Hai... gimana kabarnya?
Maaf ya lama upload fanficnya.
Ini karena aku kehabisan ide buat ceritanya ini.
Aku baru sadar ternyata ceritaku ini udah jauh dari pair yang seharusnya.
Jadi aku berusaha untuk ngembaliin jalan ceritanya, sesuai pair awalnya.
XD XD :D XD XD
…
'Terima kasih Sasuke-kun karena kau aku tidak harus menangis meratapi nasibku. Aku selalu menyesal melakukan semuanya itu.' Batin Sakura.
'Sejak kapan mereka saling mengenal dan kenapa wajahnya?' Batin Sasuke.
Ternyata benar bahwa Sasuke mengenal Sakura, tapi kenapa harus di sembunyikan? Dan bagaimana kisah mereka yang lainnya?
Naruto ©Masashi Kishimoto
(.*) Love Senior High School (.*)
Chapter 11 : Awal sebuah kesalahan
Happy reading
.
.
.
Setelah hampir setengah hari melakukan kegiatan yang diperintahkan oleh para senpai mereka. Sekarang waktu mereka untuk menyantap makanan yang telah dimasak oleh para gadis yang menjadi pasangan mereka.
"Sekarang kalian dapat beristirahat, makan ataupun melakukan hal lainnya. Setelah satu jam kembali ke tempat ini lagi." Ucap salah satu senpai.
Semua murid mulai membubarkan diri dari ruangan itu, begitu juga dengan dua insan yang sudah lelah berlari, Sasuke dan Sakura.
"Sasuke apa kau tidak lapar?" Tanya Sakura sambil masih mengikuti Sasuke berjalan, tapi Sasuke sama sekali tidak menjawab pertanyaan Sakura.
"Sasuke apa kau tidak lapar? Bisakah kita berhenti untuk sebentar saja? Aku sangat lelah dan juga lapar."
Saat ini memang hal itulah yang dirasakan Sakura, lelah dan juga lapar. Tapi tidak ada jawaban, apa Sasuke tidak mengetahui kalau menunggu jawaban darinya adalah hal yang paling mendebarkan bagi Sakura, suara yang selalu berada dalam alam kenangannya. Kenapa Sasuke tidak mau menjawab atau sekedar menyatakan sesuatu. Apa yang dapat dilakukan Sakura jika Sasuke sama sekali tidak ingin berbicara dengannya. Tidak ada yang dapat dilakukan.
'Sasuke… apa kau masih marah padaku?' batin Sakura.
"Sasuke, Sakura." Ternyata teman-temannya (Saino, KibaYumi, NaruHina) yang memanggil, "Ayo makan di sini.
Sakura menatap Sasuke yang masih terdiam, "Ayolah Sasuke, aku sudah lapar."
Sakuke berjalan meninggalkan Sakura begitu saja. "Sikapmu yang seperti ini membuatku merasa bersalah." Ucapnya lirih.
"Sakura ayo cepat buka bekal yang kau buat. Aku ingin mencicipinya." Ucap Ino dan mendapat dukungan dari teman-teman yang lainnya.
Sakura membuka bekalnya dan memberikan satu untuk Sasuke dan sebuah botol minuman. Dan membuka bekal miliknya sendiri.
"Wow… Sepertinya lezat, apa kami boleh mencicipi bekalmu Sakura-chan?" Tanya Yumi.
"Tentu saja. Silakan cicipi…"
Mereka saling mencicipi makanan yang dibuat oleh teman-temannya, lebih tepatnya para gadis. Naruto sangat menyukai masakan Hinata, sepanjang ia menguyah ia selalu menggumannya kata 'enak'. Sai hanya diam menikmati hidangan yang di sediakan Ino, Ino sedikit mengeluhkan tingkah Sai yang hanya diam dan tidak mau mencicipi makanan lain selain makanannya. Tetapi inner Ino sekarang ini sedang bersorak kegirangan. Yumi dan Kiba hanya berbicara hal-hal mengenai mereka berdua sambil mencicipi makanan yang diberikan pada mereka.
"Kenapa kau tidak memakan bekalmu? Apa masakan Sakura tidak enak?" Tanya Sai.
"Hei! Masakan Sakura enak, walaupun masih kalah dengan masakan Hinata." Ucap Naruto. Naruto yang memuji Hinata secara terang-terangan membuat Hinata merona hebat.
"Sai jaga ucapanmu. Masakan Sakura enak loh, nah coba cicipi." Ucap Ino.
Ino kini menyendokkan sebuah makanan ke mulut Sai, "Buka mulutmu Sai…"
Sasuke membuka kotak bekalnya.
"Wow… Kenapa menu Sasuke didominasi dengan tomat?" Ucap Ino.
"Dari mana kau tahu?" Tanya Sai.
"Eh?" teman-temannya yang lain kebingungan dengan pertanyaan Sai.
"Diam. Aku tidak ingin memakan ini." Sasuke mengembalikan kotak bekal itu kepangkuan Sakura dan memberi botol minum terhadap Sai, "Kau menyukai ini bukan? Silakan untukmu saja."
Bagaimana bisa Sasuke melakukan hal itu di depan Sakura. Makanan yang dibuatnya dengan susah payah dan sepenuh hati, dikembalikan tanpa dicicipi sama sekali dan diberikan kepada orang lain. Sakura hanya tersenyum menerima makan tersebut, padahal hatinya menangis menerima perlakuan seperti itu.
-o0o0o-
Dalam dua hari kegiatan dilakukan dengan seperti pada hari pertama. Terjadi beberapa kekacauan yang melibatkan para kakak kelas dan adik kelasnya. Dalam acara itu gesekan kecil dapat memicu sebuah api besar. Kegiatan ini sama sekali tidak dapat mendekatkan para siswa, malah memperburuk hubungan mereka. Semua yang dilakukan benar-benar sia-sia.
"Ada apa dengan Sakura? Sejak kemarin aku lihat dia selalu saja murung." Tanya Tenten yang kini sedang berbaring di tempat tidur Ino. Seperti biasa dia selalu saja datang ke kamar Sakura, Ino dan Hinata jika Shion berada di kamarnya. Tapi kali ini dikamar tersebut juga ada Temari dan Matsuri.
"Apa ini karena bekal kemarin?" Tanya Hinata.
"Bekal?" Tanya Temari dan Matsuri berbarengan.
"Sasuke mengembalikan bekal buatan Sakura tanpa mencicipinya sedikit pun." Ino menghela napas setelah memberitahukan prihal itu.
"Sebenarnya ada hubungan apa kau dengan Sasuke, Sakura?" Tanya Tenten tepat di depan Sakura,
Air mata Sakura menetes mendengar pertanyaan itu. Sudah lama ia memendam semua masalahnya. Kini ia tidak sanggup lagi menyembunyikannya, apa lagi setelah melihat reaksi Sasuke kepadanya dalam beberapa hari ini. Sasuke mengabaikan keberadaannya, membuat Sakura tidak terlihat di depan matanya.
"Sudah ceritakan saja Sakura, kami siap mendengarkanmu." Ucap Matsuri.
"Mungkin ini dapat menenangkanmu Sakura." Ucap Temari.
"Kau tahu kami akan selalu di sampingmu bukan?" Ucap Ino.
"Hm." Ucap Hinata dan mengangguk.
FLASHBACK ON
"Hn?"
Mendengar jawaban yang diberikan Sasuke benar-benar menyulut emosi pada Sakura. Bagaimana tidak? Laki-laki di hadapannya sudah berjanji akan menenunggunya untuk pulang bersama. Namun Sasuke malah pergi duluan meninggalkannya yang sedang rapat sekolah.
"Kenapa kau tidak menungguku?" Sakura mengulang pertanyaannya, tapi Sasuke hanya diam.
"Selalu saja diam! Sudahlah, aku tidak ingin lagi melihat wajahmu." Kata Sakura dengan tegas tanpa melihat wajah Sasuke. Malah saat ini Sakura pergi meninggalkan Sakuke yang terdiam di tempat.
"Baiklah."
Sakura bagai tersambar petir mendengar ucapan Sasuke. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Sasuke dengan mudah menjawab perkataannya seperti itu. Apa Sasuke tidak berniat untuk membujuknya?
Sejak kejadian itu Sakura dan Sasuke tidak lagi pernah berbicara. Semua murid membicarakan mereka berdua, sepasang murid yang selalu tampak serasi dan selalu bersama, Kini tampak seperti dua orang yang tidak saling mengenal. Dan itu sudah berlangsung selama dua minggu.
Sakura tidak dapat menahan rasa rindunya pada selama itu, akhirnya dia memutuskan untuk menemui Sasuke di dalam kelas. Sasuke begitu saja memasuki kelas tersebut, karena memang dia sudah biasa untuk datang ke kelas itu dan sekarang pun masih jam istirahat.
Kaget, Sakura kaget melihat Sasuke yang duduk di sebelas Karin. Karin yang dengan manjanya bersandar pada lengan Sasuke. Sakura merasakan sesak dihatinya dan pergi ke tempat lain dan bertemu dengan seorang senpai yang adalah kakak Sasuke –Itachi Uchiha.
"Kau Sakura?" Tanya Itachi.
"Ya." Ucap Sakura sopan, ia memang sudah mengenal Itachi dari Sasuke. Sasuke selalu membanggakan sang kakak di depan Sakura.
"Jauhi Sasuke."
Deg.
"Eh?" Kepala Sakura mulai pusing, namun ia tetap mencoba berdiri dengan tegap.
"Jauhi Sasuke Uchiha." Ulang Itachi.
"Ke-Kenapa?" Sebuah air mata menuruni pipinya.
"Kau tidak pantas untukmu." Jawaban itu terdengar serius dan dingin.
"A-Aku ti-"
"Kalau kau tidak menjauhinya maka aku akan mengusulkan pada otou-san ku untuk mengirim Sasuke kirim ke Amerika."
"A-apa…" Sakura pernah mendengar dari Sasuke bahwa dia tidak ingin meninggalkan rumahnya. Baginya itu sama dengan dibuang.
"Jauhilah dia." Setelah menyatakan itu, Itachi pun pergi.
Sakura hanya menangis di tempat itu membiarkan setiap lelehan dari matanya meringankan kepedihannya. Sakura benar-benar tidak dapat lagi bertemu Sasuke. Bukan karena dia yang menjauh tapi karena Sasuke yang tidak pernah lagi melihatnya. Ingin Sakura menemui Sasuke untuk meminta penjelasan, namun Sasuke selalu dalam pengawasan Itachi dan terkadang Karin juga menempel padanya.
Hancur sudah hubungan yang dibangunnya selama beberapa tahun. Hancur tanpa kejelasan yang pasti dan sangat menyedihkan.
-0o0o0-
Di ruang OSIS sekarang sedang ada dua orang yang sibuk dengan beberapa lembar kertas yang menumpuk. Tangan mereka terus saja bergerak memberi stempel pada setiap kertas yang ada di hadapan mereka.
"Sakura, ada apa denganmu?" Ucap Tayuya.
"Tidak ada." Balas Sakura tanpa melihat lawan bicaranya dan tetap fokus dengan tugasnya.
"Kau tidak dapat berbohong padaku Sakura. Lihat pekerjaanmu sangat berantakan, tidak seperti dirimu yang biasanya. Apa ini ada hubungannya dengan Sasuke?" Perkataan itu sangat tepat sasaran.
"Ti-tidak." Elaknya.
"Sakura kau tidak bisa seperti ini terus. Lihat wajahmu seperti wanita tua dengan lingkar hitam pada mata, kulit pucat. Kau sadar semua orang sedang membicarakan kalian berdua."
Sakura hanya mendengar tanpa berniat membalas ucapan sahabatnya. Sampai Sahabatnya itu mengambil stempel pada tangan Sakura dan membuangnya keluar pintu.
"Ada apa denganmu Tayuya!" Sakura berteriak.
"Kau bertanya padaku?" Ucapnya sambil memandang sengit pada Sakura. "Lebih baik kalimat itu ditujukan padamu."
"Sudahku katakan aku tidak apa-apa." Ucapnya tetap bersikeras.
"Pembohong." Tayuya mengucapkannya sambil memandang mata Sakura. "Kau mencintainya karena hal itu kau menjadi seperti ini. Ingat Sakura kau hanya anak beasiswa di sekolah ini, jika kau tetap seperti ini bagaimana dengan orang tuamu."
Sakura tidak dapat membalas ucapan Tayuya, wajahnya tampak syok dan air matanya turun seketika. "Hiks… hiks… hiks"
Tayuya memeluknya seolah memberi sedikit kekuatan yang dimilikinya pada sahabatnya. Belum pernah ia melihat Sakura menangis seperti ini, sangat kacau dan menyedihkan. "Sudahlah Sakura jangan menangis lagi…"
"A-aku tidak bisa menghentikan air mata bodoh ini Tayuya… Sebenarnya aku tidak hiks ingin seperti ini. A-aku ingin seperti dulu tapi sudah terlambat hiks dia sudah tidak ingin melihatku hiks… hiks…" Sakura makin mempererat pelukannya pada Tayuya.
"Iya… aku tahu itu…"
"Aku memang marah padanya hiks…, tapi aku tidak tahu hiks… jika dia akan benar-benar mengabaikanku."
"Sudahlah Sakura… kau tidak perlu menangis. Kau hanya perlu menjelaskan padanya saja."
Sakura menggeleng menanggapi perkataan Tayuya. Mungkin mudah bagi Tayuya untuk menyatakan itu, tapi bagi Sakura itu sangat sulit untuk dilaksanakan. Sakura terus memeluk Tayuya cukup lama sampai tangisnya mulai meredah dan berhenti.
"Sakura kau sudah lebih baik?"
"Hmm… Terima kasih."
"Ya. Jika kau ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan, katakan saja padaku. Jangan menyimpannya seorang diri. Oke…?" Tanya Tayuya sambil berdiri.
"Oke." Senyum Sakura kini sudah kembali seperti semula.
'Tapi Sasuke yang ku kenal pasti akan mengejarku. Kenapa dengan mudahnya dia menyatakan baiklah. Apa aku telah melakukan suatu kesalahan hingga membuatnya marah? Aku sudah biasa dengan pertengkaran seperti itu, tapikenapa kali ini dia sangat marah dan dingin terhadapku?' Batin Sakura.
Flashback Off
Kini mereka sedang duduk dengan tenangnya mendengar setiap cerita Sakura, tidak ada niat untuk mengintrupsi dengan hanya sekedar bertanya. Ketika cerita itu selesai barulah Temari bertanya, "Apa kau tidak pernah menanyakan alasan langsungnya terhadapnya Sakura?"
Sakura menggeleng menanggapi pertanyaan Temari dan menghapus jejak air mata yang hampir mengering.
"A-apa Sakura-chan masih menyukainya?" Pertanyaan Hinata menarik banyak perhatian, namun semua kembali memandang Sakura meminta jawaban sang gadis.
"A-aku tidak tahu, aku hanya merasa sulit bernafas dan sesak di dadaku ketika dia mengabaikanku." Ucap Sakura memberi penjelasan.
"Itu artinya kau masih menyukainya Sakura." Jawab Tenten.
"Kami akan membantumu dekat dengannya kembali." Ucap Ino sangat semangat. Ino yang sejak dulu menyukai hal-hal yang berhubungan dengan asmara membuatnya menjadi sangat bersemangat. Hingga semua tersenyum melihat tingkah ini.
-0o0o0-
Setelah kegiatan yang diadakan oleh para senpai selesai maka semua siswa diwajibkan untuk mengikuti setiap aturan yang ada dan kembali ke aktifitas utama yakni belajar.
Sakura dan kawan-kawan masuk ke dalam kelas dan duduk di bangkunya masing-masing.
Ino Sakura, Yumi Hinata, Shion sendiri, Temari Matsuri, Sasori Gaara, Neji Tenten, Sai Kiba, Shikamaru, Sasuke Naruto. Itu adalah pasangan duduk mereka. Dengan susunan bangku inilah mereka belajar. Hanya Tentenlah yang selalu memasang wajah masam. Dengan malas Tenten menuju bangkunya, helahan napas terdengar jelas.
-o0o0o-
Bel berbunyi menandakan pelajaran telah selesai dengan begitu banyak tugas menumpuk. Sekolah ini bagai tidak membiarkan para murid untuk bersenang-senang hanya untuk sementara.
"Teman-teman saya mohon perhatiannya sebentar." Ucap Kiba.
Murid-murid yang hendak kembali ke asrama, kini kembali duduk dengan tenang. Kiba menunjukkan sebuah amplop cokelat, "Tadi Kakashi sensei memberikan amplop dan menyatakan agar semuanya mengetahui -"
Ucapan Kiba terpotong oleh sebuah perkataan datar dari pria berambut merah, "Sudah cepat katakan. Kau terlalu banyak bicara hal-hal yang tidak penting."
Kiba memandang tidak suka pada pria tersebut dan mengepalkan tangannya, "Shikamaru kau bacakan ini."
Entah kenapa dia menjadi melempar amplop cokelat itu pada Shikamaru. Shikamaru yang sedang menundukkan kepala tertidur malah dikejutkan oleh amplop yang menghantam kepalanya. Dengan sedikit menguap ia memandang amplop tersebut.
"Konoha memang lambat membaca itu saja lama sekali." Kali ini ucapan muncul dari pria di samping pria tadi.
Semua murid Konoha memandang tidak suka pada kedua pria tersebut yang berasal dari Suna.
"Ini ada sebuah surat yang menyatakan bahwa ketua adalah Uzumaki Naruto dengan wakil Sabaku Gaara. Sekretaris adalah Sakura dan wakilnya Shion." Tiba-tiba saja Shikamaru membacakan isi amplop itu tanpa mempedulikan perkataan pria tadi.
Kemudian ini adalah jadwal kebersihan yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah yang berlaku mulai besok dengan petugas utama dalam mengawasi kebersihan kelas yaitu Aku dan Temari." Helaan napas terdengar berat.
"Apa hanya itu saja?" Tanya murid lain.
"Hanya itu saja, jika kalian ingin membaca selengkapnya mengenai anggota kebersihan maka akan ditempelkan besok." Ucap Shikamaru. Itulah akhir dari kelas itu.
-0o0o0-
Sudah seminggu ini mereka mengikuti setiap peraturan yang ada dan menerima hukuman dari setiap pelanggaran. Semua murid tampak sangat tertekan dengan segala aturan begitu juga dengan pria yang satu ini.
"Ada apa lagi ini?" Tanya Shikamaru pada Naruto yang baru saja kembali ke kamar dengan wajah memar.
"Kurang ajar!" Ucap pria lain -Kiba, yang berjalan di belakang Naruto dan memasuki kamar itu. Biarpun ia tahu kamar yang didatanganinya, bukanlah kamarnya.
Shikamaru memandang kedua temannya dengan wajah lelah. Sudah beberapa kali Naruto dan Kiba selalu kembali ke kamarnya dengan sejuta persoalan. Ia memandang Neji dan menghela napas. Neji pun tampak sama saja dengan Naruto dan Kiba. Shikamaru sudah lelah dengan tugas-tugas yang menumpuk dan sekarang dia pasti akan menjadi pendengar bagi kedua orang tersebut. Ia harus mengabaikan Naruto dan Kiba untuk kali ini saja.
"Shika…" Naruto memanggil Shikamaru yang sibuk dengan buku-bukunya. Anak seperti Shikamaru yang jenis pun harus kerepotan dalam mengerjakan tugasnya. Bukannya tugas itu sulit hanya saja banyaknya tugas itu yang membuat Shikamaru kerepotan.
"Shikamaru!" Kali ini Kiba yang memanggil.
Shikamaru pura-pura tidak mendengar. Naruto dan Kiba mendekati Shikamaru dan berteriak secara serempak di kedua telinga Shikamaru. "Shikamaru!"
Shikamaru hanya menutup telinga dan menghela napas " Ada apa?"
"Kau harus membantu aku mengerjai Gaara. Aku harus membalas memar ini." Naruto menunjuk pipinya.
"Kau harus membantuku membalas dua orang senior yang mengincar Yumi."
Helaan napas terdengar lagi Shikamaru, "Balasannya?"
Kedua orang yang berhadapannya nampak berpikir keras.
"Kalian harus menggantikanku dalam mengawasi dan melaporkan hasilnya kepada sensei setiap hari rabu dan jumat." Shikamaru menunggu respon kedua orang tersebut. Menunggu semua tugas kebersihan dan melaporkannya keesokan harinya membuat ia merasa lelah dan kurang beristirahat. Ditambah lagi dengan keberadaan gadis cerewet yang harus 'menempel' padanya.
"Baiklah! Kami setuju." Ucap mereka berdua.
"Jadi bagaimana rencananya? Kalian tunggu saja hasilnya.
-0o0o0-
.
.
.
TBC
Teman-teman menurut kalian ini aku lanjut apa tidak ya?
Entah kenapa lama kelamaan ff ini mulai keluar dari pair utama NH dan SS
Dan merembet pada pair lain.
Apa aku hapus aja?
Atau
Aku terusin namun jadi pasang banyak pair?
…
Mohon pendapatnya.
Terima kasih
