...

Ada cahaya di mana-mana. Terang, hangat, dan aku berusaha untuk mengabaikannya walau hanya untuk beberapa menit yang sangat berharga. Aku ingin bersembunyi, hanya beberapa menit lagi. Tapi cahayanya terlalu terang, dan akhirnya aku menyerah untuk bangun. Seattle di pagi hari menyapaku - sinar matahari masuk melalui kaca jendela dan menyinari ruangan dengan cahaya yang terlalu terang. Mengapa kita tak menutup tirai semalam? Aku di tempat tidurnya yang besar tanpa Park Chanyeol.

Aku berbaring sejenak melihat dari jendela kaca pemandangan kota Seattle yang sangat indah. Hidup di atas awan pasti terasa tak nyata. Membayangkan - sebuah kastil di angkasa, melayang-layang di atas tanah, aman dari realita kehidupan – melupakan karena ditelantarkan, kelaparan, dan ibu pelacur dan pecandu. Aku ngeri membayangkan apa yang dia alami sewaktu masih kecil, dan aku mengerti mengapa dia tinggal di sini, terisolasi, dikelilingi oleh keindahan, karya seni yang sangat berharga - begitu jauh dimana dia mulai... tentunya itu memang pernyataan misinya. Aku mengerutkan kening karena masih belum menjelaskan mengapa aku tak bisa menyentuhnya.

Ironisnya, aku merasakan kebersamaan di sini di atas menara yang tingginya. Aku hanyut dari kenyataan. Aku di dalam apartemen fantasinya, membayangkan berhubungan intim dengan pacar fantasiku. Kenyataan yang suram saat dia menginginkan perjanjian yang spesial, meskipun dia mengatakan dia akan mencoba untuk melakukan 'lebih'. Apa itu benar-benar seperti yang aku inginkan? Inilah yang aku perlu klarifikasi di antara kita berdua untuk melihat apakah kita masih berada di ujung yang saling berlawanan seperti pada permainan jungkat-jungkit atau kita berdua semakin dekat ke tengahnya.

Aku merangkak keluar dari tempat tidur, merasa kaku, ungkapan yang lebih tepatnya, sering dipakai. Ya, jadi semuanya tentang seks. Bawah sadarku mengerutkan bibirnya menandakan tak setuju. Aku memutar mataku padanya, bersyukur karena yakin bahwa 'tangan berkedut yang gila kontrol' tak berada di dalam kamar, dan memutuskan untuk menanyakan tentang pelatih pribadi. Itu kalau aku menandatangani. Dewi batinku melotot padaku dengan putus asa. Tentu saja kau akan menandatanganinya. Aku mengabaikan mereka berdua, dan setelah ke kamar mandi dengan cepat, aku pergi mencari Chanyeol.

Dia tak berada di galeri seninya, tapi ada seorang wanita setengah baya anggun sedang membersihkan dapur. Pandangannya menghentikanku. Dia memiliki rambut pirang pendek dan mata biru yang bening; dia mengenakan kemeja putih polos yang pas di tubuhnya dan rok pensil berwarna biru tua. Dia tersenyum lebar saat dia melihatku.

"Selamat pagi, Miss Byun. Apakah Anda ingin sarapan?" Nada suaranya hangat tapi agak kaku, dan aku tertegun. Siapa pirang menarik ini yang berada di dapur Chanyeol? Aku hanya mengenakan t-shirt Chanyeol. Aku jadi sadar dan malu dengan kekuranganku dalam berpakaian.

"Aku khawatir anda melihatku pada saat yang tak menguntungkan." Suaraku tenang, tak bisa menyembunyikan kegelisahan dalam suaraku.

"Oh, aku benar-benar minta maaf - aku Mrs. Jones, pengurus rumah Mr. Park."

Oh.

"Apa yang ingin kau lakukan?" aku berhasil mengendalikan suaraku.

"Apakah anda ingin sarapan, ma'am?"

Ma'am!

"Hanya teh pasti menyenangkan, terima kasih. Apakah anda tahu di mana Mr. Park?"

"Di ruang kerjanya."

"Terima kasih."

Aku bergegas ke arah ruang kerja, malu. Mengapa Chanyeol mempunyai pegawai hanya berambut pirang yang menarik untuk bekerja padanya? Dan pikiran jahat datang tanpa sengaja masuk ke dalam pikiranku; apakah mereka semua mantan sub-nya? Aku menolak untuk menyimpan ide yang mengerikan itu. Aku mengulurkan kepalaku dengan malu-malu dari balik pintu. Dia sedang menelepon, menghadap jendela, memakai celana hitam dan kemeja putih. Rambutnya masih basah sehabis mandi, dan aku benar-benar terganggu dengan pikiran negatifku.

"Kecuali jika perusahaan P & L -nya membaik, aku tak tertarik, Ros. Kita tak akan membawa beban yang terlalu berat... Aku tak perlu alasan yang lemah lagi... Pernahkah Marco meneleponku, sialan waktu itu... Ya, katakan pada Barney bahwa prototipe-nya terlihat bagus, meskipun aku tak yakin soal bertemu muka dengannya... Tidak, itu hanya kehilangan sesuatu... aku ingin bertemu dengannya sore ini untuk membahas... Sebenarnya, dia dan timnya, kita bisa bertukar pikiran... Oke. Sambungkan kembali ke Nana..." Dia menunggu, menatap keluar jendela, penguasa dari alam semestanya, menunduk memandangi orang-orang yang terlihat kecil di bawah dari ketinggian kastilnya. "Nana..."

Melirik ke atas, dia melihatku di pintu. Perlahan senyum seksi menyebar di wajahnya yang tampan, dan aku jadi terdiam karena bagian dalam tubuhku meleleh. Tanpa diragukan lagi dia adalah orang yang paling tampan di planet ini, terlalu tampan untuk orang-orang yang terlihat kecil di bawah itu, terlalu tampan untukku.

Tidak, dewi batinku cemberut padaku, tidak terlalu tampan untukku. Dia adalah milikku, untuk saat ini.

Ide itu mengirim sebuah gairah masuk ke dalam darahku dan menghalau perasaan kurang percaya diriku yang tak masuk akal.

Dia melanjutkan pembicaraannya, matanya tak pernah meninggalkanku.

"Kosongkan jadwalku pagi ini, tapi suruh Bill meneleponku. Aku akan disana jam dua. Aku perlu bicara dengan Marco sore ini, itu akan butuh setidaknya setengah jam... Jadwalkan Barney dan timnya setelah Marco atau mungkin besok, dan cari waktu bagiku untuk melihat Claude seharian minggu ini... Katakan padanya untuk menunggu... Oh... Tidak, aku tak ingin publisitas untuk Darfur... Beritahu Sam untuk menghadapinya... Tidak... Acara yang mana?... Sabtu depan? ... Tunggu dulu."

"Kapan kau kembali dari Georgia?" Tanya dia.

"Jumat."

Dia melanjutkan percakapan teleponnya.

"Aku butuh tiket tambahan karena aku punya kencan... Ya Nana, itu yang aku katakan, kencan, Miss Byun Baekhyun akan menemaniku... Itu saja." Dia menutup telepon. "Selamat pagi, Miss Byun."

"Mr. Park," aku tersenyum malu-malu.

Dia berjalan mengelilingi meja dengan anggun seperti biasa dan berdiri di depanku. Baunya sangat wangi; bersih dan bau baju yang baru dicuci. Dengan lembut dia membelai pipiku dengan punggung jarinya.

"Aku tak ingin membangunkanmu, Kau tampak begitu tenang. Apa kau tidur nyenyak?"

"Aku tidur sangat nyenyak, terima kasih. Aku hanya datang untuk menyapa sebelum aku mandi."

Aku menatapnya dalam-dalam. Dia membungkuk dan menciumku dengan lembut, dan aku tak bisa menahan diri. Aku langsung meletakkan tanganku ke lehernya dan memutar jariku di rambutnya yang masih basah.

Mendorong tubuhku yang bergairah padanya, aku membalas ciumannya. Aku menginginkannya. Seranganku membuat dia terkejut, tapi membuat dia kalah, dia membalas, tenggorokannya mengerang pelan. Tangannya menyelip ke rambutku dan ke bawah punggungku menangkup pantatku yang telanjang, lidahnya menjelajahi mulutku. Dia menarik kembali, matanya berkabut.

"Yah, tidur tampaknya sesuai denganmu," bisiknya. "Aku sarankan kau mandi dulu, atau aku akan membaringkanmu di mejaku, sekarang."

"Aku memilih meja," bisikku sembrono karena hasrat yang melanda seperti adrenalin melewati sistemku, membangun segala sesuatu di lewatinya.

Beberapa detik, dia menatapku dengan bingung.

"Kau benar-benar punya selera untuk ini, benarkah, Miss Byun. Kau menjadi tak pernah merasa puas," gumamnya.

"Aku hanya punya selera untukmu," bisikku.

Matanya melebar dan gelap sementara tangannya meremas pantatku yang telanjang.

"Benar sekali, hanya aku," dia mengeram, dan tiba-tiba dengan satu gerakan, dia membersihkan semua rancangan dan kertas dari meja kerjanya hingga mereka menyebar di lantai, membawaku ke dalam pelukannya, dan meletakkan aku di mejanya sampai kepalaku hampir ke tepi meja.

"Kau menginginkannya, kau mendapatkannya, sayang," dia bergumam, mengeluarkan paket foil dari saku celananya saat dia membuka ritsleting celananya. Oh Astaga. Dia menggulung kondom ke bagian tubuhnya yang mengeras dan menatap ke arahku. "Aku yakin kau sudah siap," dia mengambil nafas, senyum penuh nafsu tampak di wajahnya. Dalam sekejap, dia memasuki diriku, menahan pergelangan tanganku dengan erat di sampingku, dan mendorong dalam-dalam ke dalam diriku. Aku merintih... oh ya.

"Ya ampun, Baekhyun. Kau begitu siap," bisiknya memuja.

Kakiku membungkus di pinggangnya, satu-satunya cara, aku hanya bisa menahan dia yang berdiri, menatap ke arahku, mata abu-abu bercahaya, bergairah dan posesif. Dia mulai bergerak, benar-benar bergerak. Ini bukan bercinta, ini hanya berhubungan intim - dan aku menyukainya. Aku mengerang. Ini sangat liar, begitu alami, membuatku begitu nakal. Aku merasa senang di tangannya, hasratnya membuatku puas. Dia bergerak pelan-pelan, menikmati di dalam diriku, memiliki aku, bibirnya sedikit terbuka seiring dengan pernapasannya yang meningkat.

Dia memutar pinggulnya dari satu sisi ke sisi yang lain, dan terasa nikmat sekali.

Oh. Aku memejamkan mata, perasaan itu mulai terbangun – pelan-pelan melangkah menuju kenikmatan, mendaki terus naik.

Mendorongku lebih tinggi, lebih tinggi naik ke kastil di angkasa. Oh... buaiannya meningkat secara fraksional. Aku mengerang keras. Aku berada di dalam semua sensasi... dia, menikmati setiap desakan, setiap dorongan yang mengisiku. Dan dia mempercepat gerakannya, mendorongku lebih cepat... lebih keras... dan seluruh tubuhku bergerak mengikuti iramanya, dan aku bisa merasakan kakiku menjadi kaku, dan bagian dalam tubuhku bergetar dan makin cepat.

"Ayo, sayang, relakanlah untukku," dia membujukku dengan gigi terkatup - dan kebutuhan kuat dalam suaranya - ketegangan – mengirimku sampai ketepian.

Aku berteriak tanpa kata, memohon penuh gairah saat aku menyentuh matahari dan terbakar, jatuh di sekelilingnya, jatuh ke bawah, kembali terengah-engah menuju puncak yang terang ke atas permukaan Bumi. Dia menghempas ke dalam diriku dan tiba-tiba berhenti saat dia mencapai klimaks nya, menarik pergelangan tanganku, dan membenamkan dengan anggun dan tanpa kata di dalam diriku.

Wow... itu tak terduga. Perlahan-lahan aku turun kembali ke permukaan Bumi.

"Apa yang kau lakukan padaku?" Dia mengambil nafas sambil mencium leherku. "Kau benar-benar memperdayaku, kau memiliki sihir yang sangat kuat."

Dia melepaskan pergelangan tanganku, dan aku menjalankan jariku ke rambutnya, perlahan turun dari ketinggianku. Aku masih mengencangkan kakiku di sekelilingnya.

"Aku juga salah satu yang terpedaya," bisikku.

Dia mendongak, menatapku, ekspresinya bingung, bahkan terkejut. Menempatkan tangan di kedua sisi wajahku, dia memegang kepalaku.

"Kau – adalah - milikku," katanya, menekankan setiap kata -katanya. "Apa kau mengerti?"

Dia begitu sungguh-sungguh, penuh gairah – seperti seorang zelot. Permintaannya yang kuat begitu tak terduga dan melumpuhkan. Aku heran mengapa dia merasa seperti ini.

"Ya, aku milikmu." bisikku, terbawa oleh gairahnya.

"Apa kau yakin harus pergi ke Georgia?"

Aku mengangguk perlahan. Dan dalam waktu yang singkat, aku bisa melihat perubahan ekspresinya. Tiba-tiba dia menarik diri, membuatku meringis.

"Apa kau merasa nyeri?" Tanya dia, bersandar di atasku.

"Sedikit," aku mengaku.

"Aku suka kau sakit." Matanya membara. "Mengingatkan di mana aku sudah memilikmu, dan hanya aku."

Dia mengenggam daguku dan menciumku dengan kasar, kemudian berdiri dan tangannya meraih untuk membantuku. Aku melirik paket foil di sampingku.

"Selalu siaga," bisikku.

Dia menatapku bingung sambil menarik retsleting celananya. Aku mengangkat paket kosong.

"Seorang pria bisa berharap, Baekhyun bahkan dalam mimpi, dan terkadang mimpi-mimpinya bisa menjadi kenyataan."

Suaranya kedengarannya sangat aneh, matanya terbakar. Aku benar-benar tak mengerti. Pasca senggamaku yang bergelora segera memudar dengan cepat. Apa masalahnya?

"Jadi, di atas mejamu, pernah menjadi sebuah impian?" Tanyaku acuh tak acuh, mencoba bercanda untuk meringankan suasana di antara kami.

Dia tersenyum penuh misterius yang tak mencapai matanya, dan langsung aku tahu ini bukan pertama kalinya dia berhubungan intim di atas mejanya. Pemikiran yang tak diinginkan. Aku menggeliat tak nyaman karena pasca senggamaku yang bergelora sudah menguap.

"Lebih baik aku segera mandi." Aku berdiri dan berjalan melewatinya.

Dia mengerutkan kening dan mengacak-acak rambutnya.

"Aku harus menelepon dua panggilan lagi. Aku akan bergabung denganmu untuk sarapan begitu kau selesai mandi. Kurasa kemarin Mrs. Jones sudah mencuci pakaianmu. Dan sekarang sudah di letakkan di dalam lemari."

Apa? Kapan dia melakukan itu? Astaga, apa dia bisa mendengar kita? Mukaku memerah.

"Terima kasih," aku bergumam.

"Terima kasih kembali," jawabnya secara otomatis, tapi ada nada lain dalam suaranya.

Aku tak mengatakan terima kasih untuk berhubungan intim denganku. Meskipun, itu sangat...

"Apa?" Tanyanya, dan aku menyadari aku mengerutkan kening.

"Ada yang salah?" Tanyaku pelan.

"Apa maksudmu?"

"Yah.. kau menjadi lebih aneh dari biasanya."

"Kau mendapati aku jadi aneh?" Dia mencoba menahan senyum.

Aku malu.

"Kadang-kadang."

Dia memperhatikanku sejenak, matanya spekulasi.

"Seperti biasa, aku terkejut denganmu, Miss Byun."

"Terkejut bagaimana?"

"Anggap saja kenikmatan yang tak terduga."

"Kami bertujuan untuk menyenangkan, Mr. Park." Aku memiringkan kepala ke satu sisi seperti yang sering dia lakukan padaku dan menirukan kata-katanya yang biasa dia ucapkan.

"Dan kau memang sudah menyenangkanku," katanya, tapi dia terlihat gelisah. "Aku pikir kau harus mandi."

Oh, dia mengusirku.

"Ya... hmm, aku akan segera menemuimu." Aku bergegas keluar dari ruang kerjanya benar-benar tercengang.

Dia terlihat bingung. Mengapa? Aku harus katakan semata pengalaman fisik, itu sangat memuaskan. Tapi secara emosional - yah, aku bingung dengan reaksinya, dan itu tentang memperkaya emosional seperti kembang gula kapas yang bergizi.

Mrs. Jones masih di dapur.

"Anda mau minum teh sekarang, Miss Byun?"

"Aku akan mandi dulu, terima kasih," aku bergumam dan keluar dengan cepat dari ruangan.

Di kamar mandi, aku mencoba untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan Chanyeol. Dia orang yang paling rumit yang aku tahu, dan aku tak bisa memahami suasana hatinya yang selalu berubah. Dia sangat menyenangkan saat aku masuk ke ruang kerjanya. Kita berhubungan intim... dan kemudian dia berubah. Tidak, aku tidak mengerti. Aku menatap bawah sadarku. Dia bersiul dengan tangannya di belakang punggungnya dan melihat dimana-mana kecuali padaku. Dia belum mendapat petunjuk, dan dewi batinku masih diliputi sisa pasca-senggama yang bergelora. Tidak - kami semua tak mengerti.

Aku mengeringkan rambutku dengan handuk, menyisir dengan satu sisir Chanyeol dan menata rambutku menjadi sanggul. Gaun plum Luhan sudah dicuci dan disetrika, digantung di dalam lemari bersama dengan bra dan celana dalamku yang sudah bersih. Mrs Jones adalah seorang yang hebat. Setelah memakai sepatu Luhan, aku merapikan gaunku, mengambil napas dalam-dalam, dan kembali ke ruang besar.

Chanyeol masih tak terlihat, dan Mrs. Jones sedang memeriksa isi lemari dapur.

"Teh sekarang, Miss Byun?" Tanya dia.

"Ya, terima kasih." Aku tersenyum padanya. Sekarang aku merasa sedikit lebih percaya diri karena aku sudah berpakaian.

"Apakah Anda ingin sesuatu untuk dimakan?"

"Tidak, terima kasih."

"Tentu saja kau akan mendapatkan sesuatu untuk dimakan," bentak Chanyeol, melotot. "Dia suka pancake, bacon, dan telur, Mrs. Jones."

"Ya, Mr. Park. Apa yang anda inginkan, Sir?"

"Tolong, Omelet, dan beberapa buah." Dia tak melepaskan pandangan mata dariku, ekspresinya tak terduga. "Duduklah," dia memerintah, menunjuk ke salah satu dari kursi bar.

Aku menurut, dan dia duduk di sampingku sementara Mrs. Jones menyibukkan diri membuatkan sarapan. Ya ampun, terasa mengerikan ada orang lain yang bisa mendengarkan percakapan kami.

"Apa kau sudah membeli tiket?"

"Belum, aku akan membelinya saat aku pulang - melalui Internet."

Dia bersandar pada siku tangannya, sambil mengusap dagunya.

"Apa kau punya uang?"

Oh tidak.

"Ya," kataku dengan pura-pura sabar seolah-olah aku sedang berbicara dengan anak kecil.

Dia mengangkat alis mengecamku. Sialan.

"Ya, aku punya, terima kasih," aku memperbaiki dengan cepat.

"Aku memiliki pesawat jet. Menurut jadwal tak akan digunakan sampai tiga hari kedepan, jika kau menginginkan."

Aku menganga padanya. Tentu saja dia memiliki pesawat jet, dan aku harus melawan kecenderungan alami tubuhku untuk memutar mata padanya. Aku ingin tertawa. Tapi aku tak melakukannya, karena aku tak bisa membaca suasana hatinya.

"Kita secara serius sudah menyalahgunakan armada penerbangan perusahaanmu. Aku tak ingin melakukannya lagi."

"Ini perusahaanku, itu jetku." Nada suaranya hampir terluka. Oh, cowok dan mainannya!

"Terima kasih atas tawarannya. Tapi aku akan lebih senang mengambil sebuah penerbangan yang terjadwal."

Dia terlihat seperti ingin berdebat lebih lanjut tapi memutuskan untuk tak melakukannya.

"Terserah kamu," dia mendesah. "Apa kau perlu melakukan banyak persiapan untuk wawancaramu?"

"Tidak."

"Bagus. Kamu masih tak ingin memberitahuku perusahaan penerbitan yang mana?"

"Tidak."

Bibirnya bergelung dengan senyum ragu.

"Aku seorang yang terkemuka, Miss Byun."

"Aku sepenuhnya menyadari itu, Mr. Park. Apa kamu akan melacak ponselku?" aku bertanya polos.

"Sebenarnya, aku akan cukup sibuk siang ini, jadi aku harus menyuruh orang lain untuk melakukannya."

Dia menyeringai.

Apa dia bercanda?

"Jika kau bisa mencadangkan seseorang untuk melakukan itu, kamu jelas kelebihan pegawai.". "Aku akan mengirim email pada kepala personalia dan untuk memeriksa jumlah pegawai kami." Bibirnya berkedut menyembunyikan senyumnya.

Oh terima kasih Tuhan, rasa humornya sudah kembali.

Mrs. Jones menyajikan sarapan dan untuk beberapa saat kita makan dengan diam. Setelah membersihkan panci, dengan bijaksana, dia keluar dari ruangan. Aku mengintip ke arahnya.

"Apa, Baekhyun?"

"Kau tahu, kau tak pernah memberitahuku mengapa kau tak suka disentuh."

Dia memucat, dan reaksinya membuatku merasa bersalah karena menanyakan itu.

"Aku sudah menceritakan padamu lebih dari yang pernah aku ceritakan pada siapapun." Suaranya tenang saat dia menatap ke arahku tanpa ekspresi.

Dan itu jelas bagiku bahwa dia tak pernah menceritakan rahasianya pada siapapun. Bukankah dia punya teman dekat? Mungkin dia menceritakan pada Mrs. Yuri? Aku ingin bertanya, tapi aku tak bisa - aku tak bisa mengorek secara bertubi-tubi. Aku menggeleng kepalaku saat menyadari itu. Dia benar-benar seperti sebuah pulau.

"Akankah kau akan memikirkan tentang aturan kita saat kau pergi?" Tanyanya.

"Ya."

"Akankah kau merindukanku?"

Aku menatap dia, terkejut dengan pertanyaannya.

"Ya," jawabku jujur.

Bagaimana mungkin dia bisa sangat berarti bagiku dalam waktu yang singkat? Dia ada di bawah tubuhku... sungguh. Dia tersenyum dan matanya menyala.

"Aku akan merindukanmu juga. Lebih dari yang kau tahu," dia mengambil nafas.

Hatiku menghangat dengan kata-katanya. Dia benar-benar mencoba dengan keras. Dengan lembut dia membelai pipiku, membungkuk, dan mencium lembut.

...

Sudah sore, dan aku duduk gugup dan gelisah di lobi menunggu Mr. J. Hyde dari Seattle Independent Publishing. Ini adalah wawancaraku yang kedua hari ini, dan yang paling membuatku cemas. Wawancara pertamaku berjalan baik, tapi itu untuk konglomerat besar yang memiliki kantor di seluruh Amerika Serikat, dan aku akan menjadi salah satu dari banyak asisten redaksi di sana. Aku bisa membayangkan ditelan dan dimuntahkan dengan sangat cepat dari mesin perusahaan.

SIP adalah tempat yang aku inginkan. Kecil dan tidak konvensional, memperjuangkan penulis lokal, dan memiliki daftar nama yang menarik dan unik dari pelanggan.

Di sekitarku tak banyak barang atau mebel, tapi aku pikir itu adalah memang desainnya bukannya untuk berhemat. Aku duduk di salah satu dari dua sofa warna hijau tua model chesterfield yang terbuat dari bahan kulit - tak berbeda dengan sofa Chanyeol yang ada didalam ruang bermainnya. Aku mengelus bahan kulit yang halus itu dan iseng bertanya-tanya apa yang Chanyeol lakukan di atas di sofa itu. Pikiranku mengembara saat aku memikirkan kemungkinan... tidak - aku tak boleh berpikir ke sana sekarang. Mukaku memerah dengan pikiranku yang bandel dan tak pantas itu.

Resepsionisnya seorang wanita Afrika-Amerika muda dengan anting-anting perak yang besar dan rambut panjang lurus. Dia berpenampilan seperti seorang gypsy, tampaknya wanita yang bisa diajak bersahabat. Pemikiran yang menghibur. Sesekali, dia melirikku, berpaling dari komputernya dan tersenyum menenangkan. Dengan ragu-ragu aku membalas senyumnya.

Penerbangan sudah kupesan; ibuku berada di langit ke tujuh saat tahu aku akan mengunjunginya; aku sudah berkemas, dan Luhan setuju untuk mengantarku ke bandara. Chanyeol telah menekankan padaku untuk membawa BlackBerry dan Laptop Mac-ku. Aku memutar mataku saat mengingat betapa bossy dia, tapi aku sadar sekarang bahwa memang dia seperti itu. Dia suka mengendalikan semuanya, termasuk aku. Namun dia begitu tak terduga dan bisa menyenangkan juga. Dia bisa bersikap lembut, periang, bahkan manis. Secara tiba-tiba dia bersikeras untuk menemaniku turun menuju mobilku yang ada di garasi. Ya ampun, aku hanya pergi beberapa hari, dia bertindak seperti aku akan pergi selama berminggu-minggu. Dia membuatku supaya bisa bertahan secara permanen.

"Byun Baekhyun?" Seorang wanita yang tinggi, dengan model rambut pra-Raphaelite hitam berdiri di dekat meja resepsionis mengalihkan perhatianku dari introspeksiku. Dia sama-sama bergaya gypsi, tampilan ramah seperti resepsionis itu. Dia mungkin berusia akhir tiga puluhan, mungkin empat puluhan. Sangat sulit untuk mengetahui umur wanita yang lebih tua.

"Ya," jawabku, berdiri dengan canggung.

Dia memberiku senyuman sopan, mata cokelat dinginnya menilaiku. Aku mengenakan salah satu gaun Luhan, model pinafore warna hitam yang menutupi blus putih, dan sepatu hitamku. Aku pikir sangat cocok untuk wawancara. Rambut kuikat model ekor kuda, dan kubiarkan sedikit bersulur... dia menyalamiku.

"Hai, Baekhyun, namaku Elizabeth Morgan. Aku Kepala personalia SIP."

"Bagaimana kabar anda?" Aku menjabat tangannya. Dia terlihat sangat kasual untuk menjadi seorang kepala Personalia.

"Silahkan ikut denganku."

Kami berjalan melalui pintu ganda yang letaknya di belakang ruang tunggu, masuk ke dalam ruangan luas dan terang yang dirancang untuk kantor yang terbuka, dari sana, masuk ke ruang rapat yang kecil. Dindingnya berwarna hijau muda, tergantung foto cover buku yang berderet. Di ujung meja rapat Maplewood duduk seorang pria muda dengan rambut merah yang dikuncir. Anting kecil, perak berkilau di kedua telinganya. Dia memakai kemeja biru muda, tanpa dasi, dan celana flanel abu-abu. Saat aku mendekatinya, dia berdiri dan menatap ke arahku dengan mata biru gelap yang tak bisa diduga.

"Byun Baekhyun, Aku Jack Hyde, redaksi pelaksana di SIP, dan aku sangat senang bertemu denganmu."

Kami bersalaman, dan ekspresi yang gelap tak dapat dibaca, tapi cukup ramah.

"Apa kau melakukan perjalanan jauh?" Tanya dia ramah.

"Tidak, aku baru saja pindah di daerah Pike Street Market."

"Oh, tak jauh sama sekali. Silahkan duduk."

Aku duduk, dan Elizabeth mengambil tempat duduk di sampingnya.

"Jadi, mengapa kau ingin magang di SIP kami, Baekhyun?" Tanya dia.

Dia memanggil namaku dengan lembut dan kepalanya miring ke satu sisi, seperti seseorang yang aku kenal - itu mengerikan. Berusaha sebaik mungkin untuk mengabaikan kecemasan yang tak rasional yang dia berikan, aku memulai memberi penjelasan yang sudah kupersiapkan dengan cermat, sadar bahwa rona kemerahan menyebar di seluruh pipiku. Aku menatap mereka berdua, mengingat pelajaran Teknik Wawancara Yang Sukses ala Luhan -pertahankan kontak mata, Ana! Wah, kadang-kadang wanita itu bisa menjadi bossy juga. Jack dan Elizabeth mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Anda memiliki IPK yang sangat mengagumkan. Kegiatan ekstra kurikuler apa yang kau suka lakukan di WSU?"

Yang aku suka? Aku berkedip padanya. Sebuah pilihan kata yang ganjil. Aku menjelaskan dengan detil dimulai dari aku sebagai manajemen perpustakaan di perpustakaan kampus pusat, dan satu pengalamanku mewawancarai seseorang yang kaya, menjijikkan, lalim untuk majalah kampus. Aku mengabaikan bagian bahwa aku tidak menulis artikel itu. Aku menyebutkan dua tokoh sastra yang aku kenal dan mengakhiri bahwa aku pernah bekerja di toko Clayton dan semua pengetahuan yang tak berguna yang sekarang aku miliki tentang hardware dan Web.

Mereka berdua tertawa, merupakan respon yang kuharapkan. Perlahan, aku santai dan mulai menikmati diriku sendiri.

Jack Hyde bertanya dengan jeli, pertanyaan yang cerdas, tapi aku tak takut - Aku bisa mengimbangi, dan saat kita membahas pilihanku membaca dan buku-buku favoritku, aku pikir aku menjadi diriku sendiri. Sebaliknya, Jack tampaknya hanya menyukai karya sastra Amerika yang ditulis setelah tahun 1950. Tak ada yang lain.

Bukan karya klasik - bahkan bukan Henry James atau Upton Sinclair atau F Scott Fitzgerald. Elizabeth tidak mengatakan apa-apa, hanya mengangguk sesekali dan mengambil catatan. meskipun Jack suka berdebat, tapi cara berdebatnya menarik, dan kecurigaanku pada awalnya semakin lama makin berkurang saat kita bicara.

"Dan kau ingin dimana pada waktu lima tahun mendatang?" Tanya dia.

Dengan Park Chanyeol, pikiran itu datang tanpa sengaja masuk ke dalam kepalaku. Pikiranku yang berkelana membuatku mengerutkan kening.

"Mungkin menyalin, mengedit? Mungkin seorang agen sastra, aku tak yakin. Aku terbuka terhadap berbagai peluang."

Dia menyeringai.

"Bagus, Baekhyun. Aku tak memiliki pertanyaan lagi. Apakah kau punya?" Dia menujukan pertanyaannya padaku.

"Kapan kau ingin seseorang untuk memulai pekerjaan ini?" Tanyaku.

"Sesegera mungkin," Elizabeth menjawab. "Kapan kau bisa mulai?"

"Aku siap mulai minggu depan."

"Baik," kata Jack.

"Jika semuanya sudah selesai," Elizabeth melirik kami berdua, "Aku pikir wawancara ini kita akhiri." Dia tersenyum ramah.

"Senang bertemu denganmu, Baekhyun," kata Jack lirih sambil meraih tanganku. Dia meremas dengan lembut, sehingga aku berkedip ke arahnya saat aku mengucapkan selamat tinggal.

Aku merasa tak tenang saat aku berjalan ke mobilku, meskipun aku tak yakin mengapa. Aku rasa wawancaranya berjalan dengan baik, tapi begitu sulit untuk mengatakan. Tampaknya situasi wawancara seperti dibuat-buat, setiap orang mengeluarkan sikap terbaiknya dan berusaha keras untuk bersembunyi di balik penampilan yang profesional. Apakah penampilanku cocok? Aku harus menunggu dan melihatnya. Aku naik ke Audi A3 dan kembali ke apartemen, Bagaimanapun aku menghabiskan waktu dengan dua wawancara. Aku akan mengantuk saat singgah di Atlanta, tapi penerbanganku pada pukul10:25 malam ini, jadi aku masih memiliki banyak waktu.

Luhan sedang membongkar kotak di dapur saat aku kembali.

"Bagaimana wawancaranya?" Dia bertanya, bersemangat. Hanya Kate yang bisa tampak cantik dengan kemeja kedodoran, celana jins compang-camping, dan bandana biru tua.

"Bagus, terima kasih, Lu. Tak yakin bahwa pakaian ini cukup cocok untuk wawancara kedua."

"Oh?"

"Model Boho chic mungkin bisa sesuai."

Luhan mengangkat alis.

"Kau dan boho chic?" Dia memiringkan kepalanya ke satu sisi - Hah! Mengapa semua orang mengingatkan Fifty Shades favoritku? "Sebenarnya, Baekhyun, kau adalah salah satu dari sedikit orang yang benar-benar bisa berpenampilan menarik."

Aku menyeringai.

"Aku sangat menyukai tempat yang kedua. Ku rasa aku bisa pas di sana. Meskipun orang yang mewawancaraiku sangat mengerikan." Aku terdiam - sial aku ingin membicarakan sinyal kabut pada Luhan. Diam Baekhun!

"Oh?" Radar Luhan berguna untuk mengambil tindakan mengorek informasi berita gembira yang menarik - berita menarik yang hanya akan muncul kembali pada saat yang tak tepat dan memalukan, yang mengingatkanku.

"Kebetulan - tolong berhenti memprovokasi Chanyeol? Komentarmu tentang Kai saat makan malam kemarin sudah keluar dari jalur. Dia pria yang sangat pencemburu. Kamu tahu itu tak ada gunanya."

"Dengar, jika dia bukan saudara Sehun aku akan mengatakan yang lebih buruk. Dia nyata-nyata gila kontrol. Aku tak tahu bagaimana kau bisa tahan. Aku mencoba untuk membuatnya cemburu - memberinya sedikit bantuan dengan masalah komitmennya." Dia memegang kedua tangannya ke atas untuk membela diri. "Tapi - jika kau tak ingin aku mengganggu, aku tak akan melakukan lagi," katanya buru-buru pada skap cemberutku.

"Bagus. Hidup dengan Chanyeol sudah cukup rumit, percayalah."

Astaga, aku terdengar seperti dia.

"Baekhyun," dia berhenti sejenak untuk menatapku. "Kau baik-baik saja, kan? Kau tak menengok ibumu untuk melarikan diri kan?"

Mukaku memerah.

"Tidak Lu. Kau yang bilang aku butuh liburan."

Dia menutup jarak antara kami dan mengambil tanganku – Seperti sesuatu yang bukan Luhan biasa lakukan.

Oh tidak... air mata mengancam akan keluar.

"Aku tak tahu, kau hanya... berbeda. Aku harap kau baik-baik saja, dan apa pun masalah yang kau alami dengan Mr. kaya raya, kau bisa bicara denganku. Dan aku akan mencoba untuk tak menendangnya, meskipun terus terang itu seperti menembak ikan di dalam tong. Lihat, Baekhyun, jika ada sesuatu yang salah, kau akan memberitahuku, aku tak akan menghakimi. Aku akan mencoba untuk mengerti."

Aku berkedip menahan tangis.

"Oh, Lu." Aku memeluk dia. "Aku pikir aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya."

"Baek, siapapun bisa melihat itu. Dan diapun jatuh cinta padamu. Dia tergila-gila padamu. Tak bisa melepaskan pandangan matanya padamu."

Aku tertawa tak yakin.

"Apa menurutmu begitu?"

"Bukankah dia mengatakan padamu?"

"Tak begitu banyak kata."

"Sudahkah kau mengatakan padanya?"

"Tak begitu banyak kata." Aku mengangkat bahu meminta maaf.

"Baekhyun! Seseorang harus melakukan langkah pertama, jika tidak, kau tak akan pernah menuju kemanapun."

Apa... mengatakan padanya bagaimana perasaanku?

"Aku hanya takut aku akan membuatnya ketakutan dan dia akan pergi."

"Dan bagaimana kau tahu bahwa dia tak memiliki perasaan yang sama?"

"Chanyeol, takut? Aku tak bisa membayangkan dia takut akan sesuatu." Tapi saat yang aku mengucapkan kata-kata itu, aku membayangkan dia sebagai anak kecil. Mungkin rasa takut hanyalah yang ia tahu. Kesedihan mencengkeram dan meremas hatiku karena memikirkan hal itu.

Luhan menatap ke arahku dengan mengerutkan bibir dan memicingkan matanya, agak mirip dengan bawah sadarku - yang dia butuhkan adalah kacamata model setengah lingkaran.

"Kalian berdua perlu duduk dan berbicara satu sama lain."

"Kami belum melakukan banyak pembicaraan akhir-akhir ini." Mukaku memerah. Lain hal dengan komunikasi non-lisan dan itu oke. Yah, lebih dari oke.

Dia tersenyum lebar.

"Itu akan menjadi menggairahkan! Kalau itu berjalan dengan baik, maka itu adalah setengah dari pertempuran Baek. Aku akan membeli makanan Cina untuk dibawa pulang. Apa kau sudah siap untuk berangkat?"

"Aku akan siap-siap - kita masih punya waktu selama dua jam atau lebih."

"Tak lama - Aku akan kembali dalam dua puluh menit." Dia meraih jaketnya dan keluar, lupa menutup pintu. Aku menutupnya dan masuk ke kamar tidurku merenungkan kata-katanya.

...

Apa Chanyeol takut perasaannya terhadapku? Apa mungkin dia punya perasaan padaku? Kata-katanya sangat antusias bahwa aku miliknya - tapi itu hanya bagian darinya, aku harus memiliki dan memiliki semuanya sekarang, tentu saja termasuk dominan yang punya kontrol aneh. Aku menyadari bahwa selama aku pergi, aku harus mengingat semua pembicaraan kami lagi dan melihat apakah aku bisa menemukan pertanda.

Aku akan merindukanmu juga... lebih dari yang kau tahu... Kau benar-benar memperdayaku...

Aku menggelengkan kepala. Aku tak ingin berpikir tentang hal itu sekarang. BlackBerry-ku lagi di charge, jadi aku belum membukanya sepanjang sore. Saat membukanya, aku merasa kecewa karena tak ada pesan. Aku beralih pada laptop, dan juga tak ada pesan disana. Alamat email yang sama Baekhyun- bawah sadarku memutar matanya ke arahku, dan untuk pertama kalinya, aku mengerti mengapa Chanyeol ingin memukulku saat aku melakukan itu.

Oke. Baik, aku akan menulis email untuk dia.

Dari: Byun Baekhyun

Perihal: Wawancara

Tanggal: 30 Mei 2011 18:49

Untuk: Park Chanyeol

Dear Sir

Hari ini wawancaraku berjalan lancar.

Mungkin kamu tertarik.

Bagaimana dengan harimu?

Baekhyun

Aku duduk dan memelototi layar. Tanggapan Chanyeol biasanya spontan. Aku menunggu... dan menunggu, dan akhirnya aku mendengar suara ping dari inbox-ku.

Dari: Park Chanyeol

Perihal: Hariku

Tanggal: 30 Mei 2011 19:03

Untuk: Byun Baekhyun

Dear Miss Byun

Semua yang kau lakukan menarik bagiku, Aku tahu kau adalah wanita yang sangat mempesona.

Aku senang wawancaramu berjalan lancar.

Pagiku adalah melebihi semua harapan.

Dibandingkan dengan soreku, sangat membosankan.

Park Chanyeol

CEO, Park Enterprises Holdings Inc

Dari: Byun Baekhyun

Perihal: Pagi Yang Menyenangkan

Tanggal: 30 Mei 2011 19:05

Untuk: Park Chanyeol

Dear Sir

Pagi itu menjadi teladan bagiku juga, meskipun kamu menjadi 'aneh' terhadapku setelah kejadian yang 'sempurna' di meja seks. Jangan berpikir aku tak memperhatikan.

Terima kasih untuk sarapannya. Atau terima kasih untuk Mrs. Jones.

Aku ingin mengajukan pertanyaan tentang dirinya – saat kau tak 'aneh' padaku lagi.

Baekhyun

Jariku menekan tombol kirim, dan aku yakin bahwa aku akan berada di sisi lain dari benua ini pada esok hari.

Dari: Park Chanyeol

Perihal: Kamu dan Penerbit?

Tanggal: 30 Mei 2011 19:10

Untuk: Byun Baekhyun

Baekhyun

'Aneh' bukan kata kerja dan tak boleh digunakan oleh siapa saja yang ingin masuk ke penerbitan.

'Sempurna'? Dibandingkan dengan apa, tolong katakan? Dan apa yang perlu kau tanyakan tentang Mrs. Jones? Aku tertarik.

Park Chanyeol

CEO,Park Enterprises Holdings Inc

Dari: Byun Baekhyun

Perihal: Kamu dan Mrs. Jones

Tanggal: 30 Mei 2011 19:17

Untuk: Park Chanyeol

Dear Sir

Bahasa sudah berkembang dan bergerak. Ini merupakan hal yang seimbang. Bukan terjebak di dalam menara gading, dindingnya bergantung karya-karya seni mahal dan bisa melihat hampir semua pemandangan kota Seattle dengan helipad yang terjebak di atapnya.

'Sempurna' - dibandingkan dengan saat lain yang kita miliki... apa istilahmu... oh ya... bersetubuh. Sebenarnya menurut pendapatku bersetubuh adalah periode yang cukup sempurna - tapi seperti yang kau tahu aku memiliki pengalaman yang sangat terbatas.

Apa Mrs. Jones mantan sub-mu?

Baekhyun

Jariku melayang sekali lagi menekan di atas tombol kirim.

Dari: Byun Baekhyun

Perihal: Bahasa. Jaga Mulutmu!

Tanggal: 30 Mei 2011 19:22

Untuk: Byun Baekhyun

Baekhyun

Mrs. Jones adalah seorang pegawai yang berharga. Aku tak pernah memiliki hubungan dengan dia selain hubungan profesional. Aku tak mempekerjakan seseorang yang sudah pernah berhubungan seksual denganku. Aku terkejut bahwa kau bisa berpikir seperti itu. Satu-satunya orang yang akan aku buat pengecualian untuk aturan ini adalah dirimu - karena kau seorang wanita muda yang cerdas, punya kemampuan negosiasi yang luar biasa.

Padahal, jika kau terus menggunakan bahasa seperti itu, aku mungkin perlu mempertimbangkan kembali untuk membawamu ke sini. Aku senang kau memiliki pengalaman terbatas. Pengalamanmu akan terus terbatas -hanya untukku. Aku harus menerima istilah 'sempurna' sebagai pujian - walaupun denganmu, aku tak pernah yakin kalau itu yang kau maksud, atau kata-kata ironismu semakin lebih baik - seperti biasanya.

Park Chanyeol

CEO, Park Enterprises Holdings Inc Dari Menara Gading-nya

Dari: Byun Baekhyun

Perihal: Tidak untuk semua teh di Cina

Tanggal: 30 Mei 2011 19:27

Untuk: Park Chanyeol

Dear Mr Park

Aku rasa aku sudah menyatakan keberatanku bekerja untuk perusahaanmu. Pandanganku ini belum berubah, tidak berubah, dan tak akan pernah berubah. Aku harus meninggalkanmu sekarang, karena Luhan sudah kembali membawa makanan. Perasaan ironisku dan diriku mengucapkan selamat malam padamu.

Aku akan menghubungimu begitu aku tiba di Georgia.

Baekhyun. Dari: Park Chanyeol

Perihal: Bahkan Twinings English Breakfast Tea?

Tanggal: 30 Mei 2011 19:29

Untuk: Byun Baekhyun

Selamat malam Baekhyun.

Aku harap kau dan perasaan ironismu memiliki penerbangan yang aman.

Park Chanyeol

CEO, Park Enterprises Holdings Inc

...

Luhan dan aku berhenti di luar area pengantar di terminal bandara Sea-Tac. Dia memelukku dengan erat.

"Nikmati Barbados, Lu. Semoga menjadi liburan yang indah."

"Aku akan menemuimu saat aku kembali. Jangan biarkan orang kaya itu menginjak-injakmu."

"Aku tak akan membiarkannya."

Kita berpelukan lagi - kemudian aku sendirian ke counter check-in dan berdiri dalam antrian, menunggu dengan barang bawaanku. Aku tak direpotkan dengan koper, hanya sebuah ransel agak besar yang Ray berikan padaku untuk hadiah ulang tahun terakhirku.

"Tolong tiketnya?" Pemuda yang bosan di belakang meja mengulurkan tangannya tanpa melihatku.

Meniru sikap bosanannya, aku menyerahkan tiketku dan SIMku sebagai bukti identitas. Jika mungkin aku berharap mendapat kursi dekat jendela.

"Oke, Miss Byun. Anda sudah di upgrade ke kelas satu."

"Apa?"

"Ma'am, jika anda mau, anda bisa pergi ke ruang tunggu kelas satu dan menunggu penerbangan anda di sana." Sepertinya dia sudah terbangun dan tersenyum padaku seolah aku Peri Natal dan Kelinci Paskah digabung menjadi satu.

"Tentu ada kesalahan."

"Tidak, tidak." Dia memeriksa layar komputer lagi. "Byun Baekhyun – di Upgrade." Dia menyeringai padaku.

Ugh. Aku menyipitkan mataku. Dia menberikan boarding pass, dan aku berjalan menuju ruang tunggu kelas satu sambil bergumam dalam hati. Sialan Park Chanyeol, gila kontrol yang selalu ikut campur - dia tak bisa meninggalkanku sendirian begitu saja.

...

Aku sudah manikur, dipijat, dan sudah minum dua gelas sampanye. Lounge kelas satu memiliki fitur yang banyak untuk digunakan. Dengan setiap meneguk Moet, aku merasa sedikit demi sedikit cenderung memaafkan Chanyeol dan intervensinya. Aku membuka MacBook, berharap untuk menguji teori bahwa komputer ini bisa digunakan di mana saja di planet ini.

Dari: Byun Baekhyun

Perihal: Tindakan pemborosan yang berlebihan

Tanggal: 30 Mei 2011 21:53

Untuk: Park Chanyeol

Dear Mr. Park

Yang benar-benar membuatku gelisah adalah bagaimana kau tahu yang mana jadwal penerbanganku.

Engkau menguntit tak mengenal batas. Mari kita berharap bahwa Dr. Flynn sudah kembali dari liburan.

Aku telah mendapat manikur, pijat punggung, dan dua gelas sampanye - awal yang sangat bagus untuk liburanku.

Terima kasih.

Baekhyun

Dari: Park Chanyeol

Perihal: Terima kasih kembali

Tanggal: 30 Mei 2011 21:59

Untuk: Byun Baekhyun

Yang terhormat Miss Byun

Dr. Flynn sudah kembali, dan aku punya janji dengannya minggu ini.

Siapa yang memijat punggungmu?

Park Chanyeol

CEO dengan teman-teman di tempat yang tepat, Park Enterprises Holdings Inc

Aha! Waktunya membalas. Penerbangan kami telah diumumkan jadi aku akan email dia dari pesawat. Ini akan lebih aman. Aku hampir memeluk diriku dengan kegembiraan yang nakal.

Ada begitu banyak ruangan di kelas satu. Champagne cocktail di tangan, aku memposisikan diri ke kursi kulit mewah saat jendela kabin perlahan terisi. Aku menelpon Ray menceritakan dimana keberadaanku - Komunikasi kami untungnya berlangsung singkat, karena sudah sangat larut baginya.

"Aku menyayangimu, Ayah," gumamku.

"Aku juga, Sayang. Sampaikan salam pada ibumu. Selamat malam."

"Selamat malam." aku menutup telepon.

Ray dalam kondisi yang baik. Aku menatap Mac dan dengan kegembiraan kekanak-kanakan yang mulai terbangun.

Membuka laptopku, aku login ke program email.

Dari: Byun Baekhyun

Perihal: Tangan Ahli yang Kuat

Tanggal: 30 Mei 2011 22:22

Untuk: Park Chanyeol

Dear Sir

Seorang pemuda yang sangat menyenangkan memijat punggungku. Ya. Sangat menyenangkan memang. Aku tak akan menemui Jean-Paul di ruang keberangkatan biasa - jadi terima kasih lagi atas pemberianmu. Aku tak yakin apakah aku akan diizinkan untuk mengirim email setelah kami lepas landas, dan aku perlu tidur karena aku sudah tak tidur dengan baik akhir-akhir ini.

Mimpi yang indah Mr. Park...

Baekhyun

Oh, dia akan marah besar - dan aku akan berada di udara dan di luar jangkauan. Rasakan sendiri.

Jika aku berada di ruang keberangkatan biasa kemudian Jean-Paul tak akan menyentuh tangannya padaku. Dia adalah seorang pria muda yang sangat baik, dengan rambut pirang, kulit tan kecokelatan - jujur saja, siapa yang memiliki kulit tan kecklatan di Seattle? Itu betul-betul salah. Aku pikir dia gay - tapi aku hanya akan menyimpan detail itu untuk diriku sendiri. Aku menatap email-ku. Luhan benar. Ini seperti menembak ikan di dalam tong dengannya.

Bawah sadarku menatap ke arahku dengan mencibirkan mulutnya -apakah kau benar-benar ingin memanas-manasinya? Apa yang dia lakukan sangat manis, tahu! Dia peduli padamu dan ingin kau untuk melakukan perjalanan dengan gaya. Ya, tapi dia bisa menanyakan atau memberitahuku. Bukannya membuatku terlihat seperti orang yang benar-benar tolol di check-in. Aku menekan tombol kirim dan menunggu, merasa seperti seorang gadis yang sangat nakal.

"Miss Byun, anda harus menyimpan laptop-nya ketika lepas landas," kata pramugari dengan kesopanan yang dibuat-buat. Dia membuatku melompat. Rasa bersalahku langsung muncul.

"Oh, maaf."

Sial. Sekarang aku harus menunggu untuk mengetahui apakah dia membalas. Pramugari itu mengulurkan selimut yang lembut dan bantal, menunjukkan gigi yang sempurna. Aku menggantungkan selimut menutupi lututku. Sangat menyenangkan untuk merasa dimanjakan kadang-kadang.

Kabin telah terisi, kecuali untuk kursi di sampingku yang masih kosong. Oh tidak... bayangan yang mengganggu melintasi pikiranku. Mungkin kursi ini untuk Chanyeol. Oh sial... tidak... dia tak akan melakukannya. Ya kan? Aku katakan padanya aku tak ingin dia ikut denganku. Aku melirik jam tanganku dengan cemas dan kemudian suara tanpa tubuh dari dek penerbangan mengumumkan,

"Cabin crew, pintu tertutup otomatis dan periksa ulang."

Apa artinya itu? Apakah mereka menutup pintu pesawat? Kulit kepalaku seperti ditusuk-tusuk saat aku duduk di berdebar menunggu. Kursi di sebelahku adalah satu-satunya yang kosong di kabin bertempat duduk enam belas. Pesawat beruncang saat bergerak, dan aku bernapas lega tapi merasa sedikit kecewa juga... tak ada Chanyeol selama empat hari. Aku mengintip sedikit di BlackBerry-ku.

Dari: Park Chanyeol

Perihal: Nikmati Selagi Kau Bisa

Tanggal: 30 Mei 2011 22:25

Untuk: Byun Baekhyun

Yang terhormat Miss Byun

Aku tahu apa yang kau coba lakukan - dan percayalah - kau telah berhasil. Lain kali kau akan berada di dalam kargo, terikat dan dengan mulut tersumbat di dalam peti. Percayalah saat aku memberikan kondisi itu padamu, itu akan memberikanku kesenangan luar biasa padaku dibanding sekedar meng-upgrade tiketmu.

Aku tak sabar menunggumu kembali.

Park Chanyeol

CEO dengan telapak tangan berkedut, Park Enterprises Holdings Inc.

Ya ampun. Ada masalah dengan humor Chanyeol - Aku tak pernah bisa yakin apakah dia sedang bercanda atau benar-benar marah. Aku menduga pada saat ini dia benar-benar marah. Diam-diam, agar pramugari tak bisa melihat, aku ketik balasannya di bawah selimut.

Dari: Byun Baekhyun

Perihal: Bercanda?

Tanggal: 30 Mei 2011 22:30

Untuk: Park Chanyeol

Kau tahu - aku tak tahu jika kau bercanda - dan jika kau tidak - maka aku pikir aku akan tetap tinggal di Georgia saja. Peti adalah batas keras untukku. Maaf aku membuat kau marah. Katakan kau memaafkanku.

Baekhyun

Dari: Park Chanyeol

Perihal: Bercanda

Tanggal: 30 Mei 2011 22:31

Untuk: Byun Baekhyun

Bagaimana kau bisa mengirim email? Apakah kau mempertaruhkan kehidupan semua orang di pesawat, termasuk dirimu sendiri, memakai BlackBerry? Aku pikir itu menentang salah satu aturan.

Park Chanyeol

CEO dengan dua telapak tangan Kejang, Park Enterprises Holdings Inc

Dua telapak tangan! Aku meletakkan BlackBerry-ku, duduk kembali sementara pesawat ditarik menuju ke landasan pacu, dan mengeluarkan salinan buku karya Tess yang sudah compang-camping - bacaan ringan untuk perjalanan. Begitu kita di udara, Aku dorong kursiku kebelakang, dan segera aku tertidur.

Pramugari membangunkan saat kami mulai turun ke Atlanta. Waktu lokal adalah 5:45 pagi, tapi aku hanya tidur empat jam atau lebih... aku merasa grogi, tapi berterima kasih atas segelas jus jeruk yang pramugari itu berikan padaku. Aku melirik gugup di BlackBerry-ku. Tak ada email lagi dari Chanyeol. Yah, sekarang hampir jam tiga pagi di Seattle, dan dia mungkin ingin mencegahku mengacaukan sistem avionik, atau apa pun yang dapat mencegah pesawat gagal terbang jika ponsel diaktifkan.

Menunggu di Atlanta hanya satu jam. Dan lagi aku menikmati sepenuhnya dalam ruangan kelas satu. Aku tergoda untuk meringkuk dan tidur di kursi samping, sofa mewah yang mengundang dan yang akan tenggelam pelan-pelan di bawah berat badanku. Tapi itu tak cukup panjang. Untuk menjaga diriku agar tetap terjaga, aku memulai menulis email panjang untuk Chanyeol di laptopku.

Dari: Byun Baekhyun

Perihal: Apakah kau ingin menakut-nakutiku?

Tanggal: 31 Mei 2011 06:52 WIB

Untuk: Park Chanyeol

Kau tahu betapa aku tak suka jika kau menghabiskan uang untukku. Ya, kau sangat kaya, tapi tetap saja membuatku tak enak, itu jadi seperti kau membayarku untuk seks. Tapi, aku suka melakukan perjalanan di kelas satu, ini jauh lebih beradab daripada bangku. Jadi terima kasih. Aku serius - dan aku menikmati pijatan dari Jean Paul. Dia sangat gay. Aku menghilangkan informasi itu di emailku untuk memanas-manasimu, karena aku kesal denganmu, dan aku minta maaf tentang hal itu.

Tapi seperti biasa kau bereaksi berlebihan. Kau tak bisa menulis hal-hal seperti itu padaku - terikat dan tersumbat mulutnya di peti - (Apakah kau serius atau itu lelucon?) Itu membuatku takut... kau membuatku takut... aku benar-benar terjebak dalam mantramu, mengingat gaya hidupmu yang aku bahkan tak tahu ada sampai minggu Sabtu lalu, dan kemudian kau menulis seperti itu dan aku ingin berteriak berlari ke atas bukit. Aku tak akan melakukannya, tentu saja, karena aku merindukanmu. Benar-benar merindukanmu. Aku ingin hubungan kita berlanjut, tapi aku takut kedalaman perasaan yang aku miliki padamu dan jalan gelap yang coba kau bawa aku kesana. Apa yang kau tawarkan adalah erotis dan seksi, dan aku penasaran, tapi aku juga takut kau akan menyakitiku - secara fisik dan emosional. Setelah tiga bulan kau bisa mengatakan selamat tinggal, dan di mana akan meninggalkanku jika kau melakukannya? Tapi kemudian aku menganggap bahwa risiko itu ada dalam setiap hubungan. Ini hanya jenis hubungan yang aku tak pernah bayangkan, terutama karena itu adalah hubungan pertamaku. Ini adalah lompatan besar dalam hal keyakinan untukku.

Kau benar ketika kau mengatakan aku tak memiliki sifat submisif dalam tubuhku... dan aku setuju denganmu sekarang. Karena aku ingin bersamamu, dan jika itu yang harus aku lakukan, aku ingin mencoba, tapi aku pikir aku akan gagal dalam hal itu dan akhirnya terluka - dan aku tidak menikmati gagasan itu sama sekali.

Aku sangat senang bahwa kau bilang padaku akan mencoba lebih. Aku hanya perlu berpikir tentang apa arti 'Lebih' bagiku, dan itulah salah satu alasan mengapa aku ingin suatu jarak. Kau sangat menyilaukanku sehingga aku merasa sangat sulit untuk berpikir jernih ketika kita bersama-sama.

Mereka memanggil penerbanganku. Aku harus pergi.

Lebihnya nanti.

Baekhyun-mu

Aku menekan kirim dan aku berjalan sambil mengantuk menuju ke gerbang keberangkatan untuk naik pesawat yang berbeda.

Pesawat yang satu ini hanya memiliki enam kursi di kelas satu, dan setelah kita di udara, Aku meringkuk di bawah selimut yang lembutku dan tertidur.

Terlalu cepat rasanya, aku dibangunkan oleh pramugari yang menawariku air jeruk lagi saat kita mulai mendekati Savannah Internasional. Aku menghirup jusnya perlahan-lahan, luar biasa lelah, dan aku membiarkan diriku merasakan sedikit kegembiraan. Aku akan bertemu ibuku untuk pertama kalinya dalam enam bulan. Mengintip ke bawah selimut untuk melihat BlackBerry-ku, aku ingat samar-samar bahwa aku mengirim email berisi ocehan panjang untuk Chanyeol - tapi tidak ada di balasan. Ini jam lima pagi di Seattle - mudah-mudahan dia masih tertidur dan tidak bangun sambil memainkan ratapan sedih di pianonya.

Keuntungan membawa barang di ransel adalah dapat segera keluar dari bandara dan tidak menunggu bagasi lama di konveyor. Keindahan penerbangan kelas satu adalah bahwa mereka membiarkanmu keluar pesawat lebih dulu.

Ibuku sedang menunggu dengan Bob, dan aku sangat bahagia melihat mereka. Aku tak tahu apakah itu karena kelelahan, atau perjalanan panjang, atau situasi dengan Chanyeol secara keseluruhan, tapi begitu aku dalam pelukan ibuku, tangisku meledak.

"Oh Baekhyun, sayang. Kau pasti sangat lelah" Dia melirik cemas pada Bob.

"Tidak Ma, hanya karena - Aku sangat senang melihatmu." aku memeluknya erat.

Pelukannya terasa begitu nyaman dan menerimaku pulang. Dengan enggan, aku melepaskan dia, dan Bob memberiku pelukan canggung dengan satu. Dia tampaknya tak bisa berdiri kokoh, dan aku ingat bahwa dia terluka kakinya.

"Selamat datang, Baekhyun. Mengapa kau menangis?" Tanyanya.

"Ah, Bob, aku hanya senang melihatmu juga." Aku menatap wajah tampannya berahang perseginya, dan mata birunya berkelip yang menatapku dengan kasih sayang. Aku suka suamimu yang ini, Ma. Kau bisa mempertahankannya. Bob mengambil ranselku.

"Ya ampun, Baekhyun, ada barang apa dalam ranselmu?"

Itu laptop Mac, dan mereka berdua menempatkan tangan mereka di pundakku saat kami menuju tempat parkir.

Aku selalu lupa betapa sangat panas di Savannah. Meninggalkan ruang ber-AC dingin dari terminal kedatangan, kita melangkah ke panasnya Georgia. Wow!

Itu memusnahkan segalanya. Aku harus berjuang keluar dari pelukan Ibu dan Bob jadi aku bisa membuka tudung kepalaku. Aku sangat senang aku membawa celana pendek. Aku kadang-kadang rindu hawa panas kering dari Vegas, tempatku tinggal bersama Ibu dan Bob ketika aku berumur tujuh belas tahun, tapi ini panas basah, bahkan pada pukul 8:30 pagi hari, harus membiasakan diri. Saat aku berada di bagian belakang SUV Tahoe Bob yang sangat ber-AC, aku merasa lemas, dan rambutku sudah mulai protes karena kering kepanasan.

Di bagian belakang SUV aku cepat sms Ray, Luhan, dan Chanyeol:

* Tiba Aman di Savannah. A *

Pikiranku menyimpang sebentar pada Kai saat aku menekan tombol kirim, dan melalui kabut kelelahanku, aku ingat bahwa acaranya minggu depan. Apakah aku harus mengundang Chanyeol? Tahu sendiri bagaimana perasaannya pada Kai. Apakah Chanyeol masih ingin menemuiku setelah email itu? Aku bergidik memikirkan hal itu, dan segera membuang jauh ide itu dari pikiranku. Aku akan menghadapi urusan itu nanti. Sekarang aku akan menikmati kebersamaan dengan ibuku.

"Sayang, kamu pasti lelah. Apakah kau ingin tidur ketika kita sampai di rumah?"

"Tidak, Ma. Aku ingin pergi ke pantai."

...

Aku memakai tankini dengan halter melingkar leher berwarna biru milikku, minum Diet Coke, di sunbed menghadap Samudera Atlantik, dan ingat bahwa baru kemarin aku menatap ke arah samudera Pasifik.

Ibuku bersantai di sampingku memakai topi matahari konyol berukuran besar dan kaca mata model Jackie-O, juga meneguk Coke-nya sendiri. Kami berada di Tybee Island Beach, hanya tiga blok dari rumah.

Dia menggenggam tanganku. Kelelahan aku telah berkurang, dan ketika aku menyerap sinar matahari, aku merasa nyaman, aman, dan hangat. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku mulai rileks.

"Jadi Baekhyun... ceritakan tentang orang ini yang telah kau jadi sedemikian bingung."

Bingung! Bagaimana dia bisa tahu? Apa yang harus dikatakan? Aku tak bisa bicara tentang Chanyeol dalam setiap detail karena NDA itu, tapi kemudian, apakah aku memilih untuk berbicara dengan ibuku tentang hal itu? aku pucat membayangkan hal itu.

"Yah?" Meminta dia dan meremas tanganku.

"Namanya adalah Chanyeol. Dia luar biasa tampan. Dia kaya... terlalu kaya. Dia sangat rumit dan berubah-ubah."

Ya - aku merasa tak biasanya senang dengan penjelasan singkatku, ringkasan akurat. Aku bersandar menyamping untuk menghadap ke arahnya, bertepatan dengannya saat ia melakukan gerakan yang sama. Dia menatapku dengan mata biru sebening kristalnya.

"Rumit dan berubah-ubah adalah dua potongan informasi yang ingin aku konsentrasi pelajari, Baekhyun."

Oh tidak...

"Oh, Ma, suasana hatinya berubah-ubah membuatku pusing. Dia memiliki masa pengasuhan yang suram, sehingga dia sangat tertutup, sulit untuk diukur."

"Apakah kau menyukainya?"

"Aku lebih dari suka padanya."

"Benarkah?" Dia ternganga menatapku.

"Ya, Ma."

"Pria tidaklah benar-benar rumit, sayang. Mereka sangat sederhana, makhluk harfiah. Mereka biasanya menyampaikan maksud lewat apa yang mereka katakan. Dan kita menghabiskan waktu berjam-jam mencoba untuk menganalisis apa yang mereka katakan - Ketika benar-benar sudah jelas. Jika aku jadi kamu, aku akan mendengarkan kata-katanya secara harfiah. Itu mungkin bisa membantu."

Aku ternganga padanya. Ini kedengarannya seperti nasihat yang bagus. Terima kata-kata Chanyeol secara harfiah. Segera beberapa hal yang pernah diucapannya muncul di pikiranku.

Aku tak ingin kehilangan dirimu... kau telah menyihirku... Kau benar-benar memperdayaku... Aku akan merindukanmu juga... lebih dari yang kau tahu...

Aku menatap ibuku. Dia sekarang menjalani pernikahan keempatnya. Bagaimanapun dia mungkin tahu sesuatu tentang pria.

"Kebanyakan pria mudah berubah sayang, setiap orang berbeda-beda. Ambil contoh ayahmu misalnya...," Matanya melembut dan menjadi sedih setiap kali dia berpikir tentang ayahku. Ayah kandungku, tokoh mitos yang aku tak pernah tahu, direnggut dengan kejam dari kami dalam kecelakaan latihan tempur ketika ia masih seorang marinir. Sebagian diriku berpikir ibuku telah mencari seseorang seperti ayahku selama ini... mungkin dia akhirnya menemukan apa yang dia cari dalam Bob. sayang dia tak bisa menemukannya dengan Ray.

"Aku terbiasa berpikir bahwa ayahmu moody. Tapi sekarang ketika aku mengingat kembali, aku hanya berpikir ia terlalu terjebak dalam pekerjaannya dan mencoba untuk menghidupi kita." Dia mendesah. "Dia masih sangat muda, begitu juga aku. Mungkin itu masalahnya.". Hmm... Chanyeol tidaklah tua. Aku tersenyum sayang pada ibuku. Dia bisa jadi sangat penuh perasaan memikirkan tentang ayahku, tapi aku yakin ayahku tak sebanding dengan sifat moody Chanyeol.

"Bob ingin membawa kita makan malam di luar malam ini. Ke klub golf-nya."

"Oh tidak! Bob mulai bermain golf," aku mengejek tak percaya.

"Ceritakan tentang itu," erangan ibuku, memutar matanya.

Setelah pulang makan siang yang ringan di rumah, aku mulai membongkar bawaanku. Aku akan memperlakukan diri ke si-esta. Ibuku telah menghilang untuk mencetak lilin atau apa pun yang dia lakukan dengan benda itu, dan Bob sedang bekerja, jadi aku punya waktu untuk mengejar kekurangan tidurku. Aku membuka Mac dan menyalakannya.

Sekarang jam dua siang di Georgia, sebelas pagi di Seattle. Aku ingin tahu apakah aku mendapat balasan dari Chanyeol. Dengan gugup, aku login ke program email.

Dari: Park Chanyeol

Perihal: Akhirnya!

Tanggal: 31 Mei 2011 07:30

Untuk: Byun Baekhyun

Baekhyun

Aku kesal karena segera setelah kau membuat jarak di antara kita, kau berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan aku. Mengapa kau tak bisa melakukan itu saat kita bersama?

Ya, aku kaya. Biasakan dirimu dengan itu. Mengapa tak boleh aku menggunakan uang untuk keperluanmu? Kita telah bilang pada ayahmu bahwa aku adalah pacarmu, demi Tuhan. Bukankah itu yang seorang pacar lakukan? Sebagai Dom-mu, aku berharap kau untuk menerima apa pun yang aku belikan untukmu dengan tanpa argumen. Kebetulan, memberitahu ibumu juga.

Aku tak tahu bagaimana menjawab komentarmu tentang merasa seperti pelacur. Aku tahu itu bukan apa yang sudah kau tulis, tapi apa yang secara tersirat kau sampaikan. Aku tak tahu apa yang aku bisa katakan atau lakukan untuk menghilangkan perasaan itu. Aku ingin kau memiliki yang terbaik dari segalanya. Aku bekerja sangat keras, sehingga aku bisa menggunakan uangku semauku. Aku bisa membelikan apapun sesuai keinginan hatimu, Anastasia, dan aku ingin melakukannya. Sebut saja itu redistribusi kekayaan jika kau mau. Atau tahu bahwa aku tak akan, tak pernah berpikir dirimu seperti yang kau gambarkan, dan aku marah terhadap cara pandangmu pada diri sendiri. Untuk seorang wanita cemerlang, cerdas, muda yang cantik kau memiliki masalah harga diri yang jelas, dan aku setengah berpikir untuk membuat janji antara kau dengan Dr. Flynn.

Aku minta maaf untuk menakut-nakutimu. Aku tahu menanamkan rasa takut di dalam pikiran membuatmu ngeri. Apakah kau benar-benar berpikir aku akan membiarkan kau melakukan perjalanan di dalam palka? Aku menawarkan kau jet pribadiku, demi Tuhan. Ya itu adalah sebuah lelucon, jelas lelucon sangat jelek. Namun, kenyataannya adalah - memikirkan kau terikat dan disumpal membuatku terangsang (ini bukan lelucon - ini yang sebenarnya). Aku bisa menghilangkan petinya - peti tak memberi pengaruh apapun padaku. Aku tahu kau memiliki masalah dengan disumpal, kita telah membicarakan itu dan jika / ketika aku menyumpalmu, kita sudah membahasnya dulu. Aku menganggap kau gagal untuk menyadari bahwa dalam hubungan Dom/sub bahwa sub-lah yang memiliki semua kekuasaan. Itu adalah kau. Aku akan mengulang ini - Kau adalah orang yang memegang kuasa. Bukan aku. Di rumah perahu kau mengatakan tidak. Aku tak bisa menyentuhmu jika kau mengatakan tidak - itu sebabnya kita memiliki kesepakatan - apa yang akan dan tidak akan engkau lakukan. Jika kita mencoba sesuatu dan kau tak menyukainya, kita dapat merevisi perjanjian itu. Terserah padamu - bukan aku. Dan jika kau tak ingin diikat dan disumpal dalam peti, maka itupun tak akan terjadi.

Aku ingin berbagi gaya hidupku denganmu. Aku tak pernah menginginkan sesuatu begitu banyak. Terus terang aku merasa kagum padamu, seorang yang begitu polos dan bersedia untuk mencoba. Itu mengatakan lebih padaku daripada yang pernah kau tahu. Kau gagal untuk melihat bahwa sebenarnya aku terjebak dalam mantramu juga, meskipun aku telah mengatakan hal ini berkali-kali. Aku tak ingin kehilanganmu. Aku ragu bahwa kau telah terbang tiga ribu mil untuk menjauh dariku hanya beberapa hari, karena kau tak bisa berpikir jernih ketika di dekatku. Ini berlaku sama bagiku Anastasia. Akalku hilang saat kita bersama - itulah kedalaman perasaanku padamu.

Aku memahami keraguanmu. Aku mencoba untuk menjauh darimu, aku tahu kau tak berpengalaman, meskipun aku tak pernah akan mengejarmu jika aku tahu persis bagaimana polosnya kamu - namun kau masih bisa benar-benar melucutiku dengan cara tak seorangpun pernah lakukan padaku sebelumnya. Emailmu misalnya: Aku sudah membaca dan membacanya lagi berkali-kali mencoba memahami sudut pandangmu. Tiga bulan adalah jangka waktu, itu bisa diubah-ubah. Kita bisa membuatnya enam bulan, setahun? Berapa lama yang kau inginkan? Apa yang akan membuatmu merasa nyaman?

Beritahu aku.

Aku memahami bahwa ini adalah lompatan keyakinan yang sangat besar untukmu. Aku harus mendapatkan kepercayaan darimu, tapi dengan cara yang sama, kau harus berkomunikasi denganku ketika aku gagal melakukan hal ini. Kau tampaknya begitu kuat dan mandiri, dan kemudian aku membaca apa yang sudah kau tulis di sini, dan aku melihat sisi lain darimu. Kita harus saling membimbing satu sama lain Baekhyun, dan aku hanya bisa menerima isyarat darimu. Kau harus jujur denganku, dan kita berdua harus menemukan cara untuk membuat pengaturan ini berhasil.

Kau khawatir tidak bisa menjadi submisif. Yah mungkin itu benar. Karena, satu-satunya kejadian kau menunjukkan sikap yang benar dari seorang sub ketika berada dalam ruang bermain. Tampaknya itu merupakan satu tempat di mana kau membiarkanku melakukan kontrol yang tepat atas dirimu, dan satu-satunya tempat dimana kau melakukan sesuai yang diperintahkan. Teladan adalah istilah yang datang ke pikiranku. Dan aku tak akan pernah memukulmu sampai hitam dan biru. Aku bertujuan untuk membuatmu pink. Di luar ruang bermain, aku suka bahwa kau menentangku. Ini adalah pengalaman yang sangat baru dan menyegarkan, dan aku tak ingin mengubahnya. Jadi ya, katakan padaku apa yang kau inginkan dalam hal 'lebih'. Aku akan berusaha untuk tetap berpikiran terbuka, dan aku akan mencoba dan memberikan ruang yang kau butuhkan dan menjauh darimu saat kau berada di Georgia. Aku berharap emailmu berikutnya.

Sementara, menikmati liburanmu. Tapi jangan terlalu banyak.

Park Chanyeol

CEO, Park Enterprises Holdings Inc

Ya ampun. Dia menulis sebuah esai seperti waktu kita kuliah -dan sebagian besar isinya bagus. Hatiku di mulutku ketika aku membaca kembali emailnya, dan aku meringkuk di tempat tidur cadangan praktis memeluk Mac-ku. Membuat kesepakatan kita jadi setahun? Aku memiliki kekuasaan! Astaga, aku harus memikirkan tentang itu. Terima kata-kata dari dia apa adanya, itulah yang dikatakan ibuku. Dia tak ingin kehilanganku.

Dia mengatakan itu dua kali! Dia ingin membuat hubungan ini berjalan juga. Oh Chanyeol, begitu juga aku! Dia akan mencoba dan menjauh! Apakah ini berarti ia akan gagal untuk menjauh? Tiba-tiba, aku berharap demikian. Aku ingin melihat dia. Kita sudah terpisah kurang dari dua puluh empat jam, dan mengetahui bahwa aku tak dapat melihatnya selama empat hari, aku menyadari betapa aku merindukannya. Betapa aku mencintainya.

"Baekhyun, sayang." Suara itu adalah lembut dan hangat, penuh cinta dan kenangan manis dulu. Sebuah tangan lembut menyapu wajahku. Ibuku membangunkanku, dan telungkup memeluk laptopku.

"Baekhyun, sayang," lanjut dia dengan suara merdu lembut saat aku pelan-pelan terjaga dari tidur, berkedip terkena cahaya senja merah muda pucat.

"Hai, Ma." Aku menggeliat dan tersenyum.

"Kita akan makan malam tiga puluh menit lagi. Kau masih ingin ikut?" Tanyanya dengan ramah.

"Oh, ya, Ma, tentu saja." Aku berusaha sangat keras, tapi gagal menahan untuk menguap.

"Nah, itu baru sebuah teknologi mengesankan." Dia menunjuk ke laptopku.

Oh sial.

"Oh... ini?" aku berusaha untuk santai, sikap terkejut acuh tak acuh.

Apakah Ibu akan tahu? Dia tampaknya telah jadi lebih cerdik sejak aku mendapatkan 'pacar'.

"Chanyeol meminjamkan padaku. Aku rasa aku bisa mengdalikan pesawat ruang angkasa dengan benda ini, tapi aku hanya menggunakannya untuk email dan akses Internet."

Sungguh itu bukan apa-apa. Menatapku dengan curiga, dia duduk di tempat tidur dan melipat rambut yang terurai di belakang telingaku.

"Apakah dia mengirim email padamu?"

Oh dobel sialan.

"Ya." Sikap acuh tak acuhku makin menipis, dan aku memerah.

"Mungkin dia merindukanmu, ya?"

"Aku harap begitu, Ma."

"Apa yang dia bilang?"

Oh triple sialan. Aku panik mencoba untuk memikirkan sesuatu yang dapat diterima dari email yang aku dapat dan memberitahu ibuku. Aku yakin ibuku tak ingin mendengar tentang Dom dan bondage dan menyumpal, tapi kemudian aku tak bisa memberitahunya karena ada NDA.

"Dia mengatakan kepadaku untuk menikmati waktuku sendiri, tapi jangan terlalu banyak."

"Kedengarannya masuk akal. Aku akan meninggalkanmu untuk bersiap-siap, sayang." Mencondongkan tubuhnya, dia mencium keningku. "Aku sangat senang kau di sini, Baekhyun. Sangat menyenangkan bisa melihatmu." Dan dengan pernyataan penuh kasih sayang itu, dia pergi.

Hmm, Chanyeol dan masuk akal... dua konsep yang aku pikir adalah saling terpisah satu sama lain, tapi setelah email-nya, segalanya menjadi mungkin. Aku menggelengkan kepala. Aku butuh waktu untuk mencerna kata-katanya. Mungkin setelah makan malam - dan aku dapat menjawab email-nya saat itu. Aku bangkit keluar dari tempat tidur dan cepat melepas t-shirt dan celana pendekku, dan berjalan menuju ke kamar mandi. Aku telah membawa gaun abu-abu halter-leher milik Luhan yang aku kenakan untuk kelulusanku. Ini satu-satunya item bergaya yang aku miliki. Satu hal yang baik tentang cuaca panas adalah bahwa lipatannya menghilang, jadi aku pikir itu akan sesuai untuk ke klub golf. Saat aku berpakaian, aku membuka laptop-nya. Tak ada email yang baru dari Chanyeol, dan aku merasa kekecewaan. Sangat cepat, aku ketik dia email.

Dari: Byun Baekhyun

Perihal: Bicara bertele-tele?

Tanggal: 31 Mei 2011 19:08 WIB

Untuk: Park Chanyeol

Sir, kau ternyata penulis yang banyak bicara. Aku harus pergi makan malam di klub golf-nya Bob, dan sekedar tahu saja, aku memutar mata pada pikiran itu. Tapi kau dan telapak tangan berkedutmu jauh dariku sehingga pantatku aman, untuk saat ini. Aku suka email-mu. Akan kurespon selagi bisa. Aku sudah rindu padamu.

Nikmati soremu.

Baekhyun-mu

Dari: Park Chanyeol

Perihal: Pantatmu

Tanggal: 31 Mei 2011 16:10

Untuk: Byun Baekhyun

Dear Miss Byun

Aku terganggu oleh judul email ini. Tak perlu dikatakan, engkau aman - untuk saat ini.

Nikmati makan malammu, dan aku merindukanmu juga, terutama pantat dan mulut cerdasmu.

Soreku akan jadi pudar, tercerahkan hanya dengan memikirkan kau dan putaran matamu. Aku pikir kaulah yang begitu bijaksana menunjukkan padaku bahwa aku juga menderita dari kebiasaan buruk itu.

Park Chanyeol

CEO & Pemutar Mata, Park Enterprises Holdings Inc

Dari: Byun Baekhyun

Perihal: Mata Berputar

Tanggal: 31 Mei 2011 19:14 WIB

Untuk: Park Chanyeol

Dear Mr. Park

Berhenti mengemail-ku. Aku mencoba bersiap-siap untuk makan malam. Kau sangat mengganggu, bahkan ketika kau sedang di sisi lain benua ini. Dan ya - yang menampar pantatmu ketika kau memutar matamu?

Baekhyun-mu

Aku menekan kirim, dan segera gambaran dari penyihir jahat Mrs. Yuri datang ke dalam pikiranku. Aku tak bisa membayangkannya. Chanyeol dipukuli oleh orang setua ibuku, itu sangat salah. Sekali lagi aku ingin tahu kerusakan apa yang dia berikan. Mulutku mengencang dalam garis suram yang keras. Aku butuh boneka untuk menusukkan jarum kedalamnya, mungkin itu caraku untuk bisa melampiaskan sedikit rasa amarahku pada orang asing ini.

Dari: Park Chanyeol

Perihal: Pantatmu

Tanggal: 31 Mei 2011 16:18

Untuk: Byun Baekhyun

Dear Miss Byun

Aku masih lebih suka judul emailku padamu, dengan cara yang begitu banyak berbeda. Sangat beruntung bahwa aku adalah tuan dari nasibku sendiri dan tak seorangpun yang menghukumku. Kecuali ibuku kadang-kadang dan Dr. Flynn, tentu saja. Dan kau.

Park Chanyeol

CEO, Park Enterprises Holdings Inc

Dari: Byun Baekhyun

Perihal: menghukum... aku?

Tanggal: 31 Mei 2011 19:22 WIB

Untuk: Park Chanyeol

Dear Sir

Kapan aku pernah memperoleh keberanian untuk menghukummu? Aku pikir kau mencampur adukkan aku dengan orang lain... yang mana itu sangat mengkhawatirkan. Aku benar-benar harus bersiap-siap.

Baekhyun-mu

Dari: Park Chanyeol Perihal: Pantatmu

Tanggal: 31 Mei 2011 16:25

Untuk: Byun Baekhyun

Dear Miss Byun

Kau melakukannya sepanjang waktu di tulisan. Dapatkah aku menarik ke atas retsleting gaunmu?

Park Chanyeol

CEO, Park Enterprises Holdings Inc

Untuk beberapa alasan yang tak diketahui, kata-katanya melompat keluar dari halaman dan membuatku terkesiap. Oh... dia ingin bermain game.

Dari: Byun Baekhyun

Perihal: NC-17

Tanggal: 31 Mei 2011 19:28 WIB

Untuk: Park Chanyeol

Aku lebih suka kau menurunkan retsleting gaunku.

Dari: Park Chanyeol

Perihal: Hati-hati dengan apa yang kau inginkan...

Tanggal: 31 Mei 2011 16:31

Untuk: Byun Baekhyun

BEGITU JUGA AKU.

Park Chanyeol

CEO, Park Enterprises Holdings Inc

Dari: Byun Baekhyun Perihal: Terengah-engah

Tanggal: 31 Mei 2011 19:33 WIB

Untuk: Park Chanyeol

Perlahan-lahan...

Dari: Park Chanyeol

Perihal: Sambil mengerang

Tanggal: 31 Mei 2011 16:35

Untuk: Byun Baekhyun

Seandainya aku ada di sana.

Park Chanyeol

CEO, Park Enterprises Holdings Inc

Dari: Byun Baekhyun

Perihal: Merintih

Tanggal: 31 Mei 2011 19:37 WIB

Untuk: Park Chanyeol

BEGITU JUGA AKU

"Baekhyun!" Ibu memanggilku, membuat aku melompat. Sial. Mengapa aku merasa bersalah?

"Segera datang, ma."

Dari: Byun Baekhyun

Perihal: Merintih

Tanggal: 31 Mei 2011 19:39 WIB

Untuk: Park Chanyeol

Harus pergi.

Sampai nanti, sayang.

Aku lari ke ruang di mana Bob dan ibuku sedang menunggu. Ibuku mengerutkan kening.

"Sayang - apakah kau merasa ok? Kau terlihat sedikit memerah."

"Ma, aku baik-baik saja."

"Kau tampak cantik, sayang."

"Oh, ini gaun Luhan. kau menyukainya?"

Kerutan dahinya bertambah dalam.

"Mengapa kau mengenakan gaun Luhan?"

Oh... tidak.

"Yah aku suka yang satu ini dan dia tidak suka," aku berimprovisasi dengan cepat.

Dia menganggap aku cerdik sedangkan Bob menunjukkan ketidaksabaran dengan murung, terlihat sangat lapar.

"Aku akan membawa kau belanja besok," katanya.

"Oh, ma, mama tak perlu melakukan itu. Aku punya banyak pakaian."

"Tidak bisakah aku melakukan sesuatu untuk putriku sendiri? Ayo, Bob sudah kelaparan."

"Benar sekali," erangan Bob, menggosok perutnya dan dengan menunjukkan ekspresi sedih yang dibuat-buat.

Aku tertawa saat ia memutar matanya, dan kami segera keluar pintu.

Kemudian saat aku mandi, di bawah pancuran air hangat, aku merenung memikirkan berapa banyak ibuku telah berubah. Melihatnya saat makan malam, ia ada dalam elemen-nya, lucu dan genit dan di antara banyak teman di klub golf. Bob hangat dan penuh perhatian... mereka tampak begitu cocok satu sama lain. Aku benar-benar bahagia pada mereka. Ini berarti aku dapat berhenti khawatir tentang dirinya dan menebak-nebak keputusan dan melupakan hari-hari gelap dengan suami nomor tiga. Bob layak dipertahankan. Dan dia memberi aku nasihat yang baik. Kapan hal itu mulai terjadi?

Sejak aku bertemu Chanyeol. Mengapa begitu?

Ketika aku selesai, aku cepat mengeringkan diri, ingin kembali bicara pada Chanyeol. Ada email menungguku, dikirim hanya beberapa saat setelah aku pergi makan malam beberapa jam yang lalu.

Dari: Park Chanyeol

Perihal: Plagiarisme

Tanggal: 31 Mei 2011 16:41

Untuk: Byun Baekhyun

Kau mencuri kata-kataku. Dan meninggalkanku menggantung. Nikmati makan malammu.

Park Chanyeol

CEO, Park Enterprises Holdings Inc

Dari: Byun Baekhyun

Perihal: Siapa yang kau teriaki sebagai pencuri?

Tanggal: 31 Mei 2011 22:18 WIB

Untuk: park Chanyeol

Sir, aku pikir kau akan tahu bahwa itu adalah kata-kata Sehun pada awalnya.

Menggantung bagaimana?

Baekhyun-mu

Dari: Park Chanyeol

Perihal: Bisnis yang Belum Selesai

Tanggal: 31 Mei 2011 19:22

Untuk: Byun Baekhyun

Miss Byun

Kau sudah kembali. Kau pergi begitu tiba-tiba - tepat ketika suasana mulai menarik.

Sehun tidak terlalu asli. Dia pasti mencuri kata-kata itu dari seseorang.

Bagaimana makan malam?

Park Chanyeol

CEO, Park Enterprises Holdings Inc

Dari: Byun Baekhyun

Perihal: Bisnis yang Belum Selesai?

Tanggal: 31 Mei 2011 22:26 WIB

Untuk: Park Chanyeol

Makan malam benar-benar kenyang - kau akan sangat senang mendengar, aku makan terlalu banyak.

Jadi mulai menarik? Bagaimana?

Dari: Park Chanyeol

Perihal: Bisnis yang Belum Selesai - pasti

Tanggal: 31 Mei 2011 19:30

Untuk: Byun Baekhyun

Apakah kau dengan sengaja bodoh? Ku pikir kau baru saja memintaku untuk menurunkan retsleting gaunmu.

Dan aku sudah tak sabar untuk melakukan itu. Aku juga senang mendengar kau makan.

Park Chanyeol

CEO, Park Enterprises Holdings Inc

Dari: Byun Baekhyun

Perihal: Yah... selalu ada akhir pekan

Tanggal: 31 Mei 2011 22:36 WIB

Untuk: Park Chanyeol

Tentu saja aku makan... Ini hanya karena ketidakpastian yang kurasakan ketika ada di dekatmu yang membuatku menjauhi makanan.

Dan aku tak akan pernah bodoh tanpa menyadarinya, Mr. Park.

Tentunya kau sudah tahu itu sekarang

Dari: Park Chanyeol

Perihal: Tak Bisa Menunggu

Tanggal: 31 Mei 2011 19:40

Untuk: Byun Baekhyun

Aku akan ingat itu, Miss Byun, dan tak diragukan lagi akan menggunakan pengetahuan itu untuk keuntunganku.

Maaf mendengar bahwa aku membuatmu menjauhi makananmu. Ku pikir aku punya efek yang lebih yang besar pada nafsu birahimu. Itu pengalamanku, dan yang paling menyenangkan yang pernah kualami.

Aku sangat berharap untuk kesempatan berikutnya.

Park Chanyeol

CEO, Park Enterprises Holdings Inc

Dari: Byun Baekhyun

Perihal: Senam Linguistik

Tanggal: 31 Mei 2011 22:36 WIB

Untuk: Park Chanyeol

Apakah kau bermain dengan thesaurus lagi?

Dari: Park Chanyeol

Perihal: bergemuruh

Tanggal: 31 Mei 2011 19:40

Untuk: Byun Baekhyun

Kau mengenalku dengan sangat baik Miss Byun.

Aku makan malam dengan seorang teman lama sekarang jadi aku akan mengemudi.

Sampai nanti, sayang©

Park Chanyeol

CEO, Park Enterprises Holdings Inc

Teman lama yang mana? Aku berpikir Chanyeol tak punya teman lama, kecuali... dia. Aku mengerutkan kening di layar. Mengapa ia masih harus menemuinya? Terbakar, panas, empedu kecemburuan melandaku tiba-tiba. Aku ingin memukul sesuatu, terlebih lagi Mrs. Yuri. Mematikan laptop dengan marah, aku merangkak ke tempat tidur. Aku benar-benar harus membalas email-nya yang panjang darinya pagi ini, tapi aku tiba-tiba merasa terlalu marah. Mengapa Chanyeol tak bisa melihat dia apa adanya - penganiaya anak? Aku mematikan lampu, menggelegak, menatap dalam kegelapan. Berani-beraninya dia? Berani-beraninya dia memilih seorang remaja rentan? Apakah dia masih melakukannya? Mengapa mereka tak berhenti? Berbagai skenario tersaring melalui pikiranku: dia merasa sudah cukup, lalu mengapa ia masih berteman dengannya? Begitu pula dia - adalah dia menikah? Cerai? Astaga - apakah dia punya anak sendiri? Apakah dia punya anak dari Chanyeol? Bawah sadarku memutar kepala jeleknya, mengerling, dan aku terkejut dan mual memikirkan hal itu. Apakah Dr. Flynn tahu tentang dia?

Aku berjuang keluar dari tempat tidur dan menyala mesin jahat itu lagi. Aku punya misi. Aku mengetuk jari-jariku dengan tak sabar menunggu layar biru muncul. Aku masuk Google images dan memasukkan 'Park Chanyeol' ke dalam mesin pencari. Layar tiba-tiba dipenuhi dengan gambar-gambar Chanyeol: dengan dasi hitam, berjas, astaga - foto yang diambil Kai dari Heathman, dalam kemeja putih dan celana flanel. Bagaimana mereka bisa masuk Internet? Wah dia terlihat keren.

Aku berpindah cepat pada: beberapa foto dengan rekan bisnis, kemudian foto demi foto dari orang yang paling fotogenik yang aku tahu, secara intim. Secara intim? Apakah aku mengenal Chanyeol secara intim? Aku kenal dia secara seksual, dan kurasa ada lebih banyak lagi yang bisa ditemukan di sana. Aku tahu dia moody, sulit, lucu, dingin, hangat... jeez, pria ini adalah kontradiksi berjalan. Aku klik ke halaman berikutnya. Dia masih sendiri dalam semua foto-foto ini, dan aku ingat Luhan menyebutkan bahwa dia tak bisa menemukan foto-foto dia dengan teman kencan, mendorong pertanyaan gay padanya. Kemudian, pada halaman ketiga, ada fotoku, dengan dia, saat wisudaku. Gambar hanya dengan seorang wanita, dan ini aku.

Ya ampun! aku ada di Google! Aku menatap kita bersama. Aku terlihat terkejut pada kamera, gugup, kehilangan keseimbangan. Ini sesaat sebelum aku setuju untuk mencoba. Sementara itu, Chanyeol terlihat sangat tampan, tenang dan penuh kontrol, dan dia mengenakandasi itu. Aku menatap dia, wajah yang begitu tampan, wajah indah yang mungkin sedang menatap Mrs. Robinson terkutuk sekarang. Aku menyimpan foto dalam folder my favorit dan klik delapan belas layar semuanya... tak ada apapun. Aku tak akan menemukan Mrs. Yuri di Google. Tapi aku harus tahu apakah dia dengannya atau tidak. Aku ketik segera email ke Chanyeol.

Dari: Byun Baekhyun

Perihal: Teman Makan Malam yang Cocok

Tanggal: 31 Mei 2011 23:58 WIB

Untuk: Park Chanyeol

Aku berharap kau dan temanmu mendapatkan makan malam yang sangat menyenangkan.

Baekhyun

PS Apakah Mrs. Yuri?

Aku menekan kirim dan dengan sedih naik kembali ke tempat tidur, menyelesaikan pertanyaan pada Chanyeol tentang hubungannya dengan wanita itu. Sebagian dari diriku sangat ingin tahu lebih banyak, dan sebagian lain ingin melupakan apa yang pernah dia katakan padaku. Dan periode-ku telah datang, jadi aku harus ingat untuk minum pil-ku di pagi hari. Aku segera memprogram alarm ke dalam kalender di BlackBerry-ku. Menaruh di meja samping tempat tidur, aku berbaring dan akhirnya hanyut ke dalam tidur yang gelisah, berharap bahwa kita berada di kota yang sama, bukan terpisah dua ribu lima ratus mil.

...

Setelah belanja pagi dan sore hari kembali ke pantai, ibuku yang telah menetapkan bahwa kita harus menghabiskan malam di sebuah bar. Meninggalkan Bob menonton TV, kita berada di bar hotel kota Savannah yang paling eksklusif. Aku sedang minum Cosmopolitan keduaku. Ibuku gelas ketiganya. Dia menawarkan informasi lebih lanjut mengenai ego laki-laki yang rapuh. Ini sangat membingungkan.

"Kau tahu, Baekhyun, pria mengira bahwa apa pun yang keluar dari mulut wanita adalah masalah yang harus dipecahkan. Bukan gagasan yang kabur bahwa kita ingin menendang sekitar dan membicarakannya sebentar dan kemudian melupakannya. Pria lebih suka bertindak."

"Ma, mengapa mengatakan ini?" aku bertanya, gagal untuk menyembunyikan kejengkelanku. Dia sudah seperti ini sepanjang hari.

"Sayang, kau terdengar begitu bingung. Kau belum pernah membawa pulang seorang laki-laki. Kau bahkan tak pernah punya pacar ketika kita masih di Vegas. Aku pikir sesuatu akan berkembang dengan pria yang kau temui di kampus, Kai."

"Ma, Kai hanyalah teman."

"Aku tahu, sayang. Tapi ada sesuatu yang terjadi, dan aku pikir kau belum mengatakan semuanya." Dia menatap ke arahku, wajahnya terukir dengan perhatian keibuan.

"Aku hanya membutuhkan jarak tertentu dari Chanyeol untuk membuat pikiranku lurus... itu saja. Ia cenderung membuatku kewalahan."

"Kewalahan?"

"Ya. Meskipun aku merindukannya." Aku mengerutkan kening.

Aku belum mendengar apapun dari Chanyeol sehari. Tak ada email, tak ada apapun. Aku tergoda untuk menelponnya agar tahu apakah dia baik-baik saja. Ketakutan terburukku adalah bahwa dia mengalami kecelakaan mobil, rasa takut terburuk kedua adalah bahwa Mrs. Yuri telah menancapkan cakar jahatnya ke padanya lagi. Aku tahu itu tak rasional, tetapi di mana dia terlibat, aku tampaknya telah kehilangan semua rasa perspektifku.

"Sayang, aku harus pergi ke ruang rias."

Kepergian singkat ibuku memungkinkanku berkesempatan memeriksa BlackBerry-ku. Aku telah mencoba dengan diam-diam memeriksa email sepanjang hari. Akhirnya - respon dari Chanyeol!

Dari: Park Chanyeol

Perihal: Teman Makan Malam

Tanggal: 1 Juni 2011 21:40 WIB

Untuk: Byun Baekhyun

Ya, aku makan malam dengan Mrs. Yuri. Dia hanya seorang teman lama, Baekhyun. Tak sabar untuk bertemu lagi denganmu. Aku merindukanmu.

Park Chanyeol

CEO, Park Enterprises Holdings Inc

Dia benar makan malam dengannya. Kulit kepalaku seperti ditusuk-tusuk saat adrenalin dan amarah menghujam melalui tubuhku, semua ketakutan terburukku jadi kenyataan. Bagaimana dia bisa? Aku pergi selama dua hari, dan dia lari pada wanita jalang jahat itu.

Dari: Byun Baekhyun

Perihal: Makan Malam dengan Sahabat LAMA

Tanggal: 1 Juni 2011 21:42 WIB

Untuk: Park Chanyeol

Dia bukan hanya seorang teman lama. Apakah dia sudah menemukan anak remaja yang lain untuk dimangsa? Apakah kau sudah terlalu tua untuknya? Apakah itu alasan mengapa hubunganmu selesai?

Aku tekan kirim saat ibuku kembali.

"Baek, kau sangat pucat. Apa yang terjadi?"

Aku menggelengkan kepala.

"Tak ada. Mari kita minum lagi," Aku bergumam dengan keras kepala.

Alisnya berkerut, tapi dia melirik ke atas dan memanggil salah satu pelayan sambil menunjuk gelas kami. Dia mengangguk. Dia mengerti bahasa universal 'Tolong yang sama lagi.' Seperti yang dia lakukan, aku melirik cepat BlackBerry-ku.

Dari: Park Chanyeol

Perihal: Hati-hati...

Tanggal: 1 Juni 2011 21:45 WIB

Untuk: Byun Baekhyun

Ini bukan sesuatu yang ingin aku bahas lewat email.

Berapa banyak kosmopolitan yang akan kau minum?

Park Chanyeol

CEO, Park Enterprises Holdings Inc

Ya ampun, dia di sini.

TBC..