Woaa! Ga nyangka, review-nya udah tembus angka 50. Padahal rencananya kemarin pengen bikin crita pairing yg laen malah pengen nge-update ini lagi.

Setelah di cerita sebelumnya Author tega membuat Sanji tewas ga jelas (lha iya ga jelas kan?), sekarang kembali dengan No Sanji. Heh, apa maksudnya? Ga, crita ke-11 kali ini setting-nya sebelum Baratie. Jadi Sanji emang blom muncul. Aq hanya iseng bahwa siapa tahu az Nami udah menginginkan pria seperti Sanji sejak awal.


Title #11: Beginning

Words: 813

Type: Off-Screen/Canon Moment

*Setting: sailing to Baratie Restaurant

Genre: Friendship/Humor

Summary: Lihat betapa pentingnya kru ke-5 sebelum masuk Grand Line! Kriteria apa saja yang dibutuhkan? Apa yang Nami cari dari kru ke-5?


Going Merry bertolak ke Restoran Apung Baratie setelah mendengar cerita Johny dan Yosaku. Akhirnya, Luffy bisa berpikir jernih bahwa saat ini seorang koki lebih dibutuhkan sebagai kru baru daripada seorang musisi.

"Sebentar Luffy," kata Nami. Saat itu mereka berempat sedang berkumpul di ruang makan. "Aku khawatir kau suka merekrut orang sembarangan. Bagaimana jika kita bicarakan dulu seperti apa kira-kira kru baru kita nanti?"

"Ah, kau benar, Nami," jawab Luffy. "Yang jelas, dia harus bisa masak enak dalam porsi besar!"

Nami menjitak kepala Luffy. "Dasar rakus, tentu saja yang namanya Koki itu harus bisa memasak enak. Tapi sekedar enak saja tidak cukup."

"Maksudmu?" tanya Ussop.

"Kalian ga lihat keadaan Johny dan Yosaku kemarin? Koki profesional juga harus tahu gizi dalam mengolah makanannya. Masa harus aku yang pegang pengetahuan itu semuanya?"

Ussop pun mengangguk-angguk setuju. Ia juga tak tahan dengan pola makan Luffy dan Zoro yang sanggup melahap monster laut. Luffy sepertinya tidak paham gizi itu apa, yang penting lezat. Zoro hanya menguap tak peduli soal enak tidak enak dan soal bergizi tidak bergizi, yang penting kebutuhan makannya tercukupi dan tidak dimonopoli Nami.

"Kalau kau, Ussop?" tanya Luffy.

"Dia harus kuat, bisa bertarung, dan bisa melindungi," lanjut Ussop.

"Dasar lelaki penakut!" komentar Zoro.

"Ussop benar," kata Nami. "Selain kuat, ia harus bisa melindungi dan ga sembarangan meninggalkan orang lemah dan manis seperti diriku begitu saja."

"Oi oi," protes Ussop. Sementara itu, Zoro merasa disindir. Siapa kemarin yang justru meninggalkan ia terjebak ter?

Luffy lalu menoleh ke Zoro, "Kalau kau?"

"Aku?" Zoro mencoba berpikir. "Bagiku yang penting ia bisa berkawan, ga banyak merepotkan, dan cocok dengan kita."

"Oke!" kata Luffy. "Kalau begitu kuputuskan kru baru kita nanti koki yang masakannya paling enak, kuat dan bisa bertarung, serta bisa berteman."

"Hanya itu?" tanya Nami.

"Memangnya masih kurang apa lagi?" tanya Ussop.

Nami melihat ke arah Luffy, sang kapten yang otaknya pun ikut terbuat dari karet. Cowok polos dan teramat jujur yang mudah ditipu dan diiming-imingi makanan. Memang sih Luffy kuat, sangat kuat. Tapi kadang itu tak membantu di situasi genting dan malah membuatnya semakin repot.

"Dia harus cerdas dan ga cuma bisa bertarung pake otot."

Zoro membatin setuju karena ia juga tidak sanggup menghadapi kebodohan sang kapten. Ia merasa tahu diri bahwa dirinya tidak secerdas itu meski tidak ingin ada cowok lain yang lebih kuat darinya dan Luffy ditambahkan di kapal ini.

Nami lalu memperhatikan Ussop. Menatapnya lekat mulai dari hidung super mancungnya, bibir tebalnya, rambut keritingnya, kulit coklatnya, dan pakaiannya. Ia bahkan tak tahu kelebihan lain apa yang dimiliki cowok pembual selain setidaknya ia masih sedikit lebih cerdas dari Luffy maupun Zoro, kalau saja tidak ada sifat super penakutnya yang bisa membuatnya lebih diandalkan.

"Dia juga harus tampan, selera bajunya bagus, rapi, dan wangi."

Zoro sedikit tersedak. Memang ia dan Luffy jarang mandi dan hampir ga pernah ganti baju, tapi Zoro merasa ini tidak penting untuk disebutkan.

Terakhir, Nami melirik ke arah cowok berambut hijau tersebut. Cowok yang bicaranya kasar, kerjaannya cuma tidur dan latihan angkat beban, ga sopan dan ga lembut pada wanita, tukang nyasar. Setidaknya Zoro masih bisa berpikir secara logika menurut Nami, tidak asal berpikiran positif seperti Luffy meskipun mereka berdua sama-sama tipe frontal.

"Dia harus gentleman, penuh perhatian, serta mau melayaniku setiap hari."

Kali ini Zoro memuncratkan minumannya. Cewek Iblis, begitu pikirnya. Zoro tidak bisa membayangkan bahwa ada lelaki yang mau sebegitunya menurunkan kejantanannya untuk menjadi lebih rendah dari wanita apalagi bersedia diperbudak. Bagi Zoro, setidaknya pria dan wanita itu setara. Pendekar pedang atau musuh meski ia wanita sekalipun akan ia lawan dengan sungguh-sungguh. Zoro yakin ia bakal muak jika bertemu dengan cowok seperti itu.

"Apa ada cowok sesempurna itu?" timpal Ussop.

"Jika tidak, kita akan tamat di Grand Line! Aku tidak bisa bertahan dengan orang-orang idiot seperti kalian, mengurusi kebutuhan kalian satu per satu, dan memikirkan strategi perjalanan sendirian atau untuk menghadapi musuh-musuh yang jauh lebih cerdas dan licik dari pelayan Kaya kemarin," jawab Nami.

"Cerdas, tampan, dan gentleman?" tanya Luffy memiringkan kepalanya.

"Ya!" kata Nami tegas.

"Ini ngomongin kru baru atau kriteria cowok idealmu sih?" tanya Zoro angkat bicara semakin kesal. "Oi, Luffy..."

"Shishishi," kata Luffy nyengir lebar. "Ga masalah."

Zoro dan Ussop tak bisa banyak protes karena Sang Kapten sudah kalah dengan kemauan Sang Navigator.

"Kakak-kakak semua!" panggil Johny dan Yosaku. "Baratie sudah kelihatan."

Begitulah akhirnya semua bisa sesuai harapan. Luffy mendapatkan makanan enak setiap hari meski bahan yang ia makan sudah mendekati busuk sekalipun, baginya itu tetap enak. Zoro mendapat teman akrab (?) dan sehari-hari kerjaan mereka hanya bertengkar ga jelas. Ussop mendapat perlindungan; seperti saat di Alubarna ia bertukar posisi musuh; lalu meski saat dipaksa menaiki kapal Maxim ia nyaris diumpankan, toh ia tetap diselamatkan; begitu pula saat di Enes Lobby ia sekaligus diberi semangat juang.

Dan, Nami tentu saja mendapat semua yang ia inginkan dan ia butuhkan. Dukungan, bantuan, perlindungan, perhatian, pengorbanan. Serta satu hal yang tak keduanya sadari di masa datang dan perlahan tumbuh: Cinta.

END


Yeah, sesuai kata Nami di atas, Sanji emang sepenting itu dalam Arabasta/Baroque Work Saga. Bayangkan az, sejak dari Whiskey Peak, ia udah ga kefoto (beruntung); lalu di Little Garden malah "ngobrol" ma Crocodile; ga ketemu Mr.2; dan terakhir nyelamatin kawan2nya di Kasino Rain Dinner. Plus, entah gimana klo masuk Grand Line tanpa kebutuhan pokok no.1: pangan _. Oda udah mikirin semua itu.

Selebihnya, ya Sanji memenuhi kriteria cowok Nami sendiri: kecerdasan yg ga dimiliki Luffy, ketampanan yg ga dimiliki Ussop, dan kepenuhpedulian yg ga dimiliki Zoro. *jahat yach* Mengutip kata Shimacrow, gak mungkin Nami yang agak selengean dipasangin sama yang hampir sejenis ma dia ato yang kurang peka. Sanji tuh telaten dan cekatan, cocok buat Nami yang lumayan glamour dan perlu 'diurus'. Entahlah, boleh setuju boleh tidak. Toh, Sanji juga ga sesempurna itu dan mesum.

Oiya, yg masalah musisi itu emang Luffy udah pengen punya kru kyk Brook bahkan saat masih di East Blue. Bahkan disebutkan 2x. Lupa chapter berapa.

Yang jelas ini fic gaje. Yak, silakan R&R!