Seluruh karakter dalam cerita ini sepenuhny milik Square-Enix, saia cuma minjem doang kok
Take X: Take or Leave
"Uh, serial televisi?" Tangan Yuffie yang tengah memegang potongan pizza berhenti tepat di depan mulutnya yang terbuka lebar, di hadapannya Zack Fair menyeringai lebar sambil menaikkan alisnya.
"Yup, bagaimana menurutmu?"
"Uwo, sebentar," Yuffie mengangkat tangan kirinya untuk memberi tanda agar Zack berhenti bicara. Kemudian dia menjatuhkan pizza tersebut kembali ke kotaknya. "Apa aku tidak salah dengar? Kenapa tiba-tiba diubah menjadi serial televisi?"
"Nampaknya," Zack menjilati jarinya yang belepotan cokelat dari kue yang baru saja dia makan, "Square Channel ingin menyambut musim panas dengan serial televisi yang baru. Dan juga karena serial Summon sudah tamat."
Yuffie menatap Zack lekat-lekat, ya dia tahu serial Summon–itu serial yang bagus di mana ada seorang gadis remaja yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan sebuah mahkluk yang disebut Aeon untuk bertarung, dan dia terjebak dalam sebuah turnamen antar Summoner–sebutan bagi orang yang bisa mengendalikan Aeon–yang diadakan setiap setahun sekali. Jadi setiap season berarti turnamen baru, tetapi main cast tetap karena mereka adalah juara bertahan dan mereka harus ikut berpartisipasi dalam turnamen berikutnya. Summon baru saja merilis trailer terbaru untuk season 3 episode finale mereka. Tapi mengingat waktu tayang Summon berada di prime time, agak beresiko jika menggunakan serial baru bukan? Apalagi pemainnya tidak ada yang terkenal, kecuali... "Siapa lawan mainku dalam serial ini?"
Zack menyeringai lebar. "Aku tahu kau pasti langsung berpikir seperti itu! Lawan mainmu tidak lain dan tidak bukan adalah Genesis Rhapsodos. Jadi itu akan menarik cukup banyak peminat, meski ini adalah serial baru. Dan hei," pria jabrik itu menunjuk dirinya dengan jempol dan memasang tampang sombong. "kalian memiliki Zack Fair sebagai sutradara dan penulis naskahnya!"
"Apa aku tetap menjadi pemeran utama?"
"Ya. Rencananya ini hanya mini series, jadi jangan terlalu senang." Yuffie memutar bola matanya. "Oke, kau berhak untuk senang karena ini peran utama pertamamu. Hanya ada sepuluh episode, lima episode pembunuhan lima karakter. Satu episode satu korban, satu episode untuk pembukaan, dua episode untuk memberi jarak antara lima pembunuhan itu, aku yakin mereka tidak begitu suka jika melihat lima episode berturut-turut berisi pemunuhan. Dan satu episode untuk menjelaskan tentang latar belakang kenapa karaktermu," Zack menunjuk Yuffie, "mengumpulkan tujuh orang di sebuah pulau–"
"Owu, sebentar!" Yuffie memotong penjelasan Zack, untunglah sekarang mereka berada di rumah/kantor agensi Cloud sehingga tidak menganggu orang lain. "Sungguh, aku kira latar belakang cerita pengumpulan orang secara acak di sebuah pulau itu sudah sering digunakan, Zack. Kau tidak kreatif!" Yuffie mencibir.
Zack menggeleng, dia tidak percaya akan mendiskusikan naskah dengan pemeran, bukannya rekan sesama penulis naskahnya. "Uh, mereka semua memiliki masa lalu dengan karaktermu. Tenang saja. Oh, dan akan ada hubungan asmara antara kau dengan Genesis."
Yuffie yang tadinya mendengarkan penjelasan Zack dengan serius tersedak minumannya sendiri, dia terbatuk-batuk sedangkan Zack tertawa. "Kau serius?"
"Yup, tapi akan ada sedikit cinta segi tiga." Zack mengedipkan mata.
"Oh Tuhan, aku akan menjadi target pembunuhan para penggemar Genesis dengan Tifa," kata Yuffie dengan panik dan terang-terangan takut bahwa hal itu mungkin saja terjadi. "Tolong jangan katakan kau ingin mengajak Tifa bermain di serial ini juga! Aku bisa mati!"
Zack tertawa. "Sayangnya Tifa sudah mengikat kontrak dengan Don Corneo. Hei, padahal kalian satu agensi masa–"
"Zack, aku hanya bercanda..." Yuffie memutar bola matanya.
"Ngomong-ngomong, ke mana Cloud? Apa kau tidak mengatakan kepadanya bahwa aku akan ke sini hari ini?"
Yuffie menggeleng. "Tidak, maksudku toh nanti juga kalian akan bertemu. Lagipula hari ini Don Corneo datang ke sini untuk membicarakan kontrak Tifa," dia kembali mengambil pizza yang tadi dia taruh, "plus Cloud harus lebih sering berada di dekat Tifa jika aku benar-benar ingin Cloud menyadari perasaannya kepada Tifa! Maksudku, apa kau pernah melihat bagaimana mereka saling tatap?"
"Ya, aku tahu..." Zack tertawa, Yuffie menyusul.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Tangan Cloud terkepal untuk mengendalikan emosinya. Sungguh, pria ini sangat menyebalkan! Cloud tahu agensinya masih kecil, tetapi bukan berarti dia terima jika dibayar dengan harga rendah. Hei, ini Tifa Lockhart, dan kontrak yang ditawarkan tidak mencapai 10 juta Gil? Yang benar saja! "Maaf, Don Corneo tapi pembayaran yang Anda tawarkan terlalu rendah."
Don Corneo mengembuskan asap rokok ke wajah Cloud, Tifa menatap Cloud dengan perasaan bingung dan sedikit, uh, entah, terlalu banyak perasaan sementara yang paling jelas hanya bingung. "Apa maksudmu?"
"Agensiku memang masih kecil, tetapi bukan berarti kau bisa mengontrak Tifa dengan harga rendah! Dia adalah artis terkenal dan seharusnya diperlakukan sesuai dengan kemampuannya!" Cloud berdiri, mengancing jas hitamnya. "Jika Anda tidak sanggup melakukannya, kami undur diri." Ia mengulurkan tangan. "Ayo Tifa."
"Oke, oke!" Don Corneo berdiri sebelum Tifa sempat mendorong kursinya ke belakang. Dua pria saling tatap hingga Don Corneo meminta Cloud untuk kembali duduk menggunakan tangan kanannya. "Kau mau berapa?"
"Aku mau 500 juta Gil, setengah dibayar di muka."
Don Corneo kembali menghisap cerutunya yang hampir habis. "Kau tahu itu terlalu mahal."
"Tidak ada yang terlalu mahal untuk akting Tifa Lokchart."
"Baiklah, 500 juta Gil. Setengah dibayar dimuka."
Cloud kembali duduk dan tersenyum.
.
.
.
.
.
"Maaf, apa aku keterlaluan?"
Tifa menatap Cloud dari kaca spion motor. "Tentang?"
"Don Corneo..."
"Aku rasa tidak, itu wajar. Maksudku, bukannya aku materialis, tetapi kontrak tersebut memang terlalu rendah bayarannya." Tifa tertawa meski dia tidak yakin apa Cloud bisa mendengarnya. Lalu lintas hari ini cukup padat, mungkin karena sekarang hari senin dan karena jam istirahat kantor baru saja selesai.
Motor berhenti ketika lampu merah, Cloud melepaskan sebelah tangannya dari stang motor untuk menyesuaikan kaca spion sehingga dia bisa melihat wajah Tifa dengan jelas. "Kau berhak untuk mendapatkan yang terbaik, Tifa."
Saat ini Tifa berterima kasih kepada helm yang menutupi wajahnya, jika tidak pasti Cloud sudah melihat seburat warna merah dipipinya. "Kita berhak untuk mendapatkan yang terbaik, Cloud. Aku milikmu sekarang..." Tifa panik beberapa saat setelah kalimat itu keluar dari mulutnya. "Uh, maksudku aku sekarang berada di agensimu!"
Cloud tersenyum meski Tifa tidak bisa melihatnya. "Ya."
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Sebetulnya Cloud rela untuk menjual motornya agar bisa membeli mobil dan membuat Tifa lebih nyama jika dia harus mengantarnya ke suatu tempat, tetapi Tifa menolaknya dan mengatakan bahwa ini tidak apa-apa. Dia belum pernah naik motor sebelumnya, jadi ini pengalaman baru. Dan hei, jika sang artis tidak keberatan, kenapa Cloud harus?
Ketika mereka berdua masuk ke rumah/agensi Cloud, mereka tidak menyangka akan disambut dengan suara–atau lebih tepatnya teriakan–Yuffie, Zack dan Cid. Keduanya saling tatap dan begitu tiba di ruang tamu rumah Cloud (rumah Cloud dibagi menjadi dua, bagian timur kantor sementara barat adalah rumah pribadi Cloud. Ya, tidak bagus memang memiliki kantor di rumah pribadi, tapi saat ini Cloud tidak sanggup membeli bahkan menyewa sebuah gedung untuk menjadi kantornya), kotak pizza berserakan di lantai. Berapa banyak pizza yang mereka beli? Apa mereka ingin memberi makan satu kota? Botol minuman soda juga ikut bergeletakan di lantai dan juga di meja. Sementara tiga orang yang mungkin bertanggung jawab atas semua kekacauan ini tengah menonton sebuah pertandingan sepak bola di televisi.
"Ahem," kata Cloud dengan suara keras untuk menarik perhatian penghuni ruangan ini. Dan berhasil. Zack terkejut dan dia nyaris terjatuh karena menginjak botol soda yang kosong jika saja Cid tidak menahan tangan kirinya dan tangan kanannya bertumpu di sofa sementara Yuffie langsung menaikkan kedua tangannya sebagai tanda menyerah.
"Kalian pulang lebih awal," Yuffie berbisik seperti seorang anak remaja yang tertangkap basah sedang mengadakan pesta tanpa memberi tahu orang tuanya. Oke, mungkin Tifa dan Cloud bukan orang tua Yuffie, tapi dia merasa seperti itu sekarang. "Pertemuan tidak berlangsung lancar?"
"Zack, apa yang kau lakukan di sini?" Cloud mengacuhkan pertanyaan Yuffie sementara Tifa menggantung jaket mereka di gantungan jaket yang berdiri di pojok ruangan.
"Uuuuh, aku sedang membicarakan mengenai perubahan dalam film yang akan aku buat..." jawab Zack setelah dia berhasil berdiri sempurna. Cloud menaikkan satu alis. "Scarlet ingin film ini diubah menjadi serial televisi."
"Sungguh?" tanya Cloud dan Tifa bersamaan.
"Ya, untuk mengganti serial Summon."
Cloud duduk di sofa, lebih tepatnya di tempat yang tadi diduduki oleh Cid. "Hei, itu tempatku! Ugh, baiklah, dasar menyebalkan!" Akhirnya Cid mengambil tempat Yuffie duduk dan membuat mereka berebutan tempat duduk seperti anak kecil. Sementara Zack duduk di meja di hadapan Cloud.
"Uh, tadinya aku ingin memasakkan kalian makan siang, tapi jika melihat semua ini..." Tifa tertawa sambil melihat kotak pizza yang berserakan. "Aku rasa aku hanya akan masak untukkku dan Cloud saja."
"Oh, Tifa, apa kau membeli teh yang aku pesan?" tanya Cid dari sofa, tubuhnya sedikit melengkung ke belakang untuk melihat wajah Tifa. Dia tersenyum lebar saat melihat Tifa mengangkat sebuah kantong plastik putih. "YES! Awas bocah, waktunya untuk minum teh!"
"Ouch, sakit Cid! Kenapa kau memukul pahaku segala?" Protes Yuffie ketika Cid berusaha berdiri dari sofa empuk berwarna abu-abu tersebut. Dia membalas dengan melempar sebuah botol soda ke punggung Cid. Dia memperhatikan Cid dan Tifa yang menghilang ke dapur sebelum mencari-cari remote untuk mengganti saluran karena pertandingan telah lama usai dengan kekalahan untuk tim Leviathan Wutai.
"Genesis Rhapsodos, kau yakin?" Suara terkejut Cloud berhasil menarik perhatian Yuffie dari sebuah acara tmasak, yang tentu saja ditonton Yuffie hanya karena dia ingin melihat masakannya bukan karena dia ingin mencoba membuatnya.
"Baru rencana, aku belum menghubunginya lagi. Dia sedang pulang ke Mideel." Zack duduk di antara Yuffie dan Cloud, mengangkat kakinya ke meja kayu di hadapannya. "Tapi menurutku dia pasti akan menerimanya."
"Aku harap dia tidak menerimanya."
"Cloud, sungguh? Aku kira kau senang jika Yuffie terkenal!" Zack mencibir.
"Ya, Zack benar!" Timpal Yuffie.
"Yuffie, kita membicarakan Genesis Rhapsodos. Penonton akan membanding-bandingkan kemampuan kalian dan kau akan dinilai sebagai orang yang memanfaatkan ketenaran rekannya dan mereka akan memandang rendah dirimu. Aku lebih suka kau beradu akting dengan aktor baru yang belum punya nama daripada melihat dan mendengar aktrisku dituduh hanya menumpang ketenaran lawan bermainnya."
"Aww, Cloud, aku tidak tahu kalau kau begitu khawatir denganku," kata Yuffie setengah tulus dan lebih banyak dari setengah mengejek. "Tapi aku akan membuktikan bahwa aku bukan orang yang hanya memanfaatkan ketenaran Genesis."
Cloud mengembuskan napas. "Apa kau sudah menemukan lokasi syutingnya, Zack?"
"Ah, mungkin di Pulau Goblin. Sejauh ini hanya pulau itu yang sesuai dengan kriteria yang aku inginkan."
"Bagus, jauh dari peradaban manusia! Aku bisa selamat dari amukan penggemar Genfa."
"Genfa?" Alis Cloud bertaut.
Mulut Yuffie dan Zack terbuka lebar. "Cloud kau tidak tahu? Itu singkatan yang diberikan oleh penggamar Genesis dan Tifa yang memasangkan mereka sebagai pasangan, singkatan dari Genesis Tifa." Yuffie menggeleng.
"Cloud aku ragu kalau kau ini manager Tifa! Kau bahkan tidak tahu hal semacam itu!" Zack tertawa terbahak-bahak. Setelah mendapatkan tatapan membunuh dari Cloud, dia baru terdiam.
"Lalu kau tidak membawa surat kontraknya?"
"Oh!" Yuffie menunjuk sebuah map di atas meja yang terbenam di bawah tumpukan bungkus permen M&M, KitKat dan Snicker.
"YUFFIE!" Cloud langsung loncat dan mengambil map tersebut, bernapas lega ketika melihat bahwa kontrak Yuffie tidak kenapa-napa. Dia menatap Yuffie yang berusaha tersenyum untuk menutupi rasa takutnya sementara Zack terkikik geli dari balik tangannya yang menutupi mulutnya untuk meredam suara tawanya. "Tolong hargai surat kontrakmu, atau kita bisa dalam masalah."
Yuffie mengangguk pasrah, setelah Cloud kembali duduk dan tidak lagi terlihat marah, Yuffie baru bisa bernapas lega. Cloud membaca kontrak tersebut dengan seksama sebelum akhirnya perhatiannya teralihkan ke televisi yang tengah memutar film perang yang dibuat oleh Angela, dia adalah manager Genesis, juga seorang produser film serta mantan tentara.
Oleh sebab itu film yang dibuat Angela selalu bertema perang dan mereka semua terasa begitu nyata dan asli, tidak seperti kebanyakan film perang yang terlalu berlebihan. Angela lebih fokus ke kehidupan para prajurit selam perang, bukan perangnya sendiri. Dan tentunya dia tidak pernah mengubah fakta, jika sejarah mengatakan Fort Condor berhasil direbut oleh Junon, maka itulah yang dibuat Angela dalam filmnya, bukannya membuat sebuah plot di mana Front Condor tidak berhasil direbut oleh Junon.
"Cloud, makan siang sudah siap," kata Tifa dari dapur.
"Oke," Cloud berdiri tanpa melepaskan pandangannya dari televisi dan kembali meliriknya sebelum berjalan ke arah dapur. Dia berpapasan dengan Cid yang terlihat sangat senang karena mendapatkan teh kesukaannya yang menurut Shera merupakan teh favorit Cid. Meski bagi Cloud semua teh terasa dan terlihat sama, dia bukan pencinta teh jadi tidak tahu perbedaannya.
Cid duduk di antara Zack dan Yuffie setelah gadis itu dengan cepat berhasil merebut tempat yang ditinggalkan Cloud. Mereka bertiga terdiam beberapa saat sebelum Zack bicara.
"Sampai kapan mereka akan terus menyangkal perasaan mereka?"
"Mungkin mereka belum sadar dengan perasaan mereka?" Cid bertanya dari balik cangkir tehnya.
"Nah, aku rasa mereka sudah sadar." Yuffie mengangkat bahu. "Hanya saja mereka kesulitan untuk mengungkapkannya, maksudku sekarang Tifa sudah menjadi aktris dibawah agensi Cloud. Mau tidak mau mereka harus bersikap profesional bukan?"
Anggukan dua kepala adalah jawaban yang diterima Yuffie.
.
.
.
.
.
Shelke mendorong pintu kaca di depannya menggunakan tubuhnya yang kecil karena tangan kirinya memegang tablet sementara tangan kanannya memegang sebuah buku catatan berwarna oranye seperti warna rambutnya. Seharusnya ini jam istirahatnya, tetapi dia harus melakukannya sekarang jika dia ingin membantu Reeve. Dia menginginkan dokumen mengenai Geostigma yang tidak disebar luaskan ke publik. Shelke awalnya mengira bahwa data tersebut disimpan di gudang data virtual milik ShinRa Corp. ternyata tidak. Nampaknya ShinRa cukup pintar untuk tidak membiarkan data sepenting itu berselancar di dunia maya, oleh sebab itu mereka menyimpan datanya dengan cara lama
Menggunakan kertas. Dan sekarang Shelke yang sudah sangat terbiasa dan sangat nyaman dengan paperless terpaksa berenang di antara lautan kertas yang umurnya mungkin ada yang lebih tua darinya. Semoga tidak ada yang sadar ke mana perginya pemimpin divisi pengembangan teknologi ShinRa saat jam makan siang hingga jam bubar kantor. Dia benar-benar berharap paling tidak bayarannya sepadan.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
"Ah, aku rasa itu akan memberi dampak positif bagi Yuffie jika dia beradu akting dengan Genesis." Tifa memotong ikan salmonnya.
"Dampak negatifnya adalah dia akan menjadi target utama dari amukan penggemarmu dan Genesis." Cloud memeras lemon ke atas ikan salmonnya. Tifa tertawa.
"Mereka memang agak sedikit," Tifa memikirkan kalimat yang tepat untuk menggambarkan penggemarnya tanpa membuat mereka terluka, "berlebihan."
"Mereka mungkin akan kecewa jika melihat Yuffie berpasangan dengan Genesis dalam serial ini."
"Atau mungkin akan muncul ship yang baru." kata Tifa dengan riang.
"Kapal? Kenapa Yuffie berpasangan dengan Genesis akan memunculkan kapal baru?" Cloud menatap Tifa dengan bingung.
Tifa tertawa melihat wajah Cloud yang benar-benar bingung dan tambah bingung karena Tifa tertawa setelah mendengar pertanyaannya. "Maaf, hanyasaja maksudku bukan kapal asli, Cloud. Itu adalah istilah yang digunakan oleh para fans jika mereka mendukung sebuah pasangan fiksional. Baik yang canon atau crack."
Kening Cloud tambah berkerut, Tifa harus menggigit bibir bawahnya agar dia tidak tertawa. "Canon artinya pasangan fiksional dari sebuah film, serial televisi, novel atau video game itu benar-benar terjadi di dalam karyanya. Sementara crack adalah pasangan fiksional yang dibuat oleh penggemar."
"Kalau begitu Genfa..."
Pipi Tifa memerah. "Crack..."
"Hah, tapi..."
"Mereka memasangkan Tifa Lockhart dengan Genesis Rhapsodos yang jelas-jelas hubungan mereka hanya sebatas teman. Oleh sebab itu Genfa adalah crack pairing." Pipi Tifa memerah, dia tidak percaya kalau dia baru saja mengatakan hal tersebut. Sejujurnya dia tidak tahu apakah Genfa itu crack atau bukan, tetapi jika menggunakan logika Tifa, itu adalah crack.
"Apa kau, tidak memiliki perasaan apa pun kepadanya?" bisik Cloud.
Tifa menatap Cloud selama dua menit penuh untuk memproses pertanyaan barusan. Dengan perlahan Tifa menggeleng. "Sudah ada orang lain dalam hatiku," jawabnya tidak kalah pelan. Dalam hati dia berharap Cloud tidak akan bertanya siapa orang itu, atau dia bisa pingsan.
Untungnya, Cloud tidak bertanya. Makan siang mereka berlangsung dalam sunyi.
.
.
.
.
.
Vincent merebahkan tubuhnya di bawah pohon di belakang ShinRa Mansion. Sudah sepuluh hari semenjak dia melihat gadis bertubuh mungil itu. Apa dia baik-baik saja? Vincent tahu bahwa dia tidak terkena Geostigma, dia tahu bagaimana gejalanya, dan gadis itu tidak memilikinya. Tapi tetap saja hal itu tidak membuat Vincent panik saat melihat gadis berambut pendek tersebut pingsan. Mengerikan memang, semua orang yang pingsan langsung diobati seperti orang yang terkena Geostigma.
"Memutuskan sekarang waktu yang tepat untuk keluar dari lubang kecilmu yang nyaman?" Tidak perlu melihat Vincent tahu siapa pemilik suara itu.
"Apa yang kau inginkan, Shalua?"
"Aku datang untuk mengecek kondisimu, tentu saja. Seperti biasa," dia membungkukkan badannya agar bisa melihat wajah Vincent yang masih berbaring. "bagaiamana perasaanmu?"
"Bagaimana kondisi pasien yang satunya lagi?"
"Oh, Weiss?" Shalua membenarkan posisi tubuh dan kaca matanya. "Dia masih koma."
"Belum ada penjelasan kenapa dia koma sementara aku hidup?"
"Apa kau ingin koma, Vincent?"
Sunyi.
"Mungkin itu lebih baik."
Shalua tertawa, dia duduk di sebelah kiri Vincent dengan hati-hati. "Kau tahu, dulu aku juga berpikir seperti itu ketika aku tahu bahwa obat yang selama ini aku kerjakan dengan tujuan untuk menolong orang malah sebaliknya." Shalua memainkan tangan buatan miliknya, sebetulnya tangan buatan tersebut bisa dipasang secara permanen, tetapi Shalua menolaknya. "Selama ini tujuan hidupku hanya untuk ilmu kedokteran, aku sangat bersemangat ketika Profesor Gast mengatakan bahwa dia sedang menciptakan sebuah obat yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Maksudku, apa itu mungkin?" Tidak ada reaksi dari lawan bicaranya. "Dan kemudian Profesor Gast tewas sebelum beliau sempat menyempurnakan obat tersebut. Selanjutnya, yah, kau tahu sendiri bagaimana ceritanya..."
"Hojo melanjutkan pembuatan obat tersebut tanpa mengetahui bahan yang kurang dan menyebabkan obat yang seharusnya menolong umat manusia berubah menjadi obat mematikan dan menciptakan penyakit baru, Geostigma."
"Dia menggunakan tumbuhan Jenova, Vincent." Shalua menggeleng. "Unsur-unsur dalam tumbuhan itu saja tidak jelas, apalagi reaksinya dengan bahan-bahan kimia. Jika Hojo ingin mengalahkan Gast, seharusnya dia berhenti memasukkan unsur tumbuhan Jenova ke dalam obat yang dia buat dan mengulang penelitian Gast dari awal."
"Ingin mengalahkan Gast dengan menggunakan penelitiannya Gast? Ironis."
"Sangat."
Suara dering telepon mengejutkan mereka berdua, Shalua mengenal bunyi tersebut sebagai tanda ada SMS masuk. "Ngomong-ngomong soal Weiss..."
"Apa yang terjadi kepadanya?"
"Oh, bukan. Ini Genesis, dia bilang Zack Fair mengajaknya bermain di sebuah mini series dengan Yuffie Kisaragi, aktris dari Strife Agency. Tempat Tifa berada sekarang." Shalua mengetik sebuah jawaban. "Nampaknya bisnis dunia hiburan semakin menarik sekarang."
"Maksudmu?"
"Semenjak Presiden Shinra tewas, banyak hal-hal menarik yang terjadi di dunia hiburan. Apa kau tidak menyadari itu, Vincent?" Shalua menarik kedua alisnya tinggi-tinggi. "Padahal kau berasal dari dunia hiburan."
"Dulu."
"Mungkin sudah waktumu untuk kembali ke kancah hiburan, Vincent. Aku ingin mengetes apakah kau akan berakhir koma jika melewati hari-hari dalam kondisi stress."
"Kau ingin aku stress dan kemudian koma? Shalua, aku tahu kita tidak memiliki hubungan yang baik, tapi bukan berarti..."
"Oh maaf," Shalua tertawa, "aku tidak bermaksud untuk mengucapkannya seperti itu. Maksudku setelah diberikan Shinra Remedy Weiss langsung koma, sementara kau tidak. Jadi kami mempelajari pola hidupmu dan Weiss. Weiss terlalu sering stress dan melakukan kegiatan fisik terkadang diluar batas kewajaran, sementara kau bisa dikatakan seimbang. Hingga sekarang kami berhasil mempertahakan keseimbangan tersebut, dan terbukti atau setidaknya memperkuat hipotesis kami bahwa komanya Weiss dikarenakan pola hidupnya sebelum dia mengkonsumsi, atau dipaksa mengkonsumsi oleh Rufus, Shinra Remedy."
"Jadi kau ingin melihat jika aku merubah pola hidupku, apakah aku akan berakhir sama seperti dia?"
"Ya, jika begitu kami bisa menemukan polanya dan mengobati kalian juga orang-orang di luar sana yang koma karena mengkonsumsi Shinra Remedy."
Tubuh Vincent menegang saat mendengar bahwa di luar sana ada korban dari Shinra Remedy selain dirinya. "Sudah ada korban? Selain Lucrecia, aku dan Weiss?"
Shalua menghela napas. "Sayangnya, ya. Setelah Hojo 'tidak sengaja'," Shalua menggunakan jarinya untuk membuat tanda petik ketika mengucapkan tidak sengaja, "memberikan Shinra Remedy kepadamu dan kau tidak koma, dia mulai berisik dan mengatakan bahwa obatnya sudah sempurna. Tentu saja kami sempat melakukan cek kesehatan secara menyeluruh kepadamu waktu itu, dan kau memang bersih dari segala penyakit."
"Ada berapa orang yang koma?"
"Sepuluh dari sepuluh orang yang mengkonsumsi Shinra Remedy. Lima orang terkena kanker, dua orang diare dan tiga lainnya demam." Shalua berbisik. Dia tidak percaya saat pasien yang awalnya datang karena demam tiba-tiba langsung terbaring koma di rumah sakit. Memang salah satu pasien ada yang mengalami demam hebat, tapi jika menggunakan obat biasa, pasti akan lain ceritanya.
"Aku akan mempertimbangkannya."
"Hum?"
"Kembali ke dunia hiburan. Agar penelitian kecilmu mendapatkan hasil, dan aku bisa balas dendam kepada ShinRa."
"Oh, kau ingin pergi ke agensi mana? Mungkin aku bisa membantu."
"Tidak jauh-jauh, agensinya ada di sini."
Shalua menatap Vincent yang sudah berdiri membelakanginya. "Maksudmu..."
"Strife Agency."
Huaaa, saia lagi tergila-gila sama serial televisi, jadi mungkin akan saia terapkan dalam cerita ini, gyahahahah... Dan saia ketawa sendiri baca penjelasan tentang ship, canon sama crack XDD
Jangan lupa reviewny *bows*
