Disclaimer: Tsugumi Ohba n Takeshi Obata. Kenapa Ohba sensei duluan? Kan ladies first…
Banyak sekali yang ingin Mello tanyakan pada Beyond Birthday mengenai foto yang didapatkan Near barusan. Namun, begitu tiba di rumah kostnya… ia menemukan Beyond Birthday tewas terkena serangan jantung akibat daun sirih. Sang pelaku, Paijo yang dikenal sebagai pedagang ikan asin bercelana motif kotak pink kini sedang dalam pemburuan hansip, meskipun sangat sulit mengejarnya yang kini sudah dalam pesawat menuju Zimbabwe. Bagaimana sebenarnya kronologis kejadian? Bagaimana mungkin Beyond bisa terbunuh dengan daun sirih? Karena tidak berhubungan dengan cerita inti, maka tidak saya deskripsikan…
"Ini pasti ulah KIRA!!" cetus Mello. "Dia pasti mengatur Paijo untuk membunuh B yang mantan mutilator!! Dasar KIRA… Bisa-bisanya ia terpikir daun sirih sebagai media pembunuhan!!" lanjut Mello dengan mata berapi-api dan mulut berhujan-hujan.
Matt memilih untuk tidak berkomentar.
"Aku harus menyusun rencana…" bersamaan dengan ucapan yang meluncur dari mulut Mello itu, handphone blackberry bergetar. Kalau ada yang penasaran kenapa hape esia seken Mello bisa upgrade jadi blackberry, sebenernya tuh hape Mello pungut deket tong sampah rumahnya. Kenapa bisa ada BB masih bagus di tong sampah? Sekali lagi, karena tak berhubungan dengan cerita maka tak saya bahas.
"Ya?" Mello menjawab panggilan dari Lidner.
"Mello, sepertinya Near benar-benar berniat melaksanakan pertemuan dengan L kedua yang ia duga sebagai KIRA tanggal 3 nanti."
Mello menggeram, "Cih, bocah itu…"
"… Kau ingin menghentikannya Mello? Atau mengacaukan pertemuan itu? Kau tahu nyawanya bisa terbuang sia-sia jika perhitungannya salah…"
Mello terdiam sejenak. "Aku tidak berminat menyelamatkan nyawa Near. Tapi jika begini, aku juga tidak mau ia mati sia-sia. Dasar bocah itu…!! Masih ada hal yang belum ia ketahui!!" Mello mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"..."
"..."
"..."
"..." (kok diem-dieman terus sih? Kalian makan gaji buta dari author ya?)
Akhirnya suara Mello terdengar, "… Kalau begitu aku memang harus melakukannya."
Dan Mello pun memutuskan sambungan telepon.
"Mihael?" Matt memandang pemiliknya dengan tatapan khawatir.
Mello memaksakan sebuah senyum. "Matt, bisakah kau membantuku dalam rencana ini?"
Matt terhenyak. "Mihael mau mencuri beras di rumah Light lagi?"
Mello berkutat dengan tumpukan kertas data hasi print Matt yang kini sibuk mendownload software agar ia bisa mengemudikan mobil untuk menjalankan rencana Mello. Ia sendiri belum diberi penjelasan mengenai rencana apa yang pemiliknya persiapkan, yang pasti Matt akan melakukan semua perintah Mello tanpa pertanyaan.
Download berlangsung begitu lama hingga malam pun tiba. (kalo saya bela-belain download dari sore ampe malem belom selesei pasti udah saya banting tuh kompie) Sleep mode Matt yang di-set otomatis memaksa CPUnya yang masih bekerja untuk berhenti. Akhirnya ia malah dalam keadaan setengah tidur; mendinginkan mesin dalamnya sambil melanjutkan proses download.
"Matt."
Bukan suara Mihael… siapa?
"Matt."
Matt tidak dapat menggerakan tubuhnya, namun disisi lain ia merasa begitu ringan. Ia teringat mengenai informasi yang ia dapatkan dari internet mengenai manusia yang otaknya tetap aktif ketika tertidur.
Tapi apa seonggok mesin bisa bermimpi?
Pertanyaan yang muncul di benak Matt malah membuat program perasaannya serasa dipilin.
Aku hanyalah sebuah mesin. Aku tidak punya nyawa maupun hati. Yang kurasakan bukanlah perasaan sesungguhnya…
Semuanya palsu. Rekayasa. Semua yang ia rasakan tidak nyata…
"Matt." Suara itu kembali terdengar. Suara ini… Matt mengingatnya. Suara… Beyond Birthday? Tapi kedengarannya sedikit berbeda…
Mendadak CPUnya membawanya ke dalam pemandangan sebuah ruangan yang penuh dengan kabel, komputer, dan besi-besi yang dibentuk seperti organ tubuh manusia berserakan di penjuru ruangan.
Sosok Beyond muncul dalam ruangan itu. Ia tampak menghampiri seorang pemuda… Yang menoleh saat Beyond memanggil namanya. Dan Matt pun sadar, orang yang dipanggil Beyond 'Matt' barusan bukanlah dirinya, melainkan pemuda itu.
Apa yang terjadi?
Pemuda berambut merah yang disapa Beyond tadi menoleh dan tersenyum.
'Siapa? Siapa orang itu? Apakah aku mengenalnya? Jika tidak, kenapa CPU-ku bisa mengidentifikasi penampilannya?'
"Bagaimana keadaannnya?" tanya si pemuda berambut merah. Matt mengingatnya. Suara itu… suara yang selalu muncul ketika ia memejamkan matanya.
"Sedikit lagi akan rampung. Bagaimanapun ia takkan bisa tercipta jika kau tidak membantuku mengatur programnya," Beyond menjawab.
Pemuda itu tersenyum. Tapi Matt tahu; ada yang ganjil dibalik senyumnya. Orang ini menyembunyikan sesuatu…
"Aku akan menyampaikan laporan kemajuannya pada L," sergah Beyond sebelum mengambil tumpukan kertas di atas meja dan keluar dari ruangan itu.
Matt tidak dapat merasakan tubuhnya. Ia tidak bisa menggerakan seujung jarinya pun, bahkan untuk melirikkan matanya pun tidak bisa. Serasa lumpuh... Namun Matt bisa merasakannya, ia benar-benar ada diruangan itu. Atau setidaknya, pernah ada disitu.
Pemuda berambut merah itu berbalik memandang ke arah Matt. Menatapnya. Ya, Matt memang ada di ruangan itu. Bagaimana bisa? Ia sendiri tak mengerti. Beberapa menit yang lalu, ia masih berada di kamar kost, dan sekarang? Dia ada di ruangan yang tak pernah ia lihat… tapi mengapa semua di sekitarnya terasa begitu familiar?
Pemuda itu melangkah mendekati Matt. Dengan lembut ia membelai kepala Matt seraya berbisik, "Jika ada sesuatu yang muncul, akan ada hal lain yang menghilang. Begitu juga sebaliknya. Karena itu, segeralah aktif… dengan begitu aku pun…"
Namun suara ketukan pintu yang keras memotong kalimat pemuda itu. Dari balik pintu yang dibukakannya, tampak seorang anak laki-laki yang lebih muda darinya. Rambutnya pirang sebahu, mengenakan T-shirt dan jeans serba hitam.
'...Mihael?'
Seketika seluruh sistem Matt aktif kembali. Tubuhnya kembali bisa digerakkan. Namun ia tak lagi berada dalam ruangan tadi, melainkan dalam kamar kost yang sudah diakrabinya.
Tampak Mello tertidur dengan kepala bersandar di meja. Cahaya matahari menembus sela-sela gorden, menandakan malam telah berganti dengan pagi.
Download complete, sistemnya mengumumkan.
Matt memejamkan matanya. Tidak tampak apapun… Tadi itu apa?
"Kadang-kadang ada saatnya memori-mu yang terkunci itu terbuka kembali…"
Matt menoleh dan melihat sosok yang selama ini terprogram di dalam tubuhnya. Sosok yang berpenampilan sama persis dengan dirinya.
Matt tidak paham. "Memori-ku?"
"Memori-mu memang sudah dibuat sedemikian rupa hingga tidak bisa dihapus ataupun dimodifikasi selain oleh 'orang itu'. Kalaupun ada orang yang menghapusnya, back-upnya takkan bisa tersentuh," ujar sosok itu lagi.
"Dulu… kenapa? Apa aku pernah bertemu Mihael? Tapi dia sedikit berbeda dari yang kulihat sekarang…"
"Berbeda dengan kita, manusia itu selalu berubah. 'Orang itu' juga…"
"Orang itu…"
"Matt?" suara Mello membuat Matt kembali pada apa yang mereka sebut 'kenyataan'. "Bagaimana? Softwarenya sudah terunggah?"
Matt mengangguk. "Kalau begitu, sekarang tugasmu adalah mengecek data-data ini," Mello memilah-milah lembaran foldernya, seakan berusaha mencari uang yang siapa tahu terselip disana. Ya kagak lah…
Memandang sosok Mello dari belakang, Matt kembali teringat dengan pemuda berambut merah dan 'Mello' yang terekam pada memorinya…
"Mihael…"
"Hng?"
"Apa sebelumnya… Mihael mengenal seseorang yang bernama sama denganku?"
Bersambung~
Lagi2 chaps ini genre-nya campur aduk... plus ceritanya tambah ga jelas.... yah sudahlah~ (ditimpukin pete)
Review, nyaa~?
