Disclaimer: I don't own Assassination Classroom/Ansatsu Kyoushitsu or even it's characters.
"Jasamu tidak akan pernah kami lupakan. Maafkan kami belum bisa membalasmu. Terima kasih atas segalanya dan.. sayonara."
Sweet Revenge: Sayonara
Sudah hampir tiga bulan Asano Gakushuu hanya duduk saja di tempat tidurnya. Tapi meski begitu, dia tetap memimpin rapat OSIS. Bagaimana caranya? Tentu saja memakai aplikasi video call melalui laptopnya. Sejak rapat diambil alih lagi kepemimpinannya oleh Gakushuu, OSIS tidak lagi menjadi kacau.
"Aku lebih suka kalau saat wisuda nanti, ada bunga warna putih mendominasi ruangan. Menurutku, kalian juga bisa menambahkan bunga seperti lily warna kuning," katanya pada anggota OSIS yang lain.
"Ren, sore ini kau bisa mengambil dokumen-dokumen yang kau berikan kemarin. Aku sudah mengecek semuanya. Yang perlu aku tanda tangani, sudah aku tanda tangani. Ada beberapa bagian yang perlu kau revisi. Apalagi proposalnya. Aku tidak mengerti ada apa denganmu. Biasanya proposalmu rapi. Ini adalah pekerjaan terakhir kita sebagai OSIS, buat serapi mungkin!" kata Gakushuu sambil membolak-balik proposal yang ada di tangannya.
Anggota OSIS lainnya mengangguk mantap sambil menatap wajah ketua OSIS mereka yang ada di layar proyektor. "Hai!" seru mereka serempak.
"Hai, Asano. Kau juga jangan terlalu capek," kata Ren, memandang temannya.
Di seberang sana, Gakushuu tersenyum. "Aku akan baik-baik saja. Sejauh ini, aku puas dengan hasil kerja kalian. Arigatou gozaimasu atas kerja samanya!"
Gakuhou tetap mengintip puteranya dari balik pintu sambil tersenyum bangga. "Kurasa aku berhasil membesarkannya menjadi seorang pemimpin yang baik."
"Aiko, kau lihat kan? Aku ternyata bisa menjadi orang tua yang baik," sang ayah tunggal itu menengadahkan kepalanya, tersenyum sendiri, lalu menutup pintu kamar rawat Gakushuu sepelan mungkin.
"Ayah, kuperingatkan sekali lagi. Kalau kau masih keras kepala menyuruhku pulang dengan kursi roda itu, aku tidak akan pernah mau jadi anakmu lagi!" gertak Gakushuu, tangannya mencengkram pintu kamar mandi.
Hari ini, Gakushuu sudah diperbolehkan pulang oleh dokternya. Dengan catatan, di rumah ia juga harus tetap banyak istirahat. Meski itu terdengar simpel, bagi seorang Asano Gakushuu yang selalu mempunyai segudang kegiatan, itu adalah hal tersulit yang harus dilaluinya.
Ia baru saja selesai berganti baju ketika ayahnya, Asano Gakuhou bersikeras kalau mereka akan pulang dengan Gakushuu yang duduk di kursi roda, agar ia tidak kecapekan. Tetap saja ketika Gakushuu berjalan, kepalanya masih terasa agak pusing. Tapi mana mau alasan itu membuatnya harus duduk di kursi roda dari keluar kamarnya yang ada di lantai 5 sampai turun ke lantai dasar.
"Gakushuu-kun, Ayah tahu kepalamu masih kadang pusing kalau berjalan. Sudahlah turuti saja, doktermu juga menyarankan begitu kan," kata Gakuhou sambil membereskan tas ransel yang berisi barang-barang Gakushuu.
Anak itu langsung mencengkram pintu kamar mandi, menolak disuruh duduk di kursi roda. "Kubilang, tidak! Aku bisa jalan sendiri!" baru saja dia bilang begitu, Gakushuu merasa kepalanya berputar dan kakinya seolah tidak memijak tanah, sempoyongan.
Gakuhou menangkap tubuh anaknya, tersenyum menang. "Dasar anak keras kepala. Persis seperti ibumu," lalu Gakuhou menggendong Gakushuu.
Mata violet remaja itu membelalak, "Apa yang kau lakukan, Ayah?!"
"Otakmu belum cukup cepat memproses informasi, eh? Perlu MRI lagi?"
"Tidak perlu," Gakushuu mendengus kesal. "Jadi kau berniat menggendongku dari sini ke parkiran mobil?"
"Apa boleh buat," kata Gakuhou seolah tidak peduli.
Gakushuu nyengir, ayahnya ternyata adalah seorang tsundere. "Ngapain juga Ayah ikut-ikutan pakai kemeja biru seperti punyaku?"
"Berisik," kata Gakuhou singkat.
Tawa Gakushuu meledak. "Ya ampun, wajah Ayah kenapa jadi merah gitu?"
"Asano Gakushuu, jangan senang dulu. Di rumah masih ada soal Matematika yang tempo hari kubuat."
"Yang benar saja!" protes Gakushuu, membuat orang yang berlalu lalang di lorong rumah sakit memperhatikan mereka. "Kukira ayahku sudah tobat dan melupakan hukuman itu!"
"Hohoho! Aku tidak pernah melupakan hukuman!"
"Sial," rutuk Gakushuu. "Aku agak lupa rumusnya," buat saja aku koma lagi, makinya dalam hati.
Sampai di lantai dasar, Gakushuu minta jalan sendiri, malu karena semakin banyak orang memperhatikannya. "Aku bisa jalan sendiri. Dengan tas ransel penuh barang seperti itu di punggungmu dan aku yang ada digendonganmu, aku khawatir akan membuatmu encok, Ayah.".
"Kurang ajar," dengus Gakuhou. "Kau pikir siapa yang menggendongmu dari rumah bobrok itu hingga sampai ke rumah sakit?!"
"Entah. Mungkin supir taksi," Gakushuu mengedikkan bahunya.
Dengan kesal, Gakuhou menurunkan anaknya. "Jangan tersinggung, Ayah. Tapi kau tahu, aku lupa apa yang terjadi setelah kita sampai ditaksi."
"Selamat datang kembali, Tuan Muda," sapa supir pribadi keluarga Asano.
"Terima kasih," jawab Gakushuu sopan, memilih duduk dikursi dekat jendela mobil.
Gakuhou menutup pintu mobil dan duduk di sebelah puteranya. "Langsung saja pulang. Saya punya banyak pekerjaan yang menumpuk."
"Baik, Tuan."
Perjalanan mereka terasa sunyi. Gakushuu memandang keluar jendela sambil sesekali mengecek handphonenya. Kelas A merencanakan liburan bersama hari Sabtu ini. Mereka semua kompak mengajak Gakushuu liburan bersama, tapi ajakan itu ditolaknya.
Mata Gakushuu menangkap sebuah bangku taman usang di sebuah taman yang barusan mereka lewati. Ia tersenyum kecil, "Masih ada saja bangku itu,".
Gakuhou penasaran apa yang dibicarakan Gakushuu, ia melihat bangku taman itu dan langsung mengerti. Itu bangku taman yang biasa mereka bertiga duduki 11 tahun yang lalu. Bangku taman yang menjadi saksi bisu permintaan cerai Aiko.
"Ayah, sebelum aku lupa, Ibu menitip pesan untuk Ayah, katanya ia menyayangimu."
Gakuhou serasa mau tersedak. "Gakushuu, tidak lucu."
"Aku serius. Waktu aku koma, aku bertemu dengan Ibu, dan dia bilang begitu!" ujar Gakushuu, kesal karena tidak dipercayai.
"Begitu ya," pandangan Gakuhou kembali ke depan. "Rupanya ia masih mencintaiku, ya. Setelah semua yang aku lakukan," ia tersenyum miris. "Gakushuu-kun, ini untukmu," sang ayah mengulurkan sebuah foto yang belakangnya terlihat ada noda darah.
"Foto apa ini?" Gakushuu menerima foto itu. Begitu ia memperhatikan lebih detail, itu foto keluarganya saat ia masih berumur dua tahun. Difoto itu, Aiko menggendong Gakushuu, mencium pipinya yang bulat kemerahan sedangkan Gakuhou merangkul istrinya sambil mencium pipi Gakushuu yang satunya. Gakushuu sendiri tertawa bahagia difoto itu.
"Sial," Gakushuu mengusap matanya, mencegah air matanya tumpah. "Oh sialan," ia mengigit bibirnya.
"Foto itu aku bawa saat mau menyelamatkanmu. Dan darah itu adalah darahmu, sepertinya ada darahku juga, karena foto itu kusimpan di kantung kemejaku," jelas Gakuhou.
"Untuk apa Ayah membawa foto ini? Kau hanya merusaknya saja!"
"Tentu saja untuk mengingat keluargaku. Foto itu kusimpan di kantung kiriku yang notabene dekat dengan jantungku. Kurasa kau sudah mengerti apa artinya," Gakushuu mengangguk mengerti.
Gakuhou menatap puteranya sayang, mengelus rambutnya. "Aku senang kau kembali."
"Sepertinya aku juga senang."
Siang itu Gakuhou memborong semua pekerjaannya ke kamar Gakushuu lalu mengerjakan semuanya di sofa kamar itu. Gakushuu menatap ayahnya heran sekaligus kesal.
"Ini ada apa lagi sih? Ayah membuat kamarku berantakan!" serunya kesal melihat banyak kertas bertebaran di lantai kamarnya.
"Agar aku bisa mengawasimu," kata Gakuhou, tanpa menoleh.
"Sekalian saja pasang CCTV di kamarku," dengus Gakushuu, memalingkan wajahnya ke jendela.
Tempat tidur Gakushuu berada di samping sebuah jendela yang ditutupi korden berwarna putih trasparan. Di sebelah kirinya ada sebuah meja kecil yang di atasnya ada barang-barang si empunya kamar, seperti jam tangan, tumpukan buku rumus, to do list, dan sekarang ditambah obat-obatnya.
Kamar Gakushuu didominasi warna putih dan hitam. Seperti yang bisa ditebak, kebanyakan isi kamarnya adalah buku yang tersusun rapi di rak buku, meja belajar yang super rapi, dan lemari pakaian besar di sudut kamar.
Lama-lama Gakushuu bosan. Ia ingin masuk sekolah seperti teman-temannya yang lain dan mengerjakan banyak hal dengan OSIS seperti biasanya.
"Gakushuu, malam ini…ah," Gakuhou menyadari anaknya sudah tertidur. "Padahal dia belum makan siang. Tapi, ya sudahlah," gumamnya, menyelimuti tubuh Gakushuu. "Selamat tidur, Gakushuu-kun."
Sang putera menghembuskan nafas keras, sedikit mendengkur. "Baiklah," ujar Gakuhou, tersenyum lalu kembali menyelesaikan pekerjaannya.
Hingga matahari telah tenggelam, Gakushuu masih juga belum bangun. Memang benar kata dokter, walaupun ia merasa baik-baik saja, badannya masih memerlukan banyak istirahat untuk pulih seperti sedia kala. Sebuah keajaiban dengan benturan sekeras itu, otak Gakushuu tidak terpengaruh. Dokter mengira pasti ada "sesuatu" yang melindungi anak itu. Gakuhou yakin betul, siapa yang melindungi remaja berambut langit sore itu.
Gakuhou menutup laptopnya dan membereskan kertas-kertas yang berserakan di lantai. Ia menoleh untuk mengecek apakah putera tunggalnya itu sudah bangun apa belum. "Oh, belum bangun juga ya? Ya sudah, aku makan sendiri saja," gumam Gakuhou. Sebelum keluar kamar, ia menyempatkan diri membelai rambut Gakushuu.
Sejak peristiwa pembalasan dendam Takaoka, banyak hal berubah dalam keluarga Asano. Gakuhou kembali menjadi dirinya yang dulu, dirinya yang hangat dan peduli. Sedangkan Gakushuu, ia mencoba menjadi anak yang ramah dan sopan pada siapapun tanpa memandang status dan derajat, seperti yang diajarkan ibunya dulu.
"Ah, Koro sensei, aku belum memberitahumu ya kenapa aku menerima Aguri sebagai guru di Kunugigaoka?" tanya Gakuhou sambil menatap bulan yang dihancurkan Koro sensei. "Aguri dan Aiko memiliki kepribadian yang mirip. Periang dan selalu bersemangat, dan selain itu, keterampilannya dalam mengajar sudah tidak diragukan lagi, tentu saja." Ia tersenyum sendiri mengingat Aiko dan Aguri, kedua guru terbaik yang pernah dimilikinya.
"Sialan! Kenapa bunganya banyak yang layu begini?" maki Seo pada pengantar bunga.
"Maaf! Sepertinya layu saat di perjalanan! Akan kami ganti dengan yang baru!" sang pengantar bunga membungkuk minta maaf.
Seluruh anggota OSIS bekerja ekstra keras hari itu karena hari kelulusan sudah dekat. Atas saran Gakushuu, sang ketua OSIS, aula tempat mereka akan menyelenggarakan upacara kelulusan sudah tertata rapi dan layak dipandang.
Ren dan Araki sedang mengarahkan anggota yang lain dalam menyusun kursi. "Ke kiri sedikit! Kalau di situ, nanti ruang untuk Kelas A jadi berkurang!" seru Araki.
"Kurang ke kiri? Kurasa itu sudah ada di posisinya yang seharusnya," suara itu mengagetkan Araki, Ren terkejut melihat sosok pemilik suara itu.
"Asano! Sedang apa kau di sini?!" seru Ren.
Gakushuu memasang wajahnya yang dingin tapi berwibawa seperti biasanya. "Aku hanya ingin mengecek secara langsung bagaimana hasil kerja kalian."
"Tidak perlu sebenarnya, Asano. Kami bisa kok memimpin mereka," sahut Araki.
"Di sini, akulah ketua OSISnya. Aku yang bertanggung jawab pula untuk acara ini. Dan aku sendiri yang akan memastikan, kerja anggotaku sudah maksimal," jawab Gakushuu lalu berlalu, mulai mengecek segala sesuatu untuk hari kelulusan.
"Kau tahu, Araki? Kau tidak akan bisa menasihati Asano," kata Ren.
"Ya, Ren, aku tahu itu."
"Aku rasa dia melarikan diri dari Kepala Sekolah,"
"Siapa pula yang betah disuruh bed rest selama tiga minggu lebih?" Araki mendengus lalu meninggalkan Ren.
Semuanya beres, kata Gakushuu dalam hati, aku benar-benar puas. Sebelum ayahnya melihatnya di sekolah itu, ia buru-buru pulang. Sementara anak OSIS di gedung utama sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk upacara kelulusan, anak-anak Kelas E mengadakan sesi berfoto untuk buku tahunan mereka bersama guru gurita mereka.
Malam itu Gakuhou terus menerus menatap langit. Ada sinar laser raksasa yang mengarah ke gunung tempat Kelas E berada. "Sudah waktunya ya?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Ia mendesah lalu kembali mengerjakan pekerjaannya yang tertunda. Karena sibuk mengurusi Gakushuu selama ia sakit, pekerjaan Gakuhou jadi banyak yang menumpuk.
PET..!
"Brengsek!" maki Gakuhou, tangannya menggebrak meja. "Listrik sialan! Kenapa harus mati lampu ketika laptopku kehabisan baterai?!" makinya lagi. "Hilang sudah semua pekerjaanku!" lain kali, sepertinya kau harus mempertimbangkan untuk sering-sering save pekerjaanmu, Kepala Sekolah.
Dengan kesal, Gakuhou beranjak pergi dari ruang kerjanya. Bersenjatakan senter, ia keluar menuju kamar Gakushuu. Langkah kakinya seperti menggema di lantai dua itu. Untuk sampai ke kamar Gakushuu, ia harus melewati dinding yang berisi lukisan dan foto-foto. Tanpa sengaja, cahaya senternya mengenai sebuah foto, menyinarinya sehingga menarik perhatian Gakuhou.
"Ah, foto pernikahanku ya?" ia tertawa geli. "Sudah lama sekali aku tidak melihat foto ini," tentu saja sudah lama sekali, selama lima tahun terakhir ini ia jarang melewati bagian rumah yang ini.
Gakuhou tersenyum sendiri memandang wajah Aiko yang memerah bahagia difoto itu. Gakuhou sendiri tersenyum bahagia sambil mengapit lengan Aiko. Terlintas di benak sang kepala sekolah, masa-masa bahagianya bersama sang istri. Betapa romantisnya momen mereka berdua bahkan ketika Gakushuu sudah lahir.
"Ai shite iru, Aiko-chan," Gakuhou menyentuh wajah Aiko difoto itu, bibirnya tersenyum sedih.
Kakinya kembali melangkah. Samar-samar terang lampu senter yang menyinari foto itu memudar. Pintu berderit ketika Gakuhou membuka pintu kamar anaknya. Cahaya senternya jatuh ke wajah Gakushuu. "Eh? Kenapa tidurnya gelisah seperti itu?" gumamnya lalu menghampiri Gakushuu.
Wajah anak itu terlihat seperti ketakutan dan tangannya terus menarik selimutnya. Gakuhou menduga anaknya bermimpi buruk. Ia duduk di samping Gakushuu lalu menepuk-nepuk wajah anak itu, berusaha membangunkannya. "Gakushuu, bangun," katanya.
"Gakushuu!" seru Gakuhou, cemas melihat anaknya tidur dalam kegelisahan. Mata violet sang junior membuka, penuh teror dan ketakutan.
"Mimpi buruk?" tanyanya. Kapan terakhir kali Gakuhou menanyakan hal seperti ini ke Gakushuu? Ah, rasanya ketika Gakushuu berumur 4 tahun.
Badan anak itu bergetar, matanya masih menatap ayahnya. "Kurasa itu mimpi buruk," gumam Gakuhou, menepuk kepala Gakushuu.
"Aku mimpi," Gakushuu memulai, nafasnya terengah-engah, "Takaoka membunuh Ayah."
Jantung Gakuhou ikutan berdegup kencang. "Apa yang membuatmu bermimpi seperti itu?"
"Aku melihat Ayah terbunuh di depan mataku," sang junior mengabaikan pertanyaan ayahnya. "Darah dimana-mana. Ayah tergeletak begitu saja, menatapku."
"Itu hanya mimpi. Nyatanya aku baik-baik saja," Gakuhou menarik Gakushuu ke rangkulannya.
Badan anak itu bersikeras tidak bergerak, tapi lama-lama ia larut dalam rangkulan ayahnya. "Aku tidak mau melihat kedua orang tuaku mati dihadapanku. Kumohon, Ayah, jangan tinggalkan aku dulu," bisik Gakushuu lirih. Ia menunjukkan sisi lemahnya untuk pertama kalinya dihadapan Gakuhou. "Tidak, aku tidak mau kehilangan Ayah karena aku akan kehilangan saingan. Tapi aku tidak mau kehilangan ayahku, sebagai orang tuaku."
Entah bagaimana, Gakuhou terharu mendengar perkataan anaknya. Ia mengusap sayang rambut Gakushuu, merasa menyesal sudah berlaku dingin padanya selama ini. "Aku juga belum mau meninggalkanmu. Masih banyak yang belum aku ajarkan padamu, Asano Gakushuu. Jika semuanya sudah aku ajarkan, maka saatku akan tiba."
Mereka terdiam beberapa saat. Gakuhou mengakui, ia rindu saat-saat mengobrol dengan anaknya seperti ini. "Apa kau sering bermimpi buruk seperti tadi?"
"Menurut Ayah, dari mana aku mendapatkan kantung mata setebal ini?" jawaban itu mengagetkan Gakuhou. "Biasanya aku bermimpi tentang Ibu. Selalu."
"Seringnya aku memimpikan Ibu menggenggam tanganku dan kami menyeberangi jalan," Gakuhou merinding, itu adalah sata-saat sebelum Aiko tertabrak. "Lalu ada mobil yang menabraknya. Aku melihat darah keluar dari mulut Ibu setelah mobil itu menabraknya. Atau tiba-tiba saja aku bisa memimpikan Ibu yang tergeletak di jalan, berdarah-darah dengan matanya yang masih menatapku."
"Lalu aku tidak bisa tidur lagi. Biasanya aku akan belajar sampai pagi, baru mandi dan bersiap ke sekolah. Aku terus memimpikan kecelakaan itu setelah melihat itu semua terjadi di depan mataku," kalimat terakhir itu terdengar lirih.
"Maaf Ayah tidak mengetahui itu," kata Gakuhou.
"Sudahlah, lupakan saja," Gakushuu tertawa hambar. "Itu sudah 10 tahun yang lalu kan? Aku rasa aku sulit move on."
"Itu sebenarnya laser apa sih?" tanya Gakushuu.
"Sepertinya itu milik pemerintah kita. Untuk membunuh Koro sensei," penjelasan Gakuhou lebih terdengar seperti gumaman. Entahlah, rasanya ia ikut merasa sedih kalau Koro sensei harus mati.
"Begitu ya," gumam Gakushuu, "Aku belum membalasnya untuk segala yang sudah ia lakukan untuk kita."
Gakuhou tidak membalasnya, ia mengambil gelas Gakushuu dan mencampurkan obat tidur di dalamnya. Berdasarkan cerita Gakushuu, sepertinya Gakushuu akan sulit tidur kalau sudah terbangun seperti sekarang. Ia lalu memberikan gelas itu pada Gakushuu, anak itu menerimanya begitu saja, dia tahu ayahnya mencampurkan sesuatu ke dalam airnya, tapi ia tidak peduli.
"Kuharap ini bukan sianida," Gakuhou mendengus mendengar ocehan anaknya.
"Aku mau tidur. Lebih tepatnya aku harus tidur. Besok acara kelulusan," nada bicara Gakushuu mulai melantur, efek obat tidur.
"O~oh… lihat Ayah, ada kunang-kunang dari gunung itu," senyum Gakushuu mengembang, seperti orang mabuk. "Banyak sekali kunang-kunang~nya!"
"Bodoh," rutuk Gakuhou sambil menghembuskan nafas. "Kurasa..mereka berhasil membunuh gurita kuning itu,"
"U~u tako~o," ocehan Gakushuu yang makin abstrak membuat Gakuhou jadi kesal.
Ia menutup mata Gakushuu. "Tidur sana! Aku paling tidak tahan melihatmu teler seperti ini!" serunya, "Rasanya aku ingin sekali memukul wajahmu," tambahnya sambil bergumam melihat wajah Gakushuu yang benar-benar seperti orang mabuk.
"Sa~yonara~ Koro..sensei," separuh diri Gakushuu yang masih sadar menggumamkan hal itu dengan sedih. "Sampaikan salamku ke Ibu~ya!"
Sang kepala sekolah ikut memandang langit malam yang gelap. Di tengah mati lampu yang menghampiri lingkungan mereka, butiran kuning yang terbang di langit itu terlihat jelas. Rasanya Gakuhou bisa merasakan atmosfer kesedihan para murid Kelas E. Mulutnya perlahan membentuk sebuah senyum tulus, "Arigatou, Koro sensei. Arigatou sudah menyatukan keluarga kami, dan menyelamatkan puteraku. Sayonara..".
"Wakare no jikan, arigatou daisuki deshita anata no eeru.."
Pojoknya Author: Nurufufufu maaf menunggu lama! Inilah chapter terakhir dari Sweet Revenge! Terima kasih atas semua dukungan kalian selama ini! Terima kasih juga sudah berkenan menghabiskan waktu kalian membaca fanfic yang OOC nya melenceng jauh ini :v. Setelah chapter ini akan ada Epilog. Kalian bisa kirimkan pertanyaan apapun buat Author di kolom review, dan Author akan menjawab semuanya di Pojoknya Author Epilog! Ditunggu ya minna~
