Disclaimer : Bleach punya Tite Kubo sepenuhnya. Segala jenis dan bentuk dalam cerita OOC ini produk dari saya!
Pairing : IchiRuki
Genre : Romance
Rate : M
Warning : Typo, OOC, Gaje dan entah mungkin penyakit semacamnya.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
"Apa kau bilang?" suara Ichigo terdengar lebih kental dari biasanya, "Kau tidak ingin menikah denganku? Kenapa?"
Rukia menggeleng pelan, "Ada yang menunggumu dibalik pintu."
"Siapapun dia, for God sake, Rukia, dia bisa menunggu."
"Anda direkturnya, sir. Sekretarismu tadi bilang agar aku menyelesaikan urusanku secepatnya."
"Urusan kita belum selesai," ucap Ichigo mulai tenang.
Rukia menatap ke lantai, membenahi rambutnya kebelakang telinga, "Kita sedang di kantor, sir. Anda bilang ingin memisahkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan."
Ichigo menjambak rambutnya frustasi lalu mengelus belakang lehernya. Menatap tak percaya pada Rukia.
Terdengar lagi ketukan di pintu dan suara panggilan dari sana. Rukia memajukan tubuhnya dan berbalik untuk membuka nya. Baru beberapa saat setelah itu Ichigo berbisik, "Kau akan menikah denganku, schatz, segera."
Ichigo mendahului Rukia keluar, "Nona Yadomaru, jangan biarkan pacarku ini meninggalkan ruangan."
Ichigo menatap Rukia, "Aku hanya memintamu menungguku satu jam, darling. Balasan untukmu karena sudah menghilang 2 bulan."
Sebelium Rukia sempat membuka suara, pintu ruangan sudah ditutup lagi oleh Ichigo.
"Aku mencintai lelaki yang sulit." lirih Rukia.
###
Ichigo menggenggam tangannya hingga buku jarinya terlihat memutih. Ia tidak begitu konsentrasi pada meeting yang diadakan oleh perusahaan Wilson Corp. yang membahas tentang pembelian mesin produksi dan peng-upgrade-an sistem control.
Ia begitu kesal mengetahui Rukia tidak mempercayai perasaannya yang telah ia tunjukkan dengan bunga dan cokelat, bukankah hal-hal seperti itu terlihat romantis? Ia memijat keningnya keras lalu mencoba konsentrasi lagi.
Rukia duduk di sofa putih itu. Sudah 30 menit sejak Ichigo memintanya slash memaksanya untuk tinggal di ruangan. Ia memainkan jemarinya gugup. Tadi ia menolaknya dengan terlalu jelas. Sebenarnya bukan itu maksudnya tetapi hatinya memang bimbang.
Rukia melepaskan coat yang membungkus tubuhnya. Perutnya terlihat membuncit karena usia kandungannya yang hampir meninggalkan bulan ke 3. Ia mengelusnya. Apa Ichigo tadi tidak menyadari bahwa memang bagian dari tubuhnya itu berbeda.
Rukia melihat kearah pintu saat ia mendengar suara dari sana. Seorang gadis manis yang berusia 5 tahunan. Ia memanggil-manggil ibunya. Gadis itu masuk dan mendekat pada Rukia.
"Nona, aku pikir ini tadi tempat tunggu kaa-san ku jadi aku masuk tapi ternyata bukan. Aku minta maaf," ucapnya sambil tersenyum manis.
Rukia ikut tersenyum dan mendekat pada anak manis itu, "Apa kau tersesat?" tanya Rukia.
Gadis itu mengangguk, "Aku pikir begitu. Sebenarnya aku tidak ingin merepotkan kaa-san ku tapi ternyata sekarang aku akan membuatnya khawatir."
"Apa kau sudah pergi terlalu lama?" tanya Rukia.
"Tidak, aku hanya dari kamar mandi. Nona cantik yang ada di depan yang mengantarku tapi saat aku keluar dia sudah tidak ada."
'Mungkin dia ikut meeting dengan Ichigo.' pikir Rukia.
"Kaa-san ku sedang hamil besar jadi aku tidak ingin merepotkannya."
"Bagaimana kalau aku mengantarkanmu?" tanya Rukia.
"Apakah boleh jika begitu?" tanyanya.
"Tentu saja. Kau tidak merepotkanku."
Rukia menggandeng tangan gadis itu dan belum sempat ia keluar ruangan, wanita yang dulu sempat membuatnya menangis, masuk kesana. Seorang wanita bernama Senjumaru. Mantan pacar dari Ichigo dan wanita yang mengaku punya anak dari lelaki yang ia cintai. Gadis yang di sampingnya ini anak yang dimaksud malam itu?
"Chizu, apa yang kau lakukan disini sayang? Apa kau merepotkan nona cantik ini?" tanya Senjumaru. Wanita itu memakai sweater dress selutut, celana hitam panjang dan boots pendek dan syal yang melingkar di lehernya. Ia terlihat cantik dan mengesankan.
"Sama sekali tidak. Dia hanya tersesat," jawab Rukia menyunggingkan senyum.
"Ah, bukankah kau yang waktu itu, dipesta pertunangan? "
Rukia mengangguk dan saat itu ia merasakan pegangan gadis kecil itu terlepas dan ia menuju ibunya. Perasaan aneh begitu mengganjal di hatinya. Ia merasa iri atau cemburu atau kesal, ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kenapa gadis itu berlari begitu saja pada Senjumaru? Tuhan, apa yang dipikirkannya? Tentu saja karena dia ibunya. Kontrol hormonnya pada tubuhnya benar-benar tidak bisa ditolelir.
"Aku benar-benar tidak sengaja waktu itu dan kaget sekali atas reaksi Ichigo."
Rukia hanya mengangguk lagi.
"Kau wanita tangguh bisa merubah si Ichigo yang kaku itu. Pria itu dari dulu hanya tahu bagaimana berekspresi datar," ucapnya sedikit terkekeh.
"Sepertinya kau sudah mengenalnya cukup lama."
"Aku dulu berfikir seperti itu tapi sepertinya tidak. Dia lelaki yang sulit ditebak." jawabnya. Ia mengelus kepala anak gadisnya pelan dan tersenyum.
"Bukankah dulu kau adalah mantannya?" tanya Rukia. Suaranya bahkan mirip desisan rasa tidak suka. Ya Tuhan, hormonnya berbuat itu lagi. Dia begitu cemburu pada Senjumaru.
Wanita itu terlihat kaget lalu tersenyum lagi, "Ex? 6 bulan bersamanya itu terasa sulit. Dulu aku yang memaksanya untuk berpacaran denganku. Hanya satu kali dinner, dua kali bergandengan tangan dan putus, aku rasa kau sangat beruntung," jawab Senjumaru.
"Maksudku,…"
Wanita itu tertawa lagi dan melambaikan tangan tanda tidak apa, "Aku mengerti. Pertama kali aku bertemu dengan mantan pacar suamiku aku malah langsung menamparnya. Cemburumu itu beralasan," jawabnya lalu mengelus punggungnya.
"Aku rasa aku butuh duduk. Aku akan langsung kembali ke ruang tunggu saja."
"Apa itu sakit?" tanya Rukia khawatir.
"Ya, jika usia kandungan sudah sebesar punyaku itu akan wajar."
###
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Ichigo dan beberapa koleganya itu keluar dari ruang rapat. Meetingnya lebih 15 menit dari yang direncanakan. Meeting selanjutnya tinggal penandatanganan surat perjanjian. Dari kejauhan Ichigo melihat Rukia menuntun Senjumaru dan mereka terlihat tertawa bersama. Suami Senjumaru terlihat tersenyum dan berpamitan untuk menyusul istrinya itu. Ichigo hanya berhenti sesaat dan membiarkan para koleganya meninggalkannya. Saat dirinya menatap Rukia, gadis itu juga menatapnya, terlihat kaget.
Ichigo segera berjalan kesana dan melingkarkan tangannya di pinggang Rukia. Membawa lagi Rukia kedalam ruangannya.
"Jadi?" tanya Ichigo.
"Aku hanya membantunya."
Ichigo menggeleng lalu membuat Rukia duduk disampingnya, "Aku tidak bertanya soal wanita itu. Kenapa kau tidak mau menikah denganku?"
"Kita berbeda," ucap Rukia gugup.
"Tentu, kau wanita dan aku lelaki, harus begitu bukan?"
Rukia menggeleng, "Kau seorang dengan kekuasaan dan uang."
Damn! Benar bukan kekhawatiraannya dari dulu. Gadis itu tidak akan mau berurusan dengannya jika ia terlihat terlalu 'kaya'.
"Tidak masalah untukku. Kau memutar-mutar darling! Apa kau tidak akan memberitahuku tentang bayi dalam perutmu ini?" tanyanya. Ichigo mengelus pelan perut Rukia.
"Aku tidak menjebakmu untuk menikahiku." ucap Rukia nadanya naik 1 oktaf, "Jika kau ingin aku menggugurkannya, tidak terima kasih, aku akan membesarkannya sendiri."
"Apa? Rukia, aku tidak meminta kau untuk menggugurkannya! Jangan pernah membahas hal ini seperti itu! Itu bayi kita berdua!"
"Bayiku. Aku tahu kau tidak menginginkannya. Kau dan aku, aku tahu kau mengangapnya sebagai kesalahan."
Ichigo menjambak rambutnya lagi, "Apa yang coba kau katakan?" tanyanya tak sabar.
"Sebelum kau membuangku aku yang terlebih dahulu membuangmu," geramnya. Rukia bangkit dari sofa dan mundur beberapa langkah.
Ichigo ikut bangkit dan memegang lengan Rukia, "Kau anggap hubungan kita itu apa?"
"Lucu? Bukankah harusnya itu yang harus kutanyakan padamu?"
"Lalu kau sendiri menganggapnya apa?"
"Bisnis bukan?" desisnya.
"Begitukah? Jika seperti itu bukankah kau sama saja seperti seorang p******?"
Badan Rukia bergetar lalu gadis itu menggigit bibirnya keras, sudut matanya hampir mengeluarkan air mata.
"Aku sudah mendapatkan jawabannya," Rukia langsung berlari keluar dari ruangan Ichigo.
"Rukia," teriak Ichigo. Ia mengejar Rukia tapi gadis itu sudah masuk kedalam lift, "Shit!" Teriaknya frustasi. Ia sama sekali tidak bisa mengerti jalan pikiran Rukia.
Rukia menangis tergugu didalam lift. Lelaki itu tidak paham dengan hatinya. Jika saja ia berkata 'Aku mencintaimu jadi suka atau tidak kau harus menikahiku' seperti itu atau kalimat perintah lainnya asalkan pria itu berkata bahwa dia mencintainya, ia akan berkata ya secepatnya.
###
Flashback
Ichigo berjalan sedikit gusar. Kaa-sannya tidak berada di ruangan perawatannya. Suster yang menanganinya juga kebingungan mencari Mrs. Kurosaki itu. Beberapa kali Ichigo mencari di koridor yang sama tetapi ia tidak mendapati ibunya.
Ichigo memutuskan untuk memberitahukan hal itu kepada ayahnya jadi ia memutuskan untuk menuju ke ruang kerjanya. Dari kejauhan Ichigo sudah bisa melihat kaa-san nya itu di depan pintu ruangan. Terlihat kaget diatas kursi rodanya kemudian ia menutup pintu. Belum sempat Ichigo untuk memanggil, kaa-san nya sudah menjalankan kursi rodanya itu menjauh dari ruangan.
Ichigo segera berlari agar bisa mendorong kursi roda tetapi ia berhenti tepat didepan ruangan ayahnya karena pintu yang tidak sepenuhnya terkunci.
What the f**k! Dipangkuan ayahnya itu ada seorang wanita yang mencium bibirnya. Dada wanita itu terekspose dan tangan ayahnya berada di gundukan itu bersama tangan si wanita.
Ciuman mereka diakhiri oleh Isshin yang menjauhkan kepalanya.
"Ciumanku dan tubuhku," wanita itu berkata, meremaskan tangan Isshin pada payudaranya, "masih begitu sama, terlalu menginginkan dirimu," ucapnya hampir sebuah desahan.
"Kita sudah berakhir 2 dekade yang lalu for God sake Kirio. Itu semua masa lalu."
"Tapi tidak bagiku. Kau harus menceraikannya dan menikah denganku!"
"Anggap saja aku salah mendengarmu," jawab Isshin. Dia memundurkan kursi dan meyuruh -memaksa - Kirio untuk berdiri.
Kirio menggenggam erat kemejanya, menutupi dadanya yang terekspose, "Aku benar-benar mengharapkannya Isshin. Pernikahanku tidak berhasil, begitu juga kau! Kau tidak mencintai wanita itu."
"Berhenti disitu! Jangan buka lagi mulutmu, Kirio!" Isshin berdiri dan menatap tajam pada Kirio.
"Atau apa? Membungkamku dengan ciumanmu seperti yang biasa kau lakukan dulu? Pernikahanmu juga tidak berhasil."
"Berhasil atau tidaknya itu bukan urusanmu! Serahkan surat pengunduran dirimu besok pagi!" ucap Isshin datar.
Wanita itu mulai mengeluarkan air mata, "Pernikahanku hanya bertahan 2 tahun dan aku punya anak denganmu!"
Isshin terbelalak kaget hingga beberapa dokumen di mejanya ia banting kasar, "Kau membual!"
"Aku tidak membual. Beberapa minggu setelah kelahiran anak kembarmu kita tak sengaja bertemu dan karena malam itu, dia lahir. Terpaut satu tahun dengan mereka."
"Saki, apa dia tahu ...?" ucapan Isshin terpotong saat mereka mendengar deringan telepon. Isshin mengangkatnya dan Ichigo segera pergi dari sana.
Itu tadi telepon dari suster ruangan istrinya, Masaki. Mengabarkan bahwa istrinya itu tidak berada diruangan dan beberapa suster juga tidak tahu keberadannya.
###
Ichigo menyusul kaa-san nya itu yang berbelok ke arah taman. Berhenti sebentar, Ichigo memperhatikan. Mencoba menerka apa yang sekarang dipikirkan oleh wanita itu.
"Kaa-san, apa yang kau lakukan disini?" tanya Ichigo. Ia berjongkok didepan kursi rodanya dan mencium punggung tangannya.
"Memangnya apa? Bukankah kalian melarangku untuk memikirkan hal-hal aneh?" tanyanya.
"Dan apa kau berpikir bisa menyembunyikannya dariku?" tanya Ichigo menggodanya.
"Aku sedang tidak berusaha menyembunyikan apapun Ichigo. Lagipula setelah aku mati nanti kau akan tahu apa keinginanku nantinya."
" Kaa-san,!" ia mendesis tak suka.
"Ayolah Ichigo, Kaa-san hanya punya 30% dan tidak menutup kemungkinan itu tidak akan berhasil. Berbeda jika itu memang anugerah dari Tuhan."
"Kau masih punya aku dan si kembar, ingat. Jika Kaa-san depresi seperti ini lalu bagaimana dengan kami?"
"Kau yang menjaga mereka Ichigo. Bagaimana jika ini memang sebuah firasat?" tanya Kaa-sannya. Ia mencium kening Ichigo lalu tersenyum padanya. "Bisakah mengantarkan Kaa-san ke ruangan?" tanya Masaki.
Ichigo mengangguk setuju dan pergi dari taman.
Hari itu menjadi hari terakhir Kaa-san nya memberikan ciuman di kening. Sehari setelah operasinya, Masaki mengalami komplikasi pada jantung barunya dan meninggal. Dan itu menjadi hari terberat dalam 21 tahun hidupnya di dunia. Apalagi Ichigo menemukan surat dari Kaa-san nya di laci mejanya. Mengatakan bahwa Ichigo harus berhenti dari sekolah kedokterannya dan memintanya untuk mendapatkan gelar MBA di Jerman. Lagipula tak ada gunanya lagi melanjutkan kuliah kedokteran. Ia yang ingin sekali menyelamatkan ibu nya sudah tidak diberi kesempatan. Kejadian beberapa hari yang lalu membuatnya begitu jijik pada ayahnya. Lebih gila lagi ibunya itu memberikan uang bulanan pada anak gelap ayahnya dengan melalui beasiswa dari sekolahnya agar ditunjukkan pada gadis bermarga Hikifune itu. Kaa-san nya pasti sudah tahu keberadaan anak itu. Ya. Sejak 2 tahun yang lalu Kaa-sannya mengirimi gadis itu. Masaki merasa sangat bersalah tidak bisa melepaskan Isshin darinya dan menikahi Kirio karena ia sangat mencintainya walau pernikahan mereka berlandaskan perjodohan.
Flashback End
Ichigo berlari menuruni tangga darurat mencoba mengejar Rukia. Sekelebatan ingatan masa lalunya itu membuat dirinya jijik pada dirinya sendiri. Ia terlihat lebih memalukan daripada ayahnya itu.
Sudah enam lantai ia selalu telat mengejar lift hingga ia memutuskan untuk masuk ke lift pribadi dan langsung menuju lantai 1.
Terjadi kerumunan di lift dan itu terlihat tidak biasa. Ichigo merasakan sesuatu yang tidak nyaman didalam hatinya. Begitu ia mendekat Rukia tak sadarkan diri dan Ichigo langsung masuk kedalam kerumunan. Ichigo mengambil ponselnya.
"Hisagi, siapkan mobil di depan! Sekarang!"
Salah seorang wanita memekik, "Kami-sama! Dia berdarah."
"Bukankah itu pendarahan?" tanya seseorang lagi.
"Minggir!" Ichigo memekik dan mengangkat Rukia, berlari menuju mobilnya yang tengah menunggu didepan lobby. Tangannya gemetar hebat saat ia memasuki mobil.
"Kumohon bertahanlah. Kau tidak boleh pergi dari sini!"
Ichigo merasakan pukulan keras seperti perasaan tertikam kedalam jantungnya. Begitu horor memikirkan Rukia akan kehilangan bayi mereka berdua membuat ia bagai pendosa dan Rukia akan begitu membencinya.
"Lebih cepat, Yuichi!"
Damn! Kenapa perjalanan menuju rumah sakit keluarganya itu begitu lama? Rumah sakit itu yang terdekat dari kantornya.
50 menit berlalu bagai neraka. Ichigo mondar-mandir di depan ruangan IGD mencemaskan Rukia dan bayinya. Ichigo menjambaki rambutnya karena sudah merasa tidak sabar. Ia berbalik ketika seorang dokter dan dua orang suster keluar dari sana. Ichigo berbalik segera dan mendapati dokter tampan berada di belakangnya, sedang dua suster itu kembali bekerja.
"Shigeo, bagaimana dengan kekasihku dan bayiku?" tanya Ichigo.
Shigeo tersenyum, "Chill out man! Kau terlihat 15 tahun lebih tua. Dia baik begitu juga calon anakmu."
"Tapi dia pendarahan?"
"Tidak semua pendarahan berakhir pada keguguran Ichigo. Masuklah! Tapi dia sedang istirahat. Kita bisa memindahkannya segera ke ruang perawatan setelah ia siuman," Shigeo menepuk bahu Ichigo dan berlalu.
Ichigo mengambil kursi dan duduk disamping ranjang. Menundukkan wajahnya, Ichigo mencium perut Rukia yang tertutup selimut.
"Terima kasih sudah bertahan." Ichigo mengambil tangan Rukia dan menempelkan ke bibirnya, mencium punggung tangannya.
Tak lama kemudian tangan Rukia bergerak-gerak pelan. Ichigo tersenyum melihat Rukia yang pelan-pelan membuka mata. Memperlihatkan amethyst jernihnya.
"Kau sudah siuman? Aku panggilkan dokter," ucap Ichigo.
Rukia menyernyit dan sudut matanya mulai basah, "Aku tadi melihat darah. Bayiku..," ucap Rukia tercekat. Mencoba melepas tangan satunya dari Ichigo tetapi Ichigo tidak melepasnya dan meremasnya lembut.
"Bayi kita baik-baik saja, schatz. Aku akan memindahkanmu terlebih dahulu," ucap Ichigo. Sekali lagi ia mencium punggung tangan Rukia sebelum keluar dan membawa lagi dokter dan beberapa perawat.
Rukia mencoba mendiamkan Ichigo setelah beberapa menit yang lalu ia dipindahkan di ruang perawatan. Setidaknya Rukia harus tinggal di rumah sakit dua hari.
Tangan Ichigo tidak pernah melepaskan genggamannya terhadap Rukia sejak tadi. "Apa ini membuatmu tidak nyaman?"
"Sangat tidak nyaman," jawab Rukia jujur. Ia mencoba melepaskan tangannya dan Ichigo membiarkan Rukia meninggalkan tangannya. Rukia sebenarnya agak kecewa.
Ichigo tersenyum kecut, "Aku minta maaf atas kata-kataku tadi. Seharusnya aku tidak emosi seperti itu. Aku..,"
"Bisakah kita tidak membicarakan itu? Kau harus pergi, sir." Rukia menjawab dengan nada datar.
"Ya. Aku harus pergi tapi aku tidak mau. Aku akan menemanimu," jawab Ichigo. Tangannya mengelus perut Rukia. "Kau sedikit jahat padaku. Kenapa tidak memberitahuku sejak bulan pertamamu saat kau mengandung anak kita? Seharusnya aku tahu bagaimana kau menghadapi morning sickness-mu."
Rukia melirik kesal pada Ichigo dan mendengus, mengubah nada bicaranya, mencemooh, "Kita tidak dalam suatu hubungan yang menyebutkan keterikatan dan kau, sir, menginginkan aku berbagi keadaanku denganmu? Aku bukan wanita penuh drama seperti itu!"
Ichigo menghela napas, "Rukia, don't be emotional and stress yourself like this."
"Jika kau penyebabnya dan kau tidak ingin pergi, aku bisa apa?" tanya Rukia.
Ichigo tersenyum lalu mengelus perut Rukia lalu mendekatkan telinganya. Ichigo tersenyum ketika tidak ada reaksi dari Rukia yang mengidentifikasikan penolakan.
"Apa disana kau merasa kesepian? Tumbuhlah dengan cepat dan segera lahir, oke. Kami pasti akan menjagamu dengan baik," kemudian jeda, "Apa? Aku tidak mendengarmu dengan jelas. Ada kain penghalang disini."
Ichigo tersenyum kearah Rukia. Rukia disana masih cemberut tetapi Ichigo menyadari emosi di mata Rukia sedikit mereda.
Rukia menurunkan selimutnya dan mencopot beberapa kancing kemeja dan menampakkan perutnya. Ichigo tersenyum lagi ke Rukia dan Rukia tidak bisa menyembunyikan semburat merah muda di pipinya, ia juga menyungging senyum tipis nan irit. Ichigo bersyukur Rukia tidak setegang lagi seperti tadi.
Ichigo kembali menciumi perut telanjang Rukia. "Tok..tok..tokk, aku tou-san mu anak manis, bagaimanaa ciumanku tadi? Apakah hangat?"
"Ah, ya. tou-san memang salah dan membuatnya marah dan aku menyesal. Kau boleh menamparku atau menonjokku setelah kau lahir jika aku membuatnya menangis."
Rukia melotot kearah Ichigo, "Tidak. Tidak, aku tou-san yang baik jadi aku tidak akan mengajarimu seperti itu. Huh? Kau bertanya padaku bagaimana kami membuatmu? Uh jika itu.."
"Jangan coba-coba kau!" desis Rukia.
"Tidak, kaa-san mu tidak marah dia hanya tersipu dan malu ugh.. dan sebenarnya aku kira itu karena perubahan hormonnya."
"Kau tahu hari itu menjadi hari terpanjang dan paling panas dalam hidup ayah."
"Kami-sama, Ichigo kau benar-benar! Kau mengatakaan itu?" tanya Rukia, pipinya bertambah merah.
"See! Kau lihat itu sayang. Hanya dengan beberapa kalimat seperti itu dia memerah. Itulah kenapa aku sangat menyukai kaa-san mu. Dia itu seperti copy-paste seorang bidadari," ucap Ichigo.
'Dan kau pahatan sempurna seperti dewa Yunani,' puji Rukia dalam hati. Ia menyungging senyum dan tubuhnya menghangat karena bahagia. Tangannya ikut bergerak menelusuri perutnya dan meletakkannya diatas tangan Ichigo.
"Apa kau merasakan itu?" tanya Rukia antusias
Ichigo mengangguk, "Dia menendang sangat keras. Aku bisa merasakannya."
Hening menyelimuti mereka berdua sesaat setelah percakapan mereka hingga saat Ichigo ingin membuka suara, ia didahului oleh suara Uryuu yang masuk ke dalam ruang perawatan yang dirasa agak keras.
Ichigo melihat kearah pintu dan dalam sekejap Uryuu sudah menarik jas Ichigo dan memukul sudut bibir pria itu.
"Dio mio*," jerit Rukia. "Uryuu!" ia melihat kearah Ichigo dengan horror.
Ichigo yang tersungkur di lantai memaksakan diri menatap Uryuu dan mengusap darah yang menetes dari sudut bibirnya lalu menyungging senyum.
"Brengsek kau! Jika bukan karena Rukia yang memintaku sudah sejak dua bulan yang lalu kau menjadi mayat!"
"Dan sudah sejak dua bulan yang lalu kau mendekam di penjara."
"Apa yang kalian lakukan, ya Tuhan!"
Ichigo berdiri tetapi Uryuu lagi-lagi memagangi krah kemeja Ichigo. "Berhenti disitu Rukia! Dan kau Ichigo, pria menjijikkan macam apa kau ini? Sudah puas dengan balas dendammu sekarang ini? Jika tidak ingin bertanggung jawab, it's okay, fine! Tapi kau hampir menyebabkan Rukia kehilangan bayinya! Kau tahu dia wanita hamil dengan bayi yang memasuki bulan keempatnya tapi kau lihatlah dia, dia bahkan terlihat buruk, berat badannya membuatku menganga tak percaya. Kau mempermainkannya dengan memberi bunga-bunga dan surat sok romantismu itu. Jadi lepaskan dia! Lepaskan sebelum dia gila karena dirimu!"
"Melepaskan Rukia? Kau pasti bercanda! Where am I gonna go? From her to what?"
Uryuu mengencangkan genggaman di krah Ichigo, "Behenti berbicara omong kosong! Pergi kau dari sini."
"Kau yang seharusnya berhenti Uryuu? Why didn't you fu*king believe me?"
"Karena kau melanggar sumpah kita. Kau menyentuh Rukia, brengsek!"
"Please, hentikan ini!" ucap Rukia.
"Lalu apa yang harus ku lakukan?" Ichigo menjambak rambutnya, merasa sangat frustasi, "Aku sudah menyukainya sejak dulu. Sejak ia seorang gadis polos berumur 9 tahun yang begitu saja berhasil merebut hatiku."
"9 tahun?" Tanya Rukia
"Kebohongan macam apa yang coba kau ciptakan?" desis Uryuu.
Ichigo memaksa Uryuu melepas kemejanya dan ia pun berhasil, "Dihari kematian Renji, di pemakaman keluarga Kuchiki."
"Märchenprinz*." ucap Rukia tak percaya.
Ichigo tersenyum lebar pada Rukia dan menjauhkan tubuhnya dari Uryuu, "Wie geht es dir, Prinzessin*."
"Apa maksud ucapanmu?" Uryuu menggeram kesal.
"Kami sudah pernah bertemu sebelumnya." Ichigo mengangkat kursi yang tergeletak di lantai lalu duduk.
"Kau yang harusnya menjelaskannya padaku, Uryuu, apa maksudnya itu?" Rukia terlihat terluka , "Untuk tidak menyentuhku?" ia berucap ragu.
Ichigo tersenyum dan mengelus pipi Rukia entah hitungan yang keberapa hari ini, "Itu perjanjian persahabatan kami untuk tidak menjalin hubungan dengan wanita di antara keluarga kami. Itu terjadi sudah sejak SMP."
"Kau belum menjawab pertanyaanku!" Uryuu menyela Ichigo.
"Aku menyukai Rukia. Tidak, aku mencintainya dan itu tidak ada hubungannya dengan balas dendam. Jika menyangkut soal kematian kaa-san ku, itu tidak ada hubungan apapun dengan kalian. Itu murni urusanku dengan tou-sanku."
Uryuu memandang Ichigo, mendelik tak suka, "Kau berbicara jujur?"
"Tentu Uryuu! Kapan aku tidak jujur padamu?"
Uryuu menghela napas panjang, "Selesaikan urusan kalian. Bicaralah," ucap Uryuu. Dia hampir saja keluar ruangan tetapi Ichigo menyela, menghentikan langkah Uryuu.
"Maaf untuk 8 tahun yang lalu. Aku yakin kau juga sangat menyayangiku," ucap Ichigo.
"Shit. Kau membuatku ingin menangis!" jawab Uryuu dan ia keluar dari ruang perawatan Rukia.
Ichigo tersenyum pada Rukia yang terlihat bingung. Sedang Rukia masih memperhatikan Ichigo, mengingat ucapan bahwa Ichigo mencintainya dan dari tadi pria itu menyungging senyuman manis. Itu bisa membuat Rukia diabetes, jadi mohon dikurangi, please!
"Kepergianku ke Jerman dulu, aku tidak memberi tahukan padanya. Mungkin itu juga yang membuatnya begitu kesal padaku selain fakta bahwa aku yang menghamili dirimu."
"Aku akan menurunkan ranjangnya agar kau bisa berbaring dengan nyaman."
"Tapi...,"
"Tidak ada tapi, schatz."
Ichigo bergerak. Menurunkan ranjang agar Rukia bisa berbaring dengan nyaman. Jantungnya terasa berdetak sangat cepat saat Ichigo duduk di ranjang, bukan di kursinya.
"Yang kau katakan itu, apa benar?" tanya Rukia.
"Bagaimana mungkin aku melakukannya denganmu tanpa rasa itu?"
"Jika aku juga mencintaimu apa kau juga percaya?" tanya Rukia.
Ichigo langsung membungkam Rukia dengan bibirnya. Mengeklaim bibir tipis Rukia dengan mulutnya.
"Bagaimana menurutmu?" tanyanya dengan napas memburu.
"Jika aku berkata bahwa itu tidak cukup, bagaimana?" tanya Rukia. Wanita itu memainkan ujung dasi bergaris milik Ichigo.
Ichigo tersenyum senang. Ia mencoba mencium Rukia lagi tetapi dia melanjutkan bicaranya.
"Lagipula Uryuu bilang caramu untuk merayuku itu kampungan dan kuno. Tidak kreatif sama sekali."
Ichigo terlihat berfikir. Menjauhkan pandangannya dari Rukia dan menatap pintu ruangan. Jika saja Uryuu masih ada disitu maka Ichigo akan memakinya dan menonjokknya hingga menyebabkaan kaca mata yang dipakai Uryuu melayang ke udara, atau lebih manis dan nikmatnya Ichigo akan memutar dan mematahkan leher Uryuu. Oh ayolah Ichigo kau sudah tua dan ini bukan salah satu scene take dari film thriller. Rukia tidak akan suka jika ia membunuh orang yang akan menjadi paman jabang bayinya.
"Serius dia bicara seperti itu?" tanya Ichigo dan mendapat balasan anggukan dari Rukia.
Ichigo mencibir, "Dia bahkan tidak bisa bersikap romantis pada tunangannya tapi sok mengomentariku."
Ichigo membantu punggung Rukia untuk bersandar pada bantal, "Lalu menurutnya bagaimana caraku menunjukkannya?"
"Kau membelikan aku rumah, barang-barang mahal dan membayar wartawan untuk mengumumkan bahwa aku milikmu. Kau kan kaya itu tidak susah!"
Ichigo tertawa keras, bahkan hampir tersedak, "Kupikir sepupumu itu bisa jadi pengaruh yang buruk juga aku baru tahu ada lelaki matre di dunia ini."
Ichigo membelai bibir Rukia dengan ibu jarinya, "Jadi jika aku bertanya padamu apa yang kau inginkan.."
"Cium aku," Rukia memotongnya, "Gunakan seluruh kemampuanmu untuk merayuku!"
"I'm at your service, my lady."
Ichigo memegangi dagu Rukia dan membuka sedikit bibir bawah gadisnya itu-oh bukan, Rukia bukan gadisnya lagi, ia sudah berubah menjadi wanitanya- Mendekatkan wajahnya Ichigo menghembuskan napas pelan. Bibirnya mengecup Rukia pelan dan terkontrol serta halus dan perlahan. Menarik dagu Rukia lagi untuk mendapatkan akses, Ichigo menjulurkan lidahnya untuk menjilati sudut bibir Rukia dan memasukinya. Lidah mereka bertemu dan saling berpagutan. Tidak saling melepaskan walau mereka sama-sama memerlukan udara.
Tangan Ichigo meraba dada Rukia sedang Rukia sendiri menautkan lengannya dibelakang leher Ichigo. Menelusuri sela-sela rambut Ichigo dengan jemari lentiknya. Ichigo sendiri perlahan-lahan menangkup dada Rukia. Meremas pelan kemudian mengelus tonjolannya. Kegiatan mereka yang semakin panas harus diakhiri ketika mereka mendengar deheman keras dari arah pintu.
"Lanjutkan saja dulu. Aku tidak berniat mengganggu acara ciuman kalian yang sangat passionate itu," Karin membuka suara.
Rukia menatap malu pada mereka berdua, Yuzu dan Karin. Ichigo mendecak sebal. Suara deheman itu tadi berasal dari Karin.
"Aku bilang lanjutkan saja, brother, siapa tau itu akan berguna untukku dimasa depan!" ucap Karin.
"Kalian menjenguk Rukia? Kemarilah!" ucap Ichigo datar.
Adik kembarnya itu menurut. Berjalan mendekat kearah ranjang. Mereka menyebar di kedua sisinya. Yuzu mencium pipi Rukia.
"Aku harap keadaanmu sudah membaik," ucap Yuzu.
Karin tak ketinggalan. Ia mengikuti langkah Yuzu mencium pipi Rukia dan mengelusnya.
"Wah, Yuzu apa memang seperti ini kulit seorang ibu yang akan mempunyai bayi. Rambut Rukia-nee juga jadi sangat lembut. Aku jadi ingin cepat-cepat punya bayi juga."
"Jangan bicara ngawur Karin. Baru mahasiswi awal saja kau bicara seperti itu. Selesaikan dulu pendidikanmu!" ucap Ichigo kesal. Yuzu tertawa diikuti Rukia, sedang Karin cemberut.
Isshin berhenti di depan pintu ruang perawatan Rukia. Ada suara berisik di dalam jadi ia tak ingin mengganggu keceriaan mereka. Ia tertawa pada keinginan Karin. Ia juga sudah lega saat mengetahui Rukia dan calon cucunya itu baik-baik saja.
Sejak satu setengah bulan lalu setelah kejadian Ichigo yang memaki dirinya, mereka berdua tambah saling tidak berbicara. Bahkan Ichigo menghindari dan tak ingin berurusan dengannya. Anak laki-lakinya itu selalu pulang terlambat dan tidak pernah sarapan di rumah.
Isshin meminta suster itu untuk masuk. Mengantarkan makan siang Rukia dan beberapa tablet vitamin yang sudah diresepkan oleh Shigeo.
###
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Sudah hampir 12 hari sejak Rukia kembali dari rumah sakit. Ia tetap kembali ke rumah Uryuu. Satu hal pertama yang dilakukan Ichigo sewaktu itu adalah mengumumkan pertunangannya dengan Rukia.
Koran-koran, tabloid dan majalah membahas hubungan mereka. Beragam judul utama yang berbeda membahas keromantisan hubungan mereka. Foto yang beredar mulai dari ciuman panas penuh skandal itu semua berasal dari rumah sakit. Mulai dari ciuman yang dipergoki si kembar, di halaman rumah sakit, dan lobby rumah sakit saat Rukia diizinkan pulang hingga fotonya diirestoran Jepang saat ia makan bersama, di foto itu menampakkan Ichigo berbisik sesuatu padanya dan Rukia tertawa. Tapi yang paling menarik dari semua itu wawancara majalah yang bersumber langsung dari Ichigo. Dia mengatakan dengan jelas dan gamblang bahwa pria itu benar-benar mencintainya.
Pintu kamar Rukia tiba-tiba terbuka. Rukia secepat kilat menyembunyikan beberapa majalah dan koran itu dibawah selimut. Ia pura-pura tidur. Ichigo berjalan semakin mendekat dan langsung naik ke atas ranjang.
Ichigo mencium bibir Rukia, saat ia merasakan sesuatu yang mengganjal kakinya, Ichigo menyingkap selimut dan tertawa. Ia merapikan kertas-kertas itu keatas meja.
Niat jahil kemudian menghampiri Ichigo. Pria itu mengelus paha Rukia dan sedikit demi sedikit menyingkap dress longgar Rukia ke atas.
Ichigo memainkan jemarinya dan berbisik, "Tanpa celana, hmm. Aku suka. Jika kita sudah menikah dan berpindah rumah, aku akan menuntutmu untuk itu."
Ichigo menggigit pelan terlinga Rukia kemudian beringsut dan menciumi paha Rukia.
"Oh my God, Ichigo! Kau tahu aku tidak tidur bukan?" Rukia memukul pelan bahu Ichigo.
Pria itu tidur bersanding dengan Rukia. Tangannya membelai pelan pipi Rukia yang memerah.
"Hukuman kecil untuk pembohong kecil," jawab Ichigo.
Rukia cemberut, "Seharusnya kau tidak boleh berada disini!" keluh Rukia.
"Why? Kau kan calon istriku. Aku juga berniat untuk menculikmu dan aku bawa ke kantor catatan sipil dua hari lagi."
"Kantor catatan sipil?" tanya Rukia.
Ichigo mengangguk, "Mengeklaim dirimu dengan cara yang legal."
"Aku belum mendengar itu dari bibi."
"Karena aku baru saja mengatakannya padamu. Setelah anak kita lahir baru akan ada upacara pemberkatan dan resepsi di rumah kita yang baru."
Rukia mendelik tak suka, "Kau mempraktekkan tuntutan Uryuu padamu?"
Ichigo menggeleng, "Tidak. Aku yang menginginkannya, aku ingin membuatmu bahagia dengan semua restu orang-orang yang menyayangimu."
Rukia tersenyum haru, sudut matanya mengeluarkan air mata tipis, "Aku mencintaimu, Ichigo."
"Aku tahu," bisik Ichigo.
Rukia melenguh ketika tangan Ichigo tidak beranjak dari pahanya. Usapan-usapan lembut itu meningkatkan libidonya. Apalagi ia tengah hamil sekarang jadi wajar jika dia seperti itu.
Ichigo membuka kancing dress Rukia dengan mudah. Meraup tonjolan dada Rukia dengan satu tangan sedang tangan lainnya mengunci tangan Rukia diatas kepala wanita itu. Ibu jarinya mengelus bagian pink kecoklatan itu benerapa kali membuat Rukia mendesah lebih keras lagi.
Lidahnya terulur maju untuk menjilati ujungnya kemudian mulutnya meniup payudara Rukia.
Mata Rukia berkabut penuh dengan gairah, perutnya yang sudah membusung itu merasakan gelenyar panas.
"Kau tahu sayang, aku paling suka membuat dan melihatmu orgasme dan mendengar kau meneriakkan namaku dengan keras," bisik Ichigo. Bibirnya menyapu bibir Rukia dan bermain-main disana sedang tangannya tak pernah meninggalkan dada wanita itu.
BERSAMBUNG …
28 MARET 2015
*Dio mio : Ya Tuhan
*Märchenprinz : Pangeran yang begitu menawan
*Wie geht es dir, Prinzessin : Apa kabar, puteri
