Wah! Gak kerasa ya, udah nunggu setaun..
Hi! Seperti biasa bacanya pelan-pelan aja ya..
Kalau bingung atau pusing, pegangan ama tembok bisi jatoh
Oia, buat typo.. harap maklum aja yak hahaha
.
.
.
"Tahu dari mana?"
"Asal tebak saja." Gumam Yixing yang membuat keturunan asli Bangsa Lemuria itu tertawa terbahak-bahak. "Harusnya aku yang memanggilmu, Minseok-hyung kan?" pancing Yixing yang membuat Minseok berdecak. "Pantas saja kau tidak menyukai kami."
Hm? Minseok? Iya.. Minseok keturunan asli Bangsa Lemuria.
"Aku akan menjaga Rebecca, tenang saja." Ucap Minseok yang kentara sekali ingin mengubah topik pembicaraan. "Kami bukan bangsa yang tidak kenal balas budi."
Beberapa orang langsung menatap Tartaros yang tampak tersentak kaget. Minseok memang mengatakannya untuk menyindir Bangsa Barat termasuk Tartaros. Dan Tartaros jadi teringat ia pernah membentak Minseok waktu Luhan dan Dewi Salju berebutan untuk memiliki Minseok. Pantas saja Minseok memilih Luhan daripada Dewi Salju. Padahal dulu Minseok benar-benar tidak menyukai Luhan.
"Terimakasih." Ucap Kyungsoo sambil merundukkan kepalanya sambil mencium ujung telunjuk dan jari tengahnya. Sebuah salam khas dari Bangsa Lemuria.
"Sebuah kehormatan untuk kami." Jawab Minseok sambil membalas salam dengan gerakan yang sama.
Berbeda dari bangsa yang lain. Bangsa Lemuria adalah bangsa yang menghormati adat istiadat dan tata krama yang baik. Jadi wajar jika selama ini mereka menemukan cara betutur kata Minseok yang halus meskipun sedang marah.
.
.
.
Minseok tentu bersama Luhan untuk mengantar Rebecca ke bangsa Lemuria yang tinggal di belahan bumi bagian Selatan. Oleh karena itu Bangsa Lemuria disebut sebagai penguasa Selatan. Dan belahan Bumi bagian selatan didominan oleh daerah bersuhu dingin. Luhan bahkan baru tahu jika Bangsa Lemuria tinggal di pulau es dan bersalju macam pulau Antartika.
"Pinguin!" seru Rebecca sambil sibuk menekan kain pada hidungnya yang terus mengeluarkan darah.
Mungkin efek dari Rebecca yang biasa tinggal di gurun panas menyengat dan sekarang harus menghadapi daerah beku yang begitu dingin hingga menusuk tulang. Luhan saja kedinginan. Tapi penguasa selatannya juga tampak kedinginan, tidak berbeda dengan Rebecca meski tidak sampai mimisan.
"Kok, bisa.. keturunan Penguasa Selatan tidak kuat dingin?" celetuk Luhan.
Luhan tidak bermaksud menyindir hanya penasaran. Alih-alih menjawab Minseok malah tersenyum pelan. Sama sekali tidak menjawab pertanyaan Luhan. Karena Minseok harus menjawab setiap celotehan dan pertanyaan Rebecca.
"Ngomong-ngomong waktu perang besar, siapa anchis yang menjadi anggota pasukan Penguasa Selatan?" tanya Luhan dengan penasaran.
"Earnes," jawab Minseok dengan tenang.
"Pantas saja." Gumam Luhan dengan pelan.
Ingat? Dulu Minseok itu lumayan ramah pada Chanyeol. Sampai-sampai Luhan suka cemburuan sendiri, padahal Minseok juga lumayan akrab dengan Yixing. Tapi tetap saja sikap Minseok terkadang terlihat lebih ramah pada Chanyeol. Kini Luhan mendapatkan jawabannya. Karena dulu Chanyeol tentara khusus dari Selatan.
"Om! Penguin besar itu mendekati kita!" ucap Rebecca dengan histeris. Bagaimana tidak histeris, penguin itu seperti ingin menyerang. Ada dua lagi.
"Itu penguin kaisar," jelas Minseok pelan dengan wajah cerahnya. "Tunggu disini."
Luhan dan Rebecca tentu menurut. Minseok yang berkuasa dan mereka hanya pendatang. Rupanya Minseok malah membungkukan badannya pada kedua penguin itu. Kentara sekali yang satu jantan dan yang satu betina. Karena penasaran, Luhan dan Rebecca mencoba untuk mendekat. Terlihat si penguin jantan membuka paruhnya dengan lebar dan si betina memasukkan paruhnya ke dalam paruh jantan. Luhan kira si jantan ingin menelan si betina padahal tidak mungkin muat. Ternyata si betina tengah menarik benda padat namun berlendir dari mulut si jantan.
"Terimakasih." Ucap Minseok sambil mengambil benda berlendir itu dari paruh betina.
Bentuknya hanya seperti batu biasa berwarna abu-abu. Batu yang biasa penguin gunakan sebagai mas kawin. Minseok melepas tas ransel dan pakaian atasnya menjadi telanjang dada. Rebecca dan Luhan sontak menganga melihatnya.
"Ih Om!" seru Rebecca dengan nada jijik saat Minseok menelan bulat-bulat beda berlendir itu. "Jorok~"
Luhan pernah mendengar ini. Bangsa Lemuria merupakan bangsa yang dibuat oleh bangsa Nisnas atau Penguasa Utara. Semacam sebuah percobaan ilmiah untuk melahirkan spesies baru. Dan mereka berhasil menciptakan sebuah makhluk yang awalnya ingin dijadikan budak. Mereka menyebutnya makhluk hibrida yaitu makhluk yang tergabung dari dua hewan atau lebih, atau manusia yang memiliki sebagian tubuh hewan.
Namun, hibrida yang setengah manusia, nyatanya menggunakan gen bangsa Nisnas, kebanyakan dari mereka memiliki kecerdasan setara. Makhluk hibrida itu tidak ingin dijadikan budak dan meminta kesetaraan. Namun Bangsa Nisnas menolak. Jadi pada akhirnya keduanya berpisah. Dan makhluk hibrida tersebut disebut sebagai Bangsa Lemuria.
"Wow~" gumam Rebecca dengan pelan. Sebagai Penguasa Timur Tengah, Rebecca lumayan mengerti dengan wujud Minseok saat ini. Bisa dibilang Penguasa Timur Tengah sebagian besarnya memiliki keturunan dari bangsa Lemuria. Tapi Penguasa Timur Tengah hanya bisa berubah wujud. Bukan setengah wujud macam Bangsa Lemuria. "Seperti malaikat.. maut." bisik Rebecca pelan diakhir kalimatnya.
"Terimakasih." Ucap Minseok sambil tersenyum geli.
Minseok sebenarnya masih dengan wujudnya yang biasa, hanya ditambah sayap dikedua punggungnya dan kedua tanduk yang mencuat di kepalanya. Meski kedua sayap lebarnya berwarna hitam kelam seperti burung gagak ditambah tanduk Bison. Tapi tetap saja Luhan malah tampak terkagum-kagum dengan wujud asli Minseok.
Kini Minseok kembali memakai pakaiannya. Hanya sebatas kaos yang malah membuat punggung Minseok sedikit mengembung. Karena kaos itu menutupi sayap Minseok yang menyembul. Minseok jadi terlihat memiliki tubuh yang bungkuk.
"Mau sampai kapan kalian berdiam diri? Perjalanan kita masih panjang." Tanya Minseok sambil memakain tas punggungnya di depan.
Meski Rebecca masih terperangah dengan kedua tanduk Minseok yang rucing. Tapi ucapan Minseok tentu membuat Luhan dan Rebecca bergegas. Luhan kini tampak bersemangat berjalan disamping Minseok meski sedikit heran dengan penguin jantan yang tampak berjalan disamping Minseok. Seolah penguin itu merupakan seorang penunjuk jalan.
Sedangkan Minseok tanpa sadar tersenyum miris dalam hati. Anchis yang hidup sebagai manusia setengah patung kenapa memiliki pasangan yang sebagian besarnya berhubungan dengan maut. Ah! Tentunya kecuali Joonmyeon. Serius..
Pasangan Yixing lolos dari maut dan mendapatkannya dengan cara membunuh satu kelempok mavia terkuat. Chanyeol memiliki anak dari seorang penguasa alam bawah dan satu-satunya setengah dewa yang bisa mengirim siapa pun ke xαος. Zitao juga memiliki pasangan yang terkenal sebagai dewa kematian di mitologi mesir kuno. Dan yang paling tua, Luhan. Juga memiliki pasangan yang tidak jauh-jauh dari hal kematian.
"Aku bukan seorang dewa apalagi petinggi Penguasa Selatan, tapi kedudukanku cukup berpengaruh" ucap Minseok pelan sambil berjalan disamping penguin jantan yang tampak takzim mengangguk. Seolah penguin itu mengerti. "Dulu aku itu hanya petugas yang menghukum pejahat khusus."
"Penjahat khusus?" tanya Luhan dengan penasaran.
"Ya, pejahat yang melakukan kejahatan berat."
"Apa hukumannya?"
"Penggal." Ucap Minseok dengan santai hingga membuat Luhan dan Rebecca menunjukkan wajah pias. "Intinya aku itu Tukang Jagal."
"Dan mereka sudah menunggu Anda sejak lama." Ucap penguin kaisar itu dengan takzim.
"Mereka? Siapa?"
Sebelum Minsoek mendapatkan jawabannya. Rebecca sudah berteriak duluan dan bersembunyi dibalik punggung Minseok dengan tatapan takjub dan heran. Luhan sebenarnya juga terkejut. Siapa yang tidak terkejut jika melihat penguin yang bisa berbicara?
"Kenapa?" tanya Minseok heran.
"Penguinnya bisa bicara!" seru Rebecca sambil menunjuk penguin yang tampak tenang-tenang saja.
"Kau kan juga ular yang bisa bicara." Ucap Luhan sambil menepuk kepala Rebecca dengan sedikit keras.
.
.
.
Beberapa jam setelah kejadian Rebecca, Chanyeol dan Tartaros yang diserang. Mereka sekeluarga memutuskan untuk pergi berpencar. Setidaknya mereka akan lebih aman jika berpisah dibandingkan bersama dan bergerombol. Lagi pula mereka juga harus membagi tugas. Salah satunya Minseok dan Luhan yang pergi ke belahan bumi Selatan. Selain menjaga Rebecca, mereka juga harus bertemu dengan petinggi Penguasa Selatan.
"Kau ternyata jauh lebih tua dari mereka," gumam Sehun pelan sambil menatap Minseok yang tengah menata pakaiannya ke dalam ransel. "Bagaimana rasanya menjadi makhluk immortal?"
"Hanya manusia yang menyebut kami immortal," jelas Minseok sambil membantu Luhan yang kesulitan menutup ranselnya. "Kami berubah sama seperti kalian, kami tumbuh dan juga berkembang," ucap Minseok sambil menatap Luhan. "Manusia berkembang dengan cepat berbeda dengan kami."
"Maksudmu?"
"Manusia jarang hidup hingga lebih 100 tahun, tapi untuk kami makhluk yang berumur 250 tahun tergolong amat sangat muda." Minseok masih berbicara Luhan sendari tadi hanya diam dan menatap Minseok yang terus menjelaskan ini itu pada Sehun. "Kau bisa sebut kami makhluk yang memiliki perubahan yang sangat lama."
"Kenapa?"
"Tunggu, aku cukup terkejut kau tidak marah padaku, karena aku sudah membohongimu." Gumam Minseok dengan heran.
"Ah! Kalau itu.. aku rasa, karena kau memang perlu menyembunyikannya," ucap Sehun dengan ringan. "Ayo jelaskan lagi tentang makhluk immortal."
"Tidak ada makhluk immortal," tegas Minseok. "Tidak ada yang abadi didunia ini, kami hanya memiliki umur yang panjang, itu saja." Penjelasan Minseok membuat Sehun mengangguk pelan. "Dan aku selalu terkagum-kagum dengan cara manusia yang selalu cepat matang dalam hal pemikiran." Luhan terdesak tiba-tiba. Karena Luhan tahu Minseok tengah menyindirnya.
Tapi untuk Sehun ini pertamakalinya Sehun suka cara Minseok yang mengusap kepalanya. Karena Minseok tengah memujinya sekarang. Mungkin ia diperlakukan seperti anak kecil. Tapi ia tidak keberatan sama sekali jika yang melakukannya Minseok.
"Perlu bantuan untuk berkemas?" tanya Minseok.
"Tidak, bagianku sudah dikerjakan oleh Yixing." Jawab Sehun sambil tersenyum cerah.
Minseok tentu ikut tertawa meski pada akhirnya menitah Sehun untuk membantu Yixing yang pasti sedang sibuk berkemas. Selalu, Minseok selalu terkejut ketika Luhan menatapnya dengan tatapan seperti itu. Tanpa bertanya Minseok duduk dihadapan Luhan yang terus menatapnya.
"Jadi karena itu kau tidak menyukai Anchis?" tanya Luhan yang membuat Minseok mengerutkan dahinya. "Karena kami ciptaan Penguasa Barat."
Minseok tersenyum miring mendengarnya. "Ya, kau benar." Luhan kembali membuka mulutnya untuk bertanya tapi Minseok langsung meletakkan jari telunjuknya dibibir Luhan. "Simpan dulu pertanyaanmu, kita harus menjaga seorang Dewi dari Timur Tengah."
Entah kenapa Luhan hanya bisa tertawa pelan sambil menghela nafas. Minseok benar. Namun perbincangan mereka terhenti saat terdengar suara ributan kecil dilantai bawah. Ternyata tidak hanya Minseok dan Luhan yang keluar kamar, Sehun, Yixing, Kyungsoo dan Zitao juga sampai keluar kamar. Mereka hanya menjadi pedengar dalam pertengkaran antara Chanyeol dan Tartaros.
"Aku tidak mau pergi!" sergah Chanyeol sambil bersidekap.
"Tapi ini sangat penting, ini tidak hanya menyangkut keselamatan manusia tapi seluruh makluk yang ada!" bujuk Tartaros dengan wajah frustasi.
"Tapi bagaimana dengan sekolahku?" tanya Chanyeol yang membuat Tartaros bergeming. "Minggu depan waktunya UAS dan aku tidak mau tinggal kelas."
Tartaros langsung menatap Chanyeol dengan datar. Namun tangan kanannya langsung mengeluarkan sabit besar. Tartaros pikir Chanyeol tidak mau ikut karena apa. Tapi ternyata karena masalah sepele seperti ini.
"Kau tahu ada dua peraturan didunia ini yang tidak boleh dilanggar," Chanyeol masih berceloteh. "Mencontek dan membolos sekolah, itu akan membuat generasi muda kita menjadi generasi bodoh."
"Sudah bicaranya?" tanya Tartaros dengan gigi bergemerutuk.
"Biar aku yang tangani!" ucap Zitao yang tiba-tiba sudah ada dihadapan Tartaros.
Tanpa banyak bicara. Zitao langsung berdiri dihadapan Chanyeol. Tentu kakaknya itu menatapnya dengan heran. Tidak biasanya Zitao menatapnya dengan dingin. Bulu kuduk Chanyeol meremang. Dan benar saja, Zitao tanpa basa basi langsung menonjok perutnya dengan kencang hingga Chanyeol hampir menghancurkan tembok, karena benturannya.
"Adik kurang ajar!" keluh Chanyeol sambil mengelus perutnya dengan pelan. Ia belum bisa berdiri karena rasa sakit ditubuhnya. Bahkan tubuhnya kini ditutupi debu dan serpihan cat putih yang terkelupas.
"Berhentilah bersikap main-main," kecam Zitao masih dengan suara datarnya. Chanyeol rasa gayanya Zitao sudah macam orang yang paling arogan. Belum lagi Zitao tidak membantu Chanyeol untuk berdiri. "Aku muak melihat topeng kekonyolanmu itu." Tambah Zitao.
"Baiklah.." gumam Chanyeol dengan pelan.
Chanyeol melihat kaki Zitao yang tepat berada dihadapannya. Zitao masih menatap dingin Chanyeol bahkan saat Chanyeol tampak mencoba bangkit untuk berdiri. Chanyeol seperti biasanya menunjukan senyum konyolnya. Zitao masih diam saja saat Chanyeol menepuk pelan pundaknya.
"Tapi sebelum itu.." gumam Chanyeol pelan. "Hormati dulu hyungmu!" ucap Chanyeol yang tanpa disangka-sangka membalas tonjokan Zitao tepat di ulu hatinya. Tidak seperti Chanyeol yang terlempat, ZItao tetap ditempatnya namun sedetik kemudian mulutnya mengeluarkan cairan bening yang memiliki bau menyengat. "Balasan untuk pukulanmu tadi."
Saat Chanyeol melepas cengkramannya dibahu Zitao. Si adik bungsunya itu langsung terjatuh dengan posisi berlutut. Kentara sekali dari ekspresinya kalau dia terkejut dan kesakitan.
"Xing, tolong sembuhkan kekasihku." Ucap Kyungsoo sambil menepuk bahu Yixing dengan pelan.
Padahal Yixing masih menatap Zitao dengan mulut menganga. Gila! Yixing hampir lupa, dari semua saudaranya Luhan memang paling kuat. Tapi Chanyeol jauh lebih barbar. Saat Yixing menghampiri Zitao. Luhan si kakak sulung langsung menghampiri Chanyeol.
"Aku tahu kau benci berada di dalam situasi ini," ucap Luhan yang membuat Chanyeol menghela nafas dengan pelan. "Tidak ada peristiwa di masa lalu yang akan berulang."
Chanyeol tampak menatap Luhan dengan tajam. Kesal dan marah. Chanyeol hanya tidak suka, hidupnya yang damai. Kini dirusak lagi oleh keempat penguasa yang tak juga puas dan saling berebuat kekuasaan. Chanyeol hanya ingin hidup tenang.
"Mungkin kita akan berperang," gumam Luhan pelan sambil mengusap bahu Chanyeol yang bergetar menahan marah. "Tapi kita tidak akan saling membunuh lagi," ucapan Luhan cukup membuat keempat Anchis bersaudara itu terdiam. "Kita tidak akan saling menyakiti, karena kita sekarang berada di kubu yang sama."
Lagi, kilasan masa lalu, saat empat penguasa saling berperang dan membunuh satu sama lain. Mereka berperang mewakili setiap kerajaan yang dibaliknya terdapat keempat penguasa. Terlalu rumit untuk dijabarkan. Dulu terdapat empat kerajaan besar yang tidak tertulis di dalam sejarah. Mereka merebutkan wilayah tengah atau wilayah netral. Dan hanya satu kerajaan yang bisa merebutnya, yang sekarang selalu menjadi sebutan setiap orang. Timur-Tengah.
"Jangan bahas itu lagi," keluh Zitao yang tengah duduk ditopang Yixing. "Kita tidak akan berperang, bumi bukan hak mereka yang berhak hanyalah manusia," ucap Zitao sambil menatap Sehun yang hanya diam mengamati. "Hanya manusia yang berhak memimpin bumi."
.
.
.
"One day when the sky is falling, I'll be standing right next to you, right next to.. Aww!" seru Yifan dengan keras. Yifan langsung menatap Joonmyeon dengan tatapan protes tapi Joomnyeon juga tak kalah tajam menatap Yifan. "Kenapa?" tanya Yifan dengan heran. Padahal ia sedang menyanyi untuk menutupi kegugupannya.
"Kau menganggu penumpang lainnya." Ucap Joonmyeon masih dengan tatapan tajamnya.
"Tapi aku sedang gugup," ucap Yifan dengan nada memelas. "Aku tidak bisa minum obat tidur atau obat yang bisa meredakan kecemasanku," keluh Yifan dengan nada resah. Joonmyeon malah tampak menghela nafas dengan malas.
"Oh ayolah!" seru Yifan dengan frustasi. "Aku heran kenapa orang-orang tidak merasa khawatir dengan burung besi raksasa yang bisa terbang."
"Padahal kau sendiri bisa terbang," celetuk Joonmyeon dengan pelan. "Orang-orang akan jauh lebih khawatir jika ternyata ada orang yang bisa terbang."
"Aku itu anchis bukan sembarang manusia biasa."
"Kalau orang lain dengar, tubuhmu bisa dibedah dan diperiksa." Bisik Joonmyeon yang membuat Yifan menatap pasangannya itu dengan kesal. "Aku tidak bercanda, serius!"
Yifan tahu Joonmyeon benar. Manusia itu memiliki daya keinginan tahuan yang masuk ke dalam level mengerikan. Semua benda asing di bedah semaunya, katanya demi kemajuan ilmu pengetahuan. Tapi ada yang salah dengan perkataan Joonmyeon.
"Aku tidak bisa terbang," sanggah Yifan dengan nada elakan yang berlebihan. "Aku tidak punya sayap," bantah Yifan saat Joonmyeon terlihat akan protes. "Kekuatanku kan mengendalikan grafitasi."
"Sama saja.." gumam Joonmyeon yang tidak mau habis pikir.
"Beda!" sanggah Yifan dengan nada keras.
"Sama!" kini Joonmyeon juga tidak mau kalah.
Yifan baru saja akan membalas perkataan Joonmyeon. Namun pengumuman jika pesawat akan lepas landas membuat Yifan memeluk tubuh Joonmyeon dengan erat sambil berkata dengan sedikit kencang.
"Selamatkan aku!"
Reaksi Joonmyeon? Tentu saja tertawa dengan puas.
Yifan masih berkomat-kamit dengan mata berair. Yifan benar-benar ketakutan. Tapi Joonmyeon lebih memilih untuk memikirkan keempat anaknya yang memiliki tujuan yang berbeda-beda. Bukannya pilih kasih, hanya saja Joonmyeon sedikit khawatir dengan Yixing terutama Chanyeol.
.
.
.
"Asal kau tahu saja, hanya vampire dan werewolf versi Twilight saja yang memiliki wajah tampan dan cantik."
Sehun hanya mengangguk dan berjalan disamping Yixing diatas salju yang dingin. Sehun kedinginan dan ia haru selalu berdekatan dengan Yixing. Dan sejak tadi Sehun berbicara karena ia bosan sendari tadi yang ia lihat hanya salju dan salju.
"Tapi kalau ada pria macam Jacob aku juga mau." Celetuk Yixing yang membuat Sehun menatap Yixing dengan kesal.
Yixing memang bercanda, karena Sehun kan kulitnya pucat bukannya..
"Wow~ coklat.." gumam Yixing sambil bersiul.
"Apa yang coklat?" Tanya Sehun.
Pertanyaannya hanya dijawab dengan telunjuk Yixing. Sehun bisa melihat seorang pria bertelanjang dada. Badan yang tegap, berotot dan warna kulitnya yang coklat. Bagaimana pria itu bisa bertahan dicuaca dingin macam ini hanya dengan selembar rompi terbuat dari kulit. Tapi yang paling mengesalkan itu cara Yixing menatap pria perkasa itu. Sehun jadi minder melihatnya.
"Xing.. dia mendekat." Bisik Sehun pelan.
Yixing diam saja sedangkan Sehun menatap pria itu dengan waspada. Masalahnya pria itu menatap Sehun dengan sangar. Dari badan saja, Sehun cuman menang tinggi. Oh tidak! Pria coklat itu juga tinggi. Yixing masih mengamati pria coklat yang malah mendekati Sehun. Dan dengan seenaknya menarik tangan Sehun dan mencium pelan punggung tangan Sehun.
"Bah!" Seru Yixing dengan terkejut. Yixing yang kepincut kenapa malah Sehun yang dapat?
Namun suara ribut lain membuat Yixing dan Sehun bertatapan dengan cemas. Karena segerombolan orang berpakaian serba hitam tiba-tiba menterumuni keduanya.
"Jiro!"
Pong!
Pria yang mencium punggung tangan Sehun tiba-tiba menyusut. Berubah menjadi anjing alaska berbulu coklat tengah mengenakan rompi kulitnya. Sehun langsung memundurkan langkahnya dengan terkejut. Sedangkan Yixing langsung menyembunyikan Sehun dibelakangnya.
"Wah.. wah.. ada tamu yang tak diundang." Seru seseorang yang tadi menyerukan kata Jiro. Pria bermata sendu namun juga telihat sangar dalam waktu bersamaan. "Sudah lama tidak bertemu ya.. Drias."
"Leo.." gumam Yixing pelan.
Sehun rasa mereka berdua saling mengenal.
Sehun kesal harus bersembunyi dibalik punggung Yixing. Tapi ini bukan ranahnya dan ia hanya manusia bukan anchis yang sudah tahu ini itu. Namun karena kesal akhirnya Sehun berdiri disamping Yixing dan menatap pria yang menatap Yixing dengan sebegitunya.
"Dari semua penduduk Wilayah Utara, kenapa harus kau?" Gumam Yixing yang jelas sekali kesalnya.
"Mungkin kita berjodoh." Ucapnya dengan enteng. Tapi mata Leo menemukan Yixing yang terus menggandeng tangan pria berkulit pucat. "Ah~ kau sudah menemukan pasanganmu?" Tanyanya sambil mengusap pelan kepala Jiro yang berbulu lebat.
Sehun bersumpah tatapan Leo penuh dengan api kemarahan yang membingungkan. Entah kenapa Sehun merasa Leo menatapnya dengan tatapan kesal dan meremehkan. Apa Leo cemburu? Untuk pertamakalinya Sehun sudah dicap musuh oleh seseorang yang baru ia temui.
"Kau pergi begitu saja dengan saudaramu dan sekarang kembali membawa pasangan?" Tanya Leo dengan nada kasar. "Kau memang tidak tahu malu.."
"Aku tidak kembali, aku hanya ingin bertemu dengan Sang Penguasa." Ucap Yixing pelan.
Leo menatap Yixing dengan berang. Sehun diam saja dan terus menggenggam erat tangan Yixing. Ia punya perasaan tidak enak.
"Apa kau tidak merasa bersalah padaku?" Tanya Leo dengan nada heran. "Hei! Kau meninggalkanku hanya demi seorang manusia?"
Yixing tampak menatap Leo dengan mengancam. Sehun bisa merasakannya. Tapi Leo malah tersenyum miring dan berkata.
"Kau biasa menyantap manusia dengan tampang dinginmu," ucap Leo sambil tertawa pelan. "Bagaimana rasanya berpasangan dengan mangsamu sendiri?" Tanya Leo yang membuat wajah pucat Sehun semakin pucat. "Seperti burung hantu yang berpasangan dengan tikus ya?"
Leo yang tertawa malah membuat Sehun manatap Yixing dengan tatapan terkejut. Apa dulu Yixing suka menyerap langsung aura manusia. Apa itu alasan yang membuat Yixing selama ini seolah tidak bisa menerima Sehun begitu saja? Apa karena alasan itu? Karena Sehun itu sudah seperti mangsa yang biasa Yixing buru?
Sehun sontak melepaskan genggamannya dan menatap Yixing dengan nafas terengah. Sehun terkejut setengah mati. Ia tidak tahu jika Yixing akan menganggap manusia sebagai santapan.
"Kembali padaku," ucap Leo dengan tegas. "Aku akan memberikan banyak manusia untukmu."
Leo dengan seenaknya menarik dagu Yixing dengan cara yang menggoda.
"Bukankah kau bilang semakin segar manusia itu semakin enak rasanya?" Tanya Leo dengan nada memprofokator. "Dan rasanya akan semakin menyenangkan saat manusia itu terlihat ketakutan hanya karena kau menyentuhnya.." Leo sengaja menggantungkan kalimatnya. Kini Leo berganti menatap Sehun sambil menyeringai. ".. dan wuuss~, manusia-manusia itu langsung lenyap begitu saja."
"Leo.." gumam Yixing dengan mengancam.
"Kau rakus Drias," ucap Leo pelan. "Kau bahkan tidak menyisakan apa pun, misalnya setetes darah. Ah! Bahkan saking cepatnya kau bahkan tidak membiarkan mereka berteriak."
Sehun langsung melangkah mundur dengan ketakutan. Tapi Yixing sendiri malah menarik tangan Sehun. Tentu saja Sehun menepis tangan Yixing.
"Tidak." Tolak Yixing dengan tegas pada Leo. "Aku tidak butuh!"
Namun Leo malah menunjukkan lencananya pada Yixing sambil menatap Yixing dengan kelam.
"Kau Sang Penjaga?" Tanya Yixing dengan suara lirih.
"Dan kau tahu persis apa yang bisa aku lakukan pada kalian kan?" Tanya Leo dengan nada megancam. Yixing menelan ludahnya dengan pelan. "Aku suka reaksimu," ucap leo sambil terkikik geli. Kini Leo membalikkan badannya dan berteriak kencang dalam bahasa bangsa Nisnas. "KURUNG MEREKA DI RUANG TERPISAH!"
Seketika pasukan elit keamanan mengerubuni Sehun dan Yixing dalam lingkaran terpisah. Sama seperti keamanan pada biasanya. Keduanya langsung diborgol dengan alat borgol yang sedikit berbeda.
"LEO!" geram Yixing dengan kesal. "Aku harus bertemu dengan Sang Penguasa!"
"Siapa yang peduli?" Tanya Leo dengan dingin. "Anggap saja kau memang mengalami kesialan karena harus bertemu denganku."
Terpisah? Alarm Sehun langsung berbunyi. Tidak! Yixing sudah mendapatkan block bloodnya, ia tidak boleh berpisah dengannya. Ini tidak benar! Yixing bisa-bisa.. tunggu, Yixing bahkan menjadikan manusia sebagai makanannya. Buat apa ia khawatir? Namun saat Sehun menatap Yixing yang juga menatapnya dengan tatapan pasrah dan bersalah. Sehun tahu jawabannya, kenapa ia harus khawatir. Karena Yixing itu pasangannya..
Tapi terlambat.. Yixing sudah ditarik dengan kasar oleh sekelompok orang berpakaian serba hitam itu.
.
.
Yixing ditangkap dan orang yang paling pertama sadar adalah Luhan. Minseok yang tidak tahu apa-apa hanya bisa diam saat Luhan tiba-tiba berhenti, menggeram dengan keras dan menjambak rambutnya dengan sekuat tenaga. Rebecca juga hanya bisa diam mematung karena tidak tahu dengan apa yang terjadi. Baru saja Minseok akan mendekati Luhan. Pria itu langsung menegakkan badannya dan berkata.
"Maaf.." gumam Luhan sambil tersenyum kecil dengan mata berair. Minseok terkejut dan Rebecca masih saja diam membaca situasi. "Ayo, kita lanjutkan perjalanan kita."
Sama halnya dengan Joonmyeon dan Yifan yang hanya bisa mengeluh tanpa bisa melakukan apa pun. Baru beberapa jam mereka berpisah dengan keempat anaknya. Salah satu anaknya sudah ditangkap oleh penguasa dari belahan dunia lain.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Joonmyeon dengan resah. Mereka masih ada didalam pesawat yang melayang.
"Meneruskan perjalanan." Ucap Yifan dengan tatapan kosongnya. "Kita suda berjanji apa pun yang terjadi kita harus menyelesaikan tugas kita masing-masing."
.
.
Dan itu pun terjadi pada Zitao. Karena Zitao tiba-tiba menghentikan mobilnya di padang pasir yang tandus. Kyungsoo tahu ada yang tidak beres. Karena Zitao tampak mengusap rambutnya dengan frustasi.
"Kenapa?" tanya Kyungsoo dengan khawatir.
Kyungsoo memaksa Zitao untuk bertukar posisi ini bukan saatnya untuk bertanya. Kyungsoo masih harus melajukan mobilnya menuju tempat tujuan sebelum matahari terbenam. Jika mereka belum sampai juga, bisa-bisa mereka terjebak dan mati kedinginan di padang pasir.
"Apa yang terjadi?" tanya Kyungsoo saat Zitao tampak menghela nafas dengan panjang dengan wajah memerah. Zitao tampak begitu marah sekarang dan menatap Kyungsoo dengan wajah memelas. "Apa yang terjadi?" ulang Kyungsoo.
"Yixing ditangkap," ucap Zitao yang membuat Kyungsoo menginjak rem mobilnya dalam-dalam. "Kenapa aku punya kakak yang selalu ingin cari mati?" tanya Zitao dengan frustasi. "Dulu aku yang salah membuatnya keluar dari anggota pasukan elit di Utara," gumam Zitao lagi. "Dia sekarang di cap sebagai pengkhianat."
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Kyungsoo.
"Lanjutkan perjalanan, Yixing tidak selemah itu."
"Bukan itu masalahnya! Tapi Sehun! Dia baru dan.."
"Sehun juga kuat." Jawab Zitao sambil mengigit bibir atasnya. "Kita selesaikan tugas kita."
"Apa kau tidak peduli dengan saudaramu sendiri?" Kyungsoo hanya memancing Zitao tapi Zitao hanya diam dan tersenyum pelan pada Kyungsoo. "Ini janji kami, kau pikir kami sudah berapa lama tinggal di dunia ini?"
Kyungsoo tersenyum pelan dan kembali menghidupkan mesin mobilnya. Zitao tentu khawatir, Kyungsoo tahu itu. Kyungsoo pernah masuk keluar penjara tapi penjara manusia. Bukan penjara penguasa macam Yixing.
"Semakin cepat kita menemukan pewaris, semakin cepat kita menyelematkan Yixing dan Sehun." Gumam Zitao dengan pelan sebelum akhirnya tersentak sendiri. "Aaah! Yixing kan pintar, aku rasa dia sudah memperkirakan hal ini."
Tanpa sadar Kyungsoo tertawa pelan. Kyungsoo menemukan beberapa orang, satu pria dan dua wanita yang tengah menunggu disebuah gerbang kuil kuno. Zitao menyipitkan matanya dan Kyungsoo langsung berseru dengan nada senang. Kyungsoo yakin dua orang itu merupakan pewaris tahta Penguasa Timur Tengah.
"Langsung dapat tiga ya?" gumam Zitao pelan sambil tersenyum lebar.
"Ini kan wilayahku." Jawab Kyungsoo dengan enteng.
.
.
.
Chanyeol satu-satunya anchis yang memiliki misi paling berbahaya. Kedua orang tuanya sama seperti pasangan Zitao dan Kyungsoo yang mencari pewaris lain di wilayah Tengah dan Timur. Sedangkan Luhan dan Minseok pergi ke Selatan. Yixing dan Sehun pergi ke Utara. Dan Chanyeol pergi ke Barat? Yang benar saja, musuh mereka sekarang itu Barat. Si penguasa yang haus kekuasaan. Mereka menuju tempat lain.
Saat kakak dan adiknya memilih untuk melanjutkan perjalanan dan menyelesaikan tugasnya. Hanya Chanyeol yang masih berdebat dengan Yixing. Mereka punya telepati kan? Dan telepati merupakan komunikasi yang tidak bisa disadap apalagi di putuskan. Yixing bilang lanjut dan Chanyeol ingin menyelamatkan kakaknya itu. Tapi akhirnya Chanyeol menyerah, kakaknya itu sudah sok pintar, keras kepala pula.
"Aku tida peduli jika kau mati!" teriak Chanyeol yang membuat Tartaros dan Baekhyun terkejut.
Chanyeol yang tidak punya pasangan akhirnya ikut kelompok Tartaros dan Baekhyun. Ya Baekhyun, si Bastet yang kini sudah berubah wujud ke jenis kelaminnya semula. Perempuan. Chanyeol tentu saja kaget sekarang bukan lagi tiga pria tapi dua pria dan satu wanita berambut panjang sepinggang.
"Aku tidak semudah itu untuk mati," jawaban Yixing yang cenderung tenang malah membuat Chanyeol kesal. "Tidak usah khawatir, yang harus kau khawatirkan itu pasanganmu yang terus memburumu."
Serius, Chanyeol kesal sekarang. Bukan karena Yixing yang tengah menyidirnya. Tapi perkataan Yixing sudah seperti orang yang siap mati. Chanyeol sudah tahu ini akan terjadi, makannya sejak kemarin ia yang paling tidak setuju dengan rencana gila ini. Saat Chanyeol ingin membalas, tiba-tiba sulur hitam kembali menyerangnya.
"Kena!" seru Chanyeol sambil merengkuh pinggang seseorang.
Kenapa Chanyeol yang berteriak girang? Karena saat sulur itu akan menjerat tubuhnya. Chanyeol melompat dan menangkap sulur hitam itu. Kini bahkan Chanyeol menarik sulur itu hingga Jongin keluar dari tempat persembunyiannya dibalik batu.
Ah ya.. mereka memang tengah berada di daerah bebatuan basah dan lembab. Mereka menjelajahi perbukitan yang dilapisi batu-batu keras yang licin.
"Masih mau mengirimku?" tanya Chanyeol sambil tertawa pelan. Jongin menatap Chanyeol dengan waspada. "Aku mau jadi tumbalmu," ucap Chanyeol dengan nada ringan. "Ayo! Aku ingin melihat tampang kakakmu seperti apa."
Bukan hanya Jongin yang terperangah. Baekhyun dan Tartaros juga terkejut. Chanyeol mengatakan hal itu sambil merengkuh pinggang Jongin. Tartaros yang berdeham membuat Chanyeol melepas rengkuhannya. Kalau bingung kenapa bisa Chanyeol menangkap sulurnya. Mudahnya, Jongin itu anak dari Tartaros dan Chanyeol merupakan anchis yang diberi kekuatan oleh Tartaros. Jadi mereka bertiga sebenarnya terhubung.
"Kenapa?" tanya Jongin dengan heran. Ia tidak memundurkan langkahnya dan masih menatap Chanyeol. Chanyeol sendiri masih saja memamerkan senyuman dengan cara yang menyebalkan.
"Aku hanya penasaran," ucap Chanyeol sambil menatap Jongin dengan tatapan yang tiba-tiba terlihat lembut. "Aku tahu rasanya ingin menolong saudaramu sendiri." Jawab Chanyeol dengan pelan, Chanyeol tiba-tiba teringat Yixing lagi. "Dan mungkin xαος bukan tempat yang terlalu buruk."
"Jangan bercanda!" seru Baekhyun dengan tajam. "Kau tidak tahu xαος tempat macam apa."
"Aku bertaruh," ucap Chanyeol sambil menatap Baekhyun dengan ringan. "Kau juga tidak tahu xαος tempat macam apa kan?" tanya Chanyeol dengan pelan. "Aku tahu sebenarnya kita akan pergi ke xαος untuk menyelamatkan anak kalian kan?" tanya Chanyeol yang membuat ketiganya terdiam.
Kini Chanyeol menatap Jongin sambil tersenyum kecil.
"Kau mungkin bisa membawaku ke xαος, tapi kau sendiri tidak.."
Tiba-tiba Jongin menarik tubuh Chanyeol dan menghilang begitu saja. Tartaros dan Baekhyun sontak mencari keduanya dengan terkejut. Padahal Jongin dan Chanyeol hanya pindah ke tempat yang lebih tinggi. Tepat di atas bukit, diatas Tartaros dan Baekhyun yang tampak kelimpungan mencari keduanya.
"..tahu cara keluar dari xαος." Chanyeol dengan tenang menyelesaikan perkataannya.
"Apa maksudmu?" tanya Jongin dengan dingin.
"Kau tidak hanya menumbalkan aku tapi juga dirimu sendiri," ucap Chanyeol sambil menarik dagu Jongin. "Sudah.. berhenti bersikap dingin, aku sudah merelakan tubuhku ini."
Jongin langsung menepis tangan Chanyeol sambil menaikan sebelah alisnya. Jongin sedikit risih dengan perkataan Chanyeol.
"Apa saudaramu tidak akan kalut jika kau tiba-tiba menghilang?" tanya Jongin pelan. "Kami memang akan membawamu ikut bersama kami, tapi aku tidak mau membawa orang tuaku." Ucap Jogin dengan pelan. "Aku bisa mengeluarkan kakakku dari xαος, tapi aku juga harus meninggalkan seseorang disana."
"Sistem barter ya?" tanya Chanyeol pelan. "Jadi setelah kau membebaskan kakakmu kau akan meninggalkanku di xαος?" tanya Chanyeol dengan pelan. Chanyeol kini menatap Jongin sambil menggelengkan kepalanya dengan takjub. "Aku punya pasangan yang benar-benar jahat."
"Tidak," ucap Jongin pelan. "Aku akan menemanimu di xαος." Ucap Jongin dengan santai.
"Kenapa?"
"Karena aku pasanganmu." Jawab Jongin yang malah membuat Chanyeol tertawa terbahak-bahak.
Tawa Chanyeol juga yang membuat Tartaros dan Baekhyun menemukan tempat keduanya. Tartaros memanggil keduanya dengan marah. Tapi Chanyeol dan Jongin tengah sibuk di dunia mereka sendiri.
"Kalau begitu.. ayo, kita buat perjanjian," ucap Chanyeol sambil mengambil batu berujung runcing dan melukai telapak tangannya hingga mengeluarkan darah. "Perjanjian yang tidak bisa kau ingkari." Ucap Chanyeol sambil menunjukkan darah yang keluar dari telapak tangannya.
Jongin tersenyum kecil. Sama seperti Chanyeol, Jongin pun mengores tipis telapak tangannya dengan sulur hitam tipisnya. "Aku tidak tahu Anchis bisa mengeluarkan darah," gumam Jongin sambil tersenyum kecil.
"Aku juga baru tahu tadi." Jawab Chanyeol enteng, dan tentu saja Jongin tahu jika Chanyeol berbohong.
"Apa perjanjian kita?" tanya Jongin pelan.
Chanyeol tidak menjawab hanya mengulurkan tangannya. Jongin yang melukai telapak tangannya pun akhirnya menggenggam tangan Chanyeol yang terulur. Rasanya tentu perih ketika tangan yang terluka saling bersentuhan. Chanyeol memulai ritualnya dengan bahasa ibrani dan Jongin hanya diam dan membiarka sulur hitam darinya dan api oranye Chanyeol mengelilingi genggaman tangan keduanya.
"Aku berjanji akan menyelamatakan kakakmu dan sebagai gantinya kau akan berada disisiku selamanya." Ucap Chanyeol yang membuat Jongin terkejut. Jongin tertawa pelan saat Chanyeol menaikan kedua alisnya dengan jail. "Apa kau bersedia menepati janjimu?" tanya Chanyeol dengan senyum tersungging.
"Aku bersedia." Jawab Jongin pelan tanpa takut sama sekali. Dan ucapannya membuat sulur itu menghilang begitu saja. Tapi tidak dengan darah keduanya yang terus mengalir. "Perjanjian darah jaman pubra ya?" ejek Jongin pelan.
"Tapi paling efektif." Gumam Chanyeol pelan.
"Kau ternyata tidak percaya padaku ya?" tanya Jongin sambil membalut telapak tangannya dari kain hasil menyobek lengan baju sebelah kirinya. "Aku kan pasanganmu."
"Kau juga tidak percaya padaku," ucap Chanyeol saat tangannya kini juga dibalut oleh Jongin dari kain hasil sobekan lengan baju kanan Jongin. "Meski kau tahu kau itu pasanganku." Bukannya tersinggung Jongin hanya tertawa ringan. Chanyeol memang benar.
"Perjanjian apa yang kalian lakukan?!" tanya Baekhyun dengan berang. "Jangan bermain-main dengan nyawa!"
Nyawa? Ya tentu saja. Perjanjian darah ini akan membuat seorang pelanggarnya mati. Mudahnya seperti itu. Matinya seperti apa? Ya macam-macam. Biasanya mati karena kekuatannya sendiri. Jadi mungkin Chanyeol bisa mati karena terpanggang apinya sendiri atau Jongin yang akan mati tertusuk oleh bayangan hitamnya sendiri.
Chanyeol menatap Jongin yang kini mengulurkan tangannya. Chanyeol tanpa ragu menerima uluran tangan Jongin. Chanyeol menangkap kata Ayo, jangan libatkan orang tua. Ah~ Jongin mulai membuka block pikirannya dengan leluasa. Chanyeol hanya mengangguk. Saat Jongin memejamkan matanya untuk memulai persiapannya. Chanyeol menatap Tartaros dan Baekhyun sambil melambaikan tangan kirinya.
"Sampai bertemu lagi ayah mertua dan ibu mertua."
Saat Jongin menjentikan jari kirinya. Mereka menghilang begitu saja.
.
.
.
"Aku punya dua adik yang sembrono." Ucap Luhan pelan saat ketiganya bersama penguin beristirahat di sebuah igloo khas suku Inuit.
Minseok membantu Luhan yang tengah menyalakan api didalam igloo. Sedangkan Rebecca dan penguin kaisar tengah sibuk dalam perbincangan seru. Minseok mendekati Luhan yang tampak akan menangis. Mungkin karena Luhan yang paling tua dan merasa paling bertanggung jawab.
"Jelaskan padaku, sebenarnya ada apa?" tanya Minseok yang mulai tidak tahan lagi.
.
.
TBC
.
Masih bingung?
.
Kayanya mulai dari sini gak usah pake penjelasan deh..
Kayanya lebih seru kalo tebak-tebakan lagi hahaha
.
Jadii
Siapa kakaknya Jongin?
.
Buat yang berhasil menebak Minseok dengan analisis yang memukau
kasih jempol tangan ma kaki dulu ah.. (b'o')b
kalian memang sesuatu!
.
Terimakasih buat review, follow dan favorit, dan seperti biasa.
Hai para pembaca yang pendiam
.
Selamat tahun 2016 kawan
Sehat selalu dan sukses
