SHINNEN OMEDETOU GOZAIMAAAAAAAAAASU!
Psiuuuu…CTAR!
Met taun baru ya!
Maaf menunggu lama, saya ada simulasi UN dari tgl. 27 sampai 31 kemarin. Huwah…
Terima kasih ya: Uchiha Sakura97, Raiha Laf Qyaza, Chancha-Flower, Iin cka you-nii, 00 Ayuzawa. 00, Mayou Fietry, mozzarella cheese, Devilish 'Yuuri' aka Fio-chan, Ai –Maharanyy- diaMond97, yuki kawamuri sudah kubalas lewat PM!
Juga:
DarkAngelYouichi: yap yap! Aku juga pengen punya adek kaya Kiseki! Hehe. Iya, makasih banyak ya!
Chopiezu: love grows, love knows, bigger than before… hehehe. Kuyi-nya 'kan kamu! Iya, caco emang begitu, hihihihihi. Ini rahasia yaa… thanks for review!
ShiroNeko: wahwah…kasian Hana lemes hehehe. Terima kasih!
Sweetiramisu: hahaha, tenang, akan kubuatkan lagi HiruKiseki! Sankyuu!
CieCieYeaDinoHiba: terima kasih banyak! xDD
Demonicola: adegan di area black magic akan ada nanti. Tapi berantemnya masih dua chap lagi, yaa… terima kasih banyak!
Just reader 'Monta: gapapa, makasih yaa… begitulah. Dia bisa kok kalo Cuma ngomong singkat, hihi. Thanks for your support!
Azher rakk0on: hai! Makasih reviewnya ya! Gapapa, santai aja. Masato biasa aja kok, hehehe. ^^ Akan kuusahakan…chap ini santai dulu ya..nyehe
ToscaTurqoise: yah, Hana sudah baikan. Iya, makasih reviewnya! ;D
Yosh! Happy reading!
The Second Sequel of Flowers
Grow Up! Flowers
Chapter 11: One Day for Us
Written by: undine-yaha
Story by: undine-yaha and chopiezu
Disclaimer: Inagaki Riichiro and Murata Yuusuke
Disclaimer for Aikuza Hana: Demonicola
"YA~! Bagus! Adegan yang bagus! Sena! Mana kameranya?" terdengar reaksi heboh Suzuna dari balik pintu.
"Yayayayayaya~!" tiru Kiseki.
"Suzuna-chan! Stop it!" tegurku sambil tersipu. Padahal, aku juga suka memperlakukan Mamori seperti itu.
"Idiiih! Ao-chaaan! Mukanya meraaah!" ledeknya puas sambil cekikikan.
Masato mengacak rambutku lalu kembali ke tempat duduknya.
"Kapan kau datang?" tanyaku.
"Semalam. Kau tidur nyenyak sekali, jadi aku tidak mau membangunkanmu," jawabnya.
Wait. Berarti ia menemukan lelaki-lelaki itu menginap di ruang tengah? Bukan berita bagus, sepertinya…
"Mereka bercerita soal giliran jaga itu," kata Masato, "syukurlah, kau punya teman-teman yang baik. Mereka menjagamu ketika aku tak bisa melakukannya."
"Iya…," jawabku sambil nyengir garing. Nada bicara Masato bukan nada yang menyenangkan, asal kau tahu.
"Siapa saja yang sudah membantumu kemarin?" tanyanya. INTEROGASI DIMULAI.
"Hari pertama… Jumonji, Kuroki, dan Toganou…," jawabku takut-takut, "yang selalu bertiga itu, kau tahu 'kan?"
Masato berpikir sejenak, "Oh. Iya. Yang suka ngomong 'hah' gantian itu, 'kan?"
"Iya…," aku mengangguk. Pertanyaan akan berlanjut.
"Ngapain aja mereka waktu itu?" pertanyaan berikut. Sumpah deh, rasanya kesal sekali kalau Masato sedang bertanya dengan tatapan tajam seperti sekarang ini. Tapi aku harus sabar… sabar… emosi jangan dilawan dengan emosi.
"Mm… mereka datang pagi hari sebelum berangkat mengerjakan urusan masing-masing… jadi… aku buatkan mereka roti panggang untuk sarapan…," jawabku perlahan tapi pasti, "sorenya mereka kembali untuk membantu menjaga toko dan Kiseki…. Sudah, itu saja kok…." Memakaikan dasi untuk Jumonji: SENSOR.
"Lalu, siapa yang jaga hari berikutnya?" pertanyaan kedua.
"Kak Mamori," jawabku, "Kak Hiruma dan Sena hanya datang untuk mengantar-jemput Kak Mamori dan Suzuna…"
"Mmm," Masato mengiyakan, "lalu kemarin, giliran si setan freak itu ya?"
Hiyaaa… Masato bisa dibunuh kalau Hiruma sampai dengar panggilannya ini. Tapi sejauh ini dia selamat kok.
"Iya," jawabku, "tapi dia datang dengan Kak Mamori kok. Kemarin ramai-ramai mereka membantuku karena aku sakit…"
"Begitu…," Masato mengangguk-angguk. Semoga setelah ini interogasinya selesai… Err, kalian tahu 'kan kenapa Masato melakukan ini? Ia ingin tahu semua yang kulakukan ketika kami tidak ada di tempat yang sama—apalagi karena di sini temanku kebanyakan laki-laki. Awalnya aku merasa risih, seperti diawasi dan dibatasi. Tapi lama-kelamaan aku tahu ini hanya bentuk kekhawatiran dan perhatiannya padaku. Dia ingin memastikan aku baik-baik dan tidak berbuat macam-macam.
Sekarang aku berharap dia nggak bertanya kalau Musashi pernah menyusulku ke rumah setelah reuni…
"Katanya sempat ada reuni ya?" Masato bertanya, "si freak mengusirmu pergi, lalu Kak Musashi menyusulmu ke rumah malam-malam?"
Aku tersenyum garing pada diriku sendiri. Haaa, sialnya akuuu…
"Iya," jawabku, "waktu itu dia mewakili teman-teman untuk minta maaf dan mengecek apa aku baik-baik saja… Kami hanya ngobrol sebentar, setelah itu dia pulang. Nggak ngapa-ngapain lagi kok…," aku berusaha meyakinkan.
Masato mengangkat alis. Sekarang wajahnya nyebelin banget. Aku ingin memukulnya—ralat, mencubitnya.
"Benar, dia datang karena disuruh teman-temannya?" tanyanya ragu. Aku melirik ke pintu. Suzuna mengintip sambil berkata tanpa suara, "Ganbatte! Ganbatte!"
Belum sempat aku mengiyakan, Masato lanjut berkata, "Jangan-jangan dia datang atas kemauannya sendiri. Kayaknya dia suka padamu."
WHAT?
"Beneran, dia datang mewakili teman-teman, kok…," jawabku dengan nada manis, "Kak Musashi orangnya baik. Menurutku dia lebih tertarik sama kayu dibanding denganku."
"Mm… ya sudah. Aku juga mengobrol dengan dia semalam," ujar Masato (aku lega), "ia sangat bijak."
Aku tersenyum, "Begitulah."
Tak ada tanda-tanda Masato akan menyinggung hal ini lagi. Wajahnya sudah berubah ramah, tenang seperti semula.
Padahal dulu dia agak sulit mengontrol emosinya.
"Maaf ya aku bertanya seperti tadi," ujarnya lembut, "aku tahu caraku ini salah. Maaf ya."
Aku jadi merasa sungkan. "Nggak apa, sudah sepantasnya kok kamu bertanya," jawabku sambil tersenyum.
Rupanya… dia sudah tumbuh dewasa. Ya iyalah! Mikir apa aku ini.
"Masato-kun, Hana-chan," Mamori menggeser Suzuna yang menonton lewat pintu, "nanti teruskan lagi mengobrolnya, sekarang ayo sarapan dulu! Aku sudah buatkan onigiri!"
"Ah… iya Kak!" sahutku.
"Khusus Hana-chan, sudah kubuatkan bubur!" lanjut Mamori riang.
"Baiklaaah," kataku sambil turun dari tempat tidur.
-GrowUp!-
Hari ini rupanya ada latihan timnas Jepang di Tokyo Dome. Mamori dan Suzuna membuatkan onigiri untuk sarapan kami semua sebelum berangkat ke sana. Semua, kecuali Musashi, Kuroki, Toganou, dan Yukimitsu.
"Hei Masato, nanti kau mau tinggal di mana?" tanya Monta. Aku baru keluar dari kamar mandi, membantu Mamori dan Suzuna memandikan Kiseki.
"Ah… iya juga," Masato menelan onigirinya, "aku ke sini tanpa persiapan tempat tinggal."
"Terus? Kau 'kan tidak mungkin tinggal di sini…," kata Monta. Ia melihat Kiseki yang terlihat lucu sekali dengan handuk pink, sedang dibawa ke kamar oleh Suzuna.
"Heei! Kau lucu sekali, Chibi!" sapa Monta.
"Yeey! Momoo!" Kiseki balas menyapa, lalu menghilang ke dalam kamar.
Momo? Minky Momo? Hahahahah.
"Apa sewa apartemen saja, ya?" Masato mengambil gelas untuk minum, "tapi 'kan mahal…"
"Hei, yang kauambil itu gelasku," celetuk Toganou.
Monta berpikir sejenak, lalu sebuah lampu bohlam muncul di atas kepalanya.
"Aku punya ide!" ujarnya semangat.
"Ide apa, Monta?" tanyaku, mengambil pil antibiotik. Masato mengambilkan air untukku—dengan gelas yang lain, bukan punya Toganou.
"Aku merasakan kebijaksanaan seekor monyet," desis Kuroki.
"Bagaimana kalau kau tinggal di tempatku?" saran Monta sambil menepuk bahu Masato, "aku tinggal di kondominium yang cukup bagus. Tempatku bersebelahan dengan tempat orang tuaku."
Masato tersenyum, "Nanti merepotkan…"
"Aah, tidak, tidak," Monta menggoyangkan telunjuknya, "sudahlah, jangan sungkan. Kita 'kan temaan…"
Masato menoleh ke arahku. Aku mengiyakan.
"Baiklah," jawab Masato, "terima kasih, Raimon."
"Panggil Monta saja," kata Monta sambil nyengir.
"Apa sebaiknya kalian tidak menghubungi Pimpinan kalian itu?" Musashi tiba-tiba masuk dalam pembicaraan.
"Yah… aku juga ingin melakukannya," jawab Masato, "tapi kami tidak terburu-buru. Sekarang yang penting aku sudah datang dan bisa mengawasi Putri Mahkota. Kalau Hana sudah sehat betul, aku akan menghubungi Pimpinan."
Aku tersenyum.
…
Putri Mahkota?
"Putri Mahkota?" aku mengungkapkan pertanyaan yang terlintas di pikiranku.
"Lho? Masato lupa cerita padamu?" Monta terkejut.
Aku menggeleng, "Belum!"
"Ah, aku lupa," kata Masato.
"Ini lho, Putri Mahkota Kerajaan white magic…"
Mamori datang sambil menggendong Kiseki yang memakai gaun putih dengan pita emas.
Aku tercengang.
"Kiseki? J-jadi?" aku menoleh pada Masato.
"Kiseki adalah anak dari Pimpinan dengan suami rahasianya," jawab Masato, "ya, bayi itu adalah seorang putri."
"Ya-ha!" sahut Kiseki, lalu diiringi kekehan Hiruma.
"Astaga…," ucapku. Sekarang semua pertanyaan yang selalu kusimpan di benakku terjawab sudah.
"Jadi, karena Kiseki adalah Putri Mahkota white magic makanya para penyihir jahat itu mengincarnya," kataku, "mereka pasti mau membalas dendam. Karena tidak mungkin membunuh Pimpinan yang jelas-jelas lebih kuat, jadi mereka mengincar anaknya."
"Iya, tepat sekali seperti yang diceritakan Niwappe," kata Suzuna, mengelus Kiseki, "kasihan Ao-chibi."
Tiba-tiba aku tertarik membicarakan suami Pimpinan. "Eh eh, suami Pimpinan seperti apa?" tanyaku pada Masato.
"Rambutnya pirang dan matanya biru, sama seperti Pimpinan. Orangnya asyik kok!" jawab Masato.
"Ah… jelas saja Kiseki mengira Kak Hiruma dan Kak Mamori adalah orang tuanya! Kak Hiruma punya rambut pirang, dan Kak Mamori punya mata biru!" jelasku.
"Ammah!" Kiseki memeluk Mamori dengan senang.
"Kiseki-chan… kau ini…," Mamori tersenyum sayang.
"Berarti, Chibi punya nama?" celetuk Kuroki, "kira-kira siapa nama aslinya?"
"Entahlah," Masato menggeleng, "karena terlalu sibuk memikirkan hal yang lebih penting, aku tak terpikir untuk menanyakan nama asli Kiseki."
"Kalau begitu kita panggil Kiseki saja seperti biasa," kata Sena sambil tersenyum.
"Mulai sekarang… semuanya akan jadi lebih sulit," Masato berkata dengan raut wajah yang sedih, "para penyihir jahat itu akan semakin gencar menyerang jika mengetahui gerbang dimensi sudah mulai bisa digunakan."
Aku lalu meminta penjelasan bagaimana Masato bisa datang ke sini. Ia menjelaskan tentang alat sementara yang memindahkannya kemari.
"Jadi, Kiseki-chan tidak bisa langsung dipulangkan, ya…," aku berkomentar. Masato mengangguk. Ia lalu menceritakan soal kalung Kiseki.
Uwah, banyak sekali hal mengejutkan hari ini.
"Kalung itu akan dapat banyak cinta," kata Suzuna yang kini berdiri di sampingku, "kita 'kan saling menyayangi satu sama laaiiin…"
"Of cooooourse," kami berangkulan.
"Yeah, aku akan berusaha menjaga Putri selama masih ada di sini," kata Masato, memandangi benda berbentuk seperti jam di pergelangan tangannya.
"HEART WEAPON?" aku memekik.
"Hehehehe, iya," Masato mengangguk, "ketika aku berangkat, Ratu menyihirkan ini untukku."
"Keren, MAX!" sahut Monta, "kau punya kekuatan seperti apa?"
Masato terlihat ragu, "Aku nggak punya bayangan apapun," jawabnya, "biar saja menjadi kejutan ketika aku mengaktifkannya nanti."
"Tidak perlu tahu sekarang…," kataku pada Masato. Ia mengiyakan.
"Sekarang lebih baik kalian pulang ke rumah sialan kalian masing-masing," ujar Hiruma tegas, bersiap pergi, "setelah itu berkumpul di Tokyo Dome pukul sembilan. Awas kalau telat."
"Baik!" jawab semua atlet kompak.
"Kiseki-chan, nanti kita ketemu lagi ya," kata Mamori sambil menyerahkan Kiseki padaku.
"Ao-chan dan Niwappe ikut saja!" ajak Suzuna, "boleh 'kan? Nanti kita bawa Ao-chibi juga! Pasti asyik!"
"Benar juga, Suzuna-chan!" Mamori berbinar, "Hana-chan, sekarang siap-siaplah, persiapkan perlengkapan Kiseki-chan juga. Nanti kau akan kujemput," kata Mamori. Ia lalu memeriksa badanku, "Sudah tidak demam. Kau kuat?"
Aku mengangguk. Badanku sudah mulai sehat, kalau cuma ke Tokyo Dome melihat latihan sih, pasti sanggup.
"Baiklah, aku tunggu Kak," kataku sambil tersenyum.
"Eeh, biar aku saja yang menjemput," potong Suzuna, "Mamo-nee sama Yo-nii pasti bakal sibuk."
Mamori mengerjapkan mata, "Nggak kok…"
"Fufufufufu, sudahlah…," Suzuna tertawa jahil.
Akhirnya Suzuna dan Senalah yang akan menjemputku. Masato akan berangkat bersama Monta. Sekarang ia ikut Monta untuk mandi dan bersiap-siap.
"Hati-hati di rumah, Hana!" kata Masato sebelum pergi.
"Tentu. Kita ketemu di sana, ya!" jawabku sambil melambaikan tangan.
"Dadaaaah! Cacooo! Momooo!" Kiseki ikutan.
Aku menghela nafas senang. Tokyo Dome. Sudah lama aku ingin ke sana, melihat para All-Star.
"Hei Kiseki-chan," panggilku sambil masuk ke dalam rumah, "kau sudah terlihat cantik! Siap ketemu para atlet keren!"
"Bum?" Kiseki sepertinya tidak mengerti. Aku tertawa.
Sekarang… bagaimana caranya menjaga Kiseki kalau aku ada di dalam kamar mandi?
…
Aha.
Akan kusihir gelembung kekkai, menaruh Kiseki di dalamnya, jadi ia tak akan basah di kamar mandi.
Yosh, bersiap ke Tokyo Dome!
-GrowUp!-
Tokyo Dome
All-Star weekly practice
Suara riuh terdengar dari pintu masuk Tokyo Dome. Aku datang dengan trench coat cokelat yang hangat, berjalan di samping Suzuna yang memakai seragam cheer-nya. Kiseki terlihat asyik-asyik saja dengan kain gendongan ini. Sena berjalan bersama-ehm-calon kakak iparnya yang-ehm-berputar dengan gembira.
Taki sudah kembali dari Hollywood dan masuk ke timnas. Cerita selesai.*?*
"YA~! Ohayou, minna!" sapa Suzuna riang, suaranya menggema ke seluruh lapangan.
Beberapa menyapa balik, Mizumachilah yang paling heboh. Aku melihat mereka semua dengan berbinar-binar.
Para linemen: Ootawara, Kurita, Jumonji, Banba, Yamabushi. Mereka berkumpul di tengah bersama roster-roster yang siap diterjang. Mizumachi, setelah selesai menyapa balik dengan aksi lepas baju, kembali ke rosternya dan ditegur oleh Kakei. Uwaaah… Kakei wajahnya sampai merah begitu!
"Hei, Suzuna-chan," panggilku, "Kakei itu bukannya kuliah di Amerika ya?"
"YA! Dia sudah kembali," kata Suzuna, "kau tahu wanita cantik di sebelahnya itu?"
Suzuna menunjuk orang yang dimaksud, terlihat mencolok dengan outfit keren… mmm… coat Burberry.
"Shibuya Maki, dulu manajer Kyoshin Poseidon 'kan?" terkaku.
Suzuna mengangguk-angguk. "Bahkan tim yang belum pernah kautemui seperti Teikoku dan Hakushuu, kau tahu namanya ya?"
"Agen rahasia," jawabku cepat sambil mengedip.
"Cia cia," tiru Kiseki.
Aku mengikuti Suzuna ke bench. Mamori sudah ada di sana, masih sibuk dengan Hiruma, mengamati kertas-kertas—pasti tentang latihan hari ini. Akaba memainkan intro dari lagu Butterfly-nya Koji Wada, cuek dengan Taki yang mengajaknya latihan sebagai sesama tight end. Aku heran dia rela bawa-bawa amplifier itu ke sini.
"Ohayouuu!" Suzuna menyapa barisan pemandu sorak yang ada di dekat kami, terlihat cantik dan segar sekali.
"Ah, Hana-chan, Kiseki-chan," sapa Mamori dengan senyum pada kami, "duduk dan santai saja ya."
"Yosh," sahutku.
Mamori kembali berkonsentrasi dengan kaptennya. Sesekali mereka beradu argumen.
Para runningback, linebacker, dan quarterback melintas di depanku, berlari dengan semangat. Shin ada di depan, diikuti Sena, Riku, dan…
Aih, laki-laki berambut agak ikal yang tampan ini pasti Yamato Takeru.
Di belakangnya ada Agon yang lari sambil Twitter-an (terlihat dari layar ponselnya), lalu Marco.
"Naah, ini mantan asisten Mamo-nee di Deimon dulu," Suzuna menghampiriku, menggandeng dua wanita—satu berwajah manis dengan rambut dikuncir kuda dan satunya dikepang ke samping.
"Ko-chan, Ka-chan, kenalkan, ini Ao-chan!" ujar Suzuna, mengacaukan nama kami bertiga: Wakana Koharu, Koizumi Karin, dan Aoihoshi Hana.
"Aoihoshi Hana desu. Yoroshiku onegaishimasu," ujarku sambil menunduk.
"Salam kenal," balas Wakana dan Karin yang sama-sama pemalu itu.
"Kami adalah geng calon istri runningback timnaaas!" seru Suzuna, berpose dengan pom-pom.
Aku sontak tertawa melihat wajah merah Wakana dan Karin.
"S-Suzuna-san, jangan bilang begitu," kata Karin malu berat. She's georgeous. Dia dan Yamato benar-benar seperti pangeran dan putri dari negeri dongeng.
"Kalau yang di sana itu Kak Himuro ya?" aku bertanya pada Suzuna, menunjuk wanita berambut pendek yang berdiri agak jauh dari kami.
Suzuna mengangguk, "Iya. Orangnya dingin, tapi dia baik kok. Hehe."
Aku melihatnya sambil tersenyum. Rupanya ia menyadari kalau sedang diperhatikan. Ia hanya tersenyum simpul pada kami.
Pasti dia menemani Marco ke sini.
"Oooi! Tungguin MAX!"
Monta melesat dari pintu masuk, melepas jaketnya dan berlari menghampiri para receiver: si rambut perak—Taka, Ikkyu, dan Sakuraba. Masato cengengesan menghampiriku.
"Semangat banget ya dia," ujarnya. Aku tertawa.
"Oke… baiklah. Baiklah," Mamori mengangguk menyetujui instruksi dari Hiruma. "Hana-chan, Masato-kun!"
"Iya, Kak?" sahutku.
"Sini sini, aku akan memperkenalkan kalian pada semuanya," kata Mamori.
"Ah, nggak usah," aku dan Masato menjawab kompak. Sungkan ah…
"Eeh, tidak boleh begitu," kata Mamori. Hiruma meniup peluit, semua pemain berkumpul. Aku baru sadar ada Kotaro dan Julie. Mungkin mereka tadi latihan agak jauh dari sini.
Hiruma baru akan berpidato pada rekan-rekannya itu, tapi Mamori memotong dengan cepat.
"Minasan! Aku ingin memperkenalkan beberapa orang pada kalian!" ujar Mamori semangat. Aku dan Masato senyam-senyum di sampingnya.
"Ck! Buruan manajer sialan!" protes Hiruma, tapi ternyata mengizinkan juga.
Kakei, Mizumachi, Kotarou, Akaba, dan Julie kelihatannya mengenaliku.
"Ah, yang punya toko bunga itu 'kan?" seru Julie. Aku mengangguk dan tersenyum.
"Mungkin beberapa dari kalian mengenalinya," kata Mamori, "yang perempuan ini namanya Aoihoshi Hana, dia sempat menjadi asisten manajer Deimon dulu," ujarnya.
"Anak baru sialan," desis Hiruma.
"Yoroshiku," ujarku.
"Laki-laki yang disebelahnya adalah Niwa Masato, pacarnya," kata Mamori. Masato membungkuk.
"Bayi yang lucu itu…?" Yamato bertanya.
"Itu anaknya Mamo-nee dan Yo-niii!" Suzuna lagi-lagi muncul dengan tiba-tiba dan berseru lantang.
"Nggak mungkin!" jerit Ikkyu.
"Waah…," lainnya bereaksi.
"B-bukan!" bantah Mamori.
Hiruma mendekat ke punggung Mamori dan berbisik ke telinganya, "Memangnya kenapa kalau dia anak sialan kita, manajer sialan?"
Setelah itu wajah Mamori berubah merah.
Aku tidak begitu dengar sih apa yang dibisikkan Hiruma, tapi sebagai agen terlatih, 90% perkiraanku tentang apa yang dikatakannya itu benar kok, hehehehe.
"Dia manis sekali," Julie mendekat padaku, "halo, Chibi! Kita ketemu lagi!"
"Ayay~," jawab Kiseki sambil menggapai-gapaikan tangannya senang.
"Wah, kalau bersuara tambah imuuut," Julie mencubiti pipinya. Pipi Kiseki, bukan pipi Julie apalagi pipiku.
"Namanya siapa ya?" tanya Karin. Ia dan Wakana yang penasaran mendekat.
"Aoihoshi Kiseki," jawabku bangga.
"Namanya indah… adikmu ya?" tanya Wakana. Aku mengangguk.
"Karin-chan, dia cantik ya," Yamato menghampiri dan tersenyum pada Kiseki. Kalau Kiseki bukan bayi, dia pasti sudah jatuh cinta.
"Hai Nona, namaku Yamato Takeru," Yamato memperkenalkan diri dengan sopan seperti pada wanita dewasa. Karin menepuk punggungnya pelan dan tertawa kecil. Kiseki ikut tertawa.
"Fuu, iramanya riang ya. Seperti lagu beat yang ceria," ujar Akaba. Aku dan Masato saling memandang dan mengernyitkan alis. Para pemain lain juga mulai mengerubungi Kiseki. Aku terus berharap supaya Kiseki tidak terbang tiba-tiba.
"Boleh aku menggendongnya?" pinta Yamato.
Kyaaaa, dengan senang hatiiiiii!
"Oh, iya," jawabku, melepas kain motif domba itu dan memberikan Kiseki.
"Ao-chibi asyik ya, digemari banyak pria," Suzuna berbisik pelaaan sekali padaku. Aku terkikik.
"Aku ingin punya bayi kecil yang cantik sepertimu," kata Yamato dengan nada absolut.
"Dia juga sepertinya mudah akrab dengan siapapun," Taka berkomentar tenang di sebelah sahabatnya itu.
"Pasti bisa kalau istriku secantik kau," kata Yamato sambil mengedip pada Karin. Karin sepertinya mau pingsan.
Setelah itu beberapa orang lain mencoba menggendong Kiseki.
"Ngha, kalungnya menyala!" seru Mizumachi. Ups.
"Kok bisa?" tanya Riku.
"Err… itu ada baterainya, hehe," jawabku seadanya. Untung saja Riku bilang: oh.
Suasana menyenangkan sekali, meskipun tak lama that Commander of Hell mengamuk dan semua orang kembali pada latihannya.
-GrowUp!-
Monta's Fruit Store
"Kiseki-chan! Ini ringo (apel)!" kataku pada Kiseki, menunjukkan buah favoritku yang berwarna merah itu.
"Ingo," kata Kiseki. Kuberikan apel itu padanya untuk mainan.
Kami semua berkunjung ke toko buah-buahan milik Monta yang masih satu area dengan toko bungaku. Kalian tidak perlu bertanya apa produk unggulan di sini.
…
Pisang. Ya, benar!
"Kalau kalian ingin belanja, bilang saja padaku!" kata Monta riang, "nanti akan kuberi potongan harga!"
Mamori berbinar, "Wah, Monta-kun baik sekali!"
"Ahahahahaha, biasa saja Mamori-san~," Monta merendah dengan wajah sombong.
"Kalau begitu aku mau beli jeruk ini," kata Mamori, mengambil bungkus plastik yang ada di dekatnya.
"Gimana rasanya buka usaha, Monta?" tanya Masato. Hiruma sedang menjahili Monta dengan melemparinya srikaya—yang langsung ditangkap dengan akurat.
"A-ah, itu—" Monta menangkap srikaya terakhir, "awalnya susah sekali. Tapi kalau tekun dan sabar ya nanti akan terbiasa mengatasi masalah yang muncul…"
"Begitu ya…," sahut Masato. Ia lalu menghampiriku yang sedang bersama Suzuna, mengenalkan buah-buahan pada Kiseki. "Nanti kalau sudah kembali, aku mau buka usaha juga ah!"
"Apa?" tanyaku.
"Apa ya…? Restoran? Gampang deh," jawabnya santai.
Mm, iya juga ya. Kami semua sudah dewasa, harus bisa mencari penghidupan masing-masing. Menjalankan pekerjaan yang kita pilih, mengubah pribadi menjadi lebih matang dan positif.
"Cuju, cuju!" panggil Kiseki, meminta stroberi yang dipegang Suzuna.
Kiseki juga… akan terus bertumbuh.
Saat itu, aku akan memberitahunya, keluarga besar yang pernah merawatnya di sini.
-GrowUp!-
Normal POV
Markas black magic
Nero, Viola, dan Hana berkumpul di ruang makan, memakan sup buatan Viola yang tidak seberapa pandai memasak.
"Baiklah, aku ingin membicarakan sesuatu," kata Nero serius. Lengannya tak lagi tertutup perban, tapi bekas-bekas luka masih terlihat.
"Ya, cepatlah," sahut Hana dingin, "aku tidak tahan dengan sup hambar ini."
"Uuugh!" geram Viola, "dasar anak nakal! Kalau tidak suka tidak usah dimakan!"
Ekspresi Hana tetap datar, "Aku terpaksa memakannya. Aku tidak mau mati kelaparan."
"Anak menye—"
"Ssst, hentikan ah," Nero melerai. Pusing dengan pertengkaran dua perempuan itu.
"Kau sendiri, apa supku tidak enak?" tanya Viola tepat sasaran.
Nero tersedak. Mau bagaimanapun juga rasanya memang kurang bumbu alias hambar.
"Ehm, ehm, maaf," ia meminum air putihnya, "supmu… lumayan kok. Namanya juga masih belajar, sudahlah, suatu saat supmu akanjadi sup paling enak se-negeri sihir…"
Viola tersenyum senang dengan gombalan Nero, lalu berhenti rebut dengan Hana.
"Oke, kembali ke topik," ujar Nero, "kumpulkan tentara kita yang masih tersisa. Penyerangan akan kita lakukan… lusa."
Hana melengos, "Akhirnya. Udah lumutan gue nungguinnya."
"Kau yakin mau bertarung di dunia manusia?" tanya Viola.
"Ya," jawab Nero mantap, "teman-temannya Agen no.8 itu juga kebanyakan manusia. Sekalian saja kita hancurkan semuanya."
"Aku sudah tidak sabar lagi untuk mengadu kekuatan dengan Hiruma Youichi itu…," desis Hana horor.
"Baiklah. Sudah kuputuskan, aku akan menantang penyihir sialan itu," ujar Viola.
Nero terdiam sesaat.
"Hei, hei, bukannya kita mau membunuh bayi itu? Kenapa kalian jadi semangat bertarung?" tanyanya bingung.
"Sudahlah, sekalian saja 'kan?" jawab Viola santai, "kenapa? Kau takut Agen no.8 itu terbunuh? Kau suka padanya ya?"
Nero mengernyit, "Sudah kubilang padamu aku tidak punya perasaan apapun padanya!"
"Kalau begitu tidak usah protes! Terserah 'kan kalau aku mau memilih dia sebagai lawan!" sentak Viola emosi.
Hana menyeruput tehnya tenang, "Jangan marah-marah, nanti kau cepat tua."
"Ya sudah, kalian bebas melakukan apapun. Tapi…," air muka Nero berubah, "satu hal yang perlu kalian ingat…"
Viola berkedip, "Apa?"
"Kumohon, jangan sampai mati," ujar Nero muram, "kita bertempur sekuat tenaga untuk menghancurkan mereka semua, tapi kalau memang kita sudah tak sanggup, jangan biarkan nyawa kita melayang…"
"Kalau ingin bertempur demi Pimpinan, kita harus rela mati," sanggah Hana.
"Tapi kalau usaha itu gagal, kurasa tidak usah dipaksakan. Aku tahu ini demi Pimpinan, tapi…," Nero terlihat bimbang.
Hana dan Viola berpandangan. Apa Nero bukan penyihir jahat lagi?
"Akh, sudahlah," Nero menggelengkan kepalanya, menaruh sendoknya di mangkuk yang sudah kosong dan beranjak pergi, "aku juga tidak mengerti. Aku hanya ingin kita tetap bersama seperti ini."
"Hah?" Viola merasa dirinya salah dengar.
"Kalian berdua…," Nero melangkah ke pintu, hanya memperlihatkan punggungnya yang berjubah hitam, "sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri."
Hana membeku menatap mangkuknya yang masih terisi sup setengahnya. Viola termenung, tanpa sadar dirinya berucap,
"Bukankah kita bertiga… dibesarkan bersama-sama?"
[bersambung…]
-POJOK KENANGAN HANA-
"Mengubah gaya rambut dapat membuatmu benar-benar terlihat berbeda!"
Sena dan Mamori menoleh ke arah suara.
"Yo!" Ishimaru yang rambutnya sudah berubah itu memakai kaus putih bergaris-garis samar, jaket hitam garis-garis, jeans dan sneakers kesayangannya.
"Huh? Ishimaru-san juga, ya…," ujar Sena.
"Oh…," Monta mengerjap-ngerjapkan matanya. Api di kepalanya sudah padam.
"Aku juga ingin mengambil langkah yang bar—"
"Hey kalian semua, ayo pergi," ujar Hiruma sambil berjalan masuk. Yang lain mengikuti.
"Hei! Aku belum selesai bicara!"
Tidak ada yang menghiraukan. Semua berjalan begitu saja.
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa…," ujar Ishimaru lemah.
Kasihan sekali dia. Kehadirannya selalu tidak disadari. Tapi tentu tidak, selama ada Hana disini!
"Kakak benar-benar lain. Aku hampir tidak mengenali," pujiku pada Ishimaru.
"Benarkah? Hahaha," ia tersenyum.
"Ngomong-ngomong," aku melanjutkan pembicaraan sambil berjalan memasuki gedung,"Kak Ishimaru kok baru datang? Untung tadi nggak kena dinamitnya Kak Hiruma! Hehehehe!" ujarku sambil tertawa polos.
Tiba-tiba Ishimaru berhenti melangkah dan tersenyum sedih.
"Aku sudah datang dari tadi, kok."
Hah?
"Bahkan saat kau datang, aku juga sudah berada disini…"
Aku tidak dapat berkata-kata. Kehadirannya memang tidak bisa disadari…
Terima kasih banyak sudah membaca. Review please? Kritik dan saran dipersilakan :)
Mohon maaf kalau ada yang nggak berkenan yah. Belakangan ini saya banyak urusan dengan buku2 kumpulan soal itu, tapi kuusahakan selalu untuk tetap mengapdet. Terima kasih teman2 setia menunggu :D
See you soon!
SPOILER ALERT: chapter depan adalah perasaan para orang dewasa ketika sang bayi mungil sedang tertidur. Song: Sleeping Child by Michael Learns to Rock.
