyentuhmu?! Kau tidak tahu aku sangat terluka karenanya, ha? Kim Taehyung, bagian mana dariku yang kurang untukmu?!"
Taehyung menggeleng, "Bukan begitu, Jimin. Aku –"
"Kau memohon, suaramu mendayu, matamu sayu, tubuhmu bergetar dan panas; malam itu aku bertemu dengan sosok Kim Taehyung yang lain. Yang menjadi binal dan memintaku untuk menyetubuhinya, sosok yang tidak pernah aku temui pada Taehyung yang manis dan marah saat aku menciumnya, yang suka mengomel karena aku mencuri satu kecupan, yang memukulku kalau aku memanggilnya Princess. Malam itu aku tidak mengenali siapa Kim Taehyung," Jimin berujar separuh terisak. Ingatannya melayang pada malam dimana segalanya menjadi titik balik kehidupannya. Seketika kepalanya dipenuhi amarah. "Aku berusaha mati-matian menahan diri, sebab aku tidak mau melukaimu lebih jauh, Taehyung. Aku tidak ingin melihatmu terluka, menyentuhmu sama saja menyakitimu. Tapi kau terus memohon padaku hingga aku menjadi buta dan tuli untuk mendengarkan kata hatiku; aku menyentuhmu... Aku menyentuhmu! Aku benar-benar dibuat bodoh untuk menyentuhmu; aku gila!"
Kala Jimin berteriak frustasi, Taehyung sesenggukkan.
Kepalanya didera pusing hebat mendengar setiap untai kata dari bibir Jimin. ia bisa melihat bahu Jimin bergetar dalam tangisnya. Ia merasa berat pada pundaknya; sebab memikul dosa yang begitu besar telah membuat manusia bak malaikat seperti Park Jimin menangis dan terluka. Taehyung merutuki dirinya sendiri dan bersumpah bahwa ia sangat menderita melihat pria itu meraung dalam duka.
"Kau berteriak begitu kencangnya hingga aku benar-benar buta untuk melihat kau sudah sangat terluka, bahkan suaramu hanya membuatku semakin buruk melukaimu dengan semua sentuhan yang kuberikan. Dan aku tidak pernah berpikir itu menyenangkan," Jimin meremas dada kirinya yang semakin sesak. Ada jeda dalam kalimatnya, terlalu sakit jika ia mengingat-ingat malam itu. "Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri, Taehyung. Tidak dengan monster dalam diriku ini, yang menyentuhmu dalam kesempatan seperti itu. Aku yang brengsek, Taehyung –dan aku sangat marah.Aku benci,"
"Aku yang brengsek, Jimin..."
Kesabarannya pupus dan Jimin berbalik, "Ya! Kau brengsek, Taehyung! Kau sudah mempermainkan hatiku yang sudah rapuh ini. Kau membuatku semakin menderita dan sialnya kau terus melakukan itu dengan topeng polosmu itu; bertingkah manis dan baik meski kau terus membuat luka di hatiku tanpa jeda. Tanpa kau beri satu waktu bagiku bernapas," ia mengepal lebih kuat hingga telapaknya perih, "Tidakkah kau berpikir untuk sekali saja menjadi manusia normal dan mendengar kata-kataku? Dengarkan aku; bagilah kisahmu! Ceritakan masalah yang kau punya denganku! Apa aku sebegitu tidak berarti bagimu hingga kau tidak sudi untuk mengatakan apa pun, dan tetap main rahasia-rahasiaan?! Kau sungguh brengsek."
"Maafkan aku, Jimin..."
"Kau terus membuatku gila dengan semua kehidupan menyedihkanmu dan aku terus merasa bersalah padamu, aku terus menyalahkan diriku yang tidak bisa menjagamu dengan benar. Sebagaimana janjiku pada Mamamu; aku tidak bisa melindungimu. Kau membuatku jadi orang brengsek yang tidak tahu apa-apa seperi orang idiot. Kau terus menyembunyikan semuanya dengan baik, sialnya, aku terus melukaimu dengan menjadi diam seolah tidak ada yang terjadi," Jimin mendengus dan tertawa miris. "Aku muak menjadi orang bodoh, Kim Taehyung. Apa kau senang melihatku seperti ini? Kesabaranku sudah menghilang entah kemana dan aku benar-benar tidak tahan lagi; aku muak denganmu, Taehyung. Rasanya aku ingin kau pergi, sejauh-jauhnya, hingga aku benar-benar mati dalam rasa penyesalan."
Kemudian mereka terdiam.
Menyelami pikiran masing-masing dalam suasana yang kacau. Mereka masih menangis, namun terdiam dalam benak yang berbeda. Jimin masih marah dan terus meracau, sedangkan Taehyung sudah nyaris ambruk mendengar semua ucapan Jimin yang begitu memilukan. Ia merasa berdosa, telah membuat Park Jimin menjadi orang lemah yang menangisi makhluk brengsek macam dirinya. Ia telah meruntuhkan kegagahan Jimin, membuatnya terisak oleh luka yang diberinya. Dan Taehyung bersumpah tidak ada yang lebih menyakitkan dibanding melihat Jimin menangis dan terluka.
"A-Aku... akan pergi... Maaf, Jimin."
Dengan berat hati, Taehyung berbalik dan melangkah pergi.
Namun, ia dibuat kaget ketika Jimin menarik lengan kurusnya. Menatap dengan mata yang tajam dan berair, gelap seperti langit malam berkabut, dingin seperti angin, dan kaku seperti kayu. Ia hampir memanggil nama Jimin sebelum empunya nama memberikan sekaleng susu vanilla di genggaman Taehyung dan menjauh. Wajahnya ia alihkan ke jalanan, "Cepat pergi dan jangan buat aku menyesal. Jangan lagi menjadi manusia ceroboh dan merepotkan. Jangan melamun dan minum saja susu itu, kau pasti melewatkan makan malam. Aku tahu, tahu sekali." Kemudian ia berdeham. "Aku pergi."
Taehyung memandangi susu kaleng yang diberikan Jimin dalam diam.
Airmatanya menetes dan membasahi kaleng yang mendingin termakan angin.
Ia dibuat bingung lagi, sebab Jimin masih terlalu baik untuknya yang brengsek. Pemuda itu masih menyimpan kepeduliannya. Masih sempat peduli tentang dirinya yang belum makan malam. Bahkan dia tahu dirinya tidak makan malam. Jadi, bagaimana dia bisa pergi jika Jimin terus menariknya dengan kurang ajar untuk tetap tinggal disisinya, dengan segala ketulusan yang dia punya?
"Maafkan aku –" Taehyung terisak lagi, " –karena mecintaimu dan melukaimu."
Jungkook hampir terlelap ketika suara gaduh dihadapannya mengusiknya.
Sebungkus roti melon tersuguh di mejanya ketika Jungkook bangkit dari posisi telungkupnya. Ia menatap dengan kebingungan pada Jihoon yang duduk di meja Umji; tepat di depannya. Ada susu cokelat dingin di samping roti, nampaknya Jihoon memberikannya. Tapi Jungkook tidak mengerti mengapa saudaranya menjadi baik seperti ini. "Suara perutmu menggema dan itu menggangu."
"Ck, kau peduli padaku." Jungkook mengerutkan bibirnya diam-diam dan membuka bungkus roti melonnya. Kebetulan dia memang sialan lapar tapi tidak bawa uang dan terlalu malas pergi kemana-mana. Tapi dia masih tidak mengerti mengapa Jihoon sudi memberinya makan dan mencoba bertingkah baik padanya meski sifat dan ucapannya masih pedas. "Kau sendiri? Tidak makan?"
"Sudah sejak tadi. Aku kasihan melihatmu menggembel dengan perut kelaparan."
Jungkook mengunyah rotinya lambat, "Ya. Memang aku ini gembel sejak lahir. Kami dilahirkan untuk menjadi miskin, tidak sepertimu yang bergelimang harta. Kenapa? Mau pamer dengan itu?" dia bertanya dengan nada sebal separuh sarkasme. Menjadikan Jihoon terdiam oleh ucapannya sendiri, ia mengulum bibirnya pelan dan merasa tidak enak hati. Ia berdeham dan mengalihkan pandangannya pada seisi kelas yang sepi. Murid-murid lain asyik menonton pertandingan futsal di lapangan. Hanya ada beberapa perempuan yang jejeritan menonton Gong Yoo dan dirinya serta Jungkook di kelas. "Omong-omong, tumben sekali kau baik padaku. Apa ini caramu mengatakan kau menerimaku sebagai saudara?"
"Heh...?! Bukannya kau yang tidak sudi?" Jihoon mencibir, "Aku sih ogah."
"Yah, terserah kau saja."
Kemudian mereka berdua diam, tidak lagi merespon atau mencari topik yang menyenangkan. Jungkook melahap makan siangnya dengan santai sembari memandang Jihoon yang menepuk-nepuk pahanya dan bersenandung dengan suara merdunya. Mereka membunuh waktu sendiri-sendiri, Jungkook tidak ambil pusing dengan apa pun. Tapi ia melirik ketika Jihoon menoleh padanya dan matanya berkilat ingin menanyakan sesuatu, "Bagaimana kabar Taehyung hyung?"
"Entahlah." Jungkook bahkan ragu dengan jawabannya. Jihoon mengerut, "Jawaban apaan itu? Entahlah; kau pikir aku ini bercanda, ya? aku bertanya sungguhan –tunggu, jangan bilang kau membuat masalah lagi dengannya. Benar begitu?!"
"Arrrgh, berisik!"
Jungkook menjitak dahi Jihoon dengan kencang. "Mana aku tahu ada apa dengannya. Lagipula dia pasti makan dengan baik. Tapi aku tidak yakin dia baik-baik saja," sebab Jimin marah malam itu. Dia tidak yakin apakah Taehyung akan baik-baik saja jika Jimin mendapatinya dalam keadaan mengenaskan seperti malam itu. Dia tidak tahu, apa yang terjadi pada Taehyung sejak malam itu. Dia lari tanpa arah dan justru tertidur di klub, mengabaikan Sehun yang menggedor pintu kamarnya dan tidur dengan hati yang penuh amarah. Sejujurnya dia takut saat Jimin menatapnya dengan mata membara seperti itu. Dia tidak yakin itu karena Jimin menyayangi Kakaknya sebagai sahabat; jelas lebih dari itu. "Aku tidak peduli."
Baru saja ia ingin menutup mulut berisik Jihoon, mata Jungkook menangkap sosok Seokmin yang melangkah melewati kelasnya. Dia terpaku dan ingin mengejarnya. "Kau itu breng –ya! mau kemana? Aku belum selesai bicara, Jungkook!"
.
.
"Lee Seokmin!"
Langkahnya terhenti, kemudian dengan cepat menyesali keputusannya untuk menoleh. Ia kembali berjalan tanpa peduli dengan Jungkook yang mengejarnya seperti predator. Dia dibuat lebih muak ketika lengannya digenggam oleh Jungkook, "Apa, sih?! Lepaskan!"
"Seokmin," Jungkook terengah, masih menggenggam erat lengan Seokmin. "Aku mau bicara."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Bicara sampai mulut berbusa pun aku tidak peduli, tidak ada yang harus kudengar dari mulut brengsekmu, Jungkook. Sekarang lepas tanganmu dariku sebelum aku mendorongmu," Seokmin berujar cepat dengan nada penuh amarah. Jungkook menggeleng kuat dan menggigit bibirnya sendiri, nyaris menangis untuk memohon namun ia tahu Seokmin tidak akan luluh dengan hal seperti itu lagi sejak dirinya menjadi bajingan. "Kau benar-benar mau ditendang, ya?! Aku tidak main-main, Jungkook! Saking marahnya aku berani mendorongmu jatuh dari lantai tiga, tahu? Tidakkah Mingyu sudah berkata untuk jangan mencari kami dan bertemu lagi? Kau harus dengar itu, kami sudah muak berteman dengan orang yang muka dua dan brengsek sepertimu."
Jungkook meremas jemari Seokmin, "A-Aku bisa jelaskan,"
"Baik," Seokmin menarik lengannya kuat. Ia menatap Jungkook begitu dingin. "Butuh berapa lama? Satu menit; dua; tiga; sepuluh? Mari kita dengarkan penjelasanmu itu."
Kata-kata dalam benaknya mengudara.
Seketika bibirnya terkatup rapat macam bisu. Ia tidak bisa menjelaskan apa pun yang ingin ia sampaikan pada Seokmin. Otaknya kosong melompong, tidak ada satu kata yang terbesit dalam benaknya untuk bersua mengutarakan penjelasan. Jemarinya bergetar menahan malu, Seokmin masih menunggunya dengan tatapan dingin dan mengintimidasi, sedangkan kerongkongannya tercekik oleh udara kosong yang menyelimuti. Tak ada suara yang keluar, Seokmin tertawa renyah. "Tidak bisa menjelaskan? Kau seharusnya tahu, bahwa kau sudah terlalu brengsek untuk mengelak. Kau tidak perlu menjelaskan apa pun padaku atau Mingyu, segala ucapanmu kala itu adalah satu-satunya alasan bagi kami untuk benar-benar pergi dari hidupmu yang menyenangkan itu,"
Jungkook menggigit bibir, "Seokmin –"
"Sudah cukup, Jungkook." Seokmin berdecak lelah, "Tingkahmu yang begini semakin membuatku muak. Berhenti bersikap menyesal dan berusaha menjelaskan sesuatu yang kau tidak bisa jelaskan. Kalau kau menyukai hidupmu yang seperti itu, maka lakukan saja. Aku tidak peduli lagi, aku muak. Silahkan saja kau mau merokok, pakai narkoba, atau bercinta dengan siapa saja –masa bodoh."
Detik ketika Seokmin pergi, Jungkook merenung.
Hal bodoh apa yang membuatnya bisa kehilangan sahabat paling setia seperti Seokmin dan Mingyu? Bahkan kini mereka telah memutus hubungan erat yang susah payah mereka bangun bersama. Katakan Jungkook bodoh, ya, dia telah melepas satu bagian hidupnya yang berarti.
Dan dia tidak tahu apakah ada satu tempat di hati mereka yang sudi menerima maaf darinya?
"Hai, Mama. Apa kabar?"
Taehyung tersenyum lebar, meski matanya menggenang air yang siap tumpah kapan pun. Menatap abu Mamanya dalam guci kecil di sebuah bilik lemari kayu. Berjejer dengan puluhan jenazah lain yang sudah dikremasi. Ia terdiam sebentar sembari menggigiti bibirnya, ragu untuk melanjutkan atau bagaimana. Dia nyaris saja menangis hanya karena bertemu Mamanya setelah sekian lama. Masalah membuatnya jauh dari wanita yang telah menghidupinya. Taehyung menyesal meninggalkan debu dan sarang laba-laba di sudut bilik tempat Mamanya bersemayam. Berbanding terbalik dengan para jenazah lain yang nampak bersih dan cantik. "Maaf sudah lama tak mengunjungimu, Mama." Ia menghela, "Aku memang anak nakal. Maafkan Taetae, Mama. Sekarang aku sudah datang,"
Ia mengeluarkan kain dan mengelap kaca, sudut-sudut bilik, figura, bahkan guci penyimpan abu. Dia tersenyum manis menatapi figura yang menampakkan wajah cantik ibunya. Sejenak ia mengingat-ingat masa kecilnya bersama Mama dan Papa, ketika ia sangat bahagia memiliki keluarga yang harmonis dan baik-baik saja. Dia tidak pernah melupakan satu hal pun tentang kenangan manis itu; bahkan meski Namjoon meminta. Baginya, itu adalah harta. "Mama... Aku datang... karena ingin mengeluh,"
Jemarinya bergetar, "Aku ini –payah. Aku tidak bisa jadi Kakak yang baik, Mama."
"Aku tidak bisa merawat Jungkook," Taehyung meruntuhkan pertahanannya. "Aku –aku bodoh, Mama. Jungkook kita menjadi anak yang liar dan nakal. Pulang larut dan suka berkelahi, aku tidak tahu darimana dia belajar seperti itu dan... kupikir, itu salahku." Ia mengusap sudut matanya yang berkedut nyeri oleh airmata yang rasanya cukup memilukan. "Aku terlalu sibuk mencari uang hingga meninggalkan Kookie sendirian, aku tidak punya waktu menemaninya bermain atau mengerjakan pr. Aku tidak pintar, Mama. Bahkan aku... putus sekolah demi dia, aku tidak mau merepotkan keluarga Park seumur hidup. Jungkook selalu kesepian dan pasti marah padaku, sehingga dia membalaskan dendam padaku untuk menjadi pria yang seperti ini. Aku... gagal mendidiknya, Mama. Aku minta maaf,"
Meski Mama tidak bisa menjawab, Taehyung terus bersua.
"Hubungan kami buruk, dan aku tidak tahu sampai kapan ini menemukan kata akhir. Sejujurnya aku lelah, aku lelah dengan semua omong-kosong ini. Aku benci hidup penuh tekanan seperti ini, aku capek merasa sedih, kupikir... mati itu lebih enak. Tapi aku tidak bisa meninggalkan dia –" Taehyung sesenggukkan, napasnya semakin sesak menahan sakit yang terus tumbuh di hatinya. Ada ribuan pisau menancap di jantungnya begitu dalam hingga ia merasa menderita karenanya. " –Jimin, dia, malaikat itu... Aku telah menyakitinya begitu dalam. Aku telah melukainya hingga tak terhingga, sudah tak terhitung lagi seberapa banyak aku membuatnya sakit. Dia sangat baik untuk terus berada di sisiku yang payah ini dan aku dengan brengseknya menghancurkan dia dalam satu waktu. Aku telah berubah menjadi bajingan untuk malaikat suci macam Park Jimin; ya, aku ini brengsek sekarang. Mama, apakah Tuhan bahkan sudi untuk membuka pintu maaf untukku yang sangat hina ini? Aku tidak tahu. Bahkan manusia paling pemaaf semacam Jimin pun muak denganku. Aku sadar diri, siapa aku ini," ia mengusap sudut matanya, "Aku hanya jalang yang terus menjadi parasit bagi Jimin, menjadi orang brengsek yang telah merusak mahakarya Tuhan paling indah bernama Park Jimin. Dan aku... bahkan tidak bisa memaafkan diriku sendiri,"
Mama tetap tersenyum dalam figuranya.
Menatap Taehyung yang menangis seolah menguatkan. Berbisik syahdu dengan suara lembutnya yang tenang, berkata menguatkan. Taehyung berhenti menangis, meski isaknya masih ada. Ia menatap Mama yang sangat cantik, tersenyum simpul seperti hatinya sangatlah lega usai mencurahkan keluhnya dengan tangis yang pecah. Lama ia memandangi bilik Mama hingga tiba-tiba seseorang meletakkan sebatang bunga krisan putih disana, menghentikan lamunan Taehyung yang melanglang buana tanpa ingat waktu dan tempat. Taehyung menoleh kaget dan menemukan senyum menawan yang begitu hangat dan sorot mata mendamba yang rindu. "Setidaknya, ketika berkunjung, bawalah bunga."
"Hoseok hyung,"
Pria tegap itu tersenyum lagi, "Mamamu itu cantik, jika diberi bunga yang mempercantik rumahnya, dia pasti senang. Beruntung aku berbaik hati membagi bungaku hari ini." Dia tertawa melihat respon Taehyung yang dirasa lucu; hanya mengerjap lambat dengan mulut menganga yang menggemaskan seperti anak anjing minta dipungut. "Yah, kebetulan ini tepat dua belas tahun Kakek gaul itu meninggal, aku rindu padanya jadi aku berkunjung kemari."
"Lama tak berjumpa, hyung."
"Ya, apa kabar? Kau nampak lebih manis lagi,"
Taehyung tertawa lepas, "Aneh. Mana ada yang seperti itu, tidak, terima kasih. Aku baik. Kau? Ah, dilihat dari penampilanmu yang keren pastilah hidupmu sangat indah, hyung. Sepertinya kau sukses mendalami bisnis hingga pakaianmu mengilat begini bahkan aromamu itu sama dengan uang," dia berucap penuh jenaka. Dia tidak tahu mengapa, namun jika itu Hoseok maka suasana hatinya akan berubah drastis. Entah sihir apa yang pria itu pakai tapi hanya dengan melihat senyum hangatnya, Taehyung merasa aman. Dia ikut merasakan kebahagiaan dengan begitu simpel dan tak terduga. "Pasti Jepang sangat cocok untukmu, ya, hyung? Tunggu... sudah kurang lebih sepuluh tahun, 'kan? Wah, itu sudah sangat lama! Baru ingat rumah, eh? Kangen jajjangmyeon dan tteokboki, eoh?"
"Jepang sangat indah, tidak jauh berbeda dengan Korea, sebenarnya. Dan ya, aku sangat rindu saus pedas tteokbokki dan jajjangmyeon; kau tahu disana tidak ada yang seperti itu." Hoseok mendesah separuh lelah, melangkah perlahan pada abu milik Kakeknya yang selalu dia panggil kakek gaul karena sering gonta-ganti warna rambut dan masih suka menari-nari tidak jelas, sama seperti Hoseok sebenarnya. Tapi Ayah diktator Hoseok menghalangi anaknya untuk bermain dengan Kakek dan mendidiknya sebagai pebisnis handal di Jepang sana supaya meneruskan perusahaan Jung Grup. Sempat Taehyung mendengar cerita Hoseok yang terus mengeluh, tapi nyatanya sekarang pria itu sukses besar. "Satu-satunya makanan yang aku makan ketika kangen rumah hanya ramen instan,"
"Eeeei, tidak baik makan ramen terus."
Hoseok tertawa, "Iya, iya. Aku tahu, ah, sebentar."
Dia meletakkan buket krisan putih dalam genggamannya ke dalam bilik besar, bersikap sopan dan berdoa dengan khusyuk. Dilihat dari ekspresinya, jelas Hoseok menyayangi Kakeknya. Taehyung bisa melihat itu dan dia ikut berdoa seperti Hoseok. "Nah, apa kau sudah makan siang? Kebetulan aku ingin makan sup tahu kimchi, apa kau tahu tempat yang enak? Aku agak payah dalam berkeliling, well, ini sudah sangat lama aku tidak jalan-jalan di Korea. Lingkungannya agak berubah,"
"Tentu," Taehyung tersenyum iseng separuh mengerling, "Dengan upah traktir?"
Hoseok tertawa ringan, "Dasar. Kau tidak berubah, singa lapar."
.
.
Taehyung melirik Hoseok, "Kau bisa pulang saja, hyung. Sepertinya kau kelelahan."
"Ah, tidak. Ini karena aku jarang berolahraga."
"Tapi pasti melelahkan berjalan menaiki seratus anak tangga, maaf tempat tinggalku sangat jauh dan tidak punya akses untuk dilalui mobil. Kau tahu, lah.. Kampung punya jalan yang sempit. Aku hanya khawatir mobil bagusmu tergores sesuatu, parahnya kalau kau tidak bisa putar balik untuk pulang." Dia berujar dengan nada sedih, sedikit menyesal membiarkan Hoseok mengantarnya pulang. Hoseok memaksa dan dia tidak punya pilihan selain menerima, pria itu sangat baik padanya meski itu sudah lama sekali mereka tidak berjumpa. Tapi Taehyung pikir, sesuatu seperti ini sangat tidak cocok dengan Hoseok si pria sukses dengan jas mengilat harga jutaan dollar. Alasan klise barusan sangat tidak masuk akal, maksudnya, mungkin benar Hoseok akan sangat jarang berolahraga bila dia cukup sibuk dengan rapat dan bisnis tetapi orang seperti dia tentu tidak akan bersanding dengan tempat kumuh dan kegiatan kampung seperti berjalan kaki menaiki tangga. "Keringatmu banyak sekali, hyung. Aku serius, rumahku sudah dekat. Kau pulang saja, aku takut mengotori baju mahalmu dengan keringat. Meski kupikir keringatmu tentu saja akan wangi."
Hoseok mendelik, "Kau ini bawel. Sudah, jalan saja."
"Tapi –"
"Kau bilang sudah dekat? Dimana?"
Taehyung menghela, "Sudah sampai. Yang warna hijau itu."
Dia menunjuk dengan jemari kurusnya, Hoseok memandangi sesaat. Hatinya mencelos kurang ajar, mungkin ini yang dinamakan rasa empati ketika ia sangat sedih melihat tempat tinggal teman lamanya. Ia sudah mengira kalau rumah Taehyung tentulah sempit dan sedikit kumuh tapi ia tidak tahu kalau itu akan benar-benar terlihat menyedihkan. Namun, Hoseok diam saja. Ia tersenyum dan mengikuti Taehyung yang melangkah pelan ke rumahnya. "Pacar baru lagi, huh?"
"Jungkook?"
Hoseok menatap Taehyung dari samping, kemudian menatap sosok tinggi yang bersidekap di depan pintu. Dia tidak familiar dengan wajah itu tetapi saat Taehyung menyebut namanya, ia ingat kalau pria tegap itu adalah adik Taehyung. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir ia melihat si kelinci itu masih sekecil boneka dan suka ia gendong kemana-mana. Perawakannya yang tinggi besar membuatnya menelan ludah sesaat; bahkan tubuhnya tumbuh lebih manly dibanding kakaknya sendiri. Taehyung nampak lebih kurus dan feminim dengan tubuh ramping dan wajah manisnya.
Tapi tatapan tajam Jungkook membuatnya tak nyaman. "Setelah memacari Jimin, kau berpacaran dengan siapa lagi, Taehyung?"
Pertanyaan itu membuat Hoseok mengernyit, ia tidak mengerti mengapa Jungkook terdengar menyindirnya seperti itu. Bahkan caranya berbicara sangat tidak sopan saat berucap pada Taehyung, sebenarnya darimana bocah itu belajar menjadi berandal yang tidak punya etika? Hoseok bahkan heran mengapa Jungkook bisa berpikiran dirinya berpacaran dengan Taehyung, namun, sekali lagi dia hanya bisa diam memerhatikan interaksi kakak beradik itu. "Dia Hoseok hyung, Kookie. Kau tidak mungkin lupa padanya, 'kan? Dia yang sering mengajakmu bermain dulu, suka sekali memberimu boneka dan menggendongmu kabur dariku, dia bilang kau sangat lucu dan dia ingin punya adik sepertimu,"
Hoseok tersenyum dan melambaikan tangannya, namun Jungkook mendecih.
"Tidak ingat."
"Jungkook, jangan bohong." Taehyung menghela, "Sekali lihat saja kau harusnya langsung tahu,"
"Peduli apa!"
Hoseok menepuk pundak sempit Taehyung, "Sudahlah. Kupikir Jungkook akan membicarakan sesuatu denganmu. Kurasa aku akan pulang sekarang, nah, terima kasih untuk tadi." Dia tersenyum dan hendak pergi sebelum Taehyung memegang erat pergelangan tangannya, menatap matanya yang bulat dan jernih kemudian berkata, "Tidak mau masuk dulu, hyung? Sekarang aku pandai membuat teh. Kau pasti capek sudah berjalan jauh, 'kan? Aku tidak bisa menerima ucapan terima kasihmu kecuali kau mampir dan minum teh bersama." Sebenarnya Hoseok ingin sekali, ia masih ingin bersama Taehyung untuk waktu yang lama. Dia cukup rindu pada temannya ini, dan sikapnya tidak berubah. Tetap sopan dan baik hati, tentu ia nyaman menghabiskan waktu dengannya. Namun, tatapan mengintimidasi Jungkook cukup membuatnya risih. Dia tidak takut tentang itu tetapi entah mengapa ia harus menjauhinya, meski di dalam benaknya berkata ia pula harus membawa Taehyung pergi, "Ah, tidak usah. Lain kali saja –"
"Eiii, akan sangat sulit menemuimu nantinya. Masuklah,"
Hoseok hendak menjawab namun Jungkook lebih dulu menghampiri, "Kau ini memang suka membawa pria ke rumah atau bagaimana, ha? Buat apa kau menyuruhnya mampir? Aku tidak suka,"
"Jungkook,"
"Kuberitahu, Hoseok-ssi. Taehyung ini sudah punya pacar selain dirimu, jadi kau sudah ditipu olehnya. Ya, mungkin kau terlena dengan wajah manisnya tapi aku sungguh tidak menyangka dia bisa jadi sejalang ini untuk jalan dengan banyak pria," Jungkook berkata dengan sangat lancar, ada sarkasme dalam ucapnya. Membuat Hoseok makin dibuat bingung, dia tidak mengerti kenapa Jungkook terus berpikir kalau dirinya dan Taehyung memiliki hubungan khusus dan ia tidak tahu mengapa dia menyebut kakaknya sendiri jalang; tidakkah itu terlalu kasar bagi seseorang yang telah menghidupinya bertahun-tahun? Hoseok mengepalkan tangannya kuat-kuat, dia benci Taehyung dipanggil sekotor itu. "Jaga ucapanmu, bocah kecil. Kau tidak berhak memanggil Taehyung seperti itu, pikirmu siapa kau ini sampai berani berkata begitu? Merasa hebat, uh? Kau tidak akan hidup dengan baik tanpa dia, tahu?"
Dihadapannya Jungkook berdecih, "Peduli apa, yang kukatakan ini benar. Bahkan aku sudah –"
Selancar Jungkook berkata, secepat itu pula Taehyung membawa tubuhnya menghadap Hoseok dan menangkup telinganya dengan gestur menutupi. Wajahnya lemah dan matanya berkaca, sekali lihat Hoseok tahu Taehyung tengah menyembunyikan sesuatu dalam benaknya. "Lebih baik hyung pulang, ya? Sepertinya tidak aman meninggalkan mobilmu begitu lama, kita bisa minum teh lain kali." Dia berbisik pelan, nyaris membuat Hoseok terpesona dengan suara berat yang terdengar manis itu. Namun dia tahu dirinya harus cepat pergi atau Taehyung mungkin saja terluka. Katakan dia sok tahu, tapi dia hanya memiliki insting kuat jika itu berarti berurusan dengan Kim Taehyung. Hoseok masih memandangi wajah pucat Taehyung yang sangat menyedihkan, mengamati bagaimana pria manis itu menggigiti bibirnya kuat-kuat mungkin menahan tangis atau apalah, kemudian dia menghela dan melepas jemari kurus Taehyung dari telinganya yang memerah. "Iya, aku akan pulang sekarang."
Ia menarik tubuhnya menjauh, "Sampai ketemu lagi."
Dalam diam Taehyung menghitung mundur. Seirama dengan langkah Hoseok yang nyaring, sejelas itu ia mendengar langkah dan napas memburu Jungkook yang menariknya masuk ke rumah dengan gerakan cepat dan kasar. Tubuhnya dibenturkan ke pintu, terkukung tanpa celah oleh lengan besar milik Jungkook. Ia tidak bisa bergerak dengan tatapan tajam Jungkook yang mengintimidasi, napasnya terlalu panas dan dekat hingga dirinya menjadi lemas tanpa alasan jelas. "Aku tidak suka kau pergi dengan dia,"
"Tapi dia yang kau maksud adalah Hoseok hyung,"
"Aku tidak peduli siapa dia!" Jungkook memukul pintu tepat disebelah wajah Taehyung, "Aku tidak suka kau pergi dengannya. Pergi dengan Jimin membuatku cukup kesal, tahu? Bodohnya aku baru sadar kalian saling mencintai dan pacaran, wah, aku sangat tidak menyangka ini. Kau berpacaran dengan sahabatmu sendiri, hyung? Yang benar saja. Katakan padaku, apa kau memang mencintainya atau karena uangnya? Karena kau ingin naik pangkat atau sebagai balas budi telah menghidupi kita?"
Lantas Taehyung tersentak dengan pemikiran itu, "A-apa?"
"Kau berpacaran dengannya –" Jungkook mendesis, " –karena uang, 'kan?"
"Kau gila?! Aku tidak seperti itu, Jungkook!"
"Lantas mengapa? Setelah semua yang kuberikan padamu, dan semua yang kau berikan untukku; mengapa kau memilih berpacaran dengan Jimin? Kenapa? Setelah apa yang kita lalui selama ini, semuanya, apa tidak memilki makna bagimu? Kenapa kau berpacaran dengannya yang hanya bisa memberimu satu dua pelukan; kenapa?!" Jungkook berujar dengan nada kesal, buku jarinya memutih sebab terlalu kuat dikepalnya, matanya menyalang marah dan mendapati Taehyung terbelalak dalam kebingungan. "Semua ini... Apa yang kau maksud dengan semua ini, Jungkook? Kegiatan intim kita, sesi percintaan kita, ciuman dan pelukan itu; apa itu yang maksud semua yang telah kita lalui?! Bodoh, kau pikir apa yang kau lakukan, tentu ini adalah kesalahan! Semua yang kita perbuat adalah dosa besar, lalu mengapa kau berpikir itu memiliki makna padahal setiap detik yang kita lalui itu adalah fana."
Jungkook mendesis marah, "Kau telah memberikan tubuhmu padaku, apa itu tidak ada artinya?! Lantas bukankah pantas bagiku berkata bahwa kau ini murah?"
"Bisakah aku bertanya; mengapa kau marah padaku?"
"Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan!"
Sudah cukup dengan amarah yang tak terbendung, Jungkook mendekat dan memerangkap bibir Taehyung dalam satu ciuman yang tergesa. Menekannya paksa tanpa peduli Taehyung meronta kuat-kuat. Dia hanya menjadi sangat kesal dengan jawaban Kakaknya yang mengatakan kalau ini tidaklah berarti sedikit pun. Katakan dirinya gila tetapi dia benar-benar muak melihat Taehyung bersama pria lain. Dia pernah berpikir mungkin saja dia menyukainya tetapi rasanya aneh. Rasanya aneh ketika ia menjadi marah ketika tahu dengan sendirinya Taehyung berpacaran dengan Jimin atau melihat Taehyung bercengkerama hangat dengan Hoseok. Dan aneh ketika ia justru lebih suka dirinya mendominasi Taehyung dan membawa mereka dekat dalam jurang dosa. Ya, ini adalah dosa saat dirinya terus merusak Kakaknya tetapi dirinya hanya bergerak sendiri tanpa mampu ia kontrol. Bibir Taehyung yang tebal dan manis terasa candu, tubuh kurus Taehyung membuatnya bergidik gila ingin menyetuhnya bukan main.
Dan ia lebih marah ketika Taehyung mendorong tubuhnya menjauh.
"Aku tidak main-main, Jungkook!"
"Kau pikir aku bercanda?" Jungkook mengusap bibir basahnya, "Kau melakukannya denganku juga dengan sukarela, bukan? Kau menyukaiku, kau menyukai sentuhanku, kau menyukai semuanya tentangku. Jadi berhenti bersikap naif dan katakan saja kau menyukaiku, sama seperti aku menyukaimu. Kita sudah sering melakukannya jadi untuk apa kau terus menyangkal kata hatimu sendiri. Berhenti bersikap bodoh dan akui saja kau suka menjadi jalangku, Taehyung –"
Cepat Taehyung berteriak, "Aku tidak menyukainya!"
Suaranya menggema, menyisakan desau napasnya yang terengah usai berteriak begitu kencangnya. Melampiaskan emosi yang bergerumul kurang ajar dalam dadanya. Dia penat menahan marah, dia lelah menahan semua yang ingin ia sampaikan. Dia ingin hubungan konyol ini segera berakhir. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat, menggigiti bibirnya lebih lama hingga ia pikir bisa saja robek namun ia tidak peduli. Ia mengatur napasnya perlahan, berpikir kalau ini waktu yang tepat untuk mengatakan apa yang mengganggunya selama ini. "Aku... Aku tidak menyukainya, Jungkook. Ciuman kita, sentuhan itu, persetubuhan yang kita lakukan... Aku benci semua itu, aku benci semua yang kita lakukan. Aku tidak pernah berpikir kalau itu menyenangkan. Aku tidak pernah sekali pun ingin mengingat setiap detil dari kegiatan konyol itu sebab aku tidak ingin terus merasa bersalah. Aku bersalah... telah mendidikmu untuk jadi orang yang kurang ajar," ia meneteskan airmatanya, "Bagaimana bisa kau bertanya seperti itu ketika aku terus mendoktrin diriku sendiri kalau kau... hanya tersesat. Kau hanya kehilangan arah dan butuh pelampiasan atas semua masalahmu. Kupikir, mungkin kau membutuhkan objek untuk meluapkan emosimu jadi aku menyerahkan tubuhku untukmu tak lebih sebab aku menyayangimu sebagai Kakak, sebagai rasa bersalahku di masa lalu yang tak mampu menghidupimu dengan baik. Tak lebih sebab aku berpikir kau membutuhkan aku, sebagai kakakmu."
"Kakak mana yang bercinta dengan adiknya sendiri?!"
"Aku! Akulah si brengsek yang bercinta dengan adiknya sendiri! Aku si bajingan itu, yang membiarkan orang polos sepertimu terjebak kedalam dosa besar seperti ini," Taehyung menangkup wajahnya sendiri, membiarkan tangisnya pecah meski itu terdengar sangat memalukan. Ia hanya benar-benar lelah dengan semua yang terjadi padanya. Dia telah menjadikan Jungkook seseorang yang sangat salah, ketika adiknya justru berpikir kalau hubungan yang mereka bangun ini adalah sesuatu tentang cinta terlarang. Dia benar-benar marah pada dirinya sendiri tentang fakta ini, "Aku si jalang brengsek ini, yang telah menjadikanmu objek dosa dan menyeretmu ke daftar tunggu pintu neraka. Jungkook... hyung yang bodoh ini, janganlah kau mencintai orang seperti aku. Sadarlah kalau kau sepenuhnya salah, aku tidak mencintaimu lebih sebagaimana Kakak menyayangi adik, tidak, Jungkook. Aku sayang padamu sebatas saudara, aku tidak bisa mencintaimu jika itu yang kau maksud –" ia mendongak, menatap mata Jungkook yang berpendar penuh rasa kecewa dan tidak terima. " –berhenti. Hentikan semua omong-kosong ini, Jungkook. Berhenti melakukan semua dosa ini. Aku tidak mau... jika pada akhirnya kau mencintaiku lebih dari seorang saudara. Ini sudah sangat salah, dik. Benar-benar salah. Kau tidak bisa mencintai aku –"
Jungkook mendorong tubuh Taehyung lagi, mencengkeram bahunya kuat. "Ini karena Jimin, 'kan?"
"Jungkook, berhenti mengaitkan Jimin."
"Ini karena Jimin, 'kan?" Jungkook berteriak marah, "Kau berkata seperti itu karena kau mencintai Jimin. Karena kau tidak ingin kehilangan dia. Karena kau mencintai dia lebih dari apa pun, karena dia yang selalu menyembuhkanmu, yang selalu membahagiakanmu, tidak seperti aku yang terus melukaimu dengan merusakmu hingga berkeping-keping." Ia bernapas pendek-pendek, "Tapi bagaimana... bagaimana jika aku sudah terlanjur seperti ini? Aku sudah jatuh pada orang yang salah, lantas bagaimana... bagaimana kau bisa diam dan dengan mudahnya berkata supaya aku berhenti?! Kau pikir ini main-main?!"
"Jangan mencintaiku, Jungkook!"
"Lalu aku harus berbuat apa?!"
Mereka terdiam, tidak saling merespon. Hanya asyik dengan pikiran masing-masing. Suasana menjadi senyap dengan sayup-sayup suara tangis Taehyung yang memantul-mantul di telinga Jungkook. Sedang dirinya masih mengepal dengan amarah, menatap Kakaknya yang menangis tak henti. Hatinya pecah begitu saja, sadar kalau dia sudah terlalu jauh menjadi brengsek. Dia juga tidak menyangka kalau dirinya bisa jadi begitu bodoh untuk menaruh perasaan lebih pada Kakaknya. Dia tidak mengetahui itu, dia tidak menyadari itu, sampai ia akhirnya terbangun saat orang lain telah menempati ruang di hati Taehyung dan mungkin tidak akan tergantikan. Tidak dengan status saudara yang mengikat mereka. Jungkook mendesah lelah, pikirannya kacau. Tangis Taehyung semakin mengacak pemikirannya dan dadanya semakin sesak seiring berjalannya waktu. Dia tidak tahu bagaimana hidupnya bisa jadi seaneh ini.
.
.
Jimin menyentuh pintu kayu itu dengan telunjuknya.
Hatinya semakin pecah dan menjadi puing-puing tanpa sisa. Dia tidak tahu harus merespon apa selain menangis dalam diam. Jantungnya serasa diremas begitu kuat hingga ia sesak napas. Perbincangan itu terlalu menusuk hatinya tanpa ampun, menjadikannya lemah di satu waktu hingga ia pikir ini hanyalah mimpi dan berharap dia bisa bangun. Namun, ketika ia membuka mata, ia masih melihat pintu yang sama. Berwarna cokelat pudar dan menghantarkan suara tangis Taehyung dalam rambatnya yang sampai ke jemari Jimin hingga dirinya ikut menangis di tempat.
"Aku harus bagaimana, Kim Taehyung?"
"Americano hangat, silahkan."
Taehyung tersenyum simpul sembari meletakkan secangkir Americano hangat di meja sepuluh. Matanya bersirobok dengan pria bertubuh tegap yang mengenakan jas mengilat khas seorang pebisnis kaya. Pria itu mengucap terima kasih dan Taehyung hanya tersenyum menanggapi. Awalnya ia pikir itu hanya interaksi pelanggan dan pelayan biasa jadi dia hendak pergi, namun, ia jelas merasakan remasan kurang ajar di bokongnya. Sialnya pria itu memerangkap pinggul ramping Taehyung hingga dirinya terjebak nyaris tidak bisa bergerak. "Tuan, jangan seperti ini."
"Wah, kau punya bokong yang bagus," dia semakin berani dengan bermain di depan kancing celana Taehyung. Tidak peduli dengan gemetar ketakutan yang dikatakan tubuh kurus Taehyung, juga peringatan-peringatan darinya yang dirasa tidak cukup mengancam. Dia berpikir ada bagusnya dia rajin berolahraga membentuk ototnya hingga bisa mendominasi orang macam Taehyung, jadi dia tidak akan merasakan efek apapun dari rontaan lemah seperti itu, "Diam saja.. Taehyung-ssi? Nama yang lucu."
Merasa semakin salah, Taehyung meronta. "Lepaskan! Dasar kurang ajar!"
"Oh, ya? Tubuhmu ini menerima, tahu?"
"Kubilang lepaskan! Argh –ya!" dengan sigap Taehyung menendang selangkangan pria kurang ajar itu, menambahkan pukulan di kepala menggunakan nampan kayu dengan gerakan bertubi, lanjut dengan menonjok beberapa tubuh kekar pria itu tanpa ampun. Dia ingin menangis, rasanya sakit ketika ia dilecehkan seperti itu. Dia tidak dalam emosi jiwa yang stabil untuk diperlakukan hina dan pria itu membuatnya kesal dengan tindakan bangsat serta ucapan vulgar itu. Matanya memanas nyaris melelehkan airmata namun ia tahu kalau menangis tentu tidak akan membantu. Dia terus memukul pria itu hingga tidak sengaja menumpahkan americano ke kemeja dan jas pria itu, menyisakan denting cangkir yang pecah dan menggema di satu area. Hingga semuanya memerhatikan penasaran. Taehyung berhenti, dia mengatur napasnya susah payah dan tetap menahan tangisnya.
Kemudian dia mendengar derap langkah kaki mendekat, "Ada apa ini?!"
"Dia –"
"Aish, sialan! Pelayanan macam apa ini?!" Pria itu bangkit dan mengusap kemejanya dengan gerakan marah. Wajahnya mengerut dan matanya menggelap, terdengar gerutuan kecil dari belah bibirnya, kemudian menatap nyalang pada Jimin yang bertanya barusan. "Kalau merekrut karyawan itu yang benar! Pelayan macam dia sangat tidak berkompeten, tahu? Jika dia tidak punta etos kerja maka pecat saja dia, kenapa bisa-bisanya melamun dan membuat kekacauan?! Lihat, dia pikir jas ini berapa harganya? Gaji dia bekerja disini selama lima tahun pun tidak akan mampu membayar kerugian ini."
Taehyung mengerti, pria ini berbohong. "B-Bukan, Jimin. Bukan seperti itu –"
"Kupikir ini kafe yang cukup bagus tetapi pelayanannya sangat bodoh! Sangat disayangkan dengan interior bagus yang kau miliki tetapi karyawan yang sangat buruk kerjanya, tentu akan berdampak jelek bagimu ke depan nanti. Aku tentu punya banyak jas lain tetapi aku marah dengan sikap karyawanmu yag sangat tidak bermoral ini, menyangkal dan tidak tahu apa itu maaf." Pria itu menepak kemejanya yang basah dan kotor oleh noda kopi. "Apa begini kau mengajarkan etika bekerja kepada karyawanmu, hah?"
"Bohong! Jimin, tidak begitu kejadiannya. Pria itu sudah –"
Cepat Jimin menunduk sopan, "Maafkan aku, sajangnim."
Taehyung terbelalak dan menganga. Tidak percaya dengan keputusan Jimin untuk meminta maaf dan bersikap sopan pada pria kurang ajar itu. Dia tidak menyangka bahwa Jimin lebih percaya pada omongan pria itu dan masih sempat mengurusinya, juga tetap bersikap santun tanpa tahu kejadian yang sesungguhnya. Taehyung semakin sesak oleh tangisnya sendiri. Bukan seperti ini yang dia harapkan dari reaksi Jimin. pemuda itu sudah benar-benar tidak peduli padanya. "Lain kali, jika kau akan mempekerjakan karyawan baru, lihat bagaimana sikapnya kepada pelanggan. Buat saja program training atau apalah untuk mendidik mereka supaya punya etika dalam bekerja, bukannya menjadi bodoh dan bikin kacau."
"Ne, Sajangnim. Akan saya lakukan,"
"Jimin!" Taehyung berteriak dan menarik lengan Jimin, menatapnya nyalang. "Kau tidak boleh percaya padanya. Dia telah berbohong mengatakan aku sudah lalai bekerja padahal tidak, aku melakukan pekerjaanku dengan baik! Aku mengantarkan pesanannya dan tersenyum tapi dia yang bersikap kurang ajar padaku, dia yang tidak punya etika!"
Jimin menghela, "Hentikan, Kim Taehyung! Bersikap sopan pada pelanggan!"
"Dia yang tidak sopan duluan padaku!" Taehyung menjerit, telunjuknya ditujukan pada si pria, "Dia telah bersikap kurang ajar, Jimin. Bagaimana bisa kau lebih percaya dia? Kau harus dengarkan aku, aku tidak seperti apa yang dia katakan tadi!"
"Cukup, Taehyung! Berhenti mengguruiku!"
Suara kencang Jimin membuat Taehyung termangu. Diam tanpa jiwa seperti ia nyaris mati, dia tidak bisa bergerak maupun bersua. Jelas dia terkejut saat Jimin membentaknya demikian. Dia tidak menyangka bagaimana bisa Jimin benar-benar muak dengannya. Tidak percaya apalagi mendengar alasan darinya yang sebenarnya adalah fakta. Dia tidak lagi menaruh kepedulian pada Taehyung, tidak lagi menatap matanya, tidak lagi memegang tangannya hangat, tidak lagi berkata lembut, tidak lagi berpihak padanya, tidak lagi percaya padanya. Dan itu membuat Taehyung kehabisan akal. Tidak tahu harus merespon apa lagi ketika Jimin benar-benar marah olehnya. Samar-samar ia mendengar Soonyoung mendekat dan menarik lengannya lembut, membawanya pergi setelah suasanya benar-benar tegang dan semua orang telah memerhatikan adegan memalukan barusan. "Taehyung..."
"Soonyoung-ssi," ia tidak tahan lagi untuk menangis, "Aku... Aku tidak tahu lagi."
"Aku juga tidak mengerti." Soonyoung menghela, melarikan jemarinya mengusak rambut Taehyung yang lebat dan sedikit kusut. Menatap wajah Taehyung yang sudah basah oleh airmata, kemudian melirik Jimin yang masih sibuk dengan pria brengsek yang terus berceramah. Ia mendesis, "Aku akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada Jimin. Kau tenang saja,"
Cepat Taehyung terbelalak, "Jangan!"
"Taehyung –"
"Aku tidak mau dia tahu," Taehyung mengulum bibirnya pelan, "Jika Jimin tahu aku sudah dilecehkan oleh ahjussi itu maka penilaiannya tentangku akan benar-benar hancur. Nol tanpa sedikit pun berpikir bahwa aku adalah orang yang benar. Meski nyatanya aku memang sudah brengsek dan cukup murah untuk terus diam ketika disentuh orang. Ya, aku ini bodoh dan murah tetapi –" ia menggeleng lemah, " –aku tidak mau... kalau Jimin benar-benar tahu aku ini sangat murahan. Aku takut dia benar-benar membuangku pergi, Soonyoung. Katakan aku idiot untuk terus bertahan disisinya meski dia sudah menyuruhku pergi tetapi aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa pergi... atau aku bisa saja mati karena kehilangan dia,"
Soonyoung menghela dan mengelus kepala Taehyung lembut.
"Meski aku harus menderita, tidak apa tidak bersamanya asalkan aku masih memilki satu kesempatan melihat wajahnya. Asalkan aku tahu dia ada dimana aku berada, asalkan aku masih bisa memanggilnya, masih bisa merasakan aura tegasnya, bahkan jika dia hanya akan marah dan terus melukaiku dengan kata-katanya dan penolakan, aku tidak apa." Taehyung terisak semakin kencang, "Asal jangan buat dia benar-benar pergi dariku. Jangan buat dia jijik mengetahui siapa aku ini, yang jalang dan murah ini... Jangan, kumohon jangan katakan apa pun. Biar dia berpikir aku adalah karyawan yang tidak beretika dan tidak berkompeten. Asal jangan buat dia berpikir aku ini menjijikkan, sebab dia akan pergi dariku dan jika itu terjadi maka aku akan benar-benar mati."
"Tapi Taehyung, kau tidak boleh begini."
Taehyung menggeleng, "Kumohon... Jangan katakan itu, biar saja seperti ini."
Semakin lama, Soonyoung tidak tahu harus berbuat apa.
Luka yang terus tumbuh itu semakin besar hingga merenggut setiap lapisan kebahagiaan dalam kehidupan mereka. Pikirnya mudah saja berkata untuk berbaikan tetapi nyatanya, mereka terus menanam luka pada setiap alur kisah mereka. Saling melukai diri sendiri atas nama cinta. Mungkin ini konyol tetapi Soonyoung berpikir kalau beginilah cara mereka mencintai, meski mereka berdua harus terluka.
.
.
"Kau nampak pucat, Taehyung."
Yang dipanggil menoleh, kemudian duduk di kursi plastik dan meminum air dari botol. Ia tersenyum sembari menghela berat. "Banyak yang kupikirkan, Kek. Ah, sekarang sedang sepi. Kakek duduk saja dulu, memangnya tidak capek berdiri terus?" lantas dia menggiring Kakek itu duduk disampingnya, tersenyum polos dan memijat lengan kurus Kakek itu, terkekeh saat mendengar Kakek itu mendesah keenakan. Berkata penuh pujian tentang kemampuannya memijat yang sangat mahir. "Apelnya laris, 'kan? Istirahat dulu, Kek... Jangan memaksakan bekerja sampai capek. Nanti kalau punggungmu encok, aku juga yang repot. Nah, minum dulu."
Kakek tertawa ringan, lantas meminum air yang disodorkan Taehyung. "Jangan terus memasang topeng dihadapanku, bocah nakal." Ia tersenyum simpul melihat Taehyung yang terdiam tidak mengerti, "Kau bisa membohongi seratus orang tetapi tidak padaku. Aku sudah hidup hampir tujuh puluh tahun, sudah banyak mengenal kerasnya kehidupan. Hampir selama itulah aku mengetahui raut-raut wajah orang bermuka dua yang pandai main peran sepertimu. Masalah itu jangan kau pendam hingga menyisakan luka tetapi hadapi dan cari jalan keluarnya,"
"Aku tidak apa, kok."
"Orang sepertimulah yang paling kubenci."
"Kakek..."
Kakek mengerjap lambat, "Orang yang terus menyakinkan dirinya sendiri bahwa dia baik-baik saja, meski siapa pun bisa dengan jelas melihat kau nyaris mati oleh luka yang kau buat sendiri. Seburuk-buruknya manusia adalah dia yang bertopeng dan sok kuat, yang bermuka dua dan terus membuat luka pada dirinya sendiri. Sebab mereka menjadikan sahabat dan orang terkasihnya menjadi si idiot yang tidak tahu apa-apa. Mereka akan menderita sendirian tapa siapapun tahu bagaimana cara menyembuhkannya, mereka akan terkurung dalam kubangan lukanya sendirian. Tanpa tahu kapan dia bisa keluar dari kehidupan yang kelam seperti itu." Kemudian ia memandangi apel yang tengah dia bersihkan dengan kain, "Ada kalanya kita berpikir kalau masalah akan selesai dengan sendirinya. Dan orang berkata, Tuhan tidak akan memberikan masalah kepada kita kecuali kita bisa melampauinya. Dia tidak akan memberi ujian diluar batas kemampuan manusia menghadapi masalah itu."
"Tapi... tidak semua masalah semudah itu diselesaikan."
"Ketika kau lelah dengan semuanya," Kakek itu menggigit apelnya, "Coba pikirkan satu harapan. Hal yang paling kau dambakan dari masalah yang kau punya. Pikirkan satu hal yang kau inginkan, entah itu mimpi atau anganmu saja. Apa pun, pikirkan itu. Temukan jawaban setelah kau memikirkan hal yang membahagiakan itu, ketika kau mampu menemukannya, maka lakukan. Percaya atau tidak, hanya manusia berhati murni yang berhasil melakukannya."
Taehyung terdiam, mencoba mencerna ucapan Kakek barusan.
Matanya bertatap dengan Kakek yang tersenyum, "Dan aku yakin, kau si orang berhati murni itu."
.
.
.
Jimin kembali ke kantor pukul dua pagi.
Laptopnya tertinggal dan sialnya sepupu menyebalkannya membutuhkan laptop itu untuk jam delapan nanti. Dia benar-benar lupa untuk membawa pulang laptop kesayangannya. Setelah semua masalah yang menderanya tanpa ampun, pikirannya tidak bisa fokus. Belakangan ini ia lebih mudah lelah dengan emosi yang tidak dapat ia kontrol. Tubuhnya lebih mudah capek dan ia pikir tubuhnya sedikit kurus setidaknya satu atau dua kilo sebab terlalu sering melewatkan makan. Kepalanya terus berdenyut-denyut hingga mengganggu aktivitasnya, atau sekadar berpikir dengan jernih.
Bayang-bayang Taehyung yang menangis tak kunjung pergi dari benaknya. Ia merasa bersalah, tidak pernah ia bermaksud membentak pemuda manis itu tetapi entahlah, dia benar-benar tidak bisa menggunakan otaknya dengan benar saat itu. Mood swing seharian dan malah melampiaskan penatnya kepada Taehyung si manusia hati rapuh. Ia menyesali tingkah gegabahnya itu tetapi ia pula tidak bisa memperbaiki kesalahannya. Dia takut melukai Taehyung lebih jauh jika ia mendekatinya, bahkan untuk memanggil namanya atau menatapnya saja dia tidak kuasa. Tidak semudah ia mencuri ciuman di bibir pemuda manis itu. Sekarang, semua tidak seperti dulu.
Jimin menemukan laptopnya dimeja, tetapi amplop putih mengalihkan atensinya.
"Surat pengunduran diri –" Jimin mengerutkan dahinya, " –Kim Taehyung?"
Kemudian dia tersadar, kalau Taehyung sudah benar-benar menderita.
Dan dia tidak tahu apakah dirinya masih punya kesempatan untuk menyembuhkannya.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued.
.
[Edisi: sesi panjang lebar]
Noun; cuap-cuap
..
YHAAAAAAAAAAAAAAA BAPER AKU.
Yah, gimana dong? Taehyung jadi pergi... Maafkan aku telah membuat cerita dengan alur yang sangat memusingkan ini. sungguh, jangan marah padaku tetapi marah lah pada jemariku yang seperti kesurupan saat mengetik cerita.
Oke, jadi mulai chapter ini hingga selanjutnya, akan terkupas bagaimana masa lalu Namjoon dan Taehyung. Since all of you keep asking what the hell was happened in past. Semua bertanya dengan capslok mengapa Namjoon benar-benar no respect and affect sama Taehyung meskipun dia adalah anaknya sendiri. Mungkin akan jadi sangat lama tetapi saya usahakan akan diperpendek supaya kalian juga ga bosen untuk menye-menye terus. Ada yang bilang, kalau konflik dan ceritaku terlalu lambat mencapai klimaks sehingga pembaca bisa saja bosan dan capek. Maka dari itu, aku sangat concern tentang alur. Sebisa mungkin saya usahakan untuk mengemas cerita hingga lebih efektif. Jadi kalian dan aku gak kelamaan baper. Hehe.
Nah, nah, silahkan dinikmati. Jangan lupa reviewsnya.
[ sugantea ]
