DESTINY
Naruto hanya milik Masashi Kishimoto-san
Banyak kekurangan dalam fict ini
Typo dimana-mana ( mungkin )
Enjoy This
Opening Word New Method Esoragoto
Aku mendengarkan dongeng saat aku tidak bisa tidur
Mungkin ceritanya hanyalah fiksi
Jika aku terus mengenang masa lalu tentang penyesalanku
Itu karena aku lebih memilih untuk menerimanya dari pada mengelaminya lagi
Mungkin karena ada kegelapan didalam hatiku
Dan aku mencoba untuk tetap yakin
Ya, aku yakin aku masih bisa mencintai diriku sendiri
Bahkan jika dunia terbelah menjadi dua
Pagi akan datang setelah malam
Dan perasaanku sudah terbiasa dengan kegelapan
Aku tidak akan lagi melihat kebelakang dan melangkah kedepan
DAN MEMBUAT INI MENJADI CERITA TANPA SKENARIO
Aku akan menentukan takdirku sendiri
Dan terbang lebih jauh lagi dari sebelumnya
Chapter : 11
.
"Cium aku" ucap Hinata langsung
Mendengar ucapan Hinata, Naruto langsung menolehkan kepalanya kearah Hinata. Naruto mendapat pandangan lurus dari bola mata Hinata. "Hinata sudah gila" fikir Naruto, Naruto menelan ludahnya, jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
"Nee, apa kau mampu membuktikan perkataanmu tadi? Uzumaki Naruto-kun" Hinata memastikan dengan suara yang amat sangat pasti.
"Cium ini... " ucap Naruto sambil menempelkan buku tugas matematikanya kewajah Hinata
"daripada mengurus hal yang tidak penting, lebih baik kau menyalin tugas itu" sambung Naruto
"apakah banyak?" tanya Hinata
"banyak? Kau tidak akan selesai dalam 10 menit sekalipun itu kau menyalin" balas Naruto
"ah ini mudah dan lagipula aku... " ucapan Hinata terhenti karena orang disampingnya berdiri secara mendadak
"kau mau kemana?" tanya Hinata
"toilet, mau ikut?" ucapan yang cukup berani mengajak perempuan ke toilet
"jangan bodoh" balas Hinata cepat
Naruto tak membalas dan keluar dari kelas menuju toilet
.
.
"kau cukup berani, Hinata" ucap Sakura dari jauh
"apa maksudmu? Aku tak mengerti yang kau maksud" Hinata linglung mendadak
Sakura menarik tangan Ino untuk mendekat ke meja Hinata, "oi pelan-pelan, jidat lebar" Ino tak terima, "sudahlah jangan seperti nenek-nenek" balas Sakura. Mereka berdua berjalan kearah meja Hinata, "apa kau sadar tentang ucapanmu tadi?" tanya Sakura pada Hinata,
"ucapanku yang mana?" Hinata menjawabnya dengan malas
"ahh kau ini, ternyata dibalik kecantikanmu itu ada kebodohan yang terpendam sangat banyak" ejek Sakura
"kau tadi juga dengar kan, Ino?" Sakura memastikan
"kau bicara denganku?" jawab Ino sambil menunjuk dirinya sendiri
Pertigaan muncul dijidat Sakura, sungguh tragedi mempunyai sahabat orang idiot. Sakura melirik kearah telinga Ino, "se... se... jak kapan kau memakai earphone itu?" ucap sakura sambil menunjuk lemas kearah telinga Ino.
"hmm... sejak Sensei meninggalkan kelas" jawab Ino sambil melepas earphonenya
"ah, lupakan saja dan ingat Hinata, hanya tinggal besok dan kita akan tahu siapa yang akan menang" ucap Sakura pada Hinata. "kalau aku kalah, memangnya kalian akan memberikanku hukuman seperti apa?" tanya Hinata.
"hmm... kejutan tidak akan menarik kalau diberitahukan terlebih dahulu, iya kan Ino?" Sakura mencari dukungan. Tak ada jawaban dari Ino, "woi Ino... " Sakura memalingkan wajahnya kearah Ino dan mendapatkan telah memasang earphone lagi ketelinganya,"KAU INI... " tak lagi pertigaan yang muncul melainkan sebuah perempatan muncul dijidat Sakura.
.
.
Jam pelajaran terakhir,
"Hei Naruto-kun... " panggil Hinata
"hmm... " dibalas dengan sebuah suara tanpa pergerakan mulut oleh Naruto
"sebentar lagi festival budaya akan diadakan kan?" tanya Hinata basa-basi
"memangnya kenapa?" Naruto mulai menanggapi
"apa kau sudah masuk klub disekolah ini?" Hinata bertanya lagi dan lagi
"kau sudah tahu jawabannya kan? Mana mungkin orang-orang seperti kalian mau, kalaupun diizinkan oleh guru pasti saat berkumpul dengan anggota lain, aku akan dipandang rendah bak sampah" ucap Naruto panjang lebar
"heh, mana mungkin kami seperti itu?" Hinata masih mencoba
"sayangnya itu berlaku bagiku" balas Naruto dingin
"ini sudah tahun kedua kau disini dan kau belum masuk klub manapun" Hinata memperjelas
"sehubungan dengan adanya festival budaya yang akan datang sebentar lagi, bagaimana kalau kau masuk klub ku" Sambung Hinata sambil menawarkan klubnya
Naruto sudah bisa menebak maksud Hinata dari pembicaraan ini. Naruto tak ambil pusing dengan tawaran Hinata, "tidak mau" jawab Naruto santai dengan suara yang meyakinkan.
"hmm... tidak mau ya? Kalau begitu aku akan bilang kepada wali kelas kita kalau kau belum masuk klub apapun selama kau bersekolah disini" balas Hinata dengan suara usil yang dibuat-buat
Naruto seperti kena death match, perkataan yang simple tapi berbahaya bagi Naruto. Kalau sampai wali kelasnya tahu, Naruto akan mendapat penilaian buruk dari guru tersebut. "ah sial, kenapa kau tak membiarkanku hidup dengan tenang" ucap Naruto dalam hati.
"ah kau ini, lalu kalau aku bergabung dengan klub mu itu apa mereka akan memandangku dengan tatapan tak enak?" Naruto langsung ke unsur permasalahan
"maksudmu anggota klub? Tenang saja kalau soal mereka biar aku yang urus" ucap Hinata bangga
"lalu apa setiap pulang sekolah aku harus berkunjung ke ruang klub?" Naruto terus bertanya
"hmm... sepertinya tidak, kami hanya berkumpul kalau sedang mood saja" balas Hinata sambil menerawang langit-langit
"klub macam apa itu" gumam Naruto
"kau mengatakan sesuatu, Uzumaki Naruto-kun?" tanya Hinata sambil menekankan nama Naruto
"lalu klub mu itu klub apa?" tanya Naruto balik tanpa menjawab pertanyaan Hinata
"klub fotografi" balas Hinata cepat
"hmm... kalau klub fotografi otomatis juga harus punya kamera kan?" tebak Naruto
"itu sudah tentu" jawab Hinata yakin
"aku tidak punya kamera" ucap Naruto malas
"aku pinjamkan" balas Hinata cepat
"lalu kau pakai apa?" tanya Naruto lagi
"aku beli lagi" balas Hinata tak kalah cepat dari sebelumnya
Naruto hanya bisa menghela nafas mendengar perkataan Hinata. Naruto berfikir kalau orang kaya hanya membuang-buang uang mereka hanya untuk barang tidak beguna. "apa kau akan terus memaksaku sampai aku mau bergabung?" tanya Naruto memastikan
"itu sudah pasti" balas Hinata
Naruto lagi-lagi menghela nafas panjang, "gadis keras kepala, lagipula kenapa aku harus berurusan dengannya, kita tak pernah akrab kemarin-kemarin. Entah hanya perasaanku saja atau ada hal yang aneh darinya. Kalau saja... "
"kenapa kau melihatku seperti itu?" ucapan Hinata mengaburkan pemikiran Naruto tentang gadis disampingnya.
"entah, mungkin aku tertarik denganmu" jawab Naruto lalu memalingkan kepalanya kearah jendela
"ka... kau... kau tadi berkata apa?" ucap Hinata bermaksud memperjelas ucapan Naruto
"lupakan" jawab Naruto tanpa memalingkan kepalanya
"jadi apa kau mau bergabung?" tanya Hinata lagi
"tidak" jawab Naruto cepat
.
.
.
Bel Pulang Sekolah
Kelas sudah kosong kecuali Naruto yang masih duduk disitu. Ia masih mencatat tulisan dipapan tulis, Naruto beberapa menit lebih lambat daripada yang lain. Selesai dengan catatan tersebut, Naruto segera menutup bukunya dan memasukkannya kedalam tas. Saat hendak berdiri dari bangkunya, terdengar suara pintu yang digeser dengan kasar. "Naruto-kun... !" ucap orang yang menggeser pintu itu.
Naruto memandang malas orang itu, "apa?" tanya Naruto singkat. Orang tersebut adalah Hinata, dia tampak terengah-engah saat terlihat oleh Naruto. Hinata berjalan cepat kearah Naruto kemudian menggapai tangan Naruto. Hinata menarik Naruto dengan cepat
"cepat ikut aku" ucap Hinata cepat
Naruto mencoba mengerem dengan sepatunya, tapi apa daya tarikan perempuan didepannya sangat kuat. "kau akan membawaku kemana, hah?" Naruto mencoba mengelak
"ke ruang guru, aku akan mengatakan kalau kau sama sekali belum bergabung dengan klub manapun" jawab Hinata
"ahh, baiklah kalau begitu. Aku bergabung, mana formulirnya?" Naruto tak mau berurusan dengan guru
"bagus kalau begitu, formulir ada di ruang klub. Kita putar arah" balas Hinata sambil memutar arah yang tadinya menuju ke ruang guru menuju ke ruang klub
Hinata masih menarik tangan Naruto, "kenapa lantai dua saja terasa sangat jauh" ucap Naruto dalam hati. Hinata memperlambat langkahnya, "apa kau pernah berfikir kalau aku itu aneh?" Hinata membuka pembicaraan
"ya, selalu" ucap Naruto dalam hati. "entah, hanya diri sendiri yang menyadari itu" ucapan dari Naruto menanggapi pertanyaan Hinata
"kalau kau menganggapku aneh, itu tak apa bagiku" ucap Hinata pelan
"heh?" Naruto memutar otak untuk memahami kalimat barusan
"selama orang yang menganggapku aneh itu kau, itu tak ap bagiku" Hinata memperjelas ucapannya
Naruto hanya bisa kebingungan dengan pembicaraan ini, "sebenarnya kemana arah pembicaraan ini?" tanya Naruto dalam hati
.
.
Depan Ruang Klub
"Konichiwa Minna" ucap Hinata penuh semangat setelah menggeser pintu ruang klubnya. Semua pandangan langsung mengarah ke sumber suara. "apa-apaan kau ini?" tanya Sakura dengan suara malas.
"jadi apa maksudmu menyuruh kami berkumpul disini?" Ino menambahkan
"kalian ini, jangan banyak mengeluh" balas Hinata cuek
Sedangkan Naruto masih dibalik pintu, Naruto menerawang apa yang akan terjadi selanjutnya setelah mengetahui suara Ino dan Sakura juga ada disana. "ini merepotkan bagiku" ucap Naruto dalam hati
"aku mengumpulkan kalian disini karena sebentar lagi festival budaya akan diadakan disekolah ini dan juga kita mendapatkan anggota baru hari ini" jelas Hinata
"hei, masuklah jangan malu" sambung Hinata bermaksud memanggil Naruto
Naruto melangkah pelan kedalam ruang klub, dengan pandangan malas dia melihat kesemua penjuru ruangan tempat ia berada sekarang. Buku yang tak tertata rapi, selebaran acak-acakan diatas meja, sungguh bukan ruangan yang Naruto harapkan. Naruto mulai menatap semua anggota klub. Disana ada Yamanaka Ino, Haruno Sakura, Inuzuka Kiba, Hyuuga Hinata. Dan Naruto akan bergabung dengan kumpulan manusia yang selalu menganggapnya rendah.
"Jangan berfikir aku bergabung dengan klub ini karena keinginanku sendiri. Tanyakan pada Ojou-sama ini" ucap Naruto sambil mengarahkan pandangannya kearah Hinata.
"apa maksudmu Hinata?" ucap Ino dengan suara keras sambil menggebrak meja
Hinata mendekati Ino dan membisikkan sebuah kalimat, "karena aku tak ingin kalah dengan kalian berdua, dan lagipula dia cukup berguna untuk festival budaya nanti"
Hinata melakukan itu juga pada Sakura dan Kiba, semua hanya bisa pasrah karena apa yang Hinata katakan itu mutlak tidak bisa diganggu gugat. Naruto hanya bisa memandang aneh orang-orang diruangan itu, mereka sungguh menurut kepada Hinata, "dasar bodoh" ucap Naruto dalam hati mengejek anggota klub.
Hinata mengambil selembar kertas dari rak buku kemudian memberikannya pada Naruto, "ini, isilah dengan sunguh-sungguh" ucap Hinata.
Naruto hanya bisa memandang malas kertas didepannya, mau tak mau Naruto harus menerimanya. "aku tidak akan bertahan lama disini" ucap Naruto dalam hati dengan mantap.
Setelah mengisi formulir pendaftaran, Naruto mulai bergabung dalam klub yang tidak jelas itu. "baiklah minna, sebentar lagi festival budaya akan diadakan. Ada yang punya ide tentang apa yang akan kita tampilkan?" Hinata memulai pembahasan
Naruto mengangkat tangannya, semua mata langsung mengarah kepadanya
"yak, kau Naruto-san" ucap Hinata menanggapi angkatan tangan Naruto
Naruto sedikit shock karena dirinya dipanggil dengan suffix seperti itu, "apa anak murid tahun ketiga tidak ada?" tanya Naruto
"hmm... mereka sudah kelas 3, jadi aku kira mereka sudah tidak lagi bergabung dengan klub" jawab Hinata
"untuk apa melakukan diskusi seperti ini, kita lakukan saja seperti tahun kemarin" ucap Kiba dengan suara malas
"tunggu Kiba, kita disini mempunyai seorang juara sekolah, Ayo kita dengar pendapatnya" ucap Ino sambil mengeriyitkan mata kearah Naruto
"benar juga, kita lihat saja apakah dia berguna kalau bergabung atau tidak sama sekali" Sakura menambahi
Naruto mendecih didalam hati, kedua nenek sihir ini sungguh menyebalkan baginya. "baiklah, ayo kita dengar pendapat Naruto-san" ucap Hinata.
"menyebalkan, baiklah mungkin aku akan memberikan sedikit pendapat" ucap Naruto
Naruto mengeluarkan selembar kertas dan bolpoint, "jadi tahun kemarin klub ini mengadakan apa?" tanya Naruto
"kami mengadakan stand foto, foto-foto itu kami kumpulkan sendiri dan kemudian memamerkannya ke pengunjung" jawab Kiba
"dan hasilnya?" Naruto masih bertanya
"kurang memuaskan" jawab semua anggota serempak kecuali Naruto
Naruto hanya berfikir santai tentang hal ini. "baiklah kalau begitu aku simpulkan kalau hal seperti itu tidak akan berhasil dalam festival budaya nanti" ucap Naruto
"Yamanaka-san, berapa banyak gaun yang kau punya dirumah?" tanya Naruto pada Ino
"memangnya kenapa kau sampai tanya berapa gaun yang kau punya, hah?" Ino menjawab dengan suara sebal
"sudah jawab saja" balas Naruto malas
"cukup banyak sampai sampai kalau dijual bisa memenuhi kebutuhan hidupmu" Ino berkata sombong
"baiklah, kalau kau Haruno-san?" Naruto bertanya ke Sakura
"hmm... kurang lebih sama dengan yang Ino miliki" jawab Sakura dengan wajah yang dibuat-buat agar tampak imut
"jangan membuat raut wajah seperti itu, aku tak tertarik" Naruto menyadarinya, sedangkan Sakura sedang menahan emosinya
"kita lanjutkan, hmm... Inuruka-san?" Naruto bermaksud bertanya ke Kiba
"Inuruka? Siapa itu? Namaku Inuzuka Kiba, bodoh" Kiba protes
"terserahlah, apa kau mempunyai gaun?" tanya Naruto santai
"apa kau gila, tentu saja aku tidak punya tapi kalau soal pakaian atau kostum hewan aku punya" jawab Kiba dengan suara keras kemudian mengecil
"hmm... baiklah, terakhir kau, Hi... ahh... Hyuuga-san" Naruto hampir memanggil Hinata dengan nama belakangnya
"aku sudah bilang padamu, panggil saja aku Hinata" ucap Hinata
"pertanyaan seperti yang lain, berapa banyak gaun yang kau punya?" Naruto menanyakan hal yang sama
"kau bertanya kepada orang yang tepat, aku mempunyai banyak jenis gaun, mau aku sebutkan?" Hinata bertanya
"tidak perlu" ucap Naruto sambil menulis semua hasil pertanyaannya
Semua anggota klub masih tidak mengerti tentang hal yang dirancanakannya. Semua penasaran tentang rencana orang yang selalu mereka anggap remeh.
"baca ini baik-baik" ucap Naruto kemudian berdiri
"aku duluan, ada sesuatu yang harus aku kerjakan" sambung Naruto
Hinata langsung mengambil kertas itu, matanya membulat tak percaya dengan rencana Naruto. "bisa kau beritahu kami Hinata?" ucap Ino
"Aku kira dia sungguh berguna diklub ini. Coba kalian lihat dan baca ini" balas Hinata lalu menaruh kertas itu dimeja. Sama halnya dengan Hinata, semua mata membulat melihatnya.
"kita adakan pemotretan kepengunjung. Bawa gaun atau pakaian yang sekiranya menarik untuk dipakai oleh pengunjung. Kita adakan saja diruang klub ini melihat ruangan yang cukup luas, mungkin harus ditata sedikit. Itu hanya ideku, tak dipakai pun itu tidak masalah"
Kiba membaca tulisan itu. "apa ini akan berhasil?" tanya Kiba pada semuanya
"kalau difikir-fikir ide ini tidak buruk juga" ucap Ino
"baiklah, kalau begitu kita pakai saja" ucap Hinata senang.
"tapi ingat Hinata, tinggal besok" Sakura menyela
"aku ingat, tenang saja. besok dia akan berlutut dihadapanku" ucap Hinata dengan pedenya
Kiba yang tak tahu maksud dari pembicaraan itu hanya bisa memasang tampang bodoh, "apa yang kalian bicarakan?" kiba bertanya
"urusan wanita" jawab Hinata, Ino, dan Sakura bersamaan
.
.
Toko Ice Cream
Naruto mebuka pintu belakang dengan cepat, nafasnya terengah-engah, semua pandangan yang ada didapur langsung mengarah ke Naruto. Pundaknya naik turun memperlihatkan ia baru saja mengalami hal yang berat. "apa... apa aku... apa aku terlambat?" tanya Naruto dengan suara terputus-putus.
"hmm, masih ada 5 menit sebelum pergantian shift. Dan kenapa kau tampak berantakan seperti itu?" tanya Yuriko
"syukurlah kalau tidak terlambat" ucap Naruto lega
"hei Naruto, kau belum menjawab pertanyaanku" ucap Yuriko dengan nada kesal
"hah? Ahh... ini semua karena gadis gila yang memaksaku untuk masuk klub disekolah" ucapNaruto sambil berjalan menuju kulkas kemudian mengambil sebotol air.
"gadis gila? Kau masuk klub disekolah? Akhirnya Kami-sama membukakan matamu" ucap Yuriko menanggapi
"ah kau ini, sepertinya kau akan bahagia bila aku menderita, iya kan?" balas Naruto
"tentu" ucap Yuriko sambil mengacungkan jempol
"ah, dan kenapa pelipismu itu?" sambung Yuriko sambil menunjuk pelipis Naruto
"anjing rumahan mengejarku" jawab Naruto dengan memanyunkan bibirnya
Yuriko hanya bisa tersenyum geli melihat ekspresi Naruto seperti itu. Yuriko kemudian mengambil kotak P3K yang terdapat didalam rak tersendiri. "apa kau bisa melakukannya sendiri?" tanya Yuriko saat sampai didepan Naruto, Naruto mendongakkan kepalanya, "hmm... ?" Naruto tak paham
"kau ini, cepat rawat lukamu itu" ucap Yuriko dengan nada kesal
"apa aku bisa?" tanya Naruto balik
"ashh, sepertinya aku akan menjadi kakakmu dalam waktu dekat" ucap Yuriko sambil membersihkan luka dipelipis Naruto
"HEH... ?" Naruto berteriak tak percaya
"tak perlu pakai teriak, bodoh. Lagipula kau bisa mengurus dirimu sendiri" ucap Yuriko lalu menempelkan plester luka
"aligato... Yuliko nee-chan" Naruto membuat suara layaknya anak kecil
"jangan membuat-buat" Yuriko merinding geli atas kelakuan Naruto tadi
Semua karyawan yang ada disitu tertawa bahagia tak terkecuali Naruto yang bisa membuat semuanya senang, sedangkan Yuriko tertawa kecil menertawakan tingkah lakunya setiap hari bersama Naruto.
.
.
"pergantian jam" ucap salah satu karyawan
"baik" balas Naruto
Entah kenapa kalau sore banyak yang datang ketoko ice cream, "kenyataan yang aneh" fikir Naruto. Tapi itu juga berkah baginya dan juga paman pemilik toko. "Naruto, antar ini ke meja no 2 ya" pinta Shirou, seorang karyawan paruh waktu sama seperti Naruto.
"ah, baiklah" Naruto menjalankan itu dengan senang hati
Mengantar pesanan adalah tugasnya, saat Naruto baru keluar dari dapur, pandangannya sudah teralihkan oleh 3 orang perempuan didekat jendela. "sial, sepertinya hidupku semakin kacau" umpat Naruto dalam hati.
3 perempuan itu adalah anak kelas 3 disekolah Naruto. Temari, Ten-ten, dan juga Shion. Naruto pura-pura tidak tahu dengan cara mengalihkan pandangannya kearah lain. Sampai dimeja no 2, Naruto menaruh pesanannya secara perlahan.
"Pelayan, boleh aku lihat menunya" Shion memanggil Naruto, Shion tak tahu kalau pelayan tersebut adalah Naruto. Naruto menoleh dan mendapati 3 perempuan itu memandangnya tak percaya, sedangkan Naruto memasang tampang datar diwajahnya.
"Yuriko nee-san, meja no 4" panggil Naruto
"ah, kenapa tidak kau saja?" balas Yuriko
"kau saja" ucap Naruto lalu berjalan menuju dapur
"dasar, seenaknya saja menyuruh orang yang lebih tua" cibir Yuriko
Yuriko berjalan ke meja no 4 dengan senyum manisnya, "ya, ada yang bisa saya bantu nona?" tanya Yuriko
"bisa kami lihat menunya?" tanya Ten-ten
"ya, ini" ucap Yuriko sambil menyerahkan buku menunya
# 5 menit kemudian
"Naruto, antarkan ini kemeja no 4" ucap Shirou
"heh... ? kenapa tidak kau saja?"
"maaf, muatan penuh, lagipula ada wanita cantik disana" ucap Shirou sambil berjalan keluar dapur
Mau tak mau Naruto harus mengantarkannya, "sudahlah Naruto, antarkan saja" ucap karyawan yang sedang mengangkat setumpuk kardus. "baik" ucap Naruto lemas. Naruto membawa nampan dengan tenang, "tunjukkan wajah datar saja" fikir Naruto.
"sepertinya besok hariku akan menjadi semakin buruk" ucap Naruto dalam hati disela-sela langkahnya. Sampai dimeja no 4, Naruto menaruh piring-piring berisi ice cream itu dengan hati-hati,
"heh... jadi kau bekerja paruh waktu? Apa orang tua mu tidak sanggup memenuhi kebutuhanmu?" ledek Temari
"apa ada yang mengganggumu?" tanya Naruto
"mengganggu, tidak sama sekali kecuali kau yang mempunyai orang tua yang tidak berguna" Temari makin menjadi
"kau tidak tahu apa-apa tentang orang tuaku" ucap Naruto menjadi dingin
"bodoh, aku tahu, orang tua yang menyuruh anaknya bekerja paruh waktu adalah orang tua tak berguna" Temari masih saja melanjutkan sedangkan Shion memasang wajah cemas dan ten-ten hanya melihat hal itu
"sebaiknya kau diam" ucap Naruto menjadi semakin dingin
"kau menyuruhku diam? Apa orang tuamu mengajarkanmu kalau pelayan harusnya tak membelot? Oh iya aku lupa, orang tuamu kan bodoh"
"DIAMLAH WANITA JALANG, KAU TAK TAHU APA-APA TENTANGKU" Naruto menggebrak meja dan meluapkan emosinya
.
.
.
To Be Continued
Yo... maaf kalau updatenya lama,
Ada beberapa karakter yang saya buat disini, jadi harap jangan marah ya
Buat review yang belum dijawab, maaf ya
See You in next chapter
