Sex and Love
By : Han Kang Woo
Cast : Xi Luhan, Oh Sehun, Do Kyungsoo, Kim Jongin, etc
Main Cast : HunHan, 'slight' Kaisoo
Genre : Romance, Drama
Warning : BL (Boys Love), Adult (No Children), 18+
Banyak Typo dan Adegan Mesum
Rated : M+
DLDR
= Happy Reading =
O…O…O…O…O…O…O…O…O
Sehun tersentak pelan, dia harus memastikan bahwa tamu yang datang itu Youngmin ayahnya atau bukan. Namja cadel itu bersembunyi dibalik dinding salah satu kamar, entah kamar siapa. dan mengamati dari atas, dia terus mengintip dan melihat kebawah.
Sehun tidak bisa melihat dengan jelas tamu tersebut, karena sang tamu berjalan cepat dan membelok kearah sebuah ruangan.
'ah, sial... mudah-mudahan itu bukan Youngmin appaku.' batin Sehun, penuh harap.
Sehun berdiam diri, mengambil nafas, karena sepertinya tamu tersebut sudah masuk kesebuah ruangan yang diyakininya sebagai ruang kerja Seungsung. Dia menimbang-nimbang, apakah harus turun kebawah dan melihat sendiri wajah tamu itu, atau tetap tinggal dilantai dua.
"aku harus memastikannya sendiri." gumam Sehun, mengambil keputusan cepat.
Namja itu menatap berkeliling, agak sedikit heran dengan tidak adanya pelayan yang melintas disekitarnya, namun hal itu malah membuatnya senang, dia bisa bergerak bebas tanpa takut dicurigai oleh pelayan. Dia berpikir bahwa Seungsung sengaja meminimalisir jumlah pelayan dan pekerja baru dirumah Luhan, dengan sebab yang belum diketahui.
Sehun berjalan berjingkat seperti pencuri yang ingin mencuri celana dalam (?) tetangga, dia mengarahkan dirinya kelantai bawah, berjalan pelan, mencoba santai, namun dikagetkan oleh kemunculan salah seorang pelayan.
"ah, tuan… minumannya sudah siap, silahkan." kata pelayan tersebut, pelayan yeoja. Sambil menunjuk dua buah gelas minuman diatas meja ruang tamu. Yeoja itu sedikit agak tua.
"terima kasih, aku akan meminumnya nanti." Timpal Sehun, mengusap dadanya pelan, dia memang cukup kaget tadi.
Si pelayan tersenyum, membungkuk dan kemudian berlalu, masuk kedalam dapur, yang jaraknya lumayan dari arah ruang tamu. Maklum saja rumah keluarga Luhan itu sangat besar.
Sehun menatap pelayan yeoja yang menjauh tersebut, setelah pelayan itu menghilang dari pandangan, dia langsung bergerak cepat, melangkahkan kakinya menuju arah ruangan dimana si tamu kini berada,
Namja berkulit putih itu memasang telinga, sambil berjalan, mencoba mendengar suara-suara percakapan. Setelah berjalan pelan dan hati-hati, akhirnya dia sampai didepan pintu ruangan dengan cat berwarna coklat.
Terdengar percakapan samar-samar yang terjadi didalam ruangan itu.
Sehun menarik nafas, memandang sekeliling, aman, dan kemudian menempelkan kupingnya ke pintu ruangan tersebut.
"aku baru saja ingin berkunjung ke tempatmu." itu suara Seungsung, terdengar pelan, namun jelas.
"aku menunggu lumayan lama, jadi aku memutuskan untuk kesini saja." timpal suara yang lain, itu suara si tamu.
Deg…
Sehun sangat mengenali suara itu, suara yang sering melontarkan permintaan kepadanya untuk kembali menjadi anak, itu suara Youngmin, ayahnya.
'sial, ternyata benar, dia appaku…' Sehun membatin, dia baru saja mengetahui fakta yang mengagetkannya, ada hubungan apa ayahnya dengan paman Luhan itu?
Penyamaran Sehun sepertinya sulit berjalan mulus. Terlebih jika Youngmin sering muncul dirumah Luhan.
Sehun terus menempelkan telinganya ke daun pintu,
"bagaimana? Apa kau sudah memikirkannya lagi… sebaiknya dilakukan dengan cepat. Rencana ini sudah setahun yang lalu, tapi sampai sekarang belum terealisasikan." kata Youngmin, terdengar memaksa.
"kau terlalu terburu-buru, rencana pernikahan anak kita tetap akan dilaksanakan. Aku hanya menunggu berakhirnya hari berkabung. Aku tidak mungkin mengadakan pesta pernikahan dalam waktu dekat ini. bagaimana komentar masyarakat sekitar jika aku mengadakan pesta dalam jarak yang sangat dekat dengan pemakaman keluarga Xi." Ujar Seungsung,
"aku tahu, tapi aku hanya tidak ingin kau berubah pikiran saja." Youngmin mendesah.
"aku tidak mungkin berubah pikiran. Kita sudah bersahabat sangat lama. Banyak rahasiaku yang telah kau pegang dan ketahui, termasuk mengenai kematian keluarga Xi." jelas Seungsung.
"ya, aku melakukannya dengan mulus bukan? Ah, sebenarnya bukan aku. Tapi orang-orangku, dan kau sendiri yang membayarnya." kata Youngmin,
"terima kasih karena sudah membantuku, aku belum cukup pengalaman dalam menyewa orang-orang. Dan prestasi membangggakan yang pernah kulakukan adalah membuang anak keluarga Xi ke hutan, dengan terlebih dahulu kubuat pingsan." ujar Seungsung, kemudian tertawa jelek.
Youngmin juga ikut tertawa, lalu melontarkan pertanyaan,
"jadi bagaimana nasib anak itu? Kudengar kau berhasil membawa mayatnya dari hutan…"
"hahaha… untuk apa aku repot-repot mengambil mayat anak itu dari hutan, mayatnya mungkin saja sudah dimakan binatang buas." Seungsung terus tertawa cetar.
"jadi mayat yang dikuburkan itu?" Youngmin belum mengerti,
"itu palsu, mayatnya palsu. Pemakamannya juga palsu. Aku sudah merencanakan semuanya dengan matang." jawab Seungsung, tawanya belum hilang.
"kau benar-benar hebat. satu lagi rahasiamu ada padaku" Youngmin merasa terhormat karena bisa mengetahui satu lagi kejahatan Seungsung.
Sehun menahan nafasnya diluar sana, dia baru saja mendengarkan fakta baru. Bahwa ayahnya sendiri mungkin saja terlibat atas peristiwa kematian ayah dan ibu Luhan. Dan yang sudah sangat jelas sekarang, paman Luhan memang merencanakan untuk membuang / menyingkirkan Luhan untuk selamanya.
Sehun mengepalkan tangannya, dia geram. Telinganya masih terus menguping.
"bagaimana perusahaanmu? Keuntungannya banyak?" tanya Seungsung, sudah berhenti tertawa,
"hm.. itu, hm… baik, tentu saja. perusahaanku selalu untung besar" jawab Youngmin, agak kaku.
"bagus. Aku selalu senang bersahabat dengan orang yang sepadan denganku" Seungsung berujar terbuka.
Youngmin terdiam,
'setan kau, aku yang membantumu menyingkirkan keluarga ini. aku menginginkan anakku menikah dengan anakmu karena kau sudah mapan sekarang. Dan setelah anak kita menikah, aku mempunyai akses lebih untuk menyingkirkanmu… dan aku yang akan menguasai harta kekayaan keluarga ini.' Youngmin membatin dalam hati, dia tersenyum tipis.
Setahun yang lalu, Youngmin menjodohkan Jongin dengan yeoja anak keluarga kaya, yang dikiranya anak keluarga Xi, Padahal bukan. Keluarga Xi hanya mempunyai satu anak saja, anak tunggal laki-laki, yaitu Luhan. Dan yeoja yang dimaksud itu ternyata adalah anak Seungsung, anak perempuan yang juga satu-satunya.
Singkatnya, Youngmin dan Seungsung yang sudah lama bersahabat, menjodohkan anak mereka. Namun tidak berjalan mulus, karena Jongin kabur dan pergi bersama Kyungsoo dan mengasingkan diri didesa. Jongin tidak ingin menikah dengan yeoja itu, karena dia sudah memilih Kyungsoo.
Dan kini, Youngmin memutar haluan dengan kembali meminta Sehun menjadi anaknya lagi, padahal dia sudah lama membuang (memberikan) anaknya itu kepada Kyungwook, dan ajuhsi tua dan baik hati itulah yang membesarkan Sehun sejak umur 11 tahun hingga sekarang.
Youngmin setahun yang lalu dengan Youngmin sekarang sudah agak berbeda, terutama dalam hal ekonomi. Dia sudah tidak lagi menjabat sebagai direktur diperusahaan kertas terkemuka, dia digeser oleh orang lain, dan kini hartanya perlahan menipis. Namun dia menyembunyikan itu pada Seungsung, dia berusaha tetap terlihat kaya dan mapan, agar Seungsung tidak membatalkan pernikahan anaknya yang sudah jauh-jauh hari rencanakan.
dan agar pernikahan itu terjadi, Youngmin harus berusaha keras mengambil Sehun untuk menyeberang kepihaknya, dan memaksa anaknya itu menikah… bagamanapun caranya.
"baiklah, bagaimana jika kita minum-minum ditempat biasa? Dan membicarakan hal-hal penting lebih lanjut." ajak Seungsung, menghilangkan keheningan yang ada.
"boleh." Youngmin langsung setuju.
Terdengar langkah keduanya menuju pintu. Sehun yang masih setia didepan pintu, lekas sadar. Namja cadel itu langsung menepi dan menabrak seorang yeoja muda. Yeoja itu terjengkang tidak elit kebelakang.
"aww…" si yeoja merintih, kesakitan.
Yeoja itu ingin protes, namun Sehun secepat kilat menutup mulut yeoja itu dengan menggunakan tangan kanannya, lalu menunduk dan meringkuk bersama si yeoja.
Hening,
Seungsung dan Youngmin keluar ruangan, mereka tidak memperhatikan dan melihat Sehun yang terduduk bersama seorang yeoja disamping ruangan, dekat pintu.
Seungsung dan Youngmin tertawa, entah apa yang mereka bicarakan, mungkin saja membicarakan musik dangdut dari negara seberang, entahlah.
Seungsung langsung lupa dengan Sehun, dia lupa bahwa ada seorang namja yang baru saja datang dan mengaku sebagai saudara Luhan. Lupa untuk bertindak hati-hati, lupa untuk waspada dengan orang baru, lupa dan lupa.
Dan 'lupa' itu adalah hal baik bagi Sehun.
Seungsung dan Youngmin sudah menghilang dipintu utama, meninggalkan jejak gelak tawa yang sejak tadi tidak berhenti keluar dari mulut bau tanah mereka itu.
Sehun mematung, posisinya masih meringkuk, bersama yeoja, tangannya juga masih setia membekap mulut yeoja itu.
"oh.. maaf…" kata Sehun, setelah sadar membekap seorang yeoja cantik. Dia melepaskan bekapannya itu.
Si yeoja memandangi Sehun dengan pandangan centil, batal melayangkan protesnya. Dia menggumamkan kata 'tampannya' dengan tidak kentara.
"hei, kau tidak apa-apa?" Sehun bertanya, membuyarkan lamunan disiang bolong si yeoja.
"ah, aku tidak apa-apa" jawab si yeoja,
"kau anak Seungsung ajuhsi?" Sehun langsung bertanya vulgar, setelah melihat paras yeoja itu.
Si yeoja langsung tertawa cetar, dia menutup mulutnya, takut liurnya 'muncrat'.
"tentu saja bukan, aku pembantu dirumah ini." jawab si yeoja, masih terus tertawa.
Sehun menghela nafas lega, dia belum ingin bertemu dengan yeoja anak Seungsung secepat ini. yeoja yang sudah dijodohkan oleh Youngmin ayahnya.
"perkenalkan namaku, Joy. Aku pekerja baru disini. Oh, semua pekerja disini juga baru" kata yeoja yang bernama Joy itu. Dia adalah pembantu cantik yang membidangi masalah kebersihan kamar di rumah Luhan.
"namaku Sehun, aku adalah adik Luhan" Sehun juga balas memperkenalkan dirinya.
"adik Luhan? Tuan muda?" mata Joy melebar seperti bola kasti.
"ya, kami beda ibu" Sehun memperjelas.
"oh, tuan muda yang baru. Maafkan aku…" Joy menunduk dan membungkuk.
"jangan formal begitu, aku belum cocok dipanggil tuan muda" kata Sehun, tidak pernah membayangkan jika dirinya dipanggil seperti itu oleh seorang yeoja.
"bagaimana jika aku memanggil dengan oppa saja." Joy langsung ceria,
"baiklah, tidak masalah." Sehun tersenyum.
Joy meremas-remas tangannya, sesekali memandangi wajah Sehun, lalu menundukkan kepalanya lagi.
Sehun memandang keseluruh ruangan, sejak tadi dia tidak melihat foto Luhan dipajang,
"kau pernah melihat wajah Luhan kan?" tanya Sehun, yakin bahwa semua foto Luhan sengaja disingkirkan oleh Seungsung agar pekerja yang baru tidak ada yang mengenali namja itu.
"belum oppa, fotonya saja aku belum pernah lihat. Aku hanya tahu namanya saja. bahwa Luhan adalah nama anak keluarga Xi, yang meninggal sehari setelah kedua orangtuanya meninggal, keluarga yang malang" jelas Joy, jujur.
Sehun mengangguk pelan, sepertinya harus mengorek lebih jauh info yang diketahui oleh Joy, walah yeoja itu adalah pekerja baru.
"tamu yang baru saja keluar itu, sering kesini?" Sehun memulai investigasinya,
"ya, orang itu lumayan sering kesini, dan selalu berbicara di dalam ruang kerja tuan besar." jawab Joy, memilin baju clemek yang dikenakannya.
"oh begitu. Selain orang itu, siapa lagi yang sering kemari?"
"aku tidak begitu tahu oppa, tuan besar jarang terima tamu. Aku biasa sering mendengarnya berbicara dengan dua penjaga didepan untuk menolak tamu orang asing, entah apa alasannya." ucap Joy.
Sehun mengangguk, lalu mengganti topik pertanyaannya,
"siapa nama anak Seungsung, maksudku ajuhsi… dia kemana sekarang?"
"oppa tidak tahu? bukannya oppa ini saudara tuan muda Luhan. Seharusnya oppa tahu." Joy menampilkan wajah heran.
"hm… bukan begitu. Hanya saja aku sudah lama berpisah dengan keluarga Luhan, appaku. Omma Luhan dan ommaku berbeda. Kau tahu sendirikan, aku mandiri. Jadi aku tidak begitu tahu perkembangan keluarga ini, terutama pamanku Seungsung" jelas Sehun, secepat mungkin mencari alasan, walau dia tahu alasannya mungkin sulit dimengerti.
"oh begitu. Aku paham oppa. Anak tuan besar namanya Jessica. Dia jarang dirumah, sabtu minggu biasanya dia akan muncul." Joy menjelaskan,
"dia sekolah?"
"setahuku sudah tamat, dan sekarang kebanyakan jalan-jalan, shopping dan sebagainya. Begitulah."
"oh."
Joy senyum-senyum sendiri sejak tadi, kali ini dia yang akan bertanya,
"oppa sendiri bagaimana, tinggal lama disinikan?" tanya Joy.
"oh tidak, aku hanya tinggal beberapa hari saja, mungkin paling lama seminggu" jawab Sehun, itu adalah jangka waktu yang ditargetkannya menuntaskan misi.
"terlalu cepat oppa, oppakan bisa lama-lama, ini rumah oppa juga" Joy 'manyun',
"tidak bisa. Istriku dirumah sedang hamil muda, aku tidak bisa lama meninggalkannya" ucap Sehun, lalu membayangkan wajah Luhan-nya.
Joy seperti disiram aspal cair yang masih panas, yeoja itu kaget,
"op.. oppa sudah punya istri?"
"tentu saja, istri yang sangat kucintai"
"aku kira oppa masih single… betapa beruntungnya yeoja yang mendapatkan oppa, dia pasti sangat bahagia" Joy bergumam, dengan mulut semakin 'monyong' saja.
"jelas sangat bahagia"
"oppa tidak ada rencana berpoligami?"
"apa?"
"oh tidak, lupakanlah oppa" Joy langsung 'cengengesan' tidak jelas,
Sehun kemudian memandang jam tangannya, hari sudah semakin sore,
"biasanya jam berapa ajuhsi datang?" tanya Sehun, kembali mengganti topik,
"tidak pasti oppa, tuan besar biasanya pulang cepat, pulang lama. Tidak menentu" jawab Joy, masih cemberut.
"baiklah, aku kamar Luhan dulu…" ucap Sehun,
"apa tidak sebaiknya ke kamarku dulu oppa."
"apa?"
"lupakanlah oppa."
Sehun tersenyum, kemudian berbalik dan melangkah. Menuju lantai dua, ke kamar Luhan, meninggalkan pembantu rumah tangga cantik yang bernama Joy sendirian.
"uhh, sayang sekali… oppa yang tampan sudah punya istri, buku pendaftarannya sudah ditutup." desah Joy, kemudian melanjutkan tugasnya.
.
.
.
.
O…O…O…O…O
Luhan mondar-mandir seperti 'setrika' didalam kamar apartemennya, dia cemas dengan keadaan Sehun, namjanya. Siapa tahu saja disana Sehun kena masalah, atau apa.
"tidak seharusnya aku melibatkan orang lain dalam masalahku" gumam Luhan, sambil mengatupkan kedua tangan dan ditempelkan didepan bibirnya. Dia sangat mengkhawatirkan Sehun, bagaimana jika pamannya curiga? Lalu memutilasi Sehun saat namja itu tidur, lalu dikuburkan dibelakang rumah? Oh no…
Luhan menunggu kabar dan telefon dari Sehun, dia memang sudah membekali namjanya itu dengan ponsel baru, agar mereka setiap saat bisa saling berkomunikasi. sekarang sudah beberapa jam sejak kepergian namja cadel ke distrik Jongno, namun belum juga ada kabar.
Luhan tidak tahan, dia akan menelfon terlebih dahulu. Namja bermata rusa itu mengambil ponselnya dan mencari nomor ponsel Sehun, namun sebelum dia menekan tombol, ponsel tersebut berbunyi, dia cepat mengangkatnya.
"halo"
"halo, ini dengan Luhan?" tanya orang diseberang sana,
"ya, aku Luhan." jawab Luhan, itu bukan suara Sehun-nya.
"maaf, ini aku… Kyungsoo"
"oh, Kyungsoo-shi. Ya… Tuhan, sejak tadi aku menunggu telefon darimu" ucap Luhan, terlonjak senang. Kyungsoo akhirnya menelfonnya.
"kau dimana? aku ingin membicarakan sesuatu." lanjut Kyungsoo,
"aku juga sama. Aku di apartemen yang baru, kau?"
"masih di hotel."
"baiklah, bisakah kita bertemu?"
"tentu saja, dimana?"
"di ByunYeol Café, kau tahu tempatnya kan?"
"sebenarnya aku tidak tahu, tapi kau bisa menjelaskan letaknya dimana"
"baiklah. Dan ajak Jongin juga."
Luhan menjelaskan letak café tempat mereka janjian untuk bertemu, setelah menjelaskan dengan singkat, akhirnya Luhan menutup telefonnya. Setelah itu mengirim pesan singkat pada Sehun untuk menanyakan kabar namjanya itu.
Luhan mandi, kemudian siap-siap.
.
.
.
.
O…O…O…O…O
Luhan, Kyungsoo dan Jongin duduk manis disalah meja yang letaknya agak disudut, meja itu dipilih sendiri oleh Kyungsoo dan Jongin.
Luhan sejak tadi terus tersenyum, benar-benar tidak menyangka akan bertemu lagi dengan dua namja penolongnya di hutan dulu.
"aku betul-betul tidak menyangka, setelah tadi malam. Akhirnya kita bisa bertemu lagi" Luhan sumringah, menatap bergantian Jongin dan Kyungsoo.
"ya, kamipun sama" Kyungsoo yang menimpali, disebelahnya Jongin tersenyum simpul.
Luhan merasa aneh dengan gaya Jongin dan Kyungsoo, terutama penutup kepala yang menyatu dengan jaket mereka berdua,
"kalian tidak membuka penutup kepala itu?"
Jongin dan Kyungsoo tidak langsung menjawab, mereka saling pandang terlebih dahulu, dan Jonginlah yang menjelaskan.
"sebenarnya kami sejak lama menghindari keramaian, tempat umum. Sejak setahun yang lalu. Hari ini kami nekat saja, dan kami tentu saja tidak ingin dikenali." jelas Jongin, mengecilkan suaranya.
"kenapa?" Luhan tidak mengerti,
"kami tidak bisa menjelaskannya sekarang." Kyungsoo yang menjawab. Dia belum siap menjelaskan kepada Luhan bahwa mereka adalah dua namja pelarian. Terlebih lagi, Jongin masih menaruh curiga bahwa Luhan adalah mata-mata ayah namja itu. Walau dia sendiri yakin bahwa Luhan tidak tahu apa-apa.
"aku paham." Timpal Luhan. Dia tahu bahwa Jongin dan Kyungsoo saling mencintai.
Luhan juga sebenarnya tidak boleh sembarangan muncul ditempat umum, dia sudah dinyatakan meninggal dunia oleh pamannya, dan itu sudah menyebar dikalangan masyarakat tempat tinggal keluarganya. Tapi Luhan tidak menghiraukan itu, dia selama ini jarang keluar rumah, dan kecil kemungkinan akan dikenali oleh masyarakat sekitar rumahnya, ya… kecuali pamannya mungkin.
Jongin memandang wajah Luhan, kemudian mengajukan pertanyaan yang sejak tadi malam mengusik pikirannya.
"apa… apa kau tahu penyebab Sehun marah padaku?" tanya Jongin, dia tentu saja masih mengingat ekspresi datar Sehun tadi malam.
Luhan bungkam, tidak tahu harus menjelaskan apa. namja imut itu memegang gelas kopi mocca yang sejak tadi sudah dipesannya, dia gugup.
"kau pasti tahu sesuatukan? Tolong katakan padaku." Jongin memaksa secara halus,
Luhan menarik nafasnya pelan,
"seharusnya Sehun sendiri yang harus mengatakan ini… tapi…" Luhan menghentikan kalimatnya sejenak,
"katakan saja…tolonglah."
"baiklah, sepertinya ini yang terbaik… sebenarnya Sehun itu adalah…."
"…"
"Sehun adalah adikmu Jongin, adik beda ibu" ungkap Luhan, lalu mendesah.
Deg…
Jongin terkaget, begitu juga dengan Kyungsoo. Fakta yang diungkapkan oleh Luhan benar-benar diluar dugaan.
"adikku?" Jongin bertanya, ingin memperjelas pendengarannya.
"ya, Sehun adikmu. Adik tiri." Jelas Luhan, terus diselingi desahan disetiap kata yang diucapkannya.
"kau tidak bercandakan?"
"aku sama sekali tidak bercanda. Sehun adalah adikmu. Sehun juga baru mengetahuinya tadi malam, tenang saja… dia hanya kaget saja, aku yakin jika kalian bertemu lagi, sikapnya pasti sudah berubah." ujar Luhan,
Jongin terdiam, selama didesa dulu dia dan Sehun sangatlah akrab. Dia sering diajari naik kuda oleh Sehun, bersama-sama mengintip yeoja desa tetangga yang mandi dipancuran, hingga bercanda bersama dan menceritakan hal-hal mesum. Dan ternyata Sehun adalah saudaranya, dia sama sekali tidak bisa merasakan itu.
"dimana Sehun bisa yakin kalau aku saudaranya?" tanya Jongin lagi,
"dari Youngmin, appa kalian. Sehun adalah anak kedua appamu, dari istri yang lain. Sehun diserahkan oleh appamu kepada salah seorang warga desa Jacheon. Appamu tidak menginginkan kehadiran Sehun."
Jongin kembali terdiam, dia tidak menyangka bahwa ayahnya mempunyai istri lain, dan juga mempunyai anak, dan itu adalah Sehun.
Jongin menundukkan wajahnya, nasib Sehun adiknya itu tidak berbeda dengannya. Sehun dibuang oleh Youngmin, karena tidak diinginkan. Dan dia kabur dan pergi dari Youngmin karena hubungannya dengan Kyungsoo tidak mendapatkan restu. Youngmin adalah seorang ayah yang egois. Tidak pantas dipanggil dengan sebutan 'appa' sebenarnya.
"dimana Sehun sekarang?"
"dirumahku." Luhan langsung jujur, tidak ingin menutupi.
"ada hubungan apa kau dengan Sehun, kenapa dia dirumahmu?" Jongin terus melayangkan pertanyaan,
"kami saling mencintai, dan Sehun sekarang sedang membantuku. Membantu masalah yang membelitku." Jelas Luhan, membuka semuanya.
Luhan yakin Jongin dan Kyungsoo bisa menyimpan rahasia. Dia menjelaskan mengenai keluarganya, pembuangannya dihutan, pemerkosaan yang dilakukan oleh Sehun di hutan, kisah cintanya dengan Sehun, dan rencana pembalasan pada pamannya.
"ohh, jadi waktu di hutan itu, Sehun-lah yang memperkosamu?" Kyungsoo memasang ekspresi O_O andalannya. Dia masih mengingat jelas sisa sperma yang menempel dipaha Luhan saat dia dan Jongin menemukan Luhan di hutan dalam keadaan pingsan.
"ya, dia yang melakukannya. Jadi… eh, kalian tahu bahwa aku sudah diperkosa waktu itu?" wajah Luhan langsung merah, dia menunduk.
"tentu saja, kami takut menanyakannya langsung padamu. Siapa tahu saja kau marah." jawab Kyungsoo. Dia melirik Jongin sekilas.
Luhan mendongakkan wajahnya lagi, lalu tersenyum.
"aku juga harus bersyukur, mungkin jika Sehun tidak memasukkan 'punyanya' waktu itu, aku mungkin tidak akan bangun. Waktu itu aku masih pingsan, karena pamanku memukul tengkukku dan membuatku pingsan, dan membuangku begitu saja ditengah hutan" Luhan berujar dengan malu-malu,
"ya, punya Sehun memang besar. Orang mati bisa langsung sadar jika benda…" Kyungsoo menghentikan kalimatnya, karena melihat mata Jongin meliriknya dengan pandangan 'stop, apa punyaku kurang besar, hah…'
Luhan tertawa pelan,
"dan aku berterima kasih pada kalian berdua. Setelah Sehun melakukan itu, aku pingsan lagi. Dan kalianlah yang menemukanku, menolongku. Sedangkan Sehun setelah puas, dia langsung pergi begitu saja."
"tapi kenapa kalian bisa pacaran sekarang?" tanya Kyungsoo, merasa aneh.
"itu ceritanya panjang Kyungsoo-shi. Aku akan menceritakannya lain kali" jawab Luhan,
"baiklah."
Luhan memandang sekilas jam tangannya, dia mendekatkan wajahnya pada Jongin dan Kyungsoo.
"aku sebenarnya ingin meminta bantuan pada kalian…" ucap Luhan, ke topik yang lain.
"bantuan apa?" Kyungsoo dan Jongin bertanya nyaris bersamaan.
"aku… aku ingin kalian bersama-sama Sehun membantuku. Sehun sekarang sudah dirumahku, dan aku ingin kalian juga ikut masuk didalamnya." Jelas Luhan.
Kyungsoo dan Jongin saling pandang lagi, mereka sudah dijelaskan sejak awal bahwa Luhan disingkirkan oleh pamannya yang gila harta, dan Sehun sekarang sedang beraksi dan menyamar di rumah Luhan.
"aku masih belum mengerti." Kyungsoo berkata,
"bisa kau jelaskan lebih rinci" Jongin menambahkan.
"aku ingin kalian masuk dan menjadi bagian keluargaku, dan bersama-sama Sehun disana."
"bagaimana caranya? Kami hanya orang luar."
"aku akan menjelaskannya nanti, setelah mendapatkan kabar dari Sehun. kalian pertimbangkanlah, tapi jika kalian menolak, aku tidak akan memaksa." Sahut Luhan, lalu menyeruput kopi moccanya yang mulai dingin.
Jongin dan Kyungsoo terdiam, mereka saling pandang lagi. Kopi yang sudah dipesankan oleh Luhan belum tersentuh sejak tadi. Jongin dan Kyungsoo mempraktekkan bahasa isyarat dan bahasa tubuh, berbicara tanpa mengeluarkan kata-kata. Mereka berdua sudah biasa melakukan itu.
"ya, kami setuju. Tapi, kediaman keluargamu itu bukan di distrik Nowon kan?" Jongin yang berkata, dan dilanjutkan dengan bertanya. Dia menghindari kawasan sekitar rumah ayahnya, Youngmin, yang terletak di distrik Nowon. Bagaimanapun dia dan Kyungsoo masih pelarian.
"terima kasih… bukan, kediamanku ada di distrik Jongno." Jawab Luhan, lalu tersenyum senang. Jongin dan Kyungsoo bersedia membantunya. Dengan masuknya Jongin dan Kyungsoo dirumahnya, maka Sehun tidak akan sendirian, dengan begitu, misinya untuk mencari bukti kejahatan pamannya dan menjatuhkan pamannya tersebut akan semakin cepat.
"sebaiknya kalian tinggal bersamaku di apartemen, sambil menunggu kabar dari Sehun" kata Luhan, menawarkan tempat tinggal bersama.
Ekspresi Jongin mendadak berubah, dia menggeser kurisnya dan menundukkan wajahnya, dia masih memakai penutup kepala jaketnya,
Luhan memandang Jongin,
"ah, aku akan menyewakan kamar khusus untuk kalian berdua diapartemen, bersebelahan dengan kamarku. Kita tidak akan sekamar, aku menghargai privasi kalian…" kata Luhan cepat-cepat,
"bukan begitu… hanya saja… aku baru saja melihat appaku, dia disana." gumam Jongin, namja berkulit seksi itu memang baru saja melihat Youngmin melintas bersama seseorang, yang sama tuanya.
"benarkah? dimana?" Kyungsoo mendadak panik, dia juga menundukkan wajahnya, merapatkan penutup kepalanya, namja kecil itu menegang.
Luhan mengarahkan pandangannya kesegala arah, menyapu ruangan tersebut, matanya menangkap sosok yang pernah dilihatnya sekali, ayah Jongin dan Sehun. dia memang Youngmin.
"oh, bukankah itu… sial, ayo kita pergi…" Luhan mengeluarkan uang dari ranselnya, menaruh cepat uang itu di meja, dan menarik tangan Kyungsoo dan juga Jongin, meninggalkan café itu. Tidak lupa Luhan memakai kaca mata hitam tebalnya, agar sulit dikenali.
Luhan, Kyungsoo dan Jongin berjalan cepat, 3 namja itu berjalan menunduk, melewati orang-orang yang berpapasan dengannya, pergi sejauh mungkin dari café itu.
.
.
"kau mengenal appaku? Kau pernah bertemu?" tanya Jongin, saat mereka bertiga sudah berada disamping jalan raya.
"aku baru sekali melihatnya, dan aku betul-betul tidak menyangka..."
"menyangka apa?"
"appamu berjalan bersama pamanku." jawab Luhan, menampilkan ekspresi cemas. Selain Youngmin tadi, dia juga sangat mengenali sosok tua jelek yang berjalan disamping Youngmin, sambil tertawa. Dan itu adalah Seungsung.
"merek saling kenal kalau begitu?" tanya Kyungsoo,
"entahlah. Tapi fakta itu sepertinya mempersulit Sehun… aku berharap Sehun baik-baik saja disana. Aku takut dia ketahuan oleh appanya sendiri."
"lalu bagaimana dengan kami. Appa Sehun adalah appa Jongin juga. Bagaimana aku dan Jongin bisa masuk kesana, jika ternyata pamanmu berteman dengan appa Jongin dan Sehun. masalahnya jadi rumit sekarang…" hela Kyungsoo, lalu memandang Luhan dan Jongin bergantian.
"sepertinya begitu, kalian masuk kesana sama saja dengan membahayakan kalian juga. Maafkan aku… rencana kita sebaiknya dibatalkan saja." desah Luhan, dia menunduk, mempermainkan kerikil kecil dibawah sepatunya.
"tidak, rencana ini tetap akan dilanjutkan…" Jongin berseru.
Luhan dan Kyungsoo kaget,
"Jongin-ah."
"aku ingin bertemu dengan Sehun, adikku. Aku akan berusaha masuk kerumahmu, mungkin hanya sendiri… sebaiknya Kyungsoo tidak…"
"tidak, aku ikut. Aku tidak mungkin berpisah denganmu. Aku ikut, kita sudah berjanji akan selalu bersama-sama." potong Kyungsoo cepat,
"tapi…"
"aku ikut."
"baiklah."
Luhan yang melihat kebersamaan dan cinta kasih antara Kyungsoo dan Jongin, mendadak langsung teringat dengan Sehun-nya. Dia juga sebenarnya tidak ingin berpisah dengan Sehun, walau hanya seminggu. Tapi tidak mungkin dia memunculkan diri dulu dirumahnya, jadi untuk sementara dia harus rela berpisah dengan namja tampan tersayangnya itu.
"kita ke apartemenku dulu, disana kita akan membicarakan rencana selanjutnya, sambil menunggu kabar dari Sehun." ajak Luhan,
"baiklah." Jongin dan Kyungsoo berujar bersamaan, setuju.
Tiga namja itu kembali melangkah, ingin menuju halte terdekat, namun langkah mereka dihentikan oleh sebuah seruan yang memanggil dari arah belakang,
"hei… kalian… tunggu…"
Deg
.
.
.
.
.
.
.
CONTINUED
O…O…O…O…O…O…O
Chapter 11 update. Maaf, chap ini mungkin jelek, banyak bahasa lebay, kurang greget dan belum masuk konflik utama, takut aja alurnya kecepetan lagi, hehehe… terima kasih untuk yang selalu memberikan semangat, sebenarnya yang kemarin itu ada beberapa reader yang terganggu dengan notifikasi FF-ku ini di-emailnya. Dia pernah mem-follow akunku, dan FF ini yang selalu update dua hari sekali membuat inboxnya penuh. Dia tidak tertarik dengan main castnya (HunHan), karena dia seorang Chanbaek shipper (mian kalo aku bilang disini). Aku memang pernah membuat FF main cast ChanBaek dan juga selalu update cepat seperti FF ini (karena selama ini aku memang buat FF dengan 3 main cast utama, yaitu : KaiSoo, ChanBaek dan HunHan… itu OTP terfavoritku di EXO, dan pairing lain juga aku suka koq). jadi dia merasa terganggu dengan notifikasi FF-ku ini yang membuat inbox emailnya penuh. Dan mengataiku Author Lebay dan Belagu. Sampai nge-PM beberapa kali untuk menghentikan FF ini, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. aku hanya berusaha update cepat dan Menghargai Review pembaca yang masuk, yang menghendaki FF ini terus lanjut, hanya itu. Jadi jika ada pihak yang terganggu dengan FF-ku, aku minta maaf…
Sekali lagi terima kasih atas atensi dan Reviewnya selama ini, tidak lama lagi FF ini tamat kok, hehehehe… mungkin tinggal 3 atau 4 chapter lagi. Sampai jumpa lagi dichapter 12.
Salam XOXO.
By : Han Kang Woo.
