BAB 10 BERTEMU KELUARGA POTTER (Bagian 1)
.
Lily menatap rumah besar keluarga Potter selagi dia berdiri di depan gerbang. James tinggal di rumah sebesar ini? Dia belum pernah memikirkan ini. Baru disadarinya bahwa dia hanya tahu sedikit sekali tentang James. Apa makanan kesukaannya? Buku favoritnya? Apa yang dia inginkan dalam hidupnya? Lily menatap James, yang menatap bangunan di depannya dengan gembira, senang bisa pulang. James mendorong gerbang itu terbuka, dan Lily mengikutinya. Selagi James menutup gerbang, Lily memandang taman di kanan-kiri jalan berliku yang menuju rumah. Dia menunduk menilai pakaiannya; jins dan kaos.
"Kau tampak baik-baik saja," kata James, membuat Lily terdongak panik.
"Kau tinggal di rumah gedung!" keluh Lily.
James meringis, sedikit dongkol. Diacungkannya tongkatnya ke arah kopor yang langsung terbang menuju rumah. Lily mengangkat alis padanya.
"Kurasa aku tak ingin menyeretnya," James mengangkat bahu, lalu menarik tangan Lily dalam genggamannya. "Tenang, Lily. Aku tidak sepanik itu waktu bertemu orang tuamu."
"Situasinya jauh berbeda," gumam Lily. James meremas tangannya.
"Dan apa maksudnya itu?"
Lily menggelengkan kepala.
James melingkarkan tangan di pinggang Lily, menahannya. "Lily, kita tidak akan ke mana-mana sampai kau mau menjelaskan."
Lily menghela napas. "Yah, aku membawa penyihir sempurna yang serba-bisa kepada keluarga Muggle-ku yang tidak tahu apa-apa tentang sihir. Kau membawa cewek Darah-Lumpur-mu menemui keluargamu yang penyihir dan berdarah-murni."
"Apa hubungannya dengan status darah?" tanya James pelan.
"Entahlah! Tapi semua orang merendahkan Darah-Lumpur sekarang dan…" Lily terhenti ketika James meletakkan tangan di bibirnya.
"Jangan pernah menyebut dirimu Darah-Lumpur. Kau bukan Darah-Lumpur, Lily, kau hanya kelahiran-Muggle. Lalu kenapa kalau semua orang merendahkan kelahiran-Muggle? Itu hanya prasangka tolol, dan orang tuaku tidak menyetujuinya. Dan sekalipun mereka membenci kelahiran-Muggle, itu tidak akan memengaruhi kita."
Lily tersenyum kecil.
"Nah, sekarang tunjukkan keberanian seorang Gryffindor dan temui orang tuaku," James melanjutkan, menyeret Lily pada tangannya.
Lily tertawa, lalu mengaitan lengannya pada lengan James, menyandarkan kepala di bahunya. Mereka berjalan bersama menuju gedung itu, sulit bagi Lily menyebutnya rumah. Di depan pintu, James memalingkan muka Lily hingga menghadapnya.
"Siap?"
Menghirup napas dalam-dalam, Lily mengangguk. James mendorong pintunya terbuka.
Mereka masuk ke dalam sebuah ruang depan yang terang benderang dengan sebuah cermin besar di sisi lain pintu. Lily menatap cermin itu dan mulai merapikan rambutnya. James memutar matanya dan menariknya menjauh dari cermin, bergumam tentang gadis-gadis dan cermin. Tersenyum, Lily memandang berkeliling. Ada sofa elegan di setiap sisi ruangan yang membuatnya menelan ludah, membayangkan seberapa kaya orang tua James. Mereka melewati pintu kayu geser dan Lily terkesiap, mendapati dirinya berada di ruang duduk yang terang, besar, dan mewah dengan jendela besar yang tingginya memenuhi dari langit-langit ke lantai. Di luar jendela, Lily bisa melihat ayunan taman dan sebuah taman besar dengan pagar tanaman. Lily memandang berkeliling, melihat beberapa pintu di dinding, dan tangga spiral megah di sebelah ruang duduk. Dia juga melihat pintu lain yang mengarah ke dapur dan pintu yang mengarah ke taman. Dia berbalik, menatap James tak percaya, dan bisa melihat James sedang mengawasinya.
"Aku sangat menyukai rumahmu!" Lily berbisik keras, membuat James tertawa.
"James?"
Kepala Lily terdongak mendengar suara langkah kaki menuruni tangga.
"James sayang, kaukah itu?" Langkah Emily Potter berhenti begitu melihat Lily. "Oh, James, kau tidak bilang kau membawa tamu." Dia menatap James sesaat sebelum berpaling pada Lily, tersenyum. "Senang bertemu denganmu," ujarnya seraya melanjutkan menuruni tangga untuk menjabat tangan Lily. "Emily Potter."
"Lily Evans," kata Lily pelan, tersenyum pada ibu James yang menggelengkan kepala. Alis Emily tertangkat dan senyum lebar membelah wajahnya.
"Oh, Lily, sungguh menyenangkan bertemu denganmu!" serunya, menarik Lily dalam pelukan erat. Lily membalas pelukan itu seraya tersenyum. "Mari, aku akan mengantarmu berkeliling rumah."
Emily sudah memberikan isyarat pada Lily untuk mengikutinya, namun James berdeham.
"Hai, Mum, sangat menyenangkan bisa bertemu Mum. Aku rindu sekali," katanya sarkastis.
Emily memutar matanya.
"Ya, hai, James sayang, aku juga merindukanmu," jawabnya sama sarkastisnya dengan putranya.
Lily tertawa. Emily mengedipkan mata padanya sebelum menarik James ke dalam pelukan. James lebih tinggi dari Emily, yang tingginya kurang lebih sama dengan Lily, memungkinkan James meletakkan dagu di atas kepala ibunya.
"Kau mengajak orang lain lagi?" tanya Emily, dan ketika James menggeleng, dia bergumam, "Bagus sekali. Nah, Lily, kenapa kau kelihatannya takut?"
James tertawa keras. Lily menyipitkan mata padanya, yang mengitari ibunya untuk mencium puncak kepala Lily. Emily tersenyum lebar.
"Saya bukannya takut, Mrs Potter, hanya merasa… terintimidasi?" Lily berusaha menemukan istilah yang tepat.
"Mrs Potter? Oh, Merlin, panggil aku Emily. Nah, James, di mana ayahmu?"
"Bagaimana aku bisa tahu? Mum kan yang di rumah bersamanya," James memutar matanya.
Emily berpura-pura tersingggung dan memimpin menaiki tangga.
"Ayo, Lily," serunya dari balik bahunya. Lily mengikutinya.
"Trims, Mum," James membuntuti kedua wanita itu.
"Oh, James, kau kan sudah tahu jalanmu sendiri," kata Emily.
Lily tertawa kecil. Dia baru mengenal Emily beberapa menit, tetapi sudah menyukainya. Mereka tiba di puncak tangga, dan Lily memandang berkeliling. Di sana terdapat ruang keluarga yang besar dan beberapa koridor dari ruang itu. Ruang keluarga itu berantakan, membuat Lily merasa sedikit lebih nyaman. Meskipun demikian, Emily yang tampak sebal dengan kondisinya berkata "Ayahmu sembrono sekali, James," dan langsung menuju salah satu koridor. "Lily!"
Lily pun mengikuti di belakangnya.
"Kurasa ibuku menyukaimu," bisik James sarkastis.
"Cemburu?" balas Lily menggoda.
James memutar matanya, mencoba tidak nyengir namun gagal.
"Daniel!"
Emily berhenti di depan sebuah pintu dengan tangan di pinggang. Lily berhenti untuk memberinya privasi, tetapi James mendorong punggungnya.
"Emily!"
Lily bisa mendengar ayah James balas mengolok, membuat dirinya terkikik, dengan imbalan mendapatkan tatapan tajam dari Emily.
"Siapa itu yang terkikik?" tanya Daniel, dan Emily mengangguk ke arah Lily dan James yang terhalang dari pandangan Daniel. "Emily!" dengkingnya.
Lily mendengar bunyi seseorang bangkit, dan menggigit bibirnya untuk mencegah dirinya tertawa. "Kalian benar-benar mirip," bisiknya pada James.
Emily terkekeh, "Kukira itu ciri khas lelaki keluarga Potter. Pemalas dan idiot."
James dan ayahnya bergumam mencemooh bersamaan. Detik berikutnya, Daniel Potter sudah berdiri di pintu. Ditatapnya James dengan senyum lebar.
"James!" serunya gembira, maju selangkah mendekati anaknya, kemudian memperhatikan bahwa di situ juga ada Lily yang sekepala lebih pendek daripada James. Ditatapnya gadis itu selama sedetik dan senyumnya bertambah lebar. "Senang bertemu denganmu, Lily."
Lily mengangkat alisnya, begitu juga Emily.
"Bagaimana kau tahu itu Lily?"
"Rambutnya," Daniel mengangkat bahu,
Lily menatap James, yang mengangkat tangan seolah menyerah. Dia memutar mata dan berpaling kembali pada Mr Potter untuk membalas senyumnya. "Senang sekali bertemu Anda," katanya, menjabat tangan ayah James yang terulur.
"Yah, tidak bisa kukatakan bahwa aku akhirnya bertemu denganmu, mengingat apa yang sudah James ceritakan tentangmu, aku merasa seperti aku sudah mengenalmu," ujar Daniel, mengedip pada putranya, yang merona.
Lily tertawa, sementara James melotot pada ayahnya. Daniel menarik putranya dalam pelukan erat. James memutar matanya sebelum balas memeluk ayahnya dan menepuk punggungnya. Emily memberi isyarat pada Lily untuk mengikutinya, dan keduanya pun memasuki ruangan yang baru saja ditinggalkan Daniel, sebuah kamar tidur besar dengan meja kerja di sudut. Selimut di atas tempat tidur masih kusut, yang diasumsikan Lily, pasti baru saja dipakai berbaring Mr Potter. Emily duduk di tempat tidur itu, Lily duduk di sebelahnya dengan sedikit gugup.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Emily.
"Saya baik-baik saja, bagaimana dengan Anda?"
Emily mengabaikan pertanyaan Lily.
"Maksudku setelah kejadian di Hogsmeade. Dumbledore memberi tahu kami apa yang terjadi, saat pertemuan Orde. Bagaimana kabarmu?" tanyanya serius. Lily melarikan tangannya ke rambutnya, membuat Emily tertawa. "Aku yakin itu kebiasaan yang kaudapat dari James. Aku juga melakukan itu pada bulan pertama berkencan dengan Daniel."
Lily nyengir.
"Saya memang sedikit lemah, dan terguncang dengan kejadian itu, tapi saya kira itu normal. Dan… ya, saya tertular kebiasaannya."
Emily tertawa mendengar kalimat terakhirnya, tetapi kemudian kembali serius.
"Itu memang wajar," katanya. Dia sudah mengambil napas untuk melanjutkan ketika James dan ayahnya memasuki kamar. James melompat ke tempat tidur dan duduk di sebelah Lily, sementara Daniel duduk di kursi roda. Lily menyipitkan mata menatap kursi roda itu.
"Saya kira kursi roda adalah barang Muggle."
"Barang Muggle yang benar-benar menarik," kata Daniel, menatap istri dan anaknya yang mendengus.
Lily tertawa.
"Jangan khawatir, James tertarik pada berbagai barang Muggle di rumah saya," katanya, membuat Emily dan Daniel tertawa sementara James menyipitkan mata padanya. "Apa?" tanyanya polos.
James memutar matanya dengan seringaian di wajah. Lily menguap, dan Emily melompat.
"Kalian sebaiknya tidur, ini sudah larut," kata Emily, mengerling arlojinya.
Daniel dan James mengulurkan tangan untuk membantu kedua perempuan itu, tetapi Emily mengabaikannya dan menawarkan tangannya sendiri pada Lily. Lily menyambutnya dan berdiri. Emily menyeringai pada suami dan anaknya sebelum melingkarkan tangannya di bahu Lily. "Mari kutunjukkan kamarmu," katanya, membawa Lily meninggalkan kamar itu.
"Selamat malam," Lily berseru dari balik bahunya kepada Mr Potter.
"Malam, Lily," balas Daniel seraya berdiri.
James melompat dari tempat tidur, dengan cepat mengucapkan selamat malam pada ayahnya, dan mengikuti Lily dan Emily. Emily membawa Lily sepanjang koridor kembali ke ruang keluarga menuju ke koridor yang berseberangan dengan tangga. Mereka berhenti di depan sebuah pintu di sebelah kiri, yang didorong Emily hingga terbuka. Lily ternganga. Kamar itu besar sekali. Ada tempat tidur sangat besar dan meja rias, juga rak buku dan meja belajar kosong.
"Jadi kau sudah tahu kamar kami, jangan ragu ke sana kalau kau membutuhkan sesuatu, atau panggil saja Anna," terang Emily. Dia memeluk Lily, lantas berbalik menuju koridor.
"Siapa Anna?" tanya Lily pada James.
"Peri-rumah."
Lily mengangguk.
"Di mana kamarmu?" tanyanya penasaran. James menunjuk pintu di depan kamar itu, membuat Lily menaikkan alis. "Orang tuamu mengizinkan kita tidur di kamar yang berhadapan?"
"Yah, orang tuamu mengizinkan kita tidur di kamar yang sama pada malam pertama," seringai James.
Lily memutar matanya. James menyambar tangan Lily dan membuka pintu kamarnya sendiri, membawanya masuk. Kamarnya hampir sama besar, tetapi ada dua tempat tidur untuk satu orang alih-alih sebuah tempat tidur besar. James menghiasi seluruh dinding kamarnya dengan poster-poster tim Quidditch. Di atas meja belajar diletakan sebingkai foto para Marauder.
"Untuk siapa tempat tidur yang satunya?" tanya Lily, mengangguk ke salah satu tempat tidur.
"Sirius. Ketika dia kabur dari rumahnya, dia datang kemari, dan bisa dibilang dia tinggal di sini selama musim panas."
Lily mengangguk. Dia sudah mendengar tentang Sirius dan keluarganya. Dia berjalan berkeliling di kamar itu, memperhatikan beberapa barang. Meja belajar James penuh dengan kertas-kertas mantra yang tersebar. Lily mengambil salah satu dan membacanya, mengenali beberapa di antaranya, meskipun beberapa lainnya tidak. Bisa dirasakannya tangan James melingkari pinggangnya, dan dia berbalik untuk menatapnya.
"Hai," sapanya seraya mengecup pipi James.
"Hai," balas James, terkekeh, lalu meletakkan dagunya di pundak Lily.
"Aku suka orang tuamu, mereka mengingatkanku padamu," bisik Lily. Dari sudut matanya bisa dilihatnya James memutar mata. "Itu benar!"
James terkekeh lagi. Lily merasakan udara hangat di rambutnya ketika James menguap.
"Waktunya tidur," katanya, berbalik untuk meletakkan tangan di dada James.
"Oke. Ayo," James mengedip.
Lily memutar matanya.
"Biar kuulangi," dia sudah memulai, tetapi James memotongnya.
"Tidak, aku suka caramu mengucapkan itu pertama kali."
"Dewasalah, Potter!"
James mengedip. Lily mencoba menarik tangan James agar lepas dari pinggangnya, tetapi James melingkarkan tangan satunya lebih erat lagi. Lily berusaha keras melepaskan tangan itu, tetapi James bergeming.
"Kau serius?" gerutu Lily.
"Bukan, aku James," kata James sungguh-sungguh. "Apa kau sudah bingung dengan semua hubungan ini?"
Lily mulai tertawa dan menyerah dari usahanya melepaskan tangan James. James tergelak, mengubur wajahnya di rambut Lily, membuat Lily terlonjak.
"Jangan menggelitikku seperti itu!" jeritnya, mencondongkan badan ke belakang sejauh mungkin dari James, yang menatapnya dengan sorot jail. Dipeluknya Lily lebih erat pada pinggangnya sementara satu tangannya naik ke lehernya. Lily menjerit lagi dan berusaha melepaskan diri, namun gagal.
"Aku akan melepaskanmu dengan satu syarat," kata James, berhenti selama satu menut penuh. Lily memutar matanya, lantas berjinjit untuk menciumnya. "Nah, begitu," kata James, mengedip, dan melepaskan Lily.
"Selamat malam, James," kata Lily, berjalan keluar, namun berhenti ketika melihat ekspresi James. "Kau ingin mengatakan sesuatu, James?"
"Tidak ada yang perlu dikatakan!" seru James, namun Lily tahu betul kalau dia berbohong. "Selamat malam, Lils."
Begitu Lily menutup pintu di belakangnya, James langsung melompat ke tempat tidurnya.
Di kamarnya sendiri, Lily menarik piyama favoritnya dari kopor dan bersiap tidur. Meskipun demikian, ketika sudah hampir terlelap, dia mendengar ketukan di jendela. Ternyata burung hantu. Lily berdiri cepat untuk membuka jendela bagi si burung hantu, yang terbang masuk dan mendarat di meja rias, lalu mengulurkan kakinya. Lily mendekatinya dengan malas dan menarik surat di kaki burung hantu. Setelah ber-uhu sekali, burung hantu itu terbang keluar jendela. Menghela napas, Lily duduk di tempat tidurnya untuk membuka amplopnya, yang ternyata di dalamnya berisi dua buah surat. Yang pertama dari Hestia.
.
Lily!
Oh, Merlin, aku sangat merindukanmu. Sudah empat hari sejak kau meninggalkanku sendirian bersama para cowok, dan aku kesepian. Mereka menutup asrama Ketua Murid sejak kau dan James pergi, jadi aku harus duduk di ruang rekreasi Gryffindor bersama Sirius, Remus, dan Peter.
Ini sungguh menyiksaku. Jangan salah, aku memang mencintai Sirius, dan Remus memang salah satu orang paling bijaksana dan menakjubkan yang pernah kutemui, tapi Peter? Jujur saja, aku tak bisa mengerti kenapa James, Sirius, dan Remus bisa berteman dengannya dan menyimpulkan kalau mereka bisa berteman hanya karena mereka ada di asrama yang sama dan ketiganya tak bisa merencanakan sesuatu tanpa meninggalkan Peter. Itu saja yang bisa kusimpulkan saat ini, sambil duduk sendiri di kamar. Aku ingin ke kamar para Marauder, tapi halo, bau sekali di sana.
Bagaimana pernikahan Petunia? Kuharap dia tak terlalu benci padamu. Oh, bagaimana James sewaktu bertemu dengan orang tuamu? Taruhan, mereka bakal terpesona padanya. Di mana kau sekarang? Dilihat dari waktunya, kau bisa jadi sedang tidur di suatu tempat, dan gara-gara aku, sekarang kau terbangun dan menguap sebelum membaca surat ini. Aku menyayangimu, Bunga-Lily. Oh, Merlin. Kurasa aku ketularan Sirius. Aku minta maaf sepenuh hati. Apa kau sudah sampai di rumah James? Sirius bilang rumahnya besar sekali. Benarkah itu? Semoga beruntung bertemu orang tuanya! Keduanya Auror, jadi kuharap kau tidak terlalu takut padanya. Bukan berarti kau orang yang gampang takut.
Aku terlalu cerewet, ya? Sekali lagi aku minta maaf dari hati yang paling dalam. Oh, Merlin, kau tak akan percaya apa yang terjadi hari ini. Seorang anak kelas satu mendatangiku dan mengajakku kencan. ANAK KELAS SATU! Betul-betul memalukan. Dan Sirius-yah, kau tahu sendiri seperti apa dia-memantrai anak itu, yang sebetulnya cukup manis, dengan Kutukan Kepak-Kelelawar. Aku akan menghargai kalau kau memberinya detensi untuk ini. Akhirnya aku menghabiskan satu jam untuk menenangkan anak itu, yang kemudian mencoba mengajakku kencan sekali lagi. Sungguh mengerikan.
Sudah malam sekarang, aku harus pergi. Aku akan menulis padamu tentang PR selama liburan, tapi aku sudah mengantuk sekali. Lagipula Remus bilang dia akan menulis padamu tentang itu, jadi kurasa aku tak seharusnya merampas kesempatannya. Dia sedikit aneh, sejujurnya.
Penuh kasih dari sahabatmu yang paling cantik,
Hestia
.
Lily tertawa dan meletakkan surat itu, memutuskan untuk membalasnya besok. Dia mengambil surat kedua dan mengenali tulisan tangan Remus.
.
Lily,
Bagaimana liburanmu? Kau merasa lebih baik? Kurasa begitu, mengingat James saat ini sedang ngobrol dengan Sirius, keras sekali kalau boleh kutambahkan, dan pada jam begini malam-malam, kedengarannya berisik. Kudengar kau di rumah James sekarang. Mereka sedang membicarakan pernikahan kakakmu, dan, ya, Sirius mengucapkan sejumlah komentar yang tidak pantas mengenai kakakmu, sori saja, dan aku tidak bisa keberatan mengabaikannya kalau aku punya pilihan. Untuk beberapa alasan yang aneh, Wormtail sudah tidur saat ini, mengingat dia akan pulang ke rumah ibunya besok pagi. Dan Sirius baru saja merebahkan diri di tempat tidur, mencoba menunjukkan sesuatu pada James. Dan dia terjebak dalam beberapa posisi aneh sehingga membutuhkan bantuanku. Yang benar saja! Itulah Sirius Black, cowok aneh yang kuceritakan padamu. Begitu pula James Potter, tapi kurasa kau sudah tahu tahu mengingat kau saat ini berkencan dengan anak itu. Sirius baru saja bertanya kepada siapa aku menulis, jadi sekarang kau ibuku. Hai, Mum! Aku ingin memberi tahu mereka yang sebenarnya, tapi nanti James akan bertanya apa yang kutulis, dan Sirius akan menggodaku tentang masa lalu kita yang singkat waktu… kelas lima, ya? Yang James juga masih tidak tahu, kan? Jadi aku akan menghargainya kalau kau tidak memberi tahunya. Maafkan aku tidak terlalu mengingat tahun. Dan dengan apa yang harus dibicarakan, bukankah itu menyenangkan? Kurasa aku baru saja membuatmu merasa aneh. Kalau kau tidak merasa aneh, aku toh sudah membuatmu merasa aneh dengan menyebutkan kata itu. Oh, ya ampun, aku kurang tidur. Aku selalu kelelahan dalam minggu-minggu bulan purnama, yang baru terjadi semalam. Aku tak tahu kenapa aku memberi tahumu soal ini, hanya saja kau lebih mudah diajak ngobrol dibandingkan James dan Sirius saat ini. Aku bahkan tidak bersusah payah mengajak bicara Wormtail, biasanya dia jadi canggung atau memulai obrolan dengan apa yang akan kita lakukan pada-tunggu. Jangan pikirkan itu. Oh, Sirius baru saja datang untuk melihat apa yang kutulis.
Jadi, Mum, bagaimana kabar Ayah? Kuharap dia baik-baik saja, aku sangat merindukannya-dan dia sudah pergi. Fyuh. James sekarang sedang bicara tentang kau. Aku tidak akan memberi tahumu apa yang dia katakan, mengingat itu bukan sesuatu yang ingin kaudengar dan aku terikat pada keharusan sebagai seorang sahabat dan seorang Marauder. Dan sekarang kau pasti memikirkan ini. Ini aneh. Aku akan pergi sekarang. Sampai nanti, Bunga-Lily. Oh, Merlin, julukan dari Sirius sudah meracuni kami semua.
OH, AKU HAMPIR LUPA. PR Mantra, tiga puluh tiga senti (AKU TAHU, 33 SENTI, APA YANG DIA PIKIRKAN?) perkamen tentang teori mantra objek hidup. Transfigurasi, dua gulung perkamen tentang mentransfigurasi penampilanmu. Ramuan, soal-soal di halaman 378, semuanya. Itu semua PR kita dari SEMUA mata pelajaran. Gila, sepertinya para guru menganggap kita tidak punya kehidupan lain saja. Yah, selamat malam! Semoga besok harimu menyenangkan!
Remus
.
Lily tersenyum lebar menatap surat Remus. Dia mengerutkan dahi pada beberapa bagian kalimat yang tertatap olehnya. Wormtail, biasanya dia jadi canggung atau memulai obrolan dengan apa yang akan kita lakukan pada-tunggu. Jangan pikirkan itu. Apa yang dibicarakan Remus? Lily memutuskan untuk memikirkannya nanti, dia sudah lelah. Digulungnya surat itu dan diletakkannya di meja di samping tempat tidurnya. Dia kembali berbaring dan menarik selimut sampai ke dagunya.
oOOOo
Ketika terbangun keesokan harinya, Lily mendapati seorang peri rumah berdiri di sisi tempat tidurnya. Dia menggosok matanya dan duduk, bertanya-tanya apakah dia membayangkannya. Dia memandang berkeliling kamar besar yang tidak familiar dengannya itu, lalu teringat bahwa dia berada di rumah James. Lily melompat dari tempat tidur dan berpaling pada si peri-rumah.
"Bagaimana penampilanku?" tanyanya.
Si peri rumah tersenyum lebar ketika menjawab, "Saya rasa Miss terlihat sangat cantik."
"Hai, aku Lily," kata Lily, mengulurkan tangan pada si peri rumah, yang menatapnya khawatir sebelum menjabatnya.
"Halo, Miss, saya Anna."
Lily tersenyum ramah.
"Panggil aku Lily, Anna," katanya sopan.
Si peri-rumah berseri-seri.
"Lily harus bangun sekarang. Mr dan Mrs Potter akan segera turun untuk sarapan dan Tuan James perlu dibangunkan, lagi."
Lily tertawa mendengar rencana membangunkan James. Dia menunduk khawatir menatap baju tidurnya yang terbuka.
"Keluarga Potter mengenakan baju tidur ketika sarapan, tetapi saya menyarankan Lily mengenakan pakaian yang lebih panjang," kata Anna, memberikan senyum lebar pada Lily, yang tertawa.
"Terima kasih, Anna. Jangan khawatir tentang membangunkan James, aku bisa mengatasinya," kata Lily. Anna tersenyum sebelum membungkuk pada Lily. "Oh, tak perlu begitu. Kau tidak perlu membungkuk padaku. Aku temanmu, bukan tuanmu atau apa."
"Apapun yang Lily inginkan. Sampai jumpa nanti," kata Anna, lalu menambahkan dengan bergumam sebelum menghilang, "Senang melihat Tuan James mendapatkan pasangan yang begitu baik."
Lily menghela napas dan membuka kopernya, menarik celana training panjang abu-abu. Kemudian dia menuju ke kamar mandi, menggosok giginya dan mengikat rambutnya. Puas dengan penampilannya, dia keluar kamar dan membuka pintu kamar James perlahan. Tubuh James yang tidur tengkurap memenuhi tempat tidur, membuat Lily terkikik. Dia paham sekarang apa yang dimaksud Emily ketika bercerita tentang betapa sembrononya James. Lily mendekati tempat tidur itu perlahan dan duduk di ujungnya.
"James," bisiknya. James tidak bergerak. "James!" Kali ini dia mengguncang bahu James, yang mengerang dan menggeliat. "James, bangun!"
"Tidak, aku sedang tidur," gumam James pada bantalnya.
"Kau mencuri kata-kataku, James," kata Lily.
"Kau yang mengajariku, Evans," kata James, membuka matanya seraya berbalik. Dia menggosok matanya dan menatap Lily yang tampak samar baginya. "Kenapa kau ada di kamarku?"
"Karena Anna datang membangunkanku dan mengatakan sudah waktunya sarapan, lalu dia bilang dia harus membangunkanmu lagi, jadi aku membebaskannya dari tugas. Bangun, James!" Lily berdiri, tetapi lagi-lagi James tidak bergerak. Alih-alih begitu, James menarik baju Lily, membuatnya terjatuh di tempat tidurnya di sebelahnya. "Dewasalah, James," gerutu Lily.
James menyeringai. Direngkuhnya Lily dalam pelukan, dan menyembunyikan wajahnya di leher Lily.
"Pagi, Lils."
"Ada yang lambat sekali pagi ini, ayo sarapan!" kata Lily, berdiri dan menarik James.
James bangkit duduk dan mengucek matanya penuh semangat. Dia menyambar kacamatanya dan memakainya, menatap Lily.
"Aku tidak lambat, aku mengantuk. Ada bedanya," elaknya, mendorong selimut dari atas tubuhnya dan turun dari tempat tidur. Lily melihat ke bawah karena James hanya mengenakan celana pendek, dan merona ketika James mendapatinya menatap perutnya. "Ya, Lils?" tambahnya sambil tergelak, meletakkan tangannya di pinggang Lily dan menariknya mendekat.
"Memangnya kau akan mati kalau pakai kaus," gerutu Lily pelan, mundur selangkah dengan wajah merah padam.
Tertawa, James menuju lemarinya untuk menarik kaus abu-abu dan memakainya, lalu mengulurkan tangan pada Lily, yang menggeleng.
"Gosok gigimu dulu," kata Lily galak.
"Ya, Mummy," jawab James seraya berjalan ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Beberapa saat kemudian dia sudah keluar sambil menyeka wajah dengan bajunya, menyingkap perutnya lagi.
"Kau tahu, ada penemuan baru yang disebut handuk," kata Lily.
James menggeleng, menyeringai. Dia meraih tangan Lily, menariknya ke ruang keluarga dan menuruni tangga. Di bawah, Lily memandang berkeliling dengan bingung.
"Ke sini," James tertawa, masih menarik tangan Lily. Dia memimpin Lily melalui sebuah pintu yang tidak diperhatikan Lily semalam. Saat berikutnya Lily mendapati dirinya berada di sebuah ruang makan, dengan sebuah meja untuk delapan orang. Orang tua James sudah duduk di sana.
"Lily!" kata Emily gembira, menepuk kursi di sebelahnya.
Lily tersenyum lebar padanya dan mengambil tempat yang disediakan Emily.
"Pagi, Mr Potter," sapanya.
Daniel mendongak tak percaya.
"Tidak, tidak. Mr Potter itu ayahku. Namaku Daniel," katanya.
Lily tersenyum. "Pagi, Daniel."
"Pagi, Lily," balas Daniel seraya tertawa.
Emily memutar matanya. James duduk di seberang ibunya.
"Pagi, Pumpkin," sapa Emily merdu. James mendongak pada ibunya dan wajahnya merona, sementara Lily terkikik pelan. Emily menatap ekspresi putranya dan memutar mata. "Aku tidak akan berhenti memanggilmu 'Pumpkin' hanya karena ada Lily di sini. Dia berpaling pada Lily. "Sebetulnya aku punya alasan khusus. Waktu dia masih bayi, dia mungkin makhluk paling gemuk yang pernah kujumpai."
Lily tertawa, begitu pula Daniel. James mendelik pada ibunya.
"Aku tidak gemuk," kata James, membuat orang tuanya tergelak lebih keras. Dia berpaling pada Lily dan melipat lengannya. "Aku benci kalian semua. Aku benci kau, Lils," tambahnya menanggapi dengusan Lily.
Lily menatapnya, berusaha terlihat menantang, yang membuat orang tua James tertawa lagi. Sudut bibir James berkedut. Terdengar suara tar! keras dan Lily terlonjak, memandang ke sebelahnya dan melihat peri rumah yang lain, kali ini tampak pemarah, berdiri di sampingnya.
"Pagi, Nona," katanya, membungkuk pada Lily. "Saya Alan."
"Senang bertemu denganmu, Alan. Aku Lily," katanya.
Alan tersenyum padanya.
"Apa yang Nona inginkan untuk sarapan?" tanyanya sopan.
Lily bisa melihat ketiga Potter menatap si peri-rumah tak percaya.
"Aku akan menghargai kalau kau memanggilku Lily," katanya sopan, dan si peri-rumah membungkuk. "Dan tidak perlu membungkuk, aku bukan tuanmu. Aku temanmu," tambahnya seraya tersenyum lebar.
"Kami punya beberapa pilihan untuk sarapan Lily. Anda ingin pancake, roti panggang, daging asap, telur? Apapun yang Anda inginkan kami akan membuatkannya," kata Alan, sudah hampir membungkuk, namun berhenti.
Lily tertawa.
"Bagaimana kalau daging asap dan roti panggang?"
"Apapun, Nona Lily," kata Alan, lalu ber-Disapparate.
Lily berpaling kembali dan melihat ketiga Potter menatapnya tak percaya.
"Ada apa?" tanyanya, merasa rikuh, tangannya melompat ke rambutnya.
"Alan tidak pernah tersenyum sebelumnya," kata Daniel, menatap Lily takjub. "Aku penasaran kenapa tadi begitu."
Lily menaikkan alisnya dan berpaling pada Emily, yang mengangguk.
"Aku tidak tahu kenapa tadi begitu, tapi terima kasih karena sudah datang. Aku mulai khawatir dia tidak tahu caranya tersenyum," kata Emily.
Lily tertawa kecil. Didengarnya James membuat suara, "Harrumph!" dan mendapatinya menatap Lily dengan mata menyipit.
"Apa?" tanya Lily lagi.
James mendengus. Dia bangkit mendekati Lily dan menarik ikat rambutnya, lalu kembali ke kursinya.
"James?" tanya Emily, menatap James seolah-olah putranya itu sudah gila.
"James, tidak adil rambutku berantakan begini!" seru Lily, berusaha menyisir rambut dengan jarinya. James menatapnya dan mengangkat bahu.
"Menurutku itu tidak tampak berantakan."
"Boleh kutahu apa yang baru saja berlangsung?" tanya Daniel pada Lily.
"James tidak suka saya mengikat rambut hanya karena beberapa alasan konyol."
Emily tertawa.
"Kukira itu ciri lain seorang Potter."
"Benarkah?" tanya Lily, ikut tertawa.
Emily mengangguk. Daniel memandang Lily dan mengangkat bahu, dan Lily tertawa lagi. Mendadak terdengar suara berisik dari atas dan Jackie mendarat di meja di depan Daniel, mengulurkan kakinya. Daniel membuka gulungan surat itu sementara Jackie, yang matanya terpancang pada Lily sejauh ini, terbang dan mendarat di rambut Lily. James tertawa. Lily memekik ketika si burung hantu mematuk kepalanya. Emily dan Daniel menonton dengan geli dan terpesona, selagi Jackie itu menarik seikat rambut Lily. Emily mengulurkan tangan dan menyambar burung hantu itu, membawanya kembali ke meja. Lily masih menggosok kepalanya di tempat yang tadi dipatuk Jackie.
"Bisa kulihat sekarang, James tidak melebih-lebihkan," kekeh Daniel, memandang James yang sedang menyeka matanya.
"Yah, itu bisa dipahami. Maksudku, lihat rambutnya, merah berkilau," kata Emily, mengamati rambut Lily dengan pandangan menilai. "Tidak heran Jackie menyukainya." Dia meraih segenggam rambut Lily. "Ini alami, bukan? Indah sekali."
Lily mengangguk dan tersenyum padanya.
"Mum, itu milikku," protes James, mengawasi rambut Lily yang masih berada di tangan Emily.
"Maaf?" kata Lily, menatap James dengan alis terangkat.
James menyeringai jahil.
Terdengar suara tar! di samping Lily dan Alan muncul membawa empat buah piring. Diletakkannya sebuah di depan Lily, dan sisanya di depan masing-masing anggota keluarga Potter.
"Selamat menikmati, Nona Lily," katanya sebelum menghilang.
"Kukira kau punya pengagum, Lily," kata Emily, menggelengkan kepala seraya berpaling menghadapi makanannya.
Wajah Lily merona.
"Oh, James, kau punya saingan," ujar Daniel, menepuk bahu James.
"Yang harus diwaspadai," kata Lily, mengedip pada James.
"Aku tidak akan kalah oleh peri-rumah, Lils."
"Kau tidak akan tahu, James. Dia tidak berkeliaran dan menyebutku miliknya."
Daniel dan Emily menonton James dan Lily saling mengolok-olok dengan ekspresi terhibur.
"Aku hanya bercanda, Evans, kau tahu itu," James memutar matanya, dibalas Lily dengan meleletkan lidah padanya.
"Yah, kalau kau jadi terlalu percaya diri dan kepalamu menggelembung, aku tidak akan bisa bicara denganmu," Lily mengangkat bahu. "Aku tidak suka kepala menggelembung."
"Berani taruhan kau sudah menunggu untuk menghinaku sejak awal semester," seringai James.
Lily tertawa.
"Sebetulnya aku sering menggunakannya pada Sirius. Lumayan melegakan dan supaya hinaan klasik itu tidak musnah."
"Kau juga tidak ingin kehilangan cowokmu yang superkeren ini, kan?"
"Sirius?" tanya Lily, mengedip pada James yang tampak tersinggung. Emily dan Daniel meledak tertawa, membuat Lily terlonjak; dia sudah lupa ada orang tua James di sana.
"Akan kubalas kau, Evans," kata James, menyipitkan mata dengan main-main.
Lily merasakan perutnya berjungkir balik; terakhir kali James menatapnya seperti itu adalah tepat sebelum mereka berciuman di kamarnya.
"Ayolah, Potter," katanya, menaikkan alisnya.
James memainkan alisnya. Emily terkekeh lagi, bahagia putranya telah menemukan seseorang seperti Lily. Daniel melemparkan senyum pada Lily, tahu dia menyukai gadis ini bahkan meskipun dia belum terlalu banyak berbincang dengannya, kemudian menunduk pada suratnya. Daniel mengerang. Lily, James, dan Emily berpaling padanya.
"Ada apa, sweetie?" tanya Emily pada Daniel.
Lily mengerutkan hidungnya; dia tidak bisa membayangkan dia akan pernah memanggil James dengan panggilan semacam itu. James tampaknya juga memikirkan hal yang sama dan, menoleh pada Lily, melihat ekspresi Lily, dan keduanya saling nyengir.
"Kita harus ke Kementerian sekarang," erang Daniel, bergegas menyantap sarapannya. "Ada serangan dan mereka membutuhkan Auror di tempat segera untuk menginvestigasi."
"Apakah ada yang terbunuh?" tanya Emily. Lily bisa mendengar ada secercah kesedihan dalam suaranya, dan hatinya bergetar ketika menyadari trauma yang pasti ditimbulkan kalimat itu kepada keluarga Potter.
"Entahlah," kata Daniel pelan, menatap kursi kosong di samping James, yang memandang Lily dalam diam.
"Sebaiknya kita segera berangkat," Emily mengangguk. Dia sudah menyelesaikan sarapannya, dan berpaling pada Lily. "Kita akan berbincang lagi nanti, aku ingin tahu lebih banyak tentang dirimu selagi kau di sini." Dia tersenyum sebelum bangkit.
Tanpa bersusah payah menuju kamar mereka, Emily dan Daniel mengacungkan tongkat pada pakaian masing-masing, yang berubah menjadi seragam pasukan mereka.
"Sampai jumpa nanti," kata Daniel, tersenyum pada Lily dan James sebelum menggandeng tangan istrinya. Keduanya ber-Disapparate.
