KP : Yup! Yakin udah baca chap sebelumnya, kan? Sip …
Ini double chapter part dua alias chapter kedua yang lagi2 kuapdate di hari yang sama ….
Chapter 11 : Ngaku ajaaa …
"Mantan?!" seru Naruto n Kisaliten, bareng. "Mmm … . Enak banggetz~." Yukimaru melting sampe nangis haru karna makan strawberry cake bikinan Gaara. Tadi dia udah menyantap appetizer n main dish. Nah, sekarang pas lagi menikmati dessertnya, dia nyeritain kalo dirinya n Killer Bee adalah mantan anggota Jinchuuriki.
Kini Naruto, Yukimaru, Kisaliten n juga Gaara ada di dapur kafe Sunday. Tadi Gaara udah bilang ke Chouji kalo nih 'anak' udah cukup aman. Walau sedikit bermasalah. N doi minta izin buat ngebolehin mereka ngumpul di dapur kali ini aja coz ada hal penting yang mo didiskusikan.
Di sekeliling kepala n dahi Yukimaru melingkar perban yang dipasang Gaara akibat luka karna lemparan batu Naruto.
"Mantan? Elo didepak dari sana, ya?" tanya Naruto, nyinggung. Rada nggak percaya. Cowok kecil tadi cemberut. "Bukan gitu." Katanya, seraya ngunyah strawberry. Kalo lagi makan cake gini dia bener-bener keliatan kayaq anak kecil asli, deh. Doi bersendawa n ngeletakkin garpunya.
"Makasih, Gaara." Katanya. "Gue suka ama loe." Yukimaru senyum. Gaara cuman diem. "Halah. Palingan elo suka ama kuenya doang." Dengus Naruto. "Coba elo bisa bersikap lebih manis lagi, gue pasti udah nembak elo dari tadi, cewek tomboy." Ledek Yukimaru, angkat bahu.
"Gue cowok! Lagian, siapa juga yang mau ama cowok pendek macam elo?!"
"Dasar. Keliatannya aja manis. Tapi dalemnya asem."
"Elo yang asem!"
Kisaliten sibuk nahanin Naruto yang ilang kesabaran supaya nggak ngehajar cowok bertubuh bocah itu.
"Lalu … kenapa loe keluar dari Jinchuuriki?" tanya Gaara, balik ke topik semula. Doi ikutan nenangin Naruto. Raut muka Yukimaru keliatan muram. Doi jadi rada nunduk. Kedua tangannya yang tadi ada di atas meja dapur sekarang beralih ke atas pahanya. Kedua tangannya terkepal.
"Itu … karna gue nggak suka ama kehidupan ala Akatsuki. Trutama Jinchuuriki yang suka ngebunuh orang lain meski mereka bukan target. Kalo Kirabi … dia ikut gue karna cuman gue sobatnya di sana. Lagian, meski nggak bilang apapun … gue tau kalo dia juga nggak betah di sana. Walau termasuk dari anggota Jinchuuriki, Kirabi itu rada bego, sih … Makanya dia sering diledekin ama anggota laen."
"Oh … "
Wajah Yukimaru terangkat. Dia tersenyum perih. "Kami milih Konoha sebagai tempat kabur karna kota ini yang paling aman dari mereka. Tapi, mau nggak mau kami musti nyari kerja supaya bisa hidup di sini. Karna nggak ada lagi yang nyokong semua biaya kami kayaq waktu di Akatsuki. Makanya itu … kami pasang iklan di koran nawarin jasa bodyguard dengan duit pas-pasan."
"Bodyguard?"
Kisaliten saling pandang. Naruto juga.
"Jangan-jangan … Elo berdua adalah bodyguard yang disewa oleh seseorang bernama Uchiha Sasuke … buat ngejagain Naruto?" tebak Tenten.
"Emang." Jawab Yukimaru, ngangguk.
"Haaaaah????" Naruto terperangah. "Lalu kenapa loe nggak bilang dari awal?!"
"Elo nggak nanya."
"Sikap loe berdua yang tiba-tiba muncul n ngegendong gue tuh lebih mirip ama penculik ketimbang bodyguard, tau!"
"Elo aja yang telmi."
"Wuapwaaa????"
"Lagian … Kirabi susah dihentikan kalo sifatnya yang suka ama orang bermuka manis itu kumat. Gue sih, lebih suka ama makanan manis daripada orang manis. Soalnya, kue nggak bakal nipu alias manis luar dalem. Beda ama orang, yang luarnya manis tapi dalemnya bisa asem kayaq loe."
"Bocah brengsek~" geram Naruto, ngepal. "Lagian, elo yang kecil gitu mana pantes jadi bodyguard. Kalo Killer Bee sih gue masih bisa percaya. Dia kuat! Bukannya kayaq elo yang bisanya main pisau doang!"
"Heh." Yukimaru angkat dagu. "Jangan remehin gue, ya? Gini-gini kedudukan gue di atas Kirabi." Katanya, sombong. "Nggak percaya." Naruto menyilangkan tangan di dada n buang muka. "Hoo? Mau bukti?" Cowok kecil tadi ngeletakkin sikunya tegak di atas meja dengan sudut 120 derajat ke arah Naruto, ngajakin panco!
"Ha!" Naruto nyengir ngeliatnya n bikin jari-jarinya gemeretakkan sejenak. "Bring it on!" Dia pun duduk mendekati cowok itu n mencengkram tangannya. Siap-siap panco. Gaara ngebiarin aja, diam-diam penasaran. Lee maju n menutupi tangan mereka yang menyatu. "Baiklah, siap-siap! 1 … 2 … 3!" serunya, sambil angkat tangan.
Naruto n Yukimaru pun mengadu tenaga lewat kekuatan kepalan mereka.
"Uuuugh~ … "
Gaara n Kisaliten menyaksikan keduanya dengan serius. Naruto entah kenapa keliatan lebih kesulitan daripada Yukimaru yang bisa dibilang keliatan pe-de dengan senyum innocent ala anak kecilnya.
Satu menit kemudian ….
'BAG!'
Punggung tangan kanan Naruto jatoh kedorong di atas meja. Kalah. Dia terperangah. Nggak mungkin! Orang ini kuat banget!. Kisaliten pada nahan nafas, terpana. Kalo Naruto yang paling kuat di antara mereka aja bisa kalah hanya dalam satu menit, gimana dengan mereka sendiri?. Sementara Gaara cuma diam ngeliatnya. Somehow dia udah bisa nebak akhir dari adu panco itu. Udah gue duga, dia memang bukan orang biasa.
Yukimaru menyeka rambut ijo lumutnya yang rada nutupin telinga, sambil tersenyum sombong. Naruto melototin dia dengan pipi kanan yang nempel meja, lemes. "Gue menang, lho … " 'Bocah' tadi menaikkan lutut kirinya ke atas meja, lalu maju mendekat n mencium pipi kiri Naruto, ngeledek. " … cewek tomboy." Naruto terbelalak lagi. Yukimaru lalu ngeluarin lidahnya n ngejilat pipi itu. "Mmm … udah gue duga, nggak manis … "
Yang lainnya bengong ngeliat itu.
Dahi Gaara berkedut.
Muka Naruto memerah. Doi langsung ngedorong Yukimaru n duduk tegak. Trus ngegosok-gosok pipinya kayaq habis digigit nyamuk. "BOCAH KURANG AJAAAAR!" Kisaliten langsung nahanin dia lagi yang mo nyerang tuh anak. Bisa berabe kalo terjadi keributan d sini. Bisa-bisa banyak barang rusak!
Yukimaru ngehela nafas, kembali duduk. Tangan kanannya menopang dagu di atas meja. "Tapiii … kayaqnya untuk sementara ini Kirabi nggak bisa kerja, deh … . Hhh … gue musti bilang dulu soal ini ke Uchiha." keluhnya. Sama sekali nggak ambil pusing ama Naruto yang sekarang meledak-ledak mo ngehajar dia. "Dasar … malu-maluin aja … " dia ngeluarin hapenya n ngecall Sasuke, memunggungi Naruto n Kisaliten yang masih ribut-ribut sendiri.
"Ngomong-ngomong soal Killer Bee … " Gaara yang paling tenang mulai bersuara. " … dia masih di trotoar."
"Ah, tenang aja." Yukimaru ngibas-ngibasin tangannya, nyantai. "Ntar juga dia bakal siuman sendiri. Lagian, dia bukan orang yang susah dicari meski nyasar sekali pun. Trutama karna penampilannya yang norak itu."
Jahat banget, sih … ngeledek temen sendiri …
"Oh, ya. Naruto … " panggil Gaara, berdiri di sampingnya yang duduk. "Ya?" Si pirang yang dipanggil angkat alis, sudah rada tenang. "Kenapa Uchiha Sasuke sampe nyewa bodyguard segala buat loe, hm… ?" tanya Gaara, dengan nada tanya yang nyaris gak kerasa alias datar.
'DEG!'
Waduh! Gaswat, nih!
"Umm … iseng aja, koq!" bohongnya, jelas banget. Gugup, sih. Naruto nggak bisa ngebayangin reaksi Gaara kalo tau dia bakal jadi 'pacar' Sasuke minggu depan. "Naruto. Jangan bohong … . Ayo bilang." Desak Gaara, tanpa desakan. Kayaq seorang ibu yang nyuruh anaknya ngaku bo'ong.
"Soalnya dia ada janji ama Sasuke minggu depan, man." Sahut Kiba. "Yeah. Karna itu Sasuke nyewa orang supaya Naruto nggak kenapa-napa seminggu ini, Gaara-senpai." Sambung Sai. Naruto langsung nge-death glare mereka berdua. Kiba n Sai buru-buru ngalihin pandangan.
"Janji? Janji apa?" tanya Gaara lagi, datar. Perasaannya nggak enak. "Narutonya nggak mau bilang, Gaara-kun. Kami sih ngehormatin aja meski sebenernya penasaran." Tenten angkat bahu. Naruto buka mulut, mo ngomong. "Padahal kami yakin bahwa dirinya bisa mengandalkan kami selayaknya sahabat terpercaya, Gaara-senpai … " Lee menangis, kecewa. Lebay mode : ON. Naruto terperangah.
"Naruto … " Gaara kembali beralih padanya. "Loe punya janji apa ama Uchiha Sasuke?". Naruto nelen ludah. "I-itu … itu … "
"Naruto."
"Ugh … itu … ano … um … " Si blonde jadi keringetan. Dikerumunin oleh lima sobatnya kayaq gini. "O-oke. Gue bakal bilang asal elo juga bilang soal penyebab musuhan elo ama Kyuubi kali ini." Ucap Naruto akhirnya, setelah beberapa saat diam gak berkutik. Sekarang semua yang tadi ngeliat ke Naruto berpindah ngeliatin Gaara. Gaara tercekat ngedenger syarat tadi. Dia yang tadinya rada nunduk ke Naruto yang duduk, kembali tegak. Ekspresinya gak nyaman.
"Sebabnya … rada complicated, Naruto … " jawabnya, sambil meluk kedua siku. Pandangannya dialihin ke samping bawah. Naruto n Kisaliten berkedip ngeliatnya. Mereka lalu berlima saling pandang. Serius, nih?
Semua diam.
yang ada cuman suara Yukimaru yang lagi nelpon Sasuke lewat hape.
Gak lama kemudian …
"Hey, Gaara." Panggil Naruto, ceria. Bikin cowok itu kembali menatapnya. "Gue pesen ramen, dong!" si pirang itu ngalihin topik. "Laper, nih. Habis latian. Tadi pagi cuman sarapan roti doang." Keluhnya.
Suasana jadi kerasa ringan seketika.
Gaara ngehela nafas. "Sebaiknya elo pesen makanan 4 sehat 5 sempurna, Naruto. Nggak baik kebanyakan makan ramen."
"Eeeeh? Kenapaaaa? Ramen kan enaaak?" Naruto mewek. "Elo … kebiasaan dari dulu, sih. Dasar … kena kutuk ama nama loe, kali." Kata Sai di belakangnya, sambil ngacak-ngacak rambut pirang tsb. "Ah, loe sendiri juga pasti pesen kopi kayaq biasa." Tepis Naruto, manyun. "Yaa … dari dulu dia kan emang gitu? Susah diubah, Naruto." Tenten senyum ngeliatnya. "Loe sendiri juga suka makan makanan diet. Padahal udah langsing. Aneh, man." Kali ini Kiba yang ngomong. Tenten sewot. "Yaa … gue kan cewek, wajar dong?"
"Wahai para sahabatku. Sekiranya makanan dan minuman yang mengandung banyak energi akan lebih bermanfaat untuk kita semua yang masih menjalani masa muda dengan semangat penuh keremajaan!" seru Lee, matanya burning. Entah sejak kapan di tangannya udah ada sebotol minuman berisotonik. Empat temennya langsung nge'huuuu' dia. Lalu mereka pun ketawa bareng.
Sementara itu, Gaara keliatan tertegun. Kebiasaan dari dulu … ? Susah diubah … ? Wajar … ?. Ulangnya dalam hati. Matanya terpejam, sebelum akhirnya kembali terbuka. Jangan-jangan …
KucingPerak
"Ahahahahaha!" Itachi ketawa-ketawa ngeletakkin telapak tangan kanannya ke dahi. "Diam loe, Itachi." Geram Sasuke, sambil nutup hape flipnya. Dia baru aja ditelpon ama Yukimaru, bodyguard yang disewanya, perihal kondisi partnernya yang gak bisa kerja lagi untuk sementara.
"Haha! Lagian … elo ini … " Itachi ngatur nafas, berenti ketawa. "Padahal keluarga kita punya bodyguard pro sendiri. Elo malah nyari di koran n kemakan iklan bodyguard professional … . Nggak nyangka deh, kalo elo termasuk orang yang gampang ketipu, Sasuke."
Sasuke berdecak, kesal. "Karna gue nggak kenal ama satu pun dari bodyguard Uchiha. Lagian, belum tentu mereka penipu. Cuman salah satunya aja yang cedera gara-gara ngadepin temen premannya si Stupidobego itu." Sasuke emang selalu nyebut Gaara dengan 'preman'.
"Makanyaaa … yang sosialis dikit dong ama sekitar. Trus, loe koq jadi lebih percaya ama bodyguard asing di koran yang gak loe kenal daripada bodyguard Uchiha yang gak loe kenal? Kan sama-sama gak kenal? Kenapa milih bodyguard luar yang kesannya lebih asing?" tanya sang kakak lagi, sambil ngebetulin posisi duduknya di sofa. "Karna elo yang ngurus jaringan ke mereka. Gue ogah minta tolong ama loe." Sahut Sasuke di sebelah, ketus. Doi kembali megang stick controllernya n nekan tombol start. Itachi juga bersiap dengan controllernya sendiri.
"Wah, wah … Sasuke. Gue nggak bakal nyusahin elo, koq. Gue mah udah pasti bakal nolongin elo kontak ama mereka asal elonya ngomong dengan baek."
"Ngomong dengan baik apa?" tanyanya, gak minat. Matanya fokus ke layar di hadapan. "Ngomong dengan baik, yaaaa …. Ngomong sambil bilang : 'tolong, ya, kak'." Itachi nyengir.
Dahi Sasuke berkedut.
"Hadou-ken!"
'DRAAATZ!'
"Uaaaagh!"
-Winning Music-
"Ryu, win!"
"Huh." Sasuke mendengus, rada puas karna baru aja ngabisin Veganya Itachi pake Ryu. Kalo soal game, Sasuke emang selalu menang dari siapa pun. Dia kan masternya game?. Tapi, kalo dalam pertarungan sesungguhnya … meski nggak pernah bertanding, Sasuke sendiri nggak yakin kalo dianya bakal menang dari Itachi.
"Aaaahh … kalah lagi deh gue … "
Itachi nyander sofa, lemes. Dia emang bukan seorang gamer kayaq adeknya yang tiap hari pasti main, sih. Jadi, nggak heran kalo dianya kalah.
"Panggilan itu terlalu terhormat buat orang macam loe. Biar mati pun gue nggak bakal manggil elo pake 'kakak'."
"Oh? Padahal waktu kecil elo fine-fine aja tuh manggil gue 'kakak'."
"Waktu itu gue nggak nyadar aja ama betapa brengseknya elo."
"Kasarnyaaa~. Oh Tuhan … adek hamba udah nggak manis lagiii … " Itachi masang muka nelangsa. Sasuke cuman mendengus.
Hari ini tumben-tumbennya Sasuke nggak nolak dia yang ngajak main. Jangankan mau diajak main, orang Itachi kalo ke kamarnya aja biasanya langsung diusir!. Beda banget ama sekarang, di mana sang adek mengangguk n ngebiarin sang kakak buat masuk n main Street Fighter IV di Xbox 360 di kamarnya. Lalu, ada apa nih? Meski dari tadi heran, Itachi nggak langsung nanya n nunggu saat yang tepat.
"Hey, Itachi … " panggil Sasuke, rada pelan. "Hm?" Walau kedengaran biasa, sebenarnya Itachi jadi semangat ngedengernya. Wah, kayaqnya dia bakal ngomong sesuatu yang menarik, nih.
"Umm … . Elo kan kuliah di psikologi … . So, gue mo nanya soal ini, nih … "
"Apaan?" tanya kakaknya, makin tertarik.
"Ada …seseorang yang gue kenal. Dia cowok. Dia bilang … dia ngidolain seseorang banget. Trus … temennya bilang … kalo rasa sukanya itu lebih dari sekedar ngidolain. Karna … dia bakal ngelakuin apa pun buat idolanya meski mungkin itu musti bikin dia digebukin ama semua orang di dunia. Tapi … idolanya itu cowok. Jadi … dia ngerasa nggak mungkin kalo suka ama orang itu lebih dari sekedar ngefans aja. So … menurut loe … sebenernya … dia itu … cowok itu … kenapa? Apa yang sebenernya dirasain ama dia ke idolanya itu emang lebih dari sekedar ngefans?" tanya Sasuke, serius. Mukanya keliatan cemas.
Itachi pasang muka biasa. Padahal dalam hati nyengir lebar. Ahaha! Ini sih proyeksi dirinya sendiri! Rupanya dia bingung ama perasaannya ke Minato-san, ya?. Itachi ber-'hmm' sebelum akhirnya bilang : "Gampang aja. Apa yang dirasainnya itu … ce… i … en … te … a."
"Eh?! Tapi, dia cowok lho. Idolanya juga."
"Gue tau. Tadi kan udah loe jelasin? Lagian, kalo rasa sukanya itu sampe rela dirinya digebukin ama semua orang di dunia hanya karna 'idola'nya … gue nggak kepikiran kemungkinan laen selain kalo rasa suka yang dirasainnya itu cinta."
"Tapi-"
"Kalo yang dia sukain itu sama-sama cowok, artinya dia gay. Case-closed."
… Diem sejenak …
"Apa … ada cara buat sembuh? Supaya … dia nggak gay lagi?" tanya Sasuke lagi, pelan. "Hm? Kalo emang bener-bener niat, dia bisa aja sembuh. Tentunya dengan ngejalanin beberapa terapi. Tapi … gue rada yakin, kalo sebenernya 'seseorang yang elo kenal yang sekarang lagi suka alias cinta ama idolanya' itu … nggak bener-bener pengen sembuh. Karnaaa … cinta ituuu … walau gimana pun bentuknyaaa … kerasa indah, kan?" jawab sang kakak, ngedipin sebelah mata.
"Ma-mana gue tau!" Muka Sasuke jadi rada merah. Sial. Kayaqnya dia udah bisa nebak kalo itu gue. Ugh, emang susah buat bo'ong ke Itachi.
Itachi tertawa kecil.
" … " Sasuke diem. Apa yang dibilang Itachi emang bener sesuai dengan apa yang doi rasain. Meski ngerasa rada aneh, dia sendiri ngerasa seneng banget udah suka alias cinta ke Minato. N rasanya sayang banget kalo perasaan indah itu ilang. Tapi, karna secara statistik dunianya sekarang nunjukkin kalo gay itu termasuk kelompok kiri nun negatif, dia jadi ngerasa nggak nyaman juga. Ah! Gue bingung!!!. Sasuke mijit-mijit sebelah kepalanya. Tunggu. Kalo perasaan yang gue rasain pas ama stupidobego tadi pagi tuh apaan, dong?
"Saran gue buat 'seseorang yang loe kenal' itu, sih … " Suara Itachi ngebuyarin lamunannya. " … akui aja ama apa yang dia rasain ke idolanya itu sebagai cinta. Dengan begitu, dia bakal ngerasa lebih lega. Beda ama orang yang denial terus. Karna perasaannya dipress terus, suatu saat kalo rasa itu meledak … bisa bahaya. Bisa-bisaaa … ntar terjadi sesuatu yang nggak diinginkan."
"Terjadi sesuatu yang nggak diinginkan? Maksud loe?"
KucingPerak
"Uchiha brengseeeeek~. Grrrrhh~. Gue pasti bakal ngebales dia nanti." Geram Kyuubi, marah. Doi lalu kembali teringat ama adegan kissingnya Itachi ke dia di lorong tadi pagi. Dahinya langsung berkedut.
'GRAUS! GRAUS! GRAUS! GRAUS!'
Kyuubi memakan apel merahnya, ganas. Mo ngelupain peristiwa itu sebisa mungkin.
' … elo bener-bener kasar, ya? Sampe-sampe ciuman pun kerasa kayaq tonjokan …'
'Kalo yang namanya ciuman itu … kayaq gini, kan?'
'GRUSHK!'
Apel utuh yang dipegang Kyuubi langsung pecah. "Brengseeek~. Dia ngeledek gue." Dahi Kyuubi berkedut-kedut, kesal. "Siapa bilang ciuman gue kayaq tonjokkan? Bakal gue buktiin ke dia, kalo gue juga bisa gentle pas nyium Sis-com nanti."
………… sunyi ………..
Sweatdrop.
"Aaaaaaargh! Kenapa ujung-ujungnya otak gue selalu aja ke induk ayam itu, sih?"
Tiba-tiba kedengaran suara pintu depan dibuka. Kyuubi langsung diam. Paling-paling si Naruto … . Cowok itu pun kembali dengan aktivitasnya, nyorat-nyoret beberapa rumus di clipboard. Dia duduk sambil ongkang kaki di kursi dapur, yang diletakkin di depan kulkas yang dibuka. Di mulutnya menggantung apel merah, sedangkan tangannya sibuk menulis. Cuma sesekali aja tangan itu berenti buat megangin apel sementara mulutnya mengunyah.
Sementara itu di pintu masuk ….
"Gue bakal langsung ke kamar, deh. Loe baikan aja ama Kyuubi sekarang. Ntar kalo elo udah siap, baru bilang alesan kenapa kalian berantem kali ini." Ucap Naruto, setengah berbisik. Dia ngelepas sepatu rodanya n naroh benda itu dengan rapi di gantungan samping rak sepatu sana. "Tapi, kalo loe nggak mau bilang juga nggak papa, koq. Asal loe berdua baikan lagi, gue udah seneng." Tambah Naruto, ngedipin sebelah mata. Gaara tersenyum. "Thanks."
Naruto nyengir. "Elo musti sering-sering senyum, Gaara. Keliatan manis, lho."
Kedua alis Gaara yang nggak ada terangkat, singkat. "Jangan bilang 'manis' ke cowok, Naruto. Gue sih bisa aja ngacuhinnya, tapi kalo elo bilang gitu ke cowok macam Kyuubi, bisa-bisa elo langsung ditendang."
"Ow, sorry." Naruto nutup mulutnya. Dia sendiri juga nggak suka disebut manis. "Iya, deh. Elo keliatan tambah 'guanteng' kalo senyum."
"Nah, yang begitu kan lebih manly?"
Keduanya tertawa, kecil.
"Oke deh, Gaar. Gue ke atas dulu, ya? Ntar kalo udah selesai baikan, susul aja. Gue bakal cerita soal janji gue ama si brengsek nanti … "
Gaara mengangguk.
" … kalau elo juga nyeritain sebab musuhan loe ama Kyuubi kali ini." Sambung Naruto, nyengir. Muka Gaara langsung berubah datar (dari tadi juga datar!). "Itu … cuman masalah salah paham koq. Nggak terlalu … penting … "
Naruto menatapnya lima detik, lalu ngehela nafas panjang. Kayaqnya masalah kali ini bener-bener tabu sampe dia nggak mau ngomong segitunya, ya?
"Ya udah deh, Gaara. Kalo emang loe uncomfortable banget buat ngomong soal itu, nggak usah aja. Yang penting kalo elo udah baikan lagi ama Kyuubi gue udah seneng." Katanya, ceria. Gaara tersenyum sekilas, rada nunduk. "Thanks, Naruto … "
"Lagian … kayaqnya mau nggak mau gue musti ngomong ama loe juga ujung-ujungnya … soal janji gue itu. Coz gue perlu bantuan."
"Bantuan apa?"
"Umm … Errrh … nanti aja, deh!" serunya, sambil lari naik tangga.
Gaara menatapnya yang menghilang ke atas, berkedip heran. Tapi lalu dia kembali fokus ke depan. Tadi pas masuk dia sempet denger sayup-sayup suara Kyuubi dari dapur. Menarik nafas panjang, dia pun melangkah ke sana.
….
Di dapur …
….
Hhhh … kenapa gue jadi bisa suka ke dia, ya?. Setelah sekian kalinya ngenolak kenyataan kalo dianya emang beneran suka ama Gaara, Kyuubi akhirnya ngakui juga. Capek juga dari kemaren denial mulu. Doi muter-muterin apel merahnya, lesu. Lalu ngegigitnya, n ngunyah sambil natap bekas ngigitan itu. Hmm … apa karna dia … mirip apel?. Cowok itu nelen apel di mulut. Masih natap buah di tangan kanannya. Kali ini lebih lekat.
Bener juga. Kalo dipikir-pikir … warna rambutnya yang merah itu kayaq kulit apel. Warna kulitnya juga seputih daging apel. Warna matanya … bagi gue itu bukan warna mata hijau laut, tapi hijau dari biji n inti apel muda!. Kyuubi ngangkat buah itu, mendongak. Yeah ... Sis-com itu … manusia apel!. Batinnya, mangangguk. Terbentuklah suatu kesimpulan konyol dari seorang Kyuubi yang lagi jatuh cintrong.
"Kyuubi?"
'TLUK'
Apel ke-tiga belas yang mo dimakan Kyuubi sore itu jatoh dengan sendirinya dari tangan, kena dahi. Mata merah ala kucingnya yang tajem itu keliatan terbelalak ngeliat orang yang baru dipikirinnya muncul di ambang dapur. Mengenakan kaos lengan panjang kayaq biasa n celana jeans longgar.
" …. Manusia apel … ?" ucap Kyuubi. Kepalanya nggak bergerak dari orang itu. Cuman mulutnya aja.
"Hah?" Gaara meragukan pendengarannya barusan.
Cowok berambut pirang kemerahan tadi berkedip tiga kali, nyadar. "Nggak koq. Gue nggak ngomong apa-apa. Apanya yang 'hah'?" ucapnya, ketus. Buang muka. "Loe lagi mikirin apa? Sampe-sampe ngejatuhin apel di jidat gitu?". tanya Gaara, heran. "Gue cuman lagi mikirin teori gravitasi Newton, koq! Bukan urusan loe!" bohong Kyuubi berusaha nahan blushingnya. Berhasil.
Meski rada heran, Gaara mutusin buat nepis hal itu karna ada hal yang lebih penting buatnya untuk dibicarakan.
"Kyuubi … ada yang mo gue omongin … "
"Apa? Gue kira loe nggak mau ngomong ke gue lagi, dari ekspresi loe kemaren yang kayaq ngeliat hantu itu … " potongnya, rada kasar. Gaara ngebasahin bibirnya, nggak enak ati. Dia nelen ludah sejenak. "Gue dateng … buat minta maaf." Katanya, bikin Kyuubi langsung ngenoleh ke dia. "Apa?"
Gaara maju n nyerahin sebuah kotak yang langsung doi buka di hadapan Kyuubi. Cowok itu terbelalak ngiler ngeliatnya. Sebuah apple-pie jumbo special, euy!
"Ini sebagai permintaan maaf. Karna gue … sudah salah paham kemaren." Ucap Gaara, rada nunduk. Malu. Kyuubi nyambut kotak itu, ngeliat kue bundar gede di dalamnya dengan mata yang kelap-kelip. Tapi, kalimat Gaara barusan bikin dia jadi kembali natap cowok tsb. "Salah paham?"
Gaara ngegaruk belakang kepalanya yang nggak gatel, pelan. "Tadi … gue baru inget. Elo kalo lagi tidur emang suka meluk guling, kan? Gue kelupaan ama kebiasaan loe itu. Elo kan emang kalo tidur selalu meluk guling n gak gitu suka pake bantal? Gue inget. Itu kebiasaan loe dari kecil, waktu kita bertiga masih suka tidur bareng." Cowok itu pun nurunin tangannya lagi. "N … karna waktu itu bantal guling loe lagi gue jemur habis bersih-bersih … makanya … wajar aja kalo elo make gue yang kebetulan ada di situ buat jadi pengganti guling, kan?"
Kyuubi berkedip dua kali ngedengernya.
"Maaf. Gue salah. Waktu itu gue lari karna gue kira elo … " Gaara nggak nerusin kalimatnya, segan. "Ah, sudahlah … "
"Karna elo kira gue gay, kan?" sambung Kyuubi, menatapnya dengan mata setengah terbuka. Gaara keliatan kaget. Mukanya memerah sekilas, malu. Dia natap cowok itu, lalu kembali tertunduk. "I-iya. Maaf." Katanya, gugup. Kyuubi mendengus, matanya terpejam. "Bodoh. Mana mungkin?"
"Yeah, sorry … . Maaf, Kyuubi." Ulang Gaara lagi, nyesel
Meski keliatan tenang, tapi dalam hati si Kyuubi tereak-tereak. Udah gue dugaaaa! Dia emang takut ama gay! Argh! Kalo gue bilang suka ama dia, bisa-bisa dia langsung kabur dari gue!!! Siiaaaaaal!!!!. Dia jadi mutusin untuk gak pernah bilang soal perasaannya itu ke Gaara. Paling enggak, gue masih bisa sama-sama dia sebagai 'kakak dari sobatnya' kalo gue diem aja … . Kyuubi tersandar di kursinya, lemes. Kalo gini, sampe kapan pun gue nggak bisa nembak dia …
Tiba-tiba cowok itu ngerasain aura kemarahan dari Gaara yang keliatan melotot ngeliat lantai. Kyuubi pun beralih ke apa pun yang lagi diliatin dia, penasaran. "Woups … ". Di lantai banyak berserakan sisa-sisa apel! Tadi Gaara nggak menyadarinya karna terlalu fokus minta maaf ke Kyuubi, sih. Dia juga seolah baru nyadar kalo cowok setan itu kini tengah duduk di kursi dapur yang diletakkin di depan pintu kulkas yang terbuka. Punggung kursinya nahan pintu itu supaya gak nutup. Di lantai juga keliatan tergenang air dari kulkas yang mencair karna dibuka entah sejak kapan. Nyampur ama sisa apel di sana. Bagi Gaara, itu adalah sebuah pemandangan kotor!
Kyuubi sweatdrop.
Gaara buka mulut, mau ngebentak. Tapi urung. Dia kan baru aja minta maaf? Gak pantes banget kalo marah-marah lagi. Akhirnya Gaara cuman bisa ngehela nafas, berat. N mulai ngambil ember sampah n mop dari gudang dekat sana. Siap bersih-bersih.
"Elo ini … apa-apaan sih, Kyuubi?" tanya Gaara, kesal. Sambil jongkok mungutin sisa-sisa apel ke ember. Kyuubi yang kini kembali duduk di kursi meja dapur sambil makan apple pie, ngejawab "Mo gimana lagi? Gue kan laper. Ngerepotin kalo bawa semua apel ke kamar. Ntar nggak dingin lagi. Bolak balik ke sini juga bikin capek. Jadi gue duduk aja di sana. Sekalian ngenyejukkin diri. Hari ini panas, sih." Jawabnya, santai. Beda ama di kamaranya, di dapur nggak ada AC. Kyuubi emang dari tadi duduk di depan kulkas hanya dengan kaos ala pemain basket tanpa lengan, n celana longgar simple selutut, kegerahan.
Gaara terdiam sejenak. "Selapar apa si loe? Sampe-sampe makan apel sebanyak ini berturut-turut?" Diliat dari 'pembusukannya', apel-apel ini dimakan dalam jarak waktu yang gak jauh satu sama lain.
"Dari tadi pagi gue nggak makan, wajar kan?"
"Hah?!" Gaara langsung berdiri, menatap cowok yang lagi ongkang kaki di atas meja sambil ngunyah apple pie di sana. "Elo nggak makan dari pagi? Kenapa?". Tanyanya, mendekat. Kyuubi muterin bola matanya. "Elo sih … yang nggak masakin apa pun … "
Gaara berkedip dua kali. "Tapi … elo kan bisa beli di luar, Kyuubi?"
"Gue nggak mau makan makanan lain selain masakan pembantu gue." Sahut cowok tadi, rada cemberut. Gaara mangap, bingung mo ngomong apa. Dia ngehela nafas. "Lalu … kenapa tadi pagi loe nggak dateng ke kafe kayaq biasa?" tanyanya, pelan. "Ah, itu … " Kyuubi terdiam sejenak. Mana bisa dia bilang kalo dianya gengsi dateng gara-gara kejadian kemaren?. " … ada hal lain yang musti gue urus, n itu bukan urusan loe." Jawabnya, ketus. Cowok berambut merah tadi lagi-lagi ngehela nafas. "Manja … " katanya, kecil. Tapi Kyuubi denger. "Apa loe bilang?"
"Manja. Kayaq anak kecil. Egois. Kebiasaan deh loe. Mulai sekarang elo musti nyoba masakan lain selain dari gue. Karna gue kan nggak njamin bisa selalu ada."
"Maksud loe? Elo mo ninggalin gue … ama Naruto?" tanya Kyuubi, buru-buru nambahin 'Naruto' di ujungnya. "Bukan gitu. Cuman … kita kan nggak tau apa yang bakal terjadi nanti? Siapa tau aja tiba-tiba gue mati, kan?" jawab Gaara, enteng. Dia bangkit ngambil mop, mo ngepel.
'BRAK!'
Suara barusan bikin dia bergidik n langsung noleh ke arah Kyuubi. Tapi cowok itu udah nggak ada di tempat. Kursi yang didudukin Kyuubi tadi terlihat jatoh di lantai. Tiba-tiba aja dia ngerasa ada seseorang yang berdiri di sampingnya.
"K-Kyuubi?"
Kyuubi berdiri di sisinya dengan mata yang menajam. Warna merahnya tampak seolah berkilat. Rasanya nakutin, deh. Gaara jadi ngerasa kayaq tikus yang berhadapan ama ular.
"Elo nggak boleh mati … " suara Kyuubi kedengaran serak-serak basah. Setengah berbisik. Gaara nelen ludah, gugup. Dia lalu mundur selangkah. Sebelum cowok itu sempat mundur untuk langkah yang kedua, Kyuubi keburu menahan lengan kanannya yang megang mop n juga bahu kirinya supaya tetap di tempat.
"Gue nggak bakal ngizinin elo mati … " ucap Kyuubi, lagi. Masih dengan suara yang sama. "A-apa, sih?" Gaara berusaha nutupin kegugupannya. Gagal. "Apa maksud loe dengan 'ngizinin' itu? Kematian kan termasuk takdir? Kita nggak bisa ngelawan-"
"BIAR TAKDIR SEKALIPUN GUE NGGAK BAKAL NGIZININ!" potong Kyuubi, ngebentak keras. Seiring dengan cengkramannya yang juga mengeras. "Aduh!" Mop yang dipegang Gaara sampe kelepas.
"Kyuu? Gaara? Kalian berantem lagi?" suara innocent Naruto barusan seolah bikin Kyuubi tersadar dari apa yang barusan dilakuinnya. Dia pun buru-buru ngelepasin Gaara. N ngadep sang adek yang jalan menghampiri mereka. Naruto bergegas dateng karna ngedenger suara bentakan Kyuubi. Dia jadi cemas.
"Oh? Naruto? Ng .. nggak papa, koq." Gaara nggeleng. "Kami udah baikan. Cuman … lagi debat aja soal kuliah." Katanya, bohong. Dia nggak mau bikin sohibnya itu cemas. "Oooh … " Naruto percaya aja. Karna dia sendiri emang cukup sering nyaksiin keduanya debat masalah pelajaran. Mata birunya lalu teralih ke ember n lantai yang basah. "Aaah? Kyuu~. Elo bikin kotor lagi n nyuruh Gaara bersih-bersih, ya? Dasar … "
"Gue nggak nyuruh, koq. Dia aja yang mau sendiri … " jawab kakaknya, ketus. Kyuubi jalan ke meja n ngambil potongan terakhir apple pienya. Terus, jalan naik tangga, ke kamar.
"Oey! Tunggu, Kyuu! Ada yang mo gue omongin ke elo ama Gaara! Gue perlu bantuan loe berdua, nih!" serunya, nyusul. Tinggallah Gaara sendirian di situ, ngehela nafas. Cowok berambut merah tsb ngangkat lengan kanannya yang dari tadi doi sembunyiin di belakang badan pas Naruto dateng.. Dia narik lengan panjangnya dikit, mo ngeliat lebih jelas ke pergelangan tangan kanannya yang kerasa nyeri. Mata aquamarine itu sekilas membesar ngeliat cengkraman kemerahan yang membekas di sana.
Kyuubi … ?
KucingPerak
Bersambuuungngngngngzzzzz …. ("Lebah!" *'PAK!'*)
KP : Aaaah! Banyak yang ngarep KyuuGaa di sini. Tuh udah kukasi, kan? Puaz? (KyuuGaa fans: Kuraaaaang!!!). Tapi, chap depan rencananya giliran SasuNaru!
Sakura : Elu udah punya ide iseng, ya? (*nyengir*)
KP : Gitu deeeh ….
KapeSaku: Hehehehehe ….
SasuNaru : (*merinding*)
KP : Btw, nih cerita kayaqnya berkembang di luar rencanaku lagi deh. Bakal jadi lebih serius. Padahal awalnya aku nggak ada niat buat ngelibatin Yakuza sama sekali. Apa ntar genrenya perlu kuubah jadi angst, yak?
Naruto : Hey, trus kapan gue beraksi lagi sebagai hero?!
KP : Tenang, Naruto … . Pasti ada koq. Pein itu Final Boss loe. Elo hero utama yang bakal ngalahin dia ntar. Yang lainnya sih bakal jadi SC n NPC aja. (Support Character n NonPlayable Character).
Naruto : Emangnya game?!
Balesan review :
KP : Wuah, wuah. Karna kebanyakan so aku satuin aja, ya?
Sori buat u-u yg kesel ama penggunaan kata2ku yang aneh, seenak perut, kasar, or disingkat-singkat. Emang sengaja mo bikin kesel para pembaca koq, hehe … ('DIESH!'). Itachi emang first-kissnya Kyuubi, tapi apa Kyuubi bakal jadi first-kissnya Gaara… masih belum yakin, nih. Yeah … aku masih mikir-mikir dulu buat nyerahin Gaara ke dia or gak.
Gaara: Jangan! Jangan serahin gue ke dia! Dia tuh seme sadistic, tau nggak?!
Kyuubi : Oey, menurut test gue termasuk tipe seme 'don't fuck with me', tau. Mustinya elo bangga dong karna udah gue pilih. Gini-gini gue setia.
Itachi: No-no. Bagi gue, elo tuh tipe 'badass uke', my devil.
Kyuubi : (*nodongin pistol*). Mati aja sana.
Itachi : Gue jadi makin suka ama loe. (*smirk*)
KP : Aah .. Itachi emang suka ama yang 'liar-liar'. Aku sih lebih suka ama yang jinak dikit, kayaq Gaara. Wah, rupanya kita tak semirip dugaan semula, Itachi …
Itachi : Tapi, kita tetep sobatan, kan?
KP : Of course!
KapeIta : Hehehehehe ….
KyuuGaa: *sweatdrop*
KP : Hmm … kalo misalnya ada versi jepangnya menurutku si Kyuubi gak pake ngomong 'desu' deh. Dia bakal pake imbuhan 'konoyaro', 'kusoyaro', or 'kora' yang lebih kasar gitu …. Oiya, maap, Eika! Aku salah nulis nama u! Yang bener 'Mercado' bukan Meicado. Lha? Koq aku jadi inget lagu domikado? (*PLAK!*). ItaKyuuGaa emang jadi cinta segitiga, tapi cinta segitiga ala onesided. Gak ada yang saling sukanya di antara mereka. Belum.
Reaksi Minato ketemu ama SasuNaru … gimana, yaaa? (*nada usil*).
Sasuke : Emang kenapa kalo Minato-san ketemu ama stupidobego?
Naruto : Agh! Ciloko! Bokap gue tuh! (*sembunyi*)
Sasuke : Oey! Mo ke mana loe?! Elo tuh sekarang jadi pacar gue, tau! (*ngejar*)
Minato : Hm? Kenalin aku ama cewekmu itu, dong. Sasuke-kun. Dia pemalu, ya? (*dateng*)
Sasuke : Errh … Minato-san, sebenernya dia bukan pacar-
-dipotong-
KP : Yaaa, kira-kira gitu, deh ….
Sasuke : Aaaargh! Loe kenapa si? Padahal gue lagi ngomong ama Minato-san!
KP : Itu kan cuman bocoran yang belum tentu bakal kejadian. Ah, u ini. Gak sabaran aja …
Hmm … penderitaan Gaara ditambah? Heheh … udah kuatur, koq. (*ditendang Gaara*). Hmm? Ada yang maunya Gaara ngejomblo aja, nih. Biar bisa dimiliki bersama? Ahaha! Kayaq koperasi aja. Kalo soal Deidara ama Itachi … rencananya sih hubungan mereka tuh bakal tetep kayaq sohiban ala atasan n bawahan. Ohyeah, milih yaoi juga termasuk hak asasi, ya? Keren!
Aku kebal kritikan? Heheh … baru tau, yaaa? (*DUAG!*). Gak juga, koq. Aku kan nggak sepenuhnya 'mentalin' semua kritikan. Ada yang diserap juga, koq.
Owyea, kebanyakan fujoshi emang biasanya nggak suka ama karakter utama cewek di crita asli. Mangkanya aku sengaja bikin Sakura (yg keseringan di-bash di fic laen) jadi chara yang asyikan dikit. Heheh … . Jangan terlalu dibenci, ah. Dia emang bukan chara faveku, tapi tetep aja kasian bacanya … .
Eh? Kyuu kiyut pas blushing mikirin sis-com? Haha! Setuju! (*DOR!*). Oiya chap 9 emang rada pendek dari chap-chap ku sebelumnya, sih … . Hey, Kyuubi di chap 9 make kacamata hitam tuh bukannya buat nampang, lho. Tapi, buat nyamarin diri supaya gak ketauan. Dia bukan chara yang ambil pusing ama penampilan.
Ngupdate seminggu sekali? Waw, nggak janji deh. Kalo u mo jadi bala bantuan ngerjain tugas-tugas kuliahku boleh-boleh aja, sih … heheh! ('BUG!'). Hmm … mungkin 2 minggu sekali aja, kali ya?.
Soal flamers … biarin aja, lah. Aku justru nungguin lagi, koq. Nungguin alesan yg gak egois macem 'karna aku benci banget ama yaoi'. Haha! Aku malah mo ngobrol pribadi ama mereka, koq.
Gaara : Jangan dibunuh, ya?
KP: Ya ampun, Gaar. Itu kan cuman pikiran sesaat. Sekarang mah aku nyantai aja lagi. Aku mo ngobrol ama mreka karna mo diyakinin supaya nggak suka yaoi juga. Bisa nggak, yaaaa? Cukup ngobrol lewat PM aja. Nggak perlu ketemu muka.
Ino : Nggak usah. Ntar malah mereka, lagi, yang brubah haluan suka yaoi habis ngobrol ama loe.
KP : (*ktawa-ktawa gaje*)
Hmm? Kalo ngebales review lewat PM aja coz kalo mo ngereview jadi lama? Waha! Sorry, aku males ngebales lewat PM satu-satu gitu. Ngekliknya berkali-kali sih. Jadi kusatuin aja di sini. Praktiz! Lagian, di dalamnya bisa ada info juga buat yang lain kalo punya pertanyaan sama. Jadi nggak ada pertanyaan berulang. Coz, ada sebagian reviewers (termasuk aku sendiri) yang suka ngereview langsung tanpa ngebaca review2 sebelumnya dari reviewers yang lain.
What? Gaara lope ke Naruto? Wah, nggak tuh. Dia emang sayang ke Naru, tapi sayangnya itu semacam kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa (*jadi nyanyi*). Heheh … dia pure sobat terbaik Naruto di fic ini. Yah, walau mungkin ntar bisa bikin Kyuubi n Sasuke cemburu …
Oke deh, sgini dulu. See u in the next chapter!
