Disclaimer: Kuroko no Basuke bukan milikku, tapi milik dari Fujimaki Tadatoshi

Warning: Slash, AU, OOC, typo, etc

Rating: M

Genre: Adventure, Supernatural


THE EMPEROR

By

Sky


Seijuurou memegang dada sebelah kanannya di mana tulang rusuknya patah karena hantaman tadi, mungkin ia mengatakan kalau dirinya tidak apa-apa namun rasa sakit yang ia rasakan itu bukanlah hal yang main-main, bahkan untuk ukuran seorang Akashi Seijuurou, namun ia terpaksa harus mengatakan kalau dirinya baik-baik saja agar Kuroko tidak panik. Diliriknya remaja berambut biru langit yang berdiri di sampingnya, dari sana ia bisa melihat guratan rasa cemas serta khawatir di wajah yang minim ekspresi tersebut. Seijuurou sudah menjelaskan bagaimana dasar menyegel seorang makhluk supernatural, dan Celestial adalah salah satu dari mereka, namun bagaimana hasil akhirnya tergantung pada Kuroko sendiri.

Remaja berambut merah itu tidak bisa berdiam diri di tempat ini terus menerus, ia harus bergabung dengan keempat rekan lainnya bila ia ingin memerangkap Sagitarius untuk penyegelan tapi di sisi lain ia juga tidak bisa meninggalkan Tetsuya di sini sendirian sebab anak itu adalah fokus utama dalam tindakan yang mereka ambil.

"Akashi-kun, aku rasa aku bisa melakukan ini." Gumam Kuroko dengan suara yang begitu kecil, seperti ia tidak yakin pada dirinya sendiri. Seijuurou tidak menyalahkannya sebab hal seperti adalah hal yang wajar bagi seorang pemula, dan dalam kamusnya tunangan Seijuurou ini masih berada dalam tahap pemula untuk tingkat seorang penyegel.

"Aku tahu kalau kau bisa melakukannya, Tetsuya, kami semua bergantung padamu." Balas Seijuurou, ia menepuk bahu kiri Tetsuya dengan lembut. "Tenanglah, aku akan berada di sampingmu untuk membimbing Tetsuya melakukannya."

Kalimat yang menenangkan itu membuat remaja beriris biru langit tersebut merasa tenang, ia melihat Seijuurou mengulurkan tangan kanannya pada Kuroko dan secara refleks ia pun meletakkan tangan kanannya di atas tangan Seijuurou yang terbuka. Kuroko bisa merasakan sesuatu yang hangat namun dingin pada saat yang sama ketika Seijuurou menggenggam tangan kanannya dengan lembut, perasaan ini sangat menenangkan dan perlahan-lahan perasaan gelisah yang Kuroko rasakan mulai pudar dan keyakinan mulai terbentuk. Kuroko membiarkan Seijuurou menarik tubuhnya hingga dada mereka bertemu dan ia pun juga membiarkan saat Seijuurou menggendongnya begitu saja.

"Kita akan pergi ke tempat mereka, Tetsuya. Selama di sana aku harap kau tidak jauh-jauh dariku." Gumam Seijuurou di telinga Kuroko.

Kalimat perintah lembut yang diucapkan itu mendapat respon kecil dari Kuroko, remaja itu mengangguk kecil sebelum melingkarkan kedua lengannya pada leher Seijuurou dan menyandarkan kepalanya pada dada itu.

Seijuurou tersenyum kecil melihat tingkah Kuroko, namun ia tidak memberikan komentar apa-apa. Remaja berambut merah itu mengarahakan iris heterokromnya pada makhluk yang menjadi penyebab malapetaka di sore hari ini, setelah makhluk itu disegel dan semuanya kembali seperti semula maka yang akan ia lakukan pertama kali setelah tiba di Akashi manor adalah mandi lalu tidur, Seijuurou merasa begitu lelah sejak beberapa hari ini dan sekarang sudah mencapai puncaknya.

"Thy who posses no form, Thy who is majestic, Thy who is everything to us, I ask Thee lend my Thy blessing…..Show Thy wings, make us survive!" Seijuurou mulai menggumamkan sebuah kalimat singkat dalam bahasa Inggris kuno.

Sebuah angin yang kencang berputar di sekitar Seijuurou dan Kuroko untuk beberapa saat, namun hal itu tidaklah membuat Kuroko cemas seperti tadi sebab pada detik berikutnya kedua mata Kuroko terbelalak lebar ketika sebuah api merah mengelilingi tubuh belakang Seijuurou dan tidak lama kemuda ia melihat sepasang sayap yang begitu majestic muncul di punggung penerus keluarga Akashi tersebut.

Sayap yang dimiliki Seijuurou itu sangat elegan dengan warna merah darah, seperti seorang malaikat agung. Dan di bagian ujungnya Kuroko bisa melihat warna keemasan menggantikan warna merah, rasanya seperti ia melihat sebuah film aksi di mana seorang malaikat turun ke bumi untuk membantu manusia dari kekacauan yang ada.

"Aku tidak bisa menggunakan reflek hunter-ku untuk melewati tempat ini, jalan satu-satunya adalah terbang dari sini ke sana. Aku harap kau tidak keberatan, Tetsuya." Kata Seijuurou, ia melihat ke bawah untuk mengetahui ekspresi yang diberikan oleh Kuroko.

"Tidak apa, Akashi-kun. Aku akan berpegangan pada Akashi-kun kalau takut." Jawab Kuroko dengan jujurnya, membuat seulas senyum tipis muncul di wajah Seijuurou.

"Baiklah. Pegangan yang kuat, kita akan masuk ke medan perang sekarang. Siapkan dirimu sesuai apa yang kukatakan tadi."

Tanpa menunggu jawaban dari Kuroko, Seijuurou melebarkan sayapnya untuk membentang ke kedua arah sebelum ia terbang dari tempat itu bersama Kuroko yang ada di gendongannya dengan kecepatan yang sangat mengagumkan. Tidak lebih dari satu menit pun keduanya telah sampai di dalam gelembung yang dibuat oleh Midorima dalam radius beberapa kilometer, gelembung sihir ini merupakan ilusi untuk mencegah terjadinya kerusakan yang lebih parah di dunia manusia, bisa dibilang Midorima membawa tempat mereka ini ke pertengahan dimensi di mana kehancuran adalah hal yang bisa dihindari.

Seijuurou mendarat di samping tangan kanannya tersebut lalu melepaskan tubuh Kuroko dari gendongannya, pada saat itu juga sepasang sayap di punggung Seijuurou langsung lenyap.

"Akashi, aku tidak pernah menyangka kalau kita akan menghadapi seorang Celestial, ini begitu jauh dari prediksiku sebelumnya." Gumam Midorima ketika Seijuurou berdiri di sampingnya.

Seijuurou mendengus kecil sebelum melihat ke arah Aomine, Kise, dan Murasakibara yang bertahan dari serangan agresif sang Celestial serta menyerang Sagitarius pada saat yang sama. Selubung yang diciptakan oleh remaja berkacamata itu membantu dirinya untuk menghindar dari serangan yang agresif tersebut, sehingga konsentrasi sang Celestial hanya akan terpecah pada ketiga anggota Kiseki no Sedai lainnya.

"Prediksimu tidaklah selalu benar, Shintarou. Kemunculan Sagitarius di tempat ini bukanlah bagian dari rencana pihak Black Lily ataupun para tetua yang berada di balik layar. Ia datang ke sini karena tertarik dengan sihir Gem yang Tetsuya miliki, dan kurasa ini tidak akan menjadi yang terakhir kalinya makhluk Celestial akan datang." Balas Seijuurou, ia bisa merasakan rantai yang mengikat eternal di tangan kanannya bertambah erat.

"Kau sudah memprediksikan semua ini, Akashi?"

"Tidak, hanya instingku mengatakan hal demikian. Dan tidak pernah sekalipun instingku berkata salah." Sahut Seijuurou, ia menoleh ke arah Kuroko. "Mereka selalu benar karena aku adalah mutlak."

Midorima mengangguk kecil. "Dan instingmu itulah yang menyelamatkan kita dari serangan mematikan Haizaki Toru dua tahun yang lalu. Aku tidak akan meragukannya lagi."

"Baguslah kalau kau sudah mengambil keputusanmu, Shintarou."

Kedua anggota Kiseki no Sedai tersebut tidak mengatakan satu patah kata pun setelah pembicaraan di antara mereka terhenti, kedua manik yang mereka miliki fokus ke atas. Dari tempat mereka berdiri, Seijuurou dan Midorima serta Kuroko bisa melihat Aomine menghindari serangan agresif yang Sagitarius berikan dengan melompat ke sebelah gedung, dan saat perhatian sang Celestial tertuju pada Aomine, dengan sigap Kise mengayunkan katananya dan menghancurkan tameng keemasan yang berada di tangan sang Celestial sementara Murasakibara sendiri meninju selubung sihir dengan tangan kanannya yang berselimut aura berwarna ungu. Hantaman yang diberikan Murasakibara membuat selubung perlindungan yang ada di sekeliling makhluk Celestial tersebut retak sedikit, namun tidak hancur. Tapi serangan yang bertubi-tubi itu tidak membuat pertahanan yang Celestial semakin menurun, bahkan anehnya menjadi lebih kuat.

Melihat semua ini membuat Seijuurou menyipitkan kedua matanya, selubung yang melindungi Sagitarius sepertinya tidak berfungsi sebagai pelindung saja seperti armor. Namun dari apa yang kedua matanya tangkap, benda tidak kasat mata itu menyerap energi yang berasal dari langit, sebuah partikel halus yang tidak salah adalah sihir masuk ke dalam perisai sihir yang berupa selubung sihir tersebut, tidak heran kalau penjagaan serta serangannya menjadi lebih kuat ketika ia diserang oleh Kise dan Aomine. Makhluk itu tidak akan bisa dikalahkan kalau selubungnya tidak hancur, bahkan dengan pukulan yang Murasakibara berikan juga tidak berdampak apa-apa, padahal remaja berambut ungu itu memiliki serangan yang sangat kuat dibandingkan Kiseki no Sedai lainnya, dan ketika serangan tersebut tidak mambuat pertahanan makhluk itu hancur berarti hal ini menunjukkan betapa kuatnya makhluk Celestial yang mereka hadapi.

Midorima menoleh ke arah Seijuurou, ia ingin bertanya akan apa yang mau Seijuurou lakukan, namun pertanyaan itu tertahan di lidahnya saat kedua matanya menangkap sebuah seringai yang muncul di bibir Seijuurou. Anak laki-laki berambut merah ini sepertinya memiliki rencana lain, dan hal itupun tidak akan membuat Midorima terkejut lagi.

"Tentu aku punya, Shintarou." Kata Seijuurou yang menjawab pertanyaan yang belum diutarakan oleh Midorima.

Sebuah bunyi dentingan rantai yang beradu satu sama lain menarik perhatian Kuroko dan Midorima untuk menoleh ke arah Seijuurou, mereka melihat pemimpin dari Kiseki no Sedai yang ditakuti tersebut mengambil dua langkah ke depan sebalum mengacungkan tangan kanannya ke arah sang Celestial. Kedua mata heterokrom milik Seijuurou sama sekali tidak bergeming, bahkan konsentrasi yang tidak terbaca di sana pun terlihat begitu tenang seperti air danau yang tidak beriak sedikitpun. Rantai yang mengikat lengan kanan Seijuurou tiba-tiba memendek sampai panjangnya hanya sepuluh senti saja berada di bawah Eternal, dan ketika Seijuurou menarik pelatuk senjatanya tiba-tiba sebuah cahaya berwarna merah melesat dari ujung lubang tembak eternal dan langsung melesat dengan kecepatan yang begitu memukau sampai menghantam selubung sihir yang menyelubungi makhluk Celestial tersebut.

Bunyi bedebum yang keras pun terdengar dan diiringi oleh sesuatu yang pecah setelahnya, mereka semua bisa melihat kepulan asap putih dan cahaya yang sedikit redup menyelimuti tubuh Sagitarius saat peluru eternal menghantam dirinya. Saat kepulan asap itu menghilang, sesuatu yang menakjubkan pun bisa mereka lihat. Selubung sihir yang melindungi tubuh sang Celestial terlihat seperti sebuah kaca yang retak dan lambat laun langsung hancur layaknya cermin yang dipukul oleh benda keras.

"Sekuat apapun Sagitarius, kalau pertahanan utamanya serta sumber sihirnya kita hancurkan. Dia tidak akan lebih dari sebuah mainan robot yang kehilangan baterainya." Kata Seijuurou, ia mendispel eternal dari genggamannya sehingga membuat senajatanya tersebut menghilang dari pandangan mereka semua.

Midorima menaikkan kacamatanya sekali lagi dengan jari telunjuknya, "Harusnya aku tahu itu." Gumam remaja berambut hijau tersebut.

Dari atas, Kise dan yang lainnya bisa melihat kedua anggota Kiseki no Sedai lainnya bersama Kuroko. Sebuah senyum yang besar mengembang di wajah sang pengguna katana tersebut.

"Kerja yang bagus, Akashicchi!" Teriak Kise dari atas. "Baiklah, kita serang makhluk ini sekali lagi sebelum Akashicchi menyegelnya."

Aomine memberikan sebuah anggukan, tanpa mengatakan apa-apa lagi remaja berkulit gelap itu melambaikan kedua tangannya ke samping. Ia menarik peredaran angin yang ada di sekitarnya dan mengarahkan hembusan alam yang ia rasakan untuk berfokus ke padanya. Hembusan yang ditarik gravitasinya itu membuat Aomine, Kise, dan Murasakibara bisa bergerak secara leluasa di udara tanpa takut jatuh.

"Baiklah, Kise dan Murasakibara… Kita akan memulainya!" Ujar Aomine yang mengambang di udara tidak jauh dari kedua rekannya.

"Oke, Aominecchi!"

"Baiklah, Mine-chin."

Dua orang knight sekaligus penyerang dari Kiseki no Sedai mengatur posisi mereka sementara sang guard (penjaga) dari Kiseki no Sedai pun akan melindungi mereka berdua dari serangan Sagitarius yang mengarah kepada Aomine dan Kise. Dalam hitungan detik, secepat mata memandang Kise sudah beradu pedang dengan Sagitarius sementara Aomine sudah memburu dan menjerat tangan Sagitarius yang lain menggunakan ikatan angin yang ia kuasai. Tidak hanya itu saja, panah-panah terkutuk yang muncul dari udara kosong pun mulai menyerang mereka berdua pada saat yang sama, namun Murasakibara yang telah memiliki peran sebagai penjaga pun turun tangan, ia mematahkan semua serangan yang ada dengan sabetan tangan kanannya dan mematahkannya dengan mudah. Serangan demi serangan dari kedua belah pihak yang bertentangan itu pun terjadi dengan begitu dahsyatnya dan cepat.

Kuroko melihat semua itu dengan takjub, tidak pernah sekalipun ia melihat sesuatu yang seperti ini. Entah mengapa hal ini membust kedua tangannya membentuk sebuah kepalan dan api semangat pun membara dari dalam tubuhnya. Sang emperor dan sang shooter (yang juga merupakan bishop dalam papan yang dimiliki Seijuurou) mengawasi ketiga rekan mereka dari tempat mereka berdiri. Midorima yang mendapat anggukan dari Seijuurou pun mulai menggumamkan sebuah mantra dalam bahasa latin kuno, ia meletakkan telapak tangannya di depan wajahnya sendiri untuk beberapa saat.

Beberapa buah benang-benang tipis yang merupakan benang sihir pun muncul di sekeliling Midorima, tidak hanya itu saja namun sebuah akar yang berasal dari dalam tanah juga ikut muncul dan menopang tubuh mereka bertiga (Midorima, Seijuurou, dan Kuroko) untuk pergi ke atas. Saat Midorima memajukan telapak tangannya ke depan, benang-benang sihir tadi langsung maju ke depan dan mengikat tubuh sang makhluk Celestial bersamaan dengan akar pohon itu membawa mereka bertiga semakin mendekat sebelum berhenti tujuh meter dari posisi Sagitarius dan yang lainnya.

Benang-benang sihir tadi bergabung menjadi satu sama lainnya sebelum diselimuti oleh semacam cahaya berwarna hijau, ketika cahaya itu pudar tempat benang yang bersatu tadi digantikan oleh sebuah rantai dengan berwarna senada yang mengikat tangan kanan sang Celestial. Ujung rantai yang bebas dipegang oleh tangan kanan Midorima sebelum tangan kirinya bergabung.

"Emerald Chain sukses." Gumam Midorima, ia mencoba untuk meredam gerakan yang Sagitarius berikan.

"Aku juga tidak akan kalah, Mido-chin." Kata Murasakibara yang masih melayang di sebelah kiri Sagitarius dan mematahkan semua serangannya.

Murasakibara membiarkan dirinya terhempas sejauh lima meter ke belakang saat serangan dari makhluk tadi menghantamnya, dengan gerakan sigap ia pun mendarat pada atap sebuah pertokoan lalu menggumamkan hal sama seperti yang digumamkan oleh Midorima tadi. Sebuah cahaya berwarna ungu yang berasal dari urat bumi pun langsung mengikat tangan kiri Sagitarius sementara Murasakibara menangkap ujung cahaya satunya dengan erat, ketika cahaya itu hilang sebuah rantai berwarna ungu pun berada di sana.

"Aka-chin, aku sudah mengikat tangan kiri makhluk ini. Apa nanti aku akan dapat maiubo yang banyak?" tanya Murasakibara yang melihat ke arah 'daddy'-nya itu.

Seijuurou yang masih memegang dadanya itu pun menyeringai kecil. "Tentu, Atsushi, setelah semua ini berakhir kau akan dapat maibu kesukaanmu dengan rasa baru." Jawab Seijuurou.

"Oke, Aka-chin. Akan kupastikan makhluk ini tidak akan bisa bergerak lagi."

Aomine yang tidak mau ketinggalan pun akhirnya mendarat pada salah satu cabang pohon besar yang dibuat Midorima tadi. Remaja itu menggumamkan mantra sama seperti kedua rekannya beberapa saat yang lalu, pergerakan angin yang ada di sekitar mereka bergerak semakin cepat sebelum angin tadi menipis dan langsung mengikat keempat kaki sang Calestial dengan erat, lilitan angin tadi berganti menjadi rantai yang berwarna biru gelap dan ujung bebasnya pun dipegang oleh Aomine.

"Sapphire Chain sukses" Gumam Aomine dengan seringai yang khas muncul di wajahnya.

Roh penjaga dari pintu gerbang mistis yang ada di langit utara semakin memberontak untuk melepaskan tubuhnya dari ketiga rantai yang membelit tubuhnya, namun ia tidak bisa melakukannya sebab selain mengikat rantai tersebut juga meredam aliran sihir yang ada di tubuhnya.

Seijuurou memutar kedua matanya karena melihat hal bodoh dari penjaga tersebut, ia menengadahkan tangan kanannya ke atas dan menggumamkan hal yang sama. Langit yang tadinya berwarna cerah kini berubah menjadi kelabu yang diiringi oleh kilat di mana-mana. Tiba-tiba raungan yang keras pun terdengar saat cahaya yang berwarna merah menyala turun dari langit, cahaya tersebut terbuat dari api merah yang menyala sebelum mengikat leher Sagitarius dengan sangat eratnya, rantai api milik Seijuurou telah mengunci pergerakan makhluk tadi. Ujung rantai yang satunya tertanam kuat di atas langit.

"Cih… keempat rantai pengikat sihir ini tidak akan bertahan lama, kita membutuhkan rantai kelima dari Kise." Kata Aomine, ia menggeram penuh kekesalan karena Sagitarius tidak berhenti meronta-ronta, ia menggenggam ujung rantainya lebih erat lagi.

Midorima yang mengalami kesulitan sama seperti Aomine pun juga merasa sedikit kesal, ia menarik tangan kirinya yang memegang rantai dengan begitu erat.

"Apa yang kau katakan, Aomine… Apa kau lupa akan hal itu, nanodayo!" Teriak Midorima yang memberikan glare pada Aomine untuk tutup mulut.

Aomine yang sadar akan apa yang telah ia lakukan langsung membuang muka, ia tidak ingin melihat wajah yang lainnya saat ini. Ia lupa kalau saat ini partnernya tengah berada dalam keadaan yang rapuh.

Perkataan yang tajam itu tentu tidak luput dari perhatian Kise yang berdiri tidak jauh dari Aomine. Kepalanya menunduk secara singkat, meruntuki dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apa-apa pada saat seperti ini. Ia ingin mengutuk Aomine, Black Lily, serta Haizaki Toru, namun dari semuanya yang paling ingin ia salahkan adalah dirinya sendiri karena kehilangan sesuatu yang yang sangat penting bagi jiwanya. Kehilangan sihir bagi seorang hunter sama artinya dengan mati, dan itulah yang Kise hadapi sekarang.

Apa yang dilakukan oleh Kise itu tidak luput dari perhatian Seijuurou, kedua mata heterokromnya memicing secara singkat. Ia memang tidak suka dengan apa yang terjadi, namun ia tidak ingin hal itu mengganggu konsentrasi mereka saat ini.

"Daiki dan Shintarou, kalian berdua berhentilah berdebat atau akan kulipat gandakan menu latihan pertahanan sihir kalian setelah semua ini berakhir. Ryouta, berhentilah menyalahkan dirimu atau kau akan mendapat konsekuensinya dariku nanti." Sebuah kalimat yang begitu dingin dan tidak manusiawi itu keluar dari mulut Seijuurou begitu saja, membuat orang yang dipanggil namanya tadi merinding hebat.

"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Kise-kun, Akashi-kun?" tanya Kuroko yang penasaran setelah melihat semua itu.

Seijuurou tidak menjawab pertanyaan Kuroko secara langsung, wajahnya yang tidak berekspresi itu pun menjadi lebih dingin dari biasanya, tapi Kuroko bisa melihat kekesalan yang ada di sekeliling tubuh Seijuurou. Apalagi dengan tangan kiri remaja berambut merah tersebut tergenggam membentuk kepalan yang terlihat begitu erat di samping tubuhnya.

"Tetsuya, aku ingin kau menyegel Sagitarius sekarang juga. Keempat rantai kami tidak akan bertahan lama tanpa rantai kelima milik Ryouta, jadi kita tidak akan bisa menahannya lebih lama lagi." Kata Seijuurou, alih-alih ia menjawab pertanyaan Kuroko, remaja itu malah memberikan perintah seperti biasanya.


"Tetsuya, aku ingin kau menyegel Sagitarius sekarang juga. Keempat rantai kami tidak akan bertahan lama tanpa rantai kelima milik Ryouta, jadi kita tidak akan bisa menahannya lebih lama lagi." Kata Seijuurou secara tiba-tiba kepada Kuroko yang berdiri di sampingnya.

Kedua iris biru langit milik Kuroko melebar secara dramatis setelah kalimat tadi meluncur dari mulut Seijuurou. Gumpalan kecil yang serasa tercekat di leher Kuroko pun mulai ia rasakan bersamaan dengan keringat dingin yang membasahi punggungnya, apa yang membuatnya takut beberapa saat yang lalu pun kini semakin menjadi-jadi.

Sekarang? Tapi…. Kuroko menghentikan kalimat itu untuk terucap dari pikirannya. Meskipun tadi dirinya mengatakan ia siap untuk menyegel Sagitarius, tapi perasaan takut masih hinggap di dalam dirinya. Rasanya hampir mustahil untuk dipercaya, Kuroko Tetsuya yang seorang remaja normal dengan rasa cinta pada olahraga basket kini hidupnya harus berubah. Seijuurou mengatakan kalau Kuroko memiliki sihir di dalam tubuhnya, tentu Kuroko tidak ragu akan hal itu apalagi setelah melihat dirinya bersinar beberapa saat yang lalu. Namun mempercayai dirinya memiliki sihir dan dirinya yang harus melakukan penyegelan adalah dua hal yang berbeda, dan perasaan ragu pun mulai menyelimuti hati Kuroko yang bimbang.

Pertanyaan seperti 'apa aku bisa' dan 'aku tidak ingin membuat Akashi-kun dan yang lainnya kecewa' hinggap di pikiran Kuroko. Remaja itu menundukkan kepalanya, ia benci akan dirinya yang selalu dipenuhi keragu-raguan seperti ini.

"Kuroko, apa yang kau lakukan, nanodayo? Cepatlah segel Sagitarius, kami tidak bisa bertahan lama lagi, nanodayo!" ujar Midorima yang semakin kelelahan itu.

Namun perkataan dari remaja berambut hijau tersebut diabaikan oleh Kuroko, ia masih berada dalam ambang keraguan dan penyangkalan yang tidak lepas dari hatinya. Dan kata-kata itu semakin membuat hati Kuroko bimbang. Apa yang harus kulakukan?

Sebuah genggaman yang lembut Kuroko rasakan menyelimuti tangan kirinya yang terkepal tanpa sadar, membuat Kuroko menoleh pada Seijuurou yang masih tidak memandangnya, meskipun begitu tapi tangkupan tangan yang hangat itu masih menyelimuti miliknya. Entah kenapa hal yang seharusnya membuat Kuroko risih malah menenangkan rasa panik yang sedari tadi bergejolak di dalam hatinya.

"Kau tidak perlu takut, Tetsuya. Semuanya akan baik-baik saja." Gumam Seijuurou yang masih tidak menatap Kuroko. "Berhasil maupun tidak, Tetsuya tidak perlu khawatir karena aku akan tetap berada di sampingmu."

Sesaat setelah mengatakan itu Seijuurou menoleh ke arah Kuroko dengan seulas senyum kecil yang tersungging di bibirnya, satu gerakan yang membuat seorang Kuroko Tetsuya membeku pada apa yang ia bimbangkan dalam hatinya. Kedua mata Kuroko terbelalak lebar ketika kalimat yang Seijuurou ucapkan begitu mirip dengan sebuah kalimat yang dulu pernah ia dengar, entah kapan namun dulu sekali. Rasanya seperti sebuah kenangan lama bangkit lagi serta rasa nostalgia menyelimuti tubuh Kuroko, bahkan tangan yang menggenggam jemari kirinya itu pun menjadi semakin erat untuk memberikan perlindungan yang Kuroko butuhkan saat ini.

Kuroko bisa mendengar erangan keras dari Sagitarius yang mencoba berontak ataupun sumpah serapah yang Aomine keluarkan saat ia terpelanting ke belakang ketika makhluk Celestial tersebut meronta semakin keras.

"Brengsek! Berhentilah bergerak!" Teriak Aomine, ia menggeretakkan giginya saat tarikannya tadi mendapat perlawanan yang begitu kuat. "Tetsu, apa yang tengah kau lakukan? Cepatlah segel makhluk sialan ini!"

"Dia bukan makhluk sialan, Aominecchi." Gumam Kise yang berada di samping rekannya tersebut, tidak lagi merasa terkejut dengan perkataan seorang Aomine Daiki.

"Berhentilah berteriak, Aomine!" Kata Midorima.

Aomine yang berdiri sedikit lebih jauh dari Midorima memberikan glare ganas padanya. "Diam kau, four eyes freak!" Umpatnya, ia sudah merasa kesal karena hal ini dan ditambah dengan Midorima yang memerintahnya semakin membuat Aomine menjadi tambah kesal.

Alis kiri Midorima berkedut, genggamannya pada rantai yang ia pegang itu semakin erat seiring dengan rasa kesalnya pada Aomine.

"Aku akan membunuh ganguro itu setelah semua ini berakhir, nanodayo." Gumam Midorima yang mencoba menghiraukan sebutan Aomine padanya.

Baik Midorima dan Aomine saling melemparkan tatapan ganas pada satu sama lain, meskipun begitu konsentrasi mereka tidak terpecah dengan merantai makhluk Celestial yang ada di sana.

"Aka-chin, rantaiku mau patah." Gumam Murasakibara yang membuat lainnya terkejut, mengakhiri glaring contest antara Midorima dengan Aomine.

"APA?!" Aomine, Kise, dan Midorima berteriak dengan kompaknya.

Murasakibara yang masih memegang rantainya dengan muka malas menatap ke arah mereka bertiga. "Tidak bisa membantu lagi, Sagitarius merontanya terlalu kuat."

Kuroko memejamkan kedua matanya, ia tidak boleh membiarkan rasa panik menghampirinya lagi. Ia harus menyegel makhluk ini sebelum rantai sihir yang dipegang oleh Murasakibara putus dan diikuti oleh rantai lainnya. Genggaman yang diberikan oleh Seijuurou semakin erat, dan tanpa sadar keduanya menautkan jemari mereka antara satu sama lain.

CKRAS….Rantai sihir elemen tanah yang dipegang oleh Murasakibara pun putus, membuat tangan kiri Sagitarius bebas. Hal ini tentu membuat semuanya kecuali Seijuurou dan Kuroko terkejut bukan main. Penjaga gerbang mistis langit utara itu semakin gencar melakukan pemberontakan, dan rantai yang mengikatnya pun semakin menipis seperti rantai milik Murasakibara, tinggal hitungan menit saja ia akan terbebas dan menghabisi semuanya.

Kejadian itu berlalu begitu cepat, detik kemudian setelah tangan Sagitarius lepas dari jeratan rantai yang dipegang oleh Murasakibara, tangan kirinya langsung melepaskan anak panah cahaya ke arah Kuroko yang ia yakini akan menyegelnya nanti. Semuanya menoleh dengan begitu cepat ketika anak panah tadi melesat ke arah Kuroko.

"KUROKOCCHI!"

"TETSU!"

"Kuro-chin."

"KUROKO!"

Kuroko menatap semua itu dengan horror saat benda yang tajam dan kelihatan berbahaya tersebut melesat ke arahnya, dalam hitungan detik Kuroko akan tewas di tempat. Namun sebelum benda tadi menancap ke jantungnya, Kuroko merasakan tubuhnya ditarik ke samping dan sebuah tubuh melindunginya, langsung mendekapnya dengan erat.

"AKASHI!" Midorima berteriak, suaranya dilapisi oleh sebuah keterkejutan dan rasa takut di sana.

Kuroko merasakan sebuah cipratan cairan yang kental mengenai wajahnya, ia membuka kedua matanya yang tertutup secara tidak sadar tadi, dan saat ia melihat warna merah keluar dari tangan kiri Seijuurou, kedua matanya langsung menatap dengan penuh horror. Di sana Seijuurou melindungi tubuhnya dengan tangan kirinya menangkap anak panah tersebut. Namun Seijuurou tetaplah manusia meskipun ia sangat kuat, anak panah dari Sagitarius merupakan anak panah yang sangat kuat dan siapapun yang menggenggamnya begitu saja pasti tangan mereka akan remuk setelah merasakan tekanan sihir yang kuat di sana. Dan Seijuurou yang menangkap benda itu dari melukai Kuroko pun bisa merasakan lengan kirinya begitu sakit seperti patah sementara telapak tangan kirinya serasa terkelupas, dan bila melihat cairan kental yang merembes dari sana berarti memang benar kalau kulitnya terkelupas begitu saja.

"A-Akashi-kun….ta-tanganmu." Kata Kuroko yang tidak sanggup mengatakan apa-apa.

Seijuurou menoleh kepada Kuroko dan memberikan tatapan singkat. "Tidak apa, Tetsuya. Ini hanya luka kecil." Jawab Seijuurou, ia mematahkan anak panah yang tergenggam di tangan kirinya yang berdarah tersebut, membuat benda tadi menghilang begitu saja. Luka kecil yang dikatakannya merupakan luka besar yang mampu merampas nyawanya, terlebih lagi dengan banyaknya darah yang keluar dari tangan Seijuurou. Seijuurou harap arterinya tidak terpotong saat itu juga.

"Ah… darahnya banyak sekali." Gumam Seijuurou yang melihat keadaan tangan kirinya, ia mencoba menggerakan jari kelingking, jari manis, dan jari tengahnya namun kelihatannya mereka tidak bisa bergerak, sepertinya patah karena hantaman yang begitu keras tadi.

Seijuurou menghela nafas berat, rasa sakit seperti ini tidaklah begitu ia pikirkan sebab ia sudah terbiasa mengalaminya sebagai seorang hunter. Namun hal ini berbeda dengan Kuroko, ia melihat Seijuurou mengeluarkan darah yang begitu banyak sementara lengan kirinya membengkok sedikit tidak normal, dan semua ini adalah salah Kuroko yang tidak segera menyegel makhluk tadi.

"Akashi, tanganmu!" Ujar Midorima yang panik.

Seijuurou menoleh ke arah rekannya dan memberikan anggukan. "Tidak apa, Shintarou. Daripada kau mengkhawatirkanku, lebih baik kau khawatirkan keadaan rantaimu."

"Akashicchi…" Teriak Kise, ia tidak bisa ke sana untuk melihat keadaan pemimpinnya tapi kekhawatiran tergambar jelas di wajah sang model tersebut.

Remaja berambut merah tersebut menghiraukan tatapan penuh kekhawatiran yang diberikan oleh lainnya, namun ia lebih memfokuskan perhatiannya pada Kuroko yang masih tidak bergerak sedari tadi.

"Tetsuya." Panggil Seijuurou, tapi panggilan tersebut dihiraukan oleh Kuroko yang masih membeku.

Semua ini adalah salahku, pikir Kuroko. Ia menundukkan kepalanya, membuat bayangan poni rambutnya menyembunyikan kedua matanya sehingga Seijuurou tidak bisa melihat ekspresi yang ada pada wajah Kuroko tersebut. Daripada mengkhawatirkan keadaannya, Seijuurou lebih khawatir pada Kuroko, ia tidak ingin anak itu menyalahkan dirinya sendiri akibat keadaan Seijuurou. Ini adalah keputusan Seijuurou sendiri untuk melindungi Kuroko, bahkan kalau Kiseki no Sedai lainnya berada di posisi Seijuurou saat ini pasti mereka akan melakukan hal yang sama dengannya.

CKRAS…… bunyi rantai yang putus pun terdengar lagi.

"SHIT!" Umpat Aomine, rantai yang ia pegang akhirnya putus juga. Remaja itu langsung menarik Kise mendekat pada tubuhnya dan membawanya menghindar dari lemparan bola sihir yang Sagitarius lemparkan padanya.

"Demi, Oha-Asa… ini tidak mungkin, nanodayo" Kata Midorima yang masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat sendiri.

Jadi ini kemampuan dari penjaga gerbang mistis yang sesungguhnya, bahkan rantai sihir yang berasal dari empat klan terkuat pun tidak bisa menahannya. Dan ini baru satu penjaga yang kami hadapi! Midorima menjerit dalam hati. Tidak hanya Midorima, namun yang lainnya kecuali Seijuurou dan Kuroko pun memiliki pemikiran yang sama.

Yang tersisa hanyalah rantai milik Midorima dan Seijuurou saja, kalau kedua rantai itu putus maka habislah nyawa mereka, tidak hanya itu saja tapi nyawa manusia yang masih terlindungi oleh selubung sihir yang Midorima ciptakan pun juga tidak akan selamat. Mimpi buruk mereka pun terjadi saat rantai milik Midorima hancur berkeping-keping, ia tidak memiliki tenaga untuk menahannya lagi sementara makhluk itu semakin kuat melawan. Sagitarius menatap ke arah Midorima, Seijuurou, dan Kuroko dengan sengit. Ketika tangan kirinya bebas, ia melemparkan tembakan sihir berwarna kuning keemasan ke arah mereka.

"Aku tak akan membiarkanmu menyentuh Aka-chin dan Kuro-chin lagi." Ujar Murasakibara, ia melompat dari tempatnya berdiri dan dengan cepat remaja itu muncul di hadapan mereka bertiga.

Dengan pertahanannya yang kuat Murasakibara menepis serangan tadi, membuat tembakan tersebut terlempar ke arah gedung sebelah dan menghancurkannya menjadi kepingan-kepingan kecil. Kedua mata Murasakibara memandang tangan Seijuurou yang terluka, remaja itu langsung melepaskan blazer yang ia kenakan dan mengikat tangan kiri Seijuurou untuk menghentikan perdarahan. Warna merah mulai tampak pada blazer Murasakibara yang ia gunakan untuk membalut luka Seijuurou.

"Aka-chin mengeluarkan banyak darah." Gumam Murasakibara sambil mengikatkan blazernya pada tangan kiri Seijuurou.

Seijuurou menggelengkan kepalanya, "Semuanya baik-baik saja, Atsushi."

"Tidak baik, Aka-chin. Aka-chin bisa tewas karena kehabisan darah." Kata Murasakibara lagi, ia pun menoleh ke arah Kuroko. "Kuro-chin?"

Panggilan dari Murasakibara pun juga dihiraukan oleh Kuroko, hal ini membuat Seijuurou memberikan tatapan penuh tanda tanya pada remaja bertubuh lebih kecil darinya tersebut. Namun dengan cepat ia mengalihkan tatapannya dari sosok Kuroko untuk menatap ke langit, di mana pangkal rantainya masih tertanam. Benda itu tidak akan bertahan lama dan bila rantai miliknya itu putus, maka mau tidak mau Kiseki no Sedai harus berjuang habis-habisan untuk mengalahkan monster yang melebihi segala-galanya ini. Kalau mereka semua bisa selamat, Seijuurou berjanji akan memberi latihan ekstra pada yang lainnya serta dirinya sendiri agar suatu saat bila kesebelas makhluk Celestial lainnya seperti Sagitarius muncul untuk mencari Kuroko, mereka bisa mengalahkannya dengan mudah. Level penjaga gerbang mistis memang jauh lebih tinggi dari Black Lily, tidak heran kalau Haizaki menginginkan mereka semua berada dalam kekangannya.

Ekspresi horror Kiseki no Sedai (kecuali Seijuurou maupun Murasakibara) terlihat begitu jelas ketika rantai api berwarna merah yang berasal dari langit putus di bagian tengahnya sebelum menghilang tak bersisa, membuat Sagitarius lepas dari kekangan Kiseki no Sedai.

"Tidak mungkin-ssu… rantai sihir Akashicchi hancur!" Gumam Kise yang sama terkejutnya dengan yang lain.


Makhluk Celestial itu menggeram dengan suara yang sangat keras, cukup untuk memekakkan telinga. Aura yang begitu gelap menyelimuti Sagitarius dan ia pun siap menyerang orang-orang yang berani sekali memerangkap dirinya. Ia siap membunuh semuanya sampai tidak bersisa.

Ketika semua Kiseki no Sedai panik, Seijuurou sama sekali tidak bergeming. Sebuah seringai tiba-tiba muncul di bibirnya sementara kedua matanya berkilat tajam. "Semuanya akan dimulai sebentar lagi." Gumamnya pelan pada dirinya sendiri.

Sagitarius mengeluarkan raungan yang sangat keras untuk kedua kalinya, kedua tangannya men-summon sihir yang besar, bahkan cahaya yang berwarna kuning keemasan pun mulai berkumpul pada telapak tangan Sagitarius. Dua detik berikutnya, bola sihir yang berukuran begitu besar siap ia gunakan untuk memanggang Kiseki no Sedai sampai tidak bersisa, ia memasang kuda-kuda dan siap melemparnya. Namun begitu ia akan melempar serangan pembunuhnya, tiba-tiba Sagitarius menemukan dirinya tidak bisa bergerak.

"ARRRRGGGHHHH…..!" Sagitarius berteriak penuh kemarahan untuk sekali lagi.

Air yang entah dari mana asalnya itu tiba-tiba muncul dari bawah, benda itu melingkari tubuhnya dan langsung mengeras membentuk kristal es yang padat dan dingin, memerangkap tubuh Sagitarius di dalam sana. Tidak hanya itu saja, detik berikutnya beberapa rantai tipis berwarna biru muda muncul dari udara yang kosong dan melilit krital air di mana tubuhnya terperangkap dengan begitu erat, membuatnya tidak bisa bergerak bebas pada saat itu juga.

Ketika makhluk Celestial itu mencari siapa yang melakukan semua ini padanya, tatapan matanya tertuju pada sosok anak laki-laki berambut biru langit yang masih menundukkan kepalanya. Anak itu adalah sumber dari semua ini, dan pada saat ia mengangkat kepalanya sepasang mata berwarna biru langit menatap Sagitarius dengan penuh amarah di dalamnya.

Sebuah simbol tiba-tiba muncul di atas kepala Kuroko, berjarak dua meter dari atas tempat anak itu berdiri. Simbol tersebut bercahaya dengan warna biru langit yang teduh dan memiliki bentuk yang sangat indah, sebuah mahkota yang dililit oleh sepasang sayap malaikat dengan huruf petir dalam bahasa Celestial menghiasi bagian bawahnya muncul secara tiba-tiba. Semua keajaiban itu tidak berhenti di sana saja, sebuah benda kecil muncul dari balik seragam yang dikenakan oleh Kuroko dan saat ini langsung muncul di hadapan mereka meski masih tergantung oleh sebuah liontin yang melingkar di leher Kuroko. Benda itu adalah sebuah kristal kecil berbentuk teardrop berwarna biru langit, dan detik berikutnya kristal tersebut juga mengeluarkan cahaya dengan warna senada dengan simbol yang ada di atas kepala Kuroko. Kristal yang merupakan pendant dari liontin Kuroko melayang di hadapan anak itu dengan memancarkan sinar yang membuat siapapun, bahkan Sagitarius sekalipun takjub dibuatnya. Namun kejutan demi kejutan tidak berhenti di sana, simbol mahkota bersayap tadi mengecil lalu terbang memasuki kristal milik Kuroko yang masih bersinar, membuat simbol tadi muncul di dalam kristal biru langit itu.

Detik berikutnya setelah simbol sihir dan kristal bersatu, rantai yang mengikat kristal tempat Sagitarius terperangkap pun ikut bersinar dengan warna yang senada dengan kristal milik Kuroko.

"Kau sudah keterlaluan. Melukai orang-orang yang sudah kuanggap sebagai teman." Gumam Kuroko, kedua matanya berkilat yang menunjukkan kalau ia tengah marah.

Sungguh pemandangan yang membuat orang terpesona melihatnya. Bahkan Kiseki no Sedai minus Seijuurou pun terperangah ketika melihat apa yang dilakukan Kuroko ini. Mereka beranggapan kalau Kuroko adalah individual yang lemah, namun setelah melihat semua ini tentu saja mengubah pendapat mereka. Simbol tadi, kristal yang berwarna biru langit, serta pertunjukan sihir yang luar biasa tersebut tidak bisa memungkiri lagi kalau Kuroko Tetsuya adalah pemilik yang sah dari kristal Gem, benda yang diciptakan dari gabungan sihir lima pendiri untuk mengekang dua belas penjaga gerbang mistis dan menutup gerbang itu sebagaimana mestinya.

"Kuroko/Tetsu/Kurokocchi/Kuro-chin." Gumam keempat Kiseki no Sedai bersamaan.

Kuroko terlihat begitu berbeda dengan yang meraka lihat tadi, ia terlihat lebih kuat dengan sihir yang mengitari tubuhnya.

Seijuurou tertawa kecil. "Prediksiku maupun instingku memang tidak pernah gagal." Gumam Seijuurou, ia bisa merasakan simbol miliknya muncul untuk mendampingi milik Kuroko. Cahaya merah dari simbol majestic milik Seijuurou pun muncul begitu saja, menembus lilitan blazer Murasakibara yang ada di tangan kirinya.

Jadi semua yang Okaa-sama lakukan memang memiliki alasan yang kuat. Pikir Seijuurou, seringai tipis yang muncul di wajahnya menghilang dan digantikan oleh senyuman kecil yang hampir tidak terdeteksi kalau mereka tidak melihatnya dengan seksama.

Aku siap untuk melakukan ini. Pikir Seijuurou dan Kuroko bersamaan saat keduanya menatap sosok Sagitarius yang terperangkap.

Tatapan takjub yang menghiasi wajah Kiseki no Sedai ketika mereka melihat Kuroko dan Seijuurou. Satu pertanyaan menghiasi benak mereka: Apa yang terjadi sebenarnya di sini?


"Ketika langit sudah mendapatkan yang terpilih sebagai Emperor, dan Bumi juga telah memilih sang Empress. Ada satu hal yang perlu Seijuurou ingat, jangan pernah membuat mereka marah."


AN: Terima kasih sudah mampir dan membaca

Author: Sky