CHANBAEK FANFIC PARADE – SPECIAL UPDATE
TO CELEBRATE
#ChanBaekID 4th ANNIVERSARY
26.05.2012 – 26.05.2016
.
.
.
###
THE IDENTITY
Chapter 10 (end) – Trust Me
Main Casts : Byun Baekhyun & Park Chanyeol
Support Casts : Oh Sehun, Cho Kyuhyun, Jessica Jung, Kim Yeri (RV), Kim Jongin, Do Kyungsoo, Xi Luhan
Genre : Romance, Crime/Action, School Life
Rate : M
Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy
###
.
.
.
Terkadang kau jatuh cinta pada seseorang yang tak pernah kau bayangkan―bahkan seseorang yang tak kau harapkan seumur hidupmu, tapi itu tak membuatnya salah.
.
.
Baekhyun menelan ludahnya sesaat, kemudian menatap obsidian Chanyeol. "Apa yang ingin kau katakan setelah kita berciuman malam itu?"
Detik berikutnya, adalah keheningan yang menyelimuti kamar Baekhyun. Tak ada yang bergerak, kedua pasang netra remaja itu masih saling menatap, namun dengan cara yang berbeda. Obsidian si mungil lebih didominasi rasa penasaran, sementara yang lebih tinggi dilimpungi kebingungan. Meski pertanyaan Baekhyun terdengar begitu sederhana, namun bukan perkara mudah bagi Chanyeol untuk menjawabnya.
"Bolehkah aku berkata jujur padamu?" Chanyeol balik bertanya, membuat Baekhyun kebingungan.
"Maksudmu?"
Chanyeol tak langsung menjawabnya. Si telinga peri itu lantas bersimpuh di hadapan si mata puppy, menggenggam tangannya, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Semula, tak satupun tindakanku berada di ambang keraguan, Baek. Baik itu berbohong, memanipulasi, ataupun membunuh, aku selalu yakin dengan apa yang kulakukan." Chanyeol menjeda ucapannya sejenak, senyuman simpul terlukis di sudut bibirnya. "Namun ketika aku bertemu denganmu, perasaanku mulai goyah. Kupikir hal terbaik yang seharusnya kulakukan adalah melupakannya, dan tetap fokus pada misiku. Namun semakin lama aku menatap matamu, aku sadar bahwa semuanya sudah tak sama lagi."
Dalam hitungan detik, pipi Baekhyun-pun bersemu.
"Hanya saja.." Senyuman Chanyeol memudar perlahan-lahan. "Memikirkan misi juga masa laluku, membuatku takut untuk mengakuinya, bahwa mungkin..segalanya akan hancur.."
Jeda kembali. Entah kenapa, menantikan kalimat yang akan keluar dari mulut Chanyeol rasanya begitu lama sampai membuat jantung Baekhyun berdetak tak keruan. Ia gugup―sungguh. Bahkan tanpa disadari, si mungil bermata sipit itu menggigit bibir bawahnya.
"Apa yang harus kulakukan, Baek?" Suara Chanyeol terdengar lirih, tatapan matanya menjadi sendu. "Apa aku boleh mencintaimu?"
Kemudian napas Baekhyun tertahan.
Sungguh, Baekhyun tak pernah mengerti jalan pikiran Chanyeol. Apa yang Chanyeol inginkan, apa yang ada dalam benaknya, Baekhyun tak pernah bisa menebaknya dengan benar. Sorot mata laki-laki tinggi itu sering kali menampakkan banyak ekspresi, namun Baekhyun tak yakin apa yang lebih mendominasi. Namun saat ini, entah bagaimana, Baekhyun bisa membacanya dengan jelas. Saat Chanyeol mengatakan bahwa ia selalu tahu apa yang ia lakukan dan takut untuk mengakui perasaannya, juga saat ia mengajukan pertanyaan terakhirnya―Baekhyun tahu bahwa itu nyata.
Chanyeol bersungguh-sungguh mengatakannya.
"Bodoh." Kedua tangan Baekhyun menangkup wajah tampan Chanyeol, mengelus lembut pipi si jangkung dengan ibu jarinya. "Kenapa tidak dari dulu saja kau bersikap jujur?"
"Eh?"
Selanjutnya, adalah ketika bibir tipis Baekhyun menempel dengan bibir tebal Chanyeol, yang membuat bola mata laki-laki tinggi itu terbelalak. Saking terkejutnya, Chanyeol bergeming di tempatnya untuk beberapa detik. Namun saat Baekhyun menciptakan lumatan semanis madu, Chanyeol sadar bahwa Baekhyun telah memberikan jawaban atas pertanyaannya. Maka, Chanyeol-pun menutup matanya, menyematkan jemarinya di rahang si mungil untuk kemudian membalas ciuman tersebut.
Perlahan namun begitu dalam, kedua remaja itu membelai bibir satu sama lain. Setiap kecupan berpacu bersama debaran jantung keduanya yang terlampau abnormal. Si mungil paham bahwa itulah saatnya ia membuka mulutnya ketika Chanyeol menggigit bibir bawahnya. Pertarungan antar lidah maupun pertukaran ludah sudah tak terhindarkan lagi. Baekhyun melenguh dibuatnya, dan Chanyeol semakin tak bisa menahan dirinya.
"Ahh..Yeol.." Dan sebuah desahan lolos begitu saja dari bibir tipis Baekhyun, tepat saat Chanyeol menghisap lehernya. Bisa Baekhyun rasakan bulu kuduknya meremang karena napas Chanyeol yang memburu, membuat kedua tangannya refleks meremas bahu lebar yang lebih tinggi.
"Baek.." Chanyeol berbisik dengan bibir menempel di telinga Baekhyun, tangan kanannya perlahan bergerak menuju paha dalam si mungil (yang hanya ditutupi celana pendek selutut)―mengelusnya. "Aku mencintaimu.." Kemudian kembali meraup bibir tipis semerah cherry itu.
Keadaan di dalam kamar itupun semakin panas. Gaung erotis (yang tak terlalu keras) dari mulut laki-laki mungil di bawah kungkungan yang lebih tinggi memenuhi ruangan tak kedap suara itu. Baekhyun sendiri tak tahu sejak kapan ia berada di bawah Chanyeol, tapi yang pasti ia tak bisa fokus pada hal itu karena sentuhan Chanyeol telah membuatnya lupa pada hal di sekitarnya.
"Mnnhh.." Baekhyun menggigit bibir bawahnya saat tangan kanan Chanyeol merayap di bawah kaosnya, berhenti tepat di nipple-nya yang menegang. Elusan dan pelintiran di tonjolan merah muda itupun datang silih berganti. Baekhyun berbohong jika mengatakan ia tak menyukai hal yang dilakukan Chanyeol, terbukti dari caranya meluapkan kenikmatan tak terdeskripsikan itu melalui remasan di surai Chanyeol.
Di lain sisi, jantung Chanyeol serasa ingin meledak detik ini juga. Ini kali pertama ia melakukan hal seberani ini pada tubuh Baekhyun, dan ia sungguh tak menyangka efeknya akan sedahsyat ini. Chanyeol tak mau berhenti, sekeras apapun otaknya mengingatkan bahwa mereka berada di kediaman Byun―dimana siapapun bisa saja memergoki mereka, ia tetap tak mengindahkannya. Bibirnya justru semakin gencar melumat bibir Baekhyun, tangannya semakin lincah bergerak mencari titik sensitif Baekhyun, dan dirinya semakin menginginkan Baekhyun.
Ini terlalu memabukkan―pikir Chanyeol.
"Anhh..Chanh.." Baekhyun semakin tak kuasa menahan desahannya, terutama saat bibir Chanyeol menghisap nipple-nya. Tak hanya meninggalkan tanda kemerahan, lidahnyapun turut andil dalam menjilati tonjolan merah muda itu.
Seketika pikiran Baekhyun dipenuhi Chanyeol. Ciumannya, sentuhannya, bahkan deru napasnya. Semuanya menghantarkan setruman asing nan menggelitik di tubuh Baekhyun, memicu adrenalinnya dalam sekejap. Dan entah bagaimana, instingnya memberikan perintah mutlak pada tangannya untuk memeluk kepala Chanyeol, menyuruh si jangkung untuk terus memanjakan titik sensitifnya. Sementara kaki-kakinya beringsut melingkari pinggang Chanyeol, menggesekkan bagian selatan keduanya yang masih tertutup celana.
"Baek..nghh.." Chanyeol menggeram tertahan di antara gerakan pinggul Baekhyun yang membangunkan libidonya. Ia sudah sedikit ini untuk menyentuh bagian vital Baekhyun, namun–
TOK TOK.
–terhentikan oleh ketukan pintu.
Secepat itu pula, Chanyeol menyingkir dari tubuh Baekhyun. Baekhyun sendiri refleks duduk di tepi ranjangnya, dan segera memperbaiki penampilannya yang agak berantakan. Hell, tentu saja laki-laki mungil itu melakukannya tanpa menatap Chanyeol karena―demi apapun―pipinya terlalu merah untuk ditunjukkan.
"S–siapa?" Baekhyun berdehem di ujung kalimatnya.
"Aku―Sehun. Aku ingin meminjam charger ponsel."
"Sebentar." Setelah Baekhyun merasa penampilannya sudah cukup rapi, iapun mengambil charger ponselnya, kemudian membuka pintu kamarnya untuk Sehun. "Ini."
Sehun tak segera mengambil charger ponsel Baekhyun. Untuk beberapa detik, atensi Sehun justru terpaku terlalu intens pada sesuatu di leher Baekhyun. Sesuatu yang berwarna merah seperti gigitan nyamuk, yang sebenarnya cukup diragukan sebagai gigitan nyamuk, dan sukses membuat dahi laki-laki albino itu berkedut.
"Ada apa?"
Sehun tak menjawab pertanyaan Hyung-nya. Laki-laki albino itu justru melayangkan tatapan membunuh pada sosok Chanyeol di belakang Baekhyun, yang mana membuat tenggorokan laki-laki tinggi itu mendadak kering.
"Sudah malam." Sehun mengambil charger ponsel Baekhyun dengan kasar, masih pada posisi mengunci Chanyeol dalam jarak pandangnya. "Cepat tidur." Kemudian pergi begitu saja dari sana.
Well, ucapan tersirat Sehun menjelaskan banyak hal sebenarnya. Tapi lucunya, apa yang saat ini berputar dalam benak Baekhyun dan Chanyeol, jelas jauh berbeda. Sementara Baekhyun tengah dibingungkan akan sikap tak jelas Sehun, Chanyeol justru sibuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja (meski tak dapat dipungkiri bahwa mungkin saja nyawanya akan melayang di tangan 'seseorang' begitu ia keluar dari kamar Baekhyun).
Begitu Sehun memasuki kamarnya, Baekhyun kembali menutup pintu kamarnya. Dalam posisi yang masih memunggungi yang lebih tinggi, mata laki-laki mungil itu bergerak gelisah. Sekonyong-konyong, jantungnya kembali berpacu abnormal tatkala otaknya memutar klise kejadian tadi. Baekhyun tidak siap menatap Chanyeol―sungguh, tidak setelah desahan dan semua aksi mereka yang nyaris melakukan 'itu'. Astaga, apa jadinya kalau Sehun tak mengetuk pintu tadi?
"Sebaiknya aku keluar." Suara Chanyeol sukses membuat Baekhyun tersentak. Refleks, si pemilik mata sipit itu membalikkan tubuhnya menghadap si pemilik suara husky. Pipinya yang masih menampilkan rona merah itu terlihat begitu menggemaskan sampai jemari Chanyeol tak tahan untuk mengelusnya. "Selamat malam, Baek." Kemudian memperlihatkan senyumannya yang begitu manis di akhir kalimatnya.
"S–selamat malam.." Baekhyun menjawab dengan kepala menunduk, senyuman malu-malu tertanam di sudut bibirnya tanpa diketahui yang lebih tinggi.
Malam itu, senyuman keduanya tak luntur sampai rasa kantuk menyerang.
###
Sehun menghela napas panjang begitu kaki-kakinya melewati gerbang EXO High School. Well, seharusnya ia merasa bersemangat untuk hari pertama kembali ke sekolah, namun entah kenapa gedung berlantai tiga itu membuat mood-nya kian memburuk, terlebih setelah sebelumnya Chanyeol dan Baekhyun yang diam-diam mencuri pandang satu sama lain selama perjalanan mereka ke sekolah. Memuakkan―jika kalian bertanya pada Sehun bagaimana rasanya. Pikirnya, memangnya dia itu obat nyamuk, apa?
"Kuperingatkan kalian untuk tidak berbuat macam-macam selagi aku tak berada di sekitar kalian."
Celetukan Sehun yang ditunjukkan dengan ekspresi andalannya―datar, itu lantas membuat dua laki-laki di sebelah kiri-kanannya bungkam. Tak ada komentar atau apapun yang mengindikasikan sangkalan dari keduanya, mereka malah melihat ke arah lain dengan ekspresi salah tingkah. Untuk yang satu ini, Chanyeol bersyukur karena―sejauh ini―Sehun hanya memberikan peringatan setelah kemarin tertangkap basah telah memberikan tanda kemerahan di leher Hyung-nya.
"Sial, aku pasti kena damprat rusa Cina itu." gumam Sehun saat atensinya berlabuh pada sosok Xi Luhan yang terlihat murka padanya. Laki-laki albino itu membenarkan posisi tas ranselnya sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun yang masih bergeming di dekat gerbang sekolah dalam kecanggungan.
"Um.." Chanyeol melirik Baekhyun seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. "Lebih baik kita ke kelas juga, sebentar lagi bel masuk berbunyi."
Baekhyun mengangguk tanpa menggerakkan matanya ke samping. "I–iya."
Kemudian mereka berjalan beriringan, masih dalam atmosfer yang terasa begitu canggung.
.
.
"Oh, ya Tuhan!" Jongin terperangah berkat kehadiran dua laki-laki yang cukup lama tak ia lihat kehadirannya di sekolah. "Dari mana saja kalian? Kenapa tidak masuk sekolah selama berhari-hari? Kupikir terjadi sesuatu pada kalian!"
Chanyeol dan Baekhyun hanya tersenyum tanpa penjelasan berarti.
"Ngomong-ngomong, penampilanmu banyak berubah." ujar Kyungsoo, mata beloknya menilik Chanyeol dari bawah hingga atas.
"Apa aku terlihat aneh?" tanya Chanyeol.
"Tidak, justru terlihat lebih tampan daripada si hitam ini."
"Yak, siapa yang kau sebut 'hitam', hah?!"
Kyungsoo merespon aksi protes Jongin dengan mengedikkan bahunya cuek. "Aku hanya mengutarakan kenyataan."
"Aish, kau ini benar-benar tidak ada manis-manisnya ya? Coba lihat Baekhyun, dia–AKHH!" Jongin mengerang kesakitan ketika tangannya dipelintir Chanyeol saat hendak merangkul Baekhyun, yang mana mengundang beberapa pasang mata di sekitar mereka.
"Jangan menyentuhnya." Chanyeol menatap tajam Jongin. "Dia milikku."
Oh, bisa kalian bayangkan semerah apa pipi Baekhyun saat ini? Belum termasuk cerminan sikap posesif Chanyeol yang merangkul bahu Baekhyun―berusaha menjauhkannya dari Jongin, membuat jantung laki-laki mungil itu berdegup bak pacuan kuda.
"Siapa yang kau sebut 'milikmu'?"
Tapi sayangnya, momen manis itu tak berlangsung lama.
Omong-omong, itu Sehun, dengan aura membunuh yang menguar di sepanjang koridor sekolah. Langkah demi langkah, laki-laki albino itu mengikis jarak antara dirinya dengan Chanyeol, mengintimidasi yang lebih tinggi dengan tatapan tajamnya.
"Yak, Park Chanyeol." Sehun melipat kedua tangannya di depan dada. "Asal kau tahu saja, aku belum sepenuhnya merestui hubungan kalian–"
"YAK, BYUN SEHUN!" Sekonyong-konyong, suara nyaring milik laki-laki berdarah Cina di ujung koridor menginterupsi ucapan Sehun. "KALAU KAU BOLOS LATIHAN BASEBALL LAGI, AKU AKAN MEMBUNUHMU! KAU DENGAR AKU, HOOBAE SIALAN?!"
"Aish, kenapa dia masih mengikutiku sih?" Sehun berdecak kesal. "Kita belum selesai, Park. Aku mengawasimu." ancamnya, lalu berlari dari kejaran Xi Luhan―lagi.
Kemudian hening.
Untuk beberapa detik, Jongin dan Kyungsoo menatap bergantian yang bermarga Park dan yang bermarga Byun dengan raut kebingungan. Tak lama, mereka berhasil mengejutkan Chanyeol dan Baekhyun dengan pertanyaan mereka yang ditanyakan secara serempak. "Kalian pacaran?"
Yang ditanya berkedip dua kali. Chanyeol perlahan-lahan melepaskan rangkulannya pada bahu Baekhyun, berdehem sejenak, lalu menggaruk tengkuknya yang―percayalah―tak gatal sama sekali. Sementara Baekhyun menatap ke arah lain dengan warna kemerahan memenuhi wajah manisnya hingga ke ujung telinga. Hell, kebungkaman keduanya ini secara gamblang menjawab pertanyaan Kyungsoo dan Jongin.
"Heol, sejak kapan?! Jangan bilang kalian hendak kawin lari, makanya tidak masuk sekolah selama berhari-hari ya?!" seru Jongin heboh. Dan aksi memalukan itu diperburuk dengan tatapan burung hantu milik Kyungsoo yang sepertinya sama penasarannya dengan Jongin.
Astaga, tak bisakah mereka memiliki teman yang 'normal' saja?
.
.
Setelah hari yang panjang nan melelahkan di sekolah, Chanyeol dan Baekhyun akhirnya bisa menghela napas lega begitu sampai di kediaman Byun. Well, setidaknya mereka tak akan mendengar pertanyaan aneh teman-teman mereka mengenai hubungan mereka. Sebagai catatan, adalah berkat mulut ember Jongin seisi sekolah bisa tahu berita ini. Astaga, kenapa sekolah bisa begitu heboh hanya karena mereka berpacaran? Sebegitu mengejutkannyakah berita itu? Ini seperti mereka tidak pernah melihat dua laki-laki berpacaran sebelumnya.
Beruntung hal itu sudah berakhir.
Saat ini, seluruh penghuni kediaman Byun tengah bersiap untuk acara makan malam mereka. Terlihat meja makan bundar itu telah dipenuhi berbagai hidangan menggiurkan khas Korea. Jessica lebih sering memasak makanan Korea akhir-akhir ini, ia bilang ia harus meningkatkan kemampuan memasaknya dalam hidangan khas Korea mengingat mereka tidak akan pindah-pindah rumah lagi. Bagi Baekhyun, itu adalah sebuah kemajuan. Lagipula, Sehun harus mulai mengkonsumsi makanan sehat. Serius, bocah itu terlalu sering memesan makanan cepat saji.
"Jadi," ujar Jessica setelah duduk di kursinya―tepat di samping Kyuhyun, obsidiannya menatap bergantian Baekhyun dan Chanyeol yang duduk di hadapannya. "Kalian resmi berpacaran?"
Reaksi selanjutnya terlihat begitu menggemaskan di mata Jessica―Chanyeol dan Baekhyun sama-sama tersedak. Tapi tidak di mata Sehun, laki-laki albino itu justru merotasikan bola matanya sebagai bukti kejengahannya. Tentu saja hal ini tak luput dari perhatian Kyuhyun dan Yeri yang terlihat terkejut.
"Kalian pacaran?" tanya Kyuhyun.
"Oh, jadi ini alasannya Sehun Oppa menyuruhku duduk di antara kalian?" Yeri manggut-manggut polos. Well, itu memang benar. Sebelum mereka memulai acara makan malam, Sehun sudah wanti-wanti Yeri untuk duduk di antara Baekhyun dan Chanyeol. Yeri yang tak tahu apa-apa, tentu saja tak banyak protes.
"Jadi, itu benar?"
Setelah meminum setengah dari air putih di gelasnya, Baekhyun menatap Jessica dengan raut kebingungan. Tampak senyuman Eomma-nya sudah nyaris mencapai telinganya, namun sepertinya wanita cantik itu masih menahan pekikannya. Baekhyun penasaran, dari mana Eomma-nya mengetahui hal ini? Seingatnya ia tak mengatakan apa-apa pada siapapun dalam keluarga ini mengenai hubungannya dengan Chanyeol.
"D–dari mana Eomma tahu?"
Dan pertanyaan Baekhyun sontak meledakkan pekikan Jessica yang sedari tadi ditahannya. Sebagai informasi, itu sangat memekakan telinga.
"Ufufu~ jangan meremehkan kemampuanku, Baekhyunnie~"
Ini sangat horor―pikir Baekhyun. Entah kenapa, firasatnya mengatakan bahwa Jessica menyewa seseorang untuk memata-matai hubungannya dengan Chanyeol. Atau jangan-jangan di kamarnya telah dipasang kamera pengintai?
"Astaga, ini berita yang hebat! Kalian percaya aku sudah sedikit ini untuk mendapatkan seorang cucu?"
"EOMMA!" seru Sehun dan Baekhyun, sama-sama berusaha menghentikan kegilaan Jessica. Demi Tuhan, kenapa wanita itu adalah Eomma mereka?
"Yak." Sehun mendelik ke arah Chanyeol. "Awas kalau hal itu sampai terjadi, aku akan meledakkan kepalamu."
Ancaman Sehun mungkin membuat Chanyeol merinding di awal-awal, namun semakin sering ia mendengarnya, semakin ia berpikir bahwa Sehun bersikap konyol. Dan lagi, ada apa dengan para Byun sebenarnya? Apakah mereka memang hobi meledakkan kepala orang?
"Sudahlah, Sehun, biarkan mereka berdua." Jessica melerai dengan santainya. "Serius, kau harus menghilangkan sifat brother complex-mu itu, nak. Kupikir itu mulai meradang."
Sehun menatap datar Jessica. Meradang? Sungguh? Di antara semua kosakata?
"Aku tidak mengidap brother complex, Eomma."
"Tapi kupikir Eomma-mu ada benarnya, Sehun. Mungkin kau juga harus mencari seorang kekasih."
"Abeoji!" Sehun mulai kesal. Ia sungguh tak percaya Kyuhyun malah mendukung keputusan konyol Jessica.
"Sepertinya itu bukan ide buruk. Bagaimana dengan Luhan Sunbae? Menurutku dia manis." Baekhyun ikut berkomplot, yang mana menghasilkan pelototan dari sang adik―yang sebenarnya tak terlalu dipedulikan oleh yang lebih pendek.
"Luhan? Siapa itu?" Jessica terlihat lebih antusias dari sebelumnya.
"Oh, dia adalah Sunbae kami di sekolah. Sehun satu klub dengannya, dan mereka terlihat akrab setiap hari. Aku bahkan melihat mereka saling kejar pagi ini."
"Aish, Hyung!"
"Benarkah itu? Wah, aku baru tahu." ujar Kyuhyun, cukup terkejut mendengar fakta itu.
"Yak, kenapa kau tak pernah cerita soal Luhan pada kami?" protes Jessica, dan Sehun tak bisa untuk tak mengerang. Ini benar-benar menyebalkan―batinnya, terutama saat Baekhyun menyeringai ke arahnya, seakan tak peduli pada nasibnya setelah menyebarkan rumor berlebihan. Pikirnya, ini apa? Semacam pembalasan dendam?
Oh, ketahuilah, ini lebih dari sekedar pembalasan dendam seorang Byun Baekhyun. Ha.
"Ngomong-ngomong, Chanyeol, aku sudah mendapatkan dokter untuk mengoperasi matamu."
"Operasi?" Baekhyun yang baru mendengar hal ini, sontak menoleh ke arah Kyuhyun yang barusan membuka topik pembicaraan.
"Ya, Chanyeol bilang akhir-akhir ini rasa sakit di mata kirinya memburuk. Jadi aku berkonsultasi dengan Yonghwa, dan ia merekomendasikan Dokter Song Joongki."
Mendengar penuturan Kyuhyun, membuat Baekhyun khawatir pada Chanyeol. Pasalnya, Chanyeol tak pernah menceritakan hal tersebut padanya. Apakah selama ini laki-laki tinggi itu sengaja tak menceritakan perihal rasa sakit di mata kirinya?
"Kau baik-baik saja?" tanya Baekhyun, dan Chanyeol tersenyum simpul.
"Hey, Chanyeol bahkan belum menjalani operasi itu, lantas kenapa kau begitu khawatir?" Jessica menggoda Baekhyun, yang mana membuat laki-laki mungil itu salah tingkah.
"Dia akan baik-baik saja, Baek. Dokter Song sudah ahli dalam hal ini, kita bisa mempercayainya." Kyuhyun berusaha menyurutkan kegelisahan putra sulungnya.
"Lalu, kapan operasinya akan dilaksanakan?" tanya Yeri.
"Sekitar dua minggu lagi. Masih ada beberapa pemeriksaan yang harus dijalani."
"Syukurlah, kalau begitu. Nanti begitu operasinya sudah selesai, kita adakan pesta BBQ!" seru Jessica, bak gadis remaja yang akan mengikuti pesta di minggu pertamanya bersekolah di SMA. "Dan, oh! Kita juga harus membicarakan pernikahan Chanyeol dan Baekhyun."
"Uhuukk! Uhukk!" Yang dibicarakan tersedak kompak―lagi.
"Tunggu dulu, Eomma ingin menikahkan mereka?!" Sehun memekik dalam ketidakpercayaan.
"Sayang, bukankah itu terlalu cepat? Mereka masih kelas dua SMA." Kyuhyun berusaha menenangkan jiwa fujoshi istrinya. Pikirnya, Jessica benar-benar berjalan terlalu jauh kali ini.
"Tentu aku sadar betul akan hal itu, sayang. Ini hanya sebuah persiapan setelah mereka lulus, tenang saja." Kyuhyun menghela napas lega mendengarnya. "Tapi tentu saja tak menutup kemungkinan jika aku mendapatkan cucu lebih awal~"
"EOMMA, AKU INI LAKI-LAKI!" Baekhyun secara blak-blakan menampik keinginan konyol Jessica, tapi sepertinya wanita itu tak terlalu memedulikan hal tersebut, dan itu sangat menyebalkan di mata Baekhyun. Demi apapun, kelakuan Eomma-nya semakin memalukan saja.
"Oh ya, Sehun, besok ajak Luhan kesini ya?"
Sehun memutar bola matanya. "Dan kenapa pula rusa Cina itu harus kuajak kesini?"
Mata Jessica berbinar-binar dalam sekejap. "Aww~ kau punya panggilan kesayangan untuknya?"
"Apanya yang panggilan kesayangan, Eomma?!"
"'Rusa Cina', duh~ aku tidak tuli."
"Aish, EOMMA!"
Kemudian acara makan malam itu dipenuhi tawa nista yang ditujukan khusus pada laki-laki albino bernama Byun Sehun. Ah, Baekhyun akan mengingat hari ini.
.
.
Chanyeol mendapati nama Baekhyun di ponselnya―meneleponnya, tepat saat ia hendak berbaring di ranjangnya. Diam-diam, Chanyeol melirik Sehun melalui ekor matanya, memastikan laki-laki albino itu sudah jatuh ke alam mimpinya. Laki-laki tinggi itu tersenyum puas tatkala dugaannya benar. Jadi, iapun segera memasang headset putih di ponselnya, kemudian membaringkan dirinya di ranjang sebelum mengangkat telepon tersebut.
"Hey."
"Kupikir kau sudah tidur." ujar Baekhyun di seberang sana, dan Chanyeol terkekeh.
Sebenarnya mereka bukan kurang kerjaan karena menelepon orang satu rumah, tapi itu karena mereka sama-sama tak ingin mengambil resiko kalau sampai ketahuan lagi melakukan hal-hal seperti kemarin―terutama oleh Jessica dan Sehun. Hell, siapa yang tahu apa yang akan dua jenius itu upayakan demi mengetahui hal-hal yang dilakukan Chanyeol dan Baekhyun. Jadi Chanyeol dan Baekhyun pikir, saling menelepon untuk sementara ini adalah solusinya.
"Kau belum mengantuk?"
"Belum." Baekhyun menggeleng pelan. "Aku..ingin menanyakan sesuatu padamu, Yeol."
"Tanya apa?"
Baekhyun menggigit bibir bawahnya sejenak―berpikir, mata puppy-nya terarah pada tanaman kaktus yang ia letakkan di dekat jendela kamarnya. "Mata kirimu..kenapa kau tak pernah cerita padaku bahwa itu memburuk?"
Chanyeol tertegun dibuatnya. Ia tak menyangka Baekhyun meneleponnya untuk menanyakan perihal mata kirinya. Tanpa diketahui si mungil, Chanyeol merekahkan senyuman idiotnya. "Kau khawatir?"
"Tentu saja, bodoh!"
Chanyeol terkikik mendengar rajukan si mungil Byun. Ia bertaruh Baekhyun pasti sedang mengerucutkan bibirnya saat ini. "Maaf, telah membuatmu khawatir. Tapi menurutku, rasa sakit di mata kiriku bukanlah hal yang perlu kuberi tahu padamu, Baek."
"Mana bisa begitu! Aku juga berhak tahu, Yeol!" Lambat laun, pipi Baekhyun tersapu rona menggemaskan. "Aku..kekasihmu'kan?"
Rajukan Baekhyun kali ini tak membuat Chanyeol ingin tertawa, melainkan menghangatkan hatinya. Namun tak tahu kenapa, dalam hati laki-laki jangkung itu, timbul niatan untuk menggoda kekasih mungilnya.
"Tentu saja, Baekhyunnie. Dan aku adalah kekasihmu yang sangat mencintaimu~"
Jika boleh jujur, Baekhyun benar-benar senang dengan kalimat cheesy Chanyeol. Tapi―hell, ia tak bisa menunjukkannya secara gamblang, bukan? Ada image yang harus ia lindungi.
"Berhenti menggombal, bodoh. Kau terdengar menggelikan."
Chanyeol terkekeh pelan. "Begitukah?"
Baekhyun terdiam sesaat, matanya menerawang ke langit malam yang tak banyak menampakkan bintang. "Yeol, aku tahu kau masih belum bisa percaya padaku sepenuhnya, tapi..setidaknya cobalah untuk percaya, oke?"
Chanyeol tersenyum lembut, lalu bangkit dari posisi berbaringnya, dan mendaratkan bokongnya di kursi samping jendela kamar. Onyx kelamnya mencari-cari beberapa bintang di langit malam. "Aku percaya padamu kok."
"Kalau begitu, bersikap jujurlah padaku mulai sekarang. Aku ingin kau memberitahuku semua hal yang membuatmu bahagia, juga setiap hal yang mengganggumu―sekecil apapun itu. Aku tak suka kau memendam semuanya sendirian, Yeol. Bisa kau lakukan itu untukku?"
"Kau yakin ingin aku begitu? Aku mungkin akan menyusahkanmu nantinya."
"Kau meragukanku?"
Chanyeol memejamkan matanya sesaat, kemudian menghembuskan napasnya perlahan-lahan. "Tidak, aku percaya padamu." Lalu kembali tersenyum pada langit malam begitu kelopak matanya terbuka. "Kau adalah orang pertama yang benar-benar kupercaya, Baek.."
Mata Baekhyun melengkung dengan cantiknya. Entah bagaimana, dentum jantungnya membuat aliran darahnya berdesir sampai itu menggelitiki perutnya. "Terima kasih, Yeol.."
Chanyeol tak pernah tahu jika hidupnya akan menjadi seperti ini. Di saat ia sudah berhenti mengharapkan kebahagiaan setelah semua yang dialaminya, nyatanya Tuhan masih memberinya kesempatan untuk bahagia. Dan kesempatan itu ada pada diri Baekhyun. Terasa agak menyebalkan saat Tuhan mengujinya melalui Baekhyun, karena―sekali lagi―ia dipaksa untuk melewati jalanan yang berliku.
Namun itu semua sepadan dengan hasilnya.
Pada kenyataannya, Chanyeol tak'kan pernah bisa menang melawan laki-laki mungil itu. Sekuat apapun dirinya berusaha menghindari Baekhyun, menyingkirkan Baekhyun dari hidupnya, bahkan mati-matian melupakan sosok mungil bermata sipit itu―Chanyeol tak'kan bisa. Karena ia terlanjur mencintai seorang Byun Baekhyun―laki-laki dengan mata secantik bulan sabit saat tersenyum. Dan Chanyeol sungguh bersyukur itu adalah Baekhyun, karena ia tak bisa memikirkan yang lebih baik dari laki-laki mungil itu.
THE END
Jadi, ya..cuma semut-semut nakal aja. Saya ga bisa bikin ChanBaek NC-an di saat mereka baru aja jadian, rasanya aneh aja. Dan seperti biasa, ada bonus epilog buat kalian. Epilognya bukan ChanBaek, tapi semoga kalian suka. Cekidots!
.
.
.
EPILOGUE
Keesokan harinya..
Sehun merasa nyawanya tak sepenuhnya berkumpul pagi ini―entah tertinggal dimana. Kelopak matanya terasa berat, begitupun dengan pundaknya. Bagian terburuknya adalah otaknya berupaya melakukan pemberontakan semenjak ia membuka matanya. Itu memutar suara-suara yang―demi seluruh mafia di muka bumi―tak ingin Sehun simpan dalam memori otaknya. Tapi sialnya, keinginan laki-laki albino itu kalah telak dengan keegoisan otak jeniusnya.
PLAK!
"Selamat pagi, Byun Sehun!"
Hebat. Ada lagi yang lebih buruk dari ini?
"Sa..kit.." Sehun mendelik Luhan seraya memegangi pundaknya yang terasa berdenyut. "Haruskah kau menepuk bahuku sekeras itu?"
"Eyy~ aku tidak memukulmu sekeras itu, bodoh."
"Aku yang merasakan―jika kau tidak menyadarinya, Sunbae." Sehun memutar bola matanya, lalu kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Ck, kenapa ia bisa sesial ini pagi-pagi sudah bertemu rusa Cina jadi-jadian itu?
"Daripada itu, kenapa kau sendirian saja? Mana Baekhyun?" Luhan membuka topik baru sambil menyelaraskan langkahnya dengan Sehun.
"Aku berangkat duluan. Aku tak sanggup berangkat bersama mereka lagi."
Luhan menaikkan sebelah alisnya. "'Mereka'?"
"Siapa lagi selain Baekhyun Hyung dan kekasih idiotnya itu."
"Ah, Chanyeol." Luhan manggut-manggut. "Ya, aku dengar soal mereka. Memangnya kenapa? Bukankah mereka pasangan yang serasi?"
Cih, serasi dari sudut mana?―cibir Sehun. Justru berkat pasangan bodoh itu, ia malah mendengar percakapan cheesy telepon mereka tadi malam―secara tidak sengaja tentu saja, dan itu membuatnya mual sampai detik ini. Astaga, mengingatnya membuat Sehun ingin mengeluarkan isi perutnya―lagi. Oh ya, Sehun benar-benar muntah tadi pagi, tepatnya setelah ia memergoki Chanyeol mengecup pipi Baekhyun sebelum mereka turun untuk sarapan bersama, dan Hyung-nya itu merona parah.
ME-RO-NA.
Demi Neptunus di Surga, apa pasangan bodoh itu lupa bahwa Sehun masih tinggal di rumah yang sama dengan mereka?!
"Kau tak'kan berpikiran demikian setelah mendengar percakapan mereka di telepon. Aku tak percaya aku mendengarnya, sampai sekarangpun bulu kudukku terasa merinding jika mengingatnya."
Luhan mengerutkan dahinya. "Kau mencuri dengar?"
"Please, kau pikir aku kurang kerjaan?"
Luhan mengedikkan bahunya. "Ya, siapa tahu'kan? Kau sepertinya tipe adik yang mengidap brother complex."
Sehun mendengus keras kali ini. Sialan, kenapa semua orang mengatainya brother complex?
"Mungkin kau harus mencari seorang kekasih, Sehun. Kau tahu, untuk membuat perhatianmu teralihkan." Luhan memberi nasihat, yang mana secara refleks membuat Sehun menghentikan langkahnya. Luhan yang menyadari hal itupun ikut menghentikan langkahnya. Ketika ia menoleh ke arah Sehun, ia mendapatkan laki-laki albino itu tengah menatapnya dengan raut mukanya yang datar.
"Kau mau jadi kekasihku, Sunbae?"
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Luhan berdekip dua kali. "H–hah?"
What the hell?!―batin Luhan. Ia hanya memberikan Sehun nasihat, tapi bocah itu tiba-tiba mengajaknya pacaran? Serius? Ah sial, kenapa tiba-tiba wajahnya terasa panas sekali? Apa ini yang dinamakan 'bumerang'?
"S–Sehun-ah, kau tidak–"
"Aku bercanda. Kau sama sekali bukan tipeku."
"Ap–"
Luhan tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Sehun sudah berlalu dari hadapannya. Laki-laki albino itu bahkan tak menoleh barang sebentar, dan terus berjalan dengan cueknya. Hal tersebut membenturkan pikiran terdalam Luhan, menyadarkan laki-laki bermata rusa itu bahwa ia baru saja dibodohi hoobae-nya sendiri. Heh.
"YAK! KAU MAU MATI YA, HOOBAE SIALAN?!"
(sangat) THE END
.
.
.
Awalnya saya merekomendasikan untuk apdet jamaah tanggal 22 Mei, tapi kemudian Dee Eonnie bilang kenapa gak sekalian aja apdet FF buat ngerayain ultah CIC? Maka, terjadilah apa yang kalian saksikan saat ini. Author yang apdet malam ini banyak banget (Sayaka Dini, Blood Type-B, SilvieVienoy96, Amie Leen, RedApplee, JongTakGu88, Flameshine, Mykareien, Baekbychuu, Railash61, Hyurien92, Oh Yuri, Kang Seulla, Prince Pink feat Oh Lana, Sehyun14). Kami sengaja nulis opening yang sama biar readers tahu siapa aja yang apdet malam ini.
Untuk CIC yang berulang tahun, saya doakan semoga semakin sukses, semoga tambah banyak yang ngeshipperin(?) ChanBaek, dan tentunya semoga ChanBaek segera mengonfirmasi hubungan mereka. AMIN. Project apdet jamaah ini begitu menyenangkan, semoga tahun depan bisa dilaksanakan lagi ya. BTW, author Yuta gak ikutan project buku ChanBaek. Yang ikutan hanya saya dan tujuh dari author yang apdet malam ini, silakan tebak siapa aja, ufufu~
Sekilas mengenai FF The Identity. Sumpah, di antara semua FF saya, FF ini adalah yang paling menguras otak. Mungkin karena ini pertama kalinya saya bikin FF genre action/crime, jadi masih agak keteteran. Still, saya harap FF ini gak mengecewakan kalian, terutama ending-nya. Saya konsul banyak sama author Redapplee selama pengerjaan FF ini, bahkan minta dia buat jadi beta-reader saya untuk chapter terakhir. So, thanks a lot, Ai Eonnie /hug tightly/. Mungkin ke depannya bakal lebih sering nyusahin Eonnie lagi, haha /digampar/.
Apresiasi terakhir saya tujukan kepada seluruh readers (baik yang sering, jarang, dan tidak pernah review) karena telah membaca FF ini sampai tamat. Semua dukungan kalian sangat berarti buat saya, meski kadang saya suka sedih karena yang ngefavoritkan banyak tapi yang review-nya gak sebanding. Well, semoga para siders bisa cepat-cepat merubah kebiasaan ya. AMIN.
Terakhir, saya punya pengakuan. Sejujurnya, saya merasa kemampuan menulis saya menurun akhir-akhir ini, mungkin karena dalam fase-butuh-istirahat. Dan karena bulan April kemarin saya gak bener-bener hiatus (saya ngerjain FF buku ChanBaek), awalnya saya mau bener-bener hiatus bulan Juni nanti, tapi sepertinya gak bakal bisa mengingat saya suka nulis cerita. Hanya saja untuk saat ini, saya bener-bener butuh istirahat. Dengan kata lain―semi-hiatus. Di samping pekerjaan saya, saya takut mood saya akan ngerusak FF saya sendiri. Jadi, saya mohon perhatian kalian.
Regards,
Azova10
PS. Kotak review menunggu kehadiran kalian :)
