mamoru.
Genre : Romance, and Drama
Pair : (main) NamJin, (side) SoPe
Rate : M
Warning : BrotherComplex, Little Incest
Disclaimer : The characters are not mine. I have not own anything except this story and idea.
(part eleven : here comes trouble
Namjoon terpaksa duduk sendirian karena ia datang satu jam lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Hoseok memintanya untuk datang di cafe yang biasa mereka kunjungi. Awalnya Namjoon pikir salah satu sahabatnya itu menjauhinya, tapi memang kenyataannya tidak seperti itu, Hoseok hanya terlalu sibuk sehingga tak sadar telah mengabaikannya, sesuai dengan apa yang Yoongi katakan padanya.
Selama menunggu sahabatnya itu, ia memuka laptop dan melanjutkan mengerjakan tugas-tugasnya seraya memeriksa surat yang masuk lewat e-mail. Disela kegiatannya menyaring teori ahli untuk menuntaskan masalah pada pembahasan yang ia kerjakan, Namjoon berbalas pesan dengan Seokjin, senyum disertai dimple-nya yang menawan terpasang indah di wajah tampannya saat ia menerima pesan balasan dengan nada aegyo disertai emoji khas seorang Kim Seokjin saat berbalas pesan.
"Teganya kau tersenyum seperti itu saat aku, sahabatmu, sedang menderita."
Namjoon mendongak untuk melihat raut wajah merana Hoseok dihadapannya, ia terlihat seperti orang yang tidak tidur selama dua hari. Kantung mata, wajah pucat, dan rambut yang agak berantakan. Sekali lihat orang awam yang tak mengenalnya sekali 'pun pasti langsung tahu kalau ia sedang bermasalah. "Apa yang terjadi padamu, Hoseok-ah?"
Hoseok tak kunjung menjawanya, ia hanya duduk terdiam. Ice Americano yang telah ia pesan lewat Namjoon juga tak kunjung ia sesap, membiarkan lelehan es pada minuman itu membuat hambar rasa kopinya. Sesuatu telah terjadi pada Hoseok, dan Namjoon khawatir dibuatnya, sahabatnya yang biasanya ceria itu terlihat bersedih dan merasa kecewa di saat yang bersamaan. Ia yang selalu terlihat bagai mentari pagi itu telah meredupkan cahayanya. Namjoon memberanikan diri untul memberi spekulasi yang kemungkinan besarnya ada hubungannya dengan sahabatnya yang lain.
"Apa ini semua ada hubungannya dengan Yoongi hyung?"
Dan benar saja, tangis Hoseok pecah setelah mendengar nama Yoongi. Ia menenggelamkan wajahnya pada kedua tangan yang bersilang di atas meja, tersedu tapi tidak begitu keras, ia sadar bahwa mereka sedang ada di tempat umum walau cafe sekarang ini dalam keadaan sepi.
"Ho-Hoseok-ah?" Namjoon menepuk pelan bahu sahabatnya yang kini bergetar, apa yang ia lihat saat inu bukan hal yang baru atau 'pun hal yang sering terjadi. Hoseok pernah menangis dihadapannya ini, dan alasannya selalu sama, karena ia bertengkar dengan Yoongi. Yang perlu Namjoon ketahui adalah alasan dari pertengkaran mereka, setelah itu ia akan membantu kedua sahabatnya itu berbaikan. "Ungkapkan saja perlahan-lahan, kalian akan baik-baik saja." Kata-kata Namjoon berhasil membuat Hoseok mendongak dan kini menatapnya, wajahnya sembab tapi tangisnya telah berhenti.
"Tapi kali ini berbeda." Ungkap Hoseok setelah ia dapat mengatur nafasnya, Namjoon mendengarkan dengan seksama, ia menyodorkan segelas air putih untuk sahabatnya itu minum sebelum melajutkan penjelasannya, "Kau ingat saat aku bercerita padamu kalau aku menyatakan cintaku pada Yoongi hyung setelah pesta pernikahanmu dan ia menjawab 'ya'?" Namjoon memincingkan kedua matanya, ia berusaha menelaah maksud dari ucapan Hoseok dan tersadar bahwa yang sahabatnya katakan itu memiliki 'banyak informasi baru dan rancu'.
"Tunggu dulu-" Namjoon tak bermaksud untuk menyela lanjutan dari penjelasan yang Hoseok berikan, tapi ia merasa harus menkonfirmasi satu, atau beberapa hal dahulu sebelum sahabatnya itu melanjutkan. "Kau bilang kau menyatakan cintamu pada Yoongi hyung? Setelah pesta pernikahanku dengan Jin hyung? Dan ia menjawab 'Iya' untuk menjadi pacarmu?" Bagi Namjoon, ini adalah berita besar, tapi ada suatu hal yang berbeda dari ucapan Hoseok sebelumnya, hari ini adalah kali pertama ia mendengarkan tentang semua ini, Hoseok maupun Yoongi tidak pernah menceritakan hal ini padanya.
Mereka berdua terdiam, Namjoon dengan raut wajah terkejut sekaligus bingung dan Hoseok yang masih berusaha menahan tangis yang hendak membuncah kembali, namun ia menyadari satu hal yang cukup membuat dirinya sendiri sama terkejutnya dengan Namjoon.
"Oh? Aku belum menceritakannya padamu ya?" Hoseok balik bertanya dan Namjoon mengusap wajahnya, ia mengambil nafas dalam sebelum menghembuskannya seraya tertawa kecil. Hoseok memperhatikannya, ia menggaruk pipi kiri dengan jari telunjuknya, merasa canggung akan apa yang telah ia lakukan pada sahabatnya.
"Berarti sudah 5 bulan lamanya kau dan Yoongi hyung berpacaran? Begitu?" Namjoon bertanya kembali, ia menautkan kedua alisnya saat melihat gelengan pelan yang Hoseok lakukan sebagai jawaban. Namjoon semakin heran, jika Hoseok menyatakan cintanya dan Yoongi menjawab 'Iya' bukan berarti mereka berpacaran saat ini? Lalu mengapa? Apa mereka sudah putus sekarang? Jika hal itu terjadi, sebagai seorang sahabat, Namjoon menyayangkan hal tersebut, ia adalah salah satu orang yang mengetahui bahwa mereka saling jatuh cinta hanya saja terlalu lamban untuk menyadarinya dan kondisi tersebut semakin 'sempurna' karena Yoongi yang memiliki kepribadian tsundere.
Namjoon turut berbahagia jika akhirnya kedua sahabatnya itu bersatu, ia akan sangat senang bila mendengarnya. Tapi sungguh disayangkan saat ia baru mendengar bahwa kedua sahabatnya itu memang telah berpacaran dan selang beberapa detik kemudian Hoseok mengatakan bahwa mereka, mungkin, telah berpisah.
"Akan kuceritakan kilas baliknya." Namjoon mengangguk, ia akan mendengarkan apa yang Hoseok katakan dengan sabar, "Kau pasti ingat saat kita ber-tujuh pesta di rumahmu dan bermain game hingga mabuk?" Namjoon mengangguk untuk yang kedua kalinya, ia menutup laptop yang sebelumnya masih terbuka agar tetap fokus pada kisah yang hendak Hoseok sampaikan. "Sebenarnya aku masih sedikit sadar, malam itu aku pergi ke kamar Yoongi hyung, ia terlihat begitu damai, indah, menggemaskan, tampan, mempesona-"
"Iya, iya, oke, cerita 'kan apa yang terjadi saat itu, intinya saja." Sebelumnya Namjoon memang memutuskan untuk mendengarkan dengan sabar, tapi ia juga enggan menerima informasi yang tak perlu, untuk itu ia menyela ucapan Hoseok dan untungnya saja pria dihadapannta itu mengerti karena ia menjawab perintahnya dengan anggukan pelan.
"Malam itu aku terus memandanginya, dan aku menyatakan cintaku saat itu, kukira dia tertidur tapi ternyata Yoongi hyung masih bangun dan ia menjawab kalau dirinya mau jadi pacarku," Namjoon ingin memberikan komentarnya, menurutnya menyatakan cinta pada orang mabuk disaat kau juga mabuk adalah ide yang buruk, tapi Namjoon mengurungkan niatnya untuk memberikan opini karena Hoseok harus menyelesaikan ceritanya terlebih dahulu.
"Selama lima bulan sejak saat itu semua terlihat biasa saja, Yoongi hyung bicara padaku sama seperti saat hubungan kita hanya sebatas sahabat dan teman satu apartemen." Hoseok menatap sayu gelas ice Americano di hadapannya, minuman itu mengingatkannya pada Yoongi karena ia sangat tahu betul apa yang pria mungil itu sukai. "Kau dan aku sangat mengenal Yoongi hyung, sikapnya itu tak membuatku curiga karena ku pikir memang itu adalah 'cara' yang tepat untuk ia memperlakukan pacarnya." Namjoon mengamini ucapan Hoseok, ia mengangguk dan menyetujui memang Yoongi terkenal cuek, untuk itu ia mengerti jika Hoseok bisa salah paham pada sikapnya.
"Dan beberapa hari yang lalu, pucak masalahnya," Hoseok menjeda kata-katanya untuk mengambil nafas dalam, kemudian melanjutkannya kembali dengan nada yang hampir terbata, "Aku... hendak melakukan sesuatu yang biasa pasangan kekasih lakukan satu sama lain, tapi Yoongi hyung menahanku dan mulai mempertanyakan tindakanku. Dari situ aku sadar kalau aku hanya salah paham tentangnya, tentang kita berdua. Sejak saat itu, aku kabur dari apartemen dan menginap di rumah teman satu proyek ilmiahku." Kepala Hoseok tertunduk dalam, ia sama sekali tidak menahan air matanya, baginya lebih baik begini, menumpahkan segalanya dan membuang ego bahwa seorang laki-laki tidak diperbolehkan untuk menangis karena cinta, terlebih di depan umum.
"Jung Hoseok, Yoongi hyung pasti khawatir. Kau sudah membicarakannya pada Yoongi hyung lagi?" Namjoon melihat Hoseok mengangguk kecil, ia menepuk pelan kepala sahabatnya itu dan berusaha menenangkannya kembali.
Disela isakan Hoseok dan tepukan menenangkan yang ia lakukan, Namjoon melihat dua sosok yang tak asing baginya mendekati mereka, perasaannya campur aduk saat itu, Yoongi datang bersama dengan Sowon mereka berdua menatapnya dan ia tak tahu harus bereaksi seperti apa, Namjoon menghentikan tepukan menenangkannya, ia menatap shock pada Yoongi dan Sowon kala sahabat dan mantan kekasihnya itu berjalan mendekat ke arah mereka.
"Yoongi hyung marah padaku, ia bilang kalau aku tidak tulus menyatakan cintaku padanya karena aku melakukan hal itu dalam keadaan yang memalukan.. hmm, mabuk, lalu dia bilang kalau dirinya tak bisa menerima cintaku yang terkesan main-main dan menyuruhku untuk menyakinkan diri sendiri pada perasaanku padanya. Namjoon, aku sangat mencintainya selama sepuluh tahun kita bersama, bagaimana ia bisa bilang begitu? Padahal aku sudah memendamnya terlalu lama untuk menjaga persahabatan kita." Selama Hoseok mengutarakan isi hatinya dengan panjang lebar, Yoongi sudah berdiri tepat di belakangnya, raut wajahnya sama dengan Hoseok, sedih dan kecewa tetapi terlihat sebuncah kebahagiaan yang terpatri pada senyum kecilnya kala ia mendengar rentetan kalimat yang Hoseok maksudkan untuknya.
"Kalau memang begitu, kenapa kau tidak bilang padaku sejak awal tentang kalimat terakhir yang kau sebutkan tadi?" Yoongi bersuara, membuat Hoseok sontak menoleh ke arahnya dan langsung berdiri dari duduknya, menatap terkejut pada Yoongi yang tanpa ia ketahui sebelumnya telah berdiri di sana dan mendengar semuanya.
"Yo-Yoongi hyung?"
"Aku terus mencarimu." Yoongi berucap lirih seraya memukul pelan lengan pemuda di hadapannya, "Aku mencarimu ke rumah Sowon karena kupikir kau ada disana, aku menghubungi Jimin, Jin hyung, bahkan Taehyung dan Jungkook untuk mencarimu," ia melakukannya terus menerus, memukul lengan Hoseok dan sesekali menarik lengan bajunya, "Namjoon ada dalam opsi terakhirku karena ku pikir kau sedang menjauhinya."
Namjoon menelan ludah saat mendengar ungkapan Yoongi. Jadi memang benar pada awalnya Hoseok 'serius' menjauhinya, tapi mengapa? Ia bisa menanyakannya nanti, untuk saat ini, yang terpenting Hoseok dan Yoongi meluruskan dulu masalah mereka. Dalam benaknya yang semula kalut, Namjoon menyadari jika Sowon sedang memandanginya, ia tersenyum dan mengangguk ramah pada wanita itu, dan sapaannya di balas olehnya, menurutnya Sowon masih sangat cantik dan menawan, sama seperti dahulu. Tetapi mereka harus menunda nostalgia sementara karena di hadapan mereka ada pertengkaran 'sepasang kekasih'.
"Dan benar saja kau ada disini." Yoongi menghentikan pukulan kecilnya saat Hoseok menggenggam tangannya kemudian menariknya ke dalam sebuah pelukan hangat seraya membisikan kata 'maaf' di telinganya.
"Maaf hyung." Hoseok bersyukur, Yoongi tak berontak dalam rengkuhannya dan pria yang lebih tua darinya itu justru membalasnya, senyum Hoseok mengembang bahagia, kali ini ia memutuskan untuk menyatakan cintanya disaat yang tepat dan lebih mengesankan. "Ayo pulang, aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu." Bisik Hoseok kembali, ia dapat merasakan anggukan pelan yang Yoongi berikan.
"Terima kasih Namjoon, Sowonie. Kami akan menyelesaikan tentang hal ini berdua," pamit Hoseok, Sowon membalasnya dengan senyuman dan Namjoon menatap terkejut padanya dan Yoongi. Apa mereka akan meninggalkannya beruda dengan Sowon?
"Doa 'kan aku." Hoseok mengedipkan sebelah kelopak matanya pada Namjoon dan Sowon, satu-satunya wanita disana tersenyum seraya memberikan kata penyemangat dan Namjoon masih mematung diam dalam duduknya hingga Hoseok pergi dengan Yoongi dalam rangkulannya.
"O-Oppa?" Setelah terdiam cukup lama, Sowon memanggilnya dan memecah tegunan semu Namjoon, "Apa kabarmu?" Suara lembutnya menyapa dengan ramah, dan senyum manisnya membuat Namjoon tak kuasa untuk membalasnya, kini wanita cantik itu duduk di hadapannya, mengantikan tempat yang sebelumnya dimiliki Hoseok.
"Ah? Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu Sowon-ah?" Suasana yang mengudara diantara mereka tak secanggung yang Namjoon kira, sama saja rasanya dengan bertemu teman lama, terlepas dari sejarah mereka berdua yang terbilang tak begitu baik, "Kudengar kau akan menikah." Namjoon hendak memberinya selamat, namun ekspresi yang terpatri pada wajah cantik Sowon tak mencerminkan seorang gadis yang akan dipinang oleh pujaan hatinya. Wanita di hadapannya memang tersenyum, tapi kesedihan tak lepas dari raut ramah yang berusaha ia berikan.
"Kau baik-baik saja?" Namjoon kembali bertanya, ia sudah lama mengenal Sowon, dan ia hafal segala macam ekspresi yang menggambarkan perasaan Sowon yang sesungguhnya, "Sowon-ah?" Memanggil namanya kembali tak sesulit yang Namjoon kira, ia sudah menempatkan masa lalu mereka ke dalam suatu tempat tersembunyi dan menguncinya rapat-rapat, yang ada di hapannya sekarang ini adalah sahabatnya, memang ada julukan untuk mantan kekasih tapi tak ada untuk mantan sahabat.
"Ya, semua baik-baik saja." Sowon berbohong, dan Namjoon langsung menyadarinya, tetapi ia menahan diri agar tak memasuki kehidupan pribadi wanita yang dulu sempat mengisi hatinya itu terlalu jauh, ia menghormati privasinya, ia mengerti dibalik kebohongan yang Sowon ucapkan, ada sesuatu yang tak ingin ia ceritakan padanya. Untuk itu Namjoon mengangguk mengerti seraya kembali memberikan senyum terbaiknya.
"Selamat kalau begitu." Sowon kembali membalas senyumnya, ia menatap penuh kekaguman senyum Namjoon yang dahulu selalu ia perlihatkan saat sedang menenangkannya dari kekalutan dan kesedihan, Sowon selalu mengagumi sosoknya, dan ia selalu menyukai dimple yang akan terlihat saat Namjoon tersenyum lebar hingga kedua matanya melengkung tertutup, nostalgia hadir dalam benak Sowon dan membuatnya harus kembali pada kenyataan, kini senyum itu bukan miliknya, Namjoon sudah menikah. Sowon sadar betul bahwa sekarang mereka memiliki jalan ke depan yang terpisah.
"Oppa, bisa 'kah kita bertemu kembali nanti?" Pinta Sowon, walau mereka sudah memilih jalan masing-masing, ia tak memungkiri bahwa rasa nyaman yang Namjoon berikan ketika ia dekat dengannya memberikan Sowon harapan. Dalam benaknya Sowon meyakinkan dirinya sendiri, memang mereka tak dapat lepas dari masa lalu, namun hal itu tak akan menjadi halangan untuk kembali dekat seperti dahulu.
"Tentu." Namjoon dapat melihat kesedihan yang awalnya ada dalam senyum paksa yang semula terpatri pada wajah cantik wanita itu kini berganti menjadi senyum cerianya yang semula, dan Namjoon turut senang melihatnya.
"Terima kasih. Oppa, kau masih menyukai hotteok kan?"
"Ya, isi keju."
Sama seperti dulu.
mamoru.
"Jin hyung?"
Menelusuri rumah ini memang mudah, walau mewah dan serba futuristik, tetapi Namjoon bersyukur karena interiornya masih menghusung tema minimalis. Ia mendengar bahwa ibu tiri Seokjin yang memilihkan rumah ini untuk mereka tinggali, dan Namjoon cukup terkesima dengan pilihan ibu mertuanya itu.
Tapi tetap saja, untuk mencari barang sekecil kacamata masih sulit untuknya. Seingat Namjoon, ia sudah meletakan kacamata tersebut dengan rapi di meja dekat dengan sofa yang berada ruang tengah. Ia baru saja kembali dari berkerja paruh waktu, dan hendak menyelesaikan tugas makalahnya segera setelah sampai di rumah, dan ia membutuhkan kacamatanya untuk itu. Seingatnya, Seokjin sudah pulang terlebih dahulu siang tadi, dan siapa tahu ia membereskan ruang tengah dan menaruh kacamata Namjoon di tempat lain.
Dalam hatinya Namjoon juga tak sabar untuk segera menceritakan apa yang baru saja terjadi antara Hoseok dan Yoongi pada Seokjin, tapi ia harus segera menyelesaikan tugas kuliahnya terlebih dahulu karena teman-teman satu kelompoknya sudah memutuskan utuk mengumpulkan seluruh susunan bahan tugas malam ini lewat e-mail, untuk itu Namjoon membutuhkan kacamatanya agar ia dapat mengerjakan tugasnya dengan lancar.
"Hyung?" Namjoon naik ke lantai dua, langkah kakinya menelusuri lantai, membawanya ke depan pintu kamar Seokjin. Ia memanggilnya dan sudah mengetuk pintu beberapa kali tetapi tak mendengar satu 'pun jawaban, mungkin 'kah Seokjin tertidur hingga sore? Untuk memastikan dugaannya, Namjoon membuka pintu itu perlahan-lahan dan tanpa menimbulkan suara. Ia menyembulkan kepalanya ke dalam dan melihat Seokjin yang tidur terlentang di atas kasurnya dengan buku bersampul biru masih dalam keadaan terbuka halamannya. Sepertinya ia sedang membaca namun tak kuasa menahan kantuk hingga jatuh tertidur.
"Oh?" Namjoon menemukan kacamatanya saat melihat Seokjin yang sedang terlelap lebih dekat. Di hidungnya yang mancung masih tersemat kacamata baca milik Namjoon, kedua matanya terpejam, dan nafas yang ia hembuskan mendayu dengan teratur, Namjoon melihat sampul di bukunya, dan ia menyadari kalau buku yang sedang Seokjin baca adalah buku yang ia berikab untuk ulang tahunnya dulu. Setahu Namjoon, Seokjin sudah selesai membacanya dan nampaknya ia kembali membaca ulang buku tersebut.
'Syukurlah kau menyukainya.'
Tak tega untuk membangunkannya, Namjoon memilih untuk duduk bersila disamping kasur Seokjin dan memandangi wajah tampannya yang damai. Ada sesuatu yang tak kasat mata menjerat dada Namjoon kala melihat wajah terlelapnya, Seokjin ada tepat dihadapannya tapi Namjoon merasakan kerinduan yang tak terbendung dalam dirinya.
"Hyung, aku sering sibuk di luar sana, apa kau kesepian?" Memang beberapa hari terakhir, mereka sudah jarang berangkat ke kampus bersama karena jadwal mereka berbeda di semeter baru dan Namjoon masih harus pergi ke tempat kerja paruh waktunya sehingga Seokjin akan pulang sendirian dan menunggunya, belum lagi kegiatan lain yang Namjoon dan Seokjin lakukan dalam waktu dan tempat yang terpisah. Sudah seminggu lebih telah berlalu, mereka memang bertemu di rumah pada akhirnya tapi waktu kebersamaan yang Namjoon dan Seokjin habiskan semakin berkurang, dua hari lalu saja Namjoon harus menginap di rumah teman yang satu kelompok dengannya untuk menyelesaikan beberapa tugas.
"Maaf ya." Namjoon sangat merindukan Seokjin. Ia selalu menantikan hari libur agar dirinya bisa menghabiskan waktu seharian bersamanya. "Aku akan mengajakmu kencan nanti." Di awal pernikahan, mereka memang menganggap kencan sebagai hal tabu karena pasti akan ada saja orang yang memperhatikan. Namun sekarang telah berbeda, mereka adalah pasangan yang sudah menikah, apa salahnya jika mereka berkencan?
Sambil menyentuh pipi halus Seokjin perlahan-lahan, Namjoon berjanji akan menghabiskan waktu berdua saja bersamanya saat tugas kuliahnya, kepanitiaan dies natalis dan project di studionya telah rampung. Dalam sentuhan lembut dan tatapan kekagumannya pada Seokjin, hadir sekelebat kenangan dalam benak Namjoon, ia bertanya pada dirinya sendiri, sejak kapan ia jatuh cinta pada Seokjin? Padahal dahulu ia sama sekali tidak memiliki rencana untuk jatuh hati padanya. Tujuan awalnya memilih untuk menikahi Seokjin adalah menggantikan posisi Jimin, yang menurutnya tengah terancam masa depannya saat itu.
'Bagaimana jika saat itu mereka memutuskan tak memberitahuku dan akhirnya Jimin yang menikahi Jin hyung?'
Ada beberapa kemungkinan yang muncul dalam benak Namjoon, mungkin saja ia akan menjalani hidupnya tanpa sedikit 'pun perubahan, mungkin sama halnya dengan dirinya saat ini, Jimin akan jatuh cinta pada Seokjin, mungkin juga ia akan mengacaukan pernikahan mereka dan membawa Seokjin pergi. Ah, tunggu. Ia 'kan belum mengenal siapa Seokjin jika memang keanyataannya seperti itu.
"Haha..." Namjoon tertawa geli saat menyadari apa yang baru saja ia pikirkan. Pertama, ia hendak merebut Seokjin dari Jimin jika memang mereka yang akan menikah. Kedua, Namjoon tak pernah merebut apa 'pun dari Jimin, ia akan selalu mengalah pada adiknya itu, tapi ia tidak akan menyerahkan Seokjin seandainya Jimin hendak memilikinya. Dan ketiga, Namjoon merasa cemburu pada bayangan Jimin yang akhirnya menikah dengan Seokjin, Seokjin-nya.
Tak disadari oleh Namjoon, jika Seokjin telah merubahnya 'sebanyak' ini dalam waktu yang cukup singkat.
Tawa Namjoon mereda saat ia melihat layar ponsel Seokjin yang menyala lewat ekor matanya, tertera nama 'Jungkook' disana.
'Hyung.'
Pesan singkat itu hanya berisi sebuah panggilan dari seorang adik untuk kakaknya, tidak lebih. Demikian Namjoon berharap. Melihatnya membuat Namjoon teringat percobaan bunuh diri Seokjin beberapa waktu lalu, jika ia tak melihat dan mengikutinya, mungkin Seokjin tidak akan ada disini sekarang, terlelap diatas kasur empuknya dengan pipi yang semakin merona saat Namjoon menyentuhnya. Ada sebuah simpul jeratan tak kasat mata di dada Namjoon kala ia membayangkannya, ia tak menyalahkan siapa-siapa, Seokjin dan Jungkook hanya terjebak dalam sempitnya takdir.
"Aku akan melindungimu dari perasaanmu padanya." Lirih Namjoon, dan ia kembali mengingat, saat di apartemen lamanya, Seokjin meminta bantuannya untuk 'menyelamatkan dirinya' dari perasaannya sendiri pada adiknya, dengan membuat Seokjin jatuh cinta pada Namjoon. Dan Namjoon menyetujuinya, karena ia telah jatuh hati terlebih dahulu padanya, pada seorang Kim Seokjin.
"Untuk itu, cepat 'lah jatuh cinta padaku, Seokjin-ah." Pinta Namjoon, sejauh ini ia sudah mendapat banyak 'lampu hijau' darinya, ia yakin jika tak lama lagi Seokjin akan jatuh dalam pelukannya, karena ketulusan hati dan keinginan untuk memiliki Seokjin sudah tertanam dalam hati Namjoon.
"...Joonie" Seokjin menterjap, ia terbangun dari lelapnya tidur di siang hari dan menyadari ternyata Namjoon ada di sampingnya. Entah sudah berapa lama ia jatuh tertidur. Seokjin merasa tidurnya tadi sangat lelap, ia sampai bermimpi tentang seekor bayi koala yang mencoba menyatakan cinta dengan memberikan sebuah kepompong padanya.
Koala itu berkata, "Kalau ini jadi kupu-kupu nanti, ia akan menjadi sayapmu dan membantumu terbang untuk melihat indahnya dunia."
Seokjin tidak mengerti maksudnya, tapi ia yakin setiap mimpi pasti memiliki arti. Lagi pula, aneh sekali, kenapa ia bermimpi tentang Koala yang bisa bicara? Mengingatnya membuat senyum Seokjin mengembang.
"Hyung?" Namjoon menautkan kedua alisnya saat melihat Seokjin terbangun dan tersenyum sendirian, kemudian ia tertawa pelan, "Memimpikanku?" Godanya seraya membantu Seokjin untuk duduk dan meletakan buku yang semula ada di dadanya ke atas meja.
"Kurasa iya." Jika dilihat dengan teliti, Seokjin pikir, Namjoon memang mirip koala terutama saat ia tersenyum lebar hingga kedua matanya tertutup. "Kau baru pulang?" Seokjin masih belum sadar jika kacamata milik suaminya itu masih tersemat di hidungnya, ia duduk bersandar pada dinding, masih berusaha mengumpulkan kesadarannya.
"Tidak, aku pulang sejak tadi dan mencari sesuatu." Namjoon datang mendekatinya, ia merangkak di atas kasur Seokjin hingga wajah mereka hampir tak memiliki jarak.
Seokjin sadar sepenuhnya, "A-apa yang kau cari?" Ia sedikit tergagap karena gugup oleh sikap Namjoon yang terlalu intim, terlebih saat tangan suaminya itu berada tepat di pahanya, dan ia dapat merasakan deru nafas Namjoon tepat di bibirnya.
"Ini." Seokjin memejamkan matanya erat, bersiap akan sentuhan hangat yang akan Namjoon berikan untuknya. Tapi tak ada apa 'pun yang terjadi sesuai angannya, Seokjin bergerak terkejut saat Namjoon menggigit penyangga tengah bagian kacamata yang ia kenakan dan menariknya hingga terlepas dari hidung dan telinganya.
"Apa yang-?!"
"Aku mencari kacamataku." Ganti Namjoon yang memakai kacamatanya, ia terkekeh pelan dan Seokjin tak kuasa menahan malu sampai rona merah terang menghias di pipi dan telinganya, tangannya memukul pelan bahu Namjoon sebagai tanda bahwa ia protes akan tindakannya.
"Ya!" Namjoon dibuat terbahak oleh tindakan Seokjin yang terlihat seperti anak berumur lima tahun, ia cemberut, membuang muka, dan menatap Namjoon dengan sinis, tapi bagi Namjoon, tatapan sinis yang dilayangkan untuknya itu tak menyeramkan sama sekali. Seokjin hendak beranjak dari kasurnya dan pergi keluar kamar, tapi Namjoon menahannya dengan menarik lembut tangan dan pinggangnya hingga Seokjin terjatuh diatas tubuhnya.
"Jangan marah, hyung." Namjoon merajuk, Seokjin hanya diam, ia masih menatapnya dengan sinis tapi Namjoon tahu, telinga Seokjin yang masih merona tak akan membohonginya kalau sebenarnya Seokjin menyukai apa yang ia lakukan. "Tersenyum 'lah, kau akan jauh lebih handsome bila tersenyum." Ucap Namjoon seraya menepuk bokong Seokjin, dan tindakannya itu berbuah pekikan pelan dan rona yang bertambah merah pada telinganya.
"Kim Namjoon!"
"Kau ingat namaku?"
"Tentu saja aku ingat! Ya! Berhenti meremasnya atau aku akan-"
"Akan apa?" Seokjin menggigit bibir bawahnya, ia hendak mengancam Namjoon untuk tidak bicara padanya atau mengabaikannya jika Namjoon terus menggodanya seperti ini. Tapi Seokjin berubah pikiran, ia akan mengikuti arah 'permainan' Namjoon jika itu yang dirinya inginkan.
Dan pembalasannya berbuah 'manis' saat Seokjin merasakan sentakan pada tubuh Namjoon karena ia terkejut. Seokjin menarik kerah kemeja yang Namjoon kenakan dan mencium bibirnya dalam, melumatnya tanpa ampun, memainkan lidahnya di bibir yang belum siap menerima 'serangan' manis dari bibir plump milik pria yang menindihinya. Tapi Namjoon menolak untuk mengalah, ia masih meremas bokong Seokjin seraya memberikan 'serangan' balasan. Digigitnya bibir penuh itu, dan sesapannya pada bibir bawah Seokjin kian dalam dan menggebu.
Seokjin dibuat kewalahan, tapi ia tak mau kalah secepat itu. Namun saat sesuatu yang keras menusuk pahanya, Seokjin menyadari sesuatu, ia terkejut dan segera melepas ciuman mereka, ditatapnya wajah Namjoon yang kini sama terkejutnya dengan dirinya.
"Namjoonie, kau-"
"M-maaf, aku harus ke kamar kecil."
mamoru.
Jika Jungkook boleh memilih, ia akan menghabiskan waktu dengan barisan angka dan goresan diagram statistik dibanding mendengarkan ocehan Taehyung dan Jimin. Dan ia sedang menikmati momennya sekarang, mempelajari seluruh kewenangan saham dan arus keuangan yang telah masuk ke dalam rekening perusahaan. Dua jam yang lalu ponselnya terus berdering, dan notifikasi yang muncul selalu sama, dari group chat tidak berfaedah yang Jimin buat untuk mereka bertiga, Jungkook terpksa meladeni mereka karena pertemuan selanjutnya akan dilakukan di rumah Taehyung dan ia menolak untuk terlibat, seperti biasa.
Jungkook bisa saja mengabaikannya, tapi Jimin mengancamnya untuk menyeret 'pantatnya' agar ia mau ikut. Ternyata Park Jimin adalah orang yang sadis, berbandnding terbalik dengan Namjoon yang terlihat lebih santai dan diam. Tapi tetap saja, Jungkook masih belum merasa yakin pada kakak iparnya itu, ia juga belum sepenuhnya mau untuk menyerahkan Seokjin untuk dimiliki orang lain, tapi Jungkook juga tak dapat memaksakan kehendaknya. Ia memutuskan untuk mengawasi, dan melihat dari jauh, seberapa pantas Namjoon untuk kakaknya.
"Tuan muda, sekertaris Jin ingin bertemu dengan anda."
"Persilahkan ia masuk."
Jin Hyosang. Sekertaris yang baru ia pekerjakan beberapa hari yang lalu untuk membantunya mengerjakan tugas perusahaan sementara ayah dan ibunya dalam perjalanan bisnis di luar negeri.
"Menemukan sesuatu tentang Park Namjoon?" Jungkook diam-diam menyelidiki siapa Park Namjoon sebenarnya, jika kakak iparnya itu pikir ia akan dengan mudah melepaskan Seokjin, Namjoon salah besar, ia memutuskan untuk tahu siapa sebenarnya orang yang menikahi kakaknya itu karena kecurigaannya pada pernikahan Seokjin yang mendadak membuatnya melakukan hal ini.
"Benar Tuan Jeon, Park Namjoon adalah anak sulung keluarga Park, tapi saya menemukan adanya catatan adopsi pada riwayat hidupnya dan nama aslinya adalah Kim Namjoon." Cukup mengejutkan, Park bukan 'lah marga asli dari Namjoon tetapi Kim. Jungkook menganggukkan kepalanya sekali sebagai tanda bahwa ia meminta sekertaris Jin untuk melanjutkan, "Dulu Kim Namjoon merupakan anak tunggal dari pasangan Kim Wanghyuk dan Jung Dohyeon, tapi kedua orang tuanya adalah karyawan dari Park Corp. dan mereka tewas dalam kecelakaan pesawat." Jungkook tak menyangka, Namjoon memiliki masalalu yang cukup menyedihkan, "Keluarga Park mengadopsinya, sebagai bentuk pernghormatan pada kedua orang tuanya yang meninggal saat hendak menjalankan tugas."
Sejauh ini tidak ada yang terkesan 'merugikan' dari siapa Namjoon yang sebenarnya, Jungkook merasa masa lalunya tak begitu mempengarugi kejanggalan yang terjadi pada pernikahan kakaknya. "Lalu? Ada lagi?"
Sekertaris Jin terdiam untuk sesaat, "Ada, tapi sebelumnya saya meminta maaf terlebih dahulu karena telah lancang melakukan hack pada data pribadi perusahaa." Jungkook menghela nafas berat, ia masih pada posisi duduknya dan wajahnya tak menampakkan perubahan sedikit 'pun yang berarti ia memperbolehkan tindakan Sekertarisnya.
"Aku sudah bilang, lakukan apa saja, asal jangan ketahuan oleh ayahku dan petinggi perusahaan lain." Pria yang berdiri di hadapannya itu mengangguk, dan menyerahkan selembar map berisi kertas pada Jungkook yang menerimanya dengan raut penuh tanya, ia membukanya dan sekertaris yang ia pekerjakan itu menjelaskan, "Saya menemukan sebuah transaksi dalam jumlah sangat besar yang diberikan perusahaan ini pada Park Corporation, dengan syarat dan perjanjian yang ditandatangani oleh Tuan Kim Seokjin dan Park Namjoon."
"Apa katamu?" Kecurigaan Jungkook akhirnya terjawab. Ia tak menyangka tapi dirinya juga tak mampu menyangkal karena bukti nyata ada di hadapannya.
to be continued
Ahoy! Saya update di saat-saat terakhir lagi menuju jam 12 AAAAAAA~~ Mohon maaf jika banyak typo(s) karena saya belum sempat edit hiks... saya ga mau telat update karena saya udah janji sama reader-nim sekalian.
Sudah terbayang bagaimana cerita ini akan berlanjut? Hohohoho~ Udah mulai 'panas' nih uwu
Dan sepertinya minggu depan saya tidak bisa update karena ada business trip ke luar Kota selama 5 hari, mohon maaf yang sebesar-besarnya, ini adalah business trip pertama saya. Jadwal update ff akan lancar seperti biasa kedepannya ya~
massive thanks to :
YM01
uwu~ cinta-cintaaan pas hujan-hujan emang saya banget(?) hahaha gak lama lagi kok ya, Jin *sensor* sama Joon hahaha Yoongi sama Hoseok udah cemiwiw kok, hmm Taehyung suka sama siapa ya? HMMM hmmm heeuumm~
AppleCaramelMacchiato
baby baby geudaeneun Caramel Macchiato *ikut nyanyi*
lrrr
Waaah iya yah jangan2 Taehyung incer JK :v atau.. hahahaha sudah djelaskan yah kenapa sope salah paham di chapie ini uwu
loveiscurl
SoPe Rise! SoPe Win! Hohohoho~ Tetet incer si anu yang udah anu padahal anu *to much information* NC NamJin telah dipersiapkan bersamaan dengan badai yang udah dekat aye aye~ /anu... wolf au saya berantakan itu... jadi malu tapi.. uuh, makasih banyak *shy shy/
AngAng13
Saya syudah bumbui manis-manisnya namjin dengan asem pahit konflik mulai dari sekarang hayhayhay~ Wow sama, aku juga kaya orang gila baca reviewnya, dan saya lagi di kantor hahaha Tae sukanya sama Yeontan auuwoooo~ nanti saya jelaskan, sebagai bagian dari plot twist(?) *sok-sokan* *kiss kiss*
QnQueen
Pujian kok, Seokjin memang pantas mendapatkan segala macam bentuk pujian uwu Namjoon cuma milik Seokjin eeyyy~ hahaha YoonSeok sudah bersatu kok, cuma salah paham aja, biasa, namanya juga anak muda(?) *jiwa army nenek2nya keluar* uwu
Goldenaidakko
ゴルデンさん〜 だよね!armyの友人が欲しい!ここにはジャニーズとtvxqのファンのばかりが私は自分だけのarmyのは悲しい〜 huhuhu
und
am i your senpai? uwu i got a really cute kouhai~ kalau saya sih ditengah-tengah kyk Yoongi, apa aja dimakan hahaha
i purple you guys so much
see you~
