:: The Omega ::

~HunHan~

.

.

.

.

Aku dan Sehun pergi berjalan-jalan di pasar musim panas, kenapa disebut pasar musim panas? Tentu saja karena mereka mengadakan setiap akhir pekan selama musim panas. Kakek dan nenek memperbolehkan kami keluar bersama karena mereka akan pergi, kakek adalah orang yang sibuk dia adalah pemimpin suatu klan Alpha-Omega di sini dan dia selalu membawa nenek jika ada pertemuan dengan klan lain. Kami bebas seharian ini!

Hari yang luar biasa karena untuk yang pertama kalinya kami diperbolehkan pergi keluar rumah, nenek sangat ketat pada kami terlebih padaku, mungkin karena aku sedang mengandung itu masuk akal kenapa mereka semua sangat ketat padaku. Aku membeli barang-barang bagus kemarin; pernak-pernik, pakaian, aksesoris, dan make up, oh! Kami juga membeli sedikit oleh-oleh untuk teman-teman.

Begitu kami pulang ke Mansion aku segera menjatuhkan tubuhku pada sofa, tak sempat untuk pergi ke kamar karena aku merasa sangat lelah. Aku akhir-akhir ini sangat lemah, rasanya naik dan menuruni tangga sebanyak dua kali saja sudah lelah. Aku menoleh dengan malas pada Sehun di sampingku, dia baru saja kembali dari dapur membawa sesuatu untuk ku minum.

"Lelah?" Tanyanya.

Aku terlalu malas untuk menjawabnya, aku mengangguk dan segera bangkit dari berbaringku. Aku merapatkan tubuhku padanya, meraih lengannya untuk ku peluk lalu bersandar pada bahunya yang kokoh. Aku mengernyit ketika hidungku mencium bau yang membuatku pusing dan ingin muntah, aku mendongak untuk menatapnya. "Kau mencium sesuatu?" Tanyaku.

"Apa? Kau ingin aku menciummu?" Tanyanya balik lalu segera menempatkan diri untuk menciumku namun aku menahan dadanya sembari memaling wajahku.

Ada bau yang tidak enak dari tubuh Sehun. "Sehun kau bau!" Aku mendorong dadanya dan dia mengerti lalu menjauh dan mencium dirinya sendiri.

"Baiklah aku akan mandi," Dia beranjak lalu menatapku dengan senyum menawan, tangan besarnya berada di atas kepalaku merusak tatanan rambut lepek karena keringatku. "Aku tak ingin Luhanku merasa tidak nyaman." Dia mencoba mengecup, merunduk dan menempelkan bibir tipisnya yang lembut di dahiku yang berkeringat. Aku menahan nafas untuk sesaat karena Sehun benar-benar bau.

Dia meninggalkanku di ruang tamu yang besar ini, dekorasi kuno membuatku kadang berpikir Mansion kakek berhantu. Aku bersandar dan terus merosot hingga meringkuk di sofa coklat nyaman ini sembari memeluk bantal berwarna lebih lembut dari warna sofa. Aku merasa sangat lemas dan tubuhku terus mengeluarkan keringat walau tempat ini sudah difasilitasi AC.
Aku merindukan Sehun, sangat merindukannya walau pria itu baru saja pergi beberapa menit lalu untuk mandi.

"Sehun?" Panggilku dengan suara yang pelan.

Aku bergulir untuk tidur terlentang sembari memeluk bantal punggung namun aku terkejut hingga mengumpat karena Sehun tiba-tiba ada di samping sofa. "Sial Sehun kau seperti hantu!"

Aku melotot padanya lalu mengapit hidungku karena bau Sehun. "Kau belum mandi?" Tanyaku dengan suara tinggi.
Dia memakai handuk di pinggangnya, rambut basah dan masih ada banyak busa sabun di tubuhnya. Dia sedang mandi dan bergegas untuk sesuatu sehingga menunda mandinya. Dia bernafas dengan suara keras, menatapku seperti hendak menelanjangiku. Aku bergerak perlahan untuk bangun, bergeser untuk sedikit menjauh darinya.

"Se-Sehun?" Panggil dengan hati-hati.

"Luhan, apa kau sedang heat?"

.

.

.

"Mmh Sehun ka-kau bau..."

Aku meracau dan bergerak tidak nyaman saat Sehun menjilat cairan bening yang terus keluar membasahi lubangku dan mengotori tempat tidur. Aku heat, aku tengah heat dan aku baru menyadarinya saat Sehun menelanjangiku. Dia mengecup lubangku hingga bola kembarku, menjilat dan menghisap benda itu hingga aku terus terangsang dengan sangat parah.

Dia sangat bau namun anehnya bau itu memabukan walau membuatku pusing dan sangat lemas. Tubuhku mengejang saat dia menelan utuh kemaluanku, memainkan lidahnya di sana, menghisap, dan menggigitnya itu membuatku gila.

"Sehun!" Aku menjeritkan namanya saat maniku menyembur, dia menghisap semuanya tanpa tersisa dan aku terengah.

"Kau sangat manis." Aku tersipu dan ingin sekali memeluknya erat.

Dia beranjak menindihku, mencium bibirku dengan nafsu kembali menguasainya. Aku mendesah, mengerang, dan terengah karena ciumannya, dia pencium terbaik yang pernah ada! Penisku kembali mengeras setelah beberapa menit yang lalu keluar, bertemu dengan penis besarnya yang masih terlindung handuk putih.

Aku menghentikan ciuman panasnya, kekurangan pasokan udara di paru-paruku dan ingin mengatakan betapa keras penisnya di sana.

"Sehun, penismu keras seperti batu." Dia terkekeh geli.

"Jalang kecil, kau ingin penisku di dalammu segera, hm?" Dia bertanya, menatapku penuh arti. Aku tak bisa marah karena dia baru saja menyebutku jalang kecil karena tatapannya padaku dan aku memang benar menginginkan penisnya di dalamku.

"Dia sangat basah dan ingin segera melahap penismu, dia merindukanmu!" Aku membuka kakiku lebar-lebar saat Sehun bangkit dari atas tubuhku, memegangi kedua kakiku untuk menunjukan lubang basahku padanya.

Dia melepas lilitan handuknya dan benda perkasa itu memperlihatkan eksistensinya yang luar biasa. Besar, panjang, dan berurat, aku tak tahan dan mengerang keras melihat itu. "Sehun cepat! Cepat!" Aku memasukan dua jariku lalu meregangkan lubangku untuknya.

Dia mengarahkan penisnya padaku, memasukkannya tanpa kesulitan dan aku menikmati setiap incinya menerobos lubang basahku. Aku melenguh merasakan betapa penuh dan panasnya lubangku, dia bergerak perlahan dan meningkatkan kecepatannya dengan teratur. Dia mengingat aku tengah hamil dan tak ingin membuat masalah dengan terlalu keras saat bercinta denganku.

Aku sungguh tidak tahu mengapa aku heat hari ini, bukan kah setelah dibuahi masa heat-ku akan berkurang?

Aku mengerang keras, tersentak-sentak saat dia menaikkan kecepatannya dan aku mulai kehilangan akal sehatku. Dia mencumbu bibirku, menggigit dan menghisap membuatku benar-benar kehilangan akal sehatku.

"Sehun aku ahh!" Tak sempat aku menyelesakan apa yang ingin aku sampaikan, penisku terlebih dahulu menyemburkan lelehan putih kental. Aku terengah hebat.
Dia merengkuhku tubuhku, memeluk tubuhku ketika dia merasa sudah dekat.

"Ja-jangan!" penisnya semakin membesar dan aku khawatir jika dia mengeluarkannya di dalamku.

"Sehun jangan!"

Dia mengabaikanku, dia mengeluarkan spermanya di dalam. Aku memejamkan mata menikmati cairan kental itu menembak tubuhku, rasanya sangat luar biasa.

"Kau bodoh! Kau idiot! Brengsek!" Aku memukul punggungnya dengan lemah ketika sperma yang dirasa tak akan habis keluar itu akhirnya berhenti.

"Maafkan aku, aku tidak rela meninggalkan lubang nikmatmu." Dia mengecup bibirku lalu tersenyum, Aku mendengus karena tak bisa marah lebih lanjut jika dia tersenyum seperti itu.

Dia menarikku ke pelukannya lalu dengan cepat membalikan posisiku, aku tersentak ketika dia mulai menggerakan pinggulnya lagi.

"Ti-tidak Sehun itu sudah cukup, jangan-"

"Ahh!"

.

.

.

Aku merosot di lantai setelah Sehun mengeluarkan kemaluannya dari lubangku dan mengeluarkan spermanya di luar, menembakannya pada pantatku yang masih menungging. Dia semakin membuatnya kotor. Aku sangat lelah bahkan untuk bangkit dan pindah ke atas tempat tidur, air liurku menetes dengan deras karena lelah dan terlalu menikmati waktu bercinta kami. Aku bahkan lupa aku tengah hamil karena gempuran Sehun, itu membuatku lupa segala hal dan ingin terus menikmatinya jika aku tak punya rasa lelah.
Ini bukan apa-apa, dia hanya melakukannya tiga kali karena masih mengingat kehamilanku. Kau tahu dia bahkan melakukannya lebih dari tiga saat aku tidak dalam masa heat, nafsunya terlalu besar.

"Sehun kau masih bau." Kataku tetap mengaju pada bau tubuhnya, dia mengangkatku dan meletakanku dengan hati-hati di tempat tidur.

"Ya dan kau masih sangat harum sehingga aku ingin bercinta lagi denganmu." Dia mengusap rambutku sebelum mengecupnya.

"Ayo mandi bersama."

Aku menggeleng, aku tidak mau sesi bercinta di kamar mandi. "Aku sedang hamil, jangan terlalu sering bercinta idiot!" aku menenggelamkan wajahku pada bantal.

"Aku berjanji tak akan melakukan apapun, kita hanya mandi."

Kami benar hanya mandi, karena aku terlalu lemas Sehun memandikanku dengan telaten. Dia menggosok rambutku setelah memakaikanku pakaian mandi dan menggendongku. Dia membaringkanku dan menarik sprei dan selimut yang penuh noda putih dan keringat.

"Aku akan membawa ini ke bawah, kau istirahatlah."

Dan dia pergi keluar dari kamarku membawa sprei dan selimut kotor untuk di cuci. Nyaman sekali, aku ingin cepat tidur. Bau Sehun menghilang dan rasanya lega sekali, dadaku sesak ketika baunya masih ada di sekitarku. Aku tak tahu kenapa Sehun sebau itu, seingatku dia tak bau sama sekali, dia sangat harum dan aku ingin selalu berada di dekatnya walau keringat membanjirinya.

.

.

.

Nenek dan kakek kembali keesokan harinya dan total berapa lama mereka pergi adalah dua hari, itu pun karena nenek memaksa karena sangat khawatir pada kami. Aku tahu apa yang nenek khawatirkan, karena saat nenek kembali aku dan Sehun masih ada di kamar. Kau tahu apa yang kumaksud?

Aku baru saja selesai mandi untuk yang kedua kalinya, aku sangat panik ketika seseorang di sana mengatakan nenek dan kakek sudah pulang sedangkan posisiku tengah bercinta dengan Sehun. Bagaimana bisa Sehun begitu bergairah selama dua hari ini? apa karena nenek dan kakek tidak ada?

Aku mendelik pada Sehun saat kami telah sampai di lantai dasar, aku berjalan mendahuluinya untuk bertemu nenek dan kakek di halaman belakang. Di sana aku melihat nenek di temani teko putih dengan hiasan bunga merah muda di sekeliling ujung teko dengan garis emas menghiasi bibir teko serta bagian ujung dan bawahnya.

"Waa castella*!" Aku memekik begitu melihat castella di atas meja, kue itu sudah tersusun rapih dan jumlahnya ada empat pas dengan jumlah kami.

Aku mengambil tempat di seberang nenek, menyambar garpu dan hendak memotong castella bagianku jika nenek tidak bertanya. "Apa yang kalian lakukan? Kalian tidak menyambut nenek dan kakek?"

Aku menunduk malu beberapa detik sebelum mendongak dan melihat Sehun akan duduk di sampingku. "Apa kabar nenek, bagaimana acaranya?" Sehun bertanya dan tersenyum sopan, berpura-pura tidak mendengar apa yang baru saja nenek katakan.

Aku rasa usaha berpura-pura Sehun sia-sia, nenek tidak menjawabnya. Dia mengintimidasi kami dengan matanya. "Sehun tahanlah feromonmu, feromonmu sangat kuat," Sehun mengerjap polos.

"Luhan akan merasa pusing dan tidak nyaman." Dia menelik kami lagi.

"Berapa banyak yang kalian lakukan?"

Aku melotot, wajahku merah dan aku ingin berlari lalu bersembunyi. Bagaimana nenek bisa tahu? Apa bau kami tercium jelas?

"Kurasa tujuh?" Jawab Sehun tak yakin.

Aku mencubit perutnya dan dia mengerang keras, menatapku seolah bertanya apa kesalahannya.

"Kau tahu Luhan sedang hamil bukan? Bagaimana bisa kau melakukannya sebanyak tujuh kali?" Nenek mengomeli Sehun dan Sehun hanya tersenyum canggung sembari menggosok tengkuknya.

"Ma-maafkan aku, itu tak akan terjadi lagi." Sehun menyesalinya dan telah beranji tak akan menyentuhku untuk sementara selama periode kehamilanku.

"Nenek ingin kau jauh dari Luhan untuk sementara," Nenek menyesap tehnya sebelum melanjutkan kalimatnya. "Dan besok sebelum kalian pulang, nenek ingin Luhan di periksa."

.

.

.

"Bagaimana rupa dan bau Alphamu akhir-akhir ini?"

"Dia... terlihat seperti biasa hanya saja baunya sangat menyengat."

"Bagaimana baunya?"

"Aku tidak tahu, baunya sangat menyengat dan aku tak bisa menggambarkan seperti apa."

Nenek dan Sehun mengantarku pergi memeriksakan kandungan dan keadaanku, di rumah sakit dan sejauh ini semuanya normal. Kandunganku dan diriku baik-baik saja hanya saja Sehun, dia yang bermasalah. Tidak, tidak serius hanya saja feromonnya terlalu menggebu-gebu dan itu normal bagi seorang Alpha ketika Omeganya dalam periode hamil muda, feromon terlalu kuat itu memancingku untuk heat secara tidak disadari dan hanya Alpha yang bisa merasakannya.

Sehun diberi suppressor* dan setelah dia meminum obat itu bau yang menyengat dari tubuhnya mulai menipis dan menghilang, sekarang aku bisa memeluknya lagi.

Karena besok lusa kami harus mulai sekolah lagi hari ini aku pulang, kami mengantar nenek pulang ke Mansion terlebih dahulu. Nenek tetap memaksa ikut untuk mendampingku, aku tahu nenek khawatir itu terjadi lagi.

"Tunggu Sehun, ada barangku yang belum aku kemas!" Aku bergegas turun setelah baru beberapa menit lalu berpamitan, berlari memasuki Mansion dan terburu menaiki tangga.

Aku tak berniat meninggalkan barangku lagi seperti saat terakhir kali berkunjung, apa barangku itu? Make up yang baru ku beli. Aku tidak suka memakai riasan sungguh hanya saja karena aku telah membelinya aku harus memakainya apapun yang terjadi. Aku tak berpikir untuk memberikan ini pada Yoona, gadis itu tak akan habis meledekku.

Yoona adalah sepupuku, aku membencinya karena selalu meledek apapun yang sekiranya aneh dariku, dia terlalu memperhatikan dan banyak berkomentar tentangku. Tapi jauh dari itu aku sangat menyayanginya, benciku hanya sebatas ketika dia terlalu banyak berkomentar dan meledekku.

"Sehun kau tak suka ketika aku memoleskan benda-benda ini?" Aku bertanya setelah kembali ke dalam mobil dan menunjukan tas make up-ku.

Sial, bahkan aku membeli tas untuk itu.

Aku meletakan tas make up-ku di dasbor, mendesah lalu beralih untuk menatap Sehun. Dia juga tengah menatapku dengan mata bak elang itu. Sangat seksi, matanya sangat seksi.

"Tidak juga," Sehun menyalakan mesin mobil. "Aku suka apapun itu asal itu kau."

Aku memutar bola mataku bosan lalu bersandar pada pintu sembari menghalang rona manis di wajahku, senyum malu-malu karena tersanjung olehnya dan lagi merasa sangat sangat spesial dari siapapun di dunia ini.

Sehun mengendarai mobilnya, ibu dan ayah tak bisa menjemput kami dan seandainya jika mereka menjemput kami tentu itu sia-sia karena Sehun membawa mobil. Dia menepi dan menatapku seperti baru saja terjadi sesuatu yang gawat, secara reflek aku panik. "A-ada apa?" Aku bertanya dengan perasaan was-was akan sesuatu yang akan dikatakannya.

"Luhan apa kau membawa sesuatu yang bisa di makan? Sialan aku sangat lapar hingga rasanya akan mati."

Aku mendesah lega ternyata itu alasan wajah itu, memukul lengannya untuk balasan karena sesaat membuatku sangat panik. Sehun memiliki wajah yang selalu terlihat serius dan kaku, siapapun yang melihatnya untuk yang pertama kali akan berpikir dia sangat arogan tapi jika kau sudah mengenalnya dia sangat lembut dan hangat.

"Idiot, hanya karena lapar kau membuat orang hamil sangat panik?" Aku melotot padanya.

"Aku benar-benar lapar."

Aku ingin berteriak bahkan aku menahan nafasku untuk itu. Bagaimana bisa Sehun terlihat seperti anak anjing? Dia sangat menggemaskan ketika memelas! Aku... aku ingin memeluknya.

"T-tunggu, aku hanya punya gummy bear-"

"Aku saja, tetap di sini."

Dia mencegahku untuk keluar dari mobil, pergi ke bagasi belakang untuk mengobrak-ngabrik barang bawaanku. Aku mendengus ketika terakhir kalinya Sehun mengambil sesuatu dari bawaanku semuanya akan kacau ketika aku melihatnya kembali. "Sehun jangan mengacak..." aku menurunkan bahuku begitu aku keluar untuk menghentikan Sehun, ada beberapa orang menghampiri Sehun.

"...nya."

"Tidak!" Aku menjerit ketika seseorang yang berada di belakang Sehun mengeluarkan pisau dan hendak menikamnya dari belakang.

Semua orang melihat ke arahku dan ketika aku akan menghampiri Sehun seseorang menarikku, menempelkan benda tajam pada leherku dan membuat Sehun menggeram marah dan tak perdaya.

"Brengsek, di saat aku kelaparan seperti ini?" Dia menggerutu.

"Sehun..." Aku memanggilnya lirih karena orang yang menyanderaku terus menekankan benda tajamnya pada kulitku, jika aku bergerak sedikit kulitku akan tergores dan mengeluarkan darah.

"Baik, apa yang kalian inginkan?" Dia bertanya pada seseorang yang terlihat seperti pemimpinnya.

Orang itu menyeringai. "Kami akan menganggap masalah itu tak pernah terjadi dan kami akan membebaskan pacarmu jika kau menyerahkan semuanya." Orang itu menjawab.

"Baik," Sehun menyetujuinya.
Dia berjalan menghampiriku dan ku rasakan kulitku benar-benar akan berdarah karena orang di belakangku mulai merasa panik ketika Sehun datang.

"Tapi bagaimana jika aku melakukan ini," Dia meludah tepat pada mata orang yang menyanderaku, menarikku segera ke sisinya saat orang itu dengan panik membersihkan matanya.

"KURANG AJAR!"

Sehun mengelilingiku, menjagaku dari jangkauan brandalan-brandalan ini. ketika senjata di tangan mereka mulai mengacung aku tak bisa untuk tidak khawatir. Sehun menangkisnya dengan tangan dan dengan kakinya namun ketika seseorang menghantamkan balok kayu pada kepala Sehun aku menjerit keras.

"Sehun!"

Sehun terhuyung namun tetap berpijak dengan padat pada tanah. Dia meraih tanganku, membuka pintu belakang dan mendorongku masuk lalu membanting pintunya dengan keras. Aku mengunci pintu lalu meringkuk menutup telingaku karena suara pukulan-pukulan keras membuatku sangat ketakutan, tak hanya pukulan namun juga hantaman keras yang membuat mobil terguncang.

Aku sangat takut. Tidak, aku sangat takut jika Sehun yang mendapatkan pukulan itu.

Beberapa menit berlalu rasanya seperti berjam-jam, ketukan pada kaca mobil dan senyum hangat Sehun di balik jendela membuatku secepat kilat membuka pintu mobil. "Sehun!" Aku menjeritkan namanya lalu menangis tersedu-sedu di pelukannya.

Aku bersyukur.

.

.

.

"Berhentilah menangis aku tak bisa menghapuskan air matamu, aku tak mau mengotori wajah indahmu dengan tanganku."

Segera aku menghapus dengan kasar air mata yang mengalir melewati pipiku namun ketika mataku bertemu dengannya aku tak bisa menahan tangisku, tangisku kembali pecah karena aku merasa sangat bersyukur Sehun baik-baik saja.

"Sehun aku sangat bersyukur!"

Aku kembali menghambur pada pelukannya, memeluknya erat dan menangis di dadanya.
Aku tak bisa membayangkan jika Sehun terluka dan tak bisa berada di sampingku, aku tak bisa hidup tanpanya aku benar-benar tak bisa. Aku mengusap air mataku, meraih wajah tegasnya untuk ku kecup lalu mengusap peluh yang masih tersisa di dahinya.

"Sudah merasa lebih baik?" Dia bertanya.

Aku mengangguk dan tersenyum menjawabnya, dia bergerak mencium kelopak mataku lalu melontarkan kata-kata manis yang membuat taman bunga imajiner bersemi dengan cantik.

"Aku tak ingin kau banyak menangis, indah yang selama ini terlihat menjadi rusak oleh banjir di sini." Dia mengecup kelopak mataku sedikit lebih lama.

"Aku ingin melihat merah manis di wajahmu, senyum yang menggemaskan, tawa halus yang menghangatkan bukan jeritan tangis," Dia mengecup bibirku dengan lembut lalu menarik sudut bibirnya dengan indah. "Mengerti?"

Aku mengangguk, semua yang baru saja terjadi perlahan tergantikan oleh perasaaan hangat dan terlindungi, dicintai dengan sangat dan sangat berharga bagi hidup seseorang.

"Sekarang aku masih lapar dan ingin makan ini," Sehun menunjukan kotak gummy bear-ku.

"Suapi aku."

Aku cemberut, membukakan kotak permen itu lalu menyuapinya. Dia tersenyum lebar sembari mengunyah permen jelli itu. Aku menatapnya, aku tidak tahu kenapa mereka menghadang mobil kami, aku tak pernah berada disituasi seperti tadi jadi aku sangat ketakutan.

"Se-Sehun, kenapa mereka menyerangmu?" Tanyaku.

Dia terlihat tengah mengingat sesuatu, menatapku ketika dia telah mendapatkannya. "Itu kecelakaan," Dia menggosok hidungnya terlihat seperti tengah menyembunyikan tawa gelinya dariku, aku mengerutkan dahiku tidak mengerti.

"Aku menabrak motor teman mereka hingga terjungkal di jalan."

.

.

END

.

.

[]

*Suppressor semacam obat untuk menahan feromon dan hasrat, entah ada atau nggak di dunia nyata tapi saya tau ini dari komik dan novel Omegaverse

*Castella semacam kue mirip sponge cake khas Nagasaki Jepang

Hai? saya cuma mau bilang saya akan meninggalkan kapal jika mereka beneran bakal nikah, maaf jika ada yang tersinggung atau anggap saya penghianat blablabla. Jujur saja saya gak menerima idol saya sama cewek, maaf untuk saat ini saya fujoshi garis keras, saya bukan kaum BIM saya cuma FUJOSHI gak lebih gak kurang, susah kalo sudah jadi fujoshi keras kek saya ini. Berhenti jadi Lufans kalo dia nikahin sianjing, buat apa menggemari suami sianjing? saya aja benci sianjing sejujurnya. silahkan kalo mau bilang saya sakit dan sebagainya, toh emang sakit kan kalo udh ngeship idol mati2an gini? bodo amat, yang penting gua bahagia dan gak pake duit lo. :)

Saya akan menghapus semua fanfiksi HunHan saya jika itu benar terjadi dan mungkin hanya menyisakan fanfiksi ini. Terima kasih untuk kalian readers saya yang sudah menemani saya selama masih dikapal. Jika mungkin dari kalian rindu dengan tulisan saya, saya ada diwattpad dengan panname Y0427Ai, menulis dengan kapal-kapal yang telah saya temukan untuk dishipper'in mati2an sampe mereka nikah betulan sama cewek. Saya juga ada diAO3 dengan panname sama dengan WP, dan diFFN dengan akun ChanBaekMate, disana saya menulis khusus pairing ChanBaek.

Sekali lagi terima kasih banyak!