Naruto ( c ) Masashi Kishimoto

"My Love Term: I Getting Stuck at Your Heart"

( c ) Hitomi Sakurako

Chapter 11: Anata Ni Aete, Yokatta!


"Sakura!" teriak Ino ketika melihat Sakura sedang berjalan di koridor.

Sakura membalikkan tubuhnya, merasa risih dengan teriakan Ino yang melengking itu. "Ada apa, Ino?" tanya Sakura kesal.

"Huh? Kenapa wajahmu semurung itu?" tanya Ino balik.

Sakura mendengus kesal. "Bukan apa-apa. Ada apa memanggilku?"

"Ujiannya akan dimulai hari ini, tapi aku baru menyadari kalau seminggu ini kau tidak pernah mendapat telpon dari Sasuke." ujar Ino dengan nada lemas.

"Aku bebas seminggu ini dari pekerjaan." jawab Sakura dengan nada dingin, kemudian berjalan memasuki kelas meninggalkan Ino.

Sakura POV

Ujian akan dimulai hari ini. Sasuke benar-benar tidak menggangguku selama liburan. Tapi, kejadian beberapa hari lalu itu masih terngiang di otakku. Aku memarahinya dan berlari meninggalkannya begitu saja. Apa dia kebingungan? Tentu saja tidak, ya. Dia sudah mendapatkan keinginannya. Membebaskanku seminggu dengan imbalan bekerja selama liburan musim panas.

Tapi setelah kejadian itu apakah dia akan berbicara padaku lagi? Aku takut suasananya akan kaku kalau aku kembali bekerja. Huh, sepertinya itu hanya bagian dari kekhawatiranku saja. Entah kenapa, meskipun seminggu bebas dari Sasuke, aku merasa seperti ada yang hilang.

End POV

Pak Asuma berjalan memasuki kelas. Di tangannya sudah terdapat sebuah amplop besar yang berisi lembar jawaban dan soal.

"Selamat pagi, anak-anak. Langsung saja, perbaiki posisi kalian dan jangan berisik. Aku akan segera membagikan soalnya." ujar pak Asuma yang mulai membagikan soal dan lembar jawaban ke siswa.

Setelah semua siswa telah mendapat soal dan lembar jawaban, pak Asuma langsung mempersilakan untuk mengerjakan soal dengan tenang.

"Wah, aku mempelajari ini semalam!" batin Sakura berteriak kegirangan. "Yang ini juga, ini, ini dan yang ini!"

.

.

.

"Huahhhh!" seru Ino sambil menghambur ke Sakura dan Hinata.

"Ada apa, Ino-chan?" tanya Hinata.

"Aku mengalami beberapa kesulitan di soal terakhir!" gerutu Ino kesal.

Sakura menggaruk-garuk belakang kepalanya. "Aku pikir bagian terakhir memang agak susah. Untungnya aku masih mengingat beberapa rumusnya."

"Aku malah mudah mengerjakannya." ucap Hinata sambil tersenyum.

"Benarkah?! Huaaa, kalau nilaiku jelek aku bisa remedial!" ucap Ino sambil nangis lebay.

"Tapi untung saja, ujian kali ini semua mata pelajaran dimuat dalam satu soal. Jadi tidak membutuhkan banyak hari untuk ujiannya." ucap Sakura kagum.

"Tentu saja, liburan musim panasnya kan dimulai besok!" ucap Ino sweatdrop.

Sakura terkejut. "Apa?! Besok?"

Ino menyenggol lengan Sakura. "Kau pasti tidak sabar untuk liburan, kan? Kita akan pergi ke pantai atau keluar kota?" tanya Ino.

"A-aku lebih suka mengikuti kalian…" ucap Hinata.

"Oh iya!" Ino merogoh saku blazernya. Ia sedang memegang empat lembar tiket. "Bagaimana kalau kita liburan ke sini?" tanya Ino.

"Kemana?" tanya Sakura. Ia mengambil salah satu tiket dari tangan Ino.

"Liburan di pedesaan? Darimana kau mendapatkannya, Ino-chan?" tanya Hinata penasaran.

"Jadi kemarin ada semacam lucky draw di jalanan. Aku iseng ikutan dan mendapat hadiah terakhir. Padahal aku sudah berusaha mengincar hadiah utama. Kita seharusnya bisa liburan keluar negeri!" seru Ino bersemangat.

"Tapi kenapa ada empat tiket?" tanya Sakura.

"Aku, Hinata, kau dan Sasuke!" seru Ino lagi. Sakura sweatdrop, Hinata juga sweatdrop.

"Maaf, Ino. Aku dan Sasuke sepertinya tidak bisa ikut. Sasuke ada pekerjaan baru, makanya aku dibebaskan seminggu untuk ujian supaya tidak remedial. Hahahaha, maaf, ya!" ucap Sakura dengan nada bersalah.

"Hah? Benarkah? Kau curang, Sakura. Harusnya kau bisa liburan bersama kita." ucap Ino sambil memelas.

Hinata menepuk pundak Ino. "Sakura benar, Ino-chan. Sebaiknya kita biarkan saja. Sakura sebenarnya sangat ingin ikut dengan kita. Kau tahu sendiri seperti apa jadinya Sasuke kalau tidak dibantu oleh Sakura."

"Karena ini demi kebaikan Sasuke, maka aku akan membiarkanmu pergi!" ucap Ino yang mendadak semangat.

"Itu terdengar sangat terpaksa." Sakura sweatdrop melihat tingkah Ino. Ia menatap dua lembar tiket yang ada di tangannya. "Ah! Aku ada ide!" seru Sakura. Sakura berdiri dari duduknya, ia segera berlari keluar kelas.

Sedangkan Ino dan Hinata heran melihat Sakura yang pergi begitu saja membawa dua tiket itu. "Ada apa dengan Sakura?"

Sedangkan itu di Sakura, ia melihat Naruto sedang duduk di taman sekolah sambil memakan bekalnya. "N-Naruto!" panggil Sakura.

Naruto menoleh kearah Sakura. Dilihatnya gadis itu berlari menghampirinya. "Ada apa, Sakura-chan? Kau terlihat lelah." ucap Naruto sambil melemparkan senyum.

Sakura duduk di samping Naruto. "Maaf mengganggu makan siangmu, aku ingin memberikan ini!" Sakura memberikan dua lembar tiketnya kepada Naruto.

"Tiket apa ini?" tanya Naruto bingung.

"Liburan ke pedesaan bersama Ino dan Hinata. Itu tiketku, tapi aku tidak bisa pergi. Jadi mungkin lebih baik kalau aku menyerahkannya padamu!" ucap Sakura sambil tersenyum.

"Apa?! Liburan bersama Hinata-chan? Kau serius?! Akhirnya!" Naruto tertawa kegirangan sambil terus menatap tiket itu. "Ah, tapi kenapa ada dua?"

"Mungkin kau bisa mengajak temanmu, hehehehe. Kalau ingin tahu informasi lebih lanjutnya sebaiknya tanyakan kepada Hinata saja, ya!"

"Oh begitu. Aku akan mengajak Sai. Kami berdua belum mendapat rencana liburan. Terima kasih, Sakura-chan! Err, oh iya, kenapa kau tidak ikut?"

Sakura menggaruk pipinya dan membuang pandangannya. "Err… aku ada pekerjaan. Sebenarnya itu tiket untukku dan Sasuke."

Naruto mengangguk beberapa kali. "Begitu, ya. Aku jadi ingat waktu SMP kami mau liburan bersama, tapi Sasuke membatalkannya karena ada pekerjaan juga."

"Ah iya! Aku baru ingat, ternyata kau adalah teman lama Sasuke, ya! Hahahaha, Sasuke mengatakannya padaku kalau dia memiliki sahabat bernama Naruto. Kalian sudah tidak pernah bertemu?" tanya Sakura.

Naruto menundukkan kepala. Menatap rumput-rumput yang bergoyang tertiup angin. "Ada alasan tersendiri kenapa kami tidak pernah bertemu. Sasuke orang yang sangat sibuk. Mungkin kau harus mengatahui ini, sebenarnya dulu kami juga memiliki sahabat bernama–"

KRIIIING! Bel masuk berbunyi mengagetkan Sakura dan Naruto. Dengan reflek Sakura segera bangkit dari duduknya. "Sudah masuk! Aku pergi dulu, Naruto!" ucap Sakura sambil berlalu pergi.

Naruto juga ikut berdiri. Ia hanya melihat punggung Sakura yang semakin menjauh. "Sepertinya kau akan tahu sendiri nanti." ucap Naruto serius.

.

.

.

Sepulang sekolah Sakura berjalan melewati perusahaan tempatnya bekerja. Ia menatap bangunan megah itu beberapa saat. "Mereka sudah pulang, ya?" gumam Sakura.

Klak! Pintu terbuka dan menampakkan sosok Kakashi yang sedang menatapnya.

"Huah!" Sakura terlonjak kaget. "Anda mengagetkanku!" ujar Sakura kesal.

"Ternyata itu beneran kamu! Ada yang ingin kutanyakan, masuklah!" pinta Kakashi.

Sakura masih terdiam di tempat. "Sasuke sudah pulang?" tanya Sakura dan dibalas anggukan dari Kakashi. Entah mengapa ketika sampai di perusahaan ini, mendadak Sakura menjadi pengecut kalau harus dipertemukan dengan Sasuke. Padahal dirinyalah yang waktu itu membentak Sasuke.

Sakura duduk di salah satu sofa ruangan Sasuke. Ia menatap sekeliling. Rasanya selama seminggu tidak ke tempat ini, ia merasa sangat asing. Kemudian Kakashi duduk di sofa depan Sakura.

"Apa yang terjadi dengan Sasuke?" tanya Kakashi.

Sakura memasang wajah heran. "Apa? Ada apa memangnya?" tanya Sakura balik.

"Aku sudah menyuruhnya menemuimu beberapa hari lalu untuk membicarakan mengenai rencana ke pantai tapi dia belum juga melakukannya!" ucap Kakashi sambil mendengus kesal.

"Aku dibebaskan selama seminggu dari pekerjaan supaya aku tidak remedial selama liburan. Katanya akan ada pekerjaan. Tunggu, rencana ke pantai?!" ucap Sakura yang semakin heran.

"Kau sudah dengar kalau Sasuke akan bermain film lagi, kan?" tanya Kakashi dan dibalas anggukan mantap dari Sakura. "Begini. Sasuke akan menggunakan waktu liburan panas untuk memainkan scenenya. Karena kebetulan scenenya berlatar di pantai." lanjut Kakashi.

"Begitu, ya!" Sakura mengangguk beberapa kali. "Jadi apa yang harus aku lakukan?"

"Persiapkan barang-barangmu. Kita akan berangkat besok jam sepuluh. Ini adalah musim panas, tidak perlu terlalu formal." pinta Kakashi.

"Apa? Hei, tunggu dulu! Besok? Besok? Bukankah itu terlalu cepat?" tanya Sakura yang masih syok karena semuanya menjadi mendadak.

"Aku 'kan sudah mengatakannya. Aku menyuruh Sasuke mengatakannya padamu beberapa hari lalu. Untung saja aku bisa menemuimu." ucap Kakashi.

Sakura mengangguk. "Maafkan aku! Aku akan bekerja semampuku." ucap Sakura sambil menunduk.

"Tidak perlu minta maaf, ini bukanlah kesalahanmu. Baiklah, kau harus datang ke stasiun tepat pukul sepuluh. Kami akan ada di sana!" ujar Kakashi.

"Baik! Kalau begitu aku pulang dulu!" ucap Sakura sambil membungkukkan bahu. Kemudian ia berjalan meninggalkan perusahaan.

.

.

.

Keesokan harinya.

"Sakura, cepatlah turun. Ibu sudah menyiapkan bekal untukmu diperjalanan!" teriak Mebuki dari bawah.

Sakura berjalan menuju ruang makan sambil membawa tasnya yang agak berat itu. "Aku siap, ibu! Wah, ada onigiri!" seru Sakura sambil memasukkan bekal ke dalam tas ranselnya.

"Sakura, pastikan kau bisa menjaga dirimu! Ibu sepertinya bisa mempercayakanmu kepada Sasuke." Mebuki tersenyum penuh arti.

Sakura memasang ekspresi terkejutnya. "Jangan bicara seperti itu, bu." Sakura membuang muka. "Lagipula, mana mungkin dia peduli mengenai hal itu, mungkin sekarang dia tidak mau mengajakku bicara…" gumam Sakura.

"Sakura, ada apa?" tanya Mebuki, namun Sakura segera membalasnya dengan gelengan cepat.

"Ah, Ibu. Aku harus segera pergi!" ucap Sakura sambil berlari keluar.

Setibanya di stasiun, Sakura dapat melihat segerombolan orang yang tidak dikenal, untungnya Sakura dapat melihat dan langsung mengenali salah satunya adalah staf Sasuke.

"Maaf, aku baru datang!" ucap Sakura yang memasuki gerombolan itu.

"Ah, Sakura-san. Kau belum telat. Hanya saja, Sasuke dengan Kakashi-san belum datang juga." ucap Anko, seorang staf yang mengurus dalam busana.

"Anu Toki-san dan Yukie-san juga belum datang!" ucap seorang lelaki yang diketahui bernama Sagi.

"Toki-san dan Yukie-san? Siapa mereka?" tanya Sakura bingung.

Tiba-tiba muncul Kakashi dan Sasuke bersama dua orang gadis yang umurnya tidak jauh beda dengan Sasuke dan Sagi. Sakura makin heran. Siapa mereka?

"Ah, semuanya sudah berkumpul?" tanya Kakashi. "Maaf, kami agak terlambat karena membicarakan banyak hal."

"Baik! Semua anggota sudah berkumpul. Kita siap berangkat!" ucap salah seorang staf.

"Sebelum itu, aku akan memperkenalkannya terlebih dahulu!" Kakashi menepuk pundak Yukie dan Kotohime. "Namanya Yukie dan yang ini Toki. Mereka adalah karakter yang akan bergabung dalam scene ini!"

Sakura mengangguk beberapa kali. Kemudian setiap orang mulai memasuki kereta. Sakura masuk paling terakhir sekali. Ah, sepertinya Sasuke tidak pernah berbicara padanya. Entah karena Sasuke tidak melihatnya atau memang tidak peduli.

Sakura tidak mau ambil pusing. Ia mengambil kursi yang agak jauh dari yang lain. Sakura menghempaskan pantatnya di salah satu kursi yang ada di dekat jendela. Sakura langsung membuang muka keluar jendela. Ia memikirkan betapa menyenangkannya liburan Ino dan Hinata di pedesaan.

Bruk! Tiba-tiba Sakura merasakan seseorang duduk di sampingnya. Ia segera menoleh dan langsung terkejut karena yang berada di sampingnya adalah Sasuke.

"A-apa yang kau lakukan di sini?!" teriak Sakura kaget.

"Aku juga ikut jadi aku ada di sini itu wajar, kan!" ucap Sasuke yang menatap lurus ke depan tanpa menghiraukan ekspresi kaget Sakura.

"Tapi masih ada kursi kosong selain di sini, kan!" gerutu Sakura kesal.

"Bukan suatu masalah seorang aktor duduk di samping manajernya. Lagipula aku bisa membicarakan mengenai rencana syuting kalau seperti ini." Sasuke masih tidak memperdulikan Sakura. Ia malah memakai headset, tanda agar Sakura sebaiknya diam saja.

"Aku akan pindah!" ucap Sakura. Ia benar-benar tidak sanggup duduk di samping Sasuke setelah kejadian waktu itu. Selain itu, ia benar-benar tidak bisa tenang. Sakura mencoba berdiri dari duduknya, namun Sasuke segera menarik tangan Sakura sehingga tubuhnya langsung terhempas kembali duduk di kursinya.

"Cih!" Sakura mendecih kesal, kemudian ia membuang muka.

.

.

.

"Berapa lama lagi perjalanannya?" ucap Sakura yang mulai lelah.

"Mungkin sejam lagi. Kita cuma menggunakan kereta biasa, jadi agak lama…" ucap Sasuke yang masih tidak mau menoleh menatap Sakura. Sakura sih tidak ambil pusing mengenai itu, asal Sasuke mau pindah dari tempatnya saja ia sudah senang.

"Aku mengantuk!" ujar Sakura dengan mata sayunya. Dan betul saja, Sakura langsung terlelap dalam tidurnya. Tapi Sakura harusnya sadar, tidak boleh sembarangan membiarkan dirinya tidak sadarkan diri bersama orang asing ini.

Sasuke pelan-pelan menolehkan wajahnya ke Sakura. Sasuke menghembuskan napas lega begitu melihat Sakura benar-benar tertidur. Sasuke dapat melihat rambut Sakura yang berantakan karena tertiup angin, kemudian pandangannya jatuh pada kaca kereta yang dibuka lebar.

"Dasar bodoh, padahal dia sendiri bisa masuk angin seperti itu!" gumam Sasuke. Ia bangkit dari duduknya. Kemudian tangannya meraih jendela di samping Sakura, kemudian ia menutupnya. Wajah Sasuke tepat berada di samping wajah Sakura. Sasuke menatap Sakura dalam posisi yang sedekat itu. Ia bahkan bisa mendengar deru napas Sakura yang teratur.

.

.

.

"Wahhhh!" seru Sakura begitu melihat villa yang akan ditempatinya.

"Silakan masuk!" ucap Yukie sambil mempersilakan semuanya masuk. Dengan begitu Sakura sadar, Yukie-san adalah orang yang memiliki villa megah ini.

Sakura masih kagum dengan bangunan villa itu. Ia menatap sekelilingnya.

"Jangan terlalu kagum, kau terlihat kampungan!" ucap Sasuke yang berjalan melewati Sakura.

Sakura tertohok. Ledekan seperti itu benar-benar membuat Sakura kesal. "Menyebalkan!" gerutu Sakura kesal.

"Aku, Toki-san dan Sasuke-san akan tinggal di kamar depan. Sudah ada tiga kamar yang disiapkan. Sayangnya, kalian para manajer harus tinggal di belakang. Tapi tenang saja, beranda di belakang sangat bagus!" jelas Yukie panjang lebar.

Sasuke menatap Sakura. "Tidak apa-apa, Sakura?" tanya Sasuke.

Sakura terkejut karena tiba-tiba namanya disebut. "Ah, tidak apa-apa. Tidak perlu khawatirkan aku!" ucap Sakura sambil tertawa kecil.

"Aku tidak mengkhawatirkanmu. Aku takut kau berisik, jadi sepertinya ruang belakang sudah cukup tenang untukmu." ucap Sasuke dan hal itu sukses membuat Sakura syok.

"Baiklah, aku akan melanjutkan, kita akan ke ruang atas!" ucap Yukie sambil berjalan diikuti Toki dan Sasuke.

Sakura masih membeku di tempatnya. Tiba-tiba Sagi menepuk bahunya. "Sakura-san, semoga kita bisa bekerja sama."

Sakura tersenyum. Ia menjabat tangan Sagi. "Uhm! Ini adalah pertama kalinya untukku ikut dalam kegiatan ini. Aku adalah manajer baru!" ucap Sakura sambil menggaruk belakang kepala.

Sasuke menoleh kearah Sakura. 'Anak itu dia bisa langsung ramah begitu saja ke orang lain, padahal aslinya dia seperti hewan!' batin Sasuke kesal ketika melihat Sakura tertawa kepada Sagi.

.

.

.

"Jadi… para staf dan Kakashi-san ada dimana?" tanya Sakura bingung.

"Ah, mengenai itu. Mereka tinggal di villa sebelah, katanya kami butuh ketenangan jadi mereka tinggal di sana bersama!" ucap Toki sambil tertawa kecil.

Sakura mengangguk. "Begitu, ya. Ah, sepertinya kita tidak memiliki persedian apa-apa di sini!" ucap Sakura tiba-tiba.

"Benar juga! Villa ini sudah lama tidak ditempati. Apa sebaiknya kita meminta tolong kepada para staf untuk membelinya?" ucap Yukie.

"A-aku akan pergi membelinya!" ucap Sagi yang langsung menyela.

"Sagi-kun, tolong, ya!" ucap Toki sambil tersenyum mantap.

"Ah, aku akan ikut bersama Sagi-san. Sepertinya barangnya agak berat, jadi lebih baik kita pergi bersama!" ucap Sakura sambil menepuk pundak Sagi.

Grep! Tiba-tiba Sasuke menahan lengan Sakura. "Aku ada perlu bicara denganmu, jangan pergi begitu saja!" ucap Sasuke tegas.

Sakura menatap Sasuke dalam. "Ada apa tiba-tiba?" tanya Sakura.

"Sakura-san, aku bisa melakukannya sendiri. Kalau begitu, aku pergi dulu!" ucap Sagi yang disambut anggukan dari Sakura.

"Ahh, kita harus pergi ke Kakashi-san dulu! Ayo, Toki-san, Sasuke-san!" panggil Yukie yang berjalan terlebih dulu dan diikuti Toki.

"Aku akan menyusul. Aku ingin berbicara sedikit dengan manajerku." ucap Sasuke yang masih belum melepaskan pegangannya dari lengan Sakura. Sakura meneguk air liurnya. Feelingnya benar-benar buruk. Jangan-jangan yang ingin dibicarakannya adalah…

Toki dan Yukie telah pergi. Sasuke langsung melepaskan pegangannya pada lengan Sakura. Sakura langsung membalikkan badannya. Ia tidak mau mendengar hal-hal yang buruk.

"Ada apa?" tanya Sasuke.

"Eh?" Sakura menoleh sedikit kearah Sasuke. "A-apa maksudmu?" tanya Sakura yang masih membalikkan badan dari Sasuke.

"Kenapa kau langsung lari waktu itu? Kau mengataiku rendahan dan menangis? Ada apa?!" tanya Sasuke.

"T-tidak ada apa-apa. Aku pikir kau sudah melupakannya!" ucap Sakura gugup. Perkiraannya benar. Sasuke akan membicarakan ini.

"Hentikan itu! Lihat mataku saat aku berbicara padamu!" teriak Sasuke sambil menarik Sakura agar menghadap kearahnya. Ia mencengkeram kedua bahu Sakura. "Ada apa?!" tanya Sasuke lagi.

"Aku mengikuti perintahmu selama liburan ini, jadi jangan berkata seserius itu!" ucap Sakura dengan nada sarkastik.

"Apa maksudmu?" tanya Sasuke.

"Kau tidak perlu takut aku akan mengelak atau membangkang! Sasuke, kau tidak membutuhkan alasan dariku, kau seharusnya tidak penasaran mengenai kejadian itu!" Sakura terdiam, ia mengambil napas, kemudian bergumam. "Kau sebenarnya tidak begitu peduli dengan hal itu!"

"Kau mendengar sesuatu dari orang lain, huh?! Apa kau mendengarnya dari Tenten? Kau menemuinya?!" tanya Sasuke kesal.

Sakura terkejut. Ada apa dengan perubahan wajah Sasuke. Apa dia kesal karena Sakura sudah mengetahui trik Sasuke? Atau Sasuke marah karena kepercayaan Sakura sudah hilang?

"Kau tidak perlu bersikap baik padaku lagi. Kau hanya mencoba menarikku untuk semakin senang bekerja sama denganmu, tolong hentikan perbuatanmu yang seperti itu. Aku akan bekerja sesuai dengan waktuku. Jadi berhenti mempermainkan orang lain!" teriak Sakura kesal.

"Mungkin aku tidak harus mengatakannya, mungkin aku yang terlalu merasa berlebihan karena perlakuan yang kau berikan. Tapi, aku… dari semua kelakuanmu, aku kira kebaikan itu semuanya tulus dari perasaanmu!" Sakura memukul dada Sasuke kesal. Ia mulai mengeluarkan airmatanya. "Aku kira kau benar-benar bisa menjadi orang yang baik!"

"Terus kenapa kau bertingkah sangat baik di depan orang lain?!" tanya Sasuke dengan mata tajamnya. Sakura menatap mata Sasuke. Sekujur tubuhnya mendadak lemas, takut dengan tatapan Sasuke itu.

"Apa maksudmu?" tanya Sakura.

"Kenapa kau bertingkah sangat berbeda di depan orang lain selain aku?!" teriak Sasuke. Ia semakin kuat mencengkeram bahu Sakura.

"Hentikan itu! Kau tidak berhak mengaturku!" ucap Sakura yang mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Sasuke.

"Kau bilang aku tidak benar-benar peduli, kau bilang aku tidak berperasaan. Kau harusnya tahu kalau aku sangat sulit menahan diriku untuk tidak malu saat pemotertan iklan itu! Aku berusaha menahan malu sewaktu aku memberimu semangat di tangga itu!" ucap Sasuke.

Sakura terkejut. Ia merasa akan jatuh mendengar penjelasan dari Sasuke. "S-Sasu–"

"Satu lagi, seorang manajer hanya boleh melihat satu orang saja!" ucap Sasuke dengan setiap penegasan di setiap katanya.

Sakura terdiam, Sasuke terdiam. Tiba-tiba Sasuke membulatkan mata, terkejut dengan apa yang dikatakannya sendiri. "Maaf, sepertinya aku mengatakan hal yang terlalu berlebihan!" Sasuke kemudian berjalan meninggalkan Sakura. Ia memasuki ruangannya.

Sedangkan Sakura, ia masih terdiam di tempat. Menahan segala rasa malunya ketika mendengar penuturan dari Sasuke. Wajahnya memerah. "Apa maksudnya?"

To Be Continued

Heyyyaaaa! Makasih sudah dibaca! /emang ada yang mau baca?/

Ehm… begini. Aku mendadak marathon ngerjain beberapa chapter. Karena besok sudah mulai BTC. Aku gak ikut untuk kali ini, sih. Soalnya bingung mau ambil prompt apa /apalo/

Selain itu karena aku pernah disaranin beberapa reviewer untuk mengapdet ceritanya secepat mungkin selama liburan /padahal sebenarnya gak ada yang mau baca fic ini/ *krais*

Sedikit informasi dari aku, mungkin ch ini terlihat agak dipaksakan atau memang sangat terpaksa, ya? Dimana aku membuat si Sasuke keburu-buru ngasih kode duluan /apa/

Jadi gini, aku mau curhat, itu Yukie sm Toki gak kepikiran apa-apa langsung masukin dia ;;w;; soalnya niat awal aku mau bikin oc saja, tapi karena peran mereka bakal banyak, terpaksa aku ngambil karakter dari animenya sendiri. Hayoloh, gimana dengan ch ini? Bisa ketebak ch depan bakal gimana? /gak/ Oke, sampai jumpa di ch depan ~